Anda di halaman 1dari 16

Muhammad Nizar

KEBIJAKAN FISKAL & MONETER


BAB
6

A. Pendahuluan
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter satu sama lain
saling berpengaruh dalam kegiatan perekonomian. Masingmasing variabel kebijakan tersebut, kebijakan fiskal
dipengaruhi oleh dua variabel utama, yaitu pajak (tax) dan
pengeluaran
pemerintah
(goverment
expenditure).
Sedangkan variabel utama dalam kebijakan moneter, yaitu
GDP, inflasi, kurs, dan suku bunga. Berbicara tentang
kebijakan fiskal dan kebijakan moneter berkaitan erat
dengan kegiatan perekonomian empat sektor, dimana sektorsektor tersebut di antaranya sektor rumah tangga, sektor
perusahaan, sektor pemerintah dan sektor dunia
internasional atau luar negeri. Ke empat sektor ini memiliki
hubungan interaksi masing-masing dalam menciptakan
pendapatan dan pengeluaran.
Krisis global saat ini jauh lebih parah dari perkiraan
semula dan suasana ketidak pastiannya sangat tinggi.
Kepercayaan masyarakat dunia terhadap perekonomian
menurun tajam. Akibatnya, gambaran ekonomi dunia terlihat
makin suram dari hari ke hari walaupun semua bank sentral
sudah menurunkan suku bunga sampai tingkat yang
terendah. Tingkat bunga yang sedemikian rendahnya itu
justru menyebabkan ruang untuk melakukan kebijakan
moneter menjadi terbatas, sehingga pilihan yang tersedia
hanya pada kebijakan fiskal.

79

Kebijakan Fiskal dan Moneter

B. Definisi Kebijakan Fiskal (Fiscal Policy)


Kebijakan Fiskal adalah kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah dalam rangka mendapatkan dana-dana dan
kebijaksanaan yang ditempuh oleh pemerintah untuk membelanjakan dananya tersebut dalam rangka melaksanakan
pembangunan. Atau dengan kata lain, Kebijakan Fiskal
adalah suatu kebijakan ekonomi dalam rangka mengarahkan
kondisi perekonomian untuk menjadi lebih baik dengan
jalan mengubah penerimaan dan pengeluaran pemerintah.
Kebijakan ini mirip dengan kebijakan moneter untuk
mengatur jumlah uang beredar, namun kebijakan fiskal lebih
menekankan pada pengaturan pendapatan dan belanja
pemerintah. Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan
dan pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan
pajak.
Pada sektor rumah tangga, dimana rumah tangga
melakukan pembelian barang dan jasa yang dihasilkan oleh
perusahaan untuk konsumsi daan mendapatkan pendapatan
berupa gaji, upah, sewa, deviden, bunga, dll dari perusahaan.
kegiatan ekonomi dengan pemerintah adalah rumah tangga
menyetorkan sejumah uang sebagai pajak dan menerima
penerimaan berupa gaji, bunga, penghasilan non balas jasa.
Sedangkan dengan dunia internasional adalah rumah tangga
mengimpor barang dan jasa dari luar negeri untuk memenuhi
kebutuhan hidup.
Pada sektor perusahaan, kegiatan ekonomi memiliki
hubungan dengan rumah tangga yaitu perusahaan
menghasilkan produk-produk barupa barang dan jasa yang
dikonsumsi oleh masyarakat, dan memberikan penghasilah
dan keuntungan kepada rumah tangga barupa gaji, deviden,
sewa, upah, bunga. Sedangkan hubungan dengan
Pemerintah, perusahaan akan membayar pajak kepada
pemerintah dan menjual produk dan jasa kepada pemerintah.
80

