Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG
Sampai saat ini angka kematian ibu (AKI) di Indonesia masih tidak dapat turun
seperti yang diharapkan. Menurut SDKI terdapat sebanyak 228 kematian ibu per
100.000 kelahiran hidup. Angka kematian ibu di Indonesia diantaranya disebabkan
oleh Pendarahan 60%, toksemia gravidarum 20%, dan infeksi 20%. (SDKI,2010).
Selain perdarahan dan infeksi, pre-eklampsia dan eklampsia juga merupakan
penyebab kematian ibu dan perinatal yang tinggi terutama di negara berkembang.
WHO meninjau secara sistematis angka kematian ibu di seluruh dunia (Khan
dan rekan, 2006), di negara-negara maju, 16 persen kematian ibu disebabkan karena
hipertensi. Persentase ini lebih besar dari tiga penyebab utama lainnya: perdarahan-13
persen, aborsi-8 persen, dan sepsis-2 persen. Di Amerika Serikat pada tahun 19911997, Berg dan rekan (2003) melaporkan bahwa hampir 16 persen dari 3.201
kematian ibu berasal dari komplikasi hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Belakangan, Berg dan rekan kerja (2005) kemudian melaporkan bahwa lebih dari
separuh kematian yang berkaitan dengan hipertensi dapat dicegah.
Terminologi

hipertensi

dalam

kehamilan

(HDK)

digunakan

untuk

menggambarkan spektrum yang luas dari ibu hamil yang mengalami peningkatan
tekanan darah yang ringan atau berat dengan berbagai disfungsi organ. HDK adalah
salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu disamping perdarahan dan infeksi.
Hipertensi dalam kehamilan berarti tekanan darah meninggi saat hamil. Hipertensi
didefinisikan sebagai peningkatan darah sistolik lebih besar atau sama dengan 140
mmHg atau peningkatan tekanan darah diastolik lebih besar atau sama dengan 90
mmHgKeadaan ini biasanya mulai pada trimester ketiga, atau tiga bulan terakhir
kehamilan. Kadang-kadang timbul lebih awal, tetapi hal ini jarang terjadi. Dikatakan

tekanan darah tinggi dalam kehamilan jika tekanan darah sebelum hamil (saat periksa
hamil) lebih tinggi dibandingkan tekanan darah di saat hamil. Hipertensi pada
kehamilan dapat menyebabkan morbiditas atau kesakitan pada ibu (termasuk kejang
eklamsia, perdarahan otak, edema paru (cairan di dalam paru), gagal ginjal akut, dan
penggumpalan atau pengentalan darah di dalam pembuluh darah) serta morbiditas
pada janin (termasuk pertumbuhan janin terhambat di dalam rahim, kematian janin di
dalam rahim, solusio plasenta atau plasenta terlepas dari tempat melekatnya di rahim
dan kelahiran prematur). Dengan pengetahuan ini, menjadi jelas bahwa pemeriksaan
antenatal yang teratur dan secara rutin mencari tanda-tanda preeklampsia, sangat
penting dalam usaha pencegahan preeklampsia berat dan eklampsia, di samping
pengendalian terhadap faktor-faktor predisposisi yang lain.
2. TUJUAN
Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan laporan ini adalah mengetahui
perjalanan penyakit salah seorang pasien, sehingga dapat menilai kondisi pasien dari
awal terjadinya penyakit hingga post diberikan tindakan
3. MANFAAT
Adapun manfaat yang diperoleh dari penulisan laporan ini adalah menjadikan
calon dokter terlatih untuk menangani pasien serta mengetahui dan mengawasi
perkembangan penyakit pasien dari hari ke hari. Di samping itu, melatih skill
berkomunikasi baik secara verbal maupun non-verbal demi mencapai hasil perawatan
yang maksimal bagi kesembuhan pasien.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Penyakit hipertensi dalam kehamilan merupakan kelainan vaskuler yang terjadi
sebelum kehamilan atau timbul dalam kehamilan atau pada permulaan nifas. Tetapi
yang dibahas pada bab ini ada hipertensi yang timbul pada kehamilan. Golongan
penyakit ini ditandai dengan hipertensi dan kadang-kadang disertai proteinuria,
oedema, convulsi, coma, atau gejala-gejala lain. Hipertensi adalah tekanan darah
sistolik dan diastolik 140/90 mmHg. Pengukuran tekanan darah sekurang
kurangnya dilakukan 2 kali selang 4 jam. Kenaikan tekanan darah sistolik 30
mmHg dan kenaikan tekanan darah diastolik 15 mmHg sebagai parameter
hipertensi sudah tidak dipakai lagi. (Sarwono, 2008).
1. TERMINOLOGI
Terminologi yang di pakai adalah
a) Hipertensi dalam kehamilan, atau
b) Preeklamsia eklampsia
2. KLASIFIKASI
Klasifikasi yang dipakai di Indonesia adalah berdasarkan Report of the National
High Blood Pressure Education Program Working Group on High Blood Pressure in
Pregnancy tahun 2001, ialah:
a.
b.
c.
d.

