Anda di halaman 1dari 64

Ekosistem Lentik; Perairan Menggenang

April 10, 2014 by saifulabid in Biologist.


Ciri Perairan Menggenang [Lentik]:
# Air menetap atau tertahan pada suatu tempat hingga beberapa
hari, bulan, bahkan tahun.
# Sumber dan pengikatan energi didominasi pada airnya saja.
# Banyak oragnisme hidup yang tersuspensi (larut/campur) dalam air
# Contoh perairan lentik antara lain: Waduk, danau, kolam, telaga, situ, belik, dan lain-lain.
Perairan menggenang disebut juga perairan tenang yaitu perairan dimana aliran air lambat atau
bahkan tidak ada dan massa air terakumulasi dalam periode waktu yang lama. Arus tidak
menjadi faktor pembatas utama bagi biota yang hidup didalamnya. Faktor yang sangat penting
pada ekosistem danau adalah pembagian daerah air secara vertikal
(stratifikasi) berdasarkan perbedaan intensitas cahaya matahati yang diserap, yangmenyebabkan
perbedaan suhu air pada setiap kedalaman. Berdasarkan hal tesebut perairan danau secara
vertikal menjadi 3 (tiga) stratifikasi, yaitu :

Sumber Gambar: http://1.bp.blogspot.com


1. Epilimnion, merupakan lapisan bagian atas dari perairan danau. Lapisan ini merupakan bagian
yang hangat dari kolom air dengan keadaan suhu yang relatif konstan (perubahan suhu secara
vertikal sangat kecil). Kedalaman daerah ini sampai 10 kaki, suhu staghnan + 75 derajat celcius.

Seluruh massa air pada lapisan ini dapat bercampur dengan baik akibat dari pengaruh angin dan
gelombang.
2. Metalimnion [termoklin]. Berada disebelah bawah lapisan epilimnion. Kedalaman lapisan ini
10-15 kaki dengan rentang suhu <75-50 derajat celsius. Pada lapisan ini perubahan suhu secara
vertikal relatif besar.
3. Hipolimnion, adalah lapisan paling dalam dari perairan danau. Lapisan ini mempunyai suhu
yang stagnan + 50 derajat Celcius dengan kedalaman 15 kaki sampai substrat dasar danau,
Memiliki kekentalan air (densitas) lebih besar.
Sebagaimana perairan laut, ekosistem lentik dibagi menjadi beberapa zona-zona primer, yaitu:
1. Zona Litoral
Zona litoral, merupakan daerah perairan dangkal pada danau, dimana penetrasi cahaya dapat
mencapai hingga ke dasar perairan. Pada daerah ini juga sering terjadi pasang-surut volume air
danau [lentik]. Sehingga vegetasinya kebanykan berupa rerumputan rawa atau air dan tumbuhan
yang tidak berkayu atau lentur namun hidupnya selalu didalam air. Organisme utama yang hidup
pada zona ini terdiri dari produser yang meliputi tanaman berakar (anggota spermatophyta) yang
akarnya didalma danau, namun daunnya naik diatas danau atau dapat berupa emerged plants,
yaitu tanaman berada didalam danau, menempel pada substrat dan muncul dipermukaan dan
biasanya mempunyai struktu tubuh yang lentut atau tidak berkayu. Dapat juga
berupa Submerged plants, yaitu tanaman yang memiliki ciri seperti emerged plants namun tidak
sampai muncul dipermukaan. Ada juga tanaman yang tidak berakar (fitoplankton, ganggang),
sedangkan konsumernya meliputi beberapa larva serangga air, rotifera, moluska, ikan, penyu,
zooplankton dan lain sebagainya.

Sumber gambar: http://ridge.icu.ac.jp


2. Zona limnetik, merupakan daerah perairan terbuka sampai pada kedalaman penetrasi cahaya
yang efektif, sehingga daerah ini efektif untuk proses fotosintesis. Organisme utama yang hidup
pada zona ini terdiri dari produser yang meliputi fitoplankton dan tumbuhan air yang terapung-

apung bebas, sedangkan organisme konsumernya meliputi zooplankton dari copepoda, rotifera
dan beberapa jenis ikan [kebanyakan organisme pencacah].
3. Zona profundal, merupakan daerah dasar dari perairan danau yang dalam, dimana pada daerah
ini tidak dapat lagi dicapai oleh penetrasi cahaya efektif. Sebagai organisme utama yang hidup
pada zona ini adalah konsumer yang meliputi jenis cacing darah dan kerang-kerang kecil
[organisme karnivor dan detrifor].
4. Zona sublitoral, Merupakan daerah peralihan antara zona litoral dan zona profundal. Sebagai
daerah peralihan zona ini dihuni oleh banyak jenis organisme bentik dan juga
organisme temporal yang datang untuk mencarai makan.

Sumber Gambar: http://www.zo.utexas.edu


Berdasarkan besarnnya intensitas cahaya matahari yang masuk, perairan dibagi menjadi 3 zona
yaitu:
1). Zona eufotik/fotik, Merupakan bagian perairan, dimana cahaya matahari masih dapat
menembus wilayah tersebut. Daya tembus cahaya matahari ke dalam perairan sangat dipengaruhi
oleh berbagai factor antara lain: tingkat ekeruhan/turbiditas, intensitas cahaya matahari itu
sendiri, densitas fitoplankton dan sudut datang cahaya matahari. Zona ini merupakan zona
produktif dalam perairan dan dihuni oleh berbagai macam jenis biota di dalamnya. Merupakan
wilayah yang paling luas pada ekosistem perairan daratan, dengan kedalaman yang bervariasi.
3). Zona mesofotik. Bagian perairan yang berada diantara zona fotik dan afotik atau
dikenal sebagai daerah remang-remang. Sebagai daerah ekoton, daerah ini merupakan wilayah
perburuan bagi organisme yang hidup di zona afotik dan juga organisme yang hidup di zona fotik
2). Zona afotik. Merupakan bagian perairan yang gelap gulita karena cahaya matahari tidak dapat
menembus daerah ini. Di daerah tropis zona perairan tanpa cahaya hanya ditemui pada perairan

yang sangat dalam atau perairan-perairan yang hipertrofik. Pada zona ini produsen primer bukan
tumbuh-tumbuhan algae tetapi terdiri dari jenis-jenis bakteri seperti bakteri Sulfur. Tidak adanya
tumbuh-tumbuhan sebagai produsen primer karena tidak adanya cahaya matahari yang masuk,
menyebabkan daerah ini miskin olsigen (DO rendah). Kondisi tersebut berpengaruh terhadap
biota yang hidup di zona ini. Biota yang hidup hanya karnifor ataupun detrifor.
Berdasarkan nilai energinya, perairan tergenang (danau) dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu :
1. Oligotrofik, adalah perairan yang miskin unsur hara dan produktivitas rendah (produktivitas
primer dan biomassa rendah). Perairan ini memiliki ciri kadar nitrogen dan fosfor yang rendah,
kaya oksigen, jernih tapi miskin organisme. Sedikitnya organisme dikarenakan fitoplankton tidak
produktif, sehingga sumber energi rendah.
2. Mesotrofik, adalah perairan yang memiliki unsur hara dan produktivitas sedang (produktivitas
primer dan biomassa sedang). Jumlah N, P, & O2 meningkat [>1-<3 ppm] Perairan ini
merupakan peralihan antara oligotrofik dan eutrofik.
3. Eutrofik, adalah perairan yang dangkal, kaya unsur hara dan produktivitas fitoplankton tinggi.
Perairan ini memiliki ciri keruh, organisme banyak kaya oksigen pada daerah profundal. tingkat
kecerahan rendah dan oksigen pada lapisan hipolimnion dapat lebih kecil dari 1 mg/liter.
4. Hipertrofik, adalah perairan dengan kandungan unsur hara [N, P, & O2] dan
produktivitas primer sangat tinggi. Pada lapisan hipolimnionnya tidak terdapat oksigen [kondisi
anoksial; 0 ppm], terdapat organisme berupa bakteri anaerobik. Suhu di kedalaman sangat
dingin, hal ini dikarenakan suhu dingin yang berada di daerah bawah tidak pernah naik ke atas
dan bertukar dengan suhu panas permukaan atau lapisan atas perairan.
5. Distrofik adalah perairan yang banyak mengandung bahan organik. Hal ini dikarenakan
seringnya terjadi erosi dan sedimentasi. Oleh karena itu, perairan seperti ini banyak menerima
bahan organik dari tumbuhan yang berasal dari daratan sekitarnya, sehingga biasanya memiliki
produktivitas primer rendah [0-0,1 ppm].
Berdasarkan pembentukannya, danau di bagi menjadi:
a). Danau Tektonik, yaitu danau yang terbentuk oleh tenaga dalam bumi yang bersumber dari
gerakan tektonik seperti cekungan-cekungan akibat patahan dan lipatan [gerakan lempeng
bumi]. Contohnya Danau Tempe, Danau Tondano dan Danau Towuti di Sulawesi.
b. Danau Vulkanik, yaitu danau bekas letusan gunung api. Air danau berasal dari curah hujan
yang tertampung pada lubang kepundan atau kaldera. Contohnya Danau Kawah Gunung Kelud,
Gunung Batur, dan Gunung Galunggung.
c. Danau Vulkano-Tektonik, yaitu danau yang terbentuk karena gabungan proses vulkanik dan
tektonik. Patahan atau depresi pada bagian permukaan bumi pasca letusan. Dapur magma yang
telah kosong menjadi tidak stabil sehingga terjadi
pemerosotan atau patah. Cekungan akibat patahan tersebut kemudian diisi oleh air contohnya
Danau Toba di Sumatera.
d. Danau Karst (solusional; Dolina), yaitu danau yang terbentuk pada daerah karst. Biasanya

bersifat temporal, hanya pada musim hujan saja.


e. Danau Glester. Danau Glestser, adalah danau yang terbentuk karena es mencair. Pada saat
gletser mencair dan meluncur ke bawah, gletser tersebut mengikis batuan yang
dilaluinya sehingga terbentuklah cekungan. Jika terisi oleh air maka terbentuklah danau.
f. Bendungan, yaitu danau buatan manusia yang dibentuk dengan cara membendung aliran
sungai. Bendungan buatan manusia lebih dikenal dengan istilah waduk, seperti Waduk Jatiluhur,
Waduk Cirata, Waduk Saguling, Karangkates, dan
Gajahmungkur.
g. Danau yang terbentuk karena permukaan buminya rendah.
Catatan Kuliah Biologi Perairan di ampu Oleh:
Triatmanto. 2014. Biologi Perairan [kuliah; diskusi]. Jurusan Pendidikan Biologi Universitas
negeri Yogyakarta

KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN MENGALIR

KARAKTERISTIK EKOSISTEM PERAIRAN MENGALIR

(STUDI KASUS : SUNGAI CIAPUS,Kuadran IV, Stasiun 34)

Kelompok 34*

*Ahmad Ibnu Riza (C54090029), Denny Sahala Seri (C54090037), Lia Badriyah
(C54090008), Muhammad Mujahid (C54090070), Nando Ade Amarylly P.,
(C54090024), Sammy Lugina (C54090049)
Di bawah bimbingan : Abdul Basir (C34080040)

ABSTRAK

Praktikum Ekologi perairan bertemakan Karakteristik Ekosistem Perairan mengalir


dilakukan ke Sungai Ciapus yang berlokasi di kabupaten Bogor. Praktikan melakukan
praktek lapang pada hari Minggu, 3 Oktober 2010 pukul 10.00 WIB sampai selesai.
Praktikum dilakukan dengan menganalisis sampel yang dilaksanakan untuk
pengambilan parameter yang ada di sekitar sungai. Dalam suatu perairan mengalir
terdapat interaksi antara komponen biotik seperti zooplankton, bentos, nekton,
neuston, perifiton, dan tumbuhan air dengan komponen abiotik seperti warna
perairan, suhu, kecerahan,kedalaman, tipe substrat, kecepatan arus, lebar sungai
dan lebar badan sungai. Perairan mengalir yang memiliki faktor-faktor yang
berpengaruh berdasarkan literatur meliputi suhu, kejernihan, arus, konsentrasi gas
pernafasan, dan kosentrasi garam biogenik. Dalam hal ini arus merupakan faktor
pembatas yang paling mengendalikan di aliran air (Odum 1998)
Sungai Ciapus memiliki kedalaman berkisar antara 10 cm 150 cm , untuk warna
yang ada di sungai ciapus yaitu warnanya coklat kehijauan dengan tipe substrat
batu-batuan. Suhu yang ada disekitar sungai berkisar antara 25-28 C, selain itu
Sungai Ciapus juga memiliki lebar antara 10 m 13 m dan lebar badan sungai
mencapai 14 m 15 m. Dalam pengukuran yang kecerahan air yang dilakukan
mendapatkan bahwa kecerahan air di sekitar sungai berkisar antara 20 cm 35 cm.

PENDAHULUAN

Perairan mengalir merupakan perairan terbuka yang dicirikan dengan adanya arus,
perbedaan gradien lingkungan dan interaksi antara komponen biotik dan abiotik
yang ada di dalamnya. Perairan mengalir memiliki ciri-ciri, yaitu mengalir searah,
debit air yang fluktuasi, bentuk yang memanjang, dasar dan tepian yang tidak
stabil, dan kedalamannya relatif dangkal. Pada ekosistem ini, dasar perairan
merupakan hal yang penting sekaligus menentukan sifat komunitas serta kerapatan
populasi dari komunitas. Dasar perairan yang keras terutama yang terdiri dari batu
merupakan habitat yang baik bagi organisme untuk menempel atau melekat
(Odum, 1998). Air mengalir (habitat lotik), contohnya mata air, aliran air atau
sungai selokan dan sebagainya.

Sungai Ciapus merupakan perairan mengalir atau habitat lotus. Banyak faktorfaktor pembatas yang cukup penting pada habitat air tawar, yaitu suhu, kecerahan,
arus, konsentrasi gas pernafasan dan konsentrasi garam biogenik. Dalam perairan
mengalir memiliki suhu yang rendah karena ada degradasi suhu semakin ke tengah
semakin dingin, adanya sirkulasi air yang menyebabkan banyak terkandung
oksigen. Kejernihan air yang baik dibandingkan dengan di perairan
menggenang,tetapi tergantung juga dari sumber limbah yang mencemarinya

,semakin banyak limbah yang terdapat di sungai tersebut, maka semakin keruh
perairannya, mempunyai arus, dan biasanya organisme yang menempatinya
mempunyai adaptasi khusus dalam mempertahankan diri dalam melawan arus.
Beberapa di antaranya adalah melekat permanen pada substrat yang kokoh seperti
batu, batang kayu, atau massa daun. Tanaman produsen utama dalam aliran air ini
berupa ganggang hijau yang melekat, seperti Cladophora , yang mempunyai
serabut panjang, diatomae yang bertutup keras yang menutup berbagai
permukaan, dan lumut air. Selain itu, sejumlah binatang yang hidup di aliran deras
mempunya,
kaitan dan penghisap yang memungkinkan mereka untuk berpegang pada
permukaan yang tampaknya halus. Memiliki permukaan bawah yang lengket untuk
menempelkan dirinya seperti siput dan cacing pipih. Hampir seluruh organisme
yang hidup pada habitat air mengalir dari larva serangga sampai dengan ikan
mempunyai bentuk yang stream line. Bentuk badan seperti ini akan mengakibatkan
tekanan minimum dari arus air yang melewatinya. Pada habitat air mengalir
dijumpai pula oranisme-organisme yang bentuk badannya pipih sehingga
memungkinkan kelompok ini berlindung di bawah atau di celah-celah batu.
Rheotaxis positif (organisme yang mampu melakukan pengaturan terhadap arus),
Thigmotaksis positif merupakan kelompok pada habitat air mengalir yang
mempunyai pola tingkah laku yang diturunkan untuk melekat di dekat permukaan
atau menjaga diri agar tetap dekat dengan permukaan (Odum, 1998).
Tujuan Praktikum ini adalah mengenal karakteristik perairan mengalir khususnya
sungai Ciapus dan memberikan suatu gambaran kepada masyarakat sekitar bahwa
sudah berapa jauh sungai tersebut mempunyai tingkat pencemaran yang terjadi
sehingga dapat menyadarkan masyarakat umum untuk selalu menjaga lingkungan
mulai dari sekarang dengan tidak membuat pencemaran di perairan mengalir
seperti di sungai Ciapus. Dalam kehidupan makhluk hidup, sungai dapat berfungsi
sebagai irigasi, pemenuhan kebutuhan air minum, tempat mandi, cuci, kakus,
sumber daya perikanan, sebagai media transportasi air, dll. Tujuan dilakukan
praktikum ini adalah untuk mengetahui karakteristik ekosistem perairan mengalir
dengan parameter fisika, kimia dan biologi. Serta untuk mengenal dan mengamati
komponen-komponen yang ada di perairan mengalir

BAHAN DAN METODE

Adapun alat-alat yang digunakan dalam pengambilan data sebagai berikut, sarung
tangan karet fungsinya untuk menghindari dari berbagai bakteri yang berbahaya
bagi praktikan. Sikat gigi berfungsi untuk mengambil sampel yang disikat dengan
luasan bidang kerikan tertentu.Transek berfungsi sebagai pembatas stasiun dalam
pengambilan sampel. Termometer digunakan untuk mengukur suhu air di setiap

substasiun yang dilakukan pengamatan, cara penggunaannya sebagian batang


thermometer dimasukkan dalam air lalu lihat besar suhu yang sudah di tunjukkan
pada thermometer tersebut tanpa mengangkatnya ke atas permukaan air.
Sedangkan botol film sebanyak enam buah dipakai untuk meletakkan sampel yang
sudah didapatkan dari setiap substasiun, setelah mengetahui substrat yang ada lalu
dimasukkan ke dalam botol dan di beri larutan lugol untuk perifiton dan plankton,
sedangkan formalin 4% diberikan untuk bentos,nekton, dan neuston. Serokan untuk
menangkap nekton dan neuston yang ada di setiap substasiun. Aquades dipakai
untuk mencuci sikat dan mempermudah mencari perifiton. Secchi disk berfungsi
untuk mengukur tingkat kecerahan cahaya matahari yang ada dalam air. Secchi
disk setelah dimasukkan dengan paralon ukuran 1 inchi 1 m dan diikat dengan tali
rafia, lalu dimasukkan dalam air ketika pertama kali secchi sudah tidak tampak dari
permukaan dicatat berapa kedalamannya dan didapatkan d1, setelah itu diangkat
secara perlahan sampai awal terlihatnya secchi disk sampai awal terlihat sehingga
di dapatkan d2. Kertas label digunakan untuk memberikan tanda pada setiap
sampel yang ada, penggunaannya setelah mengetahui karakteristik organismenya
kita catat pada kertas label. Spidol permanen untuk memberikan tanda paralon
yang berukuran 3 inchi 3 m. Tali rafia berguna untuk mengikat secchi disk pada
paralon. Paralon sepanjang 3 inci 2 m berfungsi untuk mengukur kedalaman air dan
untuk mengambil substrat yang ada pada dasar Sungai Ciapus yang sudah
ditentukan setiap substasiunnya, penggunaannya masukkan paralon sampai ke
dasar tapi masih dalam daerah stasiun, setelah sampai dasar catat kedalaman yang
ada dengan melihat ukuran pada paralon tersebut. Paralon sepanjang 1 inci 1 m
sebagai penyangga secchi disk pada saat mengukur kecerahan air. Surber adalah
alat yang digunakan untuk mencari organism bentos yang ada di perairan mengalir,
dengan meletakkan surber ke dasar sungai dan menggesek-gesekkan substrat yang
ada di dalam kotak surber. Bola pingpong untuk mengukur kecepatan arus yang ada
di sungai tersebut. Roll meter yang menggunakan tali raffia digunakan untuk
mengukur lebar sungai dan lebar badan sungai.