Kebijakan Fiskal dan Moneter

Sedangkan hubungan dengan Dunia Internasional,


perusahaan melakukan impor atas produk barang maupun
jasa dari luar negri.
Pada sektor pemerintah, kegiatan ekonomi yang
berhubungan dengan rumah tangga dimana pemerintah
menerima setoran pajak rumah tangga untuk kebutuhan
operasional, pembangunan. Dan untuk hubungan dengan
Perusahaan, pemerintah mendapatkan penerimaan pajak dari
pengusaha.
Pemerintah membeli produk dari perusahaan berdasarkan
dana anggaran belanja yang ada. Pada sektor dunia
internasional atau luar negeri, dimana hubungan dengan
rumah tangga adalah dunia internasional menyediakan
barang dan jasa untuk kepentingan rumah tangga. dan untuk
hubungan dengan perusahaan, dunia internasional
mengekspor produknya kepada bisnis-bisnis perusahaan.
Negara Indonesia yang sedang dilanda krisis ekonomi
yang berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Dimana
tingginya tingkat krisis yang dialami negeri kita ini
diindikasikan dengan laju inflasi yang cukup tinggi. Sebagai
dampak atas inflasi, terjadi penurunan tabungan,
berkurangnya investasi, semakin banyak modal yang
dilarikan ke luar negeri, serta terhambatnya pertumbuhan
ekonomi. Kondisi seperti ini tak bisa dibiarkan untuk terus
berlanjut dan memaksa pemerintah untuk menentukan suatu
kebijakan dalam mengatasinya. Kebijakan moneter dengan
menerapkan target inflasi yang diambil oleh pemerintah
mencerminkan arah ke sistem pasar. Artinya, orientasi
pemerintah dalam mengelola perekonomian telah bergeser
ke arah makin kecilnya peran pemerintah.
Kondisi ekonomi negara Indonesia pada masa orde baru
sudah pernah memanas. Pada saat itu pemerintah melakukan
kebijakan moneter berupa contractionary monetary policy
81

Kebijakan Fiskal dan Moneter

dan vice versa. Kebijakan tersebut cukup efektif dalam


menjaga stabilisasi ekonomi dan ongkos yang harus dibayar
relatif murah. Kebijakan moneter yang ditempuh saat ini
berupa open market operation memerlukan ongkos yang
mahal. Kondisi ini diperparah dengan adanya kendala yang
lebih besar, yaitu pengaruh pasar keuangan internasional.
Pengaruh krisis ekonomi pada kebijakan fiskal, dimana
berdasarkan AD/ART pemerintah negara Indonesia,
sebagaimana yang dipublikasikan oleh BI, untuk semester
pertama tahun anggaran 2000 terlihat bahwa telah terjadi
defisit anggaran yang disebabkan oleh peningkatan
pengeluaran untuk subsidi dan pembayaran bunga hutang.
Meski sebenarnya terjadi peningkatan penerimaan, namun
ternyata besarnya peningkatan penerimaan masih jauh lebih
rendah dibanding peningkatan pengeluaran. Dominasi
kebijakan moneter dibanding kebijakan fiskal dan deregulasi
sektor riil menyebabkan terjadinya kebijakan makro
ekonomi yang tidak seimbang.
Dari semua unsur APBN hanya pembelanjaan negara
atau pengeluaran negara dan pajak yang dapat diatur oleh
pemerintah dengan kebijakan fiskal. Contoh kebijakan fiskal
adalah apabila perekonomian nasional mengalami inflasi,
pemerintah dapat mengurangi kelebihan permintaan
masyarakat dengan cara memperkecil pembelanjaan atau
menaikkan pajak agar tercipta kestabilan lagi. Cara demikian
disebut dengan pengelolaan anggaran.
Instrumen kebijakan fiskal adalah penerimaan dan
pengeluaran pemerintah yang berhubungan erat dengan
pajak. Dari sisi pajak, jelas jika mengubah tarif pajak yang
berlaku akan berpengaruh pada ekonomi. Jika pajak
diturunkan maka kemampuan daya beli masyarakat akan
meningkat dan industri akan dapat meningkatkan jumlah
output. Dan sebaliknya kenaikan pajak akan menurunkan
82

