Anda di halaman 1dari 12

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Politik

dapat

juga

didefenisikan

sebagai

memengaruhi-terutama,

memengaruhi alokasi sumber-sumber langka (Mason dan Leavet, 1998, hlm. 9).
Dengan defenisi di atas, kata politik menunjukkan lebih dari tindakan dalam arena
pemerintahan: politik dapat juga diaplikasikan pada setiap area kehidupan yang
sumber-sumbernya terbatas dan lebih dari satu orang atau kelompom yang
berkompetensi untuk mendapatkan sumber-sumber langka tersebut. Politik adalah
suatu proses yang seseorang memengaruhi keputusan orang lain dan melakukan
pengendalian pada situasi dan kejadian. Politik adalah suatu alat untuk mencapai
tujuan . Sumber tidak mengacu hanya pada uang, tetapi juga pada sejumlah aset
berharga yang terbatas, seperti personel, program, waktu, status, dan kekuasaan.
Alokasi sumber-sumber langka melibatkan semua orang sedemikian rupa.
Perhatikan contoh-contoh berikut ini:
a. Seorang mahasiswa mengajukan pinjaman uang kuliah utnuk berkompetisi dengan
mahasiswa lain untuk pembagian yang adil akan waktu dan perhatian guru.
b. Seorang advokat klien bersaing untuk mendapatkan dana pendidikan rumah sakit
guna memberikan pendidikan kesehatan praoperatif yang lebih banyak.
c. Seorang warga melobi untuk menentang proposal sewan sekolah yang membagi
waktu seorang RN antara dua sekolah besar.
d. Seorang anggota asosiasi profesional mencoba memperoleh bantuan asosiasi
tentang isu praktik, seperti perawatan klien acquired immune deficiency syndrome
(AIDS).
Perawat harus selalu terlibat dalam politik. Sebagai contoh, perintis
keperawatan modern, Florence Nightingale, mengunakan hubungannya dengan pria
yang memiliki kekuasaan untuk mendapatkan personel dan suplai yang dibutuhkan
oleh prajurit yang terluka di Crimea. Pemimpin keperwatan berikutnya Lavinia Dock,
Lilian Wald, Harriet Tubman, dan Margaret Sanger yang semuanya memiliki
keterampilan politik dan membuat kontribasi yang signifikan untuk profesi dan
masyarakat mungkin telah dipengaruhi oleh kata-kata bijak Nightingale berikut ini:
Saat saya memasuki pelayanan di sini, saya memutuskan bahwa, apa pun
yang akan terjadi, saya tidak akan pernah melakukan tipu daya di komite.
Sekarang saya merasa bahwa saya melakukan semua urusan saya dengan
tipu daya. Saya mengajukan resolusi secara pribadi pada A, B, atau C
yang saya pikir A, B, atau C palingbcakap untuk meloloskannya dalam
komite, lalu menyerahkannya kepada mereka, dan saya selalu menang.

Dengan berbagai pernyataan yang telah diuraikan di atas maka muncul


aspek politik dalam pembuatan kebijakan dalam dunia kesehatan dan keperawatan.
Untuk lebih jelasnya akan dibahas pada bab berikutnya.
1.2 Tujuan
1.2.1 Untuk mengetahui karakteristik dari aspek politik dalam pembuatan
kebijakan dalam dunia kesehatan dan keperawatan saat ini.
1.2.2 Untuk mengetahui sejauh mana telah diterapkannya dan berjalannya aspek
politik dalam pembuatan kebijakan dalam dunia keperawatan dan
kesehatan saat ini.
1.2.3 Untuk mengetahui kekurangan dan proses pembenahan aspek politik dalam
pembuatan kebijakan dalam dunia keperawatan dan kesehatan saat ini.
1.3 Manfaat
1.3.1 Bagi mahasiswa, agar mahasiswa keperawatan mampu mengetahui dan
memahami aspek politik dalam dunia keperawatan khususnya dalam
pembuatan kebijakan.
1.3.2 Bagi institusi, agar mampu memahami dan mempersiapkan didikannya
untuk siap terjun dan berdedikasi dalam aspek politik dalam dunia
kesehatan dan keperawatan.
1.3.3 Bagi masyarakat, agar mampu mengetahui dan memahami khazanah
politik dalam kesehtan dan meperawatan sehingga dapat mampu menerima
setiap keputusan dan kebijakan yang berstatus untuk kepentingan
masyarakat umum.

