Anda di halaman 1dari 26

ANATOMI SISTEM PENAFASAN

MAKALAH
Untuk memenuhi tugas matakuliah
Struktur Perkembangan Hewan
Dibimbing oleh Ibu Sofia Eri Rahayu S.Pd M.Si

Disusun oleh:
Kelompok 3 : S1 Biologi / Offering G
Abdul Hamid Nasirudin

(130342603496)

Khaizzatul Mufarrokhah

(130342615330)

Rabiatul Adawiyah

(130342615311)

Sisca Maylindasari

(130342603491)

Zulham Dwi Firmansyah

(130342615331)

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam


Universitas Negeri Malang
2014

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah Swt atas rahmat dan hidayat-Nya, tim penulis dapat
menyelesaikan makalah Struktur Perkembangan Hewan dengan judul Anatomi Sistem
Pernapasan tepat pada waktunya. Makalah ini ditulis dengan tujuan agar mahasiswa dapat
memahami anatomi organ-organ pernapasan pada hewan khususnya vertebrata. Tim penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu tim penulis dalam
menyusun makalah Struktur Perkembangan Hewan.
Tim penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini jauh dari kesempurnaan.
Untuk itu tim penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun, untuk
kesempurnaan makalah ini. Tim penulis juga berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca.

Malang, 14 April 2014

Penulis

BAB II
PEMBUKAAN

1.1 Latar Belakang


Suatu organisme atau mahluk hidup memiliki bermacam-macam sistem jaringan
atau organ dalam tubuhnya, dimana sistem tersebut memiliki fungsi dan peranan serta
manfaat tertentu bagi mahluk hidup. Salah satu sistem yang ada pada suatu organisme
yakni sistem pernapasan. Sistem pernapasan ini sendiri memiliki fungsi dan peranan
yang sangat struktural dan terkoordinir. Sistem pernapasan merupakan sistem yang
berfungsi untuk mengabsorbsi oksigen dan mengeluarkan karbondioksida dalam tubuh
yang bertujuan untuk mempertahankan homeostasis. Fungsi ini disebut sebagai respirasi.
Sistem pernapasan pada tiap-tiap takson memiliki organ-organ penyusun yang
berbeda-beda . hal ini dipengaruhi oleh tingkat kebutuhan oksigen hewan pada masingmasing habitat.
Dalam ilmu histologi, sistem pernapasan akan dibahas secara detail bahkan sampai
anatominya, sehingga kita bisa mengetahui organ dan saluran apa saja yang ikut
berperanan dalam menyalurkan oksigen (O2) yang kita hirup.
Oleh sebab itu, Bu Sofia Eri Rahayu S.Pd M.Si selaku dosen pembimbing pada mata
kuliah Histologi di Universitas Negeri Malang memberikan tugas pada mahasiswanya
khususnya penulis yang mendapat tugas dengan judul Anatomi Sistem Pernapasan.

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimanakah anatomi sistem pernapasan pada vertebrata?

1.3 Tujuan
Untuk mengetahui anatomi sistem pernapasan pada vertebrata.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Mamalia
Sistem pernafasan mamalia terdiri dari, hidung, faring, laring, trakea, bronkus,
bronkiolus, paru-paru, dan alveolus, yang masing-masing memiliki fungsi dan
struktur yang berbeda-beda seperti yang akan dijelaskan pada uraian dibawah ini.

1.

Hidung (Nasal)

Hidung merupakan saluran udara yang pertama, mempunyai dua lubang


(cavum nasi), dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalam terdapat bulubulu yang berguna untuk menyaring udara, debu, dan kotoran-kotoran yang
masuk kedalam lubang hidung. Bagian luar dinding terdiri dari kulit. Lapisan
tengah terdiri dari otot-otot dan tulang rawan. Lapisan dalam terdiri dari selaput
lendir yang berlipat-lipat yang dinamakan karang hidung (konka nasalis), yang
berjumlah 3 buah, yaitu:
1.
2.
3.

Konka nasalis inferior (karang hidup bagian bawah)


Konka nasalis media (karang hidung bagian tengah)
Konka nasalis superior (karang hidung bagian atas).

Diantara konka-konka tersebut terdapat 3 buah lekukan meatus yaitu


meatus superior (lekukan bagian atas), meatus medialis (lekukan bagian tengah),
dan meatus inferior (lekukan bagian bawah). Meatus-meatus inilah yang dilewati
oleh udara pernafasan, sebelah dalam terdapat lubang yang berhubungan dengan
tekak, lubang ini disebut koana.
Dasar dari rongga hidung dibentuk oleh tulang rahang atas, keatas rongga
hidung berhubungan dengan beberapa rongga yang disebut sinus paranasalis,
yaitu sinus maksilaris pada rongga rahang atas, sinus frontalis pada rongga tulang
dahi, sinus sfenoidalis pada rongga tulang baji dan sinus etmodialis pada rongga
tulang tapis.
Pada sinus etmodialis, keluar ujung-ujung saraf penciuman yang menuju ke
konka nasalis. Pada konka nasalis terdapat sel-sel penciuman, sel tersebut
terutama terdapat di bagianb atas. Pada hidung di bagian mukosa terdapat
serabut-serabut syaraf atau respektor dari saraf penciuman disebut nervus
olfaktorius.
Disebelah belakang konka bagian kiri kanan dan sebelah atas dari langitlangit terdapat satu lubang pembuluh yang menghubungkan rongga tekak dengan
rongga pendengaran tengah, saluran ini disebut tuba auditiva eustaki, yang

menghubungkan telinga tengah dengan faring dan laring. Hidung juga


berhubungan dengan saluran air mata disebut tuba lakminaris. Fungsi hidung,
terdiri dari:
1.
2.

