Anda di halaman 1dari 16

TUGAS IX

TEKNIK PENGOLAHAN KELAPA SAWIT


3 Produk Turunan CPO Buah

Disusun oleh:
Nur Afiqah Tony 1105011063
Kelas ME-6D2

Program Studi Teknik Mesin


POLITEKNIK NEGERI MEDAN
2014

Minyak goreng

Minyak

goreng adalah minyak yang

dimurnikan

berasal

dari lemak tumbuhan atau hewan yang

dan berbentuk cair dalam suhu kamardan biasanya

digunakan

untuk

menggoreng makanan. Minyak goreng dari tumbuhan biasanya dihasilkan dari tanaman
seperti kelapa, biji-bijian, kacang-kacangan, jagung, kedelai, dan kanola.
Kerusakan
Minyak goreng biasanya bisa digunakan hingga 3 - 4 kali penggorengan. Jika digunakan
berulang kali, minyak akan berubah warna.
Saat penggorengan dilakukan, ikatan rangkap yang terdapat pada asam lemak tak
jenuh akan putus membentuk asam lemak jenuh.Minyak yang baik adalah minyak yang
mengandung asam lemak tak jenuh yang lebih banyak dibandingkan dengan
kandungan asam lemak jenuhnya.
Setelah penggorengan berkali-kali, asam lemak yang terkandung dalam minyak akan
semakin jenuh. Dengan demikian minyak tersebut dapat dikatakan telah rusak atau dapat
disebut minyak

jelantah.Penggunaan

minyak

berkali-kali

akan

membuat ikatan

rangkap minyak teroksidasi membentuk gugus peroksida dan monomer siklik, minyak
yang seperti ini dikatakan telah rusak dan berbahaya bagi kesehatan.Suhu yang semakin

tinggi dan semakin lama pemanasan, kadar asam lemak jenuh akan semakin
naik.Minyak nabati dengan

kadar

asam

lemak

jenuh

yang

tinggi

akan

mengakibatkan makanan yang digoreng menjadi berbahaya bagi kesehatan.


Selain karena penggorengan berkali-kali, minyak dapat menjadi rusak karena
penyimpanan yang salah dalam jangka waktu tertentu sehingga ikatan trigliserida pecah
menjadigliserol dan asam lemak bebas.
Faktor yang memengaruhi ketahanan
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi kerusakan minyak adalah:
oksigen dan ikatan rangkap-->Semakin banyak ikatan rangkap dan oksigen yang
terkandung maka minyak akan semakin cepat teroksidasi.
suhu --> Suhu yang semakin tinggi juga akan mempercepat proses oksidasi.
Cahaya dan ion logam --> berperan sebagai katalis yang mempercepat proses oksidasi.
antioksidan --> membuat minyak lebih tahan terhadap oksidasi.
Sumber
Minyak goreng umumnya berasal dari minyak kelapa sawit. Minyak kelapa dapat
digunakan untuk menggoreng karena struktur minyaknya yang memiliki ikatan
rangkapsehingga minyaknya termasuk lemak tak jenuh yang sifatnya stabil. Selain itu pada
minyak kelapa terdapat asam lemak esensial yang tidak dapat disintesis oleh tubuh. Asam
lemak tersebut adalah asam palmitat, stearat, oleat, dan linoleat.
Beberapa minyak yang dipakai untuk menggoreng selain minyak kelapa sawit adalah
minyak palm kernel, palm olein, palm stearin, dan Tallow. Selain itu terdapat juga minyak
lain seperti minyak biji anggur, bunga matahari, kedelai, dan zaitun. Minyak-minyak ini
kurang cocok apabila digunakan untuk menggoreng namun minyak-minyak ini memiliki
kandungan asam lemak yang tinggi dan biasa digunakan sebagai bahan tambahan
pada salad dan makanan lainnya.