Kebijakan Fiskal dan Moneter

daya beli masyarakat serta menurunkan output industri


secara umum.
Kebijakan anggaran atau politik anggaran:
1. Anggaran Defisit (Defisit Budget) atau Kebijakan Fiskal
Ekspansif
Anggaran defisit adalah kebijakan pemerintah untuk
membuat pengeluaran lebih besar dari pemasukan negara
guna memberi stimulus pada perekonomian. Umumnya
sangat baik digunakan jika keadaan ekonomi sedang
resesif.
2. Anggaran surplus (surplus budget) atau kebijakan fiskal
kontraktif
Anggaran surplus adalah kebijakan pemerintah untuk
membuat pemasukannya lebih besar daripada
pengeluarannya. Baiknya politik anggaran surplus
dilaksanakan ketika perekonomian pada kondisi yang
ekspansi yang mulai memanas (overheating) untuk
menurunkan tekanan permintaan.
3. Anggaran berimbang (balanced budget)
Anggaran berimbang terjadi ketika pemerintah
menetapkan pengeluaran sama besar dengan pemasukan. Tujuan politik anggaran berimbang yakni terjadinya
kepastian anggaran serta meningkatkan disiplin.
Tujuan kebijakan fiskal adalah untuk mempeng-aruhi
jalannya perekonomian. Hal ini dilakukan dengan jalan
memperbesar dan memperkecil pengeluaran komsumsi
pemerintah (G), jumlah transfer pemerntah (Tr), dan
jumlah pajak (Tx) yang diterima pemerintah sehingga
dapat mempengaruhi tingkat pendapatn nasional (Y) dan
tingkat kesempatan kerja (N).
C. Definisi Kebijakan Moneter (Monetary Policy)
Kebijakan moneter adalah suatu usaha dalam
mengendalikan keadaan ekonomi makro agar dapat berjalan
83

Kebijakan Fiskal dan Moneter

sesuai dengan yang diinginkan melalui pengaturan jumlah


uang yang beredar dalam perekonomian. Usaha tersebut
dilakukan agar terjadi kestabilan harga dan inflasi serta
terjadinya peningkatan output keseimbangan.
Dengan kata lain, Kebijakan moneter adalah proses di
mana pemerintah, bank sentral, atau otoritas moneter suatu
negara kontrol suplai (i) uang, (ii) ketersediaan uang, dan
(iii) biaya uang atau suku bunga untuk mencapai
menetapkan tujuan berorientasi pada pertumbuhan dan
stabilitas ekonomi.
Kebijakan moneter bertumpu pada hubungan antara
tingkat bunga dalam suatu perekonomian, yaitu harga di
mana uang yang bisa dipinjam, dan pasokan total uang.
Kebijakan moneter menggunakan berbagai alat untuk
mengontrol salah satu atau kedua, untuk mempengaruhi
hasil seperti pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar
dengan mata uang lainnya dan pengangguran. Dimana mata
uang adalah di bawah monopoli penerbitan, atau dimana ada
sistem diatur menerbitkan mata uang melalui bank-bank
yang terkait dengan bank sentral, otoritas moneter memiliki
kemampuan untuk mengubah jumlah uang beredar dan
dengan demikian mempengaruhi tingkat suku bunga (untuk
mencapai kebijakan gol).
Kebijakan moneter sangat penting bagi para pembuat
kebijakan untuk membuat pengumuman yang kredibel. Jika
agen-agen swasta (konsumen dan perusahaan) percaya
bahwa para pembuat kebijakan berkomitmen untuk
menurunkan inflasi, mereka akan mengantisipasi harga di
masa depan lebih rendah daripada yang (bagaimana ekspektasi yang terbentuk adalah hal yang sama sekali berbeda,
misalnya membandingkan ekspektasi rasional dengan
ekspektasi adaptif).

