Anda di halaman 1dari 29

NAB

MENTERI TENAGA KERJA


REPUBLIK INDONSIA
KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA
NOMOR : KEP51/MEN/I999
TENTANG
NILAI AMBANG BATAS FAKTOR FISIKA DI TEMPAT KERJA
MENTERI TENAGA KERJA
Menimbang :
a. Bahwa sebagai pelaksanaan Pasal 3 ayat (1) huruf g Undang- Undang Nomor 1
Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja. perlu ditetapkan Nilai Ambang Batas
Faktor Fisika di tempat Kerja;
b. Bahwa untuk itu perlu ditetapkan dengan Keputusan Menteri.
Mengingat :
1. Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1969 tentang ketentuan- ketentuan Pokok
Mengenai Tenaga Kerja.
2. Undang - Undang Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja.
3. Keputusan Presiden R.I. Nomor 122/M Tahun 1998 tentang Pembentukan
Kabinet Reformasi Pembangunan.
4. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor PER 05/MEN/1996 tentang Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja.
5. Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor KEP 28/MEN/1994 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Departemen Tenaga Kerja.
MEMUTUSKAN:
Menetapkan :
KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA TENTANG NILAI AMBANG
BATAS FAKTOR FlSIKA DI TEMPAT KERJA
Pasal 1
Dalam Keputusan ini yang dimaksud dengan :

1. Tenaga Kerja adalah tiap orang yang mampu melakukan pekerjaan baik di
dalam maupun di luar hubungan kerja guna menghasilkan jasa atau barang
untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
2. Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan, tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang sering dimasuki
tenaga kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau
sumber-sumber bahaya.

3. Nilai Ambang Batas yang selanjutnya disingkat NAB adalah standar faktor
tempat kerja yang dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan
penyakit atau gangguan kesehatan, dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu
tidak melebihi 8 jam sehari atau 40 jam seminggu.
4. Faktor fisika adalah faktor di dalam tempat kerja yang bersifat tisika yang
dalam keputusan ini terdiri dari iklim kerja, kebisingan, getaran, gelombang
mikro dan sinar ultra ungu.
5. Iklim kerja adalah hasil perpaduan antara suhu, kelembaban. kecepatan
gerakan udara dan panas radiasi dengan tingkat pengeluaran panas dari
tubuh tenaga kerja sebagai akibat pekerjaannya.
6. Suhu kering (Dry Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh
termometer suhu kering.
7. Suhu basah alami (Nat Wet Bulb Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan
oleh termometer bola basah alami (Natural Wet bulb Thermometer).
8. Suhu bola (Globe Temperature) adalah suhu yang ditunjukkan oleh
termometer bola (Globe Thermometer).
9. Indeks Suhu Basah dan Bola (Wet Bulb Globe Temperature Index) yang
disingkal ISBB adalah parameter untuk menilai tingkat iklim kerja yang
merupakan hasil perhitungan antara suhu udara kering, suhu basah alami
dan suhu bola.
10. Kebisingan adalah semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari
alat- alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu
dapat menimbulkan gangguan pendengaran.
11. Getaran adalah gerakan yang teratur dari benda atau media dengan arah
bolak- balik dari kedudukan keseimbangannya.
12. Radiasi frekuensi radio dan gelombang mikro (microwave) adalah radiasi
elektro- magnetik den frekuensi 30 kilohertz sampai 300 Giga Hertz.

