Anda di halaman 1dari 8

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Evaluasi Pembangunan Partisipatif Pada Program Penataan


Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas di Kelurahan
Cibuntu Kota Bandung
Ibnu Kusuma Ardhi (1), Ridwan Sutriadi

(2)

(1) Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK),
ITB.
(2) Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB.

Abstrak
Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK/Neighbourhood
Development) direncanakan dan dibangun dengan pendekatan kolaboratif antara pendekatan
bottom up (partisipasi masyarakat) dan pendekatan top down (partisipasi pemerintah dan
Program

stakeholders lainnya) merupakan salah satu alternatif pembangunan perkotaan yang optimal saat
ini. Peran serta masyarakat dalam program PLPBK/neighbourhood development di Kelurahan Cibuntu
ditunjukan melalui keikutsertaan masyarakat pada setiap tahapan program, mulai dari proses
sosialisasi sampai dengan tahap penyusunan aturan bersama agenda program. Tujuan penelitian ini
adalah mengevaluasi program pembangunan partisipasi yang sesuai dengan kajian teori, kebijakan
dan pembangunan yang berkelanjutan, pendekatan yang dilakukan melalui pendekatan evaluasi
formal dengan metode kombinasi campuran antara metode penelitian kuantitatif dan metode
penelitian kualitatif. Metode kualitatif dilakukan dengan menggunakan dua jenis analisis terhadap
hasil pengolahan data yaitu dengan content analysis dan analisis deskriptif kualitatif, dari hasil
temuan studi yang didasarkan pada aspek ideal, legal dan aktual evaluasi perlu dilakukan pada
tahap sosialisasi tingkat kota/kabupaten, Pembentukan/revitalisasi Tim Inti Perencanaan partisipatif
dan pemasaran Pemasaran (TIPP) dan Tim Relawan, pemetaan swadaya, perencanaan partisipatif,
pembentukan pokja PLPBK (tim teknis), dan pada tahap sosialisasi tingkat kelurahan.
Kata-kunci: PLPBK, partisipasi masyarakat, evaluasi

Pengantar
Pendekatan
top-down dan bottom
up
merupakan dua jenis pendekatan perencanaan
yang sering digunakan dalam perencanaan
pembangunan suatu wilayah. Pendekatan
bersifat top down biasanya sering ditemukan
dalam perencanaan pembangunan di negaranegara berkembang, misalnya di Negara
Indoneia,
India,
serta
negara-negara
berkembang
lainnya,
sementara
tipe
perencanaan bottom up lebih sering diterapkan
di negara maju dimana sebagian besar
masyarakatnya secara aktif berpartisipasi dalam
pemerintahan yang ada, contoh negara yang
telah menerapkan perencanaan bottom up
adalah Amerika Serikat, Inggris, Australia,

Selandia Baru, dan beberapa negara maju


lainnya.
Masing-masing
pendekatan
perencanaan, baik pendekatan bottom up
maupun top down memiliki kelebihan dan
kekurangan, sehingga pada dasarnya suatu kota
atau wilayah memilih pendektan top down dan
bottom up lebih didasarkan atas kondisi sosial
serta karakteristik wilayah tersebut, bukan
dikarenakan kelebihan maupun kekurangan
kedua jenis pendekatan perencanaan tersebut.
Dalam sistem perencanaan nasional, pertemuan
antara perencanaan yang bersifat top down dan
bottom up diwadahi dalam musyawarah
perencanaan. perencanaan makro dirancang
pemerintah pusat disempurnakan dengan
memperhatikan
masukan
dari
semua
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 555

Evaluasi Pembangunan Partisipatif Pada Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas di Kelurahan Cibuntu

