Anda di halaman 1dari 206

1

SYARAT :
Umur kehamilan : cukup bulan : 37 42 mgg
BB lahir : sesuai masa kehamilan
Tidak ada kelainan pd saat lahir

HPHT Rumus NAEGEL


Ukuran antropometrik : BB lahir
PB
Lingkaran kepala, dll
Pem. radiologik pusat2 epifisis
Motor Conduction Velocity
ECG
Penilaian karakteristik fisik luar :
Usher & Farr 1966 & Finnstrom 1970
Penilaian kriteria neurologik

Menurut Finnstrom 1972 : Cara yg paling mendekati


Kebenaran kombinasi 3 cara :
Kriteria fisik luar + kriteria neurologik + lingkaran kepala
Saat itu yg paling praktis :
Sistem Skor Dubowitz

SKOR BALLARD (1977)


Ciri : kematangan fisis : 7
kematangan neuromuskular : 6
5

Cara menetukan umur kehamilan menurut Ballard (1977),


berdasarkan ciri kematangan fisis
0

Kulit

Lanego
Lipatan
plantar

Merah seperti agar,

Merah muda licin/ halus

transparan

tampak vena

Tdk ada

Tdk ada

2
Permukaan
mengelupas dgn/tanpa
ruam, sedikit vena

4
Seperti kertas

Daerah pucat

kulit, retak lbh

retak , vena jarang

dalam, tdk ada

vena

Banyak

Menipis

Menghilang

Umumnya tdk ada

Tanda merah sangat

Hanya lipatan anterior

Lipatan 2/3

Lipatan di seluruh

sedikit

yh melintang

anterior

telapak

Areola datar, tdk ada

Areola seperti titik,

Areola lbh jelas,

Areola penuh,

tonjolan

tonjolan 1-2 mm

tonjolan 3-4 mm

tonjolan 5-10 mm

Sedikit melengkung,

Bentuknya lbh baik,

Bentuk sempurna,

Tulang rawan

lunak, lambat membalik

lunak, mudah membaik

membalik seketika

tebal, telinga kaku

Payudara

Hampir tdk tampak

Daun telinga

Datar, tetap terlipat

Kelamin lelaki

Skrotum kosong, tdk


ada ruga

Testis turun, sedikit


ruga

Testis di bawah,
ruganya bagus

Testis bergantung,
ruganya dalam

Kelamin

Klitoris & labia

Labia mayora & minora

perempuan

minora menonjol

sama-sama menonjol

Labia mayora
besar, labia minora

Klitoris & labia


minora ditutupi

kecil

labia mayora

5
Seperti kulit,
retak2,
megkerut

Kematangan neuromuskular

Penilaian Tingkat Kematangan


Nilai

Minggu

5
10
15
20
25
30
35
40
45
50

26
28
30
32
34
36
38
40
42
44
8

Taksiran maturitas bayi


Sangat penting mengetahui secara tepat masa gestasi
setiap BBL, karena :
perlu untuk penatalaksanaan
mempengaruhi morbiditas & mortalitas
menilai tingkat perkembangan BKB
penelitian fisiologik harus dilakukan dgn
mempertimbangkan lamanya masa gestasi
9

Evaluasi pertumbuhan BBL


Disebut sesuai masa kehamilan bila BB lahir sesuai dgn
BB seharusnya utk masa kehamilan tsb
Harus ada BB standar utk tiap2 masa gestasi
Lubchencho 1963 pertama kali meneliti korelasi antara
BB lahir & masa gestasi :
Intra Uterine Growth Curve (IUGC)
Menggunakan percentile ke 10 & ke 90
Usher 1970 memakai standard deviation : -2 SD & 2 SD
10

Penilaian pertumbuhan
bayi berdasarkan Klasifikasi
neonatus menurut
Battaglia & Lubchenco
(1967)

(Gram)
5000
4750

4500
PERSENTIL
KE
90

4250
4000
3750
3500
3250
3000

2750
2500

PERSENTIL
KE
10

2250
2000
1750
1500

KB : Kurang bulan
CB : Cukup bulan
LB : Lebih bulan
BMK : Besar utk masa kehamilan
SMK : Sesuai utk masa kehamilan
KMB : Kecil untuk masa kehamilan

1250

1000
750
500
24

26

28

30
KB

32

34

36 37 38

40
CB

42

44

46
LB

11

Untuk mengetahui ada tidaknya kelainan pd


waktu lahir :

Harus mempelajari fisiologi & patologi neonatus

Harus ketahui keadaan2 yg terjadi pd kehamilan & kelahiran


past history neonatus : janin/fetus oki perlu tahu :
pertumbuhan & perkembangan janin
homeostasis & gangguannya
reaksi adaptasi
keadaan & peny. yg dpt mempengaruhi janin :
antenatal
intranatal
postnatal
cara mengevaluasi & menolong janin

12

Perkembangan otak
Paling pesat : trimester terakhir kehamilan s/d 6 bln
post partum
vulnerable period
Gangguan dalam periode ini
Kerusakan otak permanen
Bbrp sarjana : banyak kelainan neurologik & psikologik
pd anak disebabkan o/ peristiwa2 yg terjadi pd periode
perinatal
13

Tujuan kelahiran bayi


Bayi yg sehat dari ibu yg sehat tanpa sequele akibat
Hal-hal yg dpt dicegah
Perlu : antenatal care
perinatal care

tindakan preventif
tindakan kuratif

Untuk membatasi : morbiditas


mortalitas perinatal

14

Tindakan preventif
Vaksinasi ibu hamil
Perbaikan gizi
Pengobatan
Mencegah lahirnya BBLR + penanganan
Pertolongan gawat janin

15

Bayi baru lahir normal


BB

: 2500 4000 gram

Lingkaran kepala : 33 38 cm
AS

: 7 10

Kulit :
Lanugo sedikit
Hari I : kadang2 acral sianosis
Waktu lahir : vernix caseosa (+)
24 jam post natal : tanda2 desquamasi mulai di daerah
pelipatan
Hari 2 3 : kekuningan ikterus neonatorum simpleks
(ikterus fisiologik)

16

Kepala :
Sering moulage (+)
Dada :
lingkar 1 2,5 cm < lingkar kepala
pernapasan : - tipe abdominal
diafragmatik abdominal
- 30 100/mnt, tergantung aktifitas
HR : 120 130 /mnt
kadang2 bising (+)
17

Abdomen :
H.L.G. dpt teraba
Letak umbilicus : + symphisis proc. Xyphoidus
Genitalia :
: descensus testiculorim lengkap
: lab. majora menutupi vestibulum & kadang ada
sekresi mukoid
Refleks :
Moro
Plantar & grasp
Rooting
Sucking
Babinsky
Tonic neck

18

Sal. pencernaan :
Mulai aktif dari saat lahir
Enzym2 pencernaan (+) kecuali amilase
pH cairan lambung netral dalam 5-24 jam menjadi asam
Mengandung meconium
Hepar :
Fungsi belum sempurna
+ 50% ikterus, timbul hari 2-3
Keseimbangan air & fungsi ginjal
tubuh mengandung relatif lbh banyak air
penurunan BB fisiologik 6 10%
Ginjal blm dpt mengkonsentrasi urine, tp sdh dpt
mencairkan urine

19

Kelenjar endokrin :
Hipertrofi kelenjar & sekresi air susu
Perdarahan pervaginam
Metaplasia prostat
Kekebalan :
Imunitas transplasenter
Respons immunologik masih imatur
Pernapasan :
Pernapasan I timbul akibat :
1. Rangsangan mekanik
2. Rangsangan kimia : penurunan PaO2
kenaikan PaCO2
3. Rangsangan termik