BAB II
POLITIK

DAN

PEMBUATAN

KEBIJAKAN

DALAM

KESEHATAN

DAN KEPERAWATAN

2.1 Kontroversi Strategi Pendidikan Keperawatan di Era Globalisasi.


Profesionalisme keperawatan merupakan proses dinamis dimana profesi
keperawatan yang telah terbentuk mengalami perubahan dan perkembangan
karakteristik sesuai dengan tuntutan profesi dan kebutuhan masyarakat. Proses
profesionalisasi merupakan proses pengakuan terhadap sesuatu yang dirasakan,
dinilai dan diterima secara spontan oleh masyarakat. Profesi keperawatan, profesi
yang

sudah

mendapatkan

pengakuan

dari

profesi

lain,

dituntut

untuk

mengembangkan dirinya untuk berpartisipasi aktif dalam sistem pelayanan kesehatan


di Indonesia agar keberadaannya mendapat pengakuan dari masyarakat.
Untuk

mewujudkan

pengakuan

tersebut,

maka

perawat

masih

memperjuangkan langkah-langkah profesionalisme sesuai dengan keadaan dan


lingkungan social di Indonesia. Proses ini merupakan tantangan bagi perawat
Indonesia dan perlu dipersiapkan dengan baik, berencana, berkelanjutan dan tentunya
memerlukan waktu yang lama. Institusi pendidikan keperawatan sangat bertanggung
jawab dan berperan penting dalam rangka melahirkan generasi perawat yang
berkwalitas dan berdedikasi.
Sejalan dengan berkembangnya institusi pendidikan keperawatan di
Indonesia semakin bertambah jumlahnya. Motivasi dari pendirian institusi pendidikan
keperawatan pun sangat bervariasi dari alasan Bisnis sampai dengan Sosial. Dan
yang kemudian menjadi pertanyaan dan keganjilan adalah banyaknya pemilik dan
pengelola institusi pendidikan keperawatan ini yang sama sekali tidak memiliki
pemahaman yang cukup tentang keperawatan baik secara disiplin ilmu atau profesi.
Ini menjadi penyebab rendahnya mutu lulusan dari pendidikan keperawatan yang ada
di Indonesia dan tidak siap untuk bersaing.
Salah satu tolok ukur kwalitas dari perawat dipercaturan Internasional adalah
kemampuan untuk dapat lulus dalam Ujian Kompetensi Keperawatan seperti ujian
NCLEX-RN dan CGFNS sebagai syarat mutlak bagi seorang perawat untuk dapat
bekerja di USA. Dalam hal ini kualitas dan kemampuan perawat Indonesia masih
sangat memprihatinkan. Di Kuwait pernah terjadi fakta yang memalukan sekaligus
menjatuhkan kredibilitas bangsa terutama system pendidikan keperawatan yang ada
di Indonesia memiliki permasalahan yang berkaitan dengan Higher Education bagi
perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait. Hal tersebut lebih disebabkan karena
system pendidikan keperawatan kita yang sangat bervariasi. Efek yang paling buruk
dari hal tersebut adalah tidak diakuinya perawat yang memiliki ijazah S1
3

Keperawatan (S.Kep) dan mereka hanya disamakan dengan D3 Keperawatan.