stakeholders dan selanjutnya digunakan sebagai


pedoman bagi daerah-daerah dan lembagalembaga pemerintah menyusun rencana kerja,
karakteristik
pengembangan
program
pembangunan yang selama ini dilaksanakan di
negara
berkembang
khususnya
Negara
Indonesia cenderung bersifat bottom up,
karakteristik pengembangan program kegiatan
tersebut cenderung berdasarkan kebutuhan
mereka sendiri dan pemerintah hanya sebagai
fasilitator (bersifat bottom up). tantangan
kedepan adalah bagaimana pemerintah dapat
menjalankan sistem pendekatan tersebut
dengan baik melalui sinergitas antara peran
utuh
dari
pemerintah
dan
keterlibatan
masyarakat dalam proses pembangunan sebagai
ciri dari negara yang sedang berkembang,
(keterpaduan antara bottom up dan top down).
Salah satu bentuk representasi dari konsep
pembangunan, Direktorat Jenderal Cipta Karya
Departemen
Pekerjaan
Umum
kemudian
menerapkan
Program
Pengembangan
Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas
(PLP-BK). yang merupakan langkah lebih lanjut
dari Program Penanggulangan Kemiskinan
Perkotaan (P2KP) dikenal secara luas oleh
masyarakat dengan nama Program Nasional
Pemberdayaan Masyarakat (PNPM- Mandiri).
Program PLP-BK adalah suatu program yang
dirancang sebagai bentuk intervensi terhadap
peningkatan
kesejahteraan
masyarakat
terutama masyarakat miskin, atau dengan kata
lain berpenghasilan rendah.
Melalui
Program
Penataan
Lingkungan
Permukiman Berbasis Komunitas (PLPBK/
Neighbourhood
Development)
dengan
penekanan khusus pada penataan prasarana
lingkungan
dan
kualitas
hunian
guna
mendukung pengembangan kegiatan usaha
ekonomi masyarakat dan pemberdayaan sumber
daya manusia dengan memperhatikan tatanan
sosial masyarakat yang direncanakan dan
dibangun dengan pendekatan kolaboratif antara
bottom up approach (partisipasi masyarakat)
dan top down approach (partisipasi pemerintah
dalam hal ini pemda setempat dan stakeholders
lainnya) merupakan salah satu alternatif
pembangunan perkotaan yang optimal saat ini.
556 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Program Neighbourhood Development di


Kelurahan Cibuntu saat ini merupakan program
pemerintah dengan pendekatan yang dilakukan
adalah dengan membentuk nuansa program,
dengan tujuan menggali aspirasi masyarakat,
hasil akhir pada tahap perencanaan program
adalah dokumen perencanaan yang proses
penyusunannya melibatkan masyarakat secara
langsung sebagai subyek dari perencanaan
sehingga pembangunan dapat sesuai dengan
harapan masyarakat, Peran serta masyarakat di
Kelurahan Cibuntu di tunjukan dengan
keikutsertaan masyarakat pada setiap tahapan
program, mulai dari proses sosialisasi sampai
dengan tahap penyusunan aturan bersama
agenda program.
Berdasarkan pertimbangan tersebut perlunya
dilakukan kajian penelitian yang difokuskan
pada tingkatan partisipasi masyarakat, hal ini
dikarenakan begitu sentralnya peran serta
masyarakat dalam pelaksanaan program ini.
Dalam hal ini tingkatan partisipasi memegang
peranan penting dalam keberhasilan program
neighbourhood development itu sendiri.
Permasalahan penelitian yang akan dipecahkan
adalah terkait dengan belum teridentifikasinya
tingkat partisipasi masyarakat pada program
PLPBK sebagai representasi dari tujuan
pelaksanan program dan evaluasi program
pembangunan
partisipatif
yang
dapat
menggambarkan
implementasi
program
kebijakan pemerintah (PLPBK)
Pendekatan dan Metode
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian
ini adalah dengan menggunakan pendekatan
evaluasi formal, evaluasi formal menggunakan
undang-undang, dokumen-dokumen program,
dan wawancara dengan pembuat kebijakan dan
administrator
untuk
mengidentifikasi,
mendefinisikan, menspesifikasikan tujuan dan
target program atau kebijakan
Metode penelitan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Model Concurrent
(kombinasi campuran) antara pendekatan
penelitian kuantitatif dan metode penelitian
kualitatif. Metode Kualitatif dilakukan dengan

Ibnu Kusuma Ardhi

menggunakan
dua jenis
metode analisis
terhadap hasil pengolahan data yang telah
dilakukan, yaitu dengan metode content analysis
dan metode deskriptif dengan rincian sebagai
berikut:
1.

2.

Content analysis, yaitu metode yang


meliputi semua analisis mengenai isi dari
sebuah data dan studi literatur, melalui
teknik mengambil kesimpulan dengan
mengidentifikasi
berbagai
karakteristik
khusus suatu pesan secara objektif,
sistematis, dan generalis. Analisis ini
merupakan studi tehadap objek yang
terekam baik berupa tulisan, situs internet,
perundang-undangan, dan lain-lain.
Deskriptif, yaitu metode analisis dengan
cara melihat keadaan obyek penelitian
melalui uraian, pengertian atau penjelasan
terhadap analisis yang bersifat terukur
maupun tidak terukur. Dalam studi ini,
metode deskriptif dimaksudkan untuk
menjelaskan
informasi
mengenai
pelaksanaan PLPBK di wilayah studi guna
mengetahu hasil yang diharapkan dalam
penelitian ini.