Hipertensi kronik
Preeklampsia eklampsia
Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia.
Hipertensi gestasional (Sarwono, 2008).

2.1. Penjelasan klasifikasi hipertensi dalam kehamilan

a. Hipertensi kronik
Hipertensi kronik adalah hipertensi yang timbul sebelum umur kehamilan
20 minggu atau hipertensi yang pertama kali didiagnosis setelah umur kehamilan
20 minggu dan hipertensi menetap sampai 12 minggu pascapersalinan.
b. Preeklampsia
Preeklampsia adalah hipertensi yang timbul setelah 20 minggu kehamilan
disertai dengan proteinuria.
c. Eklampsia
Eklampsia adalah preeklampsia yang disertai dengan kejang-kejang dan/
atau koma.
d. Hipertensi kronik dengan superimposed-preeklampsia
Hipertensi kronik dengan superimposed preeklampsia adalah hipertensi
kronik disertai tanda tanda preeklampsia atau hipertensi kronik disertai
proteinuria.
e. Hipertensi gestasional
Hipertensi gestasional (disebut juga transient hypertension) adalah hipertensi
yang timbul pada kehamilan tanpa disertai proteinuria dan hipertensi menghilang
setelah 3 bulan pascapersalinan atau kehamilan dengan tanda tanda preeklampsia
tetapi tanpa proteinuria (Sarwono. 2008)
2.2. Penjelasan Tambahan
a. Proteinuria adalah adanya 300 mg protein dalam urine selama 24 jam atau sama
dengan 1+ dipstick.
b. Edema, dulu edema tungkai, dipakai sebagai tanda tanda preeklampsia, tetapi
sekarang edema tungkai tidak dipakai lagi, kecuali edema generalisata
(anasarka). Perlu dipertimbangkan faktor resiko timbulnya hipertensi dalam
kehamilan, bila didapatkan edema generalisata, atau kenaikan berat badan >
0,57 kg/minggu.
c. Primigravida yang mempunyai kenaikan berat badan rendah, yaitu <0,34
kg/minggu, menurunkan risiko hipertensi, tetapi menimbulkan risiko berat
badan bayi rendah.
3. FAKTOR RESIKO

Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan,


yang dapat dikelompokan dalam faktor risiko sebagai berikut:
a) Usia. Insidens tinggi pada primigravida muda, meningkat pada primigravida tua.
Pada wanita hamil berusia kurang dari 25 tahun insidens > 3 kali lipat. Pada
wanita hamil berusia lebih dari 35 tahun, dapat terjadi hipertensi laten
b) Paritas. Angka kejadian tinggi pada primigravida, muda maupun tua,
primigravida tua risiko lebih tinggi untuk preeklampsia berat atau eklampsia
c) Faktor gen. Jika ada riwayat preeklampsia/eklampsia pada ibu/nenek penderita,
faktor risiko meningkat sampai 25%. Diduga adanya suatu sifat resesif (recessive
trait), yang ditentukan genotip ibu dan janin. Terdapat bukti bahwa preeklampsia
merupakan penyakit yang diturunkan, penyakit ini lebih sering ditemukan pada
anak wanita dari ibu penderita preeklampsia. Atau mempunyai riwayat
preeclampsia atau eklampsia dalam keluarga
d) Riwayat preeklampsia atau eklampsia sebelumnya
e) Riwayat kehamilan yang terganggu sebelumnya; termasuk perkembangan janin
terhambat, solusio plasenta atau kematian janin
f) Gemelli; proteinuria dan hipertensi gravidarum lebih tinggi pada kehamilan
kembar, dizigotik lebih tinggi daripada monozigotik. Hidrops fetalis dan mola
hidatidosa. Pada mola hidatidosa diduga terjadi degenerasi trofoblas berlebihan
yang berperan menyebabkan preeklampsia. Pada kasus mola, hipertensi dan
proteinuria terjadi lebih dini/pada usia kehamilan muda, dan ternyata hasil
pemeriksaan patologi ginjal juga sesuai dengan preeklampsia.
g) Diet atau gizi. Di mana ada penelitian ibu hamil yang kekurangan kalsium
berhubungan dengan angka kejadian preeklampsia yang tinggi. Angka kejadian
juga lebih tinggi pada ibu hamil yang overweight
4. PATOFISIOLOGI
a) Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Pada kehamilan normal, rahin dan plasenta mendapat aliran darah dari
cabang-cabang arteri uterine dan arteria ovarika. Kedua pembuluh darah tersebut
menenbus miometrium berupa arteri arkuarta dan arteri arkuarta member cabang

