Anda di halaman 1dari 12

TINJAUAN PUSTAKA

Bahan Induk

Bahan induk merupakan peruraian atau pelapukan dari batuan. Secara


umum batuan dapat dibedakan menjadi tiga yaitu : batuan beku, batuan
metamorfosa dan batuan sedimen. Batuan beku terjadi karena magma yang
membeku. Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk akibat sidimentasi baik
oleh air maupun angin. Batuan metamorfosa berasal dari batuan beku ataupun
sedimen yang karena suhu dan tekanan yang tinggi berubah menjadi jenis batuan
yang lain (Hardjowigeno, 1993).
Pengaruh dan hubungan sifat-sifat bahan induk dengan sifat-sifat tanah
terlihat jelas pada tanah-tanah di daerah kering atau tanah muda. Di daerah yang
lebih basah atau pada tanah-tanah tua, hubungan antara sifat bahan induk dengan
sifat-sifat tanah menjadi kurang jelas. Walaupun demikian tidak berarti pada
tanah-tanah tua pengaruh bahan induk menjadi hilang. Contoh kwarsa yang sukar
lapuk akan tetap ditemukan pada tanah-tanah tua (Buol, et al, 1980).
Sifat bahan induk pasif berdasarkan kenyataan bahwa berbagai jenis bahan
induk (faktor pembentuk tanah yang lain berada dalam keadaan yang serba sama)
dapat menghasilkan jensi tanah yang sama. Sebaliknya, bahwa pada bahan induk
yang sama tetapi mengalami kegiatan faktor-faktor pembentuk tanah yang
berbeda-beda, akan menghasilkan jensi tanah yang berlainan (Krauskopf, 1979).
Abu vulkan yang berasal dari gunung berapi di Indonesia umumnya
bersifat andesit hingga basalt. Abu vulkan yang bersifat andesitik dijumpai di

daerah Banten yang berasal dari gunung purba, sedangkan di Sumatera Utara di
sekitar gunung sibayak dan gunung Toba ditemukan tuff liparit, dasit, andesit
(Hardjowigeno, 1986).
Salah satu faktor yang terpenting dalam mendeterminasi karakteristik
tanah bagi pakar perintis pedologi adalah bahan induk. Oleh karena itu, tidak
mengherankan kalau klasifikasi dan survei tanah pada masa itu didasarkan pada
bahan induk, sehingga tanah-tanah diberi nama seperti tanah granit, tanah andesit,
tanah liparit, tanah abu volkan dan sebagainya (Hardjowigeno, 1993)

Andisol

Tanah andisol (andosol) adalah tanah yang berwarna hitam kelam sangat
porous, mengandung bahan organik dan lempung tipe amorf, terutama alofan serta
sedikit silica, alumina atau hidroxida-besi. Tanah ini terbentuk dari abu vulkanik
umumnya ditemukan di daerah dataran tinggi (Darmawijaya, 1990).
Andisol merupakan tanah mineral yang tidak mempunyai horison argilik,
natrik, spodik, dan oksik, tetapi mempunyai satu atau lebih dari epipedon histik,
epipedon molik, epipedon umbrik, horison kambik, horison plakik, duripan, atau
pada jeluk 18 cm setelah dicampur mempunyai value kurang dari 3 (lembab) dan
mempunyai kandungan bahan organik lebih dari 3 persen (Munir, 1986).
Mineral liat silikat amorf yang terpenting adalah alopan. Mineral ini
terdapat pada tanah yang berasal dari abu vulkan dan diperkiran berasal dari
pelapukan gelas volkanik atau mineral feldspar. Mineral ini mempunyai kapasitas
tukar kation tinggi, tetapi dapat memfiksasi P dengan kuat. Tanah yang