Pengambilan sampel di lapangan


Praktikum ekologi perairan ini, praktikan mengambil sampel dari Sungai Ciapus,
Kabupaten Bogor. Parameter yang digunakan dalam pengambilan sampel pada
praktikum ini adalah parameter fisika, parameter kimia, dan parameter biologi.
Parameter Fisika yang diamati antara lain warna perairan, tingkat kecerahan, suhu,
kedalaman,tipe substrat, kecepatan arus, debit sungai, lebar sungai, dan lebar
badan sungai. Warna air yang diamati dengan melihat lingkungan di sekitar sungai,
warna perairan tampak dan warna perairan asli yang menjadikan pedoman dalam
mengamati warna air pada sungai ciapus. Tingkat kecerahan dapat diukur dengan
menggunakan secchi disk. Pertama ikatkan secchi disk dengan tali rafia, lalu
dimasukkan ke dalam paralon 1 inch 1m. Kemudian, masukkan ke dalam area

transek kuadrat dan lihat skala yang ditunjukkan pada saat warna putih menghilang
dan muncul kembali. Suhu diukur dengan menggunakan thermometer di tiga
tempat pada setiap sub stasiun dan catat hasilnya. Kedalaman perairan diukur
dengan cara paralon sepanjang 2 m 3 inch dimasukkan sampai dasar perairan, lalu
catat skalanya. Ulangi sampai 3 kali pengambilan pada sub stasiun disetiap tempat
yang berbeda Tipe substrat mempengaruhi kelangsungan hidup organisme yang
hidup di perairan tersebut. Pengamatan tipe substrat dilakukan dengan mengambil
contoh substrat di dasar perairan. Substrat yang diamati pada praktikum kali ini
berupa batu-batuan. Kecepatan arus diukur menggunakan bola pimpong yang diisi
oleh air setengah dari volume bola pingpong, yang bertujuan untuk menyesuaikan
aliran arus sungai dengan menggunakan transek kuadran, lalu dihitung dengan
menggunakan stopwatch.
Parameter kimia dalam praktikum ini adalah pH. Pengukuran pH dilakukan dengan
menggunakan pH stick yang dicelupkan ke dalam permukaan air Sungai Ciapus di
area transek, lalu cocokkan warna dengan warna yang ada pada kotak pH stick.
Parameter Biologi terdiri dari plankton, neuston, perifiton, nekton, dan bentos. Alat
yang digunakan dalam pengambilan plankton adalah ember, plankton net dan botol
film. Caranya, ambil air dari sub stasiun ke dalam plankton net lakukan 10 kali.
Sedangkan untuk pengambilan neuston digunakan serokan. Caranya dengan
menyerok neuston yang ada di permukaan perairan. Pengambilan perifiton, alat
yang digunakan adalah cutter. Caranya dengan mengambil bebatuan atau kayu
yang berada di dasar perairan kemudian batu atau kayunya di cutter untuk
mengambil perifiton. Pengambilan nekton, alat yang digunakan adalah serokan.
Pengambilan bentos di ambil dengan menggunakan alat surber. Pengambilan
bentos ini dilakukan dengan cara surber dimasukkan ke dasar perairan dengan
bukaan alat berlawanan dengan arah arus. Kemudian dasar permukaan sungai yang
ada di wilayah persegi surber tersebut diaduk-aduk agar bentos tersaring dalam
surber. Di sungai Ciapus praktikan tidak menemukan bentos, nekton dan neuston.

Analisis Laboratorium dan Data

Analisis yang dilakukan di laboratorium meliputi analisis sampel


biologis dan analisis data sebagai berikut :
I.

a.

Analisis sempel biologis

KELIMPAHAN PLANKTON

N=Oi x Vr x 1 x n
Op Vo Vs xP
Keterangan :
N

: Kelimpahan Plankton (ind/L)

Oi

: Luas gelas penutup (mm2) = 324 mm2

Op

: Luas satu lapang pandang (mm 2) = 1,306 mm2

Vr

: Volume botol contoh hasil saringan (ml) = 30 ml

Vs

: Volume air yang disaring (L) = 100 L

Vo

: Volume 1 tetes air contoh (ml) = 0,05 ml

: Jumlah plankton yang tercacah

: Jumlah lapang pandang = 5

: Jumlah pengulangan

b. KELIMPAHAN PERIFITON
N=Oi x Vr x 1 x n
Op Vo Vs xP

Keterangan :
Oi

= luas gelas penutup (324 mm2)

Vr

= Volume botol contoh (30 ml)

Op

= luas sudut lapang pandang (3,06 mm2)

Vo

= Volume satu tetes contoh (0.05 ml)

= Luas bidang kerikan (4cm2)

= jumlah ulangan (3)

= Jumlah lapang pandang (5)

= jumlah perifiton tercacah

c.

KEPADATAN BENTOS
X =x
nM

Keterangan :

I.
a.

: Kepadatan bentos (ind/m2)

: Jumlah individu per satuan alat (ind)

: Luas bukaan mulut alat (62x10-4 m2)

: Jumlah pengulangan

Analisis data
KECERAHAN PERAIRAN (m)

Kecerahan = di + d2
2

Keterangan :
d1
: Titik dimana secchi disk mulai tidak terlihat ketika
dibenamkan (m)
d2

: Titik dimana secchi disk mulai terlihat ketika diangkat

(m)

HASIL DAN PEMBAHASAN


Lingkungan Perairan
Tabel 1. Parameter Fisika Kimia Ekosistem Perairan mengalir sungai Ciapus

FISIKA

KIMIA

PARAMET
ER

Unit

SS1*

SS2*

SS3*

Warna
Perairan

Stasiun
34

Coklat
kehijauan

Coklat
kehijauan

Coklat
kehijauan

Tipe
Substrat

Stasiun
34

Batuan

Batuan

Batuan

Suhu (oC)

Stasiun
34

27

26

25

Kecerahan

Stasiun
34

20

30

60

Kedalaman
(cm)

Stasiun
34

20

30

60

Kecepatan
(m/s)

Stasiun
34

Debit air
(m)

Stasiun
34

Lebar
sungai (m)

Stasiun
34

18,5

Lebar
badan
sungai (m)

Stasiun
34

22

pH

Stasiun
34

*SS : Sub Stasiun


Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, hasil yang diperoleh menunjukkan
bahwa terdapat kesamaan pada warna perairan sungai di setiap stasiun. Kesamaan
warna perairan sungai dikarenakan substrat pada perairan sungai hampir sama dan
materi yang terbawa oleh arus dari hulu tidak jauh berbeda pada setiap stasiunnya.
Selain itu, letak setiap stasiun berdekatan satu sama lain sehingga warna perairan
tidak memiliki perbedaan. Suhu memiliki perbedaan yang tidak signifikan di tiap
stasiun memiliki perbedaan 1 oC dengan begitu suhu bisa dikatakan berbeda setiap

wilayahnya karena adanya arus air yang tidak sama dan keadaan cuaca di sekitar
sungai. Suhu baik bagi organisme untuk berkembang adalah suhu yang berkisar
antara 23-35C (Odum,1971) Pada SS1 memiliki kedalaman yang dangkal.
sedangkan SS2 dan SS3 memiliki kedalaman yang lebih dalam. Kedalaman tiap
stasiun berbeda-beda ini dikarenakan semakin ke tengah maka dasar perairan akan
semakin dalam. Kecepatan arus pada SS2 lebih cepat dibandingkan dengan SS1
dan SS3 disebabkan tiap-tiap stasiun memiliki kemiringan, kekasaran, kedalaman,
yang berbeda. SS2 merupakan wilayah yang berada di samping tepid dan arus yang
ada cukup besar. Kecepatan arus ditentukan oleh kemiringan, kekasaran,
kedalaman, dan kelebaran dasar sungai (Odum,1998). Lebar sungai untuk sungai
Ciapus adalah 15 meter dan untuk lebar badan sungai sebesar 18 meter.

Biologi
Parameter biologi
Plankton

Plankton adalah organisme yang umumnya melayang dalam air memiliki


kemampuan ruang yang sangat lemah dan distribusinya dipengaruhi oleh gerakan
massa air. Plankton terdiri fitoplankton dan zooplankton. Fitoplankton adalah
tumbuhan mikroskropis yang melayang-layang di dalam air, mempunyai klorofil
sehingga mampu berfotosintesis. Zooplankton berenang aktif secara vertical akan
tetapi tidak mampu bergerak melawan arus. Oleh karena itu jumlah plankton di
perairan mengalir sangatlah jarang.

Spesies*

SS1

SS2

SS3

Fitoplankt Anlosudesmu
on
s

99

Botryococcus

99

Chaetophora

198

Closterium

99

198

Coelosphaeri
um

396

297

99

99

Coleostrum

Desmidium

198

Drapalnaldia

99

99

Genicularia

99

Lacrymania

99

netrium

496

99

Navicula

198

1043

Nitxchia

198

Microspora

99

Pediastrum

99

Penium

793

Polycystis

99

99

Spirostomum

198

Stanfastrum

99

198

99

Stylonichia

99

Synedra

99

2377

2278

1538

Tetrapedia
TOTAL
Zooplankt
on

Closterium

99

Euglena

297

99

99

Entosiphon

99

198

99

99

595

297

991

495

Gonatozigon
297

Naegleria
Sorastrum
Phormidium

99
279
297

TOTAL

1485

Kelimpahan Total
(Ind/L) Fitoplankton

Kelimpahan Total
(Ind/L) Zooplankton

S1

S2

S3

S1

S2

S3

13

99

99

14

792

198

1387

297

198

15

695

794

1092

33

198

99

34

2377

2278

1538

1485

991

495

35

1984

1488

694

99

198

36

396

396

396

Total

6541

5253

5107

1881

1090

891

Kelompok

Kelimpahan fitoplankton

Kelimpahan zooplankton

Plankton merupakan organisme yang hidup di kolom perairan. Pergerakannya


mengikuti arah arus perairan. Jumlah plankton tergantung dari suhu, jumlah sinar
matahari yang masuk, kandungan bahan organic dan anorganik. Pada kuadran IV
jumlah plankton baik perifiton dan zooplankton pada setiap kelompok berbeda. Hal

ini disebabkan oleh keadaan arus di perairan mengalir. Pada perairan mengalir
plankton jarang ditemukan bahkan tidak ada dari aliran air, karena organisme
seperti ini tidak tahan oleh arus, plankton akan hidup hanya pada bagian aliran air
yang bergerak perlahan dan di sungai yang besar plankton dapat berkembang biak
dan menyatu sebagai bagian dari komunitas (E. P. Odum, 1998). Peranan plankton
di perairan sangat penting karena plankton merupakan pakan alami bagi ikan kecil
dan hewan air lainnya. Plankton merupakan mata rantai utama dalam rantai
makanan di perairan. Plankton dalam suatu perairan mempunyai peranan yang
sangat penting. Plankton terdiri dari fitoplankton yang merupakan produsen utama
dan dapat menghasilkan makanannya sendiri dan merupakan makanan bagi hewan
seperti zoo, ikan udang dan kerang melalui proses fotosintesis dan zooplankton
yang bersifat hewani dan beraneka ragam.

Perifiton
Perifiton adalah organisme yang tumbuh dan menempel pada objek yang
tenggelam. Perifiton merupakan hewan yang ukurannya sangat kecil (mikroskopis),
oleh karena itu perifiton tidak dapat dilihat oleh mata tanpa bantuan mikroskop.
Semakin banyak kadar sinar matahari yang masuk ke dalam perairan, maka
kegiatan produksi akan semakin banyak. (Sugiarto Suwingyo, et al, 2005). Dalam
perairan mengalir perifiton melekat pada substrat yang kokoh yang ada di sungai
seperti batu, batang kayu, atau masa daun.

