Anda di halaman 1dari 11

KAJIAN SISTEM TRANSIT ORIENTED DEVELOPMENT DI DAERAH MIXED

USE DAN KEPADATAN TINGGI (STUDI KASUS : KOTA DEPOK)


Rina Widayanti 1
Remigius Hari Susanto 2
Jurusan Teknik Arsitektur Universitas Gunadarma
rinawidayanti@yahoo.com

Abstrak
Beragamnya permasalahan tentang transportasi, maka perlu adanya sebuah
penyelesaian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk hidup nyaman, istirahat
yang cukup, bekerja yang produktif dan optimal. Hal ini dibutuhkan suatu sistem untuk
memberikan kemudahan dan pemanfaatan waktu yang relatif cepat untuk sampai ke
tujuan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan pola tata guna lahan campuran
(Mixed Use) di sekitar titik-titik transit dan menemukan faktor-faktor pembentuknya di
Kota Depok dan mengetahui sejauh mana pola atau bentuk konsep Transit Oriented
Development yang sudah terbentuk di Kota Depok. Pendekatan yang digunakan untuk
identifikasi, menganalisis dan memberikan pemecahan masalah adalah dengan
pendekatan teoritik dan pendekatan observasi. Pola tata guna lahan campuran (Mixed
Use) yang terbentuk di sekitar titik-titik transit sudah sebagian terbentuk walaupun
tingkat kepadatan di Kota Depok semakin tinggi dan perencanaan yang kurang, faktorfaktor yang mempengaruhi; pertumbuhan penduduk yang tidak dapat dikendalikan dan
dan sisitem transportasi yang kurang memadai. Kawasan yang tumbuh disekitar
stasiun-stasiun kereta api pada lintas Jakarta-Bogor, kawasan Stasiun Depok Baru
(dengan pengguna lahan perumahan, pertokoan, terminal), adalah kawasan secara
konsep mengarah kepada konsep TOD. Tetapi kekurangan belum didukung oleh
fasilitas akses yang baik (misalnya fasislitas pejalan kaki).
Kata Kunci : Transit Oriented Development, Daerah Mixed Use dan Kepadatan Tinggi
Abstract
Various problem of transportation, need one of solution to complete the community
need to comfortable live, enough rest, productive and optimal work. This case need for
the sistem to give a simple and time use that fast to arrive at the destination. Direction
of this research is to find mixed use land model in order to transit point and find form
factor in Depok City and to find out how far this model or Transit Oriented
Development concept that all ready exist in Depok. Method to identification, analysis
dan give the problem solve is with theoritic method and observation method. Mixed use
area that make in around transit spot is all ready exist even density level in Depok more
high and low planning, system tranportation factor is not enough. Area that grow near
the train station in Jakarta-Bogor traffic, Depok Baru Station area (with residence land
use, shop, bus station), is area with concept TOD. But not support by good acces
facilities (like pedestrian).
Keyword : Transit Oriented Development, Regional Mixed Use and High Density