mengandung banyak alofan terasa licin bila dipirid dan umumnya mempunyai
bulk density yang rendah (kurang dari 0, 90 g/cc) (Hardjowigeno, 1993).
Konsepsi pokok dari Andisol (ando, tanah hitam) adalah tanah-tanah yang
gembur, ringan dan porous, tanah bagian atas berwarna gelap/hitam, bertekstur
sedang (lempung, lempung berdebu), terasa licin seperti sabun (smeary) apa bila
dipirid, dan secara khusus terbentuk dari bahan piroklastik yang kaya gelas volkan
Andisol adalah tanah muda dengan profil A/B/C atau A/C yang dahulu
disebut Andosol, Andept sekarang ini di dalam Soil Taxonomy sebagai tanah
dengan sifat andik dengan sifat spesifik karbon organic < 25%, Al+Fe ekstrak
oksalat asam 2% dan retensi P > 85%. Asal Andosol adalah tanah abu volkanik
kaya bahan organic, yang terlihatkan horizon A berwarna hitam, sebagai asal
namanya. Nama asli Andosol berasal dari bahasa Jepang, an = black dan do =
tanah (Darmawijaya, 1990).
Horizon B selalu memiliki sifat sebagai horizon Kambik (Bw). Tanah
yang pertama diidentifikasi di Jepang, dinamakan Ando Soil ; Nama ini kemudian
berubah menjadi Andosol. Dibeberapa bagian dunia dan di system klasifikasi
FAO, tanah ini masih dikenal sebagai Andosol (Darmawijaya, 1997).
Keberadaan bahan organik yang banyak bersama liat amorfus dan
parakristalin, alofan dan imogolit, merupakan sebab untuk sifat-sifat Andisol yang
unik. Bahan-bahan tersebut bertanggung jawab untuk muatan variable, kapasitas
pegang air yang luas biasa tinggi, dan bulk density rendah. Di Indonesia, Andosol
merupakan tanah yang subur, dan merupakan faktor kunci kesuksesan hortikultura
dan banyak kegiatan pertanian lainnya. Di Jepang Andosol merupakan tanah yang

subur. Pada beberapa kasus, dilaporkan bahwa di tanah ini rendah kadar fosfatnya
atau tingginya kapasitas fiksasi P (Tan, 1998).
Andisol adalah tanah yang berkembang dari bahan volkan seperti abu
volkan, batu apung, lava dan atau bahan volkanniklastik, yang fraksi koloidnya
didominasi oleh mineral alophan, imogolit, ferihidrit atau kompleks Al-humus.
Andisol memenuhi syarat sebagai tanah mineral. Syarat ini untuk membedakan
dengan tanah histosol yang merupakan bahan organic (Hardjowigeno, 1993).
Proses pembentukan tanah yang utama pada Andisol adalah pelapukan dan
transformasi (perubahan bentuk). Proses pemindahan bahan (translokasi) dan
penimbunan bahan-bahan tersebut di dalam solum sangat sedikit. Akumulasi
bahan organik dan terjadinya kompleks bahan organik dengan Al merupakan sifat
khas pada beberapa Andisol (Hardjowigeno, 1993).
Menurut Alvarado dan Buol (1975), Andisol mempunyai sifat-sifat
morpologi antara lain :
a. Batas antara horizon jelas dan konsistensi sedikit lekat dan plastis
b. Perkembangan struktur sangat lemah, kubus membulat sampai bersudut
c. Penampang profil AC atau A (B) C.

Pelapukan Geokimia

Pelapukan adalah proses alam dimana berlangsung pemecahan dan


transformasi batu-batuan dan mineral-mineral menjadi bahan lepas disebut
regolith, terletak di permukaan bumi dengan kedalaman yang berbeda. Proses
pelapukan dicirikan oleh dua tipe yakni fisika dan kimia yang sudah ada sebelum

jasad hidup muncul di permukaan bumi. Jasad hidup mempercepat proses


pelapukaan secara kimia dengan memproduksi CO 2 sebagai hasil pernafasan. Dan
oleh sekresi-sekresi asam-asam berasal dari akar (Plusnin, 1983).
Pengklasifikasi tanah dengan cara berikut: Ia melihat profil dari batuan
tanpa perubahan yang terjadi melalui permukaannya. Unit didefinisikan oleh
atribut yang sangat yang membentuk tanah, dan mereka dikumpulkan sesuai
dengan kondisi dan proses perubahannya. Dalam jangka waktu yang lama
lanjutan evolusi seperti yang yang menyebabkan perubahan ferralitic, dan
mengelompokkannya dalam kelompok dan subkelompok telah menjadi salah satu
keluarga (Siffermann, 1973).
Pelapukan kimia terjadi karena mineral lebih mudah larut dan akan
mengalami

perubahan pada struktur, menyebabkan fragmentasi mudah.