20

Penanganan bayi
1. Pem. fisis :
KB / OK
Dalam 24 jam I
Sebelum pulang
Kecuali : - bayi risiko tinggi
- kelainan (+)
2. Perawatan bayi :
RG
Ruang observasi
Ruang isolasi
NICU

21

Yang perlu dilakukan


Menjaga agar jalan napas bersih & bebas
Mempertahankan suhu tubuh mencegah hipotermi
Menjamin intake :
ASI sedini mungkin
Sesuai kebutuhan bayi (on demand)
ASI saja sampai umur 6 bln
Penimbangan / pantau BB
Waspada faktor risiko
22

BBLR = LBW

23

BB lahir < 2500 gram


Dibagi atas :
1. Prematur murni
UK

: < 37 mgg

BB

: SMK = AGA (Appropriate for


Gestational Age)

2. KMK = SGA = Small for Gestational Age


UK

: BCB BKB BLB

BB

: KMK dibawah persentil ke 10

24

BKB = Prematur = Preterm


UK < 37 minggu
BMK
BKB
SMK
KMK
Faktor2 yg mempengaruhi kelahiran prematur
1. Faktor ibu : Penyakit
Usia
Interval kelahiran
Jumlah kehamilan
Sosial ekonomi
2. Faktor janin : Kehamilan multipel
Hidramnion
25

Karakteristik klinik
BB

: < 2500 gram

PB

: < 48 cm

Lingkar dada

: < 30 cm

Lingkar kepala

: < 33 cm

Kepala relatif lbh besar dari pada badannya

26

Sifat-sifat anatomis
Kulit tipis, transparan
Lanugo banyak
Jar. subkutis lemak kurang
Jar. mamma belum sempurna
Ossifikasi tengkorak sedikit
Ubun-ubun & sutura lebar
Tulang rawan daun telinga belum cukup
dll
27

Sifat-sifat fisiologis
Vitalitas : kurang aktif, banyak tidur
Suhu irregular tendensi hipotermi
Pernapasan : kadang2 cheyne stokes
Refleks menelan & batuk belum sempurna

28

Perawatan
Atur suhu
Cegah sianosis
Cegah infeksi
Vit. K
Intake harus dijamin

29

Penyakit dan komplikasi


Semua penyakit / keadaan yg terjadi pd BCB, tetapi
beberapa penyakit tersebut lebih sering atau hanya pd BKB :
Asfiksia
RDN = SGP
Retrolental fibroplasia
Hiperbilirubinemia
Infeksi
30

KMK
BB lahir < 10 persentil dari IUGV Lubchenco
Etiologi : Gangguan supply makanan pd janin
BCB KMK
KMK

BKB KMK
BLB KMK

BKB KMK :
Gejela fisik bayi prematur
Tanda retardasi pertumbuhan + wasting
31

BCB KMK

BLB KMK

UK : ?
BB < 10 persentil
PB <
Kulit : kering
Jar. lemak s.k. <
Otot-otot : tipis

Kulit keriput
wasting

Desquamasi kulit <


Hepar kecil
tanda-tanda insuffisiensi plasenta
32

Perawatan
Intake dini = early feeding
Kontrol glukosa darah
Observasi pernapasan
Atur suhu
Cegah infeksi

33

Empat cara bayi baru lahir kehilangan panas tubuh34

35

Komplikasi
Hipoglikemi
Hiperbilirubinemi
BKB : komplikasi / peny. pd BKB
Asfiksia
Meconium aspiration syndrome

36

ASFIKSIA NEONATORUM

37

PENDAHULUAN

Suatu keadaan dimana :


Bayi segera setelah lahir

Tdk dpt bernapas secara spontan, teratur &


adekuat
Penyebab morbiditas & mortalitas
Sebagian besar persalinan tanpa kesulitan + 10%
perlu resusitasi
Sudah mengalami hipoksia anoksia :
Sewaktu dlm kandungan
Selama proses persalinan
Segera setelah lahir

38

Perlu kerja sama :


Bag. Kebidanan
Bag. Anak
Bag. Anestesi
Bidan & Paramedis
Keberhasilan resusitasi
Tergantung pada :
Tersedianya alat resusitasi
Ketrampilan
Ada tidaknya faktor resiko (ibu, janin, bayi)
Penilaian terhadap bayi
39

Hipoksia

PATOFISIOLOGI

Penimbunan CO2
Asidosis respiratorik
Metabolisme anaerob
Glikolisis

Cadangan :
Miokardium
Hati
Otot

Asam piruvat
Asam laktat
Asidosis metabolik
pH < 6.9
Pa CO2 > 100 torr
PaO2 tak terukur

Gangguan kardiovaskuler
Gangguan sel-sel otak
Gejala sisa

Meninggal

40

DIAGNOSIS
= Asfiksia janin asfiksia neonatorum
Gawat janin :
Klinik :
DJJ
Air ketuban
Gerakan janin
Lab :
ECG
pH darah janin
41

DERAJAT ASFIKSIA
1. PH darah janin bayi
2. Skor Apgar o/ Virgina Apgar (1953)
Derajat asfiksia

SA

pH

Tidak asfiksia

>7

> 7,2

Asf. ringan-sedang

46

7,1 7,2

Asfiksia berat

<3

< 7,1

AS 1 menit Berat ringannya asfiksia


AS 5 menit Menilai keberhasilan resusitasi
Berhubungan dgn morbiditas & mortalitas
42

TANDA
1. A : Warna apperance

0
Biru /
pucat

Tbh kemerahan, angg.


gerak biru

Slrh tbh
kemerahan

2. P : Pulse

< 100/m

> 100/m

3. G : Grimace
= Rx .

Gerak otot
muka sdkt

Batuk /
bersin

4. A : Activity tonus otot

5. R : Respiration

Lumpuh Sedang, fleksi sdkt agg.


gerak
-

Lambat tdk
teratur

Baik,
gerakan
aktif
Baik
menangis
kuat

43

PENANGANAN
Resusitasi tepat & cepat
Prinsip :
A Air way
B Breathing
C Circulation
D Drug
44

RESUSITAS
I
Langkah awal
awal resusitasi
resusitasi
Langkah
Penggunaan balon
balon resusitasi
resusitasi && sungkup
sungkup
Penggunaan
Penekanan dada
dada
Penekanan

AA
BB
CC

Intubasi endotrakeal
endotrakeal
Intubasi
Obat-obatan
Obat-obatan

DD
45

Mencegah
Mencegah
kehilangan panas
panas
kehilangan

Membuka jalan
jalan
Membuka
nafas
nafas

3 langkah
awal
resusitasi
BBL

Menilai bayi
bayi
Menilai

46

IGA LANGKAH
LANGKAH AWAL
AWAL
IGA
RESUSITASI
RESUSITASI

47

Leher agak ekstensi


(tengadah)

Ekstensi leher berlebihan

Ekstensi leher kurang


48

Action

Resp

HR
Decision

Evaluation

C o l o r

49

50

Usaha bernafas
Bernafas

Tidak/sukar bernafas

Menepuk telapak kaki,


menyentil tumit atau
menggosok punggung

Menyatakan keperluan
pemberian oksigen
80 100 %

Menilai pernafasan
Bernafas

Tidak/sukar bernafas

Menilai frekuensi denyut jantung


Menyatakan keperluan pemberian VTP
dengan oksigen 80 100 %
Di atas 100

Di bawah 100
Memutuskan pentingnya
pemberian VTP dengan oksigen 100 %

Menilai warna kulit

Kemerahan/
sianosis perifer

Sianosis sentral

Lanjutkan
observasi bayi

Berikan oksigen
80 100 %
Nilai warna kulit
Kemerahan
Secara perlahan mengurangi
oksigen, bayi tetap kemerahan

