Anda di halaman 1dari 16

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

KNOWLEDGE MANAGEMENT
STATIC LOADING TEST WITH ANCHORING SYSTEM PADA
BORE PILE

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

I.

PENDAHULUAN

Tanjung Priok Access Road Construction Project (Phase 2) Package 5 Section NS. Direct
merupakan paket lanjutan dari proyek pembangunan jalan akses langsung dari dan ke
Pelabuhan Tanjung Priok yang merupakan sambungan dari Simpang Jampea ke tol Pluit.
Proyek ini mempunyai nilai kontrak awal Rp 280.675.948.629,00 (termasuk PPN) untuk
kegiatan konstruksi jalan layang sepanjang 1,6 km (on/off Ramp).
Jalan tol akses Tanjung Priok ini dibangun oleh Kementerian Pekerjaan Umum Direktorat
Jenderal Bina Marga yang mendapatkan dana pinjaman dari Japan International Cooperation
Agency (JICA). Pelaksana utama pekerjaan tol akses ini adalah Tobishima-Wijaya Karya Joint
Operation setelah melalui tender terbuka. Adapun pekerjaan proyek ini meliputi struktur utama
jembatan (elevated road), pelebaran jalan arteri (widening).
Ramp way
(Jembatan)

Jalan Arteri
(Widening)

Detail 1

SF =3

Tipikal Cross Section


Pada pekerjaan struktur utama pondasi jembatan dimana pondasi pada proyek ini berupa bore
pile pemilik proyek menetapkan persyaratan yang cukup tinggi dimana pondasi harus mampu
menahan beban 300% dari beban rencana. Adapun beban rencana konstruksi jembatan ini
adalah 600 ton maka untuk 300% beban adalah setara 1800 ton. Namun untuk mendapatkan
hasil dari daya dukung pondasi guna memenuhi spesifikasi teknik konstruksi ini perlu
dilakukan tes beban tetap (static loading test). Static loading test merupakan suatu tes beban
statis yang diberikan terus menerus dengan siklus pembebanan tertentu ke bore pile sampai ke
beban yang telah ditentukan.
Terdapat dua metode untuk melakukan static loading ini antara lain : metode kentledge yaitu
dengan menumpuk blok beton sebanyak beban yang ditentukan, pada proyek ini untuk
mendapatkan beban 1800 ton di perlukan 750 unit blok beton dengan asumsi blok beton
1 m x 1 m x 1 m (1800 t / 2,4 t/m3/unit).Namun untuk pelaksanaanya terkendala akan sulitnya
mendapatkan blok beton sehingga dibutuhkan waktu lebih untuk menyediakan blok beton
TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT
PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

sejumlah yang diperlukan. Selain itu, mengingat kondisi tanah titik yang hendak di tes
merupakan bekas pembuangan sampah yang tanahnya cenderung labil akan meningkatkan
resiko kecelakaan kerjanya.

Garbage mix soil


unstable

Gambar : Static Loading Test Kentledge


Selain itu terdapat juga metode static loading test dengan stressing with anchoring system
dimana pelaksanaannya dengan memanfaatkan gaya tarik bore pile lainnya untuk dijadikan
beban tekan ke bore pile yang ingin diuji (F action= -F reaction). Untuk pelaksanaanya jauh
lebih mudah dan lebih cepat dengan pemanfaatan angkur pada bore pile.

Test Pile

Gambar : Static Loading Test With Anchoring System


II.

TUJUAN

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

Penerapan pelaksanaan static loading test with anchoring system bertujuan untuk
meminimalisir resiko kecelakaan kerja dan jauh lebih feasible pada lokasi yang kondisi
tanahnya cenderung labil. Adapun beberapa perbandingan dari metode dua metode ini yaitu:
1. Peralatan
Metode anchoring system alat yang dibutuhkan untuk pembebanan hanya pemanfatan
angkur berbeda dengan metode kentledge yang memerlukan blok beton.
2. Waktu Pelaksanaan
Metode anchoring systme peralatan yang dibutuhkan sangat mudah diatur sesuai yang
dibutuhkan sehingga akan memangkas waktu pelaksanaan, sementara untuk metode
kentledge untuk mendatangkan dan menyusun blok beton sejumlah yang dibutuhkan saja
akan memakan waktu yang lama.
3. Resiko kecelakaan kerja
Penerapan metode anchoring ini sangat kecil dibandingkan metode kentledge yang sangat
bersiko terhadap blok beton yang guling akibat kondisi tanah yang unstable.
4. Akurasi Hasil
Hasil yang diperoleh dengan penerapan metode anchoring system akan lebih akurat dan
detail dari siklus pembebanan yang diberikan ke bore pile sehingga diketahui settlement
disetiap tahapan beban yang diberi per siklus sementara metode kentledge hanya diperoleh
hasil akhir saja.
5. Biaya
Biaya penerapan metode anchoring system jauh lebih mahal dibandingkan penerapan
metode kentledge sehingga dapat meningkatkan margin. Namun bila kita lihat dari sudut
pandang manajemen resiko metode anchoring system jauh lebih murah biaya
pelaksanaanya dibandingkan dengan metode kentledge.