Perifiton

Spesies*

SS1

SS2

SS3

Closterium

7116

3162

1186

Lucydium

197

Nitxschia

1186

1581

2174

Polycystis

197

Rivularia

197

Tetraspora

1383

3162

197

9882

8102

3754

TOTAL

Kelompo

Kelimpahan Total (Ind/L)


Perifiton
S1

S2

S3

k
13

36

18

14

1158

1188

396

15

21831

19864

9923

33

7440

19840

2480

34

9882

8102

3754

35

4961

22327

4961

36

19845

24808

27288

Total

65153

96138

48820

Perifiton
Berdasarkan grafik di kuadran IV perbedaannya sangat jauh berbeda, kelompok tiga
belas dan empat belas bisa dikatakan sama tapi dibandingkan dengan kelompok
lain pada kuadran IV sangat jauh berbeda kelimpahannya. Ada beberapa faktor
yang dapat mempengaruhi perbedaan ini, salah satunya karena perbedaan cara
pengambilan sampel oleh praktikan lain. Factor lainnya adalah perbedaan luas
bidang kerikan pada sikat yang digunakan oleh praktikan lain. Dapat di simpulkan di
kuadran IV kelimpahan perifiton cukup banyak.

Benthos
Bentos merupakan organisme yang melekat pada substrat. Bentos hidup relatif
menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena
selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Bentos biasanya hidup di
substrat seperti lumpur maupun pasir. Diantara hewan bentos yang relatif mudah
diidentifikasi dan peka terhadap perubahan lingkungan perairan adalah jenis-jenis
yang termasuk dalam kelompok invertebrata makro. Kelompok ini lebih dikenal
dengan makrozoobentos (Rosenberg dan Resh, 1993).

Kelomp
ok

Kepadatan Total (Ind/L)


Bentos
S1

S2

S3

13

14

180

40

30

15

33

73

73

34

35

4961

22327

4961

36

45

22

55

Total

5259

22462

5046

Kepadatan total bentos

Berdasarkan grafik kepadatan bentos kuadran IV hanya kelompok tiga puluh lima
yang mendapatkan bentos. Dapat disimpulkan bahwa kelimpahan bentos di
kuadran IV hanya terdapat di beberapa lokasi karena memiliki perbedaan tipe
substrat di setiap stasiun. Di perairan mengalir bentos dikatakan jarang karena sifat

bentos yang harus menyesuaikan dengan keadaan lingkungan sekitar. Keberadaan


bentos juga dapat dipengaruhi oleh ada banyaknya komponen makanan yang
dibutuhkan bagi bentos.

Nekton dan Neuston

Nekton adalah organisme yang hidup di kolom air sedangkan neuston adalah
organisme yang hidup di atas permukaan air. Pada saat praktikum tiadak terdapat
nekton dan neuston karena air yang mengalir terlalu deras dan dangkal dan juga
organisme tersebut telah pergi pada saat praktikan turun ke lapang. Dan bidang
pengamatan yang terlalu sempit sehingga untuk mengambil nekton dan neuston
terbatas. Praktikan tidaqk menemukan nekton dan neuston pada kuadran IV.

Tumbuhan air
Tumbuhan air merupakan tumbuhan yang tinggal di sekitar air dan di dalam
air. Yang berfungsi sebagai produsen penghasil energi. Tumbuhan air dapat
dikelompokkan menjadi terrestrial plants adalah tumbuhan air yang seluruh organ
tubuhnya belum tertutup oleh air, emerged plants adalah tumbuhan air yang
akarnya berada dalam air dan bagian lainnya berada dipermukaan air, floating
plants adalah tumbuhan air yang bagian akar dan batangnya berada dalam air ,
sedangkan daunnya mencuat ke permukaan air, dan submerged plants adalah
tumbuhan air yang seluruh bagian tubuhnya berada dalam air (E. p. Odum, 1971).
Tumbuhan air jarang sekali ada pada perairan mengalir sehingga pada kuadran IV
tidak menemukan banyak tumbuhan air.

INTERAKSI KOMPONEN ABIOTIK DAN BIOTIK


Interaksi antara komponen abiotik dengan biotik

Interaksi komponen abiotik dan biotik sangatlah berpengaruh dalam suatu


ekosistem. Komponen abiotik yang merupakan komponen tidak hidup seperti arus,
kecerahan, temperatur suhu, pH (parameter fisika dan kimia), sedangkan
komponen biotik yaitu komponen hidup yang terdiri dari zooplankton, fitoplankton,
ikan, bentos, dan sebagainya (parameter biologi). Dari kedua komponen tersebut
bisa dikatakan dapat membentuk suatu ekosistem dengan saling mengaitkan
antara komponen biotik dengan abiotik, contohnya seperti ikan yang berlindung di
balik batu agar tidak terbawa arus air sungai, batu yang ditumbuhi lumut juga bisa
dikatakan contoh interaksi karena lumut yang menempel di batu nantinya akan
dimakan oleh ikan yang hidup di sungai tersebut.

Interaksi antar komponen biotik penyusun ekosistem perairan

Hubungan yang terjadi antara komponen biotik untuk menyusun ekosistem


lingkungan akan menyebabkan adanya aliran energi dalam suatu ekosistem
tersebut, Dalam ekosistem itu juga dapat timbul suatu struktur, tingkat trofik dan
keanekaragaman biotik pada ekosistem yang ada pada lingkungan tersebut.
Sehingga dengan adanya interaksi-interaksi yang ada pada lingkungan itu akan
menimbulkan suatu keseimbangan antara komponen-komponen yang ada dalam
ekosistem tersebut. Dan apabila suatu ekosistem tidak bisa melakukan
keseimbangan maka ekosistem tersebut akan terjadi dinamika perubahan
ekosistem untuk mencapai keseimbangan yang baru. interaksi biotik & abiotik Pada
interaksi ini terdapat beberapa siklus. Karena siklus merupakan kombinasi antara
lingkungan abiotik dan biotik. Adapun siklus yang dimaksud ialah siklus
air,karbon,dan oksigen. Semua interaksi ini tentunya amat penting karena
mendukung sekali keterlangsungan hidup di bumi.
Interaksi yang terjadi antara organisme dan komponen abiotiknya adalah saling
bergantung satu sama lain. Sedangkan interaksi negatif terjadi apabila terpengaruh
limbah pertanian atau limbah domestik (Poltek IPB, 2009). Organisme dapat
digunakan sebagai indikator lingkungan karena kehidupan organisme mempunyai
daya tahan dan adapatasi yang berbeda-beda antara jenis yang satu dan jenis
lainnya. Diantaranya ada beberapa jenis yang tahan dan ada yang tidak tahan
terhadap kondisi lingkungan, sehingga jenis-jenis yang mempunyai toleransi tinggi
meningkat populasinya. Adanya toleransi menyebabkan adanya kehadiran dan
ketidakhadiran organisme, yang dapat digunakan sebagai petunjuk kualitas
lingkungan.

KESIMPULAN
Komponen-komponen penyusun ekosistem perairan mengalir di sungai terdiri dari
perifiton, plankton(zooplankton dan fitoplankton), bentos, neuston, nekton. Perifiton
adalah organisme yang menempel pada benda atau biasanya bebatuan yang
berada di dasar sungai, plankton merupakan organisme yang sangat berpengaruh
dalam keseimbangan ekosistem perairan, hidupnya melayang-layang mengikuti
arus perairan. Bentos adalah organisme yang hidupnya di dasar perairan contohnya
kerang, neuston sebaliknya hidup di permukaan air, sedangkan nekton organisme
yang hidup bebas tidak dipengaruhi oleh arus air. Dengan melihat berbagai
komponen penyusunnya maka dapat dikatagorikan bahwa ada faktor biotik dan
abiotik. Faktor biotik terangkum dalam parameter biologi yang terdiri dari plankton
(zooplankton dan fitoplankton), bentos, ikan, dan sebagainya, sedangkan faktor
abiotik terdapat parameter fisika dan kimia terdiri dari kecerahan,suhu kedalaman,
pH. Ekosistem sendiri akan terbentuk jika faktor biotik dan abiotik saling
berinteraksi dan seimbang sehingga dengan begitu akan terbentuknya aliran energi
yang berguna untuk kelangsungan ekosistem yang ada.
sungai Ciapus merupakan sungai yang masih dibilang sungai yang bersih.
Kenapa di katakana masih bersih karena dari berbagai komponen yang ada masih
banyak yang baik. Sepeti warna sungai yang masih belum banyak tercemar limbah,
sampah-sampah yang tidak banyak mengganggu arus sungai kecerahan warna
yang masih terbilang bagus. Dan masih banyak kegunaannya. Walaupun belum ada
upaya dari masyarakat untuk memanfaatkan sungai Ciapus sendiri. Sungai Ciapus
juga digunakan sebagai sumber air dari berbagai asrama putra dan ke perumahan
dosen itu juga menandakan sungai Ciapus masih baik.

Lahan basah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Belum Diperiksa

Lahan basah di Indiana, Amerika Serikat


Lahan basah atau wetland (Ingg.) adalah wilayah-wilayah di mana tanahnya
jenuh dengan air, baik bersifat permanen (menetap) atau musiman. Wilayahwilayah itu sebagian atau seluruhnya kadang-kadang tergenangi oleh lapisan air
yang dangkal. Digolongkan ke dalam lahan basah ini, di antaranya, adalah rawarawa (termasuk rawa bakau), paya, dan gambut. Air yang menggenangi lahan
basah dapat tergolong ke dalam air tawar, payau atau asin.
Lahan basah merupakan wilayah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati
yang tinggi dibandingkan dengan kebanyakan ekosistem[1]. Di atas lahan basah
tumbuh berbagai macam tipe vegetasi (masyarakat tetumbuhan), seperti hutan
rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan bakau, paya rumput dan lain-lain.
Margasatwa penghuni lahan basah juga tidak kalah beragamnya, mulai dari yang
khas lahan basah seperti buaya, kura-kura, biawak, ular, aneka jenis kodok, dan
pelbagai macam ikan; hingga ke ratusan jenis burung dan mamalia, termasuk pula
harimau dan gajah.
Pada sisi yang lain, banyak kawasan lahan basah yang merupakan lahan yang
subur, sehingga kerap dibuka, dikeringkan dan dikonversi menjadi lahan-lahan
pertanian. Baik sebagai lahan persawahan, lokasi pertambakan, maupun --di
Indonesia-- sebagai wilayah transmigrasi.
Mengingat nilainya yang tinggi itu, di banyak negara lahan-lahan basah ini diawasi
dengan ketat penggunaannya serta dimasukkan ke dalam program-program
konservasi dan rancangan pelestarian keanekaragaman hayati semisal Biodiversity
Action Plan.
Daftar isi

1 Definisi teknis

2 Upaya konservasi
o

2.1 Konvensi Ramsar

3 Beberapa tipe lahan basah

4 Rujukan

5 Bacaan lanjut

6 Pranala luar

Definisi teknis
Lahan basah digolongkan baik ke dalam bioma maupun ekosistem[1]. Lahan basah
dibedakan dari perairan dan juga dari tataguna lahan lainnya berdasarkan tingginya
muka air dan juga tipe vegetasi yang tumbuh di atasnya. Lahan basah dicirikan oleh
muka air tanah yang relatif dangkal, dekat dengan permukaan tanah, pada waktu
yang cukup lama sepanjang tahun untuk menumbuhkan hidrofita, yakni
tetumbuhan yang khas tumbuh di wilayah basah. [1][2][3]
Lahan basah juga kerap dideskripsi sebagai ekoton, yakni wilayah peralihan antara
daratan dan perairan[4]. Seperti disebutkan Mitsch dan Gosselink, lahan basah
terbentuk:
"...at the interface between truly terrestrial ecosystems and aquatic systems,
making them inherently different from each other, yet highly dependent on both."[5]
Sementara Konvensi Ramsar mendefinisikan:

Pasal 1.1: lahan basah adalah wilayah paya, rawa, gambut, atau perairan,
baik alami maupun buatan, permanen atau temporer (sementara), dengan air
yang mengalir atau diam, tawar, payau, atau asin, termasuk pula wilayah
dengan air laut yang kedalamannya di saat pasang rendah (surut) tidak
melebihi 6 meter.

