Anda di halaman 1dari 9

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Hipospadias
Hipospadia adalah kelainan kongenital di mana pembukaan meatus uretra berada
dibawah penempatan normal pada glans penis. Tingkat dari salah penempatannya pembukaan
atau meatus uretra dapat bervariasi. Uretra dapat membuka hanya sedikit ventral ke glans atau
sejauh persimpangan penoscrotal. Chordee, atau kelengkungan ke bawah batang penis, biasanya
terlihat dalam bentuk yang lebih parah pada hipospadia. Selanjutnya, pada hipospadias juga
dapat ditemukan testis yang tidak turun dan hernia inguinalis. (McKinney, James, Murray,
Nelson, dan Ashwill, 2013).
Hipospadia adalah gangguan bawaan dari penis akibat cacat embriologik dalam
pengembangan alur uretra dan uretra penis. (Hannon, Porth, Pooler, dan Matfin, 2010).
Hipospadia adalah kelainan bawaan dari perkembangan anterior uretra dan penis yang
mengakibatkan pembukaan/meatus urethra berada pada posisi ventral. Lokasi dapat berkisar dari
kelenjar ke skrotum. Kelainan yang dimaksud meliputi pemendekan perut serta chordee
(kelengkungan). (Pediatrics Clerckship, The University of Chicago, 2013).

Gambar 1.1
Hipospadias
Sumber: Simon,
Harvey. (2013).
Hypospadias.
Diakses pada
tanggal 12 Maret
2015 dari

http://nymethodist.adam.com/content.aspx?productId=10&pid=10&gid=000595

2.2 Etiologi dan Insiden


Hipospadia adalah salah satu kelainan kongenital yang paling umum terjadi sekitar 1 dari
setiap 250 anak laki-laki. Risiko meningkat jika salah satu dari ayah atau saudara memiliki
kejanggalan pada meatus. Faktor lain meliputi usia ibu yang lebih dari 35 tahun, paparan bahan
kimia lingkungan terhadap intrauterin, dan mungkin mutasi genetik. Testis yang tidak turun
terjadi sekitar 10% dari anak-anak yang terkena hipospadias, dan risiko mengalami hernia
inguinalis juga meningkat. (McKinney, James, Murray, Nelson, dan Ashwill, 2013).
Ideologi dalam banyak kasus tidak diketahui. Cacat gen tunggal, kelainan kromosom, dan
ibu konsumsi obat progestasional di akun kehamilan awal hanya sekitar seperempat dari kasus.
(Hannon, Porth, Pooler, dan Matfin, 2010).
Berikut penjelasan dari beberapa faktor yang kemungkinan terjadinya hipospadias:
1. Faktor genetik
Sebuah kecendrungan genetic telah disarankan oleh peningkatan 8 kali lipat dalam
kejadian

hipospadia

antara

kembar

monozigot

dibandingkan

dengan

tunggal.

Kecenderungan keluarga telah dicatat dengan hipospadia. Prevalensi hipospadia pada anak
laki laki nenek moyang dengan hipospadia telah dilaporkan sebesar 8 % dari 14 % dari anak
saudara dengan hipospadia juga terpengaruh.
2. Faktor endokrin
Penurunan androgen atau ketidakmampuan untuk menggunakan androgen dapat
mengakibatkan hipospadia. Dalam sebuah laporan tahunn 1997 oleh Aaronson dkk, 66 %
dari anak laki-laki dengan hipospadia ringan dan 40 % dengan hipospadia berat ditemukan
memilki cacat dalam biosintesis testosterone testis.
Mutasi alfa reductase enzim-5 yang mengubah

testosterone

(T)

menjadi

dihidritestosteron (DHT), secara siginifikan telah dihubungkan dengan kondisi hipospadia.


Sebuha laporan tahun 1999 oleh Silver dkk,, ditemukan hampir 10 % dari anak laki-laki
dengan hipospadia terisolasi memiliki setidaknya satu alel terpengaruh dengan alpha
reductase mutase-5.
3. Faktor lingkungan
Gangguan endokrin

oleh

agen

lingkungan

adalah

mendapatkan

popularitas

sebagaietiologi mungkin untuk hipospadia dan sebagai penjelasan atas kejadian yang
semakin meningkat.