Sianotik
Teruskan pemberian
oksigen 80 100 %

51

52

METODE MULUT KE MULUT

53

Sungkup oksigen

Oksigen Melalui pipa

Penggunaan Oksigen
54

Setelah
stimulasi taktil
FJ <
100
X/mnt

Hernia

Bayi apnu

Bayi
megapmegap
55

VTP
100% O2

< 100/mnt

56

Melalui sungkup

Melalui pipa ET

V T P
57

FJ < 60x/mnt,setelah
15-30 dtk dgn
VTP O2 100%

FJ 60
60 x/mnt
x/mnt
FJ
atau
atau
lebih
lebih

58

S A L A H

Vena umbilikalis
Pipa
endotrakeal
(ET)

B E N A R

59

FJ = NOL
FJ < 60x/m setelah VTP dan
Penekanan dada selama 30 detik
Dapat diulang tiap 35 menit kalau perlu

Beri Epinefrin
FJ > 60x/m
Tidak

Henti nafas lama yang


tidak memberikan
respon thd terapi lain
Beri
Na. bikarbonat

Ya

Hentikan Obat

Terjadi / diduga terdapat


kehilangan darah dgn
tanda hipovolemia
Beri
Volume Expanders

Dapat diulang bila


tanda hipovolemia
menetap
60

KOMPLIKASI
Tindakan resusitasi berulang2 atau secara kasar
sebabkan :
Trauma farings, epiglotitis, pita suara, laserasi,
kontusio rahang atas, mukosa pipi & larings
terjadi spasme & udem larings
Pneumotoraks
Emfisema mediastinum
Infeksi sekunder
61

Pemakaian O2 konsentrasi tinggi & lama keracunan


O2 berupa kerusakan pd :
Paru-paru

: udem
atelektasi, dsb

Mata

: retrolenta fibroplasia

Otak

: pd hewan percobaan
perubahan vaskularisasi jar. otak

62

TINDAKAN LAIN
1. Pengisapan cairan lambung cegah regurgitasi & aspirasi
Sebelumnya ada gawat janin
Prematur
Ibunya mendpt obat2 analgetik/anestesi pd persalinan
Manfaat lain dari tindakan ini :
Mengetahui secara dini adanya atresia / stenosis
oesophagus
Cairan lambung > 30 ml obstruksi usus bag. atas ?
2. Bila diragukan sterilitas dlm tindakan R/ antibiotika
63

PROGNOSIS
Bergantung faktor penyebab
Tindakan cepat & adekuat P/ baik
AS rendah P/ jelek
Asfiksia makin lama kemungkinan sequele
neurologik makin tinggi

64

65

Dibagi 2 : I. Gangguan Ritme Pernapasan


II. Sindrom Gangguan Pernapasan

I. Gangguan Ritme Pernapasan


1. Serangan apnu
Sering pd BKB
Abnormal : > 20 detik
Serangan :

pd hari2 I
berulang2
BB kecil lbh sering

BB lahir 1250 gr : 1500 gr


=3:1

66

Etiologi

Imaturitas pusat pernapasan


Obstruksi jalan napas oleh lendir / susu, dll
Serangan apnu yg menyertai bbrp kelainan paru
Mis : HMD, PNEU, perdarahan
Ggn SSP perdarahan intrakranial, Kern icterus
Ggn metabolik : hipoglikemi, ggn keseimbangan
: Asam basa
Cairan & elektrolit
67

Tindakan
Rangsang mekanik
Bersihkan jalan napas
O2 intra nasal
R/ kausal

68

2. Pernapasan Periodik
Sering pd : BB lahir < 2000 gr
Atau BKB < 36 mgg
Jarang dalam 24 jam I
Dpt berlangsung sampai + 6 mgg
Mirip pernapasan Cheyne Stokes
Sianosis (-)
Bradikardi (-)
Etiologi : maturitas SSP belum sempurna
Tindakan : O2
Perbaiki ventilasi paru
Merangsang timbulnya pernapasan yg
teratur

69

II. Sindroma Gangguan Pernapasan (= RDN)


Sindrom :
Dispnu / Hiperpnu > 60 x/mnt
Sianosis
Expiratory grunting
Retraksi inspiratoir
Penurunan air entry dalam paru

70

Kausa
Dalam paru : HMD
Pneumothoraks / pneumomediastinum
Pneumoni aspirasi
Sindrom Wilson Mikity, dll
Luar paru : Kln. Diafragma : hernia paralyse
Kln. Jantung : KJB
Kln intrakranial : perdarahan, depresi obat2an
Kln. Metabolik : hipoglikemi, asidosis metabolik
dll
71

Evaluasi Gawat napas dengan Menggunakan


Skor Down
0

Frekuensi
napas

< 60/menit

60-80/menit

> 80/menit

Retraksi

Tidak ada
retraksi

Retraksi ringan

Retraksi berat

Sianosis

Tidak sianosis

Sianosis hilang
dengan O2

Sianosis menetap
walaupun diberi O2

Air entry

Udara masuk
Bilateral baik

Penurunan ringan
udara masuk

Tidak ada udara


masuk

Merintih

Tidak merintih

Dapat didengar
dengan stetoskop

Dapat didengar
tanpa alat bantu
72

Evaluasi Gawat napas dengan


Menggunakan Skor Down
Skor < 4 Tidak ada gawat napas
Skor 4 -7 Gawat napas
Skor > 7 Ancaman gagal napas
(pemeriksaan gas darah harus dilakukan)

73

HMD IRDS RDS


ETIOLOGI
Belum pasti
Dianggap : faktor pertumbuhan atau pematangan paru
belum sempurna oki biasanya menyerang :
Bayi prematur terutama bila ibu menderita ggn perfusi
darah uterus selama kehamilan, mis. ibu menderita :
DM
Pre ekl eklampsia
Hipotensi
Perdarahan antepartum
Seksio sesaria

74

INSIDENS
Sukar D/ pasti : pem. postmortem
Avery & oppenheimer 3,8% kematian BKB,
BB 1000 2000 gr BK HMD makin kecil BB lahir
makin
Tertinggi : BKB

UK 30 32 mgg
BB 1200 2000 gr

Jarang BCB & BB > 2500 gr

75

PATOFISIOLOGI

Faktor pematangan paru blm sempurna terutama pembentukan


Pulmonary Surfactant Substance
Merendahkan tegangan pemukaan
Alveolus tak terjadi kolaps & mampu menahan
sisa udara fungsional pd akhir ekspirasi
Anti Atelectatic
Factor
76

HMD Kolaps paru ventilasi terganggu

Oksigenasi jar. menurun


Kerusakan : Endotel kapiler

Hipoksia
Retensi CO2
Acidosis metabolik

Epitel Ductus Alveolaris


Timbul :
Transudasi ke dlm alveoli
Terbentuk fibrin
Fibrin + jar. Epitel yg nekrotik bentuk suatu lapisan :
Membran hialin
77

PENYELIDIKAN
Kematangan paru dpt ditentukan dgn amniocentesis

L / S Ratio

<1

imatur

+ 1,5 intermediate
>2

matur

Tidak disertai HMD


78

GEJALA KLINIK
Biasa timbul : pd saat lahir
SGP
BKB

dlm waktu 6 jam I


kadang2 asfiksia intra ut.
gejala khas : 24 72 jam

Gambaran radiologis :

air bronchogram
reticulogranuler

Bila : KU baik
Komplikasi (-)

Gejala klinik berkurang


Sembuh sempurna 10 hr 2 mgg
79

GAMBARAN HISTOPATOLOGI (OTOPSI)