Sedangkan metode kuantitatif dilakukan pada


tahapan pengolahan data selanjutnya dengan
menggunakan perhitungan statistik sederhana
untuk mengolah data hasil yang nantinya
dijadikan rumusan kesimpulan analisis.
Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dalam penelitian ini,
mencakup teknik pengumpulan data dan
variabel penelitian
1. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan
data
dilakukan
melalui
pengumpulan data primer dan data sekunder,
Pengumpulan data primer dilakukan melalui
kuisioner dan wawancara, kuisioner yang
dilakukan oleh peneliti dimaksudkan untuk
mengetahui tingkat partisipasi masyarakat pada
program PLPBK, dengan menggunakan teknik
sampel (disproportional quota sampling),
sedangkan wawancara yang dilakukan adalah
wawancara semi terstruktur (semi-structured

interview), yaitu in-depth interview. Metode ini


digunakan dikarenakan dalam penelitian ini ingin
mengetahui partisipasi masyarakat secara lebih
terbuka sehingga peneliti mendengarkan secara
teliti dan mencatat apa yang dikemukakan oleh
narasumber. Narasumber dalam wawancara
semi terstruktur dilakukan melalui purposive
sampling.
Pengumpulan
data
sekunder
dilakukan melalui pengumpulan dokumen yang
terkait dengan penelitian, diantaranya dokumen
peraturan perundangan, dokumen rencana dan
dokumen
lainnya
yang
sesuai
dengan
kebutuhan studi.
2. Variabel penelitian
Variabel penelitian diperoleh melalui hasil telaah
pustaka mengenai partisipasi masyarakat, yang
kemudian disintesiskan dalam bentuk variabelvariabel yang akan digunakan dalam penelitian
ini. Indikator utama dalam penelitian ini adalah
mengenai partisipasi masyarakat menurut
Cohen dan Uphoff (1986) yang terdiri dari ide,
pengambilan keputusan, implementasi, dan
evaluasi partisipasi. Indikator tersebut menjadi
tolok ukur untuk mengetahui kondisi/aspek
aktual.
Indikator legal diperoleh melalui telah kebijakan,
dokumen, peraturan, petunjuk teknis yang
mengatur pelaksanaan penataan lingkungan
permukiman
berbasis
komunitas
yang
dikeluarkan oleh Kementrian Pekerjaan Umum
melalui Direktorat Jendral Cipta Karya, tahapan
pelaksanaan
menjadi
ukuran
dalam
pembahasan
penelitian.
Indikator
ideal
didasarkan pada tingkatan partisipatif menurut
Arnstein (1969) berikut penjelasannya.
Diskusi
Aspek ideal dalam penelitian ini didasarkan pada
tingkatan partisipasi yang dikemukakan oleh,
Arnstein (1969) menyatakan bahwa partisipasi
masyarakat
identik
dengan
kekuasaan
masyarakat (citizen participation is citizen
power). Partisipasi masyarakat bertingkat sesuai
dengan gradasi kekuasaan yang dapat dilihat
dalam proses pengambilan keputusan.

Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 557

Evaluasi Pembangunan Partisipatif Pada Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas di Kelurahan Cibuntu

Aspek Legal dalam penelitian ini mengacu pada


petunjuk
teknis
pelaksanaan
penataan
lingkungan permukiman berbasis komunitas
yang dikeluarkan oleh Kementrian Pekerjaan
Umum Melalui Dirjen Cipta Karya, tahapan
pelaksanaan menjadi ukuran dalam bahasan
penelitian ini, tahapan yang dilaksanakan terdiri
dari tahap persiapan dan tahap perencanaan,
masing masing tahapan memiliki kegiatan
diantaranya pada tahap persiapan dilakukan
Sosialisasi
tingkat
kota/kabupaten,
Pembentukan Pokja PLPBK, Sosialisasi di tingkat
kelurahan, Penggalangan tokoh tokoh strategis
lokal,
Pembentukan/revitalisasi
Tim
Inti
Perencanaan partisipatif dan Pemasaran (TIPP)
dan Tim Relawan. Pada tahap perencanaan
terdiri dari Penetapan Kawasan Prioritas,
Rekrutmen Tenaga Ahli Perencanaan Partisipatif
dan Pemasaran (TAPP), Pemetaan swadaya
(PS), Perencanaan partisipatif dan Penyusunan
aturan bersama.
Tabel 1. Tingkatan Partisipasi Masyarakat Menurut
Tangga Partisipasi Arnstein
No
1
2
3