13. Radiasi ultra ungu (Ultraviolet) adalah radiasi elektromagnetik dengan


panjang gelombang 180 nano meter sampai 400 nano meter (nm).
14. Pengurus adalah orang yang mempunyai tugas memimpin langsung suatu
tempat kerja atau bagiannya yang berdiri sendiri.
15. Pengusaha adalah :
a. Orang atau badan hukum yang menjalankan sesuatu usaha milik sendiri
dan untuk keper!uan itu menggunakan tempat kerja;
b. Orang atau badan hukum yang secara berdiri sendiri menjalankan sesuatu
usaha bukan miliknya dan untuk keperluan itu menggunakan tempat
kerja;
c. Orang atau badan hukum, yang di Indoncsia mewakili orang atau badan
hukum sebagaimana dimaksud pada huruf a dan huruf b jikalau yang
diwakili berkedudukan di luar wilayah Indonesia.
16. Pegawai Pengawas Ketenagakerjaan adalah Pegawai teknis berkeah!ian
khusus dari Departemen Tenaga Kerja yang ditunjuk oleh Menteri.
17. Menteri adalah Menteri yang bertanggung jawab di bidang ketenagakerjaan.
Pasal 2
NAB iklim kerja menggunakan parameter ISBB sebagaimana tercantum dalam
lampiran I.

Pasal 3
(1) NAB kebisingan ditetapkan sebesar 85 desi Bell A (dBA).
(2) Kebisingan yang melampaui NAB, waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana
tercantum dalam lampiran II.
Pasal 4
(1) NAB getaran alat kerja yang kontak langsung maupun tidak langsung pada
lengan dan tangan tenaga kerja ditetapkan sebesar 4 meter per detik kuadrat
(m/det2).
(2) Getaran yang melampaui NAB, waktu pemajanan ditetapkan sebagaimana
tercantum dalam lampiran III.
Pasal 5
NAB radiasi frekuensi radio dan gelombang mikro ditetapkan sebagaimana
tercantum dalam lampiran IV.
Pasal 6
(1) NAB radiasi sinar ultra ungu ditetapkan sebesar 0,1 mikro Watt persentimeter
2
persegi (.uW/crn ).
(2) Radiasi sinar ultra ungu yang melampaui NAB waktu pemajanan ditetapkan
sebagaimana tercantum dalam lampiran V.
Pasal 7
(1) Pengukuran dan penilaian faktor fisika di tempat kerja dilaksanakan oleh Pusat
dan atau Balai Hiperkes dan Keselamatan Kerja atau pihak-pihak lain yang
ditunjuk.
(2) Persyaratan pihak lain untuk dapat ditunjuk sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri atau pejabat yang ditunjuk.
(3) Hasil pengukuran dan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
disampaikan kepada pimpinan perusahaan atau pengurus perusahaan dan
kantor Departemen Tenaga Kerja setempat.
Pasal8
Pelaksanaan pengukuran dan penilaian faktor fisika di tempat kerja berkoordinasi
dengan kantor Departemen Tenaga Kerja setempat.

Pasal 9
Peninjauan NAB faktor fisika di tempat kerja dilakukan sesuai dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pasal l0
Pengusaha atau pengurus harus melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam
Keputusan Menteri ini.
Pasal 11
Dengan berlakunya Keputusan Menteri ini. maka Surat Edaran Menteri Tenaga
Kerja transmigrasi dan Koperasi Nomor SE-01/MEN/1978 tentang Nilai Ambang
Batas (NAB) Untuk iklim Kerja dan Nilai Ambang Batas (NAB) Untuk
Kebisingan di tempat
kerja dinyatakan tidak berlaku lagi.
Pasal 12
Kcputusan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Diletapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN I: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA


NOMOR : KEP. 51/MEN/1999
TANGGAL : 16 APRIL 1999
NILAI AMBANG BATAS IKLIM KERJA
INDEKS SUHU BASAH DAN BOLA (ISBB)