Ada : atelektasis
membran hialin di dlm alveolus atau ductus alveolaris
Ada bagian paru yg emphysema

PENATALAKSANAAN
Inkubator

O2 bila perlu ventilasi aktif


Intake terjamin
Atasi asidosis
Cegah infeksi

Artificial Surfactant

80

PROGNOSIS
Mortalitas 20 40 %
Tergantung tingkat : Prematuritas
Beratnya penyakit
Dgn Intensive Care ternyata kepandaian &
perkembangan neurologik sama dgn BKB lain dgn
UK yg sama

81

PNEUMOTHORAX / PNEUMOMEDIASTINUM
Lebih sering pd masa neonatus
Faktor predisposisi :
Pengembangan paru yg berlebihan ok resusitasi
tak adekuat
Pemberian O2 dgn tekanan berlebih
Adanya aspirasi meconium yg masif
Pd perjalanan peny. paru yg berat : HMD, pneumonia
berat
82

PATOGENESIS

Pengembangan paru berlebih


Alveolus pecah atau dinding mediastinum robek
Udara ke rongga pleura / mediastinum

Aspirasi darah
meconium

Obstruksi parsial di bronchus /

lendir

cabangnya

Ball valve mechanism


83

= Inspirasi : timbul ruang udara di daerah distal dari obstruksi


= Ekspirasi : udara tersebut tak bisa keluar
= Inspirasi kuat (mis : nangis, tek. ventilasi )
Ruang udara pecah

Masuk rongga pleura

84

GAMBARAN KLINIK & DIAGNOSIS


Variasi

Ringan : - tanpa gejala


- kebetulan pd R foto
Berat : - SGP
- Gelisah
- Kadang : penonjolan ddg thorax

Diameter anteroposterior thorax membesar


Perkusi & auskultasi : kurang jelas
Bayi gelisah bbrp jam setelah lahir :
distress pernapasan
penonjolan ddg thorax unilateral atau sternal
Patognomonik diagnosis pasti : Foto thorax

85

R/ & PERAWATAN
Observasi teliti : pernapasan & nadi
O2 percepat resorpsi
perbaiki hipoksia / asidosis respirator
Sedativum cegah / kurangi :
kegelisahan
usaha bernapas yg berlebih
mis : bayi banyak nangis
Antibiotika profilaksis
Frekuensi pemberian dgn vol. cairan lebih rendah
Tension pneumothorax operatif
86

PNEUMONIA ASPIRASI
= Meconium Aspiration Syndrome
Ok. Menghisap cairan amnion yg mengandung meconium

GAMBARAN KLINIK
Sering terjadi pd bayi : KMK / SGA
BLB
Sebelumnya : gawat janin
Biasanya : Asfiksia
Riwayat resusitasi aktif
Tanda2 SGP nampak dlm 24 jam I
Tergantung jum. meconium yg terhisap bisa

emfisema
atelektasis
87

DIAGNOSIS
R Foto toraks : gambaran infiltrasi kasar di ke-2 paru
disertai bagian yg mengalami emfisema

PENGOBATAN
Perawatan umum
Atur suhu & humiditas
Saluran napas harus bersih intubasi
Aspirasi cairan lambung cegah aspirasi lebih lanjut
O2 & keseimbangan asam basa
Antibiotika
88

PROGNOSIS
Kematian bisa terjadi pd hari2 I ok :
kegagalan pernapasan
asidosis berat
Pd bayi dgn perbaikan : biasanya gejala hiperpnu
menghilang setelah bbrp hr bbrp mgg

89

Wet Lung
Transient Tachypnoe of the Newborn

Diagnosis : Foto thoraks

90

91

Insidens ikterus neonatorum simpleks : 50 % BCB


70 % BKB
Derajat ikterus : Ringan : fisiologis INS
Berat : hiperbilirubinemia
Kern Icterus

Hidup + sequalae

Sebab timbulnya ikterus : penumpukan unconyugated bil /


conyugated bil. dalam darah, dimana kedua ini berbeda
dlm hal penyebab, gejala, perjalanan penyakit & terapi
perlu mengingat : Metabolisme bilirubin
92

METABOLISME BILIRUBIN
Degradasi
Hb

Produksi

Bil. I (Bil. Indirek)


+
Albumin

Transportasi

Bil I

Prot. Y & Z

O2 gluc. Transt.

Konyugasi

glukosa
Bil II

Ekskresi

Stercobilin

Bil I
I
I
Bil
rase
e
f
s
n
a
roniltr
o
k
u
l
g

Peningkatan bil I yg bebas BERBAHAYA ok dpt melekat


pd sel2 otak kerusakan otak KERN ICTERUS

93

Hiperbilirubinemia
Kadar bil. serum mencapai nilai yg mempunyai potensi
menimbulkan Kern Icterus, bila tdk ditanggulangi dgn baik
BCB : > 10 mg%
BKB

: 12,5 mg%

Tanda klinik Kern Icterus


Letargi, tak mau isap, kejang, leher kaku, opisthotonus
Kebanyakan : , bila hidup dgn gejala sisa :
cerebral palsy, atetosis dgn ketegangan otot, tuli,
ggn. bicara, retardasi mental
94

ETIOLOGI IKTERUS
Bisa : berdiri sendiri
bbrp faktor
1. Produksi berlebih : ok hemolisis
ketidakselarasan gol. darah
def. G6PD
perdarahan tertutup
infeksi / sepsis
2. Transpor terganggu :
Konsentrasi alb. serum
Ion-ion organik : sulfa, salicilat
Konsentrasi ion hidrogen me mis : asidosis
Mempengaruhi bil. binding capacity

95

3. Gangguan dlm proses uptake & konyugasi


enzim (-) / berkurang
imaturitas hepar
ggn fungsi hepar : asidosis, hipoksi, infeksi
4. Gangguan ekskresi :
obstruksi dlm / luar hepar
infeksi, dll

kelainan bawaan

96

PENGELOLAAN
I. Menentukan kemungkinan penyebab :
pendekatan dgn menggunakan saat timbulnya ikterus
(HARPER + YOON)
1. Timbul 24 jam I :
Inkompatibilitas darah
Infeksi intrauterin
Kadang2 def. G6PD

97

2. Sesudah 24 72 jam sesudah lahir :


Fisiologis
Masih kemungkinan inkomp. darah
Def. G6PD
Polisitemia
Hemolisis perdarahan tertutup
Hipoksi
Dehidrasi asidosis
98

3. > 72 jam Akhir Minggu I :


Infeksi / sepsis
Dehidrasi + asidosis
Def. G6PD
Pengaruh obat2an dll
4. Akhir Minggu I dstnya :
Ikterus obstruktif
Hipotiroidisme
Breast Milk Jaundice
Infeksi
Neonatal hepatitis, dll
99

Ikterus yang kemungkinan besar jadi patologik


Timbul 24 jam I
Kadar bil. > 10 mg% BCB
> 12,5 mg% BKB
Pean bil. > 5 mg% / hr
Menetap sesudah 2 mgg I
Bil. Direk > 1 mg%
Ada hubungan dgn hemolisis, infeksi atau
keadaan patologik lain yg telah diketahui
100

II. Terapi
1. Percepat konyugasi luminal
2. Perlancar : - transpor
- konyugasi

substrat

albumin
plasma 10cc/kgBB
glucosa : sumber energi

101

3. Terapi sinar / foto terapi :


Bil > 10 mg%
Efeknya :
1. Dekomposisi bilirubin (Fotooksidasi) dipirol
larut dalam air
2. Mekanisme lain lebih penting dp dekomposisi /
fotooksidasi :
Terjadi isomerisasi bil. indirek yg mudah larut
di dlm plasma & lebih mudah diekskresi oleh
hati ke dlm saluran empedu
102

4. Transfusi tukar tujuan :


Mengganti eritrosit
Membuang antibodi yg menyebabkan hemolisis
Menurunkan kadar bil. Indirek

III. Tindakan Umum


R/ kausal
Pemberian makanan dini & adekuat
Iluminasi ruangan

103

PENCEGAHAN
Dpt dicegah & dihentikan peningkatannya dgn :
1. Pem. antenatal yg baik
2. Hindari obat2an pd masa kehamilan & persalinan :

Sulfa furazole

Novobiocin

Oxytocin dll

3. Cegah & atasi hipoksi janin & neonatus


4. R/ luminal ibu hamil 1 2 hr sebelum partus
5. Iluminasi yg baik
6. Pemberian makanan dini
7. Cegah infeksi

104

KRAMER

Daerah IKT
BCB :

BKB :

1.
2.
3.
4.
5.
1.
2.
3.
4.
5.