Institusi pendidikan keperawatan harus dilakukan perubahan secara total antara lain:
a. Standarisasi jenjang, kualitas/mutu, dari institusi pendidikan keperawatan.
b. Merubah bahasa pengantar dalam pendidikan keperawatan dengan menggunakan
bahasa Inggris.
c. Menutup Institusi pendidikan keperawatan yang tidak berkualitas.
d. Institusi pendidikan keperawatan harus di pimpin oleh seseorang yang memiliki
latar belakang pendidikan keperawatan.
e. Standarisasi kurikulum dan evaluasi bertahan terhadap staf pengajar di Institusi
pendidikan keperawatan.
f. Semua dosen dan staf pengajar di institusi pendidikan keperawatan harus
berbahasa Inggris secara aktif.
g. Memberantas segala jenis KKN di Institusi pendidikan dimulai dari perizinan
penerimaan mahasiswa, proses pendidikan dan akreditasi serta proses kelulusan
mahasiswa.
2.2 Strategi Pelayanan Keperawatan di Era Globalisasi
Praktek keperawatan sebagai tindakan professional harus didasarkan pada
penggunaan pengetahuan teoritik yang mantap dan kokoh dari berbagai ilmu dasar
serta ilmu keperawatan dijadikan sebagai landasan untuk melakukan pengkajian,
menegakkan diagnostic, menyusun perencanaan, melaksanakan asuhan keperawatan
dan mengevaluasi hasil dari tindakan keperawatan serta mengadakan penyesuaian
rencana keperawatan untuk menentukan tindakan selanjutnya.
Selain memiliki kemampuan intelektual, interpersonal, dan teknikal, perawat
juga harus mempunyai otonomi yang berarti mandiri dan bersedia menanggung
resiko, bertanggung jawab dan bertanggung gugat terhadap tindakan yang
dilakukannya, termasuk dalam melakukan dan mengatur dirinya sendiri. Tapi yang
terjadi di lapangan sangat memilukan, banyak sekali rekan-rekan perawat yang
melakukan Praktek Pelayanan Medis/Kedokteran dan Pengobatan yang sangat
tidak relevan dengan ilmu keperawatan itu sendiri. Hal tersebut telah membuat
profesi perawat di pandang rendah oleh profesi lain. Banyak hal yang menyebabkan
hal ini berlangsung berlarut-larut antara lain:
a. Kurangnya kesadaran diri dan pengetahuan dari individu perawat itu sendiri.
b. Tidak jelasnya aturan yang ada seperti belum di tetapkannya RUU Keperawatan
serta tidak tegasnya komitmen penegakan hukum di Indonesia.
c. Minimnya penghargaan financial dari pihak-pihak terkait terhadap perawat.
d. Kurang optimalnya perannya organisasi profesi keperawatan.
e. Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang perawat dan keperawatan yang lebih
disebabkan karena kurangnya informasi yang diterima oleh masyarakat berkaitan
4