ISSB

YANG DIPERKENANKAN Pengaturan waktu

o
( C)

kerja setiap jam


Waktu Kerja
Bekerja terus menerus
(8 jam/hari)
75% kerja
50% kerja
25% kerja

Beban Kerja
Waktu Istirahat
25% istirahat
50% istirahat
75% istirahat

Ringan
30,0

Sedang
26,7

Berat
25,0

30,6
31,4
32,2

28,0
29,4
31,1

25,9
27,9
30,0

Indeks Suhu Basah dan Bola untuk di luar ruangan dengan panas radiasi :
ISBB : 0,7 Suhu basah alami + 0,2 Suhu bola + 0, I Suhu kering.
lndeks Suhu Basah dan Bola untuk di dalam atau di luar ruangan tanpa panas
radiasi: ISBB = 0,7 Suhu basah alami + 0,3 Suhu bola.
Catatan:
-Beban kerja ringan membutuhkan kalori 100 -200 Kilo kalori/jam.
-Beban kerja sedang membutuhkan kalori > 200 -350 Kilo kalori/jam.
-Beban kerja berat membutuhkan kalori > 350 -500 Kilo kalori/jam.
Diletapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN II: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA


NOMOR KEP.51/MEN/1999
TANGGAL 16 A PR I L 1999
NILAI AMBANG BATAS

Intensitas Kebisingan dalam

KEBISINGAN Waktu pemajanan

dBA

per hari
8 jam

85

4 jam

88

2 jam

91

1 jam

94

30 menit

97

15 menit

100

7,5 menit

103

3,75 menit

106

1,88 menit

109

0,94 menit

112

28,12 detik

115

14,06 detik

118

7,03 detik

121

3,52 detik

124

1,76 detik

127

0,88 detik

130

0,44 detik

133

0,22 detik

136

0,11 detik

139

Catatan: Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dBA, walaupun sesaat.
Diletapkan di : Jakarta

Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN III: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA


NOMOR : KEP.51/MEN/I999
TANGGAL : 16 APRIL 1999
NILAI AMBANG BATAS GETARAN
Nilai percepatan pada frekuensi
dominan
UNTUK PEMAJANAN LENGAN DAN
TANGAN Jumlah waktu pemajanan per hari kerja

Meter per detik


kuadrat Gram ( m /

Gram

2
det )

4 jam dan kurang dari 8 jam

0,40

2 jam dan kurang dari 4 jam

0,61

1 jam dan kurang dari 2 jam

0,81

Kurang dari 1 jam

12

1,22

Catatan:
1 Gram = 9,81 mldet2
Diletapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 16 April 1999

LAMPIRAN IV: KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA


NOMOR KEP. 51/MEN/1999
TANGGAL 16 APRIL 1999
NILAI AMBANG
BATAS
FREKUENSI
RADIO/GELOMBA

Power

Kekuatan

Kekuatan medan

Rata-rata

Density

Medan

magnet

Waktu

( mW/cm2 )

listrik

( A/m )

Pemajanan

NG MIKRO

( V/m )

Frekuensi

(menit)

30 kHz -100 kHz

614

163

100 kHz -3 MHz

614

16,3/f

3 MHz -30 MHz

1842/f

16,3/f

30 MHz -100 MHz

61,4

16,3/f

61,4

0,163

100 MHz -300 MHz

6 300 MHz -3 GHz

F/300

3 GHz -15 GHz

10

15 Ghz -300 Ghz

10

LAMPIRAN V : KEPUTUSAN MENTERI TENAGA KERJA


NOMOR : KEP.51/MEN/I999
TANGGAL : 16 A PR I L 1999
WAKTU PEMAJANAN RADIASI SINAR ULTRA UNGU
YANG DIPERKENANKAN Masa

Iradiasi Efektif (Eeff)

pemajanan perhari

.uW cm2

8 jam

0,1

4 jam

0,2

2 jam

0,4

1 jam

0,8

1 jam

1,7

15 menit

3,3

10 menit

5 menit

10

1 menit

50

30 detik

100

10 detik

300

1 detik

3000

0,5 detik

6000

0,1 detik

30000

Diletapkan di : Jakarta
Pada tanggal : 16 April 1999

TENTANG KEBISINGAN

Bising merupakan semua suara/bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber


dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu
dapat menimbulkan gangguan pendengaran. Menurut Keputusan Menteri Negara
Lingkungan Hidup No. Kep-48/11/1996 Bising adalah Bunyi yang tidak
diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat
menimbulkan

gangguan

kesehatan

manusia

dan

kenyamanan

lingkungan.Gangguan pendengaran adalah perubahan pada tingkat pendengaran


yang berakibat kesulitan dalam melaksanakan kehidupan normal, biasanya dalam
hal pembicaraan.