Proses Pengolahan Minyak Goreng Sawit


Minyak goreng sawit merupakan salah satu produk turunan dari kelapa sawit. Hasil dari
proses pengolahan kelapa salah satunya adalah minyak goreng sawit. Proses pengolahan
kelapa sawit menjadi minyak goreng sawit dimulai dari proses pengolahan tandan buah
segar menjadi crude palm oil (CPO), kemudian dari CPO diolah menjadi minyak goreng.
Pengolahan kelapa sawit menjadi CPO diawali dengan proses perebusan tandan buah segar
ke dalam sterilizer, kemudian buah yang telah masak dimasukkan ke digester dan diaduk
sedemikian rupa sehingga sebagian besar daging buah sudah terlepas dari biji. Proses
pengadukan dan pelumatan buah lebih lanjut akan menghasilkan bubur buah yang
mengandung minyak. Minyak bebas dibiarkan keluar secara kontinu melalui lubang dasar
digester. Massa yang keluar dari digester diperas dalam screw press pada tekanan cone 3050 Bar dengan menggunakan air pengencer screw press bersuhu 90-95 C sebanyak 15-20
% TBS. Untuk menurunkan viskositas minyak, dilakukan penambahan air di oil gutter
kemudian dialirkan melalui oil gutter ke dalam stand trap tank dengan tujuan untuk
mengendapkan pasir. Crude oil yang telah diencerkan dialiran ke vibrating screen yang
berukuran 2040 mesh untuk memisahkan pasir, serabut, dan bahan-bahan lain yang masih
mengandung minyak. Untuk mengetahui ketepatan penambahan air pengencer maka setiap
dua jam sekali diambil sempel crude oil sebelum masuk vibrating screen untuk selanjutnya
dengan hand centrifuge/electric centrifuge dapat diketahui komposisi, minyak, NOS dan
air. Komposisi yang tepat jika perbandingan minyak dan sludge 1:2 (konvensional) dan
jika dengan decanter perbandingan minyak dan sludge 1 : 1. Minyak kasar yang telah
disaring dialirkan ke dalam crude oil tank dan suhu dipertahankan 90-95 C, selanjutnya
crude oil dipompa ke setting tank. Fungsi setting tank adalah untuk mengendapkan sludge
yang terkandung dalam crude oil. Temperatur minyak dalam setting tank harus
dipertahankan 90-95 C. Minyak yang berada pada lapisan atas dikutip dengan bantuan
skimmer ke oil tank sedangkan sludge yang masih mengandung minyak dialirkan ke
sludge tank secara periodik sesuai kondisi masing-masing pabrik. Sludge dan pasir di dasar
bejana harus dibuang (flushed out) dengan maksud agar pemisahan minyak dapat berjalan
dengan baik. Fungsi pemurnian minyak (oil purifier) adalah untuk memisahkan sludge
yang melayang/emulsi dalam minyak dan mengurangi kadar air yang terkandung dalam
minyak sehingga kadar kotoran munyak produksi menjadi <0.02 %. Suhu minyak dalam
oil purifier 90-95 C, akhirnya minyak dari oil purifier dimasukkan ke dalam vacuum oil
dryer. Minyak dari oil purifier dengan suhu 90-95 C dipompa dan ditampung dalam float