arteria radialis. Arteria radialis menembus endometrium menjadi arteri basali dan
arteri basalis member cabang arteria spiralis
Pada hamil normal, dengan sebab yang belum jelas, terjadi infasi trofoblas ke
dalam lapisan otot arteria spiralis, yang menimbulkan degenerasi lapisan otot tersebut
sehingga terjadi dilatasi arteri spiralis. Invasi trofoblas juga memasuki jaringan
sekitar arteri spiralis, sehingga jaringan matriks menjadi gembur dan memudahkan
lumen arteri spiralis mengalami distensi dan dilatasi. Distensi dan vasodilatasi lumen
arteri spiralis ini memberikan dampak penurunan tekanan darah, penurunan resistensi
vascular, dan peningkatan aliran darahpada daerah uretero plasenta. Akibatnya, aliran
darah ke janin cukup banyak dan perfusi jaringan juga meningkat, sehingga dapat
menjamin pertumbuhan janin dengan baik. Proses ini dinamakan remodeling arteri
spiralis.
Pada hipertensi dalam kehamilan, tidak terjadi invasi sel-sel trofoblas pada
lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matriks sekitarnya. Lapisan otot arteri spiralis
menjadi tetap kaku dank eras sehingga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan
mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya, arteri spiralis relative mengalami
vasokonstriksim dan terjadilah hipoksia dan iskemia plasenta. Dampak iskemia
plasenta

akan

menmbulkan

perubahan-perubahan

yang

dapat

menjelaskan

pathogenesis HDK selanjutnya.


Diameter rata-rata arteri spiralis pada hamil normal adalah 500mikron,
sedangkan pada preeklamsia rata-rata 200 mikron. Pada hamil normal, vasodilatasi
lumen arteri spiralis dapat meningkatkan 10x aliran darah ke uteroplasenta
b) Teori iskemia plasenta, radikal bebas, dan disfungsi endotel
Plasenta yang mengalami iskemia dan hipoksia akan menghasilkan oksidan
(radikal bebas), yaitu senyawa penerima electron atau atom molekul yang mempunyai
elektron yang tidak berpasangan.
Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskemia adalah radikal
hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membrane endotel pembuluh darah.
Sebenarnya, produksi oksidan pada manusia adalah suatu proses normal, karena
oksidan memang dibutuhkan untuk perlindungant ubuh, Adanya radikal hidroksil

dalam darah mungkin dahulu dianggap sebagai bahan toksin yang beredar di dalam
darah, makan dulu HDK disebut toxaemia.
Radikal hidroksil akan merusak membrane sel, yang mengandung banyak asam
lemak tidak jenih menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak selain akan merusak
membrane sel, juga akan merusak nukleus, dan protein sel endotel.
Produksi oksidan dalam tubuh yang bersifat toksin, selalu diimbangi dengan
produksi antioksidan.
Peroksida lemak sebagai oksidan yang sangat toksis akan beredar di seluruh
tubuh dalam aliran darah dan akan merusak membrane sel endotel. Peningkatan
oksidan ini diikuti oleh penurunan kadar antioksidan, misalnya vitamin E. Membran
sel endotel lebih mudah mengalami kerusakan oleh peroksida lemak, karena letaknya
langsung berhubungan dengan aliran darah dan mengandung banyak asam lemak
tidak jenuh. Asam lemak tidak jenuh sangat rentan terhadap oksidan radikal hidroksil,
yang akan berubah menjadi peroksida lemak.
Pada waktu terjadi kerusakan endotel yang mengakibatkan disfungsi endotel,
maka akan terjadi:

Gangguan metabolisme prostaglandin, karena salah satu fungsi endotel, adalah


memproduksi prostaglandin, yaitu menurunnya produksi prostasiklin (PGE2);

yaitu vasodilator kuat.


Agregasi sel-sel trombosit pada daerah endotel yang mengalami kerusakan.
Agregasi ini memproduksi tromboksan (TXA2); suatu vasokonstriktor kuat. Pada
preeklamsia kadar tromboksan lebih tinggi dari kadar prostasiklin sehingga terjadi

vasokonstriksi.
Perubahan khas pada sel endotel kapiler glomerulus.
Peningkatan permeabilitas kapilar.
Peningkatan produksi bahan-bahan vasopressor, yaitu endotelin. Kadar NO

(vasodilator) menurun, sedangkan endotelin (vasokonstriktor) meningkat,


Peningkatan faktor koagulasi.