PENDAHULUAN
Pertumbuhan kota-kota besar di Indonesia pada saat ini cenderung menjadi ke urban
sprawl yang berdampak perjalanan semakin jauh dan waktu perjalanan semakin
panjang. Pertumbuhan seperti ini dialami oleh Kota Jakarta sebagai kota Metropolitan
dan kota satelitnya yang pada saat ini mulai mengarah menjadi sebuah Kota
Megapolitan, sehingga permasalahan akan muncul sangat beragam dan kompleks, salah
satunya terkait dengan transportasi yang berkaitan dengan perpindahan penduduk harian
atau penglaju dalam melakukan kegiatan, baik itu bekerja, sekolah, atau berbelanja.
Dimana mereka tinggal di luar Jakarta dengan aktifitas atau kegiatan sehari-hari di
lakukan di Jakarta. Dengan demikian transportasi Jakarta dan kota satelit di sekitarnya
membentuk suatu ketergantungan dan keterkaitan yang sangat erat.
Beragamnya permasalahan tentang transportasi tersebut, maka perlu adanya sebuah
penyelesaian untuk memenuhi kebutuhan masyarakat untuk hidup nyaman, istirahat
yang cukup, bekerja yang produktif dan optimal. Hal ini dibutuhkan suatu sistem untuk
memberikan kemudahah dan pemanfaatan waktu yang relatif cepat untuk sampai
ketujuan. Pada tahun 1993 Peter Calthorpe menawarkan sebuah sistem mengenai
Konsep Transit Oriented Development ( TOD ) dimana konsep ini memberikan arahan
sebuah kawasan yang memiliki komunitas campuran di sekitar lokasi sebuah transit,
antara lain terminal, stasiun. Komuitas ini meliputi perumahan, pertokoan, pasar,
fasilitas olahraga, kantor, ruang terbuka dan fasilitas publik. (Nugroho, Sapto,
Pengalju dan TOD di Jabotabek, 2000)
Konsep Transit Orientend Development ini di Jabodetabek sebenarnya sudah mulai
terbentuk dengan adanya moda kereta listrik (KRL), dimana disekitar stasiun sudah
berkembang pesat menjadi area pemukiman, pertokoan, perkantoran, pasar, terminal
dan pemanfaatan lahan lainnya. Kasus yang dapat dijadikan contoh adalah sekitar
kawasan stasiun Depok Baru yang mulai tumbuh penggunaan lahan sebagai lahan
perumahan, pertokoan, perkantoran dan terminal, tetapi konsep tersebut secara nyata
belum terbentuk suatu sistem yang nyaman dan pola yang memberikan kemudahan bagi
pemakainya, hal ini dikarenakan belum didukung oleh sebuah sistem fasilitas akses
yang baik, diantaranya fasilitas pejalan kaki yang memadai dan jalur kendaraan
bermotor atau pencapaian dengan moda transportasi yang lainnya. Disamping itu juga
pertumbuhan kawasan yang terlalu cepat baik itu moda angkutan umum yang sangat
banyak menimbulkan kemacetan, kereta listrik yang masih terbatas sehingga
kenyamanan bagi pengguna belum tercapai.
Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan kajian sistem Transit Oriented
Development di kawasan Depok, dengan dasar pertimbangan kota depok menjadi bagian
jalur antara Bogor Jakarta, di mana Depok dapat sebagai kawasan perantara Bogor Jakarta, kawasan tujuan dari Bogor ataupun Jakarta, Kota Depok sebagai tempat tinggal
dan masyarakat kesehariannya beraktifitas di Kota Bogor atau Jakarta. Sehingga dengan
dasar tersebut maka Kota Depok yang memiliki bebarapa stasiun Kereta Listrik seperti :
Stasiun Univ. Indonesia, stasiun Pondok Cina, stasiun Depok Baru, stasiun Depok Lama
dan stasiun Bojonggede. Depok juga dilengkapi dengan Terminal, dan kawasan Mixed
Use yang kompleks dan sangat perlu adanya penerapan konsep Transit Oriented
Development (TOD) yang memadai.
Perkembangan kawasan Kota Depok yang sangat cepat dengan pemanfaatan lahan
yang beragam dan kompleks, diantaranya perumahan, perkantoran dan jasa, komersial,
pendidikan, pasar dan lain-lain, maka Kota Depok menjadi kota yang memiliki aktifitas

yang mulai tinggi sehingga akan muncul dampak/permasalahan yang kompleks.