tentang profesi perawat dan keperawatan terutama di daerah yang masih


menganggap bahwa perawat juga tidak berbeda dengan dokter.
Sementara itu, dunia Pelayanan Keperawatan di Rumah Sakit juga masih
sangat jauh dari nyaman, rekan-rekan perawat bekerja selama 24 jam 1 hari dalam 2
atau 3 shift, sedangkan pendapatan mereka masih sangat jauh dari memadai. Sebagai
perbandingan perawat Indonesia yang bekerja di Kuwait mendapatkan gaji berkisar
Rp.15 juta s/d Rp.24 juta sebulan, sedangkan rekan-rekan perawat yang bekerja di
Indonesia jauh dibawah kebutuhan hidup mereka.
Beberapa contoh diatas lebih disebabkan karena selama ini kita dianggap
kecil oleh profesi lain. Perawat mutlak sangat diperlukan dan dibutuhkan dalam
pelayanan kesehatan. Kita harus sudah mulai berani untuk berbicara karena keadilan
itu harus ditegakkan, yang harus segera dilaksanakan adalah:
a. Penentuan standarisasi gaji untuk perawat tentu setelah melalui uji kompetensi.
b. Menciptakan system sirkulasi dalam penempatan perawat Indonesia ke luar negeri
sehingga pada jangka panjang akan terjadi peningkatan penghargaan dan
kesetaraan terhadap profesi keperawatan di Indonesia.
c. Memberikan sanksi kepada Rumah Sakit atau Institusi pelayanan kesehatan yang
tidak memberi gaji sesuai dengan standar.
2.3 Penataan Praktek Keperawatan
Dalam suatu penataan praktek keperawatan perlu adanya undang-undang,
maka semua itu harus sesuai dengan standar kompetensi profesi, salah satunya
kompetensi perawat (SKP) yang sudah diakui secara nasional. Penetapan SKP telah
Konvensi Nasional antara BNSP, PPNI, dan Depkes pada tanggal 1-2 Juni 2006 di
Gedung Depkes JL. HR Rasuna Said, Kuningan Jakarta Selatan. SKP Nasional
Indonesia mengacu pada kerangka kerja Konsil Keperawatan Internasional (ICN,
2003) yang menekankan pada perawat generalis yang bekerka dengan klien individu,
keluarga dan komunitas dalam tatanan asuhan keperawatan di rumah sakit dan
komunitas serta bekerja sama dengan pemberi asuhan kesehatan dan social lainnya.
Dalam kerangka kerja ICN, kompetensi perawat generalis dikelompokkan menjadi 3
judul kompetensi utama, yaitu Praktek keperawatan profesional, Pemberian asuhan
keperawatan dan menejemen keperawatan Pengembangan professional.
Peran profesional perawat tidak akan bisa dicapai, kalau model praktik
keperawatan di pelayanan belum ditata secara professional. Model praktik
keperawatan professional yang dilaksanaka oleh perawat di tatanan pelayanan
keperawatan masih mejadi suatu abstraksi. Pelayanan asuhan keperawatan yang
optimal akan terus digunakan sebagai tuntutan bagi organisasi pelayanan
kesehatansistem pemberian pelayanan kesehatan ke system desentralisasi.
5

Dengan meningkatnya

pendidikan bagi perawat, diharapkan dapat

memberikan arah terhadap pelayanan keperawatan berdasarkan pada issue di


masyarakat. Sejak diakuinya keperawatan sebagai profesi dan ditumbuhkannya
Pendidikan Tinggi Keperawatan (D3 Keperawatan) dan berlakunya UU No.23 Tahun
1992, dan PERMENKES No.1239/2000; proses registrasi dan legislasi keperawatan,
sebagai bentuk pengakuan adanya kewenangan dalam melaksanakan praktik
keperawatan professional. Ada 4 model praktik yang diharapkan ada yaitu: model
praktik di Rumah Sakit, rumah, berkelompok, dan individual. Akan tetapi
pelaksanaan PERMENKES tersebut masih perlu mendapatkan persiapan yang
optimal oleh profesi keperawatan.
2.4 Etika Politik dalam Merawat Pasien
Etika adalah mengenai pengawasan bagi orang lain, kepedulian terhadap
perasaan, banyak sumber praktis. Merawat seseorang berarti bertindak untuk
kebaikan mereka, membantu mengembalikan otonomi mereka, membantu mereka
untuk mencapai potensi penuh mereka. Mencapai tujuan hidup mereka dan
pemenuhan kebutuhan. Dalam pengalaman menderita mungkin tidak hanya
membuat kita lebih simpati, tapi mungkin juga membantu kita untuk lebih empati
terhadap pasien kita. Simpati adalah perasaan yang timbul secara spontan yang kita
miliki atau tidak dimiliki. Empati adalah kemampuan untuk meletakkan diri kita
dalam sesuatu orang lain, dalam suatu seni yang dapat dipelajari, latihan imajinasi
yang dapat dilatih. Perasaan ini dapat menjadi motivator yang kuat, yang juga dapat
diperoleh dalam melakukan tanggung jawab professional kita. Jika kita memilih
menjadi perawat untuk memenuhi kebutuhan pribadi, atau hanya sebagai autoterapi
tanpa disadari, untuk menghadapimasalah dan kecemasan sendiri, pasien akan
menderita karena pekerjaan kita yang akan menjadi catatan bagi mereka. (Eadie
1975, Shimpson et all 1983).
Merawat bisa menjadi merusak orang lain jika kita tidak mengerti dinamika
aslinya, yaitu seperti dorongan psikologis yang kompleks yang muncul dalam operasi
ketika kita dalam posisi tangguh sebagai penolong terhadap pasien yang relative tidak
mandiri dan lemah. Inilah, mengapa psikiater dalam pelatihan dan perawat psikiatri
didukung untuk mengalami psikoanalisis pribadi atau terlibat dalam terapi kelompok,
sebagai proses untuk mengungkapkan perasaan yang terdalam dan sering
tersembunyi dengan maksud lain.
Ketika pengawasan dan perhatian dari perawat yang baik dapat melakukan
kekuasaannya dengan baik, over protektif, menguasai atau mengganggu dan
pengawasan seperti pada bayi, seperti pengasuhan yang jelek, juga bias menjadi
sangat merusak, ini dapat dikatakan bahwa kebaikan terbesar kita juga merupakan
sumber potensial kelemahan dan kejahatan kita.
6