84

Kebijakan Fiskal dan Moneter

Jika seorang karyawan berharap harga akan tinggi di


masa depan, ia akan membuat kontrak upah dengan upah
yang tinggi untuk mencocokkan harga-harga. Oleh karena
itu, harapan upah yang lebih rendah tercermin dalam
perilaku penetapan upah antara karyawan dan majikan (upah
lebih rendah karena harga diharapkan lebih rendah) dan
karena upah tersebut sebenarnya lebih rendah tidak ada
demand pull inflasi karena karyawan menerima upah lebih
kecil dan tidak ada biaya tekanan inflasi karena majikan
membayar kurang dari upah.
Untuk mencapai tingkat inflasi rendah, pembuat
kebijakan harus memiliki pengumuman kredibel, yaitu agenagen swasta harus percaya bahwa pengumuman ini akan
mencerminkan kebijakan masa depan yang sebenarnya. Jika
pengumuman tentang target inflasi yang rendah tingkat
dibuat tetapi tidak diyakini oleh agen-agen swasta,
penetapan upah akan mengantisipasi tingkat inflasi yang
tinggi dan upah akan semakin tinggi dan inflasi akan
meningkat. Sebuah upah yang tinggi akan meningkatkan
permintaan konsumen (demand pull inflation) dan biaya
sebuah perusahaan (cost push inflation), sehingga inflasi
meningkat. Oleh karena itu, jika pengumuman seorang
pembuat kebijakan tentang kebijakan moneter yang tidak
dapat dipercaya, kebijakan tidak akan memiliki efek yang
diinginkan.
Jika pembuat kebijakan percaya bahwa agen-agen swasta
mengantisipasi inflasi yang rendah, mereka memiliki
insentif untuk mengadopsi kebijakan moneter ekspansionis
(dimana manfaat marjinal meningkatkan output ekonomi
melampaui biaya marjinal inflasi), namun, dengan asumsi
agen-agen swasta memiliki ekspektasi rasional, mereka tahu
bahwa para pembuat kebijakan memiliki insentif ini. Oleh
karena itu, agen-agen swasta tahu bahwa jika mereka
85

Kebijakan Fiskal dan Moneter

mengantisipasi inflasi yang rendah, kebijakan ekspansionis


akan diadopsi yang menyebabkan peningkatan inflasi.
Akibatnya, agen-agen swasta mengharapkan inflasi yang
tinggi. Antisipasi ini dipenuhi melalui harapan adaptif
(perilaku upah-setting), maka, ada inflasi yang lebih tinggi
(tanpa manfaat produksi meningkat). Oleh karena itu,
kecuali pengumuman kredibel dapat dibuat, kebijakan
moneter yang ekspansif akan gagal.
Pengumuman dapat dilakukan kredibel dalam berbagai
cara. Salah satunya adalah untuk mendirikan bank sentral
yang independen dengan target inflasi yang rendah. Oleh
karena itu, agen-agen swasta tahu bahwa inflasi akan rendah
karena sudah diatur oleh badan independen. Bank sentral
dapat diberikan insentif untuk memenuhi target (misalnya,
anggaran yang lebih besar, bonus upah untuk kepala bank)
untuk meningkatkan reputasi dan sinyal komitmen yang kuat
untuk tujuan kebijakan. Reputasi merupakan elemen penting
dalam pelaksanaan kebijakan moneter. Tapi gagasan
reputasi tidak harus bingung dengan komitmen.
Sementara bank sentral mungkin memiliki reputasi baik
karena kinerja yang baik dalam melakukan kebijakan
moneter, bank sentral yang sama tidak mungkin telah
memilih bentuk komitmen tertentu (seperti penargetan
rentang tertentu untuk inflasi). Reputasi memainkan peran
penting dalam menentukan berapa pasar tingkat kepercayaan
pengumuman yang bertujuan membuat kebijakan tetapi
kedua konsep ini, tidak boleh berasimilasi.
D. Jenis-Jenis Kebijakan Moneter
Dalam prakteknya, untuk menerapkan semua jenis
kebijakan moneter alat utama yang digunakan adalah
memodifikasi jumlah uang primer yang beredar. Otoritas
moneter melakukan hal ini dengan membeli atau menjual
aset keuangan (biasanya kewajiban pemerintah). Ini operasi
86