Perubahan kelarutan disebabkan oleh larutan (konstan dalam air), hidrolisis dan
karbonasi. Srtuktural perubahan yang konstan yang dibawa oleh hidrasi, oksidasi
dan reduksi (Donahue, dkk, 1977).
Pelapukan mengacu pada disentegrasi dan perubahan batuan dan mineral
disebabkan oleh proses fisik dan kimia. Pelapukan pada umumnya menghasilkan
penurunan dalam ukuran partikel dan bahan dalam pelepasan bahan mudah larut
dalam sintesis bahan-bahan baru (Tan, 1998).
Pelapukan ini bekerja di dalam batuan keras, batuan lunak, bahan tanah,
dan terus selama perkembangan tanah dan baru terhenti jika sudah tidak tersedia
pereaksi. Pelapukan ini berlangsung di bawah dan di dalam solum (Munir, 1995).

Proses pelapukan dibagi menjadi 2 jenis yaitu pelapukan secara geologi


dan pelapukan pedologi. Pelapukan geokimia terjadi di bawah solum tanah dan
merupakan proses geologi, proses ini terjadi sebelum tanah terbentuk. Sedangkan
pelapukan pedokimia merupakan proses pembentukan tanah dan terjadi pada
solum (Buol et all, 1980).
Sesuai dengan konsep pelapukan. Mineral primer dibagi dalam kelompok
resisten dan mudah lapuk. Mineral resisten utama terdiri dari kwarsa opak dan
konkresi besi. Mineral resisten dan mudah lapuk sering digunakan sebagai
indicator tingkat pelapukan tanah (Foth, 1995).
Pelapukan adalah penghancuran fisik dan kimia dari batuan karena
mineral-mineral dalam batuan tersebut tidak dalam keseimbangan pada suhu,
tekanan dan kelembaban. Pelapukan sudah dimulai sebelum proses pembentukan
tanah berlangsung sampai tidak ada lagi bahan-bahan mudah lapuk. Pelapukan
terjadi baik di bawah solum maupun di dalam solum. Pelapukan geokimia adalah
pelapukan yang terjadi di bawah solum (horizon C) sedangkan pelapukan
pedokimia adalah pelapukan yang terjadi pada solum tanah yaitu horizon A dan B
(Hardjowigeno, 1993).
Pelapukan geokimia adalah pelapukan yang terjadi di bawah solum
(horizon R). Pelapukan geokimia meliputi reaksi oksidasi, oksidasi ruduksi,
hidrasi, solusi dan hidrolisis. Mineral-mineral melapuk dan melepaskan unsurunsur yang dikandungnya yang sebagian merupakan unsur hara tanaman.
Sebagian tercuci dari tanah bersama air perkolasi atau erosi, sedangkan sebagian
lagi saling beraksi membentuk mineral-mineral baru (Hardjowigeno, 1993).

Ternyata di antara alkali tanah, Ca lebih cepat terlindi dari Mg di antara


alkali Na lebih cepat dari K. Dibandingkan dengan basa, pencucian SiO 2 dapat
dianggap paling lambat. Akan tetapi keadaan sebaliknya diperlihatkan Al 2 O 3
yang selama berlangsung proses pelapukan kimia relative naik kadarnya
(Darmawijaya, 1990).
Reaksi-reaksi yang terjadi pada proses geokimia terdiri dari :
(Hanafiah, 2005).
1. Pelarutan (solubilitasi) adalah proses pelarutan secara alamiah dilakukan
oleh air yang daya larutnya akan meningkat bila mengandung senyawasenyawa terlarut seperti CO 2 , asam-asam organik maupun senyawasenyawa organik tertentu.
2. Hidratasi adalah proses terbentuknnya mineral hidrat pada permukaan
batuan. Apabila suatu mineral terendam air, maka bidang-bidang
permukaan rusak dan sudut kristalnya akan dijenuhi molekul-molekul air
dan membentuk lapisan air, disebut mantel hidrat, yang berfungsi sebagai
isolator mineral-mineral terhadap pengaruh-pengaruh gaya-gaya dari luar.
Pelapisan permukaan ini menyebabkan rusaknya bentuk dan kisi-kisi
Kristal dan melepaskan energi pengikatnya. Sebagai contoh adalah reaksi
hidratasi yang mengubah hematite (berwarna merah) menjadi limonit
(berwarna kuning) dan kalsium anhidrat menjadi gips di bawah ini :
2 Fe 2 O 3 + 3 H 2 O