Estrige telah terlibat dalam pengembangan penis abnormal pada hewan. Lingkungan
dengan aktifitas estrogenic signifikan dimana-mana dalam masyarakat industry dan tertelan
sebagai pestisida pada buah-buahan dan sayuran, tanaman estrogen dan endogen, dalam susu
dari sapi perah laktasi hamil, dari lapisan pelastik dikaleng logam danobat-obatan.
2.3 Patofisiologi
Penyebab hipospadias belum diketahui secara pasti. Akan tetapi ada beberapa faktorfaktor yang dapat menyebabkan kemungkinan terjadinya hipospadias, diantaranya adalah usia
ibu yang lebih dari 35 tahun, terpapar bahan kimia pada intrauterine, mutasi genetik, riwayat
keluarga, dan faktor risiko lainnya. Hal ini bisa menyebabkan perubahan yang abnormal pada
perkembangan janin khususnya pada perkembangan meatus uretra.
Pada minggu ke-9 kehamilan, stimulasi androgenic memulai fusi dari tuberkulum genital.
Pembukaan uretra dibentuk oleh fusi lipatan uretra endodermal selesai pada minggu ke 16-18.
Hal ini sebagian atau kegagalan lipatan uretra yang mengakibatkan pengembangan uretra yang
abnormal. Kecemasan yang signifikan dapat hasil dari kinerja dan ketidakpuasan bentuk
penampilan seksual penis mereka. (Pediatrics Clerckship, The University of Chicago, 2013).
Pada usia gestasi Minggu ke VI kehamilan terjadi pembentukan genital, pada minggu ke
VII terjadi agenesis pada mesoderm sehingga genital tubercel tidak terbentuk, bila genital fold
gagal bersatu diatas sinus urogenital maka akan timbul Hypospadia.
Perkembangan uretra dalam uretro dimulai sekitar usia 8 minggu dan selesai dalam 15
minggu, uretra terbentuk dari penyatuan lipatan uretra sepanjang permukaan ventral penis.
Glandula uretra terbentuk dari kanalisasi furikulus ektoderm yang tumbuh melalui glands untuk
menyatu dengan lipatan uretra yang menyatu. Hypospadia terjadi bila penyatuan digaris tengah
lipatan uretra tidak lengkap sehingga meatus uretra terbuka pada sisi ventral penis. Derajat
kelainan letak ini antara lain seperti pada glandular (letak meatus yang salah pada glans), Korona
(pada sulkus korona), penis (disepanjang batang penis), Penuskrotal (pada pertemuan ventral
penis dan skrotum), dan perineal (pada perineum) prepusium tidak ada pada sisi ventral dan
menyerupai topi yang menutupi sisi darsal gland. Pita jaringan fibrosa yang dikenal sebagai
Chordae, pada sisi ventral menyebabkan kuruatura (lingkungan) ventral dari penis. Pada orang
dewasa, chordec tersebut akan menghalangi hubungan seksual, infertilisasi (Hypospadia

penoskrotal) atau (perineal) menyebabkan stenosis meatus sehingga mengalami kesulitan dalam
mengatur aliran urine dan sering terjadi kriotorkidisme. Komplikasi pada Hypospadia adalah
infertilisasi, resiko hernia inguinalm, gangguan psikososial.

2.4 Tipe Hipospadias

Gambar 1.1 Jenis-jenis


hipospadia berdasarkan
letak lubang saluran
kemih.
Sumber: Sava Perovic
Foundation. (2011).
Types of Hypospadias.
Diakses pada tanggal 12
Maret 2015 dari
http://www.hypospadiasrepair.com/types-ofhypospadias.html
Tipe-tipe dari
hipospadias adalah:
1. Glanular :
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Pembukaan terletak masih di sekitar kepala penis.