Bekerja sebagai saluran udara pernafasan


Sebagai penyaring udara pernafasan yang dilakukan oleh bulu-bulu

3.
4.

hidung
Dapat menghangatkan udara pernafasan oleh mukosa
Membunuh kuman-kuman yang masuk, bersama-sama

udara

pernafasan oleh leukosit yang terdapat dalam selaput lendir (mukosa) atau
hidung.
2.

Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan.
Terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah
depan ruas tulang leher. adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak
sampai persambungannya dengan oesopagus pada ketinggian tulang rawan
krikoid. Maka letaknya dibelakang hidung (nasofaring) dibelakang mulut
(orofaring) dan dibelakang laring (faring-laringeal).
Hubungan faring dengan organ-organ lain keatas berhubungan dengan
rongga hidung, dengan perantaraan lubang yang bernama koana. Ke depan
berhubungan dengan rongga mulut, tempat hubungan ini bernama istmus
fausium. Ke bawah terdapat dua lubang, ke depan lubang laring, ke belakang
lubang esofagus.
Dibawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga dibeberapa tempat
terdapat folikel getah bening. Perkumpulan getah bening ini dinamakan adenoid.
Disebelahnya terdapat 2 buah tonsilkiri dan kanan dari tekak. Di sebelah belakang
terdapat epiglottis (empang tenggorok) yang berfungsi menutup laring pada
waktu menelan makanan. Rongga tekak dibagi dalam 3 bagian:
1. Bagian sebelah atas yang sama tingginya dengan koana yang disebut
nasofaring
2. Bagian tengah yang sama tingginya dengan istmus fausium disebut
orofaring
3. Bagian bawah sekali dinamakan laringgofaring.
4. Pangkal

3.

Tenggorokan (Laring)

Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai pembentukan suara terletak di


depan bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam
trakea dibawahnya. Pangkal tenggorokan itu dapat ditutup oleh sebuah empang
tenggorok yang disebut epiglotis, yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang
berfungsi pada waktu kita menelan makanan menutupi laring. Laring terdiri dari 5
tulang rawan antara lain:
1.
2.
3.
4.

Kartilago tiroid (1 buah) depan jakun sangat jelas terlihat pada pria
Kartilago ariteanoid (2 buah) yang berbentuk beker
Kartilago krikoid (1 buah) yang berbentuk cincin
Kartilago epiglotis (1 buah)

Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang
dilapisi oleh sel epitelium berlapis. Proses pembentukan suara merupakan hasil
kerjasama antara rongga mulut, rongga hidung, laring, lidah dan bibir. Perbedaan
suara seseorang tergsantung pada tebal dan panjangnya pita suara. Pita suara pria
jauh lebih tebal daripada pita suara wanita.

4.

Trakea

Panjang trakea 9-11 cm dan dibelakang terdiri dari jaringan ikat yang dilapisi
oleh otot polos. Sel-sel bersilia gunanya untuk mengeluarkan benda-benda asing
yang masuk bersama-sama dengan udara pernafasan. Yang memisahkan trakea
menjadi bronkus kiri dan kanan disebut karina.

Trakea berjalan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis


kelima dan ditempat ini bercabang menjadi dua bronkus (bronki). Trakea tersusun
atas 16 sampai 20 lingkaran tak sempurna lengkap berupa cincin tulang rawan
yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran di
sebelah belakang trakea; selain itu juga memuat beberapa jaringan otot. Trakea
dilapisi selaput lendir yang terdiri atas epitelium bersilia dan sel cangkir. Silia ini
bergerak menuju keatas ke arah laring, maka dengan gerakan ini debu dan butirbutir halus lainnya yang turut masuk bersama dengan pernapasan dapat
dikeluarkan. Tulang rawan berfungsi mempertahankan agar trakea tetap terbuka;
karena itu, disebelah belakngnya tidak bersambung, yaitu di tempat trakea
menempel pada esofagus, yang memisahkannya dari tulang belakang.
Trakea servikalis yang berjalan melalui leher disilang oleh istmus kelenjar
tiroid, yaitu belahan kelenjar yang melingkari sisi-sisi trakea. Trakea torasika
berjalan melintasi mediastenum (lihat gambar 5), di belakang sternum,
menyentuh arteri inominata dan arkus aorta. Usofagus terletak dibelakang trakea.

5.

Bronkus
Bronkus terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri, bronkus lobaris kanan (3
lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus). Bronkus lobaris kanan terbagi
menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris kiri terbagi menjadi 9 bronkus
segmental. Bronkus segmentalisini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus
subsegmental yang dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki arteri, limfatik
dan saraf.

6.