Kebijakan Fiskal dan Moneter

pasar terbuka berubah baik jumlah uang atau likuiditas (jika


bentuk cair kurang dari uang yang dibeli atau dijual). The
multiplier effect perbankan cadangan fraksional memperkuat
dampak dari tindakan. transaksi pasar konstan oleh otoritas
moneter memodifikasi pasokan mata uang dan ini dampak
variabel pasar lain seperti suku bunga jangka pendek dan
nilai tukar.
1. Inflasi penargetan
Berdasarkan pendekatan kebijakan target adalah
untuk menjaga inflasi, di bawah sebuah definisi tertentu
seperti Indeks Harga Konsumen, dalam kisaran yang
diinginkan. Target inflasi ini dicapai melalui penyesuaian
berkala kepada bank sentral suku bunga target. Tingkat
bunga yang digunakan adalah umumnya tingkat antar
bank di mana bank meminjamkan kepada satu sama lain
semalam untuk keperluan arus kas. Tergantung pada
negara ini tingkat bunga tertentu yang bisa disebut uang
bunga atau sesuatu yang serupa.
Target suku bunga dipertahankan untuk jangka waktu
tertentu menggunakan operasi pasar terbuka. Biasanya
durasi bahwa target suku bunga dipertahankan konstan
akan bervariasi antara bulan dan tahun. Target suku
bunga biasanya ditinjau secara bulanan atau kuartalan
oleh komite kebijakan.
Perubahan target suku bunga dibuat sebagai
tanggapan terhadap berbagai indikator pasar dalam upaya
untuk memperkirakan tren ekonomi dan dengan
demikian pasar tetap pada jalur untuk mencapai sasaran
inflasi yang ditetapkan. Sebagai contoh, satu metode
sederhana inflation targeting disebut aturan Taylor
menyesuaikan tingkat suku bunga sebagai respon
terhadap perubahan dalam tingkat inflasi dan

87

Kebijakan Fiskal dan Moneter

kesenjangan output. Aturan diusulkan oleh John B.


Taylor dari Universitas Stanford.
Penargetan inflasi pendekatan untuk pendekatan
kebijakan moneter ini dipelopori di Selandia Baru. Hal
ini saat ini digunakan di Australia, Brazil, Kanada, Chile,
Kolombia, Republik Ceko, Selandia Baru, Norwegia,
Islandia, Filipina, Polandia, Swedia, Afrika Selatan,
Turki, dan Inggris.
2. Harga Penargetan Tingkat
Harga penargetan tingkat mirip dengan inflation
targeting kecuali bahwa pertumbuhan CPI dalam satu
tahun atas atau di bawah target tingkat harga jangka
panjang adalah offset pada tahun-tahun berikutnya
sehingga tingkat harga yang ditargetkan tercapai dari
waktu ke waktu, misalnya lima tahun, memberikan
kepastian lebih lanjut tentang masa depan kenaikan harga
kepada konsumen. Dalam inflation targeting apa yang
terjadi pada tahun-tahun terakhir segera tidak
diperhitungkan atau disesuaikan dalam tahun berjalan
dan masa depan.
3. Agregat Moneter
Pada 1980-an, beberapa negara menggunakan
pendekatan yang didasarkan pada pertumbuhan konstan
dalam jumlah uang beredar. Pendekatan ini disaring
untuk memasukkan kelas yang berbeda dari uang dan
kredit. Di Amerika Serikat ini pendekatan kebijakan
moneter dihentikan dengan pemilihan Alan Greenspan
sebagai Ketua Fed. Pendekatan ini juga kadang-kadang
disebut monetarisme. Sementara kebijakan yang paling
moneter berfokus pada sinyal harga satu bentuk atau lain,
pendekatan ini difokuskan pada jumlah moneter.