Tangga/
Tingkatan
Partisipasi
Manipulasi
(Manipulation)
Terapi
(Therapy)
Pemberitahuan
(Informing

Konsultasi
(Consultation)

Penentraman
(Placation)

6
7

Kemitraan
(Partnership
Pendelegasian
Kekuasaan
(Delegated
Power
Kontrol
Masyarakat

Hakekat
Kesertaan

Tingkatan

Permainan oleh
pemerintah
Sekedar agar
masyarakat
tidak marah
Sekedar
pemberitahuan
searah/sosialisas
i
Masyarakat
didengar
tapi
tidak
selalu
dipakai sarannya
Saran
masyarakat
diterima tetapi
tidak
selalu
dilaksanakan
Timbal balik di
negosiasikan
Masyarakat
diberi kekuasaan
(sebagian atau
seluruh
program)
Sepenuhnya
dikuasai
oleh
masyarakat

Partisipasi
Rendah (non-

melalui pembobotan kepada narasumber dan


penyebaran kuisioner, hasil dari perhitungan
diketahui nilai total partisipasi pada masingmasing tataran ide, pengambilan keputusan,
implementasi dan evaluasi partisipasi berikut
adalah nilai total partisipasi masyarakat.
Tabel

No
1
2

2.

Nilai

Tataran

Total

Partisipasi

Bobot
(%)
67

Ide
Pengambilan
Keputusan
47.64
3
Implementasi
32.63
4
Evaluasi
Partisipasi
79.00
Total Nilai
Sumber: Hasil Analisis Tahun 2014

Masyarakat

Skor

Nilai

30.99

20.76

23.98
26.32

11.42
8.58

19.88

15.70
56.47

Berdasarkan tabel di atas, dapat dikatakan


bahwa total nilai partisipasi masyarakat dalam
program neighbourhood development adalah
sebesar 56,47 dengan skor tertinggi adalah
pada tataran ide sebesar 20,76. Sehingga
dengan total nilai skor sebesar 56,47 maka
dapat diklasifikasikan kedalam kategori tingkat
partisipasi sedang karena berada diantara 33
sampai dengan 66.

participation)

Partisipasi
Sedang

(Tokenism)

Partisipasi
Tinggi

(Citizen
Control)

Sumber: Arnstein (1969:217)

Aspek aktual didasarkan pada analisis mengenai


tingkat partisipasi masyarakat yang dilakukan
558 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Tabel 3. Klasifikasi Tingkat Partisipasi Masyarakat


Kelurahan Cibuntu
No
Tingkatan
1
Partisipasi Tinggi
2
Partisipasi Sedang
3
Partisipasi Rendah
Sumber: Arnstein (1969)

66-100
33-66
33

Range

Hal tersebut sesuai dengan teori tangga


partisipatori yang ditulis oleh Arnstein sebagai
tangga jenjang peran serta/tangga partisipatif
(aladder of citizen participation) yang ditunjukan
melalui tingkatan partisipatif, dari hasil analisis
yang dilakukan bahwa partisipasi masyarakat di
Kelurahan Cibuntu termasuk dalam kategori
Tokenism.
Evaluasi program partisipasi yang akan disusun
memiliki tujuan untuk menggabungkan aspek
aktual dari hasil analisis mengenai tingkat
partisipasi masyarakat dengan kondisi ideal

Ibnu Kusuma Ardhi

yang seharusnya Sesuai dengan yang telah


dijelaskan pada mengenai tingkatan partisipasi
masyarakat, partisipasi tingi (citizen power),
partisipasi sedang (tokenism) dan partisipasi
rendah (non-partisipation)

yang digunakan adalah skor hasil dari masingmasing pertanyaan yang termasuk atau
tergolong kedalam tahapan, Skor aktual
tingkatan partisipasi untuk partisipasi rendah,
sedang, tinggi mengacu pada range yang sudah
ditentukan berdasarkan klasifikasi tingkat
partisipasi masyarakat menurut arnstein, skor
terendah yaitu berada di 33, skor sedang 3366, skor tinggi 66-100.
Tabel 4 Hasil Analisis Perbandingan Kondisi Ideal,
Legal dan Aktual
Kode
a.1
a.2