Pasal 2.1: [Lahan basah] dapat pula mencakup wilayah riparian (tepian
sungai) dan pesisir yang berdekatan dengan suatu lahan basah, pulau-pulau,
atau bagian laut yang dalamnya lebih dari 6 meter yang terlingkupi oleh
lahan basah.

Upaya konservasi
Konvensi Ramsar
Artikel utama untuk bagian ini adalah: Konvensi Ramsar

Konvensi Ramsar, atau nama lengkapnya The Convention on Wetlands of


International Importance, especially as Waterfowl Habitat, adalah kesepakatan
internasional tentang perlindungan wilayah-wilayah lahan basah yang penting,
terutama yang memiliki arti penting sebagai tempat tinggal burung air. Tujuan
perjanjian itu adalah untuk mendaftar lahan-lahan basah yang memiliki nilai penting
di aras internasional, menganjurkan pemanfaatannya secara bijaksana, serta
mencegah kerusakan yang semakin menggerogoti nilai-nilai tinggi dalam segi
ekonomi, budaya, ilmiah dan sebagai sumber wisata; dengan tujuan akhir untuk
melestarikan kawasan-kawasan lahan basah dunia.
Negara yang menjadi anggota dalam Perjanjian Ramsar itu harus mendaftarkan
sekurangnya satu lokasi lahan basah di dalam wilayahnya ke dalam "daftar lahan
basah yang penting secara internasional", yang biasanya disebut "Daftar Ramsar".
Negara anggota memiliki kewajiban bukan hanya terhadap perlindungan lokasi
lahan basah yang terdaftar, melainkan juga harus membangun dan melaksanakan
rencana tingkat pemerintah untuk menggunakan lahan basah di wilayahnya secara
bijaksana.
Beberapa tipe lahan basah

Lahan basah di pesisir Kirgistan

Rawa
o

Hutan rawa air tawar

Hutan bakau

Paya
o

Paya asin

Gambut
o

Hutan gambut

Hutan rawa gambut

Riparian

Lahan basah buatan

MATERI KULIAH EKOLOGI PERAIRAN

EKOLOGI PERAIRAN

MATERI KULIAH

PENGANTAR

EKOLOGI PERAIRAN TAWAR

LINGKUNGAN HIDUP AIR TAWAR


JENIS DAN FAKTOR PEMBATAS
KLASIFIKASI EKOLOGI JASAD-JASAD AIR TAWAR
BIOTA AIR TAWAR
KOMUNITAS LENTIK
DANAU
KOLAM
KOMUNITAS LOTIK

PEWILAYAHAN LONGITUDINAL SUNGAI


MATA AIR

EKOLOGI LAUT

LINGKUNGAN HIDUP LAUT


BIOTA LAUT
PEWILAYAHAN LINGKUNGAN LAUT
PRODUKTIFITAS EKOSISTEM LAUT
KOMUNITAS-KOMUNITAS LINGKUNGAN LAUT

EKOLOGI ESTUARI

DEFINISI DAN TIPE


BIOTA DAN PRODUKTIFITAS
POTENSI PRODUKSI BAHAN MAKANAN

KONSEP DASAR EKOSISTEM

Ekosistem (Clapham, 1973)


Sistem ekologi yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik yang saling
berinteraksi satu sama lain serta saling mempengaruhi dalam menopang sistem
kehidupan:

Faktor Faktor pada ekosistem

A. Faktor Abiotik

B. Faktor Biotik

1. Faktor Tanah

1. Produsen

a. Sifat Fisik Tanah


- Tekstur

1.1. Tumbuhan Hijau


1.2. Bakteri

- Kematangan
- Poroditas

2. Konsumen

- Bobot isi

2.1. herbivora

- Kapasitas menahan air

2.2. karnivora
2.3. omnivora

b. Sifat kimia tanah

3. Dekomposer

- pH
- Kandungan Hara

2. Faktor Iklim
- Suhu
- Kelembaban
- Angin
- Kandungan gas partikel

3. Faktor Air
a. Sifat fisik air
b. Sifat kimia air

C. Faktor Manusia
- Ideologi
- Politik
- Ekonomi
- Sosial
- Budaya, dll
ASPEK-ASPEK PENTING DALAM EKOSISTEM

1.

SIKLUS / DAUR HARA (BIOGEOCHEMICAL CYCLE)

2.

ALIRAN ENERGI (ENERGY FLOW)

DAUR BIOGEOKIMIA

HARA MAKRO : Ca, Mg, K, N, P, S

HARA MIKRO : Fe, Mn, B, Cu, Zn, Mo, Cl

Proses siklus berskala global melibatkan perantara biologi dan non biologi

Tipe siklus hara:


1.

Tipe Gas (Reservoir utama dari nutrien ; udara dan laut)

2.
Tipe Sedimen (Reservoir utama dari unsur; tanah, batu-batuan dan sedimen
lainnya)

ALIRAN ENERGY (ENERGY FLOW)

Energi : Kemampuan melakukan kerja

Gambaran Perilaku Energi :

Hukum Thermodinamika I
Energi tidak dapat diciptakan dan tidak pula dapat dihilangkan akan tetapi dapat
berubah bentuk

Hukum Thermodinamika II
Entropi suatu sistem selalu bertambah besar; atau sistem selalu menuju yang tidak
teratur kecuali jika ada penambahan energi.

Dalam proses transfer energi selalu ada degradasi energi

Contoh :
Energi Surya (100 %) ----- Tumbuhan Hujau (10 %) ----- Herbivora (1%)

Konsep Produktivitas
Produktivitas primer komunitas/ekosistem
Laju penyimpanan energi pada peroses sintesa karbohidrat (fotosntesis) oleh
produsen (Tanaman hijau) dalam bentuk senyawa organik yang dapat dipakai
sebagai bahan makanan.

Reaksi fotosntesis :

6CO2 + 6H2O ------ C6H12O6 + 6O2

Produktivitas sekunder ----- Pada tingkat konsumen

Beberapa metode pengukuran produktivitas :


1.

Metode panen

2.

Metode pengukuran oksigen (O2 Siang + O2 Malam = O2 badan air )

3.

Metode karbondioksida ( untuk organisme darat)

4.

Metode pH

5.

Metode Radioaktif

6.

Metode klorofil

Cara ideal : Pengukuran arus energi melalui sistem

RANTAI MAKANAN ; JARING MAKANAN; DAN TROFIK LEVEL

Rantai makanan (food chain) :


Perpindahan energi dalam ekosistem lewat proses makan memakan oleh
organisme.

80 90 % energi potensial hilang sebagai panas setiap perpindahan energi

Rantai makanan pendek ; Energi makin besar

Rantai makanan yang dipertautkan ----- Jaring makanan (food web)

Dua tipe rantai makanan :


1.
Grazing food chain/ Rantai makanan rerumputan (Tumbuhan --- herbivora---carnivora)
2.
Detritus food chain/ rantai makanan sisa (Bahan mati ---- mikro organisme /
detrivora ---- predator)

Samingan (1991) :
Pada setiap rantai makanan, sebagian besar dari energi potensial hilang sebagai
panas dari respirasi. Akibatnya organisme dalam setiap tingkat trofik hanya
melewatkan energi kurang dari yang mereka terima. Hal tersebut membatasi
jumlah tahapan dalam rantai makanan.

Rantai makanan : terbatas 4 5 tahap saja.

Tugas :

Buatlah deskripsi tentang siklus unsur hara meliputi :


- Siklus Nitrogen
- Siklus Fosfor
- Siklus Sulfur
- (+) 1 atau 2 siklus dari unsur hara mikro

Buatlah deskripsi tentang aliran energi pada ekosistem danau dan sungai:

Apa yang dimaksud dengan entropi ?

FAKTOR-FAKTOR PEMBATAS PADA EKOSISTEM PERAIRAN

Konsep faktor Pembatas


Untuk dapat bertahan hidup dalam keadaan tertentu organisme harus mendapat
unsur-unsur esensial yang diperlukan untuk pertumbuhan dan reproduksi.

Hukum Minimum LEIBIG :


Dalam keadaan yang mantap unsur esensial yang tersedia dalam keadaan
minimum cenderung merupakan faktor pembatas.

Contoh : Dalam ekosistem danau konsentrasi CO2 () ---- menjadi faktor


Pembatas
Jika ada angin CO2 () ----- tidak lagi menjadi faktor pembatas

Hukum Toleransi SHELFORD :


Organisme memiliki batas maksimum dan minimum Ekologi

Beberapa Asas Tambahan :


1.
Organisme dapat memiliki toleransi yang luas untuk satu faktor tetapi sempit
untuk faktor lain.
2.
Organisme dengan kisaran toleransi yang luas untuk semua faktor wajar
memiliki penyebaran yang luas.
3.
Keadaan tidak optimum untuk suatu faktor dapat mempengaruhi toleransi
terhadap faktor lain.

4.
Organisme di alam banyak yang hidup dalam keadaan tidak optimum dan
selalu dipengaruhi oleh beberapa faktor sekaligus.
5.
Umumnya periode reproduksi (embrio, kecambah, larva) peka terhadap faktor
fisik yang minimum.

Beberapa istilah :
-

Stenothermal / Eurithermal -----------Temperatur

Stenohydric / Eurihydric -------------- Air

Stenohaline / Eurihaline -------------- Kadar garam

Stenophagus / Euriphagus ----------- Makanan

Stenocious / Euricious --------------- Habitat

Berikan contoh dua jenis organisme untuk masing2 istilah di atas.