88

Kebijakan Fiskal dan Moneter

4. Nilai Tukar Tetap


Kebijakan ini didasarkan pada mempertahankan nilai
tukar tetap dengan mata uang asing. Ada berbagai tingkat
nilai tukar tetap, yang dapat peringkat dalam kaitannya
dengan cara kaku kurs tetap adalah dengan bangsa
jangkar.
Di bawah sistem nilai fiat tetap, pemerintah daerah
atau otoritas moneter menyatakan nilai tukar tetap tetapi
tidak aktif membeli atau menjual mata uang untuk
mempertahankan tingkat. Sebaliknya, tingkat dipaksakan
oleh-konvertibilitas tindakan-tindakan non (misalnya
kontrol modal, impor atau lisensi ekspor). Dalam hal ini
ada tingkat pasar gelap tukar dimana perdagangan mata
uang pada pasar atau nilai tidak resmi.
Di bawah sistem fixed-konvertibilitas, mata uang
dibeli dan dijual oleh bank sentral atau otoritas moneter
setiap hari untuk mencapai nilai tukar target. Tingkat
mungkin target tingkat tetap atau sebuah brand tetap di
mana nilai tukar dapat berfluktuasi sampai otoritas
moneter campur tangan untuk membeli atau menjual
yang diperlukan untuk mempertahankan nilai tukar
dalam band. (Dalam kasus ini, nilai tukar tetap dengan
tingkat tetap dapat dilihat sebagai kasus khusus dari kurs
tetap dengan band-band di mana band-band yang diatur
ke nol.)
Dalam dolarisasi, mata uang asing (biasanya dolar
AS, maka istilah dolarisasi) digunakan secara bebas
sebagai media pertukaran, baik secara eksklusif atau
paralel dengan mata uang lokal. Hal ini dapat terjadi
karena penduduk setempat telah kehilangan iman semua
dalam mata uang lokal, atau mungkin juga kebijakan dari
pemerintah (biasanya untuk mengendalikan inflasi dan
impor kebijakan moneter kredibel).
89

Kebijakan Fiskal dan Moneter

Kebijakan ini sering turun tahta, kebijakan moneter


dengan otoritas moneter asing atau pemerintah sebagai
kebijakan moneter, negara harus menyelaraskan
kebijakan moneter untuk mempertahankan nilai tukar.
Tingkat dimana kebijakan moneter lokal menjadi
tergantung pada faktor-faktor seperti mobilitas modal,
keterbukaan, saluran kredit dan faktor ekonomi lainnya.
Pengaturan jumlah uang yang beredar pada masyarakat
diatur dengan cara menambah atau mengurangi jumlah uang
yang beredar. Kebijakan moneter dapat digolongkan
menjadi dua, yaitu:
1. Kebijakan Moneter Ekspansif / Monetary Expansive
Policy. Adalah suatu kebijakan dalam rangka menambah
jumlah uang yang beredar.
2. Kebijakan Moneter Kontraktif / Monetary Contractive
Policy. Adalah suatu kebijakan dalam rangka mengurangi jumlah uang yang beredar. Disebut juga dengan
kebijakan uang ketat (tight money policy).
Kebijakan moneter dapat dilakukan dengan menjalankan
instrumen kebijakan moneter, yaitu antara lain:
1. Operasi Pasar Terbuka (Open Market Operation)
Operasi pasar terbuka adalah cara mengendalikan
uang yang beredar dengan menjual atau membeli surat
berharga pemerintah (government securities). Jika ingin
menambah jumlah uang beredar, pemerintah akan
membeli surat berharga pemerintah. Namun, bila ingin
jumlah uang yang beredar berkurang, maka pemerintah
akan menjual surat berharga pemerintah kepada
masyarakat. Surat berharga pemerintah antara lain di
antaranya adalah SBI atau singkatan dari Sertifikat Bank
Indonesia dan SBPU atau singkatan atas Surat Berharga
Pasar Uang.