Bronkiolus
Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus. Bronkiolus
mengandung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang membentuk
selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan nafas.
a. Bronkiolus terminalis
Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang
mempunyai kelenjar lendir dan silia)
b. Bronkiolus respiratori

Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respirstori. Bronkiolus


respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara lain jalan nafas
konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
c. Duktus alveolar dan sakus alveolar
Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan
sakus alveolar, dan kemudian menjadi alveoli.

7.

Alveoli

Merupakan tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida. Terdapat sekitar


300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m 2. Terdiri atas
3 tipe:
1. Sel-sel alveolar tipe I: sel epitel yang membentuk dinding alveoli
2. Sel-sel alveolar tipe II: sel yang aktif secara metabolik dan nensekresikan
surfaktan (suatu fosfolifid yang melapisi permukaan dalam)
3. Sel-sel alveolar tipe III: makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan
bekerja sebagai mekanisme pertahanan.
8.

Paru paru
Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut. Terletak dalam rongga dada
atau toraks. Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung
dan beberapa pembuluh dareah besar. Setiap paru mempunyai apeks dan basis,
paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus dan fisura interlobaris. Paru
kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus. Lobus-lobus tersebut terbagi menjadi
beberapa segmen sesuai dengan segmen bronkusnya. Pangkal paru-paru duduk di
atas landai rongga toraks, diatas diafragma. Paru-paru mempunyai permukaan

luar yang menyentuh iga-iga, permukaan dalam yang memuat tampak paru-paru,
sisi belakang yang menyentuh tulang belakang, dan sisi depan yang menutupi
sebagian sisi depan jantung.
Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fisura. Paru-paru
kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Setiap lobus tersusun
atas lobula. Sebuah pipa bronkial kecil masuk ke dalam setiap lobula dan semakin
bercabang. Semakin menjadi tipis dan akhirnya berakhir menjadi kantong kecilkecil, elastis, berpori, dan seperti spons. Di dalam air, paru-paru mengapung
karena udara yang ada di dalamnya.
Arteri Pulmonalis membawa darah yang sudah tidak mengandung oksigen dari
ventrikel kanan jantung ke paru-paru; cabang-cabangnya menyentuh saluransaluran bronkial, bercabang dan bercabang lagi sampai menjadi arteriol halus;
arteriol itu membelah-belah dan membentuk kapiler dan kapiler itu menyentuh
dinding alveoli atau gelembung udara.
Kapiler halus itu hanya dapat memuat sedikit, maka praktis dapat dikatakan
sel-sel darah merah membuat baris tunggal. Alirannya bergerak lambat dan
dipisahkan dari udara dalam alveoli hanya oleh dua membran yang sangat tipis,
maka pertukaran gas berlangsung dengan difusi, yang merupakan fungsi
pernapasan.
Kapiler paru-paru bersatu lagi sampai menjadi pembuluh darah lebih besar dan
akhirnya dua vena pulminaris meninggalkan setiap paru-paru membawa darah
berisi oksigen ke atrium kiri jantung untuk didistribusikan ke seluruh tubuh
melalui aorta.
Pembuluh darah yang dilukis sebagai arteria bronkialis membawa darah berisi
oksigen langsung dari aorta toraksika ke paru-paru guna memberi makan dan
menghantarkan oksigen ke dalam jaringan paru-paru sendiri. Cabang akhir arteriarteri ini membentuk pleksus kapiler yang tampak jelas dan terpisah dari yang
terbentuk oleh cabang akhir arteri pulmonaris, tetapi beberapa dari kapiler ini
akhirnya bersatu dalam vena pulmonaris dan darahnya kemudian dibawa masuk
ke dalam vena pulmonaris. Sisa darah itudiantarkan dari setiap paru-paru oleh
vena bronkialis dan ada yang dapat mencapai vena kava superior. Maka dengan
demikian paru-paru mempunyai persediaan darah ganda.

9.

Pleura
Merupakan lapisan tipisyang mengandung kolagen dan jaringan elastis.
Terbagi menjadi 2 yaitu:
1.
2.

Pleura perietalis yaitu yang melapisi rongga dada


Pleura viseralis yaitu yang menyelubungi setiap paru-paru

Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang
berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernafsan.
Juga untuk mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga
pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini

2.2

Aves
Burung bernafas menggunakan paru-paru dan dibantu dengan pudi-pundi
udara/paru-paru tambahan. Fungsi pundi-pundi udara adalah :
1.

Membantu penafasan

2.

Menjaga suhu tubuh dan mencegah kehilangan panas tubuh

3.

Membantu memperkeras suara dengan dengan memperbesar ruang siring

4.

Meringankan tubuh pada saat terbang (Wiryadi, 2008).

Ayam merupakan salah satu ternak yang termasuk dalam kelas aves. Adapun organorgan yang berkaitan dalam sistem pernafasan paada aves, yaitu:
1.

Nares

Anteriores (lubanghidung),

berjumlahsepasangterdapatpadapangkal

rostrum bagian dorsal.


2.

Nares Posteriores, lubang pada palatum, hanya 1 buah, terletak di tengah.

3.

