Anda di halaman 1dari 4

IDENTIFIKASI JAMU SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM


INDONESIA IDENTIFIKASI JAMU SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT) IRA
ASMALIANI 150209350 FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR 2012 IDENTIFIKASI JAMU SECARA KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)
PENDAHULUAN Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan
Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar, selain
kromatografi kertas dan elektroforesis. Berbeda debgan kromatografi kolom yang
mana fase diamnya diisikan atau dikemas di dalamnya, pada kromatografi lapis
tipis, fase diamnya berupa lapisan yang seragam (uniform) pada permukaan
bidang datar yang didukung oleh lempeng kaca, pelat aluminium atau pelat
plastik. Meskipun demikian, kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai
bentuk terbuka dari kromatografi kolom. Kromatografi adalah teknik pemisahan
campuran didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-komponen
campuran tersebut diantara dua fase, yaitu fase diam (padat atau cair) dan fase
gerak(cair atau gas). Kromatografi juga merupakan pemisahan campuran
senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya. Untuk itu,
kemurnian bahan atau komposisi campuran dengan kandungan yang berbeda
dapat dianalisis dengan benar. Tidak hanya kontrol kualitas, analisis bahan
makanan dan lingkungan, tetapi juga kontrol dan optimasi reaksi kimia dan
proses berdasarkan penentuan analitik dari kuantitas material. Teknologi yang
penting untuk analisis dan pemisahan preparatif pada campuran bahan adalah
prinsip dasar kromatografi.Pemisahan senyawa biasanya menggunakan
beberapa tekhnik kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar
bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan. Kromatografi
Lapis Tipis (KLT) merupakan cara pemisahan campuran senyawa menjadi
senyawa murninya dan mengetahui kuantitasnya yang menggunakan.
Kromatografi juga merupakan analisis cepat yang memerlukan bahan sangat
sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya. KLT dapat digunakan untuk
memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya hidrofobik seperti lipida lipida
dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan kromatografi kertas. KLT juga
dapat berguna untuk mencari eluen untuk kromatografi kolom, analisis fraksi
yang diperoleh dari kromatografi kolom, identifikasi senyawa secara
kromatografi, dan isolasi senyawa. KLT ini mirip dengan kromatograafi kertas,
hanya bedanya kertas digantikan dengan lembaran kaca tau plastik yang dilapisi
dengan lapisan tipis adsorben seperti alumina, silike gel, selulosa atau materi
lainnya. Lapisan tipis adsorben pada proses pemisahan berlaku sebagai fasa
diam. Kromatografi lapis tipis lebih bersifat reproduksibel ( bersifat boleh
diulang) dari pada kromatografi kertas. Sebagai fasa diam dalam KLT berupa
serbuk halus dengan ukuran 5 50 mikrometer. Serbuk halus ini dapat berupa
adsorben penukar ion. Bahan adsorben sebagai fasa diam dapat digunakan gel,
alumina, dan serbuk selulosa. Partikel silica gel mengandung gugus hidrosil
dipermukaannya yang akan membentuk ikatan hydrogen dengan molekul
molekul pokar. Untuk membuat lapisan tipis pada KLT perlu dibuat bubur (slurry)
ber air dari serbuk halus tadi. Zat pengikat dapat menggunakan gips, barium
sulfat, polivenil alcohol atau kanji perlu ditambahkan, untuk membantu