tank untuk seterusnya diisap oleh vacuum dryer. Kemudian melalui nozzle, minyak akan
disemburkan ke dalam bejana sehingga penguapan air akan lebih sempurna. Minyak yang
terkumpul di dasar bejana akan disalurkan ke pompa di lantai bawah selanjutnya
dipompakan ke tangki timbun. Tangki timbun secara periodik dilakukan pengurasan
mengikuti standar prosedur pencucian tangki. Suhu penyimpanan berkisar antara 40-50 C.
Setelah kelapa sawit berubah menjadi CPO, maka proses selanjutnya adalah mengolah
CPO menjadi minyak goreng sawit. Secara garis besar proses pengolahan CPO menjadi
minyak goreng sawit, terdiri dari dua tahap yaitu tahap pemurnian (refinery) dan
pemisahan (fractionation). Tahap pemurnian terdiri dari penghilangan gum Tahap
(degumming). Pemucatan (bleaching) dan penghilangan bau (deodorization). pemisahan
terdiri dari proses pengkristalan (crystalization) dan pemisahan fraksi.
CPO yang berasal dari tangki penampungan CPO dipompa melalui strainer menuju
refinery. Pada proses ini terjadi pemanasan CPO untuk mempermudah pemompaan CPO
ke tangki berikutnya.. Hasil dari proses ini disebut DPO (Degummed Palm Oil). DPO yang
dihasilkan dari proses degumming dipompa menuju dryer dengan kondisi vakum. Setelah
dari dryer, DPO dipompakan ke reaktor yang terlebih dahulu melewati static mixer
kemudian turun ke slurry tank. Di dalam slurry tank, terjadi pemanasan lagi sampai
temperatur 90-120Cdan penambahan H3PO4, CaCO3 dan BE. Slurry Oil dari slurry tank
akan mengalir turun bleacher. Dari bleacher minyak dialirkan dan dipompakan ke niagara
filter untuk filtrasi. Hasil dari filtrasi ini adalah DBPO (Degummed Bleached Palm Oil)
yang selanjutnya dialirkan ke intermediate tank (tangki siwang) untuk tahap deodorizing.
DBPO yang berasal dari tangki siwang dialirkan menuju ke deaerator. Dari deaerator,
DBPO dipompakan ke Spiral Heat Exchanger (SHE). Dalam proses ini terjadi
penambahan panas dengan temperatur 185-200C. Dari SHE minyak dialirkan ke flash
vessel turun ke packed column. Setelah dari packed column, minyak dialirkan menuju
deodorize. Dalam proses ini terjadi penghilangan zat-zat yang dapat menimbulkan bau
seperti keton dan aldehid dengan pemanasan pada temperatur 240-265C. DBPO yang
sudah hilang baunya dipompakan kembali ke SHE untuk mengalami pertukaran panas.
Dalam hal ini minyak sudah dalam bentuk RBDPO (Refined Bleached Palm Oil). RBDPO
kemudian mengalami pertukaran panas lagi dengan CPO pada PHE. Dari PHE, RBDPO
dialirkan ke Plate Cooler Water (PCW) selanjutnya RBDPO difiltrasi. Kemudian di analisa
di laboratorium, jika sesuai dengan spesifikasi maka RBDPO bisa dialirkan langsung ke
tangki penampungan atau ke tangki kristalisasi sesuai dengan kualitasnya untuk diproses

pada tahap fraksinasi. Tahap fraksinasi meliputi dua proses yaitu kristalisasi dan filtrasi.
Prinsip kerja yang digunakan dalam kristalisasi adalah pembentukan kristal melalui
pendinginan dan pengadukan sehingga fase stearin dan fase olein dapat terpisah. RBDPO
yang ada dalam tangki kristalisasi ini diaduk pada saat tangki kristalisasi sudah penuh
dengan menggunakn agitator yang mempunyai kecepatan 14 rpm. Fungsi pengadukan ini
adalah agar pendinginan di dalam tangki lebih homogen sehingga pemisahan olein dan
stearin lebih mudah.
Temperatur pengkristalan ini tergantung pada kualitas minyak: 1. Kualitas consumer
kristal lemak terbentuk pada temperatur <17C 2. Kualitas semi consumer pembentukan
kristal terjadi pada temperatur 17-28C. 3. Kualitas Drumming pembentukan kristal terjadi
pada temperatur >28C.
Pada proses filtrasi RBDPO kristal yang sudah terbentuk dalam tangki kristalisasi
ditransfer ke filter press untuk pemisahan olein dan stearin. Olein hasil dari filtrasi
ditransfer ke SS tank dan MS tank. SS tank untuk kualitas olein dianalisa jika sesuai
dengan spesifikasi langsung masuk ke storage tank olein (kualitas bottling), sedangkan MS
tank digunakan untuk kualitas olein yang RBD oleinnya difilter spray dan hasilnya
langsung dialirkan ke storage tank olein (kualitas drumming, tinning dan industri).
Sebelum ditansfer ke intermediate tank, untuk kualitas bottling dan tinning ditambahkan
antioksidan hal ini untuk mempertahankan kualitas minyak. Sedangkan untuk kualitas
drumming dan ndustri tidak ditambahkan antioksidan. Hal ini disebabkan minyak dengan
kualitas drumming dan industri segera digunakan/dikonsumsi.