Walaupun kota Depok telah didukung dengan adanya stasiun kereta listrik dan terminal
sebagai moda transportasi massal, kemampuan memberikan kenyamanan bagi pengguna
moda transportasi tersebut masih jauh dari harapan hal ini ditambah pertumbuhan pola
tata guna lahan yang sangat pesat dan pengguna yang cukup banyak.
Atas dasar pemikiran-pemikiran di atas, maka sangat dibutuhkan suatu penelitian di
kawasan Kota Depok yang memiliki potensi Mixed Use-nya, moda transportasi dan
kepadatan yang tinggi.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian merupakan metode untuk menjelaskan dalam pelaksanaan
penelitian yang menyangkut tentang bahan penelitian, alat penelitian, cara menganalisis
temuan di lapangan, serta kendala yang dihadapi selama proses penelitian.
Pendekatan Penelitian
Pendekatan yang digunakan untuk identifikasi, menganalisis dan memberikan
pemecahan masalah adalah dengan pendekatan teoritik dan pendekatan observasi.
a. Pendekatan Teoritik
Pendekatan teoritik yang digunakan adalah kajian mengenai konsep sistem Transit
Oriented Development yaitu landasan untuk menganalisa suatu kawasan yang
memiliki tata guna lahan campuran dan memiliki kepadatan tinggi yang berlokasi
dekat dengan titik-titik transit.
b. Pendekatan Observasi
Pendekatan observasi dilakukan dengan melakukan survey lapangan sebagai bahan
penelitian yang dapat digambarkan secara nyata dan konkrit sesuai dengan kondisi
dan permasalahan di lapangan untuk pengajuan pemecahan masalah di suatu kota.
Pengamatan langsung digunakan untuk mendokumentasikan pola tata ruang
disekitar titik-titik transit yang ada di Kota Depok dan sejauh mana konsep TOD
sudah diterapkan.
Bahan Penelitian
Bahan Penelitian adalah variabel-variabel yang diadopsi dari lapangan sebagai
elemen yang diangap berpengaruh terhadap permasalahan dan sebagai alat untuk
memudahkan dalam penelusuran masalah. Bahan penelitian yang akan diamati
difokuskan pada titik-titik transit yang ada di kota Depok, pola tata guna lahan disekitar
titik-titik transit, tingkat kepadatan dan pola pemakaian moda transortasi yang
mempengaruhi tingkat kemacetan dan kenyamanan pengguna.
Alat Penelitian
Dalam penelitian ini, alat yang digunakan untuk pengumpulan dan menganalisa data
adalah : Peta dan Foto yang terkait dengan Titi-titik transit dan sekitarnya di Kota
Depok, alat perekam gambar, alat tulis untuk mencatat fakta lapangan, alat ukur untuk
pendimensian objek fisik, Hardware ( komputer, printer ), software : program yang
mendukung dalam penelitian.

Pelaksanaan Penelitian
Pelaksanaan penelitian dilakukan secara bertahap dengan metoda observasi
langsung di lapangan baik dalam pencarian, pengumpulan data sesuai dengan variabel
yang dibutuhkan, tahapan tersebut adalah :
a. Tahap Persiapan
Tahap persiapan adalah tahapan mengenai perijinan survey dilapangan dan
pencarian data sekunder dari instansi terkait, menyiapkan peralatan survey lapangan.
b. Tahap Pengumpulan Data
Tahapan ini adalah dengan survey langsung ke lapangan untuk mendapatkan data
primer yang terdiri dari data fisik, studi pustaka sebagai data sekunder yang terkait
dengan konsep Transit Oriented Development.
c. Tahap Pembahasan dan Analisis
Dalam tahap ini data primer atau sekunder yang telah diperoleh di olah untuk
menjawab pertanyaan penelitian dengan beberapa langkah sebagai berikut:
- Langah I, menjawab pertanyaan penelitian pertama yaitu Seperti apa pola tata
guna lahan campuran (Mix Use) yang terbentuk di sekitar titik-titik Transit dan
tingkat kepadatan di Kota Depok
dan faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhinya?
- Langkah II, menjawab pertanyaan penelitian ke dua yaitu Sejauh mana dan
bagaimana konsep Transit Oriented Development diterapkan di Kota Depok ?
- Langkah III, menjawab pertanyaan ketiga yaitu Bagaimana arahan dalam
meningkatkan mobilitas kawasan, mengurangi kemacetan, pemanwaatan waktu,
kenyamanan untuk kawasan Mix Use dan kepadatan yang tinggi di Kota Depok?