Gambar : Kecelakaan Kerja Metode Kentledge Akibat Tanah Yang Tidak Stabil
III.

LOKASI PELAKSANAAN

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

P12A
P16B

Gambar : Lokasi Proyek NS Direct Tanjung Priok Access Road

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

IV.

PROPOSAL Static Loading Test With Anchoring System

Pelaksanaan pengetesan static loading tes pada proyek Access Road Tanjung Priok NS Direct
ini dilakukan pada titik P12A dan P16B dimana P12A direncanakan sebagai unused pile yaitu
beban akan terus diberikan sampai kondisi maksimal pile mampu menopang beban, sementara
pada P16B adalah sebagai used pile dimana nanti pembebanan yang diberikan sampai ke
kondisi optimal saja sehingga pile masih bisa dimanfaatkan untuk menopang beban layan yang
direncanakan.
1. Spesifikasi Teknis
a. Beban layan rencana 600 ton
b. Bore pile memiliki beban layan 300% dari beban design

2. Flow Chart Static Loading Test With Anchoring Sytem

Start

Preparation Work
Drilling pile
Steel cage on lane
Install courrugated HDPE
Install strand, anchor pile
Install steel cage
Pouring concrete
Stressing

Setup Beam

Jacking and Reading

Quality Control
Evaluasi dan review design

Finish

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

3.1 Pelaksanaan Persiapan


3.1.1 Tulangan bore pile

Persiapan rangka baja untuk bore pile disetiap bagian perencanaan yang terdiri dari bagian atas
tengah dan bawah akan di rangkai dengan sistem las. Pada bagian tersebut akan dipasang juga
lifting lug yang berguna untuk memudahkan pengangkatan rangka baja ke titik yang sudah di
bor.
3.1.2 Corrugated HDPE
Corrugated HDPE berguna untuk instalasi duck tendon pada bore pile yang nantinya
dimanfaatkan untuk perletakan angkur. Adapun instalasi corrugated HDPE ini sendiri dengan
cara memasukkannya ke dalam rangkaian baja bore pile di setiap sisi yang direncanakan
kemudian di kencangkan ke rangakaian baja menggunakan kawat ikat.
3.1.3 Anchor Pile (Underground)
Adapun angkur pile yang digunakan disini adalah angkur mati bertipe DSI MA 59 12 Z
(12T12.7) yang ditanamkan di bagian bawah bore pile. Strand yang digunakan berdiameter 0,5
inch (12.7 mm) dimana setiap tendon terdiri dari 12 strand. Kemudian install u plate pada
setiap strand dan kencangkan setiap strand dari u plate sejarak 700 mm. Setelah itu masukkan
semua strand ke duck tendon yang sudah disiapkan sebelumnya dan tutup ujung duck tendon
agar air semen tidak keluar.

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

REINFORCING STEEL
11 - D10

REINFORCING STEEL
11 - D10

210

750

DEAD END ANCHOR


STRAND 12 - 0,5"

313

287

287

313

1200

Side view Dead Anchor Type DSI MA. 59 12 Z (12T12.7)

Angkur Tipe MA
3.1.4

Instalasi Tulangan Bore Pile

Angkat tulangan bore pile dengan crane dimana dikaitkan di beberapa titik yang sudah
disipakan ketika pembesian dilakukan. Di setiap bagian pengait akan diletak rol untuk
TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT
PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

memudahkan pergerakan rangka baja dari posisi horizontal ke vertikal untuk dimasukkan ke
dalam lubang pile.

Tailing for Lifting Long Steel Cage

3.1.5

Lifting for Long Steel Cage

Pouring Concrete

Setelah bore pile selesai dengan angkurnya dicor, bagian ujung pile harus di potong dan
disesuaikan dengan elevasi yang dibutuhkan untuk kemudian dilakukan caping menggunakan
semen grout. Setelah itu dilakukan pengecoran tahap kedua untuk pengikat angkur pada ujung
atas setebal 2 m x 2 m x 1 m, kemudian dilakukan stressing pile tahap satu dan grouting
tendon. Strand yang lebih di biarkan untuk digunakan pada saat loading test.

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

1200
313

287

287

313

WEDGES PLATE

WEDGES PLATE
DSI ANCHOR BLOCK
12 T12,7
SPIRAL BURSTING
6-D13 / 240 mm

SPIRAL BURSTING
6-D13 / 240 mm

SUPPORT BAR
2x5 D-13
ADD'L BAR
2x5 D-13

240

240

320

320

SUPPORT BAR
2x5 D-13
ADD'L BAR
2x5 D-13

CORRUGATED
METAL DUCT -65

Stage 2 (1000 mm)

Stage 1

CORRUGATED
METAL DUCT -65

265

335

335

265

1200

Test Pile

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

10

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

3.2 Pengaturan Beam


Perletakan H-beam adalah saling melintang. Adapun pelaksanaannya adalah sebagai berikut :
1. Diperlukan temporary concrete footing untuk memudahkan pengaturan perletakan
H-Beam. Concrete blok ini diletakan di ke empat sisi pile di atas plat setebal 100 mm
untuk mencegah guling.
2. Angkat H-Beam untuk diletakan tepat diantara bagian strand yang sudah dipersiapkan
sebelumnya dengan bantuan crane.
3. Strand tersebut kemudian di masukkan ke dalam pipa baja diameter 300 mm.
4. Pada bagian atasnya di gunakan plat baja dan beam kecil untuk mengunci strand atau
pile dengan main beam agar bisa dilakukan stressing tahap kedua dengan P=45 ton
sebagai persiapan loading test.