Margarin
Margarin adalah produk pangan yang dapat dikonsumsi secara langsung atau dalam bentuk
olahannya. Jenis pangan ini disukai oleh semua usia, terutama oleh anak-anak dan remaja,
sehingga untuk meningkatkan nilai nutrisinya seringkali harus difortifikasi dengan vitamin
(A dan D) atau nutrien lagi untuk memenuhi komposisi bakunya. Pengertian margarine
yang lebih rinci merupakan emulsi dari fase lemak dan fase berair. Fase lemak sebagai fase
yang kontinyu yang merupakan campuran dari berbagai jenis minyak baik hewani maupun
nabati HOME
Produk margarin pertama kali diperkenalkan dalam sayembara tahun 1887 di Perancis
yang diadakan oleh Kaisar Napoleon III. Margarin tersebut dibuat oleh Mege Mouris
sebagai salah satu peserta lomba. Merge Mouries mencoba membuat produk menyerupai
mentega dalam hal penampakan, bau, konsisitensi, rasa, dan nilai gizi namun berasal dari
bahan lain yang lebih murah dan mudah didapatkan (Hasenhuettl & Hartel, 1997).
Margarin merupakan suatu produk berbentuk emulsi baik padat maupun cair yang
mengandung minyak tidak kurang dari 80% dan 15000 IU vitamin A per ponnya (FDA
dalam Hasenhuett dan Hartel, 1997). Margarin dapat juga diartikan sebagai emulsi yang
terdiri dari fase internal berupa cairan yang diselubungi oleh fase eksternal berupa lemak
yang bersifat plastis. Komponen yang terkandung dalam margarin adalah lemak, garam,
vitamin A, pengawet, pewarna dan emulsifier untuk menstabilkan emulsi yang terbentuk
(Hasenhuettl & Hartel, 1997). HOME
Komposisi standar dari margarin secara umum adalah (Flack, 1995) : Fat (lemak),
minimal 80% Air, maksimum 16 % Komponen lain yang terdiri dari garam, protein,
emulsifier, vitamin, bahan pewarna, bahan penambah citarasa. Kandungan karoten yang
tinggi tersebut menyebabkan minyak sawit berwarna merah-jingga, sehingga dikenal
sebagai minyak sawit merah, yang merupakan sumber karoten terbesar dari bahan pangan
alami. Keistimewaan minyak sawit adalah bahwa didalamnya mengandung lemak jenuh
dan tidak jenuh sekaligus namun sama sekali tidak mengandung cholesterol atau asam
lemak trans. Komposisi kandungan lemak tersebut adalah (Anon ): Gliserol laurat 0,1%
(jenuh) Miristat 0,1% (jenuh) Palmitat 44% (jenuh) Stearat 5% (jenuh) Oleat
39% (tak jenuh, tunggal) Linoleat 10% (tak jenuh, jamak) Linoleat 0,3% (tak jenuh,
jamak)

Proses Pembuatan Margarin


Margarin dapat dibuat dari lemak hewani, yakni salah satunya diproduksi darilemak
beef yang disebut oleo-margarine. Margarin sedikitnya mengandung 80%lemak dari total
beratnya. Sisanya (kurang lebih 17-18%) terdiri dari turunan susu skim, air, atau protein
kedelai cair. Dan sisanya 1-3% merupakan garam, yang ditambahkan sebagai flavor.