5. DIAGNOSIS
a. Hipertensi gestasional

Didapatkan tekanan darah sistolik 140 atau diastolik 90 mm Hg untuk pertama


kalinya pada kehamilan di atas 20 minggu

Tidak ada proteinuria

Tekanan darah kembali normal sebelum 12 minggu postpartum

Diagnosis hanya dibuat pada postpartum

Mungkin memiliki tanda-tanda atau gejala preeklampsia, misalnya, tidak


nyaman atau trombositopenia epigastrika

b. Preeklampsia
Kriteria minimum
-

Didapatkan tekanan darah lebih atau sama dengan 140/90 mmHg setelah
kehamilan 20 minggu

Proteinuria 300 mg/24 jam atau 1 + Dipstick

Gejala menghilang setelah 12 minggu post partum.

Gejala yang menambah ketepatan diagnosis


-

Didapatkan peningkatan tekanan darah sampai 160/110 mm Hg atau lebih

Proteinuria 2.0 g/24 dijam atau urine dipstick 2+

Peningkatan kreatinin serum >1.2 mg/dL kecuali kalau sebelumnya sudah


memiliki riwayat gangguan ginjal.

Trombosit < 100,000/L

Adanya anemia mikroangiopqti hemolisispeningkatan LDH

Peningkatam serum transaminaseALT or AST

Nyeri kepala yang hebat dan atau gangguan visus

Nyeri epigastrik persisten

Preeklampsia ringan
-

Desakan darah : 140/90 mmHg < 160/110 mmHg. Kenaikan desakan


sistolik > 30 mmHg dan kenaikan desakan diastolik 15 mmHg, tidak
dimasukkan dalam kriteria diagnostik preeklampsia, tetapi perlu observasi
yang cermat.

Proteinuria : 300 mg/24 jam jumlah urine atau dipstick : 1+

Edema : lokal pada tungkai tidak dimasukkan dalam kriteria diagnostik


kecuali anasarka.

Preeklampsia berat
Preeklampsia berat ialah preeklampsia dengan salah satu atau lebih gejala
dan tanda di bawah ini:
- Desakan darah: pasien dalam keadaan istirahat desakan sistolik 160 mmHg
-

dan desakan diastolik 90 mmHg


Proteinuria: 5 g/jumlah urine selama 24 jam atau dipstick : 4+
Oliguria: produksi urine < 400-500 ml/24 jam
Kenaikan kreatinin serum
Edema paru dan sianosis
Nyeri epigastrium dan nyeri kuadran alas kanan abdomen : disebabkan
teregangnya kapsula Glisone. Nyeri dapat sebagai gejala awal ruptura

hepar.
- Gangguan otak dan visus: perubahan kesadaran, nyeri kepala, skotomata,
dan pandangan kabur.
- Gangguan fungsi hepar: peningkatan alanine atau aspartate amino
transferase
- Hemolisis mikroangiopatik
- Trombositopenia : < 100.000 / ml
9

- Sindroma HELLP
Pembagian preeklampsia berat
Preeklampsia berat dapat dibagi dalam beberapa kategori :
a. Preeklampsia berat tanpa impending eclampsia
b. Preeklampsia berat dengan impending eclampsia, dengan gejala-gejala
impending :

nyeri kepala
mata kabur
mual dan muntah
nyeri epigastrium
nyeri kuadran kanan atas abdomen

c. Eklampsia
- Adanya kejang yang timbul pada penderita preeklampsia,
-

Atau didapatkan kejang pada usia kehamilan di atas 20 minggu.

d. Superimposed preeklampsia
- Timbulnya proteinuria 300 mg/24 jam pada wanita yang telah memiliki
hipertensi kronik pada usia kehamilan di atas 20 minggu
-

Terjadi peningkatan mendadak dalam proteinuria atau tekanan darah atau


trombosit <100,000 / L pada wanita dengan hipertensi dan proteinuria sebelum
gestasi 20 minggu

e. Hipertensi kronik
- TD sebelum kehamilan 140/90 mm Hg atau terdiagnosis sebelum kehamilan 20
minggu , tidak timbul penyakit trofoblas gestasional
-

Gejala menetap setelah 12 minggu postpartum


Klasifikasi hipertensi kronik

Klasifikasi
Normal

Sistolik (mmHg)
< 120
10

Diastolik (mmHg)
< 80

Prehipertensi

120 139

80 89

Hipertensi derajat I Hipertensi

140 159

90 99

derajat II

160

110

(The 7 th Report of the National Committee (JNC7)


MIMs Cardiovascular Guide th. 2003-2004)