Range Kdr Bil


4,3 7,8 mg%
5,4 12,2
8,1 16,5
11,1 18,3
> 15 - .
4,1 7,5 mg%
5,6 12,1
7,1 14,8
9,3 18,4
> 10,5

105

106

Sering : pd BBLR
lahir di RS tanpa RG
Patogenesis melalui bbrp cara :
1. Antenatal :
Transplacenter

Virus
Spirochaeta

Bakteri
Cairan / selaput amnion yg tercemar
2. Intranatal
Kuman asenderen
Kontak langsung

Partus lama
KPD
107

3. Post natal
Lanjutan 1 & 2
Segera setelah lahir
Sebagian besar fatal ok. kuman sudah resisten
thd semua AB
Gejala klinik :
Tdk khas
Kemungkinan besar curiga bila :
NOT DOING AS WELL AS BEFORE"
108

Gejala
infeksi
:
Biasanya
tidak khas
Yg mungkin ditemukan :
Malas minum / bayi lemah
Pe BB
Gerakan kurang
Muntah, diare
Ikterus
Hepatomegali
Suhu : N / /
Bisa timbul udem, tanda2 perdarahan
Pd BBLR : sering hipotermi & sclerema neonatorum

109

P.U. : kemungkinan besar bayi menderita infeksi bila


bayi nampak
NOT DOING AS WELL AS BEFORE

Diagnosis
Atas dasar :
Observasi teliti
Anamnesis kehamilan & persalinan
Pemeriksaan fisik
Laboratorium
110

Sering diagnosis didahului dgn persangkaan adanya infeksi


Atau adanya Faktor Predisposisi
Bila (+)

lakukan pemeriksaan selanjutnya

Faktor predisposisi :
1. Infeksi intrapartum :
Suhu > 380 C
Lekositosis
Air ketuban keruh & berbau
2. Partus lama
3. KPD
4. Tindakan resusitasi aktif
5. Partus luar evaluasi dulu

111

Pemeriksaan selanjutnya :
Darah tepi :
Lekositosis suspek inf.
Sediaan hapus ada tanda2 hemolisis
Air kemih : lekosit > 5 10/LPB
kultur air kemih bila perlu dgn SPP
Foto toraks
Bila mungkin : kultur dari apusan / swab :
Hidung
Tenggorok
Kulit
Umbilikus, dll

112

Bila faktor predisposisi (+) beri antibiotika profilaksis


untuk kuman gram (+) & (-) yaitu kombinasi :
Ampicillin

atau

50 100 mg/kgBB

Penicillin
100.000 IU/kgBB

Dengan :
Kanamycin
15 mg/kgBB

atau

Gentamycin
2 4 mg/kgBB

113

Pembagian Infeksi Perinatal


Dibagi atas 2 golongan menurut berat ringannya :
1. Infeksi berat
Sepsis neonatorum, meningitis, pneumonia, diare
epidemik, pyelonefritis, tetanus neonatorum, dll
2. Infeksi ringan
Pada kulit, mata, umbilikus, mulut, dsb

114

Impetigo neonatorum :
= Pemphigus neonatorum
Biasanya sbg impetigo bullosa mula2 sbg vesikel yg jernih
Purulent dikelilingi daerah kemerahan
Bisa multipel timbulkan gejala2 sistemik yg berat
R/ :
Isolasi + perawatan asepsis
A.B : Cloxacillin 50 mg/kgBB
Bulla diincisi
Lesi kulit ringan

R/ lokal

salf A.B
115

Ophthalmia neonatorum :
= Blenorrhoe = conjunctivitis gonorrhoica
Infeksi gonorrhoe waktu melalui jalan lahir / melalui
tangan perawat yg sudah terkontaminasi
Gejala klinik :
Mula2 hiperemis
Palpebra : udem
Mata lengket ok. sekret purulen
Bisa bilateral
stadium lanjut : menyerang cornea sebabkan kebutaan
116

R/ :
Isolasi
Salf mata A.B.
Kadang2 perlu + A.B. sistemik
D/ : periksa sekret mata pew. gram diplococcus
gram (-)

117

Infeksi umbilicus
Ok. Staphylococcus aureus, bagian pangkal umbilikus
meradang sekitarnya merah + udem, keluar nanah
Kelainan berat menjalar ke hepar melalui lig. falciforme
timbul absces multipel
Kelainan kronik : timbul granuloma pd umbilicus
R/ :
Lokal : salf A.B
Untuk granuloma : dioles nitras argenti 3%

118

Stomatitis atau oral thrush

Bercak putih di lidah, bibir + mukosa mulut


DD/ sisa susu mudah dilepas
E/ fungus : Candida albicans saprofit
Bila : daya tahan tubuh
A.B. lama

Overgrowth
Infeksi

corticosteroid lama
diare +

Moniliasis

Bahkan infeksi parenteral/sepsis


119

D/ : sediaan hapus mycellium + spora yg khas


R/ :
Gentian violet 0 5 1 %
Borax glicerin
Nistatin oral sol 3 x 100.000 U/hr
Bila hebat : amphotericin / fungilin

120

Sepsis neonatorum
Suatu keadaan dimana terjadi infeksi umum atau sistemik
pd bayi
Pasien sepsis neonatal secara garis besar dibagi 2 klpk :
Sepsis awitan dini (Early onset neonatal sepsis)
85% terjadi dlm 24 jam pertama, 5% pd 24 48 jam,
sedangkan sisanya terjadi setelah hari ke-2 sampai 6

121

Di negara maju kuman yang tersering adlh :


Kelompok B Streptococcus (GBS), Escherichia coli,
Haemophilus influenzae, Listeria monocytogenes
Di FK-UI RSCM selama thn 2002 : Enterobacter sp.,
Acinetobecter sp. & Coli sp.

122

Sepsis awitan lambat (Late onset neonatal sepsis) :


Infeksi terjadi stllh hr ke-7 kuman penyebab biasanya
berasal dr lingkungan disekitarnya. Kuman yg sering
adl Staphylococcus aureus, E. coli, Klebsiella,
Pseudomonas, Enterobacter, Candida, GBS, Serratia,
Acinetobacter, & kuman Anerob

123

Sebagaimana halnya di Indonesia/RSCM hampir sebagian


besar kuman penyebab negara berkembang adl kuman
gram (-) berupa kuman enterik mis : Enterobacter sp,
Klebsiella sp & Coli sp.