Proses Pembuatan
1. Tahap Netralisasi
Netralisasi adalah suatu proses untuk memisahkan asam lemak bebas dari minyak atau
lemak dengan cara mereaksikan asam lemak bebas dengan basa atau pereaksi lainnya
sehingga membentuk sabun (soap stock). Netralisasi dengan kaustik soda (NaOH) banyak
dilakukan dalam skala industri, karena lebih efisien dan lebih murah dibandingkan dengan
cara netralisasi lainnya.

2. Tahap Bleaching (pemucatan)


Pemucatan ialah suatu proses pemurnian untuk menghilangkan zat-zat warna yang tidak
disukai dalam minyak. Pemucatan dilakukan dengan mencampur minyak dengan sejumlah
kecil adsorben, seperti bleaching earth (tanah pemucat), dan karbon aktif. Zat warna dalam
minyak akan diserap oleh permukaan adsorben dan juga menyerap suspensi koloid (gum
dan resin) serta hasil degradasi minyak misalnya peroksida. (Ketaren,1986).

3. Tahap Hidrogenasi
Hidrogenasi adalah proses pengolahan minyak atau lemak dengan jalan menambahkan
hidrogen pada ikatan rangkap dari asam lemak, sehingga akan mengurangi ketidakjenuhan
minyak atau lemak, dan membuat lemak bersifat plastis. Proses hidrogenasi bertujuan
untuk menjenuhkan ikatan rangkap dari rantai karbon asam lemak pada minyak atau
lemak. Proses

hidrogenasi dilakukan

dengan

menggunakanhydrogen murni

dan

ditambahkan serbuk nikel sebagai katalisator.


Nikel merupakan katalis yang sering digunakan dalam proses hidrogenasi daripada katalis
yang lain (palladium, platina, copper chromite). Hal ini karena nikel lebih ekonomis dan
lebih efisien daripada logam lainnya. Nikel juga mengandung sejumlah kecil Al dan Cu
yang berfungsi sebagai promoter dalam proses hidrogenasi minyak

4. Tahap Emulsifikasi

Proses

Emulsifikasi ini

bertujuan

untuk

mengemulsikan

minyak

dengan

cara

penambahan emulsifier fase cair dan fase minyak pada suhu 80oC dengan tekanan 1 atm.
Terdapat dua tahap pada proses Emulsifikasi yaitu

a. Proses pencampuran emulsifier fase minyak


Emulsifier fase minyak merupakan bahan tambahan yang dapat larut dalam minyak yang
berguna untuk menghindari terpisahnya air dari emulsi air minyak terutama dalam
penyimpanan. Emulsifier ini contohnya Lechitin sedangkan penambahan b- karoten
pada margarine sebagai zat warna serta vitamin A dan D untuk menambah gizi.

b. Proses pencampuran emulsifier fase cair


Emulsifier fase cair merupakan bahan tambahan yang tidak larut dalam minyak.Bahan
tambahan ini dicampurkan ke dalam air yang akan dipakai untuk membuatemulsi dengan
minyak. Emulsifier fase cair ini adalah : garam untuk memberikan rasa asin TBHQ
sebagai bahan anti oksidan yang mencegah teroksidasinya minyak yang mengakibatkan
minyak menjadi rusak dan berbau tengik Natrium Benzoat sebagai bahan pengawet
(Baileys,1950). Vitamin A dan D akan bertambah dalam minyak. Selain itu minyak akan
berbentuk emulsi dengan air dan membentuk margarin. Beberapa bahan tambahan seperti
garam, anti oksidan dan Natrium benzoat juga akan teremulsi dalam margarin dalam
bentuk emulsifier fase cair. (Baileys,1950).