90

Kebijakan Fiskal dan Moneter

2. Fasilitas Diskonto (Discount Rate)


Fasilitas diskonto adalah pengaturan jumlah uang
yang beredar dengan memainkan tingkat bunga bank
sentral pada bank umum. Bank umum terkadang
mengalami kekurangan uang, sehingga harus meminjam
ke bank sentral. Untuk membuat jumlah uang bertambah,
pemerintah menurunkan tingkat bunga bank sentral, serta
sebaliknya menaikkan tingkat bunga demi membuat uang
yang beredar berkurang.
3. Rasio Cadangan Wajib (Reserve Requirement Ratio)
Rasio cadangan wajib adalah mengatur jumlah uang
yang beredar dengan memainkan jumlah dana cadangan
perbankan yang harus disimpan pada pemerintah. Untuk
menambah jumlah uang, pemerintah menurunkan rasio
cadangan wajib. Untuk menurunkan jumlah uang
beredar, pemerintah menaikkan rasio.
4. Himbauan Moral (Moral Persuasion)
Himbauan moral adalah kebijakan moneter untuk
mengatur jumlah uang beredar dengan jalan memberi
imbauan kepada pelaku ekonomi. Contohnya seperti
menghimbau perbankan pemberi kredit untuk berhatihati dalam mengeluarkan kredit untuk mengurangi
jumlah uang beredar dan menghimbau agar bank meminjam uang lebih ke bank sentral untuk memperbanyak
jumlah uang beredar pada perekonomian.
Kebijakan fiskal dan moneter adalah kebijakan yang di
lakukan dengan tujuan untuk mengelola isi permintaan
barang dan jasa, untuk mempertahankan produksi yang
mendekati full employment dan untuk mempertahankan
tingkat harga barang dan jasa agar inflasi dan deflasi tidak
terjadi.
Bagi negara sedang berkembang sebenarnya sulit untuk
menyesuaikan antara pendapatan negara yang sedang
91

Kebijakan Fiskal dan Moneter

berkembang
rendah
sedangkan
kebutuhan
untuk
menyediakan barang dan jasa serta membelanjai pengeluaran yang lainya lebih besar. Sedangkan kebijakan
campuran adalah merupakan campuran dari dua kebijakan di
atas yang di lakukan dengan cara mengubah pengeluaran,
pengenaan pajak ataupun jumlah uang yang beredar secara
bersama-sama.
E. Hubungan antara Kebijakan Fiskal dan Moneter
Sebagaiman kita ketahui bahwa kebijakan moneter akan

mempengaruhi pasar uang dan pasar surat berharga, dan pasar


uang dan surat berhargta itu akan menentukan tinggi rendahnya
tingkat bunga, dan tingkat bunga akan mempengaruhi tingkat
agregat. Kebijakan fiskal akan mempunyai pengaruh terhadap
permintaan dan penawaran agregat, yang pada giliranya
permintaan dan penawaran agregat itu akan menentukan keadaan
di pasar barang dan jasa.
Kondisi di pasar barang dan jasa ini akan menentukan tingkat
harga dan kesempatan kerja akan menentukan tingkat pendapatan
dan tingkat upah yang di harapkan. Keduanya akan memiliki
umpan balik yaitu pendapatan akan memberikan umpan balik
terhadap permintaan agregat dan upah harapan mempunyai
umpan balik terhadap penawaran agregat dan pasar uang serta
pasar surat berharga.

F. Kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat penyusun simpulkan bahwa:
1. Kebijakan fiskal dan moneter adalah kebijakan yang di
lakukan dengan tujuan untuk mengelola isi permintaan barang
dan jasa, untuk mempertahankan produksi yang mendekati
full employment dan untuk mempertahankan tingkat harga
barang dan jasa agar inflasi dan deflasi tidak terjadi.
2. Bagi negara sedang berkembang sebenarnya sulit untuk
menyesuaikan antara pendapatan negara yang sedang
berkembang rendah sedangkan kebutuhan untuk menyediakan
barang dan jasa serta membelanjai pengeluaran yang lainya
lebih besar. Sedangkan kebijakan campuran adalah
92

Kebijakan Fiskal dan Moneter

merupakan campuran dari dua kebijakan di atas yang di


lakukan dengan cara mengubah pengeluaran, pengenaan pajak
ataupun jumlah uang yang beredar secara bersama-sama.

G. Latihan Soal
1. Jelaskan apa yang di maksud kebijakan fiskal?...
2. Jelaskan apa yang di maksud kebijakan moneter?...
3. Apa hubungan kedua kebijalan di atas?...
4. Apa tujuan pemerintah membuat kebijakan fiskal dan
moneter?...
5. Carilah berita di internet tentang kebijakan (fiskal dan
moneter) yang diterapkan di tahun 2014?...

93

Kebijakan Fiskal dan Moneter

94