Menurut ISO derajat ketulian adalah sebagai berikut:


a.Jika peningkatan ambang dengar antara 0 - < 25 dBA, masih normal
b. Jika peningkatan ambang dengar antara 26 - 40 dBA, disebut tuli ringan
c.Jika peningkatan ambang dengar antara 41 - 60 dBA, disebut tuli sedang
d. Jika peningkatan ambang dengar antara 61 - 90 dBA, disebut tuli berat
e.Jika peningkatan ambang dengar antara > 90 dBA, disebut tuli sangat berat
Jenis Kebisingan
Berdasarkan sifat dan spektrum frekuensi bunyi, bising dibagi atas:
1. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang luas. Bising ini relatif
tetap dalam batas kurang lebih 5 dBA untuk periode 0,5 detik berturut-turut.
Misalnya mesin, kipas angin, dapur pijar.
2. Bising yang kontinyu dengan spektrum frekuensi yang sempit. Bising ini juga
relatif tetap, akan tetapi ia hanya mempunyai

frekuensi tertentu saja (pada

frekuensi 500, 1000, dan 4000 Hz). Misalnya gergaji sirkuler, katup gas.

3.Bising

terputus-putus

(Intermittent).

Bising di sini tidak terjadi secara terus


menerus, melainkan ada
tenang.

Misalnya

periode relatif

suara

lalu

lintas,

kebisingan di lapangan terbang


4.

Bising

memiliki

impulsif. Bising jenis ini


perubahan

tekanan

suara

melebihi 40 dBA dalam waktu sangat


cepat

dan

biasanya

mengejutkan

pendengaran. Misalnya tembakan, suara


ledakan mercon, meriam
5. Bising Impulsifberulang. Sama dengan bising impulsif , hanya saja disini
terjadi secara berulang-ulang. Misalnya mesin tempa.

Berdasarkan pengaruhnya terhadap manusia, bising dapat dibagi atas:


1. Bising yang mengganggu (Irritating noise). Intensitas tidak terlalu keras.
Misalnya mendengkur.
2. Bising yang menutupi (Masking noise). Merupakan bunyi yang menutupi
pendengaran yang jelas. Secara tidak langsung bunyi ini akan membahayakan
kesehatan dan keselamatan tenaga kerja,
kerena teriakan atau isyarat tanda bahaya tenggelam dalam bising dari sumber
lain.
3.

Bising yang merusak (damaging / injurious noise) adalah bunyi yang

intensitasnya melampaui NAB. Bunyi jenis ini akan merusak atau menurunkan
fungsi pendengaran.

Nilai ambang batas kebisingan

Nilai Ambang Batas kebisingan adalah 85 dBA untuk waktu pemajanan selama 8
jam per hari. Pengendalian kebisingan dilakukan dengan mengatur waktu kerja
sehubungan dengan tingkat paparan kebisingan, seperti pada Tabel dibawah ini:

Zona Kebisingan
Daerah dibagi sesuai dengan titik kebisingan yang diizinkan
Zona A : Intensitas 35 45 dB. Zona yang diperuntukkan bagi tempat penelitian,
RS, tempat perawatan kesehatan/sosial & sejenisnya.
Zona B : Intensitas 45 55 dB. Zona yang diperuntukkan bagi perumahan, tempat
Pendidikan dan rekreasi.
Zona C : Intensitas 50 60 dB. Zona yang diperuntukkan bagi perkantoran,
Perdagangan dan pasar.
Zona D : Intensitas 60 70 dB. Zona yang diperuntukkan bagi industri, pabrik,
stasiun KA, terminal bis dan sejenisnya.
Zona Kebisingan menurut IATA (International Air Transportation Association)
Zona A: intensitas > 150 dB daerah berbahaya dan harus dihindari
Zona B: intensitas 135-150 dB individu yang terpapar perlu memakai
pelindung telinga (earmuff dan earplug)
Zona C: 115-135 dB perlu memakai earmuff
Zona D: 100-115 dB perlu memakai earplug