Glottis, terletak tepat di belakang pangkal lidah dan melanjutkan ke caudal, ke

dalam larynx. Glottis ini berhubungan dengan rongga mulut melalui celah yang disebut
rima Glottis
4.

Larink, bagian yang

disokongoleh cartilagocricoidea, dan cartilagoarytenoidea yang berjumlahsepasang.


5.

Trachea adalahlanjutan larynx kearah caudal.

Iniberupasuatupipamempunyaicincin-cincintulang yang disebut annulus trechealis.


6.

Bronchus adalah percabangan trachea ke kanan dan ke kiri, disebutBronchus

dexter dan sinister. Tempat percebangan branchia tadi disebutbifurcatio tracheae.

Bronchi ini masih terbagi, ke dalam bronchi leteralis yang masing-masing akan terbagi
lagi parabronchi.
7.

Pulmo, terdapat pada ujung-ujung bronchi berjumlah sepasang, melekat pada

dinding dorsal thorax. Pulmo ini dibungkus oleh selaput yang disebut pleura.
Pulmo mempunyai hubungan dengan kantong-kantong hawa yang disebut saccus
pneumaticus yang terdiri dari:
a.

Saccusabdominalis, terdapatdiantaralipatanintestinum.

b.

Saccus trhoracalis anterior, terletak pada dinding sisi tubuh pada rongga dada

sebelah muka.
c.

Saccusthoracolis posterior, terletaktepat di belakang saccusthoracolis

anterior.
d.

Saccus interclavicularis, terletak di median, hanya satu buah dan berhubungan

dengan kedua pulmo.


e.

Saccuscervicalis, terletakpadapangkalleher, berjumlahsepasang.

f.

Saccusaxillaris, yaitusaccus yang dibentukolehpenonjolansisi-

sisidarisaccusinterreclavicularis yang terdapatpadadaerahketiak.


8.

Syrinx, terdapatpadabifurcatio tracheae.

Tersusundaribeberapaannulustrachealis yang paling caudal dan annulus


bronchialis yang paling cranial.Alatinimembatasisuaturuangan yang agakmelebar yang
disebut tympanum.
Pada bagian trachea yang tercaudal terdapat suatu cartilago yang terletak melintang
dan ventral ke dorsal, yang disebut pessulus. Pessulus ini menyokong suatu lipatan
yang disebut membran seminularis. Adapun otot-otot yang terdapat di trachea dan
syarinx, yaitu:
1.

Musculus syringealis intrinsic, sepasang berorigo pada dinding trchea, dan

berinsertio pada syrinx.


2.

Musculussternotrachealis, sepasangberorigopada sternum danberisertiopada

trachea.
Suara pada aves dihasilkan oleh getaran dari membrana seminularis. Getaran ini
terjadi karena hasil kerja otot-otot di atas. (Radiopoetra,1996).
Rongga hidung dilengkapi dengan silia (bulu getar) yang berperan menyaring
partikel-partikel yang tercampur udara yang dihirup ayam, seperti debu maupun bibit
penyakit (virus maupun bakteri). Sedangkan pada bagian trakea, bronkus dan

bronkeolus dilengkapi dengan sel-sel epitel yang juga mempunyai bulu getar dan sel
tak bersilia yang akan menghasilkan lendir yang mengandung enzim proteolitik dan
surfaktan. Adanya enzim dan surfaktan (penurun tegangan permukaan) tersebut mampu
menghancurkan beberapa mikroorganisme patogen. Silia hidung hanya mampu
menahan partikel berukuran 3,7-7,0 mikron, sedangkan partikel yang lebih kecil lagi
akan lolos dan bertahan di saluran pernapasan ayam. Perlu diketahui juga ukuran
partikel yang berada di udara kebanyakan memiliki diameter 1-5 mikron, sedangkan
ukuran virus atau bakteri lebih kecil lagi contohnya bakteri Mycoplasma berukuran
0,25-0,5 mikron atau virus AI hanya berdiameter 0,08-0,12 mikron. Bisa dibayangkan
jika silia mengalami kerusakan (misalnya oleh kadar amonia yang tinggi), maka bibit
penyakit akan dengan mudah masuk ke saluran pernapasan dan pada akhirnya ayam
akan mengalami gangguan pernapasan yang berujung pada terjadinya kasus penyakit.
B.

SkemaRespirasiPadaAyam
Dalam sistem respirasi burung tidak memiliki diafragma, melainkan, udara
berpindah dan keluar dari sistem pernapasan melalui perubahan tekanan pada
kantung udara. Otot yang berada di dada menyebabkansternum yang akan
mendorong ke luar. Hal ini mengakibatkan tekanan negatif di udara kantung,
sehingga udara memasuki sistem pernapasan (Foster dan Smith 2007).

C.

SiklusRespirasiPadaAyam
Siklus respirasi pada ayam berbeda dengan sistem respirasi pada ternak
ruminansia. Karena ruminansia termasuk ternak mamalia, namun secara garis
besar siklus respirasi pada ayam sama dengan siklus respirasi pada
aves. Berikutadalahsiklus-siklusrespirasdi yang terdapatpadaayam:
1.