Beberapa praktik dan sikap perawat dapat membawa mereka kepada konflik
langsung dengan tim kesehatan yang terkait dalam merehabilitasi kesehatan pasien,
dengan fisioterapis dan ahli terapi yang menjabat. Konflik di sini bukan hanya dalam
persaingan profesionalitas atau ketidak jelasan batasan kerja, tapi juga perbedaan
dalam interpretasi tentang perawatan dandalam praktik perawatan. Dari suatu
pandangan yang lazim, perawat juga merupakan pegawai yang melakukan pekerjaan
tertentu seefisien dan seefektif mungkin. Hasilnya, pembatasan-pembatasan layak di
pertimbangkan dan batasan praktik dapat dilakukan pada waktu yang tersedia untuk
hubungan perawatan dan dan perhatian terhadap kebutuhan tertentu pasien.
Pengalaman perawat menghadapi kenyataan hubungan kekuasaan dalam bekerja
dengan pasien dan dokter, berarti bahwa mereka mengetahui bahwa etika harus
dilakukan dengan kekuasaan dan pembagian kekuasaan dalam hubungan langsung
antar pribadi.
Bagaimanapun, tantangan adalah untuk memahami sifat alami hubungan
kekuasaan dan etika pembagian kekuasaan, dalam mengajar, dalam management,
dalam pendidikan kesehatan dan riset, dalam mempengaruhi sumber daya, dan dalam
politik kesehatan local dan nasional. Perawat tidak hanya belajar merawat pasien,
tetapi juga meningkatkan kesejahteraan pasien secara umum. Ini berarti
memperhatikan standard dan management pelayanan, kemampuan staff, efisiensi dan
efektifitas prosedur yang digunakan, peningkatan pelayanan kesehatan di Rumah
Sakit, dan kesehatan masyarakat. Jika kepedulian terhadap kesehatan dipahami dari
arti perspektif luas, perawat cepat mengetahui bahwa politik dan etika perawatan
berlanjut satu sama lain, pembagian dan kepedulian, menghormati orang dan
keadilan, kaitan kekuasaan dan nilai-nilai adalah saling berhubungan, dan
memaksakan tanggung jawab politis pada mereka. Pada akhirnya perjuangan menjadi
lebih baik dan kondisi yang lebih patut untuk pasien dan perawat serta petugas
kesehatan lain yang tidak dapat dipisahkan. Bukan tidak mungkin menggabungkan
kualitas personal yang sensitive dan peduli dengan yang kompeten dan efisiensi
dalam management, atau empati kepada orang lain dengan orang yang keras dalam
susunan staff, atau perundingan bersama.
2.5 Perbedaan Model Zaman Sekarang untuk Etika Profesional
Adalah sulit untuk menyatukan kembali etika personal yang peduli dengan
tipe etika yang diperlukan untuk management sistem pemberian pelayanan kesehatan
modern yang kompleks. Hal ini muncul karena tekanan antara perbedaan jenis
kompetisi etik dalam kehidupan professional, perbedaan antara: etika keperawatan,
etika pelayanan, etika pelayanan public dan etika bisnis.