6. MANAGEMEN HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN


6.1. Pengelolaan Preeklampsia Ringan
Pengelolaan preeklampsia ringan dapat secara :
a. Rawat jalan (ambulatoir)
b. Rawat inap (hospitalisasi)
a. Pengelolaan secara rawat jalan (ambulatoir)
1. Tidak mutlak harus tirah baring, dianjurkan ambulasi sesuai keinginannya.
Di Indonesia tirah baring masih diperlukan
2. Diet regular : tidak perlu diet khusus
3. Vitamin prenatal
4. Tidak perlu restriksi konsumsi garam
5. Tidak perlu pemberian diuretik, antihipertensi dan sedativum
6. Kunjungan ke rumah sakit tiap minggu
b. Pengelolaan secara rawat inap (hospitalisasi)
1. Indikasi preeklampsia ringan dirawat inap (hospitalisasi)
- Hipertensi yang menetap selama > 2 minggu
- Proteinuria menetap selama > 2 minggu
- Hasil tes laboratorium yang abnormal
- Adanya gejala atau tanda 1 (satu) atau lebih preeklampsia berat
2. Pemeriksaan dan monitoring pada ibu
- Pengukuran desakan darah setiap 4 jam kecuali ibu tidur
11

Pengamatan yang cermat adanya edema pada muka dan abdomen

Penimbangan berat badan pada waktu ibu masuk rumah sakit dan
penimbangan dilakukan setiap hari

Pengamatan dengan cermat gejala preeklampsia dengan impending


eclampsia : nyeri kepala frontal atau oksipital, gangguan visus, nyeri
kuadran kanan atas ,nyeri epigastrium

3. Pemeriksaan laboratorium
- Proteinuria dengan dipstick pada waktu masuk dan sekurangnya diikuti 2
hari setelahnya
-

Hematokrit dan trombosit : 2 x seminggu

Tes fungsi hepar 2 x seminggu

Tes fungsi ginjal dengan pengukuran kreatinin serum, asam urat, dan
BUN

Pengukuran produksi urine setiap 3 jam (tidak perlu dengan kateter tetap)

4. Pemeriksaan kesejahteraan janin


- Pengamatan gerakan janin setiap hari
-

NST 2 x seminggu

Profil biofisik janin, bila NST nonreaktif

Evaluasi pertumbuhan janin dengan USG, setiap 3-4 minggu

Ultrasound Doppler arteria umbilikalis, arteria uterina

5. Terapi medikamentosa
- Pada dasarnya sama dengan terapi ambulatoar

12

Bila terdapat perbaikan gejala dan tanda-tanda preeklampsia dan umur


kehamilan > 37 minggu, ibu masih perlu diobservasi selama 2-3 hari
kemudian boleh dipulangkan.

6. Pengelolaan obstetrik
Pengelolaan obstetrik tergantung umur kehamilan
a. Bila penderita tidak inpartu :
-

Umur kehamilan > 37 minggu Bila tanda dan gejala tidak memburuk,

kehamilan dapat dipertahankan sampai aterm.


Umur kehamilan > 37 minggu
Kehamilan dipertahankan sampai timbul permulaan partus
Bila serviks matang pada taksiran tanggal persalinan

dapat

dipertimbangkan dilakukan induksi persalinan


b. Bila penderita sudah inpartu
Perjalanan persalinan dapat diikuti dengan Partograf Friedman atau
Partograf WHO.
6.2. Pengelolaan Preeklampsia Berat
Pada kehamilan dengan penyulit apapun pada ibunya, dilakukan pengelolaan
dasar sebagai berikut :
-

Pertama adalah rencana terapi pada penyulitnya: yaitu terapi medikamentosa


dengan pemberian obat-obatan untuk penyulitnya

Kedua baru menentukan rencana sikap terhadap kehamilannya: yang tergantung


pada umur kehamilan.

Sikap terhadap kehamilannya dibagi 2, yaitu;


1) Konservatif; bila umur kehamilan < 37 minggu, kehamilan dipertahankan
selama mungkin sambil memberikan terapi medikamentosa
2) Aktif; bila umur kehamilan 37 minggu, artinya : kehamilan diakhiri setelah
mendapat terapi medikamentosa untuk stabilisasi ibu.

13

Pemberian terapi medikamentosa


1)
2)
3)
4)

Segera masuk rumah sakit


Tirah baring miring ke kiri secara intermiten
Infus Ringer Laktat atau Ringer Destrose 5 %
Pemberian anti kejang MgSO4 sebagai pencegahan dan terapi kejang.
Pemberian MgSO4 dibagi:
a. Loading dose (initial dose): dosis awal
b. Maintainance dose: dosis lanjutan
5) Anti hipertensi
- Diberikan : bila tensi 180/110 mmHg atau MAP 126
- Jenis obat: Nifedipine dosis 10-20 mg oral, diulangi setelah 30 menit,
-

maksimum 120 mg dalam 24 jam.