Pengaruh kebisingan
Kebisingan dapat menimbulkan pengaruh negatif berupa gangguan -gangguan
diantaranya :

1. Gangguan Fisiologis
Pada umumnya, bising bernada tinggi sangat mengganggu, apalagi bila terputusputus atau yang datangnya tiba-tiba. Gangguan dapat berupa peningkatan tekanan
darah

10

mmHg),

peningkatan

nadi,

konstriksi

pembuluh

darah

periferterutama pada tangan dan kaki, serta dapat menyebabkan pucat dan
gangguan sensoris.
Bising dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan pusing/sakit kepala. Hal ini
disebabkan bising dapat merangsang situasi

reseptor vestibulardalam telinga

dalam yang akan menimbulkan evek pusing/vertigo. Perasaan mual, susah tidur
dan sesak nafas disebabkan oleh rangsangan bising terhadap sistem saraf,
keseimbangan organ, kelenjar endokrin, tekanan darah, sistem pencernaan dan
keseimbangan elektrolit.
2. Gangguan Psikologis
Gangguan psikologis dapat berupa rasa tidak nyaman, kurang konsentrasi, susah
tidur, dan cepat marah. Bila kebisingan
diterima dalam waktu lama dapat menyebabkan penyakit psikosomatik berupa
gastritis,jantung, stres, kelelahan dan lain-lain.
3. Gangguan Komunikasi
Gangguan komunikasi biasanya disebabkan masking effect (bunyi yang menutupi
pendengaran yang kurang jelas) atau gangguan kejelasan suara. Komunikasi
pembicaraan harus dilakukan dengan cara berteriak. Gangguan ini menyebabkan
terganggunya pekerjaan, sampai pada kemungkinan terjadinya kesalahan karena
tidak mendengar isyarat atau tanda bahaya. Gangguan komunikasi ini secara tidak
langsung membahayakan keselamatan seseorang.
4. Gangguan Keseimbangan

Bising yang sangat tinggi dapatmenyebabkan kesan berjalan di ruang angkasa


atau melayang, yang dapat menimbulkan gangguan fisiologis berupa kepala
pusing (vertigo) atau mual-mual.
5. Efek pada pendengaran
Pengaruh utama dari bising pada kesehatan adalah kerusakan pada indera
pendengaran, yang menyebabkan tuli progresif dan efek ini telah diketahui dan
diterima secara umum dari zaman dulu. Mula-mula efek bising pada pendengaran
adalah sementara dan pemulihan terjadi secara cepat sesudah pekerjaan di area
bising dihentikan. Akan tetapi apabila bekerja terus-menerus di area bising maka
akan terjadi tuli menetap dan tidak dapat
normal kembali, biasanya dimulai pada frekuensi 4000 Hz dan kemudian makin
meluas kefrekuensi sekitarnya dan akhirnya mengenai frekuensi yang biasanya
digunakan untuk percakapan.

Pengendalian Kebisingan
a. Pengendalian secara teknis (Engineering control), Pengendalian secara teknik di
sumber suara adalah cara yang paling efektif untuk mengurangi tingkat
kebisingan. Yang harus dikendalikan pertama - tama adalah sumber suara terkeras.
Pengendalian teknik dilakukan dengan cara:
1. Mendesain kembali peralatan untuk mengurangi kecepatan atau benturan dari
benda yang bergerak, memasang peredam pada lubang pemasukan dan
pembuangan, mengganti peralatan yang lama dengan peralatan yang baru yang
mempunyai desain yang
lebih baik.
2. Merawaat peralatan dengan baik, mengganti bagian yang aus dan memberikan
pelumas pada bagian yang bergerak.
3. Mengisolasi peralatan dengan menjauhkan dari pekerja atau menutupi.