peletakan lapisan tipis pada penyangga. Bubuk halus ini kemudian ditebarkan
pada papan penyangga (kaca, plastik atau aluminium), secara merata sehingga
diperoleh ketebalan lapisan 0,1 0,3 mm. lapisan tipis adsorben diaktifkan
dengan pengeringan didalam oven pada suhu 100 oC selama beberapa jam.
TINJAUAN PUSTAKA Kromatografi adalah teknik pemisahan campuran
berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen dalam medium
tertentu. Pada kromatografi, komponen-komponennya akan dipisahkan antara
dua buah fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan
komponen campuran sedangkan fase gerak akan melarutkan zat komponen
campuran. Komponen yang mudah tertahan pada fase diam akan tertinggal.
Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak akan bergerak lebih
cepat. ( Imam Haqiqi, Sohibul,2008 ) Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan
cara pemisahan campuran senyawa menjadi senyawa murninya dan mengetahui
kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis cepat
yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun cuplikannya.KLT
dapat digunakan untuk memisahkan senyawa senyawa yang sifatnya
hidrofobik seperti lipida lipida dan hidrokarbon yang sukar dikerjakan dengan
kromatografi kertas. KLT juga dapat berguna untuk mencari eluen untuk
kromatografi kolom, analisis fraksi yang diperoleh dari kromatografi kolom,
identifikasi senyawa secara kromatografi, dan isolasi senyawa murni skala kecil. (
Anggraeni, Megawati,2009 ). Pemisahan senyawa biasanya menggunakan
beberapa tekhnik kromatografi. Pemilihan teknik kromatografi sebagian besar
bergantung pada sifat kelarutan senyawa yang akan dipisahkan. Semua
kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan, atau kombinasi cairanpadatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui
fase diam dan membawa komponen-komponen yang terdapat dalam campuran.
Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada laju yang berbeda.
( Anggraeni, Megawati,2009 ) Keuntungan KLT dibandingkan dengan
Kromatografi Kertas, ialah lebih serba guna, cepat, kepekaannya lebih tinggi, dan
pemisahan komponen senyawa yang lebih sempurna. Kromatografi ini
melibatkan dua sifat : Sifat fase diam atau sifat lapisan dapat berupa serbuk
halus yang berfungsi sebagai permukaan penjerap. Sifat fase gerak dapat
berupa hamper segala macam pelarut atau campuran pelarut. Prinsip pemisahan
komponen senyawa dalam KLT didasarkan pada prinsip adsiorbsi dan partisi.
Adsorbs adalah proses terserapnya suatu senyawa pada bagian permukaan zat
penjerap (zat padat). Besarnya adsorbs sangat tergantung dari sifat kepolaran
zat elektrostatik antara kedua permukaan tidak sejenis, secara fisika dikatakan
gaya tarik-menarik antar muka karena adanya perbedaan muatan. Partisi adalah
perpindahan massa atau senyawa berdasarkan tingkat kepolaran dengan
bantuan eluen (fase gerak). Komponen yang terlarut akan terbawa oleh fase
diam (penjerap) dengan kecepatan perpindahan yang berbeda-beda akibat
adanya gaya kapiler antara fase gerak dan fase diam.(asni amin, 2012).
Kromatografi lapis tipis juga bisa dilakukan pada sudstansi yang tidak
berwarna :a. Menggunakan pendarflour fase diam pada sebuah lempengan lapis
tipis memiliki substansi yang ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan
pendarflour ketika diberikan sinar ultraviolet ( UV ). Itu berarti jika
menyinarkannya dengan sinar UV akan berpendar. Pendaran ini ditutupi pada

posisi dimana bercak pada kromatogram berada, meskipun bercak-bercak ini


tidak tampak berwarna jika dilihat dengan mata. Itu berarti bahwa penyinaran
sinar UV pada lempengan akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda
dengan posisi bercak-bercak. Bercak tampak seperti bidang kecil yang gelap.
Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, dan tandai posisi-posisi dari
bercak-bercak dengan menggunakan pinsil dan melingkari daerah bercak-bercak
itu. Seketika anda mematikan sinar UV, bercak-bercak tersebut tidak tampak
kembali. b. Menggunakan bercak secara kimia Untuk membuat bercak-bercak
menjadi tampak dengan jalan mereaksikannya dengan zat kimia sehingga
menghasilkan produk yang berwarna. Sebuah contoh yang baik adalah
kromatogram yang dihasilkan dari campuran asam amino. Kromatogram dapat
dikeringkan dan disemprotkan dengan larutan ninhidrin. Ninhidrin bereaksi
dengan asam amino menghasilkan senyawa - senyawa berwarna, umumnya
coklat atau ungu. Dalam metode lain, kromatogram dikeringkan kembali dan
kemudian ditempatkan pada wadah bertutup (seperti gelas kimia dengan
tutupan gelas arloji) bersama dengan kristal iodium. Uap iodium dalam wadah
dapat berekasi dengan bercak pada kromatogram, atau dapat dilekatkan lebih
dekat pada bercak daripada lempengan. Substansi yang dianalisis tampak
sebagai bercak-bercak kecoklatan. (Anggraeni, 2009) Pelaksaanan kromatografi
lapis tipis menggunakan sebuah lapis tipis silika atau alumina yang seragam
pada sebuah lempeng gelas atau logam atau plastik yang keras. Jel silika (atau
alumina) merupakan fase diam. Fase diam untuk kromatografi lapis tipis
seringkali juga mengandung substansi yang mana dapat berpendarflour dalam
sinar ultra violet. Fase gerak merupakan pelarut atau campuran pelarut yang
sesuai.Pelaksanaan ini biasanya dalam pemisahan warna yang merupakan
gabungan dari beberapa zat pewarna atau pemisahan dan isolasi pigment
tanaman yang berwarna hijau dan kuning.a. Kromatogram Pelaksanaan
kromatografi biasanya digunakan dalam pemisahan warna yang merupakan
sebuah campuran dari beberapa zat pewarna.Contoh pelaksanaan kromatografi
lapis tipis : Sebuah garis menggunakan pinsil digambar dekat bagian bawah
lempengan dan setetes pelarut dari campuran pewarna ditempatkan pada garis
itu. Diberikan penandaan pada garis di lempengan untuk menunjukkan posisi
awal dari tetesan. Jika ini dilakukan menggunakan tinta, pewarna dari tinta akan
bergerak selayaknya kromatogram dibentuk / tinta ikut naik ke atas. Ketika
bercak dari campuran itu mengering, lempengan ditempatkan pada sebuah
gelas kimia bertutup berisa pelarut dalam jumlah yang tidak terlalu banyak.
Perlu diperhatikan bahwa batas pelarut berada dibawah garis dimana posisi
bercak berada. Alasan untuk menutup gelas kimia adalah untuk meyakinkan
bahwa kondisi dalam gelas kimia terjenuhkan oleh uap dari pelarut. Untuk
mendapatkan kondisi ini, dalam gelas kimia biasanya ditempatkan beberapa
kertas saring yang terbasahi oleh pelarut. Kondisi jenuh dalam gelas kimia
dengan uap mencegah penguapan pelarut. Karena pelarut bergerak lambat pada
lempengan, komponen-komponen yang berbeda dari campuran pewarna akan
bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak dari perbedaan bercak
warna.b. Perhitungan nilai Rf Jumlah perbedaan warna yang telah terbentuk dari
campuran, pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan
identifikasi senyawa-senyawa yang muncul. Pengukuran ini berdasarkan pada