124

Disamping adanya perbedaan antara negara, pola


kuman juga selalu berubah dari waktu ke waktu
Perbedaan pola kuman ini mempunyai arti yg penting
dalam penatalaksanaan penderita sepsis

125

Diagnosis :
Dibutuhkan berbagai informasi al :
1. Faktor risiko
2. Gejala klinik bervariasi
3. Pemeriksaan penunjang
Ketiga faktor ini saling menunjang karena salah satu faktor
saja sulit dipakai sebagai pegangan sbg diagnosis

126

Faktor risiko sepsis neonatorum


Dapat bervariasi tergantung awitan sepsis yg diderita pasien
pd umumnya dibagi dlm 2 klpk :
1. Faktor risiko mayor
Ketuban pecah > 24 jam
Ibu demam; saat intrapartum suhu > 380C
Korioamnionitis
Denyut jantung janin yg menetap > 160 x/menit
Ketuban berbau
127

2. Faktor risiko minor


Ketuban pecah > 12 jam
Ibu demam; saat intrapartum suhu > 37,50C
Nilai Apgar rendah (menit ke-1 < 5, menit ke-5 < 7)

128

Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) < 1500 gr


Usia gestasi < 37 mgg
Kehamilan ganda
Keputihan pd ibu yg tidak diobati
Ibu dgn ISK / tersangka ISK yg tidak diobati

129

Bila terdpt faktor risiko mayor & 2 faktor risiko


minor maka diagnosis sepsis harus dilakukan
secara proaktif dgn memperlihatkan gejala
klinis serta dilakukan pemeriksaan penunjang
sesegera mungkin

130

Pd awitan lambat faktor risiko infeksi sangat


tergantung pd lingkungan tempat perawatan
bayi, al : adanya infeksi silang, infeksi
nosokomial, pelayanan antisepsis yg tdk
optimal, serta petugas/sarana/prasarana yg
tdk memadai

131

Gambaran klinis
Sangat bervariasi & tidak ada yg spesifik, namun tragisnya
keterlambatan dalam menegakkan diagnosis dapat
berakibat fatal bagi kehidupan bayi
Gejala klinis sangat berhubungan dgn karakteristik kuman
penyebab & respons tubuh terhadap masuknya kuman
dpt berupa :

132

Gangguan minum
Letargi / tampak sakit berat
Gangguan napas / dispnea
Ikterus / hiperbilirubinemia
Jittery / iritabel
Kejang
Gangguan serebral (spastis, paresis)
Hipertermia / hipotermia
Serangan apnea
Gangguan gastrointestinal
133

Pemeriksaan penunjang

Harus segera dilakukan pemeriksaan al :

Pemeriksaan darah Septic work up al :


Pem. biakan darah baku emas dlm menentukan
diagnosis sepsis
Kelemahan :
Hasil dlm waktu 3 5 hari
Dipengaruhi oleh kemungkinan pemberian
antibiotika sebelumnya
Kemungkinan kontaminasi kuman nosokomial
134

Pewarnaan gram dpt dipakai sbg penunjang


diagnosa dini pasien sepsis kira-kira 61%
disebabkan kuman gram (-) dpt diagnosis
melalui pem. ini

135

Pem. komponen darah :


1. Lekopeni / lekositosis (normal 5.000 25.000/uL)
2. Trombosit : 10 60% didapatkan trombositopenia
yaitu < 100.000 yg terjadi 1 3 mgg setelah
diagnosis sepsis ditegakkan
3. Ratio neutrofil imatur & neutrofil total
(rasio I/T): lebih 0,2
Sensitifitas rasio ini 60 90% shg perlu disertai
gambaran klinik & pem. penunjang lain
136

4. Pem. C-Reactive Protein : adl protein yg timbul pd fase


akut kerusakan jaringan & biasanya meningkat pd
50 90% pasien sepsis neonatal
Peninggian kadar CRP terjadi 24 jam setelah terjadi
sepsis, meningkat pd hr 2, 3 & menetap tinggi sampai
infeksi teratasi & menurun kembali setelah penyembuhan
o.k.i. lebih bermanfaat bila dilakukan secara serial

137

Pemeriksaan cairan serebrospinal


Pem. cairan serebrospinal dgn melakukan PL merupakan
indikasi yg perlu dikerjakan pd bayi tersangka sepsis
Kecuali pd bayi yang tidak stabil mis. : penderita sindroma
ggn napas atau bayi dgn penyakit berat lainnya

138

Pemeriksaan penunjang lainnya


Antara lain :
- Pem. Biomolekuler
- Respon imun

Teknologi canggih &


mahal

139

Terapi :
1. Kombinasi antara :
Ampicillin 100 - 200 mg/kgBB/hari
Gentamisin 5 mg/kgBB/hari
2. Gol. Ceftasidim 50 100 mg/kgBB/hari tergantung
berat ringannya gejala diberikan 2 x sehari
3. Beberapa kuman gram (-) saat ini hanya sensitif
terhadap imipenem atau meropenem dgn dosis
25 mg/kgBB/dosis diberikan 2 x sehari

140

Selanjutnya disesuaikan hasil sensitivity test


Lamanya pengobatan tergantung pd jenis kuman penyebab
dianjurkan 10-14 hari
Prognosis :
Angka kematian
Terutama bila komplikasi (+) :
Meningitis, ggn sirkulasi asidosis + shock,
DIC
141

142

Merupakan suatu keadaan darurat


Manifestasi gangguan :
SSP
Kelainan Metabolik
Penyakit lain dapat menyebabkan kerusakan otak
Harus diatasi SESEGERA MUNGKIN

Mencegah kerusakan otak lebih luas


R/ Kejang :

Harus Kausal
R/ Anti Konvulsan Hanya
Simptomatis
143

PENYEBAB
Jarang bersifat idiopatik
Penelusuran etiologi yang tepat
untuk menentukan : R/ Adekuat
Prognosis
Paling sering :
1. Gangguan metabolik
2. Hipoksik Iskemik Ensefalopati (HIE)
3. Perdarahan Intrakranial
4. Infeksi Intrakranial
5. Kelainan Bawaan

144

GANGGUAN METABOLIK
Yang Sering :
Glukosa
Kalsium
Magnesium
Gangguan Metabolik lainnya :
Asam Amino
Asam Organik
Amoniak Darah
Elektrolit
Intoksikasi dari Anestesi Lokal
Piridoxin Dependency
145

HIPOGLIKEMI
Sering dijumpai
WHO : Kadar Gula Darah < 45 mg/dl
sebagai batasan hipoglikemi pada
BCB dan BKB
Sering terjadi pada :
BMK, KMK, BKB
Asfiksia berat
Bayi dari ibu DM yang tidak terkontrol
Pada BKB : Jarang sebagai penyebab tunggal
ok. sering disertai :
Asfiksia, Hipokalsemi, Infeksi,
Perdarahan
146

HIPOKALSEMIA
Kadar Kalsium Darah < 7 mg%
Dapat terjadi bersamaan dengan gangguan
lain, misalnya :
Hipoglikemia
Hipomagnesemia &
Hipofosfatemia

147

HIPOKALSEMIA
Bila timbul 2-3 hari I kehidupan :
HIPOKALSEMIA AWITAN DINI
Terjadi pada :
Bayi KMK
Lahir dari ibu DM
BKB
HIE
Pada keadaan ini, 13% bersamaan dengan Hipoglikemia

148

HIPOKALSEMIA
Bila timbul akhir minggu I/II :
HIPOKALSEMIA AWITAN LAMBAT
Terjadi pada :
BCB
Bayi BMK
Bayi mendapat susu sapi dengan :
Kadar fosfat rendah
Perbandingan : kadar fosfat & kalsium
kadar fosfat & magnesium
tidak optimal
149

HIPOMAGNESEMIA
Kadar Magnesium Darah < 1,2 mg/dl
Sering bersamaan dengan
Hipokalsemia
Mekanisme : belum jelas