4. Memasang peredam dengan bantalan karet agar bunyi yang ditimbulkan oleh
getaran dan bagian logam dapat dapat dikurangi dengan mengurangi ketinggian
dari tempat barang yang jatuh ke
bak atau ban berjalan.
5. Bahan penyerap bunyi dapat digantung di tempat kerja untuk menyerap bunyi
di tempat tersebut
b. Pengendalian administratif (Administrative control) dengan cara:
1. Melakukan shift kerja
2. Mengurangi waktu kerja
3. Melakukan training
3. Alat pelindung diri
Pemakaian alat pelindung diri merupakan pilihan terakhir yang harus dilakukan.
Alat pelindung diri yang dipakai harus mampu mengurangi kebisingan hingga
mencapai level TWA atau kurang dari itu, yaitu 85
dBA. Ada tiga jenis alat pelindung diri atau alat pelindung pendengaran
yaitu :
1.Sumbat telinga (earplug), dapat mengurangi kebisingan 8-30 dBA. Biasanya
digunakan untuk proteksi sampai dengan 100 dBA. Beberapa tipe dari sumbat
telinga antara lain : formable type,
costum-molded type, premolded type.

2.Tutup telinga (earmuff),dapat menurunkan kebisingan 25-40 dBA. Digunakan


untuk Proteksi sampai dengan 110 dBA.

3. Helm (Helmet), mengurangi kebisingan 40-50 dBA Pengendalian kebisingan


dapat dilakukan juga dengan pengendalian secara medis yaitu dengan cara
memeriksaan kesehatan secara teratur.

Instrumen pengukur kebisingan


Instrumen yang paling umum digunakan untuk mengukur kebisingan yaitu SLM
(Sound Level Meter), ISLM (Suara mengintegrasikan meteran tingkat), dan
dosimeter kebisingan. Penjelasan instrument tersebut akan dibahas secara
mendetail sebagai berikut:

1. Sound Level Meter


Sound level meter ini juga disebut decibel meter dan dosimeter kebisingan, alat
ini dibuat untuk mengukur sebuah tekanan suara dari suatu peristiwa tertentu. Alat
ini digunakan dimana-mana dan alat ini merupakan instrument yang penting
untuk para pekerja sebagai pelindung pendengaran. Alat tersebut dikalibrasi
terlebih dahulu untuk mengambil data dari tingkat kebisingan yang biasanya dapat
dilakukan di berbagai tempat diantaranya yaitu di pabrik atau lokasi konstruksi,
mengukur dari keheningan.
Sound Level Meter ini terdiri dari mikrofon, sirkuit elektronika dan sebuah
tampilan pembacaan. Mikrofon tersebut untuk mendeteksi variasi tekanan udara
kecil yang berhubungan dengan suara dan perubahan menjadi sinyal listrik. Sinyal
tersebut kemudian akan diproses oleh sirkuit elektronik dari instrument. Untuk
melakukan pengukuran dibutuhkan lengan panjang di ketinggian telinga untuk
para pekerja yang terpapar kebisingan. Pengukuran kebisingan di tempat kerja
tingkat harus diambil pada respon slow. Sebuah SLM tipe 2 cukup akurat untuk
evaluasi

bidag

industri.

Setiap

SLM

yang

kurang akurat dari tipe 2 tidak boleh digunakan untuk pengukuran kebisingan.
Filte A bbot biasanya dibangun ke dalam semua SLMs dan dapat posisi ON atau
OFF. Beberapa tipe 2 SLMs memberikan pengukuran hanya dalam dB (A) yang
berarti bahwa filter pembobotan A-ON permanen. Standar SLM membutuhkan
pengukuran kebisingan hanya sesaat. Hal ini cukup di tempat kerja dengan tingkat
kebisingan kontinyu. Tetapi di tempat kerja dengan impuls tingkat kebisingan
intermiten atau variable, SLM membuat sulit untuk menentukan rata-rata paparan
seseorang unutk kebisingan di shift kerja. Salah satu solusi di tempat kerja
tersebut adalah dosimeter kebisingan.