HASIL DAN PEMBAHASAN


Konsep TOD dapat dibangun di sebuah kawasan yang dianggap sudah mengalami
penurunan baik fungsi dan kualitas fisiknya dan harus mengalami proses redevelopment
(pembangunan kembali). Selain itu konsep ini juga dapat dilakukan pada infill sites
(lahan yang sudah berkembang) maupun new growth areas (lahan pengembangan baru).
Konsep TOD ini biasanya memberikan atau menciptakan fungsi-fungsi baru dan
perbaikan jaringan sistem transit yang berada dalam kawasan ataupun menciptakan
jaringan sistem transit yang baru.
Dalam satu pengembangan kawasan TOD terdapat beberapa variabel yang harus ada
dalam kawasan, yaitu :
1. Kawasan Pusat Komersial
Fungsi komersial pada konsep TOD merupakan bagian inti dari kawasan yang
diintegrasikan dengan fungsi transit. Terintegrasinya fungsi transit dan core
comercial di kawasan akan dapat menarik orang-orang untuk datang ke kawasan dan
menggunakan jasa transit menuju kawasan. Perletakan core comercial yang akan
diciptakan harus tetap memperhatikan keseimbangan akan kenyamanan, visibilitas
dan aksesibilitas dari pejalan kaki dan kendaraan.

2. Area Hunian
Kawasan TOD juga harus dapat memfasilitasi fungsi hunian di sekitarnya.
Bangunan yang cocok untuk satu kawasan TOD yang berada di kawasan perkotaan
adalah bangunan apartemen mengingat tingginya intensitas di satu kawasan
perkotaan.
3. Taman, Plasa dan Bangunan publik
Pola pembangunan dari TOD adalah dengan penempatannya yang mudah diakses
oleh berbagai fasilitas dan ruang publik. Fungsi ruang publik disini adalah agar
dapat memenuhi tuntutan agar ruang publik sebagai tempat bagi masyarakat
melakukan interaksi sosial . Selain itu ruang terbuka yang berupa taman dan plasa
adalah sebagai pengikat antar massa bangunan.
4. Sistem Transit
Lokasi tempat perhentian transit diletakan di bagian pusat dari area TOD yang
berdekatan dengan core comercial area. Fungsi komersial tersebut harus dapat
dilihat dan diakses dengan mudah dari tempat perhentian transit.
5. Mixed Use
Fungsi-fungsi baru yang akan dimasukkan ke dalam kawasan perencanaan adalah
fungsi mixed use berupa fungsi komersial (mall, toserba, retail, pkl), fungsi
hunian, perkantoran, fasilitas publik dan sosial (stasiun kereta api beserta
fasilitasnya, kantor keamanan, mesjid, dan gedung parkir), dll. Tujuan dari
penggabungan berbagai fungsi yang ada ke dalam kawasan adalah untuk
menciptakan suatu kawasan yang hidup selama 24 jam. Pengawasan dilakukan
secara menerus dan bersama oleh aparat keamanan serta para penghuni kawasan,
sehingga kemudian keamanan lingkungan dapat tetap terjaga dengan baik.
6. Sistem Jalan dan Sirkulasi.
Jaringan jalan harus dapat menciptakan keselamatan serta menyediakan jalur pejalan
yang nyaman yang terpisah antara jalur kendaraan dan pejalan.
7. Kebutuhan Parkir
Fasilitas parkir dalam kawasan TOD harus memperhatikan :
a. Sesuai dengan kebutuhan kawasan untuk kebutuhan minimum dan maksimum.
b. Perletakan tempat parkir harus terintegrasi dengan jalur pejalan kaki dan jarak
tempuh ke bangunan tidak terlalu jauh.
Fungsi parkir dapat dilakukan dengan pembagian waktu, dimana waktu siang
digunakan untuk parkir fungsi perkantoran dan pada malam hari digunakan sebagai
tempat parkir untuk fungsi hunian.
8. Jalur Pejalan Kaki
Jalur pejalan kaki dibuat untuk menghubungkan fungsi-fungsi yang berada di
kawasan sehingga pencapaian dari satu fungsi ke fungsi lain dapat diakses dengan
mudah oleh pengguna jalan. Jalur-jalur pejalan kaki dibuat dengan nyaman dan
memiliki akses langsung ke area-area komersial dan transit. Jalur pejalan kaki juga
harus teritegrasi dengan fungsi ruang terbuka dan plasa-plasa.