Main
H-Beam
Steel Plate
100 mm
Temporary
Footing

Gambar : Install H-Beam menggunakan Crane

Strand 0,5
Steel Plate
&
small bema

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

11

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

Gambar : Steel Plate dan Small Beam on Main H-Beam

Gambar : Stressing tahap dua P=45 ton


3.3 Compression Loading Tes Jacking & Reading
Setelah pemasangan H-Beam selesai dilakukan pemasangan peralatan lainya untuk
pelaksanaan staic loading tes, antara lain dial gauge, hydraulic pump, manometer, reference
beam, pelindung atau atap kerja dan lampu penerangan karena pengujian ini berlangsung
hingga malam hari.
Digunakan dua unit hydraulic pump berkapasitas 1000 ton per unitnya pada pile yang di uji.
Kedua hiydraulic pump ini diletakkan di atas steel plate pada pile yang diuji agar distribusi

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

12

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

beban ketika pengujian berlangsung merata. Setelah semua peralatan terpasang akan
dilakukan pengujian sesuai prosedur kerja hingga beban yang diberikan mencapai 1800 ton.
Untuk memastikan settlement dipasang 4 unit dial gauge pada test pile, 2 unit dial gauge
dipasang pada main beam yang melintang terhadap beam acuan sehingga di dapat data dari
etiap pergerakan pile baik ke arah x dan y (lateral movement) dan juga dipasang 4 unit dial
gauge pada angkur pile guna meningkatkan akurasi hasil settlement.

Hydraulic pump kapasitas 1000 ton

Reference Beam

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

13

Dial gauge pada angkur pile

Covering

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

Pencatatan Penurunan

Dial Gauge pergerakan lateral

Hydraulic Jack
3.4 Prosedur dan Pencatatan
Waktu, pembebanan dan settlement akan dicatat dalam setiap kondisi, baik ketika beban di
tingkatkan maupun ketika beban diturunkan sesuai siklusnya. Adapun pencatatannya
dilakukan adalah sebagai berikut :
1. Ketika beban ditingkatkan sesuai siklusnya pencatatan settlement dilakukan selama 20
menit, terkecuali untuk peningkatan pembebanan sebelum beban puncak pencatatan
dilakukan per jam atau settlement tidak lebih besar dari 0,25 mm/jam nya dan atau
maksimal 2 jam. Pencatatan dilakukan dengan interval waktu 0-10-20-30-40-50-60
menit.

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

14

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

2. Untuk penurunan pembebanan, pencatatan dilakukan selama 20 menit dengan interval


waktu 0-10-20 menit, terkecuali penurunan beban setelah dari beban puncak maka
pencatatannya dilakukan selama satu jam dengan interval waktu setiap 10 menitnya.
3. Pembebanan puncak disetiap siklus harus dipertahankan selama satu jam dengan catatan
penurunan kurang dari 0,25 mm/jam dan maksimal dua jam.
4. Untuk pembebanan puncak 300% dari beban rencana pembebanan dipertahankan selama
12 jam dan settlement kurang dari 0,25 mm/jam dan maksimal 24 jam. Sama halnya
dengan siklus sebelumnya pencatatan dilakukan setiap 10 menit.

Pier P 12 A (Unused Pile)

Competent Person Area Only

Pier P 16 B (Used Pile)

Pembacaan loading & settlement

3.5 Quality Control


Pelaksanaan pengujian static loading test hanya membutuhkan waktu dua hari untuk setiap
pile. Berdasarkan hasil pengujian diketahui bahwa pile sudah menunjukan kegagalan
settlement yaitu penurunannya sudah mencapai angka 42,16 mm pada saat pembebanan

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

15

Knowledge Management Static Loading Test With Anchoring System

mencapai 250%. Pembebanan tetap dilanjutkan dan diperoleh settlement sebesar 15% dari
diameter pile yaitu senilai 181,32 mm sehingga pembebanan dihentikan.
Berdasarkan hasil tersebut pile tidak memenuhi spesifikasi teknis maka perlu dilakukan
review desain bore pile. Setelah dilakukan perhitungan review untuk desain didapat bore
pile harus ditambahkan kedalamannya hingga 0,4 D dari tanah dasar (konsultan).

TANJUNG PRIOK ACCESS ROAD CONSTRUCTION PROJECT


PHASE 2, PACKAGE 5, SECTION NS DIRECT

16