Faktor Pembatas Pada Ekosistem Akuatik :


1.

Temperatur

2.

Kecerahan / transparansi

3.

Kekeruhan

4.

Arus

5.

Gas terlarut dalam air ( DO ; CO2 )

6.

Garam biogenik dalam air / Unsur hara ( N ; P )

1. Temperatur
- Sifat fisik air
- Reaksi unsur-unsur kimia perairan

- Suhu () 10 C ------ metabolisme () 2x


- Suhu sangat berpengaruh terhadap fase reproduksi

2. Kecerahan
- Sangat dipengaruhi oleh zat yang terlarut & tersuspensi
- Cahaya merah dapat tembus 4 m ; cahaya biru sampai 70 m.

3.
-

Kekeruhan
Dipengaruhi oleh lumpur dan pasir halus dalam air (sedimen)

Jika disebabkan oleh organisme hidup dapat dipakai sebagai indikator


kesuburan perairan

4.

Arus

Mempengaruhi distribusi gas terlarut, garam terlarut, makanan serta organisme


dalam air.

5.

Gas-Gas terlarut dalam air


Keadaan umum yang mempengaruhi kalarutan gas dalam air :

Suhu

Konsentrasi garam terlarut (mengurangi kelarutan gas dalam air)

Kelembaban udara (kelarutan gas besar pada udara kering)

Derajat kejenuhan

Gerakan air (makin cepat kelarutan gas makin besar)

6.
-

Oksigen terlarut
Melalui difusi dan agitasi air

Fotosintesis yang dipengaruhi oleh densitas tanaman, banyak cahaya dan


lama penyinaran.
Pengurangan oksigen terlarut dapat dipengaruhi oleh :
-

Respirasi organisme

Penguraian bahan organik oleh organisme (BOD)

Reduksi gas lain (termasuk COD)

Pelepasan DO secara otomatis yang dipengaruhi suhu dan derajat kejenuhan.

Oksidasi (misalnya oleh kehadiran zat besi)

7.

Karbondioksida Terlarut

Sumber :
-

Udara (sangat sedikit)

Air tanah

Dekomposisi zat organik

Respirasi organisme air

Senyawa kimia dalam air [Ca(HCO3)2, Mg(HCO3)2 ]

Reduksi CO2 dalam air disebabkan oleh :


-

Fotosintesa tanaman air

Dipakai organisme membentuk rumah (mis: mollusca)

Agitasi air

Penguapan

Hilang bersama gelembung gas dari dalam air.

8.

Garam biogenik dalam air

N & P ( penentu kesuburan)

Na & K (Konsentrasi kecil)

Ca (Dalam bentuk karbonat)

Mg (Untuk pembentukan klorofil)

BAKU MUTU

MAX Dianjurkan

MAX (Diperbolehkan)
Nitrat
Nitrit
Oksigen
Fosfat

5 ppm
0,06 ppm
> 4 ppm
0,001 1 ppm

10 ppm
1 ppm

Tugas mandiri :

Buatlah penjelasan secara singkat mengapa faktor-faktor tersebut diatas


merupakan faktor pembatas pada ekosistem perairan.
TUGAS : Kirim ke e-mail : utama48@yahoo.co.id
Cari definisi tentang ekosistem (minimal pendapat dari 2 orang ahli) tuliskan
sumbernya. (Judul Buku)
-

Gambar siklus N, P, Fe & Zn atau Cl

Tuliskan fungsi dari unsur-unsur Na dan K

Bagaimana organisme memanfaatkan Nitrat

TRANSPARANSI 1

EKOLOGI AIR TAWAR

PENTINGNYA AIR TAWAR

MERUPAKAN BARANG MURAH DAN NYAMAN UNTUK KEBUTUHAN RUMAH


TANGGA DAN INDUSTRI
-

MERUPAKAN BOTTLE NECK DALAM SIKLUS HIDROLOGI

MERUPAKAN TEMPAT PEMBUANGAN SAMPAH YANG PALING MURAH

PENGGUNAAN AIR

PERADABAN MANUSIA

PENGGUNAAN AIR
SUKU PRIMITIF

5 liter/orang/hari
INDONESIA

40 liter/orang/hari

INGGRIS

150 liter/orang/hari
USA

250 liter/orang/hari

TRANSPARANSI 2

HABITAT AIR TAWAR

LENTIK (TENANG)
DANAU; KOLAM; RAWA

LOTIK (MENGALIR)
MATA AIR; SUNGAI

HAMPIR TIDAK ADA BATAS YANG JELAS ANTARA DUA JENIS HABITAT TERSEBUT
MANUSIA CENDERUNG MEMPERCEPAT PERUBAHAN PROSES-PROSES GEOLOGIK

DAMPAK KEGIATAN MANUSIA

PERUBAHAN POLA KELAKUAN AIR

PENDANGKALAN DANAU

PENGIKISAN SUNGAI SAMPAI PADA TINGKAT PUNCAK

PENURUNAN KUALITAS PERAIRAN

PENCEMARAN SUNGAI

EUTROFIKASI

KERUSAKAN HABITAT

T R A N S P A R A N S I 3.1

KLASIFIKASI EKOLOGIS ORGANISME AIR TAWAR

1.

KLASIFIKASI MENURUT NICHEUTAMANYA


(Berdasarkan kedudukan dalam rantai energi atau rantai makanan)

AUTOTROPH (Produser)

PHAGOTROPH (Konsumer makro)


Pertama, Kedua, dst;
Herbivora, predator, parasit, dsb

SAPROTROPH (Konsumer mikro)


Diklasifikasikan Lagi berdasarkan asal bahan organik yang diuraikan

DALAM SETIAP TINGKAT TROFIK DIANJURKAN UNTUK MENGENALI SPESIES DOMINAN

KETERANGAN :
HABITAT : TEMPAT HIDUPALAMAT
(RUANG FISIK)
NICHE
: RELUNG EKOLOGIPROFESI MEMILIKI ARTI YANG LEBIH LUAS LAGI.
TIDAK HANYA RUANG FISIK, TETAPI JUGA PERAN FUNGSIONAL DALAM
MASYARAKATNYA (POSISI TROFIKNYA) SERTA POSISINYA DALAM GRADIEN
LINGKUNGAN

T R A N S P A R A N S I 3.2
2. KLASIFIKASI EKOLOGI BERDASARKAN MODUS HIDUP

HID

BENTHOS
Jasad yang hidup di dasar perairan

FILTER FEEDERS (Penyaring)


Cth : Kerang-kerangan

DEPOSIT FEEDERS (Pemakan deposit)


Cth : Siput dan Kerang

PERIFITON/AUFWUCHS

Jasad nabati maupun hewani yang hidup melekat dipermukaan benda-benda


yang terletak di atau muncul dari permukaan perairan

PLANKTON
Jasad mikro yang melayang secara pasif di perairan

NEKTON
Jasad yang mampu berenang

NEUSTON
Jasad yang hidup di permukaan air

T R A N S P A R A N S I 3.3

DUA HAL YANG PERLU DIPERHATIKAN UNTUK MENJELASKAN NICHE SUATU JASAD

KEDUDUKAN DALAM KETIGA KLASIFIKASI TERSEBUT HARUS DITETAPKAN

KLASIFIKASI EKOLOGI DALAM SUATU JASAD AIR MUNGKIN BERBEDA PADA


BERBAGAI TAHAP DAUR HIDUPNYA

TUGAS

BUAT RINGKASAN TENTANG EKOSISTEM PERAIRAN TAWAR, MELIPUTI :

KOLAM

SUNGAI

DANAU

- RAWA
- MATA AIR

SUSUNLAH DAFTAR JENIS-JENIS BIOTA PERAIRAN TAWAR BERDASARKAN


KLASIFIKASI EKOLOGINYA

Diposkan oleh IKLAN GARUSU di 19.30 Tidak ada komentar:


Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Posting Lebih Baru Beranda
Langganan: Entri (Atom)
Mengenai Saya

Foto Saya

IKLAN GARUSU

Lihat profil lengkapku


Arsip Blog

2014 (1)
Agustus (1)
MATERI KULIAH EKOLOGI PERAIRAN
KLASIFIKASI LINGKUNGAN LAUT

KLASIFIKASI LINGKUNGAN LAUT


Lingkungan laut merupakan lingkungan perairan salin atau marine waters
yang menyimpan berjuta misteri kekayaan ekosistem dan biodiversitas yang hingga
sekarang masih belum banyak tersingkap. Lingkungan yang dinamakan Lingkungan
Laut (Marine Environment) cakupannya dimulai dari bagian pantai (coastal) dan
daerah muara (estuarine) hingga ke tengah samudra, dimulai dari bagian
permukaan air hingga dasar perairan yang bermacam-macam tipe kedalamannya
dan bentuk morfologisnya.
Dengan semakin majunya ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang
kelautan, baik itu Biologi Kelautan (Marine Biology) maupun Oseanografi, membuat
tabir yang seolah menutupi lautan dengan segala misteri yang dikandungnya
sedikit demi sedikit dapat tersingkap. Salah satunya adalah pengetahuan mengenai
Lingkungan laut.
Membahas mengenai lingkungan laut, ada 2 hal yang esensial darinya. Yang
pertama adalah Zona kolom air, atau Zona Pelagik adalah bagian perairan dimana
terdapat massa air, dan yang kedua adalah Zona dasar perairan, atau disebut juga
Zona Bentik yang merupakan dasar / platform dari perairan itu sendiri. Dari
pembagian atas kedua hal tersebut, dapat dikembangkan lagi menjadi zona-zona
atau wilayah-wilayah dengan karakteristik yang lebih khusus lagi. Pembagian
wilayah atau Zonasi tersebut dinamakan Pemintakatan Lingkungan Laut, dan dapat
digambarkan dengan skema sebagai berikut:

Disini akan dibahas mengenai pembagian lingkungan laut berdasarkan pada


Lingkungan Pelagik dan Lingkungan Bentik.
LINGKUNGAN PELAGIK
Semua biota yang hidup di lingkungan laut tetapi tidak hidup di dasar laut
dinamakan biota pelagik. Lingkungan dimana biota ini hidup dinamakan lingkunagn
pelagik. Lingkungan ini mencakup kolom air mulai dari permukaan dasar laut
sampai paras laut. Lingkungan pelagik ini mempunyai batas wilayah atau mintakat
yang meluas mulai dari garis pantai sampai wilayah laut jeluk. Secara horizontal
lingkungan pelagik dibagi menjadi neritik dan oseanik. Sedangkan secara vertikal
lingkungan ini dibagi menjadi epipelagik, mesopelagik, batipelagik, dan
abisopelagik.
Secara horizontal
1.