Pada dasarnya konsep TOD (Transit Oriented Development) mempunyai prinsipprinsip perancangan yaitu :
a. Density : Kepadatan kawasan pengembangan yang terkait dengan radius
pelayanan titik transitnya.
b. Diversity : Harus beragamnya fungsi di kawasan (mix-use).
c. Design
: Desain kawasan yang terintegrasi satu dengan lainnya.
Sejarah Kota Depok
Depok bermula dari sebuah Kecamatan yang berada dalam lingkungan Kewedanaan
(Pembantu Bupati) Wilayah Parung Kabupaten Bogor, kemudian pada tahun 1976
Perumahan mulai dibangun baik oleh Perum Perumnas maupun Pengembang yang
kemudian diikuti dengan dibangunnya kampus Universitas Indonesia (UI), serta
meningkatnya perdagangan dan jasa, yang semakin pesat, sehingga diperlukan
kecepatan pelayanan.
Peta Peruntukan Lahan

Gambar 1 Peta Struktur Pelayanan Kegiatan Kota


Sumber : (RTRW Kota Depok, 2000 2010)

Gambar 2 Peta Fokus Area Kawasan Teminal Depok dan sekitarnya

Tabel 1 Tabel Penggunaan Lahan Kota Depok

Sumber : RTRW Kota Depok, 2000 2010

Gambar 3 Tata Guna Lahan Kawasan Terminal Depok

Stasiun
Di Depok ada beberapa stasiun kereta api; Stasiun kereta api Universitas
Indonesia, Stasiun kereta api Pondok Cina, Stasiun kereta api Depok Baru, Stasiun
kereta api Depok Lama dan Stasiun Bojonggede. Stasiun kereta api listrik Depok
Baru adalah salah satu dari beberapa stasiun kereta api di Depok yang merupakan
titik transit yang paling dekat dengan terminal depok, kesibukan stasiun dan
terminal mulai terlihat kepadatannya antara pagi dan sore menjelang malam hari.
Kepadatan bukan hanya terjadi pada sirkulasi pejalan kaki dari titik transit satu ke
titik transit yang lain, tapi jenis kendaraan dari sepeda motor, mobil pribadi dan juga
angkutan umum.
Penghubung stasiun dan terminal memang tidak hanya dapat menggunakan
akses sirkulasi pejalan kaki, beberapa ada yang menggunakan pintu masuk belakang
ITC depok/area parkir sebagai sirkulasi mereka menuju terminal, ini digunakan bagi
mereka karena kepadatan dan kesesakan pada sirkulasi pejalan kaki yang ada.
Terminal
Terminal Depok merupakan satu terminal yang melayani angkutan dalam kota
maupun ke luar kota, terminal ini mempunyai peran tinggi bagi masyarakat seperti
halnya juga kereta api listrik. Lokasinya yang bersebelahan langsung dengan jalan
utama kota depok yaitu jalan margonda raya, sebelah timur terminal depok adalah
plaza depok dan perumahan pesona depok sedangkan di selatan terminal depok ITC
depok. Kondisi terminal sendiri tidak cukup dimanfaatkan, contoh: area parkir yang
berada di tengah antara pintu masuk ke terminal dengan pintu keluar terminal
Perdagangan/Bisnis
Pusat Perbelanjaan ITC Depok tergolong masih baru dibandingkan dengan pusat
perbelanjaan yang lain, pusat perbelanjaan ini adalah pusat perbelanjaan yang dekat
sekali dengan stasiun kereta api depok baru dengan terminal depok, pusat
perbelanjaan ini juga mempunyai lahan parkir yang cukup luas di belakang ITC
Depok atau besebelahan dengan stasiun kereta depok baru.
Pasar Kemiri Muka yang letaknya sebelah utara stasiun dan terminal depok,
sebelah timur pasar kemirimuka dalah pusat perbelanjaan mall depok, sirkulasi ke
pasar bisanya melewati jl. dewi sartika. Akes menuju pasar kondisi sirkulasi pejalan
kaki hampir sama denggan akses stasiun menuju terminal yang kondisinya kalau
hujan turun akan banyak genangan air sehingga akses pejalan kaki tidak nyaman
lagi.
Sistem Jalan dan Sirkulasi
Jalan margonda raya adalah jalan utama menuju depok atau menuju ke arah
bogor, setiap hari bisa di lihat kepadatan pengguna jalan. Kemacetan jalan utama ini
disebabkan kapasitas jalan yang sudah tidak cukup lagi ditambah dengan kurang
disiplinya angkutan umum yang berbenti sembarangan, serta pejalan kaki yang
tidak menggunakan jembatan penyeberangan.