jarak yang ditempuh oleh pelarut dan jarak yang tempuh oleh bercak warna
masing-masing.Ketika pelarut mendekati bagian atas lempengan, lempengan
dipindahkan dari gelas kimia dan posisi pelarut ditandai dengan sebuah garis,
sebelum mengalami proses penguapan.Pengukuran berlangsung sebagai
berikut : Nilai Rf untuk setiap warna yang telah terbentuk dari campuran,
pengukuran diperoleh dari lempengan untuk memudahkan identifikasi senyawasenyawa yang muncul. Pengukuran ini didasarkan pada jarak yang ditempuh
oleh pelarut dan jarak yang ditempuh oleh bercak warna masing-masing.Ketika
pelarut mendekati bagian atas lempengan, lempengan dipindahkan dari gelas
kimia dan posisi pelarut ditandai dengan sebuah garis, sebelum mengalami
proses penguapan. Nilai Rf untuk setiap warna dihitung dengan rumus sebagai
berikut :Rf = jarak yang ditempuh oleh komponen / jarak yang ditempuh oleh
pelarutc. Mengidentifikasi senyawa-senyawa Dimisalkan campuran asam amino
yang ingin diketahui senyawanya.Caranya: Setetes campuran ditempatkan pada
garis dasar lempengan lapis tipis dan bercak-bercak kecil yang serupa dari asam
amino yang telah diketahui juga ditempatkan pada disamping tetesan yang akan
diidentifikasi. Lempengan lalu ditempatkan pada posisi berdiri dalam pelarut
yang sesuai dan dibiarkan seperti sebelumnya. Dalam gambar, campuran adalah
M dan asam amino yang telah diketahui ditandai 1-5. KESIMPULAN Kromatografi
lapis tipis adalah pemisahan zat berdasarkan kepolarannya, prinsipnya ada dua
yakni partisi dan absorbsi. Bila fase diam berupa zat padat yang aktif, maka
dikenal istilah kromatografi penyerapan (adsorption chromatography). Bila fase
diam berupa zat cair, maka teknik ini disebut kromatografi pembagian (partition
chromatography). Metodenya ada dua fase gerak ( pelarutnya ) dan fase diam
( sampelnya ). Semua kromatografi memiliki fase diam (dapat berupa padatan,
atau kombinasi cairan-padatan) dan fase gerak (berupa cairan atau gas). Fase
gerak mengalir melalui fase diam dan membawa komponen-komponen yang
terdapat dalam campuran. Komponen-komponen yang berbeda bergerak pada
laju yang berbeda. Setelah itu dilihat penampakan noda pada lampu UV 254 dan
366 nm. Lalu dihitung nilai Rf nya, yaitu jarak perambatan noda . DAFTAR
PUSTAKA Amin, Asni.2012. Penuntun Praktikum Farmakognosi 2. Laboratorium
Farmakognosi Farmasi UMI : Makassar Anggraeni, Megawati. 2009. Kromatografi
Lapis Tipis. http://greenhati.blogspot.com/2009/01/kromatografi-lapis-tipis.html.
diakses tanggal 03 juni 2011 pukul 14:00 wib Hafni, Aswita. 2010. Kromatografi
Kertas. http://mimin-mien.blogspot.com/2010 /03/kromatografi-kertas.html.
diakses tanggal 03 juni 2011 pukul 14:10 Haqiqi, Sohibul Himam. 2008.
Kromatografi Lapis Tipis. nadjeeb.files.wordpress .com /2009/10/kromatografi.pdf