2.6 Saatnya Perawat Terjun ke Dunia Politik


Akhir-akhir ini banyak masalah yang melanda profesi keperawatan ini
berkaitan dengan tidak adanya seseorang perawat yang menjadi pemegang kebijakan
baik di eksekutif maupun legislative. Disamping itu juga disinggung mengenai
undang-undang keperawatan yang sampai kini belum juga terselesaikan karena tidak
adanya keterwakilan seorang perawat dalam posisi tersebut. Arti politik secara umum
adalah proses pembentukan dan pembagian kekuasaan dalam masyarakat yang antara
lain berwujud proses pembuatan keputusan, khususnya dalam Negara. Disebutkan
juga bahwa politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara
konstitusional maupun nonkonstitusional.
Dalam teori politik menunjuk pada kemampuan untuk membuat orang lain
melakukan sesuatu yang tidak dikehendakinya. Untuk melembagakan demokrasi
diperlukan hukum dan perundang-undangan dan perangkat structural yang akan terus
mendorong terpolanya perilaku demokratis sampai bisa menjadi pandangan hidup.
Karena diyakini bahwa dengan demikian kesejahteraan yang sesungguhnya baru
biasa dicapai, saat tiap individu terlindungi hak-haknya bahkan dibantu oleh Negara
untuk biasa teraktualisasikan, saat tiap individu lain sesuai dengan norma dan hukum
yang berlaku.
Ada banyak hal yang dapat dilakukan seorang perawat dalam berperan
secara aktif maupun pasif dalam dunia politik. Mulai dari kemampuan yang harus
dimiliki dalam bidang politik hingga talenta yang harus dimiliki mengenai Sense of
Politic. Dalam wilkipedia Indonesia disebutkan bahwa seseorang dapat mengikuti
dan berhak menjadi insan politik dengan mengikuti suatu partai politik , mengikuti
ormas atau LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat). Maka dari hal tersebut seseorang
berkewajiban untuk melakukan hak dan kewajibannya sebagai insan politik guna
melakukan perilaku politik yang telah disusun secara baik oleh UUD dan
perundangan hukum yang berlaku. Dari hal tersebut, perawat yang merupakan bagian
dari insan perpolitikan di Indonesia juga berhak dan berkewajiban ikut serta dan
mengambil sebuah kekuasaan demi terwujudnya regulasi profesi keperawatan yang
nyata. Dari hal tersebut juga terlihat bahwa perawat dapat memperjuangkan banyak
hal terkait dengan umat maupun nasib perawat itu sendiri.
Pentingnya dunia politik bagi profesi keperawatan adalah bahwasanya dunia
politik bukanlah dunia yang asing, namun terjun dan berjuang bersamanya mungkin
akan terasa asing bagi profesi keperawatan. Hal ini ditunjukkan belum adanya
keterwakilan seorang perawat dalam kancah perpolitikan Indonesia. Tidak dipungkiri
lagi bahwa seorang perawat juga rakyat Indonesia yang juga memiliki hak pilih dan
tentunya telah melakukan haknya untuk memilih wakil-wakilnya sebagai anggota
legislative namun seakan tidak ada satu pun suara yang menyuarakan hati nurani
profesi keperawatan. Tentunya hal ini tidak boleh dibiarkan begitu saja, karena
8