Nifedipine tidak dibenarkan diberikan di bawah mukusa lidah (sublingual)

karena absorbsi yang terbaik adalah melalui saluran pencernaan makan.


Desakan darah diturunkan secara bertahap:
Penurunan awal 25 % dari desakan sistolik
Desakan darah diturunkan mencapai : - < 160/105
MAP < 125
6) Diuretikum
-

Diuretikum tidak dibenarkan diberikan secara rutin, karena:


-

Memperberat penurunan perfusi plasenta


Memperberat hipovolemia
Meningkatkan hemokonsentrasi.

Diuretikum yang diberikan hanya atas indikasi :


- Edema paru
- Payah jantung konggestif
- Edema anasarka
7) Diet
Diet diberikan secara seimbang, hindari protein dan kalori yang berlebih
6.3.Pengelolaan Eklampsia
a. Dasar-dasar pengelolaan eklampsia
- Terapi suportif untuk stabilisasi pada ibu
- Selalu di ingat ABC (Airway, Breathing, Circulation)
- Pastikan jalan nafas tetap terbuka
- Mengatasi dan mencegah kejang
- Koreksi hipoksemia dan acidemia
- Mengatasi dan mencegah penyulit khususnya hipertensi krisis
- Melahirkan janin pada saat yang tepat dengan cara persalinan yang tepat

14

b. Terapi medikamentosa
Obat antikejang yang sering digunakan yaitu magnesium sulfat. Sama seperti
pengobatan pre eklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat
diberikan MgSO4 2 gram intravenous selama 2 menit minimal 20 menit setelah
pemberian terakhir. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan 1 kali saja. Bila
setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital /
thiopental 3-5 mg/kgBB/IV perlahan-lahan
c. Perawatan kejang
- Tempatkan penderita diruang isolasi atau ruang khusus dengan lampu terang
(tidak diperkenankan ditempatkan diruang gelap, sebab bila terjadi sianosis
tidak dapat diketahui)
-

Tempat tidur penderita harus cukup lebar, dapat diubah dalam posisi
Trendelenburg, dan posisi kepala lebih tinggi

Rendahkan kepala kebawah : diaspirasi lendir dalam orofaring guna mencegah


aspirasi pneumonia

Sisipkan penyekat-lidah antara lidah dan gigi rahang atas

Fiksasi badan harus kendor agar waktu kejang tidak terjadi faktur

Rail tempat tidur harus dipasang dan terkunci dengan kuat

d.
-

Perawatan koma
Derajat kedalaman koma diukur dengan Glasgow-Coma Scale
Usahakan jalan nafas atas tetap terbuka
Hindari dekubitus
Perhatikan nutrisi

e. Pengelolaan eklampsia

15

Sikap dasar pengelolaan eklampsia : semua kehamilan dengan eklampsia harus


diakhiri (diterminasi) tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.
Berarti sikap terhadap kehamilannya adalah aktif.

Saat pengakhiran kehamilan ialah bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan)


hemodinamika dan metabolisme ibu.

Stabilisasi dicapai selambat-lambatnya : 4-8 jam, setelah salah satu atau lebih
keadaan, yaitu setelah:

Pemberian obat anti kejang terakhir


Kejang terakhir
Pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir
Penderita mulai sadar (dapat dinilai dari Glasgow-Coma-Scale yang
meningkat)

f. Pengobatan Obstetrik
Semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan atau tanpa
memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Bilamana diakhiri, maka
kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) kondisi dan
metabolisme ibu. Setelah persalinan, dilakukan pemantauan ketat untuk melihat
tanda-tanda terjadinya eklampsia. 25% kasus eklampsia terjadi setelah persalinan,
biasanya dalam waktu 2 4 hari pertama setelah persalinan. Tekanan darah
biasanya tetap tinggi selama 6 8 minggu. Jika lebih dari 8 minggu tekanan
darahnya tetap tinggi, kemungkinan penyebabnya tidak berhubungan dengan preeklampsia.
6.4. Pengelolaan Hipertensi Kronik Dalam Kehamilan
Tujuan pengobatan hipertensi kronik dalam kehamilan ialah
-

Menekan risiko pada ibu terhadap kenaikan desakan darah


Menghindari pemberian obat-obat yang membahayakan janin

a. Pengobatan medikamentosa

16

Indikasi pemberian antihipertensi adalah :


a) Risiko rendah hipertensi
Ibu sehat dengan desakan diastolik menetap 100 mmHg
Dengan disfungsi organ dan desakan diastolik 90 mmHg
c) Obat antihipertensi
Pilihan pertama : Methyldopa : 0.5 3.0 g/hari, dibagi dalam 2-3 dosis
Pilihan kedua : Nifedipine : 30 120 g/hari, dalam slow-release tablet
(Nifedipine harus diberikan peroral)
b. Pengelolaan terhadap kehamilannya
Sikap terhadap kehamilannya pada hipertensi kronik ringan : konservatif

c.