Untuk mengukur kebisingan di lingkungan kerja dapat dilakukan dengan


menggunakan alat Sound Level Meter. Ada tiga cara atau metode pengukuran
akibat kebisingan di lokasi kerja.
1. Pengukuran dengan titik sampling
Pengukuran ini dilakukan bila kebisingan diduga melebihi ambang batas hanya
pada satu atau beberapa lokasi saja. Pengukuran ini juga dapat dilakukan untuk
mengevalusai kebisingan yang disebabkan oleh suatu peralatan sederhana,
misalnya Kompresor/generator. Jarak pengukuran dari sumber harus dicantumkan,
misal 3 meter dari ketinggian 1 meter. Selain itu juga harus diperhatikan arah
mikrofon alat pengukur yang digunakan.
2. Pengukuran dengan peta kontur
Pengukuran dengan membuat peta kontur sangat bermanfaat dalam mengukur
kebisingan, karena peta tersebut dapat menentukan gambar tentang kondisi
kebisingan dalam cakupan area. Pengukuran ini dilakukan dengan membuat
gambar isoplet pada kertas berskala yang sesuai dengan pengukuran yang dibuat.
Biasanya dibuat kode pewarnaan untuk menggambarkan keadaan kebisingan,
warna hijau untuk kebisingan dengan intensitas dibawah 85 dBA warna orange
untuk tingkat kebisingan yang tinggi diatas 90 dBA, warna kuning untuk
kebisingan dengan intensitas antara 85 90 dBA
3. Pengukuran dengan Grid

Untuk mengukur dengan Grid adalah dengan membuat contoh data kebisingan
pada lokasi yang di inginkan. Titiktitik sampling harus dibuat dengan jarak
interval yang sama diseluruh lokasi. Jadi dalam pengukuran lokasi dibagi menjadi
beberpa kotak yang berukuran dan jarak yang sama, misalnya : 10 x 10 m. kotak
tersebut ditandai dengan baris dan kolom untuk memudahkan identitas.
Prosedur Pengukuran
-Posisikan sound level meter pada kedudukan yang merepresentasikan tingkat
intensitas bising di tempat itu.
-Aktifkan pengukuran dengan mengatur saklar geser pada kedudukan Lo atau Hi.
Lo atau Low Intensity berada pada skala 40 s/d 80 dB, sedangkan Hi atau High
Intensity berada pada skala 80 s/d 120 dB.
-Pencatatan pada satu kedudukan akan terkait dengan pembacaan skala minimum
dan skala maksimum.
-Ambil jumlah titik kedudukan sebanyak yang diperlukan.
Metode

Pengukuran

&

Perhitungan

Pengukuran, mengacu pada KepMenLH N0.49/MenLH/11/1996, 3 diantaranya


adalah sebagai berikut:
- Waktu pengukuran adalah 10 menit tiap jam ( dalam 1 hari ada 24 data)
- Pencuplikan data adalah tiap 5 detik ( 10 menit ada 120 data)
-Ketinggian microphone adalah 1,2 m dari permukaan tanah
2. ISLM ( Suara mengintegrasikan meteran tingkat)
Suara mengintegrasikan meteran tingkat (ISLM) mirip dengan dosimeter. Ini
menentukan tingkat suara setara selama periode pengukuran. Perbedaan utama
adalah suatu ISLM tidak memberikan eksposur pribadi karena dipegang tangan

