Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit Skabies adalah penyakit kulit menular yang disebabkan oleh
sarcoptes scabei varian homini, Penyakit ini dikenal juga dengan nama the itch,
gudik atau gatal agogo (Harahap, 2000).
Saat ini Badan Dunia menganggap penyakit skabies sebagai pengganggu
dan perusak kesehatan yang tidak dapat dianggap lagi hanya sekedar penyakitnya
orang miskin karena penyakit skabies masa kini telah merebak menjadi penyakit
kosmopolit yang menyerang semua tingkat sosial (Agoes, 2009).
Menurut Sungkar (2000) mengatakan bahwa penyakit Skabies di seluruh
dunia dengan insiden yang berfluktuasi akibat pengaruh faktor imun yang belum
diketahui sepenuhnya. Penyakit ini banyak dijumpai pada anak-anak dan dewasa,
tetapi dapat mengenai semua umur. Penyakit ini telah ditemukan hampir pada
semua negara di seluruh dunia dengan angka prevalensi yang berpariasi. Di
beberapa negara berkembang prevalensinya dilaporkan berkisar antara 6-27%
dari populasi umum dan insiden tertinggi terdapat pada anak usia sekolah dan
remaja.
Skabies merupakan penyakit endemik pada banyak masyarakat.Penyakit
ini dapat mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit skabies
banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, insidennya sama terjadi
pada pria dan wanita. Insiden skabies di negara berkembang menunjukkan siklus
fluktuasi yang sampai saat ini belum dapat dijelaskan.Interval antara akhir dari
suatu endemik dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun
(Harahap, 2000).

Penyebab dari penyakit ini adalah kondisi kebersihan yang kurang terjaga,
sanitasi yang buruk, kurang gizi dan kondisi ruangan terlalu lembab dan kurang
mendapat sinar matahari secara langsung. Penyakit kulit skabies menular dengan
cepat pada suatu komunitas yang tinggal bersama sehingga dalam pengobatannya
harus dilakukan secara serentak dan menyeluruh pada semua orang dan
lingkungan pada komunitas yang terserang skabies, karena apabila dilakukan
pengobatan secara individual maka akan mudah tertular kembali penyakit skabies
(Yosefw, 2007).
Menurut Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Indonesia
sebesar 4,60-12,95% dan skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit
tersering (Agoes, 2009).
Skabies ditemukan disemua negara dengan prevalensi yang bervariasi.
Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies sekitar 6% - 27%
populasi umum dan cenderung tinggi pada anak-anak serta remaja. Menurut
Departemen Kesehatan RI prevalensi skabies di Puskesmas seluruh Indonesia
pada tahun 1986 adalah 4,6% - 12,95% dan skabies menduduki urutan ketiga dari
12 penyakit kulit tersering. Di bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada
tahun 1988, dijumpai 704 kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh
kasus baru. Pada tahun 2002 dan 2003 prevalensi skabies adalah 6% dan 3,9%
( Sungkar, 2003).
Meski sekarang sudah sangat jarang dan sulit ditemukan laporan
terbaru tentang kasus skabies diberbagai media di Indonesia (terlepas
dari faktor penyebabnya), namun tak dapat dipungkiri bahwa penyakit