2 Fe 2. 3H 2 O atau 4Fe (OH) (limonit)

CaS 4 + 2 H 2 O

CaSO 4 .H 2 O (gips)

3. Hidroslisis adalah proses sederhana dapat berupa substitusi (pertukaran )


ion-ion alkali pada kisi-kisi Kristal mineral oleh ion-ion H+ tersebut, yang

menghasilkan senyawa asam alumino-silikat atau asam ferro-sillikat dan


membebaskan hidroksida-alkali. Menurut Hardjowigeno (1993) hidrolisis
terjadi karena serangan ion hydrogen pada struktur Kristal, sehingga
terjadi pergantian kation-kation dalam Kristal oleh hydrogen. Contoh
dalam proses pembentukan asam silikat orthoklast dan liat kaolinit dari
feldspar dengan reaksi sebagai berikut :
Feldspar : KAlSi 3 O 8 + HOH

HAlSi 3 O 8 + KOH

4. Oksidasi merupakan reaksi kimiawi yang menyebabkan berkurangnya


electron (muatan negatif) baik melalui penambahan oksigen maupun tanpa
oksigen. Proses oksidasi terhadap bebatuan umumnya terjadi lewat
oksidasi senyawa-senyawa besi (Fe) dan mangan (Mn) yang dikandung
mineral penyusunnya. Karena kedua logam ini mempunyai dua bentuk,
yaitu bentuk tereduksi dan bentuk teroksidasi. Akibat adanya transformasi
bentuk reduksi-oksidasi ini maka memicu terjadinya pelapukan bebatuan
secara kimia. Salah satu contoh oksidasi, yaitu :
Ferro-oksida menjadi ferri-oksida
4 FeO+O 2

2 Fe 2 O 3 (hematit)

5. Reduksi, reaksi di atas terlihat bahwa reaksi oksidasi-reduksi merupakan


reaksi bolak-balik, apabila senyawa yang teroksidasi mengalami
pengurangan electron akibat penambahan atau tanpa oksigen maka
senyawa reduksi akan sebaliknya. Reaksi reduksi dominant pada tanahtanah berkadar bahan organic tinggi (tanah gambut) di rawa-rawa.
6. Karbonatasi, merupakan proses yang menyebabkan bereaksinya asam
karbonat dengan basa-basa membentuk basa karbonat. Contoh reaksi ini

yaitu yang dialami orthoklast sebelum menghasilkan liat kaolinti, kalium,


karbonat dan Si-oksida berikut :
KAlSi 3 O 8 + 2 H 2 O

H 4 Al 2 Si 2 O 8 + K 2 CO 3 + 4SiO 2

7. Asidifikasi, proses bebatuan juga berfungsi mempercepat pelapukan


batuan, meliputi asam organik. Reaksi umum asidifikasi mineral adalah :
Ca-Feldspar + H-Liat

H- Silikat + Ca- Silikat

Mengenai garam dari anion bervalensi dua terdapat berbagai macam daya
larut. Garam sulfat dari Mg, Na dan K umumnya mudah larut, dengan daya larut
pada 00C dalam 100 cc air berturut-turut. Garam karbonat dan bikarbonat Na dan
K mudah larut sedangkan Mg lebih sukar (0,1 g tiap 100 cc air) baik MgCO 3
maupun Mg(HCO 3 ) 2 (Darmawijaya, 1990)