150

HIPOKSIK ISKEMIK ENSEFALOPATI


(HIE)
Terjadi sekunder akibat asfiksia perinatal
Kejang timbul dalam 24 jam I
Sulit diatasi dengan R/ Antikonsulvan
Dapat dijumpai semua tipe kejang :
p.u.: bersifat FOKAL & UNILATERAL
Renen dkk. Laporkan 40% kasus kejang
pada neonatus ok.: HIE

151

PERDARAHAN INTRAKRANIAL
Kejang tergantung pada jenis perdarahan
p.u. setelah hari I kehidupan
Ada 3 jenis :
Perdarahan Subaraknoid Primer
Perdarahan Intraventrikuler Periventrikuler
Perdarahan Subdural

152

PERDARAHAN SUB ARACHNOID PRIMER

Penyebab : Robekan vena superficial akibat


partus lama atau
Disertai HIE
Kebanyakan asimptomatis
Kejang p.u. terjadi pada hari ke II setelah
lahir
Lebih sering pada BCB
Bayi terlihat sehat di antara kejadian kejang

153

PERDARAHAN INTRAVENTRIKULER PERIVENTRIKULER

Perdarahan berasal dari :


pemb. darah kecil subependimal matriks germinalis, atau
lesi pada daerah tersebut atau
akibat keduanya
Kejang timbul dalam beberapa jam sampai 3 hari setelah
lahir
Tipe kejang tonik
Keadaan dpt memburuk dgn cepat (bbrp menit sampai bbrp
jam) & berakhir dgn kematian
Lebih sering pada BKB t.u UK < 34 mggu

154

PERDARAHAN SUBDURAL

Kejang akibat penekanan batang otak oleh darah yg


terkumpul di fossa posterior o.k. robekan tentorium di
dekat falx cerebri
Kejang dpt timbul hari I kehidupan, bersifat lokal & subtle
Sering pada BCB, t.u. :
BCB dan BMK
Presentasi bokong
Ekstraksi forceps
Partus precipitatus sehingga terjadi kontusio serebri
Perdarahan di bawah tentorium tdk dpt terlihat dgn USG,
dpt menekan batang otak & menyebabkan kematian
mendadak
155

TANDA-TANDA KEJANG
Kejang pd bayi tdk khas
Harus dibedakan dengan jitteriness
Pada jitteriness :
gerakan mata normal
tangan akan berhenti bergerak bila
digenggam
gerakannya halus
Gambaran EEG normal

156

Pada kejang :
gerakan mata abnormal :
staring : melihat ke atas
blinking : berkedip-kedip
gerakan nystagmus atau
gerakan deviasi horisontal

Gerakan lebih kasar & tangan tetap


bergerak walaupun digenggam
Gambaran EEG abnormal

157

INFEKSI INTRAKRANIAL
Dapat terjadi : dalam rahim
selama persalinan
segera setelah lahir
Penyebab akibat infeksi intrauterin o.k. :
Toksoplasma
Sitomegalovirus
Rubella
Herpes
Kejang timbul pada hari ke-3 kehidupan
5-10% disebabkan oleh :
Infeksi bakteri & non bakteri
Terjadi : selama persalinan

segera setelah lahir


158

KELAINAN BAWAAN
Kejang akibat terganggunya perkembangan otak
misalnya : Mikrogria, Pakigria, Heteropia
5-10% penyebab kejang
Kejang timbul setiap saat
Penyebab yang sering adalah :
Korteks serebri berhubungan dengan gangguan
migrasi neuron

159

IDIOPATIK
Terdapat 2 bentuk :
1. Benign Familial Neonatal Seizure
Kejang terjadi antara hari II dan III
dan menghilang setelah beberapa bulan
Kejang berulang 10-12x/hr, di antara kejang
neonatus normal
Tipe kejang : Klonik Fokal atau

Tonik Fokal

Disertai apnu
D/ ditegakkan berdasarkan riwayat keluarga
Diturunkan secara Autosomal Dominan

160

IDIOPATIK
2.

Benign Idiopatik Neonatal Seizure (Fifth Day Fits)


Karakteristik :
Timbul akhir minggu I
p.u. pada BCB & Kelahiran normal
Kejang terjadi antara hari ke IV VI setelah
lahir dan menghilang dalam 15 hari
Tipe kejang :
Klonik Fokal atau
Multifokal &
Serangan apnu
Kejang dapat berlangsung 24 jam
80% : terjadi Status Epileptikus selama interval
tersebut.

161

PENANGANAN
1.
2.
3.
4.
5.

6.

Pem. Analisis Gas Darah


Beri terapi oksigen
Kontrol kadar gula darah
Bila rendah : Glukosa 10% 2-4 ml/kgbb IV
Pem. Kadar kalsium, natrium, magnesium
R/ anti kejang
a. Phenobarbital : 20 mg/kgbb loading dose dapat
ditingkatkan 5 40 mg/kgbb bila kejang tidak berhenti
b. Bila tetap kejang : R/ Phenytoin (Dilantin)
20 mg/kgbb/dosis yg diberikan pelan-pelan
R/ Kausal

162

163

Banyak macam, dari ringan berat kematian


Faktor predisposisi :
Makrosomi, FPD, distocia cervicis, partus lama,
kelainan letak & persalinan buatan
Kejadian : 2-7/1000 kelahiran
Hasil otopsi dari bayi lahir di bbrp negara sebab
kematian nomor 4
INDONESIA ?

164

I. Trauma jaringan lunak


1. Eritema & abrasio :
Bisa di : - kepala
- muka

cunam
vacum extractic

- genitalia
- bokong

persalinan sungsang

R/ cegah infeksi
Bersihkan + anti septikum
2. Petechiae :
Di kepala, leher, dada bagian atas ok :

Tekanan jalan lahir

Lilitan tali pusat

165

3. Echymoses :
Pada : letak muka & letak sungsang
Gejala : anemi, shock
reabsorbsi timbul hiperbilirubin
R/ : ringan sembuh + 1 mgg
luas transfusi darah & R/ hiperbilirubin
4. Luka sayat :
Pada : SC tersayatnya kulit
5. Nekrosis lemak subkutan :
Pada : bayi gemuk ok. tekanan pd kulit oleh daun
cunam atau manipulasi kasar pd pertolongan
persalinan yg berlangsung lama

166

II. Trauma kepala


1. Caput succedaneum
Udem ok penekanan jalan lahir
Cairan serosanguinosa dlm jar. subkutis
Nampak segera setelah lahir
Tak ada batas yg tegas melewati sutura
Menghilang beberapa jam 48 jam

167

2. Perdarahan subaponeurotika
Ok ekstraksi vakum
Darah dlm jar. subkutis sebelah luar periost
Derajat perdarahan ?
Perdarahan banyak transfusi darah
Bisa timbul hiperbilirubinemi

168

3. Cephal hematoma
Akibat robekan pembuluh darah a/ tulang kepala & perios
Ok penekanan kepala oleh dinding pelvis pd persalinan
sulit, lama / persalinan oleh cunam
Perdarahan pelan2
Batas tegas, tak melewati sutura

169

Nampak bbrp hari setelah lahir


Palpasi : fluktuasi
Lokalisasi : 1 / ke 2 tulang parietal
R/ Resorbsi hematom berlangsung lama sampai 3 bln
Bisa timbul hiperbilirubinemi

170

Perdarahan intrakranium :
Bisa lahir atau pd masa neonatus
Ok persalinan sulit :
Bayi kurang bln

buatan
sungsang

Partus lama
Partus precipitatus

171

Tempat perdarahan :
Ekstradural sangat jarang
Subdural
Subaraknoid
Intraventrikel