Gambar 4
Pola Jalur Utama dan Titik Transit Transportasi Kereta Api, Bus & angkot
Stasiun Kereta Api Depok Baru dan Terminal Depok
Jarak ideal titik transit satu ke ke titik transit yang lain adalah 400, jarak ideal
yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dan sepeda, radius dari titik pusat stasiun dan
terminal mencakup jarak ke utara 400 sampai dengan bangunan Mall Depok
Sebelah timur ada perumahan pesona depok dan plaza depok sebelah selatan ada
bank jabar dan bank bni.
Parkir
Stasiun dan terminal sebenarnya tidak dilengkapi khusus dengan area parkir
sehingga banyak parkir yang menggunakan jasa parkir yang sediakan penduduk
setempah dirumah-rumah dan halaman, serta ada yang menggunakan area parkir
pada pusat-pusat perbelanjaan yang berdekatan dengan titik-titik transit tersebut.
Ruang Terbuka Hijau
Ruang terbuka di sekitar titik tansit sedikit, bisa dibilang tidak ada, hanya area
parkir pusat-pusat perbelanjaan dan area parkir terminal di depan. Itupun tidak
berfungsi dengan baik.
Beberapa faktor kaitanya dengan pola dan sisitem transit, Pola perkembangan
penduduk justru terjadi pada saat ketika hampir setiap kota akan mempunyai instrumen
pengendali perkembangan kota dalam bentuk rencana tata ruang kota. Pertanyaan umum
yang sering muncul adalah bagaimana sebenarnya peran rencana transit di dalam proses
perkembangan pembangunan. Perencanaan kota terlihat tidak saja tidak efektif, tetapi
justru cenderung tidak berperan apa-apa di dalam mengarahkan pembangunan perkotaan
yang sangat pesat.

Tiga permasalahan besar yang dihadapi oleh kawasan perkotaan adalah :