Tabel 1. Jenis emulsifier yang diijinkan untuk pembuatan margarin

Persyaratan Mutu Margarin


Syarat mutu margarin yang diijinkan beredar di Indonesia adalah harus sesuai
dengan Standar Nasional Indonesia untuk produk margarin (SNI 01-3541-1994). Margarin
yang dibuat harus mempunyai bau, rasa, dan warna yang normal. Syarat mutu produk
margarin lainnya dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Standar Nasional Indonesia untuk Produk Margarin (SNI 01 -3541 - 1994)
No

Kriteria Uji

Satuan

Persyaratan
Margarin Dapur

1.

Keadaan
1.1.Bau

Normal

1.2 Rasa

Normal

Warna

Normal

2.

Air

% b/b

Maks 18,0

3.

Lemak

% b/b

Min. 80,0

4.

Asam

dihitung % b/b

Maks. 0,3

lemak

bebas,

sebagai asam oleat (dari % lemak)


5.

Garam dapur (NaCl)

% b/b

Maks. 4,0

6.

Vitamin A

IU/100 g

7.

Vitamin D

IU/100 g

8.

Bahan tambahan makanan


8.1. Anti oksida
8.2. Pewarna tambahan

SNI 01-0222-1087

8.3. Stabilizer
9.

Cemaran logam:
9.1. Tembaga (Cu)

mg/kg

Maks. 0,1

9.2. Timbal (Pb)

mg/kg

Maks. 0,1

9.3. Seng (Zn)

mg/kg

Maks. 40,0*

9.4. Timah (Sn)

mg/kg

Maks. 40,0

9.5. Raksa (Hg)

mg/kg

Maks. 0,03

10.

Cemaran Arsen (As)

mg/kg

Mkas. 0,1

11.

Cemaran mikroba:
koloni/g

Maks. 105

11.1. Angka lempeng total

11.2. Bakteri bentuk koli

APM/g

Maks. 10

11.3. E. Coli

APM/g

<3

11.4. St. Aureus

Koloni/g

Maks. 102

11.5. Salmonella

Koloni/25 g

Negatif

11.6. Enterococci

Koloni/g

Maks. 102

Keterangan: *untuk yang dikemas dalam kaleng

Biodiesel
Minyak sawit dapat digunakan untuk memproduksi biodiesel.Metil ester dari minyak sawit
merupakan zat mampu bakar (flammable) yang dihasilkan dari prosestransesterifikasi.
Biodiesel minyak sawit seringkali dikombinasikan dengan bahan bakar lain untuk
mendapatkan campuran bahan bakar.] Biodiesel dari minyak sawit memenuhi standar
biodiesel yang ditetapkan oleh Uni Eropa. Fasilitas pengolahan minyak sawit menjadi
biodiesel

yang

terbesar

berada

di Singapura,

yang

dioperasikan

perusahaan

asalFinlandia, Neste Oil.


Limbah organik yang dihasilkan dari pemrosesan kelapa sawit, termasuk cangkang kelapa
sawit dan tandan buah sawit, dapat digunakan untuk menghasilkan energi. Bahan bakar ini
dapat ditekan menjadi briket maupun pellet bahan bakar.[ Minyak goreng yang telah
selesai digunakan sebagai bahan baku proses penggorengan juga dapat diproses menjadi
metil ester sebagai biodiesel.
Penggunaan minyak sawit pada produksi biodiesel telah memicu kekhawatiran persaingan
penggunaan minyak sawit untuk makanan sehingga menyebabkan malnutrisi di negara
miskin dan berkembang. Berdasarkan data dari tahun 2008 mempublikasikan laporan
bahwa minyak sawit dapat digunakan sebagai bahan pangan sekaligus bahan bakar secara
berkelanjutan. Produksi biodiesel dari minyak sawit tidak mengancam ketahanan
pangan. Peningkatan permintaan terhadap biodiesel dapat meningkatkan perintaan minyak
sawit di masa depan, sehingga membutuhkan perluasan perkebunan kelapa sawit.