Mintakat Neririk

Mintakat neritik merupakan laut yang terletak pada kedalaman 0 200 m. Ciri-ciri
mintakat neritik diantaranya
a.

Sinar matahri masih menembus dasar laut

b.

Kedalamannya 200 m

c.

Bagian paling banyak terdapat ikan dan tumbuhan laut

Mintakat neritik berada di paparan benua yang dihuni oleh biota laut yang berbeda
dengan mintakat oseanik karena :
a.

Kandungan zat hara di mintakat neritik melimpah

b.
Sifat kimiawi perairan neritik berbeda dengan perairan oseanik karena
berbeda-bedanya zat-zat terlarut yang dibawa ke laut dari daratan
c.
Perairan neririk sangat berubahubah, baik dalam waktu maupun dalam ruang,
jika dibandingkan dengan perairan oseanik. Hal ini dapat terjadi karena dekatnya
mintakat ini dengan daratan dan adanya tumpahan berbagai zat terlarut dari darat
ke laut
d.
Penmbusan cahaya, kandungan sedimen dan energi fisik dalam kolom air
berbeda antara mintakat neritik dan mintakat oseanik

2.

Mintakat Oseanik

Mintakat oseanik merupakan wilayah ekosistem laut lepas yang kedalamannya


tidak dapat ditembus cahaya matahari sampai ke dasar, sehingga bagian dasarnya
paling gelap. Akibatnya bagian air dipermukaan tidak dapat bercampur dengan air
dibawahnya, karena ada perbedaan suhu. Batas dari kedua lapisan air itu disebut
daerah Termoklin, pada daerah ini banyak ikannya. Mintakatsi oseanik merupakan
wilayah lingkungan perairan yang terletak di luar lempeng benua. Pada mintakat ini
kandungan unsur hara kurang, kandungan sedimen relative lebih sedikit sehingga
daya tembus cahaya hanya kuat sampai dengan 200 m.
Secara Vertikal
1.

Mintakat Epipelagik

Mintakat epipelagik merupakan bagian kolom air paling atas. Mintakat epipelagik
disebut juga sebagai mintakat Fotik dengan kedalaman 200 m. Di beberapa daerah,
terutama di paparan benua, penembusan cahaya di lapisan tersebut lebih jauh
berkurang daripada di lapisan yang sama dari perairan oseanik, karena tingginya
kandungan sedimen tersuspensi di paparan benua.
Mintakat ini dibadi manjadi tiga bagian, yakni pertama adalah mintakat pada dan
dekat permukaan, tempat terjadinya penyinaran siang hari di atas optimal atau
bahkan letal bagi fitoplankton. Penyinara ini juga terlalu tinggi bagi zooplankton.
Yang kedua adalah mintakat yang dinamakan mintakat bawah permukaan, tempat
terjadinya pertumbuhan yang aktif sampai perairan yang agak jeluk, di mana
fitoplankton yang tidak terbiak aktif masih dapat berlimpah. Mintakat yang ketiga
atau mintakat terbawah termasuk lapisan perairan, tempat zooplankton yang biasa
bermigrasi ke permukaan pada malam hari, berada pada siang hari.
2.

Mintakat Mesopelagik

Mintakat ini terletak di bawah mintakat epipelagik. Mintakat ini memiliki kedalaman
dari 200 m - 1000 m. Karena letaknya di bawah mintakat fotik maka tidak terdapat
kegiatan yang menghasilkan produksi primer yang memanfaatkan detritus yang
turun dari lapisan yang lebih dangkal. Pada mintakat ini dan seterusnya produksi
oksigen lebih rendah daripada yang dimanfaatkan. Tumbuh-tumbuhan dapat hidup
di lapisan bawah ini, tetapi mereka akan lebih banyak kehilangan zat organik yang
dihasilkan daripada mendapatkannya.
3.

Mintakat Batipelagik

Zona batipelagik memiliki kedalaman antara 1001 m sampai 4000 m atau sama
dengan dasar laut. Sifat-sifat fisiknya seragam. Ikan-ikan dan biota yang hidup di
lingkungan ini biasanya merupakan organisme bioluminesen, yaitu organisme yang
dapat memancarkan cahaya sendiri. Karakteristik bioluminesen ini merupakan
adaptasi organisme terhadap lingkungannya yang gelap dan tidak tertembus
cahaya. Hewan-hewan yang hidup di zona ini biasanya merupakan Cumi-cumi

raksasa dan jenis yang lebih kecil, Gurita Dumbo, dan ikan-ikan laut dalam dengan
bentuk dan karakteristik yang sama sekali berbeda dengan ikan di zona fotik,
termasuk berbagai jenis Lantern Fish / ikan lentera dan Hagfish. Paus yang diketahui
hidup di zona ini biasanya merupakan Paus Sperma atau Sperm Whale yang
mengkonsumsi cumi-cumi raksasa.
Dengan minimnya pasokan energi karena tidak adanya cahaya, kebanyakan hewan
disini bergantung dari detritus atau sisa-sisa organisme yang jatuh dari zona atas,
yang biasa disebut sebagai salju laut atau marine snow. Yang lainnya hidup sebagai
predator.
4.

Mintakat abisopelagik

Mintakat ini memiliki kedalaman lebih dari 2000 m. Mintakat ini meluas ke bagianbagian terjeluk dari samudra atau disebut mintakat palung. Wilayah ini merupakan
wilayak yang tidak ada cahaya sama sekali, suhu dingin, dan tekanan air tinggi.
Mintakat ini merupakan lingkungan hidup atau habitat yang paling sederhana. Di
perairan abisal ini cahaya yang dihasilkan adalah dari hewan-hewan yang hidup di
mintakat ini atau bioluminesensi atau biopendar cahaya. Di mintakat ini tidak
terjadi fotosintesis dan tumbuh-tumbuhan yang hidup sangat sedikit atau tidak ada
sama sekali. Perubahan-perubahan suhu, salinitas, dan kondisi-kondisi serupa tidak
terjadi atau kalaupun ada dapat diabaikan dilihat dari segi ekologik.
Kandungan karbondioksida (CO2) dalam air tinggi sehingga kapur (CaCO3) mudah
terlarut dalam air. Hal ini ditunjukkan olah pembentukan cangkang dan kerangka
kapur lemah di mintakat ini. tekanan air di mintakat abisopelagik ini sangat tinggi
sehingga hewan yang hidup di daerah ini mengalami perubahan-perubahan
morfologik dan fisiologik. Seperti lebih besarnya gelembung renang pada ikan agar
dapat mengambang di kolom air seperti yang dikehendaki. Gelembung renang
tersebut terperas oleh tekanan sehingga sedikit ruang untuk gas, akibatnya ikan
sedikit lebih ringan daripada berat air di sekitarnya, karena susah untuk
mengapung. Untuk dapat mengapung, gelembung renang tersebut harus
dikembangkan. Rendahnya suhu juga memperlambat berbagai reaksi kimiawi dan
perubahan gejala-gejala fisiologik lain.
Sumber makanan organisme di daerah ini adalah sebagian berasal dari lapisan atas
yang berupa bangkai atau sisa-sisa berbagai biota laut yang mati dan tenggelam ke
dasar laut.
Berdasarkan Intensitas Cahaya
Berdasarkan intensitas cahayanya, ekosistem laut dibedakan menjadi 3 bagian:
1.
Daerah fotik, merupakan daerah laut yang dapat ditembus cahaya
matahari, kedalaman maksimum 200m. Merupakan daerah produktivitas primer di
laut

2.
Daerah Twilight, daerahnya remang-remang, tidak efektif untuk
kegiatan fotosintesis, kedalaman antara 200 - 2000m.
3.
Daerah afotik, daerah yang tidak tembus cahaya matahari. Jadi gelap
sepanjang masa.
LINGKUNGAN BENTIK
Selain lingkungan neritik, pembagian lingkungan laut juga dipengaruhi oleh
keadaan lingkungan dasar perairan atau bentiknya. Di zona pelagis, biota yang
biasa hidup adalah ikan, cumi-cumi, dan makhluk perenang lainnya. Pada zona
bentik, biota yang hidup merupakan benthos atau biota yang hidup di dasar
perairan seperti jenis-jenis bivalvia, arthropoda, echinodermata, hewan-hewan
karang, coelenterata, dan spon. Dominasi biota penghuninya adalah filter feeder,
yang berarti biota mendapatkan makanan dengan cara menyaring air atau sedimen
melalui organ makannya. Karena sifat dan karakteristiknya yang merupakan filter
feeder, maka biota yang hidup di lingkungan bentik atau benthos sangat
bergantung pada sedimen yang terdapat di dasar laut.

Zonasi Lingkungan Laut berdasarkan lingkungan bentik dapat dikelompokkan


menjadi beberapa zona yang memiliki karakteristik biota dan sedimen yang
berbeda-beda:
A.

Zona Littoral

Zona littoral merupakan bagian dari perairan laut yang paling dekat dengan pantai.
Pada lingkungan perairan pantai, wilayah zona littoral memanjang dari garis batas
pasang tertinggi hingga area pantai yang tenggelam permanen. Ketinggian air
pada zona littoral memberikan lingkungan perairan littoral memiliki banyak
karakteristik yang unik. Kekuatan erosif dari arus menghasilkan landform yang unik
seperti estuaria. Perairan littoral juga memiliki variasi tumbuhan dan hewan yang
tinggi karena letaknya yang berbatasan dengan daratan.

Dalam oseanografi dan biologi laut, zona littoral memanjang hingga ke tepian
continental shelf. Dari letaknya, zona littoral dapat dibagi menjadi 3 sub-zona:
a.

Zona Supralittoral

Zona supralittoral atau disebut juga sebagai zona supratidal, adalah area yang
berada diatas batas pasang, secara reguler terkena atau terciprat oleh air laut,
namun tidak tenggelam dalam air. Air laut hanya menggenangi wilayah ini pada
saat pasang tinggi pada saat badai.

Zone ini dibagi dengan melihat kondisi alamiah pantai tersebut, yang mana diawali
oleh tumbuhnya beberapa vegetasi pantai berlumpur dan badan pasir. Storm-Driven
di daerah supratidal ikut serta di dalam mensuplai sedimen sehingga menciptakan
lapisan sedimen hanya dalam beberapa jam. Lapisan ini yang terbentuk akibat
badai akan terjadi pengkayaan karbon oleh ganggang organik, yang berkembang
biak saat terjadi badai. Pada bagian lain dari daerah supralittoral dominasi
ganggang hijau biru berfilamen menjerat dan mengikat sedimen berbutir halus
lewat alga yang ada di daerah subtidal. Pengikatan sedimen oleh alga di daerah
subtidal sehingga terjadi penumpukan sedimen di muara sungai, disamping itupula
banyaknya sedimen diakibatkan oleh banjir. Dominasi pasang surut, mengakibatkan
pelumpuran sehingga pada waktu penggenangan akan terbentuk beting-beting
lumpur sedangkan pada saat surut akan mengalami pengeringan.
Organisme yang hidup di zona supralittoral harus menghadapi kondisi tertentu,
seperti terekspos dengan udara, air tawar dari hujan, hawa panas dan dingin, serta
predasi dari hewan darat dan burung laut. Bagian atas dari supralittoral biasa dihuni
oleh dark lichen yang terlihat sebagai kerak pada batuan. Beberapa Neritidae dan
Isopod yang memakan detritus menghuni supralittoral bagian bawah.
b.