Gambar 1. Dasar Perumusan Evaluasi


Sumber: Hasil Analisis Tahun 2014

Evaluasi yang akan dirumuskan pada penelitian


ini akan berlandaskan pada analisis pada aspek
ideal, legal, dan aktual. Aspek penting dalam
evaluasi yang diajukan ini adalah pada tingkat
partisipasi tinggi (citizen power) yang terdiri
atas tingginya kontrol masyarakat, pelimpahan
kekuasaan dan kemitraan. Berdasarkan hasil
analisis kondisi saat ini tingkat partisipasi
masyarakat
tergolong
kedalam
tingkat
partisipasi sedang, untuk mendapatkan kondisi
ideal maka evaluasi yang dilakukan adalah
mendorong agar tingkat partisipasi masyarakat
menjadi tinggi.
Untuk dapat mengevaluasi perlu dilakukan
perbandingan antara aspek legal, aktual, dan
ideal dengan cara mengkategorikan kondisi
aktual (berdasarkan hasil analisis tingkat
partisipasi masyarakat) kedalam kondisi legal
(tahapan), yang nantinya dari hasil analisis
kondisi aktual dijadikan rumusan untuk dapat
dievaluasi, untuk mengetahui lebih jelasnya
dapat dilihat pada tabel 4.
Tahapan pelaksanaan dalam petunjuk teknis
penataan lingkungan permukiman berbasis
komunitas dijadikan sebagai aspek legal, tingkat
partisipasi masyarakat dijadikan sebagai kondisi
aktual, sedangkan tingkatan partisipasi menurut
literatur dijadikan sebagai kondisi ideal, skor

(Legal)
Sosialisasi tingkat
kota/kabupaten
Pembentukan Pokja
PLPBK yang sebelumnya
disebut Tim Teknis

(aktual)

(ideal)

46.3

Partisipasi
Sedang

20.37

Partisipasi
Rendah

a.3

Sosialisasi di tingkat
kelurahan

19.44

Partisipasi
Rendah

a.4

Penggalangan tokoh
tokoh strategis lokal

92.59

Partisipasi
Tinggi

a.5

Pembentukan/revitalisas
i Tim Inti Perencanaan
partisipatif dan
pemasaran Pemasaran
(TIPP) dan Tim Relawan

38.89

Partisipasi
Sedang

70.19

Partisipasi
Tinggi

a.6
a.7

Penetapan Kawasan
Prioritas
Rekrutmen Tenaga Ahli
Perencanaan Partisipatif
dan Pemasaran

83.33

Partisipasi
Tinggi

a.8

Pemetaan swadaya (PS)

37.96

Partisipasi
Sedang

a.9

Perencanaan partisipatif

42.13

Partisipasi
Sedang

a.10

Penyusunan strategi
pemasaran

a. 11

Penyusunan aturan
bersama

68,98

Partisipasi
Tinggi

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2014

Skor terendah yaitu pada tahapan pembentukan


pokja PLPBK yang sebelumnya disebut tim
teknis dan sosialisasi di tingkat kelurahan, skor
sedang yaitu pada tahapan sosialisasi tingkat
kota/kabupaten, pembentukan/revitalisasi tim
inti perencanaan partisipatif dan pemasaran,
pemetaan swadaya, perencanaan partisipatif.
Sedangkan
skor
tertinggi
keterlibatan
masyarakat pada pelaksanaan program terdapat
pada tahap penggalangan tokoh tokoh strategis
lokal, penetapan kawasan prioritas, rekrutmen
tenaga ahli perencanaan partisipatif dan
pemasaran, penyusunan aturan bersama.
Kemudian masing-masing tingkatan partisipasi
(kondisi ideal) merupakan bahan yang akan
dijadikan
evaluasi
berdasarkan
tingkatan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 559

Evaluasi Pembangunan Partisipatif Pada Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas di Kelurahan Cibuntu

partisipasinya, untuk mengetahui evaluasi apa


saja yang dilakukan dapat dilihat pada tabel di
bawah ini.