Selama inspirasi pertama, perjalanan udara melalui lubang hidung, ( juga

disebut nares yang terletak di sambungan antara bagian atas paruh atas dan
kepala). Seperti dalam mamalia, udara bergerak melalui lubang hidung ke rongga
hidung. Dari rongga hidung udara melalui larink dan ketrakhea. Udara bergerak
melalui trakhea ke syrink, yang terletak di titik sebelum trakhea membagi dua.
Yang kemudian mengalir melalui syrink. Udara tidak pergi langsung ke paruparu, tetapi perjalanan ke posterior(kantung udara ekor). Sejumlah kecil udara
akan melewati melalui kantung udara ekor untuk paru-paru.
2.

Selama expirasi pertama, udara dipindahkan dari posterior menuju ke

kantung

udara

melalui ventrobronchi dan dorsobronchi ke

paru-

paru.Bronkus akan membelah udara ke saluran kapiler dengan diameter yang

lebih kecil. Darah kapiler mengalir melalui kapiler udara dan ini adalah tempat
oksigen dan karbondioksida dipertukarkan.
3.

Ketika burung mengulangi inspirasi kedua kalinya, udara bergerak ke

kantung-kantung udara tengkorak.


4.

Ekpirasi kedua udara bergerak keluar dari udara tengkorak kantung,

melalui syrink ke trakhea, melalui laring, dan akhirnya melalui rongga hidung dan
keluar dari lubang hidung (Foster dan Smith, 2007)
D. Macam-Macam Sistem Mekanisme Respirasi Pada Ayam
Prof. Drs. Radiopoetra, 1996 membagi sistem mekanisme pernafasan pada ayam
menjadi dua macam, yaitu:
1.

Pernafasan pada waktu istirahat

Pernapasan pada burung di saat hinggap adalah sebagai berikut.Burung mengisap


udara lalu udara mengalir lewat bronkus ke pundi-pundi hawa bagian belakang
bersamaan dengan itu udara yang sudah ada di paru-paru mengalir ke pundi pundi hawa, udara di pundi-pundi belakang mengalir ke paru-paru lalu udara
menuju pundi - pundi hawa depan. Kecepatan respirasi pada berbagai hewan
berbeda bergantung dari berbagai hal, antara lain, aktifitas, kesehatan, dan bobot
tubuh. (Moreng, 1985).
Pernafasan ini dilakukan ketika aves dalam kondisi istirahat. Pars ternalis costae
dan pars vertibralis costae, keduanya dihubungkan oleh suatu persendiaan,
sehingga dapat digerakkan. Adapun fase-fase yang terjadi ketika pernafasan
istirahat, yaitu:
a.

Fase inspiratio, pada faseini costae bergerak kearah cranioventral, sehingga

cavumthornealis membesar, pulmo mengembang sehingga udara masuk kedalam


pulmo.
b.

Fase expiratio, pada fase ini costae kembali ke kedudukan semula,

cavumthornealis mengecil. Polmu mengempis, udara keluar dari pulmo.

2.

Pernafasan pada waktu terbang

Saat terbang pergerakan aktif dari rongga dada tidak dapat dilakukan karena
tulang dada dan tulang rusuk merupakan pangkal perlekatan otot yang berfungsi
untuk terbang. Pada saat terbang, kantung udara berperan sangat penting.
Inspirasi dan ekspirasi dilakukan bergantian oleh kantung udara di antara tulang

coracoid (interclavicular sac) dan kantung udara di bawah tulang ketiak


(subsapular sac). Saat mengepakan sayap (sayap diangkat ke atas), kantong udara
di antara tulang coracoid terjepit sehingga udara kaya oksigen pada bagian itu
masuk ke paru-paru (inspirasi). Saat sayap terkepak turun, kantung udara di
bawah ketiak terjepit sementara kantung udara di antara tulang coracoid
mengembang, sehingga udara masuk ke kantung udara di antara coracoid
(ekspirasi). Semakin tinggi burung terbang, maka semakin cepat kepakan
sayapnya, karena kadar oksigen pada udara di lapisan atas semakin kecil atau
menipis (Campbell,1999).
Atau lebih mudahnya adalah sebagai berikut, pada waktu terbang saccus yamng
berfungsi adalah saccus intercravicularis dan saccus axillaris. Apabila sayap
diturunkan saccus axillaris akan terjepit, sehingga saccus intercravicularis longgar
dan sebaliknya apabila sayap diangkat maka saccus axillaris akan membesar
sedangkan saccus intercravicularis mengecil, sehingga dapat terjadi pergantian
udara dari luar ke dalam paru-paru.
Sistem respirasi aves termodifikasi untuk dapat menampung oksigen ketika
terbang. Aves membutuhkan oksigen dalam jumlah yang sangat banyak dari kelas
lain. Pada aves, aliran udaranya satu arah, udara baru datang pada ujung yang satu
dan udara yang telah digunakan keluar melalui lubang lain. Aves bernapas dengan
paru-paru yang berkaitan dengan kantung udara (saccuspneumaticus) yang
menyebar sampai ke leher, perut, dan sayap. Kantung udara terdapat pada
pangkal

leher

(saccusservicalis),

di

median

atau

antara

coracoids

(saccusinterclavicularis) yang berhubungan dengan kedua pulmo, pada rongga


dada

depan

(saccusthoracalis

anterior),

padarongga

dada

belakang

(saccusthoracalis posterior), diantara lipatan intestinum (saccusabdominalis),


dan pada daerah ketiak (saccusaxillaris) yaitu saccus yang dibentuk oleh
penonjolan sisi dari saccusinterclavicularis (Radiopoetro, 1996).
E. Perbedaan Sistem Respirasi pada Unggas (Ayam) dengan Mamalia
Paru-paru pada mamalia pertukaran oksigen denagn karbondioksida terjadi di
kantung mikroskopis yang terdapat di paru-paru yang kemudian disebut
dengan alveoli. Sedangkan pada paru-paru ayam, pertukaran gas terjadi di
dinding mikroskopis tubulus, yang biasa disebut dengan kapiler udara.