kulit ini masih merupakan salah satu penyakit yang sangat mengganggu
aktivitas hidup dan kerja sehari-hari. Ada dugaan bahwa setiap siklus 30 tahun
terjadi epidemik skabies. Banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit
ini, antaralain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, kesalahan
diagnosis, dan perkembangan dermografik serta ekologik. Penyakit ini dapat
dimasukkan dalam P.H.S. (Penyakit akibat Hubungan Seksual) (Handoko. 2007).
Dari hasil pengambilan data dari Tahun 2012-2014 di dapat total
masyarakat yang dapat di data terdiagnosa menderita skabies di daerah kerja
PKM Rensing sebanyak 12 orang dan di antaranya adalah anak-anak ( PKM
Rensing 2014).
Skabies sangat mengganggu dalam kehidupan sehari-hari. Kebersihan
merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan, menjaga kebersihan
tubuh sangat penting untuk mencegah infestasi parasit. Sebaiknya mandi 2 kali
sehari, menghindari kontak langsung dengan penderita mengingat parasit mudah
menular pada kulit (Notoatmodjo, 2000).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan
penelitian mengenai Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Salah Satu Angota
Keluarga Menderita Skabies dalam bentuk Proposal Kasrya Tulis Ilmiah untuk
mengetahui lebih jauh tentang penyakit ini serta mengetahui secara lansung
kebutuhan manusia seutuhnya melalui pelayanan kesehatan utama, baik individu,
keluarga, kelompok, dan masyarakat.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian tersebut diatas maka permasalahan yang dapat di rumuskan


sebagai berikut : Bagaimana Penerapan Asuhan Keperawatan Keluarga
Dengan Salah Satu Anggota Keluarga Menderita Skabies di Wilayah Kerja
PKM Rensing Kabupaten Lombok Timur?.
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penulisan Asuhan Keperawatan Keluarga ini adalah
penulis dapat menerapkan Asuhan Keperawatan Keluarga Dengan Salah
Satu Anggota Keluarga Menderita Skabies di Wilayah Kerja PKM Rensing
Kabupaten Lombok Timur.
1.3.2 Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan Asuhan Keperawatan Keluarga adalah
:
Penulis mampu :
a. Memahami konsep dasar penyakit skabies dan asuhan keperawatan
b.

keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita skabies.


Melakukan pengkajian yang baik dan benar pada keluarga yang salah

c.

satu anggota keluarga mendesita skabies.


Merumuskan diagnosa keperawatan yang tepat pada keluarga dengan

d.

salah satu anggota keluarga menderita skabies.


Menyusun rencana tindakan keperawatan sesuai diagnosa keperawatan

e.

pada keluarga dengan salah satu anggota keluarga menderita skabies.


Melaksanakan tindakan keperawatan pada keluarga dengan salah satu

f.

anggota keluarga menderita skabies.


Melakukan evaluasi keperawatan pada keluarga dengan salah satu

g.

anggota keluarga menderita skabies.


Mendokumentasikan asuhan keperawatan keluarga yang salah satu
anggota keluarga menderita skabies dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah.

1.4 Manfaat Penulisan


1.4.1 Manfaat Bagi Mahasiswa
Meningkatkan pengetahuan mahasiswa dalam penerapan asuhan
keperawatan khususnya pasien dengan diagnosa medis skabies.
1.4.2 Manfaat Bagi Pendidikan
Dapat di jadikan sebagai kajian pustaka dan pengembangan ilmu
keperawatan khususnya bidang keperawatan Keluarga dan Komunitas.

1.4.3 Manfaat Bagi Lahan Praktik dan Masyarakat


Sebagai bahan masukan dalam penerapan asuhan keperawatan
dan sebagai penambah pengetahuan bagi masyarakat khususnya pada
keluarga dengan diagnosa medis skabies.
1.4.4 Manfaat Bagi Pasien
Meningkatkan

pengetahuan

pasien

dalam

perawatan

dan

pencegahan khususnya penyakit skabies.

1.5 Sistematika Penulisan


Agar lebih mudah memahami isi Proposal Karya Tulis Ilmiah ini, maka
penulias membagi penyusunan Proposal Karya Tulis Ilmiah, dengan penyusunan
dalam 2 bab yang saling berkaitan satu sama lain yaitu :
Bab 1 adalah Pendahuluan, berisi tentang latar belakang masalah,
rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, tempat dan waktu serta
sistematika penulisan.
Bab 2 adalah Tinjauan Teori yang menguraikan tentang konsep dasar
keluarga, konsep dasar penyakit skabies dan konsep asuhan keperawatan keluarga

dengan salahsatu anggota keluarga menderita skabies, Mulai dari pengkajian,


diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi, dan evaluasi keperawatan.