Zona Eulittorial / Intertidal

Zona Eulitorrial, biasa disebut sebagai zona intertidal adalah zona littoral yang
secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi
hingga pasang terendah. Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebingtebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi
organisme sedimenter. Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu,
pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
Organisme yang terdapat pada zona intertidal ini telah beradaptasi terhadap
lingkungan yang ekstrem. Pasokan air secara reguler tercukupi dari pasang-surut air
laut, namun air yang didapat bervariasi dari air salin dari laut, air tawar dari hujan,
hingga garam kering yang tertinggal dari inundasi pasang surut, membuat biota
yang berada di zona ini harus beradaptasi dengan kondisi salinitas yang variatif.
Suhu di zona intertidal bervariasi, dari suhu yang panas menyengat saat wilayah
terekspos sinar matahari langsung, hingga suhu yang amat rendah saat iklim
dingin. Zona intertidal memiliki kekayaan nutrien yang tinggi dari laut yang dibawa
oleh ombak.
Lingkungan ekologis yang terlihat di zona intertidal adalah lingkungan ekosistem
mangrove yang didominasi oleh vegetasi mangrove. Vegetasi mangrove memiliki
tingkat adaptasi yang sangat tinggi terhadap keadaan yang ekstrim di wilayah
intertidal. Biota yang berada di zona intertidal memiliki mekanisme adaptasi
khusus yang memungkinkan mereka untuk hidup. Contohnya siput Littorina yang
akan terus berada dalam cangkangnya yang tertutup rapat apabila air surut,
melindunginya dari panas ekstrim dan mencegah penguapan berlebih. Adaptasi

morfologis pada beberapa spesies dapat dilihat dari beberapa jenis mollusca seperti
teritip limpet dan polyplacophora memiliki cangkang hidrodinamik. Adaptasi lainnya
adalah penempelan terhadap substrat untuk melawan kekuatan ombak dan arus
agar biota tidak ikut terseret, contohnya bentuk suction tube pada bintang laut agar
ia bisa menempel kuat pada substrat, isopoda yang memiliki organ mirip kait yang
memungkinkannya untuk bisa bergantung pada rumput laut seperti
laminariles/kelp, dan beberapa kerang-kerangan (mussel) yang menempel pada
substratnya dengan byssusnya (filamen yang berfungsi merekatkan bivalvia pada
substrat).
Pada bagian bawah wilayah intertidal terdapat subzona yang hampir permanen
terendam oleh air dan kondisi lingkungannya tidak seekstrim subzona diatasnya,
yang biasa disebut sebagai Lower Littoral. Pada subzona lower littoral, terjangan
ombak tidak besar dan juga tidak terjadi perubahan suhu yang sangat ekstrem
karena jarang sekali zona ini terekspos langsung oleh sinar matahari. Pada subzona
ini dapat ditemukan berbagai jenis biota, seperti abalon, anemon, rumput laut
coklat, teritip, chiton, kepiting, alga hijau, hidroid, isopoda, mussel, sculpin, timun
laut, lettuce laut, palem laut, bintang laut, bulu babi, udang, siput laut, spon, cacing
tuba, dan sebagainya. Biota pada wilayah ini dapat tumbuh dan berkembang
dengan baik, selain karena keadaan lingkungannya yang cukup stabil, juga karena
wilayah ini terjaga dari predator seperti ikan karena ketinggian airnya yang cukup
dangkal, dan vegetasi perairan dapat melakukan fotosintesis dengan efektif karena
mendapat banyak sinar matahari.
c.

Zona Sublittoral

Zona sublittoral merupakan bagian terdalam dari zona littoral, dimana dalam zona
ini dasar perairan tergenang air secara permanen, dan biasanya memanjang hingga
ujung continental shelf, pada kedalaman 200 meter.
Pada biologi laut, sublittorial merujuk kepada area dimana sinar matahari tembus
hingga ke dasar lautan, dimana perairan tidak terlalu dalam dan masih merupakan
zona fotik. Area bentik pada zona sublittoral lebih stabil daripada zona intertidal
dengan temperatur, tekanan air, dan jumlah pencahayaan matahari relatif konstan.
Hewan karang / koral lebih banyak hidup pada zona sublittorial dibanding pada zona
intertidal.
Ada beberapa subzonasi pada zona sublittorial, yaitu zona infralittoral dimana alga
mendominasi kehidupan dibawah batas kedalaman zonasi dan zona sirkalittoral
dibawah infralittoral, didominasi oleh hewan-hewan sessile seperti tiram-tiraman.
Bagian yang lebih dangkal dari zona sublittoral yang tidak jauh dari pantai
terkadang diistilahkan sebagai zona subtidal.
B.

Zona Bathyal

Zona bathyal merupakan zona perairan remang-remang, biasanya dengan


kedalaman antara 200 1000 meter. Keadaan bentik zona bathyal umumnya
merupakan lereng-lereng curam yang merupakan dinding laut dalam dan sebagai
bagian pinggiran kontinen. Zona bathyal juga diistilahkan sebagai Continental
Slope. Pada Continental slope sering ditemui canyon/ ngarai / submarine canyon,
yang umumnya merupakan kelanjutan dari muara sungai sungai besar di pesisir.
Tipe sedimen utama sedimen pada zona bathyal merupakan lempung biru, lempung
gelap dengan butiran halus dan memiliki kandungan karbonat kurang dari 30%.
Sedimen-sedimennya memiliki jenis sedimen terrestrial, pelagis, atau autigenik
(terbentuk ditempat). Sedimen Terrestrial (terbentuk dari daratan) lebih banyak
merupakan lempung dan lanau, berwarna biru disebabkan karena akumulasi sisasisa bahan organik dan senyawa ferro besi sulfida yang diproduksi oleh bakteri,
Sedimen terrestrial juga merupakan tipe sedimen yang paling mendominasi.
Sedimen terrigenous terbawa hingga ke zona bathyal melalui arus sporadik turbiditi
yang berasal dari wilayah yang lebih dangkal. Saat material terrigenous langka,
cangkang mikroskopis dari fitoplankton dan zooplankton akan terakumulasi di dasar
membentuk sedimen authigenik.
Biota yang hidup pada bagian bentik zona bathyal antara lain spon, brachiopod,
bintang laut, echinoid, dan populasi pemakan sedimen lainnya yang terdapat pada
bagian sedimen terrigenous. Biasanya biota yang hidup di zona ini memiliki
metabolisme yang lamban karena kebutuhan konservasi energi pada lingkungan
yang minim nutrisi.
Kecuali pada laut yang sangat dalam, zona bathyal memanjang hingga ke zona
bentik pada dasar laut yang merupakan bagian dari continental slope yang berada
di kedalaman 1000 hingga 4000 meter.
C.

Zona Abyssal

Zona abisal meluas dari pinggir paparan benua hingga ke bagian dasar laut
terdalam dari samudera. Kebanyakan lingkungan abisal ini menyerupai bahan
lumpur. Dasar samudera biasanya terdiri dari endapan kapur, terutama kerangka
foraminifera, endapan silica, terutama kerangka diatom dan lempung merah dasar
laut yang lebih dalam dengan tekanan yang tinggi sehingga membuat zat-zat lain
mudah sekali larut. Zona abisal ini 82 % berkedalaman dari 2000 m sampai 6000 m
dengan suhu yang relative stabi antara 40C hingga 1,20C.

D.

Zona Hadal

Zona hadal merupakan zona laut terdalam, lebih dari kedalaman 6000 m. Zona ini
termasuk kedalam zona afotik( aphotic zone ) karena merupakan daerah laut dalam

yang tidak terdapat cahaya karena cahaya matahari tidak dapat menembus pada
daerah tersebut.Substrat yang ada biasanya berupa kalsium karbonat dan sisa-sisa
zat renik atau organisme yang telah mati tenggelam sampai ke dasar. Salinitas air
dalam zona ini (salinitas = 34-35 ppt) tetap mirip dengan salinitas khas abyssal dan
tidak terpengaruh oleh tekanan.
Ada beberapa hal yang mempengaruhi bagaimana tedapat hal tersebut karena
adanya hewan-hewan mati yang berada pada daerah atasnya mati dan mengendap
di dasar dari daerah hadal tersebut sehingga banyak ditemukan zat-zat kapur atau
mineral-mineral yang dikandung organisme yang mati tersebut dapat terendapkan.
Ditinjau dari tekanan di daerah tersebut,pressure bagi organisme yang terdapat
pada daerah tersebut sangatlah tinggi sehingga membutuhkan bentuk
morfologi,anatomi yang harus mendukung daya adaptasi yang akan
dipergunakannya dalam bertahan hidup.Biasanya organisme yang hidup pada
daerah tersebut mempunyai cara yang unik untuk beradaptasi,seperti mempunyai
bentuk yang aneh,mempunyai simbiosis dengan organisme lain semisal bakteri.
Karakteristik lain dari zona hadal adalah mempunyai sumber panas bumi alami
bernama corong hidrotermal (hidrotermal vents).Hal ini pulalah yang membuat
mengapa terdapat organisme tertentu dapat hidup dalam lingkungan ekstrim,dapat
dikatakan begitu karena dengan kondisi minim oksigen,tekanan yang tinggi dan
cahaya yang hampir tidak ada. Ada penurunan umum dalam kelimpahan dan
biomassa organisme dengan meningkatnya kedalaman. Meskipun demikian,
sampling dalam zona Hadal telah mengungkapkan beragam organisme metazoan
terutama fauna bentik, seperti ikan, holothurians, polychaetes, kerang, isopoda,
actinians, amphipods dan gastropoda. Kekayaan zona ini, diperkirakan berasal dari
dataran abyssal, juga dan menurun dengan meningkatnya kedalaman, meskipun
peran relatif peningkatan tekanan versus berkorelasi lingkungan lainnya tetap
belum terpecahkan. Mereka kebanyakan mendapat makanan dari bantuan bakteri
Chemosynthetic yang menguraikan jasad-jasad dari biota yang mati pada lapisan
diatasnya.