Sistem pernapasan ayam lebih efisien dibandingkan pada mamalia. mentransfer


oksigen lebih dengan masing-masing pernafasan. Ini juga berarti bahwa racun
dalam udara juga ditransfer lebih efisien. Ini adalah salah satu alasan mengapa
asap dari teflon beracun untuk aves, tetapi tidak untuk mamalia pada konsentrasi
yang sama. Ketika membandingkan ayam dan mamalia dengan berat yang sama,
ayam memiliki tingkat pernafasan yang lebih lambat. Respirasi pada ayam
memerlukan dua siklus pernafasan untuk memindahkan udara melalui sistem
pernapasan keseluruhan. Dalam mamalia, hanya satu siklus pernapasan
diperlukan.

2.3

Reptil
Sistem pernapasan pada reptilia berbeda dengan sistem pernapasan pada
serangga, dikarenakan organ pernapasan pada reptilia berbeda dengan organ pernapasan
serangga, organ yang digunakan pada pernapasan reptilia adalah paru-paru. Sebab,
sebagian besar reptilia hidup di daratan

atau habitat

yang

kering. Untuk

mengimbanginya, kulit reptilia bersisik dan kering, supaya cairan dalam tubuhnya
tidak mudah hilang. Kulit bersisik pada reptilia merupakan suatu adaptasi hidup dalam
udara kering, dan bukan sebagai alat pertukaran gas. Walau begitu, ada pula mekanisme
pernapasan reptilia yang dibantu oleh permukaan epitelium lembab di sekitar kloaka.

Misalnya kura-kura dan penyu selain dengan paru-paru, pengambilan oksigen dibantu
oleh lapisan kulit tipis dengan banyak mengandung kapiler darah yang ada di sekitar
kloaka. Hal ini dilakukan karena tubuh kura-kura dan penyu terdapat tempurung yang
kaku. Tempurung ini menyebabkan gerak pernapasan kedua hewan tersebut terbatas.

Bentuk Paru-Paru Reptilia


Paru-paru Reptilia berada dalam rongga dada dan dilindungi oleh tulang rusuk.
Paru-paru Reptilia hanya terdiri dari beberapa lipatan dinding yang berfungsi
memperbesar permukaan pertukaran gas. Paru-paru kadal, kura-kura, dan buaya lebih
kompleks, dengan beberapa belahan-belahan yang membuat paru-parunya bertekstur
seperti spon. Paru-paru pada beberapa jenis kadal, misalnya bunglon Afrika,
mempunyai pundi-pundi hawa atau kantung udara cadangan sehingga memungkinkan
hewan tersebut melayang di udara. Pada kura-kura Mekanisme respirasi adalah sebagai
berikut:
-

Fase inspirasi: otot tulang rusuk berkontraksi sehingga rongga dada membesar

yang diikuti paru-paru mengembang, akibatnya udara dari luar masuk melalui
lubang hidung, trakea, bronkus, dan paru-paru.

Gas O2 dalam udara masuk melalui hidung rongga mulut anak tekak
trakea yang panjang bronkiolus dalam paru-paru dari paru-paru O2
diangkut darah menuju ke seluruh jaringan tubuh.
-

Fase ekspirasi: otot tulang rusuk relaksasi sehingga rongga dada dan paruparu

mengecil, akibatnya udara dari paru-paru keluar melalui paru-paru, bronkus, trakea,
dan lubang hidung.
Dari jaringan tubuh gas CO2 di angkut darah menuju jantung kemudian
menuju ke paru-paru untuk dikeluarkan bronkiolus trakea yang panjang
anak tekak rongga mulut dan terakhir melalui lubang hidung.