(Ideal)

Tabel 5 Evaluasi partisipatif berdasarkan tahapan


(Ideal)

Tahapan

Penggalangan
tokoh tokoh
strategis lokal
(a.4)

Penetapan
Kawasan
Prioritas (a.6)

Tinggi

Rekrutmen
Tenaga Ahli
Perencanaan
Partisipatif
dan
Pemasaran
(a.7)

Penyusunan
aturan
bersama
(a.11)

Sosialisasi
tingkat
kota/kabupat
en (a.1)

Sedang

Pembentukan
/revitalisasi
Tim Inti
Perencanaan
partisipatif
dan
pemasaran
Pemasaran
(TIPP) dan
Tim Relawan
(a.5)

Pemetaan
swadaya (PS)
(a.8)

Evaluasi
Meningkatkan peran dan fungsi
utama
sebagai
penggerak
masyarakat, pelopor perubahan,
serta dalam pelaksanaanya turut
berpartisipasi
dalam
seluruh
kegiatan program.
Lokasi kawasan prioritas ditentukan.
Menjadikan
bangunan
dan
lingkungan permukiman miskin di
kawasan prioritas yang lebih tertata
dengan pelayanan prasarana dan
sarana yang lebih berfungsi
Meningkatkan kembali fungsi dan
tugas awal TAPP, dengan cara:
1. Memastikan
keterlibatan
masyarakat
dan
proses
pengambilan
keputusan
dilakukan secara partisipatif,
Membantu masyarakat
2. merumuskan strategi, rencana
kerja
dan
Melaksanakan
kegiatan pemasaran sosial
3. Bekerjasama
dengan
tim
fasilitator,
konsultan
dan
pemerintah
daerah
dalam
seluruh
tahapan
kegiatan
perencanaan partisipatif dan
pemasaran.
4. Membantu
masyarakat
menyusun RPLP, RTPLP, dan
aturan bersama sesuai hasil
kesepakatan rembug, sesuai
dengan
kaidah
perencanaan
permukiman dan tepat sasaran.
Meningkatkan semangat masyarakat
dalam menjalankan program.
Seluruh masyarakat dan staf
program menyusun aturan bersama.
Masyarakat
mengetahui
aturan
pelaksanaan.
Masyarakat memberi pengaruh
dalam penyusunan aturan bersama
Masyarakat dapat mengetahui dan
memahami tentang apa yang akan
dilakukan dalam rangka PLPBK,
yang akan dilaksanakan dikelurahan,
serta
terbangunnya
semangat
masyarakat
untuk
segera
melaksanakan .
Meningkatkan kembali fungsi dan
tugas awal TIPP, dengan cara:
1. Bekerjasama dengan TAPP yang
akan memberikan dampingan
dan bantuan teknis terkait
kegiatan
perencanaan
dan
pemasaran.
2. Menyusun rencana Kerja (Action
Plan),
RAB
dan
pertanggungjawaban
pelaksanaan kegiatan PLPBK,
3. Bekerjasama
dengan
BKM.
Didampingi TAPP melaksanakan
seluruh
rangkaian
proses
penyusunan
RPLP,
RTPLP,strategi pemasaran, dan
aturan
bersama
secara
partisipatif dengan melibatkan
masyarakat baik perempuan dan
laki-laki.
4. Mengorganisasikan masyarakat
dalam pelaksanaan kegiatan dan

560 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Perencanaan
partisipatif
(a.9)

Rendah

Evaluasi

Tahapan

Pembentukan
Pokja PLPBK
yang
sebelumnya
disebut Tim
Teknis
(a.2)
Sosialisasi
tingkat
kelurahan
(a.3)

pengambilan keputusan serta


mengkomunikasikan
hasil-hasil
tahapan siklus kepada seluruh
warga masyarakat.
Masyarakat
diharapkan
mampu
berpartisipasi dalam menilai kondisi
masyarakat
dan
lingkungannya
serta merumuskan sendiri berbagai
persoalan
yang
dihadapi
dan
potensi yang dimilliki sehingga dapat
merumuskan berbagai alternatif
pemecahan
1. Menyusun dokumen perencanaan
(RPLP dan RTPLP)
2. Masyarakat
hadir
dalam
pertemuan untuk penyampaian
usulan
perencanaan
dan
perancangan prasarana yang
akan dibangun
3. Masyarakat menyediakan tempat
dalam
penyampaian
usulan
perencanaan dan perancangan
program
4. Pengaruh dari seluruh tokoh
masyarakat, staff program dan
stakeholders
lainnya
untuk
menentukan proses pengambilan
keputusan
Masyarakat
mendaftarkan
diri
sebagai bagian dari program atas
dasar kesadaran diri (sukarela) atau
paksaan.