yaitu dilahirkan sedapat mungkin pervaginam pada kehamilan aterm


Sikap terhadap kehamilannya pada hipertensi kronik berat : aktif, yaitu

segera kehamilan diakhiri (diterminasi)


Anestesi : regional anestesi
Hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia
Pengelolaan hipertensi kronik dengan superimposed preeclampsia sama

dengan pengelolaan preeklampsia berat


7. KOMPLIKASI
a. Solusio plasenta
b. Payah: ginjal,jantung,paru disebabkan edema,lever oleh karena nekrosis
c. Pendarahan otak
d. Sindrom HELLP: hemolisis,eleved lever enzyms,low platelet
e. Kematian ibu dan janin.
f. Hypofibrinogenemia
g. Kelainan mata
h. Nekrosif hati.
i. Kelainan ginjal
j. Prematuritas, dismaturitas, dan kematian janin intrauterina
8. PENGARUH HIPERTENSI TERHADAP KEHAMILAN
Pertumbuhan janin terhambat
Kematian janin
Persalinan prematur
Solutio placenta

17

18

BAB III
LAPORAN KASUS
1. IDENTITAS PASIEN
Nama
: Ny RNW
Umur
: 23 tahum
Alamat
: Sabrang rowo, RT 02 RW 09, Borobudur, Magelang
Agama
: Islam
Pekerjaan : IRT
No RM
: 082461
2. ANAMNESIS
a. Keluhan utama
Pusing sejak satu hari yang lalu.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pasien baru datang dengan surat pengantar dari Puskesmas Borobudur
dengan G3P1A1 usia kehamilan 37 minggu. Pasien mengeluhkan pusing sejak
satu hari yang lalu. Pusing dirasakan terus menerus. Sedikit menganggu
aktivitas. Keluhan mual dan muntah disangkal. Keluhan gangguan penglihatan
disangkal. Keluhan nyeri epigastrium disangkal. Kenceng-kenceng sudah
terasa sejak satu hari yang lalu tetapi belum teratur. Rembes disangkal. Keluar
darah dan lendir disangkal. BAK dan BAB dbn.
c. Riwayat penyakit dahulu
Belum pernah mengalami hal yang serupa. Riwayat penyakit hipertensi
dan DM disangkal

d. Riwayat penyakit keluarga


Keluarga tidak ada yang mengalami hal serupa. Riwayat hipertensi pada
keluarga disangkal. Memiliki riwayat DM pada keluarga yaitu pada ibu dan
kakak kandungnya.

19

e. Riwayat Pengobatan
Sudah pernah berobat sebelumnya pada bulan Januari di puskesmas.
Diberi 4 jenis kapsul dan penambah darah. Perdarahan berhenti selama 1
minggu kemudian keluar lagi hingga sekarang.
f. Riwayat menstruasi
Menstruasi teratur selama + 7 hari. Nyeri ketika haid disangkal. Menarche
pada usia 13 tahun.
g. Riwayat KB
Belum pernah mengunakan KB sebelumnya.
h.Riwayat obsetri
Hamil I : 02 Juli 2010, perempuan, 3000gr, spontan di RS oleh bidan.
Tidak pernah mengalami hal serupa pada kehamilan. Tidak ada
masalah selama kehamilan.
Hamil II : Abortus, 17 Februari 2012, uk + 12 minggu, dilakukan kuratage
i. Sosial ekonomi
Kesan ekonomi cukup. Pasien menyangkal merokok dan minum alcohol.

3. PEMERIKSAAN FISIK
a. Status Umum
- Kesadaran
: Compos mentis
- Aktivitas
: Normoaktif
- Kooperatif
: Kooperatif
- Status gizi
: Baik
- Tb
: 150 cm
- Bb
: 69 kg
b. Vital Sign
- TD
- Nadi
- RR
- Suhu

: 170/130 mmHg
: 80 x/menit
: 20 x/menit
: 36,20

20

c. Status generalis
- Kepala
: kesan mesochepal
Mata
: Ca (-)/(-)
Si (-)/(-)
Hidung
: pernafasan cuping hidung (-) mukosa nasal normal
Mulut
: sianosis (-)
- Leher
: pembesaran KGB (-)
- Thorax
Paru