2.4

Amphibi
Amphibi berarti dua kehidupan , yang mengacu pada metamorfosis banyak jenis
katak. Kecebong yang merupakan tahapan larva dari seekor katak, umumnya adalah
herbivora akuatik dengan insang, sistem gurat sisi yang mirip dengan ikan, dan ekor
panjang bersirip.
Meskipun menyandang nama amphibian, banyak jenis katak yang tidak melalui
tahapan kecebong akuatik, dan banyak amphibian tidak hidup di dua kehidupan akuatik
dan terrestrial. Beberapa katak, salamander, dan caecilian ada yang hanya hidup di air
dan ada yang hidup di darat. Selain itu, larva salamander dan caecilian sangat
menyerupai bentuk hewan dewasa itu adalah karnivora. Misalnya mempertahankan
insang dan cirri larva lainnya ketika mencapai kematangan seksual. Sebagian besar
amphibian sangat bergantung pada kulitnya yang lembab untuk melakukan pertukaran
gas dengan lingkungannya. Beberapa jenis spesies darat tidak memiliki paru-paru dan
bernapas hanya melalui kulit dan rongga mulutnya tersebut.
Sistem pernapasan katak terdiri dari paru-paru dan kulit serta lapisan rongga
mulut atau kulit. Selanjutnya akan dibawa ke jaringan tubuh yang membutuhkan.
Dengan gerakan teratur, udara masuk ke dalam cavum oris melalui nerest kemudian
dalam cavum ditemukan atau diteruskan ke dalam pulmo, karena konsentrasi otot dasar
dinding mulut, selanjutnya udara dikeluarkan ke cavum oris dengan bantuan desakan

dari dinding badan dan juga karena elastisitas pulmo. Dan pada waktu itu, klep nerest
internal terbuka sehingga udara keluar, pada inspirasi klep nerest menutup
Mekanisme sistem pernapasan amphibi:

a. Jalannya udara pernafasan ialah sebagai berikut:


Nares Anteriores Cavum Nasi Nares Posteriores Cavum Oris Larynx
Bronchus Pulmo
b. Pulmo merupakan kantong elastis, pada permukaan dinding sebelah dalam terdapat
lipatan-lipatan, dengan ini maka permukaan diperluas. Dalam keadaan baru
berwarna kemerah-merahan karena banyak kapiler darah. Bronchus sangat pendek
(tidak ada trachea)
c. Mekanisme pernafasan ini diatur otot-otot di daerah mandibula dan otot-otot perut
d. Selain bernapas dengan selaput rongga mulut, katak bernapas pula dengan kulit, ini
dimungkinkan karma kulitnya selalu dalam keadaan basah dan mengandung banyak
kapiler sehingga gas pernapasan mudah berdifusi. Oksigen yang masuk lewat kulit
akan melewati vena kulit (vena kutanea) kemudian dibawa ke jantung untuk
diedarkan ke seluruh tubuh. Sebaliknya karbon dioksida dari jaringan akan di bawa
ke jantung, dari jantung dipompa ke kulit dan paru-paru lewat arteri kulit pare-paru
(arteri pulmo kutanea). Dengan demikian pertukaran oksigen dan karbon dioksida
dapat terjadi di kulit.

2.5

Pisces

Ikan bernapas menggunakan insang. Insang berbentuk lembaran-lembaran tipis


berwarna merah muda dan selalu lembap. Bagian terluar dari insang berhubungan
dengan air, sedang bagian dalam berhubungan erat dengan kapilerkapiler darah. Tiap
lembaran insang terdiri dari sepasang filamen dan tiap filamen mengandung banyak
lapisan tipis (lamela). Pada filamen terdapat pembuluh darah yang memiliki banyak
kapiler, sehingga memungkinkan O2 berdifusi masuk dan CO2 berdifusi keluar.
Pada ikan bertulang sejati (Osteichthyes) insangnya dilengkapi dengan tutup insang
(operkulum), sedangkan pada ikan bertulang rawan (Chondrichthyes) insangnya tidak
mempunyai tutup insang. Selain bernapas dengan insang, ada pula kelompok ikan yang
bernapas dengan gelembung udara (pulmosis), yaitu ikan paru-paru (Dipnoi). Insang
tidak hanya berfungsi sebagai alat pernapasan, tetapi juga berfungsi sebagai alat
ekskresi garam-garam, penyaring makanan, alat pertukaran ion, dan osmoregulator.

1) Sistem Pernapasan pada ikan bertulang sejati


Salah satu contoh ikan bertulang sejati yaitu ikan mas. Insang ikan mas tersimpan
dalam rongga insang yang terlindung oleh tutup insang (operkulum). Perhatikan
Gambar 7.16. Insang ikan mas terdiri dari lengkung insang yang tersusun atas tulang
rawan berwarna putih, rigi-rigi insang yang berfungsi untuk menyaring air pernapasan
yang melalui insang, dan filamen atau lembaran insang. Filamen insang tersusun atas
jaringan lunak, berbentuk sisir dan berwarna merah muda karena mempunyai banyak
pembuluh kapiler darah dan merupakan cabang dari arteri insang. Di tempat inilah
pertukaran gas CO2 dan O2 berlangsung.

Gas O2 diambil dari gas O2 yang larut dalam air melalui insang secara difusi. Dari
insang, O2 diangkut darah melalui pembuluh darah ke seluruh jaringan tubuh. Dari
jaringan tubuh, gas CO2 diangkut darah menuju jantung. Dari jantung menuju insang
untuk melakukan pertukaran gas. Proses ini terjadi secara terus-menerus dan
berulang-ulang.
Mekanisme pernapasan ikan bertulang sejati dilakukan melalui mekanisme inspirasi
dan ekspirasi.

a) Fase inspirasi ikan


Gerakan tutup insang ke samping dan selaput tutup insang tetap menempel pada
tubuh mengakibatkan rongga mulut bertambah besar, sebaliknya celah belakang insang
tertutup. Akibatnya, tekanan udara dalam rongga mulut lebih kecil daripada tekanan
udara luar. Celah mulut membuka sehingga terjadi aliran air ke dalam rongga mulut.
Perhatikan gambar di samping.
b) Fase ekspirasi ikan
Setelah air masuk ke dalam rongga mulut, celah mulut menutup. Insang kembali ke
kedudukan semula diikuti membukanya celah insang. Air dalam mulut mengalir
melalui celah-celah insang dan menyentuh lembaran-lembaran insang. Pada tempat ini
terjadi pertukaran udara pernapasan. Darah melepaskan CO2 ke dalam air dan mengikat
O2 dari air.