172

Gejala :
Tergantung pd letak & derajat perdarahan
Kelainan banyak lahir
Gejala tdk khas :
Asfiksi
Kejang
Bradikardi

173

Oligopnoe
Criencephalique
Sianosis
Kesadaran menurun
Bila perdarahan banyak : fontanel tegang

174

Tindakan :
Perawatan intensif
Dalam inkubator
Tidak boleh digerakkan
Intake personde / IVFD
O2 bila sianosis
Untuk kejang : sedativa
Vit. K1
Bila tekanan intrakranial me R/ dexamethasone
atau manitol
175

Fraktura tulang kepala


Jarang
Gejala2 : ok perdarahan intrakranium yg menyertai frak. Ini

Paralisis fasialis
Gejala : paralisis sentral paralisis spastis yg kontra
lateral

paralisis perifer paralisis flasid homolatera

176

Trauma pada mata


Udem, perdarahan kelopak mata, perdarahan / fraktura
orbita, perdarahan intraokular tu di retina

III. Trauma Col. Vertebralis & Medulla Spinalis


Jarang
Ok persalinan sunsang
177

IV. Trauma Leher + Pergelangan


bahu
Fraktura klavikula tersering
Duchene Erb
Brachial palsy
Klumpke
Paralisis N. phrenicus

Total

Trauma pd otot sterno kleido mastoid muscular torticollis

178

V. Trauma Alat2 Intra abdomen


Ruptura : - hepar
- lien
- anak ginjal

179

VI. Trauma Alat Gerak


Fraktura humerus fraktura tulang ke-2 yg sering
Fraktura femur
Dislokasi

180

VII. Trauma Genital


Scrotum & Lab. mayora
Hematocal
Testis

181

182

Penyebab KB
Pada umumnya dapat dibagi :
Sebab genetik
Sebab kromosomal
Pengaruh lingkungan di antara masa pembuahan &
kelahiran, mis :

183

Radiasi
Virus
Zat kimia
Kelainan metabolik ibu : DM, hipotiroid
Kelainan kardiovaskuler ibu

184

KELAINAN
1. Saluran pencernaan
2. Saluran urogenitalis
3. Fraktur tulang tengkorak
4. Atresia choana
5. Meningocele, meningomyelocele,
encephalocele
6. CHD

185

Khusus : yg perlu tindakan bedah segera


Pemeriksaan
&

dlm 48 jam I

Pengawasan

R/ bedah terbaik :
2 hari I ok :

volume darah relatif >

hemolisis fisiologis belum dimulai


Bila ditunda : KU makin jelek ok. Muntah, ggn pernapasan,
dehidrasi, infeksi, dsb
186

Kelainan saluran pencernaan


Curiga bila : ibu dgn polihidramnion

atresia oesophagus &/tanpa fistula tracheooesophagus :


90% ujungnya buntu
1/4 1/3 oesophagus bgn bawah berhub.
dgn trachea

187

D/ : hipersalivasi
kadang2 cyanosis ok saliva masuk sal. pernapasan
batuk seperti tercekik
BBLR : beri minum cyanosis & apnu, tanpa batuk
Kl. Fistula tracheo-oesoph. (+) perut buncit, berisi udara
Masukkan sonde lambung 7,5 10 cm buntu
D/ pasti : larutan kontras foto thorax

188

R/ : Konservatif : isap saliva


posisi duduk
Operasi
P/ tergantung : ada tidaknya kelainan bawaan yg lain
perawatan

189

Hernia Diaphragmatica
Etiologi
Sebgn diafragma tak terbentuk sering : penutupan
Sinus pleuro peritoneal (Foramen Bochdalek) tak sempurna

Gejala
Tergantung banyaknya isi perut yg masuk ke rongga thorax
Bila banyak :

RDN
Perut cekung
BP melemah
Bising usus bisa (+)

190

D/ : foto paru
R/ : Konservatif : O2
Kepala & dada harus lbh tinggi
Operasi

191

Obstruksi usus
Curiga bila : ibu polihidramnion
Bila sonde sampai lambung :
cairan 15 cc obstruksi letak tinggi
bila di duodenum : gejala tbl setelah bbrp jam
di usus halus & usus besar : > 24 jam

192

Meconium :
Bila obstruksi bgn atas usus halus : meconium (+)
Bila obstruksi di bawah sal. empedu meconium
pucat
Gejala umum :
Muntah
Perut buncit
Kadang2 obstipasi
193

Atresia Duodeni
Biasa terjadi di bawah ampulla vateri
Muntah proyektil & hijau
Perut di sub epigastrium : buncit sesaat sebelum
muntah
Foto abdomen : double bubble (+)
R/ kosongkan lambung, infus, operasi

194

Hirschsprungs disease
Oleh karena :
Sel ganglion parasimpatik (-)
Sebagian besar : mengenai rectum & bag. bawah colon
sigmoid
Terjadi : hipertrofi & distensi yg berlebih pd colon yg
lbh atas

195

Gejala utama : Bowring & Kern 1972


Muntah hijau
Perut buncit
Meconium (+)

Tbl 2 3 hr sesudah lahir

RDN
Dehidrasi
D/:
Barium enema
Biopsi rectum
R/ : operasi
196

Anus imperforata
Ada beberapa jenis :
1. Stenosis rektum lebih rendah / pd anus
2. Membran anus menetap

197

3. Ujung rektum buntu, pd bermacam2 jarak dari perineum


Hampir selalu fistula (+)
o : fistula :
+
rekto vaginal
jarang : rekto-perineal
rekto-urinarius (-)
o

: sering : rekto-urinarius
berakhir di :
vesica-urinaria
urethra
198

D/ :
Masukkan termometer melalui anus
Bila sumbatan lebih tinggi :
Gejala tbl dalam 24-48 jam :
gembung, muntah
meconium (-)
tegak
R : plain foto abdomen : posisi

terbalik

Pem. urin : mekonium (+) fistula (+)


R/ : operasi
199

Omphalocele
Kegagalan viscera utk kembali ke rongga abdomen
Kelainan berupa : kantong berisi usus melalui umbilicus
Bahaya : infeksi, pecah
R/ :
Oles desinfektans
Operasi

200

Kista Urachus
Obliterasi bagian tengah urachus tak sempurna kista
Diketahui

segera setelah lahir


bayi lebih besar
sesudah infeksi

Lokalisasi : a/ umbilicus & simphisis


extra peritoneal
a/ m. transversalis & peritoneum
R : jar. Lunak : massa bundar di bawah dinding abdomen
lebih jelas : kontras (+)
R/ : operasi
201

Meningocele; Meningomyelocele, Encephalocele


Oleh karena defek pd penutupan spina disertai
pertumbuhan spinal cord & penutupannya yg tak normal
Lokalisasi : di garis tengah
Meningocele : Cervical
Thoracal atas
Kantong berisi : selaput otak
Ggn sensorik & motorik (-)

202

Meningomyelocele : Lumbosacral
Kantong berisi : spinal cord / serabut saraf
Ditutupi oleh : selaput neuro-epithelium
pembuluh darah abdomen
75% derita Hydrocephalus

203

Encephalocele : Occipital
Kantong berisi : cairan
jaringan saraf /
sebagian dari otak
sering : kelainan mental
mikrocephal

204

Bilateral choana atresia


Jarang
Tapi dpt menimbulkan :
ggn pernapasan ok. hidung tersumbat oleh selaput
di choana posterior
nafas dgn mulut
sering sianosis
D/ :
letakkan kapas di depan masing2 lubang hidung
gerakan (-)
sonde tak masuk melalui hidung
R/ operasi

205

206