1. Adanya kecenderungan pemusatan kegiatan (over-concentration) pada kawasankawasan tertentu;
2. Perkembangan penggunaan lahan yang bercampur (mized-use); dan
3. Terjadinya alih fungsi lahan (land conversion) dari ruang terbuka, lahan konservasi,
atau ruang terbuka hijau menjadi kawasan terbangun intensif (permukiman, industri,
perkantoran, prasarana).
Sedangkan permasalahan besar yang dihadapi oleh kawasan sub urban adalah :
1. Terjadinya pengalihan fungsi kawasan resapan air menjadi kawasan terbangun;
2. Terjadinya pembangunan fisik kawasan secara terpencar (urban sprawl); dan
3. Banyaknya lahan tidur di wilayah sub urban dan wilayah transis.
Kemacetan arus lalu lintas yang terjadi di jalan dapat disebabkan oleh banyak faktor,
antara lain :
1. Kondisi fisik jalan, seperti kerusan struktur atau kondisi geometri yang kurang
memadai, diantaranya lebar dan jumlah jalur yang tidak memadai, persimpangan
jalan yang kurang terkontrol dengan baik;
2. Disiplin pengguna jalan yang relatif rendah;
3. Pelayanan ruas jalan yang tidak sesuai dengan fungsi dan peranannya;
4. Lingkungan sepanjang jalan yang kurang mendukung;
5. Lemahnya penegakan hukum (law enforcement);
6. Kondisi lalu lintas, diantaranya peningkatan jumlah kendaraan yang cenderung
meningkat.
SIMPULAN DAN SARAN
Simpulan
Pola tata guna lahan campuran (Mixed Use) yang terbentuk di sekitar titik-titik
transit sudah sebagian terbentuk walaupun tingkat kepadatan di Kota Depok semakin
tinggi dan perencanaan yang kurang, faktor-faktor yang mempengaruhi; pertumbuhan
penduduk yang tidak dapat dikendalikan dan dan sisitem transportasi yang kurang
memadai
Kawasan yang tumbuh disekitar stasiun-stasiun kereta api pada lintas Jakarta-Bogor,
kawasan Stasiun Depok Baru (dengan pengguna lahan perumahan, pertokoan, terminal),
adalah kawasan secara konsep mengarah kepada konsep TOD. Tetapi kekurangan
belum didukung oleh fasilitas akses yang baik (misalnya fasilitas pejalan kaki)
Kesadaran penggunaan angkutan umum daripada mobil pribadi didukung dengan
perbaikan sistem keamanan dan kenyamanan transportasi umum yang didukung
pembangunan infrastruktur pejalan kaki yang baik serta ruang terbuka hijau yang baik.
Saran
Untuk memperbaiki tata guna lahan campuran (Mixed Use) yang terbentuk di
sekitar titik-titik transit di Depok perlu dilakukan peningkatan sisitem transportasi,
memperbaiki perencanaan perkotaan dan mengendalikan pertumbuhan penduduk di
sekitar titik-titik transit. Selain itu juga perlu adanya penambahan fasilitas-fasilitas
umum dan infrastruktur pejalan kaki.

10

DAFTAR PUSTAKA
Boarnet, Marlon and Nicholas Compin. 1999, Transit-Oriented Development in San
Diego County. APA Journal. Winter.
Cervero, Robert and Peter Bosselmann. 1998. Transit Villages: Assessing the Market
Potential Through Visual
Cervero, Robert. 1996. Californias Transit Village Movement. Journal of Public
Transportation. Fall 1996.
Depan Tata Ruang Kota? Inovasi Online Edisi Vol.7/XVIII
Douglas Porter. 1998. Transit-Focused Development: A Progress Report. APA Journal.
Autumn.
http://www.calgary.ca/planning/landuse goto:Publications
http://www.transitorienteddevelopment.org/pages/1/index.htm
http://www.ci.austin.tx.us/development/transit_development.htm
Komisi II Bidang Transportasi Perkotaan,2006, Hasil Kesepakatan Sidang Rakornas
Bidang Perhubungan Darat Dan Perkeretaapian Tahun 2006
Kramadibrata, Soedjono,. Beberapa Pemikiran Pola Pengembangan Transportasi
Perkereta apian.
Majalah Konstruksi , Guide Bus sebagai alternatif transportasi masa depan. hal 77
Metropolitan ,2003 , Bogor Utara, Harapan Bagi Pengalju , Kompas, 21 Juli 2003
Nugroho, Sapto, 2000. Penglaju dan TOD di Jabotabek , Kompas, 16 Agustus 2000.
Roychansyah, Muhammad Sani , Juni 2006, Paradigma Kota Kompak: Solusi Masa
Simulation. Journal of Architectural and Planning Research. Vol.15. No.3.
Trimadi, Harno. Transit Oriented Development (TOD) Sebagai Bagian Transport
Demand Management (TDM), seksi lalu lintas perkotaan wilayah II
www.reconnectingamerica.org The Center for Transit Oriented Development
www.urbandesignassociates.com

11