Hasil yang diharapkan adalah


masyarakat
mengetahui
dan
memahami tentang apa yang akan
dilakukan dalam rangka PLPBK, yang
akan dilaksanakan di kelurahan,
serta
terbangunnya
semangat
masyarakat
untuk
segera
melaksanakan,

Sumber: Hasil Analisis Tahun 2014

Penekanan evaluasi secara umum ditujukan


kepada tingkat partisipasi tinggi dan secara
khusus ditujukan kepada tingkat partisipasi
rendah, evaluasi yang dilakukan disesuaikan
dengan hasil yang diharapkan pada setiap
tahapan pelaksanaan program seperti yang
tertera dalam petunjuk teknis penataan
lingkungan permukiman berbasis komunitas
mengenai hasil yang diharapkan disetiap
tahapan pelaksanaan
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan
dalam penelitian ini, temuan studi berdasarkan
sasaran yang dituju adalah:
1. Jenis pendekatan yang digunakan adalah
dengan menggunakan metode evaluasi
formal, sifat dari evaluasi formal adalah
melakukan penilaian berdasarkan parameter
yang ada pada dokumen formal seperti

Ibnu Kusuma Ardhi

tujuan , sasaran dan tahapan pelaksanaan


yang tercantum dalam dokumen teknis atau
petunjuk teknis kebijakan.,
teori yang
digunakan
berdasarkan
hasil
analisis
perbandingan kelebihan dan kekurangan dari
tingkatan partisipasi masyarakat yang paling
ideal adalah partisipasi tinggi (citizen power),
dimana masyarakat pada kondisi ini memiliki
kontrol masyarakat (citizen control) dalam
segala
aspek,
pelimpahan
kekuasaan
(delegated
power)
serta
kemitraan
(partnership).
2. Aspek legal yang digunakan dalam penelitian
ini adalah mengacu pada petunjuk teknis
penataan permukiman berbasis komunitas
yang dikeluarkan oleh Kementrian Pekerjaan
Umum melalui Ditjen Cipta Karya, yang
menjadi ukuran dalam penelitian ini yaitu
terdapat pada tahapan pelaksanaan kegiatan
program terdiri dari tahap persiapan dan
tahap perencanaan.
3. Berdasarkan pada analisis yang telah
dilakukan nilai total partisipasi masyarakat di
Kelurahan Cibuntu dalam
perencanaan
program neighbourhood development adalah
sebesar 56.47 dengan skor tertinggi adalah
pada
tataran
ide
sebesar
20,76
diklasifikasikan ke dalam kategori tingkat
partisipasi sedang (Tokenism). penghargaan
masyarakat Kelurahan Cibuntu cukup dihargai
melalui
pemberian
informasi,
diajak
konsultasi, dan ditempatkan wakilnya dalam
lembaga-lembaga
pengambil
keputusan,
namun peran pemerintah masih sangat
berpengaruh dalam pengambilan keputusan
perencanaan
Kesimpulan yang ditarik untuk dapat menjawab
pertanyaan mengenai belum teridentifikasinya
tingkat partisipasi masyarakat pada program
PLPBK sebagai representasi dari tujuan
pelaksanan program dan belum adanya
evaluasi program pembangunan partisipatif
yang dapat menggambarkan implementasi
program kebijakan pemerintah (PLPBK) adalah
melalui
evaluasi
program
partisipasi
pembangunan yang mengkolaborasikan aspek
ideal, legal, dan aktual sehingga diketahui pada
tahapan apa saja evaluasi perlu dilakukan.

1. Tingkat partisipasi masyarakat di Kelurahan


Cibuntu
termasuk
kedalam
tingkatan
partisipasi sedang (tokenism), penghargaan
masyarakat Kelurahan Cibuntu cukup dihargai
melalui
pemberian
informasi,
diajak
konsultasi, dan ditempatkan wakilnya dalam
lembaga-lembaga
pengambil
keputusan,
namun disi lain peran pemerintah masih
sangat berpengaruh dalam pengambilan
keputusan perencanaan.
2. Berdasarkan hasil analisis yang telah
dilakukan pada bahasan sebelumnya evaluasi
perlu dilakukan pada tahap sosialisasi tingkat
kota/kabupaten, Pembentukan/revitalisasi Tim
Inti Perencanaan partisipatif dan pemasaran
Pemasaran (TIPP) dan Tim Relawan,
pemetaan swadaya, perencanaan partisipatif,
pembentukan pokja PLPBK (tim teknis), dan
pada tahap sosialisasi tingkat kelurahan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dr.
Ridwan Sutriadi selaku pembimbing, atas
bimbingannya dalam menyusun penelitian ini
Daftar Pustaka
Kelompok Buku Teks, Jurnal, dan Artikel
..................,
(2012).
Rencana
Penataan
Permukiman Kelurahan Cibuntu Kecamatan
Bandung Kulon, BKM. Bandung.
.................., (2012). Rencana Tata Bangunan
dan
Lingkungan
Kelurahan
Cibuntu
Kecamatan Bandung Kulon, BKM. Bandung.
Arnstein, Sherry. (1969). A Ladder of Citizen
Participation. Journal of the American
Institute of Planners. Vol. 35, No. 4, July
1969, pp. 216-224.
Berger, N., P. Glick, F. Perez-Arce, L.
Rabinovich, and J. Yoong. (2011). Process