Koronal : Pembukaan terletak pada leher penis.
Distal : Pembukaan terletak di ujung batang penis.
Penil : Pembukaan terletak di batang penis.
Proksimal : Pembukaan terletak di pangkal batang penis.
Penoskrotal : Pembukaan terletak di antara penis dan kantung testis.
Skrotal : Pembukaan terletak di kantung testis.
Perineal: Pembukaan terletak di antara kantung testis dan anus.

2.5 Manifestasi Klinis


Tanda dan gejala hipospadia termasuk pembukaan uretra di bawah ujung di
sisi bawah penis, kulup tidak lengkap, kelengkungan penis saat ereksi, dan skrotum
abnormal. (Ward dan Hisley, 2009). Pada kasus hispopadias adalah terdapat adanya

chordee (kelengkungan bawah penis dan kulup tidak lengkap), testis yang tidak
turun, dan hernia inguinalis. Dalam beberapa kasus aliran kemih membelok bawah
sekunder untuk posisi ventral meatus. (Pillitteri, 2012).

Berdasarkan hal diatas, pada kasus hipospadias akan ditemukan tanda dan gejala dibawah
ini:
1.

Lubang penis tidak terdapat di ujing penis.

2.

Glans penis bentuknya lebih datar dan ada lekukan di bagian bawah.

3.

Preputium (kulup) tidak ada di bagian bawah penis.

4.

Ada chordae, jaringan fibrosa yg mengelilingi meatus. Tidak ada chordae jika letak meatus uretra pada
dasar glans penis.

5.

Kulit penis sangat tipis.

6.

Tunika dartos, fasia buch, dan korpus spongiosum tidak ada.

7.

Sering disertai undescended testis.

8.

Ketidakmampuan berkemih dalam posisi berdiri.

2.6 Penatalaksanaan
1. Pembedahan adalah satu-satunya pilihan pengobatan. Tujuannya adalah untuk membawa
meatus ke ujung penis atau kepala penis. Banyak jenis prosedur pembedahan, diantaranya
jika terdapat chordee, penis diluruskan juga, baik sebelum perbaikan hipospadia (pada
kasus yang berat) atau prosedur yang sama (jika kurang parah). Waktu yang
dihabiskan dalam perbaikan: 1,5 - 3 jam tergantung pada tingkat keparahan
dan jika ada chordee. Dengan prosedur pembedahan ini diharapkan anak
bisa memiliki penis yang normal kembali. Dahulunya pembedahan dilakukan
pada umur 2-6 tahun, tetapi melihat banyak dampak yang buruk bagi anak
seperti psikologis, maka pembedahan dianjurkan dilakukan pada umur 6-12
bulan.

a. Operasi Pelepasan Chordee atau tunneling (Operasi tahap I)


Dilakukan pada usia 1 1/2 2 tahun. Pada tahap ini dilakukan operasi eksisi
chordee dari muara uretra sampai ke glans penis. Setelah eksisi chordee maka penis akan

menjadi lurus akan tetapi meatus uretra masih terletak abnormal. Untuk melihat
keberhasilan

setelah eksisi dilakukan tes ereksi buatan intraoperatif

dengan

menyuntikkan NaCl 0,9% ke dalam korpus kavernosum.


Pada saat yang bersamaan dilakukan operasi tunneling yaitu pembuatan uretra
pada gland penis dan muaranya. Bahan untuk menutup luka eksisi chordee dan
pembuatan tunnelling diambil dari preputium penis bagian dorsal. Oleh karena itu
hipospadia merupakan kontraindikasi mutlak untuk sirkumsisi.
b. Operasi Uretroplasti (Operasi Tahap II )
Biasanya dilakukan 6 bulan setelah operasi pertama. Uretra dibuat dari kulit penis
bagian ventral yang di insisi secara longitudional paralel di kedua sisi
Bayi yang menderita hipospadia sebaiknya tidak disunat. Kulit depan penis
dibiarkan untuk digunakan pada pembedahan. Rangkaian pembedahan biasanya telah
selesai dilakukan sebelum anak mulai sekolah. Pada saat ini perbaikan hipospadia
dianjurkan sebelum anak berumur 18 bulan.