profesi kita pun membutuhkan penyampaian aspirasi yang patut untuk didengar dan
diselesaikannya permasalahan yang ada, yang tentunya akan membawa kesejahteraan
rakyat seluruh profesi keperawatan.
Sulitnya menjadikan RUU Keperawatan seringkali dikaitkan dengan tidak
adanya keterwakilan seorang perawat di badan legislative. Menjadi bagian dari dunia
perpolitikan di Indonesia, diharapkan seorang perawat mampu mewakili banyaknya
aspirasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada di profesi keperawatan salah
satunya seperti yang disebutkan diatas yaitu mengenai bagaimana meregulasi
pendidikan keperawatan yang hasil akhirnya diharapkan tercapainya kualitas perawat
biasa dipertanggung jawabkan. Regulasi pendidikan akan menjadikan tidak
bermunculnya institusi pendidikan keperawatan yang hanya mencari untung, politik
uang, dan institusi yang tidak melakukan penjaminan mutu akan output perawat yang
diluluskan setiap periodenya.
Dengan regulasi pendidikan keperawatan, semua menjadi terstandarisasi,
profesi keperawatan yang mempunyai nilai tawar, nilai jual, dan menjadi profesi yang
dipertimbangkan. Regulasi kewenangan perawat di lahan klinik tidak kalah
pentingnya dengan regulasi pendidikan, dimana regulasi pendidikan merupakan
bagaimana kita melakukan persiapan yang matang sebelum membuat dan memulai
(perencanaan), dimana kita melakukan pembangunan fondasi yang kokoh dan system
yang mensupport akan terbentuknya generasi perawat-perawat yang siap tempur.
Regulasi kewenangan perawat dilahan klinik akan menjadikan profesi keperawatan
semakin mantap dalam langkahnya. Kewenangan perawat yang mandiri, terstruktur
dan ranah yang jelas akan menjadikan perawat semakin professional dan proporsional
sesuai dengan tanggung jawab yang harus dipenuhi. Selain itu, dalam regulasi
kewenangan ini di harapkan tidak terjadi adanya overlap dan salah satu yang paling
penting adalah menghindari terjadinya malpraktik yang kemungkinan dapat terjadi.
Banyak hal yang dapat dilakukan oleh seorang perawat sehingga mampu
terjun ke dunia politik. Salah satu yang paling umum dilakukan adalah mendukung
salah satu partai politik. Partai politik ini akan menjadi motor penggerak pembawa di
kancah perpolitikan Indonesia. Banyak partai yang menawarkan posisi legislative,
ada partai yang melakukan pengkaderan dari awal yang mampu menyiapkan caloncalon legislative dari embrio yang akan diberikan suntikan ideology dari partai
tersebut, ada juga partai yang memberikan kesempatan kepada siapa saja yang siap
untuk berjuang bersama-sama mendukung partainya dan menjadi calon legislative.
Partai Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah organisasi keperawatan
tingkat nasional yang merupakan wadah bagi semua perawat Indonesia, yang
didirikan pada tanggal 17 Maret 1974. Menurut catatan yang ada sebelum PPNI, telah
terdapat beberapa macam organisasi keperawatan. PPNI pada awalnya terbentuk dari
penggabungan beberapa organisasi keperawatan, seperti:
9