Ins

: simetris

Pal

: vocal fremitus ka = ki

Per

: sonor seluruh lapangan paru

Aus

: vesikuler, ronkhi (-)/(-), wheezing (+)

Jantung
Ins

: iktus kordis tidak terlihat, bentuk dada normal

Pal

: iktus kordis tidak kuat angkat

Per

: batas jantung normal

Aus

: BJ I dan II, murmur (-)

Abdomen
Ekstremitas

: membesar (+)
Superior
Inferior

d. Status obstetric
TFU
TBJ
DJJ
HIS

:
:

tidak terdapat kelainan


edema (+)

: 33cm
:
: 139 x/menit
: 1x/10 menit, tidak adekuat

Inspeksi

: membesar (+)

LI

: bokong

LII

: puki

LIII

: preskep

LIV

: belum masuk PAP

21

VT

: portio tebal luak, pembukaan 2cm, eff 30%, KK (+), STLD


(-)

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. Pemeriksaan lab
- WBC : 7,6 103/mm3
- RBC
: 3,6
- HGB : 6,0 gr/dL
- HCT
: 21,3 L%
- PLT
: 399 103/mm3
- MCV : 5,9
- MCH : 16,7
- MCHC : 28,4
5. USULAN PEMERIKSAAN PENUNJANG
a. USG
b. Pemeriksaan lab: darah dan urine
c. Pemeriksaan NST
6. DIAGNOSIS
Hipertensi gestasional pada multigravida uk 37 minggu dalam kala I fase laten
7. PENATALAKSANAAN
- Infus RL 20 tpm
- Nifedipine tablet 10 mg.
- Cek lab
- Observasi KU dan TTV
8. FOLLOW UP
Tanggal
16

S
Pusing (+)

Februari

kenceng-

2013

kenceng (+)
mual muntah
(-)

O
TD : 160/20
N : 88 x/menit
S : 36,5
RR : 24
Px Lab:
WBC : 4,4 x 103
RBC : 3,6
HB : 7,6 gr/dL

22

A
Hipertensi

P
- Observasi KU dan

gestasional

TTV
- Nifedipine tab 10

pada
multigravida
uk

37

mg

sampai

diastole 110mg,

3x1
- Rencana SC
dalam kala I - Injeksi cefotaxim
minggu

fase laten
Telah

1g
- Injeksi

lahir

bayi

secara

SC

pukul

10:05

Jk

perempuan,

Metronidazol
Post SC
- Hb; 7,6 gr/dl
Tranfusi PRC 2

BBL 3100 gr,


PB:

kolv
49cm, - Injeksi cefotaxim

LK/LD 33/32
A/S 9/10/10
Anus

(+)

cacat (-) Ak
jernih.

1g
- Injeksi
metronidazole
- Injeksi
dexametasone
- Injeksi tramadol

Plasenta lahir
lengkap
perabdominal
17

Lemas (+)

Februari

nyeri post op

2013

(+) pusing (+)


mual (-)
muntah (-)
Makan dan
minum : dbn
ASI (+) sedikit
Perdarahan (+)

TD : 180/120
N : 68x/menit
S : 35
RR : 20 x/m
Px Lab
WBC : 4,4 x 103
RBC : 3,6
HB : 9,2 gr/dL

Post SC H +1 - Injeksi cefotaxim


1g
- Injeksi
metronidazole
- Injeksi lasix 2040mg
- Captopril

3x50

mg
- Observasi KU dan
TTV
- Edukasi

18

Nyeri post op

Februari

(+) pusing (+)

TD : 200/140
N : 72x/menit
S : 36,2

23

pemberian ASI
- Latihan gerak
Post SC H +2 - Injeksi cefotaxim
1g
- Injeksi

2013

19
Februari
2013

berkurang
Sedikit sesak
mual (-)

RR : 28

metronidazole
- Injeksi lasix 20-40

muntah (-)

mg
- Captopril

BAK dbn
BAB (-) sejak

mg
- Observasi KU dan

SC
ASI (+)
Perdarahan (+)

TTV
- Edukasi

Pusing

(+) TD : 160/100
N : 96x/menit
dirasa seperti
S : 38,9
berputar ketika RR : 28

3x50

pemberian ASI
- Latihan gerak
Post SC H +3 - Observasi KU dan
TTV

duduk,
semalam
mengigil,
demam

sejak

pukul 04:00,
Nyeri
post
operasi

(+)

tetapi
berkurang
mual
20
Februari
2013

(-)

muntah (-)
Nyeri post op TD : 160/100
N : 88x/menit
berkurang,
S : 36,3
pusing
(-), RR : 24

Post SC H +4 - Pulang
Obat yang dibawa
pulang:

demam (-)

- Cefadroxil
- Sangobion
- As. mefenamat

24

25