2. Pemberian Obat
a. Antibiotik
Tujuan: Untuk mencegah infeksi pada luka operasi
Jenis Obat :
1) Bactrim (Sulfametoksazol / Trimethoprim). Efek samping: Mual,
muntah, dan ruam.
2) Cipro (Ciprofloxacin). Efek samping: Mual
Catatan: Tidak boleh memberikan Bactrim atau Cipro untuk anak-anak
dengan defisiensi G6PD, karena dapat menyebabkan hemolisis.
b. Antispasmodik. Contoh: Ditropan (Oxybutynin): Tindakan melemaskan
kandung kemih, menurunkan tekanan kandung kemih, dan mengurangi
kejang kandung kemih (sering terjadi pada anak dengan kateter). Efek
samping: kemerahan pada wajah.

c. Pain Relief
1) Tylenol (Acetaminophen / paracetamol). Nyeri biasanya tidak parah setelah
operasi.
2) Motrin (Ibuprofen)

3) Lortab (Hydrocodone / Asetaminophen). Untuk anak-anak mengalami


perbaikan yang lebih luas. Efek samping: mengantuk, pusing, dan mual.
(Montagnino, 2014).

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HYPOSPADIAS
3.1 Pengkajian
1. Identitas Klien dan Identitas Orang Tua Klien
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Sekarang
- Keluhan Utama : pada umumnya pasien dengan hypospadia ditemukan adanya
lubang kencing yang tidak pada tempatnya sejak lahir dan tidak diketahui
dengan pasti penyebabnya, penis tampak seperti berkerudung karena adanya
kelainan pada kulit dengan penis, jika berkemih anak harus duduk
(Muslihatum,2010:163) dan selain itu, ibu pasien mengatakan kalau kencing
anaknya merembes.
b. Riwayat Kesahatan Dahulu
- Penyakit yang pernah diderita :
- Operasi : ya / tidak , tahun :
- Alergi
- Imunisasi : BCG, DPT, Polio, Campak, Hepatitis
c. Riwayat Kesehatan Keluarga

d. Riwayat Nutrisi
- Nafsu makan : Baik :
tidak :
mual :
muntah :
- Pola Makan :
- Minum :
jenis :
e. Riwayat Pertumbuhan
- BB saat ini :
TB :
LK :
LD :
LLA :
- BB lahir :
Tinggi lahir :

3. Pemeriksaan Fisik
a. Sistem Kardiovaskuler
Tidak ditemukan kelainan
b. Sistem Neurologi
Tidak ditemukan kelainan
c. Sistem Pernafasan
Tidak ditemukan kelainan
d. Sistem Integumen
Tidak ditemukan kelainan
e. Sistem Muskuloskletal
Tidak ditemukan kelainan
f. Sistem Perkemihan
- anak laki-laki dengan hipospadia akan mengalami kesukaran dalam
mengarahkan aliran urinnya, bergantung pada keparahan anomali, penderita
mungkin perlu mengeluarkan urin dalam posisi duduk. Konstriksi lubang
abnormal menyebabkan obstruksi urin parsial dan disertai oleh peningkatan
insiden ISK. (Brough, 2007: 130)
- Palpasi abdomen untuk melihat distensi vesika urinaria atau pembesaran pada
ginjal
g. Sistem reproduksi
- adanya lekukan pada ujung penis
- melengkungnya penis ke bawah dengan atau tanpa ereksi
- Terbukanya uretra pada ventral
- Pengkajian setelah pembedahan : pembengkakan penis, perdarahan, drinage
Tambahan daftar Pustaka :
Muslihatum, Wafi Nur .2010.Asuhan Neonatus Bayi dan Balita. Yogyakarta: Penerbit Fitramaya
Brough, Helen.2007.Rujukan Cepat Pediatri Dan Kesehatan Anak. Jakarta: EGC

3.2 Aplikasi NANDA, NOC dan NIC