Evaluation of the Program Nasional


Pemberdayaan Masyarakat (PNPM)- Urban.
Rand Corporation.
Cohen, J.M. and N.T. Uphoff. (1977). Rural

Development Participation: Concepts and


Measures for Project Design, Implementation
and Evaluation. Ithaca, NY: Cornel University.
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota 2 SAPPK V3N3| 561

Evaluasi Pembangunan Partisipatif Pada Program Penataan Lingkungan Permukiman Berbasis Komunitas di Kelurahan Cibuntu

Dunn, William N. (2008). Public Policy Analysis:


An Introduction. Upper Saddle River: Pearson
Education, Inc.
Dwijdojowijoto, Riant Nugroho. (2007). Analisis
Kebijakan Publik. Jakarta: PT Elex Media
Komputindo.
Moleong, Lexy J. (2001). Metodologi Penelitian
Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Ochoa, Catalina (2011). The Community Based

Neighborhood
Development
Approach:
Evolution, Definition, and Key Aspects Moving
Forward. New York, NY: World Bank.
Ostrom, Elinor. (1990). Governing the Common:
The Evolution of Institution for Collective
Action. Cambridge: Cambridge University
Press.
Parsons, Wayne. (2001). Public Pilicy: Pengantar
dan Teori dan Praktek Analisis Kebijakan.
Cheltenham: Edward Elgar Publishing, Ltd.
Shadish, Wiliam R. (1991). Foundation of
Program Evaluation: Theories of Practice.
Thousand Oaks: Sage Publications. Inc.
Yin, R.K. (1994). Case Study Research, Design
and Methods. Thousand Oaks: Sage
Publications.
Kelompok Tesis
Sumiarto. 1985. Evaluasi program penitisan
pemugaran perumahan desa di Daerah
Istimewa
Yogyakarta.
Tesis,
Magister
Perencanaan Wilayah dan Kota, ITB.
Bandung. (tidak dipublikasikan)
Triono, Edi. 1993. Studi evaluasi partisipasi
masyarakat
dalam
program
perbaikan
kampung BUDP Tahap II di Kota Bandung.
Tesis, Magister Perencanaan Wilayah dan
Kota, ITB. Bandung. (tidak dipublikasikan)
Trimadi,
Harno.
1993.
Studi
evaluasi
pelaksanaan
program
pembangunan
prasarana kota terpadu (P3KT) di Kabupaten
Cirebon ditinjau dari aspek kelembagaan.
Tesis, Magister Perencanaan Wilayah dan
Kota, ITB. Bandung. (tidak dipublikasikan)

562 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V3N3

Kelompok Daftar Peraturan, Kebijakan,


dan Dokumen
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Nomor
24
Tahun
2007
tentang
Penanggulangan Bencana.
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan
dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
Undang-Undang Dasar Republik Indonesia
Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan
Permukiman
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 15
Tahun
2010
tentang
Penyelenggaraan
Penataan Ruang
Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 dan
PP No. 47 Tahun 1997 tentang Sempadan
Sungai
Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor:
05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan
dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di
Kawasan Perkotaan;
Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 031733-2004 tentang Tata Cara Perencanaan
Lingkungan Perumahan di Perkotaan;
Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat Nomor 14
Tahun 2010 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Provinsi Jawa Barat
Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 18
Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Bandung.
Rencana Program Investasi Jangka Menengah
(RPIJM) Kelurahan
Rencana Penataan Lingkungan Permukiman
(RPLP) Kelurahan
Rencana
Tindak
Penataan
Lingkungan
Permukiman (RTPLP) Kelurahan
Pedoman
Teknis
Penataan
Lingkungan
Permukiman Berbasis Komunitas.
Pedoman Pelaksanaan Strategi Komunikasi
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat
Mandiri.