Bagan tentang cepat atau lambatnya mineral mengalami pelapukan


tersususn di bawah ini (Krauskopf, 1975).
Peningkatan suhu semakin cepat melapuk
Olivine

Piroxin

Hornblade

Biotite

Kuarsa

Ca- Plagiklas

Na- Plagioklas

Bulk density menunjukkan tingkat pelapukan batuan. Bulk density turun


dengan meningkatnya pelapukan karena terbentuknya pori-pori tanah. Tekstur
tanah turut menentukan tata air dalam tanah berupa kecepatan infiltrasi, penetrasi,
dan kemampuan pengikatan air oleh tanah. Tekstur dan struktur tanah perlu
dipertimbangkan dalam menentukan cara pengolahan (penggarapan) tanah
(Hardjowigeno, 1993).
Tanah yang terbentuk dari batuan tuff dasit bertekstur lempung berpasir
sampai lempung berliat. Makin kebawah tekstur tanah menjadi liat dan kemudian
beralih ke pasir. Semua unsur hara tanaman ditemukan dalam jumlah sedang
kecuali unsur fosfat yang terdapat dalam jumlah yang rendah (Druif, 1969).
Tujuan utaman geokimia salah satunya adalah untuk menetapkan
komposisi dari bumi dan bagian-bagiannya, selain itu untuk menemukan hokumhukum yang mengatur distribusi setiap elemen (Whitten and Brooks, 1972).
Pada dasarnya definisi ini menyatakan bahwa Geokimia mempelajari
jumlah dan distribusi unsur kimia dalam mineral, bijih, Batuan tanah, air, dan

atmosfer. ecara sistematis satu atau lebih unsur jejak dalam batuan, tanah,
sedimen sungai aktif, vegetasi, air, atau gas, untuk mendapatkan anomali
geokimia, yaitu konsentrasi abnormal dari unsur tertentu yang kontras terhadap
lingkungannya (Kiddy, 2005).
Contohnya Cu yang tinggi yang berasosiasi dengan batuan basa dapat
ditekan atau dihapus dengan studi distribusi Ni, Co dan V. Di lain pihak anomali
yang signifikan akan kelihatan lebih kontras. Analisis faktorial bertujuan
mendapatkan informasi dari data numerik yang besar. Sintesis ini membutuhkan
perhitungan matematis yang kompleks. Contohnya jika satu seri plutonik
dipelajari, dimulai dengan data kimia Fe, Mg dan Ti dikelompokkan pada faktor
yang sama., ini dapat mengekspresikan variasi dalam level mineral feromagnesia
dalam conto yang berbeda. Dalam prospeksi geokimia, fakta-fakta ini dapat dapat
menggambarkan kehadiran berbagai mineralisasi, kontras antara unit geologi
utama, fenomena pedologi, dan sebagainya (Bosstambang, 2009).
Geokimia adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari komposisikomposisi kimia bagian dari bumi misalnya pada lithosfer yang sebagian besar
komposisi kimianya adalah silikat serta pada daerah stalaktit dan stalagmit banyak
ditemukan CaCO3 (Marwan miner, 2007).
Interaksi air batuan merupakan proses yang banyak terjadi di alam ini
seperti proses tergerusnya batuan sungai oleh air sungai atau proses pengikisan
batuan karang di pantai oleh air laut. Secara spesifik, istilah interaksi air batuan
memiliki ruang lingkup yang lebih spesifik: terjadinya reaksi kimia atau
pertukaran energi antara air dengan batuan. Sebagai contoh yang sederhana, air
hujan yang secara alami mengandung banyak oksigen terlarut dapat berinteraksi

(bereaksi) dengan logam menghasilkan oksida logam, atau yang biasa dikenal
dengan karat. Seiring berjalannya waktu, air hujan akan melarutkan karat itu
sendiri, menyebabkan semakin lemahnya konstruksi benda logam tersebut
(misalnya pipa atau pagar). Karat yang terlarut oleh air hujan biasanya dapat
terdeposisi kembali sehingga meninggalkan jejak berwarna (kuning-coklat) searah
aliran air hujan (Kelompok TI, 2005).