seperti LSM dan tidak dipakai. Alat ini menentukan tingkat suara setara di lokasi
tertentu. Ini hasil pembacaan tunggal dari suara yang diberikan bahkan jika
tingkat suara yang sebenarnya dari kebisingan perubahan terus menerus.
Menggunakan nilai tukar yang deprogram, dengan konstanta waktu yang setara
dengan pengaturan SLOW pada SLM tersebut.
3. Dosimeter Kebisingan
Dosimeter Kebisingan adalah alat khusus untuk mengukur tingkat suara atau
khusus untuk mengukur kebisingan.Alat ini adalah sebuah perangkat, kecil cahaya
yang klip untuk sabuk seseorang dengan mikrofon kecil yang mengikatkan ke
leher orang tersebut, dekat dengan telinga. Alat ini untuk menyimpan informasi
tingkat kebisingan dan melaksanakan proses rata-rata. Hal ini berguna dalam
indutri di mana kebisingan biasanya bervariasi pada durasi dan intensitas, dan
dimana perubahan lokasi.

Beberapa hal penting mengenai kebisingan yaitu:

Apa yang dimaksud dengan kebisingan ?


Kebisingan adalah semua suara/bunyi yang tidak dikehendaki yang bersumber
dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja yang pada tingkat tertentu
dapat menimbulkan gangguan pendengaran.

Apa yang menentukan kualitas suatu bunyi ?


Kwalitas suatu bunyi ditentukan oleh frekuensi dan intensitasnya. Frekuensi
dinyatakan dalam jumlah getaran perdetik ( Hertz,Hz ), sedangkan intensitas atau
arus energi persatuan luas biasanya dinyatakan dalam suatu logaritmis yang
disebut desibel ditulis dBA atau dB(A)

Pada frekuensi berapa telinga manusia mampu mendengar ?


Telinga manusia mampu mendengar pada frekuensi antara 16 20.000 Hz.

Berapa Nilai Ambang Batas ( NAB ) kebisingan yang ditetapkan sesuai


ketentuan ?
Sesuai Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor : KEP-51/MEN/1999 adalah 85
desi Bell A ( dBA ), untuk waktu pemajanan 8 jam perhari. Dan untuk kebisingan
lebih dari 140 dBA walaupun sesaat pemajanan tidak diperkenankan.

Ada berapa macam alat pelindung telinga?


Alat pelindung telinga ada 2 macam, yaitu sumbat telinga ( ear plug ) dan tutup
telinga ( ear muff ). Sumbat telinga jenisnya ada yang permanen dan jenis sekali

pakai, sedang tutup telinga jenisnya sama, hanya dibedakan ada yang langsung
dilekatkan di helmet atau tidak dilekatkan di helmet tetapi menggunakan
headband/ikat kepala namun sering mengganggu alat pelindung lainnya.

Bagaimana menentukan sumbat telinga ( ear plug ) yang baik ?


Sumbat telinga yang baik adalah menahan frekuensi tertentu saja, sedangkan
frekuensi untuk bicara biasanya ( komunikasi ) tidak terganggu.Bahan sumbat
telinga ada yang terbuat dari karet, plastik keras, plastik lunak, lilin dan kapas.
Yang disenangi adalah jenis karet dan plastik lunak karena bisa menyesuaikan
bentuk dengan lobang telinga

Seberapa efektif kebisingan yang dapat dilindungi dengan sumbat telinga?


Bila pemakaiannya baik, daya atenuasi ( daya lindung ) 25-30 dB, bila ada
kebocoran dalam pemakaian dapat mengurangi atenuasi sampai 15 dBA lebih.

Lalu kalau menggunakan tutup telinga ( ear muff ) seberapa efektif kebisingan
yang dapat dilindungi ?
Tutup telinga ( ear muff ) daya atenuasinya ( daya lindung ) sampai 42 dBA ( 35
45 dBA ). Untuk keadaan khusus dapat dikombinasikan antara tutup telinga
dengan sumbat telinga, sehingga dapat atenuasi yang lebih tinggi; tapi tidak lebih
dari 50 dBA, karena hantaran suara melalui tulang masih ada.

Telinga / pendengaran akan tetap terjaga dengan baik , bila alat pelindung
telinga digunakan sebagai mana mestinya, khususnya didaerah sumber
bunyi diatas 85 dba.

Sumber Kebisingan