a. IPI (Ikatan Perawat Indonesia),


b. PPI (Persatuan Perawat Indonesia),
c. IGPI (Ikatan Guru Perawat Indonesia),
d. IPWI (Ikatan Perawat Wanita Indonesia).
Setiap orang yang telah menyelesaikan pendidikan keperawatan yang syah
dapat mendaftarkan diri sebagai anggota PPNI dan semua mahasiswa keperawatan
yang sedang belajar dapat disebut calon anggota. PPNI setiap 4 tahun sekali
menyelenggarakan musyawarah nasional. Dalam musyawarah ini selain pengurus
pusat juga hadir para pejabat dan pengurus cabang. Berbagai masalah keperawatan
dibahas dalam MUNAS tersebut yang kemudian memberikan hasil yang berupa
rekomendasi atau keputusan organisasi.
Untuk mempertahankan dan mengembangkan profesi, maka organisasi
profesi keperawatan harus melakukan 5 fungsi, yaitu:
a. Definisi dan pengaturan professional melalui penyusunan dan penentuan standar
pendidikan dan praktik bagi perawat umum dan spesialis. Pengaturan dapat
ditempuh melalui pemberian izin praktik (lisensi), sertifikat, dan akreditasi.
Pengaturan juga dapat dilakukan melalui adopsi kode etik dan norma perilaku
(Styles, 1983).
b. Pengembangan dasar pengetahuan untuk praktik dalam komponen luas dan
sempit. Sumbangan utama untuk pengembangan ilmu keperawatan telah diberikan
oleh berbagai ahli teori. Tujuan utama teori keperawatan adalah netralisasi ilmu
keperawatan. Tantangan bagi para perawat dimasa depan adalah menggerakkan
pertanyaan dan memformulasikan teori dari teori yang telah dipublikasikan ini dan
kemudian melakukan uji hipotesa melalui penelitian keperawatan. Karena hanya
penelitian yang dapat menentukan manfaat suatu teori, penelitian memberikan
sumbangan utama bagi pengembangan pengetahuan keperawatan.
c. Transmisi nilai-nilai, norma, pengetahuan, dan keterampilan kepada anggota
profesi untuk diterapkan dalam praktik. Fungsi ini dilakukan melalui pendidikan
para perawat dan berbagai proses sosialisasi.
d. Komunikasi dan advokasi tentang nilai-nilai dan sumbangsih bidang garap kepada
masyarakat dan konstitusi. Fungsi ini menuntut organisasi perawat untuk berbicara
pada perawat dari suatu posisi kesepakatan luas. Penting bagi perawat untuk
berpartisipasi secara aktif dalam penyusunan UU dan kebijakan pemerintah.
e. Memperhatikan kesejahteraan umum dan social anggota. Fungsi ini dilakukan oleh
organisasi perawat dimana organisasi perawat ini memberikan dukungan moral
dan social bagi anggota untuk menjalankan peranannya sebagai tenaga
professional dan mengatasi masalah professional anggotanya.

10

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Politik

dapat

juga

didefenisikan

sebagai

memengaruhi-terutama,

memengaruhi alokasi sumber-sumber langka (Mason dan Leavet, 1998, hlm. 9).
Dengan defenisi di atas, kata politik menunjukkan lebih dari tindakan dalam arena
pemerintahan: politik dapat juga diaplikasikan pada setiap area kehidupan yang
sumber-sumbernya terbatas dan lebih dari satu orang atau kelompom yang
berkompetensi untuk mendapatkan sumber-sumber langka tersebut.
Untuk menilai dan mengukur perkembangan dan suasana politik dalam
dunia kesehatan dan keperawatan dilakukan dengan menimbang beberapa indikator
permasalahan, yaitu:
a. Kontroversi strategi pendidikan keperawatan di era globalisasi.
b. Strategi pelayanan keperawatan di era globalisasi
c. Penataan praktek keperawatan
d. Etika politik dalam merawat pasien
e. Perbedaan model zaman sekarang untuk etika profesional
f. Saatnya perawat terjun ke dunia politik
3.2 Saran
Dengan terlibatnya profesi keperwatan dalam dunia politik maka profesi
perawat dapat mampu dan berwenang dalam menentukan nasibnya sendiri yan
tentunya dibutuhkan keputusan bersama dalam pembuatan kebijakan khususnya
dalam pembenahan kekurangan dan tantangan dalam dunia kesehatan dan
keperawatan dewasa ini. Untuk itu penulis mengharapkan kepada pihak pembaca
agar mampu mengetahui dan memahami aspek politik dalam dunia kesehatan dan
keperawatan, sehingga jika terlibat nantinya dalam dunia politik kesehatan dan
keperawatan mempunyai kompetensi dan pemahaman yang searah dan sejalan.

11

DAFTAR PUSTAKA

Kathleen, K. B., Janice, S. H., Barbara, K., dkk., 2007. Praktik Keperawatan
Profesional : Konsep & Persepektif Edisi 4, EGC, Jakarta
Priharjo, Robert, 1995. Praktek Keperawatan Profesional : Konsep Dasar & Hukum,
EGC, Jakarta
http://stikeskabmalang.wordpress.com/2009/11/18/politik-dan-pembuatan-kebijakandalam-kesehatan-dan-keperawatan/

12