Pada fase inspirasi, O2 dan air masuk ke dalam insang, kemudian O2 diikat oleh kapiler
darah untuk dibawa ke jaringan-jaringan yang membutuhkan. Sebaliknya pada fase
ekspirasi, CO2 yang dibawa oleh darah dari jaringan akan bermuara ke insang, dan dari
insang diekskresikan keluar tubuh.
2) Sistem Pernapasan pada ikan bertulang rawan
Insang ikan bertulang rawan tidak mempunyai tutup insang (operkulum) misalnya
pada ikan hiu. Masuk dan keluarnya udara dari rongga mulut, disebabkan oleh
perubahan tekanan pada rongga mulut yang ditimbulkan oleh perubahan volume rongga
mulut akibat gerakan naik turun rongga mulut. Bila dasar mulut bergerak ke bawah,
volume rongga mulut bertambah, sehingga tekanannya lebih kecil dari tekanan air di
sekitarnya. Akibatnya, air mengalir ke rongga mulut melalui celah mulut yang pada
akhirnya terjadilah proses inspirasi. Bila dasar mulut bergerak ke atas, volume rongga
mulut mengecil, tekanannya naik, celah mulut tertutup, sehingga air mengalir ke luar
melalui celah insang dan terjadilah proses ekspirasi CO2. Pada saat inilah terjadi
pertukaran gas O2 dan CO2.
3) Sistem Pernapasan pada ikan paru-paru ( Dipnoi )
Pernapasan ikan paru-paru menyerupai pernapasan pada Amphibia. Selain
mempunyai insang, ikan paru paru mempunyai satu atau sepasang gelembung udara
seperti paru-paru yang dapat digunakan untuk membantu pernapasan, yaitu pulmosis.
Pulmosis banyak dikelilingi pembuluh darah dan dihubungkan dengan kerongkongan
oleh duktus pneumatikus. Saluran ini merupakan jalan masuk dan keluarnya udara dari
mulut ke gelembung dan sebaliknya, sekaligus memungkinkan terjadinya difusi udara
ke kapiler darah.
Ikan paru-paru hidup di rawa-rawa dan di sungai. Ikan ini mampu bertahan hidup
walaupun airnya kering dan insangnya tidak berfungsi, karena ia bernapas
menggunakan gelembung udara. Ada tiga jenis ikan paru-paru di dunia, yaitu ikan paruparu afrika, ikan paru paru amerika selatan, dan ikan paru - paru queensland
(Australia).

Pada beberapa jenis ikan, seperti ikan lele, gabus, gurami, dan betok memiliki alat
bantu pernapasan yang disebut labirin. Labirin merupakan perluasan ke atas dalam
rongga insang, dan membentuk lipatan-lipatan sehingga merupakan rongga-rongga
tidak teratur. Rongga labirin berfungsi menyimpan udara (O2), sehingga ikan-ikan
tersebut dapat bertahan hidup pada perairan yang kandungan oksigennya rendah. Selain
dengan labirin, udara (O2) juga disimpan di gelembung renang yang terletak di dekat
punggung

BAB III
PENUTUP

3.1

Kesimpulan
Sistem pernapasan adalah sistem yang berfungsi untuk menyerap oksigen dan
mengeluarkan karbon dioksida dalam tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan
homeostasis . Fungsi ini disebut respirasi . Sistem pernapasan dimulai dari rongga
hidung atau mulut ke alveolus , di mana pertukaran oksigen terjadi pada alveolus dan
karbondioksida dengan pembuluh darah .
Sistem pernafasan dikerjakan oleh beberapa organ pernafasan, pada vertebrata,
yaitu pisces, amphibi, reptile, aves, dan mamalia memiliki organ pernafasan yang
berbeda-beda, adapun struktur histologinya juga berbeda seperti yang telah dijelaskan
pada makalah ini, Perbedaan organ dan struktur anatomi yang ada tentu saja
dikarenakan fungsinya yang juga berbeda.

Daftar Pustaka
Drs. Foster dan Smith. 2007. Respiratory System of Birds: Anatomy and Physiology.
Campbell, N.A. 1999. BIOLOGI edisi kelima. Penerbit Erlangga, Jakarta
Jordan, E.L. dan Verna, P.S. 1983. Chordate Zoology. New Delhi: Schand & Company
Ltd. Rom Nagar
Moreng, RE.and John SA. 1985. Poultry Science and Production. Resto
Company. Inc. pp.
Radiopoetro. 1996. Zoologi. Erlangga. Jakarta
Wiryadi. 2008. Sistem Respirasi.

Publishing