Proses Pembuatan Biodiesel Minyak Sawit


Bahan bakar diesel, selain berasal dari petrokimia juga dapat disintesis dari ester asam
lemak yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar dari minyak nabati (biodiesel) dikenal
sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak mencemari udara, mudah terbiodegradasi,
dan berasal
dari bahan baku yang dapat diperbaharui. Pada umumnya biodiesel disintesis dari ester
asam lemak dengan rantai karbon antara C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu jenis
minyak nabati yang mengandung asam lemak dengan rantai karbon C14-C20, sehingga
mempunyai

peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel. Di PPKS, biodiesel dibuat
melalui proses transesterifikasi dua tahap, dilanjutkan dengan pencucian, pengeringan dan
terakhir filtrasi, tetapi jika bahan baku dari CPO maka sebelumnya perlu dilakukan
esterifikasi.

Transesterifikasi
Proses transesterifikasi meliputi dua tahap. Transesterifikasi I yaitu pencampuran antara
kalium hidroksida (KOH) dan metanol (CH30H) dengan minyak sawit. Reaksi
transesterifikasi I berlangsung sekitar 2 jam pada suhu 58-65C. Bahan yang pertama kali
dimasukkan ke dalam
reaktor adalah asam lemak yang selanjutnya dipanaskan hingga suhu yang telah
ditentukan. Reaktor transesterifikasi dilengkapi dengan pemanas dan pengaduk. Selama
proses pemanasan, pengaduk dijalankan. Tepat pada suhu reactor 63C, campuran metanol
dan KOH dimasukkan ke dalam reactor dan waktu reaksi mulai dihitung pada saat itu.
Pada akhir reaksi akan terbentuk
metil ester dengan konversi sekitar 94%. Selanjutnya produk ini diendapkan selama waktu
tertentu untuk memisahkan gliserol dan metil ester. Gliserol yang terbentuk berada di
lapisan bawah karena berat jenisnya lebih besar daripada metil ester. Gliserol kemudian
dikeluarkan dari reaktor agar tidak mengganggu proses transesterifikasi II. Selanjutnya
dilakukan transesterifikasi II pada metil ester. Setelah proses transesterifikasi II selesai,
dilakukan pengendapan selama waktu tertentu agar gliserol terpisah dari metil ester.
Pengendapan II memerlukan waktu lebih
pendek daripada pengendapan Ikarena gliserol yang terbentuk relative sedikit dan akan
larut melalui proses pencucian.

Pencucian
Pencucian hasil pengendapan pada transesterifikasi II bertujuan untuk menghilangkan
senyawa yang tidak diperlukan seperti sisa gliserol dan metanol. Pencucian dilakukan pada

suhu sekitar 55C. Pencucian dilakukan tiga kali sampai pH campuran menjadi normal
(pH 6,8-7,2).

Pengeringan
Pengeringan bertujuan untuk menghilangkan air yang tercampur dalam metil ester.
Pengeringan dilakukan sekitar 10 menit pada suhu 130C. Pengeringan dilakukan dengan
cara memberikan panas pada produk dengan suhu sekitar 95C secara sirkulasi. Ujung
pipa sirkulasi ditempatkan
di tengah permukaan cairan pada alat pengering.

Filtrasi
Tahap akhir dari proses pembuatan biodiesel adalah filtrasi. Filtrasi bertujuan untuk
menghilangkan partikel-partikel pengotor biodiesel yang terbentuk selama proses
berlangsung,
seperti karat (kerak besi) yang berasal dari dinding reactor atau dinding pipa atau kotoran
dari
bahan baku. Filter yang dianjurkan berukuran sama atau lebih kecil dari 10 mikron.