Anda di halaman 1dari 11

TUGAS

TEKNOLOGI INFORMASI
TEKNOLOGI PEMETAAN DASAR LAUT

Disusun Oleh:
Eka Fitria Novita Sainyakit
21100113120052

PROGRAM STUDI TEKNIK GEOLOGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
OKTOBER 2014

TEKNOLOGI PEMETAAN DASAR LAUT DI


INDONESIA
A. Pendahuluan
Potensi sumberdaya laut di Indonesia sangatlah besar yang mencakup
potensi sumberdaya hayati dan non-hayati. Sumberdaya laut tersebut sampai
sekarang belum secara maksimal dapat dieksplorasi dan dieksploitasi selain
minyak dan gas bumi pada sektor sumberdaya non hayati. Demikian pula
pada sektor sumberdaya hayati laut, eksplorasi dan eksploitasi terhadap ikanikan laut dan sejenisnya membutuhkan kearifan disamping teknologi canggih
namun tidak merusak lingkungannya.
Untuk menunjang eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya laut, dapat
digunakan teknologi akustik bawah air (underwater acoustics). Teknologi ini
dikenal luas denagn sebutan teknologi akustik yang tidak lain adalah
penggunaan gelombang suara yang dalam dunia navigasi disebut Sonar atau
Echosounder dan sejenisnya. Dengan pendekatan fungsi, Sonar atau Echo
sounder pada teknologi navigasi dapat disetarakan dengan penggunaan Radar
untuk pendeteksian objek di permukaan air.
Dalam pengelolaannya, perairan Indonesia dibagi dalam sembilan
wilayah pengelolaan perikanan dan kelautan dengan penamaan tertentu,
seperi Laut Banda, Laut Arafura, Laut Sulu, Laut Jawa dan seterusnya. Setiap
area perairan tersebut mempunyai karakter yang berbeda satu sama lainnya
demikian pula perbedaan dengan laut wilayah subtropis. Hal ini ditentukan
oleh kondisi geografis masing-masing area perairan, pola arus, perubahan
temperatur dan salinitas, kedalaman air dan lain-lain. Kondisi keberagaman
tofografis,

kedalaman

terlebih

lagi

berada

pada

kawasan

tropis

mengakibatkan melimpahnya sumberdaya yang beragam pula.

B. Isi
Sonar (Sound Navigation and Ranging) adalah sistem penginderaan
bawah air dengan menggunakan gelombang suara (akustik). Pada awal
pengembangannya sistem sonar ini lebih banyak digunakan dalam bidang

militer terutama pada awal perang dunia II dimana peperangan bawah air
mulai menjadi taktik utama pertempuran laut untuk menghancurkan kekuatan
lawan. Dalam perkembangannya teknologi penginderaan bawah air sangat
banyak dipengaruhi oleh kemajuan teknologi lainnya, terutama teknologi
sensor, elektronika dan microprocessor. Dengan kemajuan teknik pemrosesan
sinyal maka penerapan dalam bidangnon-militer mulai dikembangkan untuk
berbagai aplikasi misalnya untuk pemetaan dasar laut, perikanan dan
sebagainya.

Gambar 1.1 Sonar


Sonar adalah istilah yang pertama kali digunakan oleh orang Amerika.
Sonar merupakan singkatan dari Sound Navigation And Ranging. Sedangkan
orang Inggris lebih suka menyebutnya ASDIC yang merupakan singkatan
dari Anti Submarine Detection Investigation Committee. Tapi secara umum,
bahkan di Indonesia juga, lebih sering digunakan istilah yang digunakan oleh
Amerika, Sonar. Sonar adalah suatu metode yang memanfaatkan perambatan
suara didalam air untuk mengetahui keberadaan obyek yang berada dibawah
permukaan kawasan perairan. Secara garis besar sitem kerja sebuah peralatan
sonar adalah mengeluarkan sumber bunyi yang akan menyebar didalam air.
Bunyi ini akan dipantulkan oleh obyek didalam air dan diterima kembali oleh
sistem sonar tersebut. Berdasarkan penghitungan kecepatan perambatan suara
didalam air maka letak obyek didalam air tersebut dapat diketahui jaraknya
dari sumber suara. Pada peralatan sonar yang lebih canggih, bentuk fisik
ataupun bahan pembentuk obyek itu dapat diketahui juga.

Gambar 1.2 Side Scan Sonar


Side Scan Sonar merupakan salah satu teknologi hidroakustik yang
digunakan untuk memetakan dasar laut dan juga dapat digunakan untuk
melacak pergerakan kawanan ikan. Teknologi ini sudah cukup baik digunakan
untuk mempelajari kehidupan di laut.
Teknologi Side Scan Sonar pertama kali dikembang oleh Dr. Harold
Edgerton dari Massachusetts Institute of Technology pada tahun 1960.
Edgerton yang merupakan seorang profesor teknik elektro juga telah
mengembangkan cahaya kecepatan tinggi untuk fotografi pada tahun 1930.
Edgerton menyadari bahwa fotografi tidak cocok digunakan di air yang
keruh, untuk itu ia menggunakan prinsip dari tabung cahaya untuk akustik.
Dengan memancarkan energi suara secara cepat adan merekam kembalu
pantulannya, ia dapat menciptakan suatu perangkat yang dapat memetakan
dasar perairan.
Pada tahun 1963, untuk pertama kali Edgerton menggunakan Side
Scan Sonar untuk mencari bangkai kapal Vineyard di Teluk Elang,
Massachusetts. Dari tahun 1963 sampai 1967, tim Edgerton yang dipimpin
oleh Martin Klein berhasil mengembangkan side scan sonar dengan dua
chanel. Teknologi tersebut juga telah digunakan untuk membantu Alexander
McKee dalam menemukan Kapal Mary Rose yang telah lama hilang.
Edgerton membuat beberapa ekspedisi si seluruh dunia menggunakan
side scan sonar untuk menacarai beberapa bangkai kapal dan bahkan juga
mencari monster Loch Ness. Di tahun 1975, Edgerton dan Jacques Cousteau

menggunakan side scan sonar untuk mencari bangkai kapal HMHS Britannic
di Laut Aegean. Britanic merupakan kapal rumah sakit Inggris yang
tenggelam pada Perang Dunia I tepatnya tanggal 21 November 1916.
Sekarang ini kapal tersebut merupakan situs sejarah yang paling terkenal di
dunia.
Hasil dari teknologi side scan yang sebenarnya berupa gambar-gambar dalam
lembaran kertas, bukanlah dalam layar komputer. Lembaran kertas ini dibuat
dengan memplotkan gambaran sonar pada kertas gulung. Barulah pada tahun
1980 dimana teknologi komputer telah banyak berkembang, hasil dari side
scan sonar dibuat dalam bentuk digital. Kemajuan teknologi ini
mempermudah pengguna dalam menampilkan dan menyimpan data.
Sampai saat ini, side scan sonar telah banyak mengalami
pengembangan. Sekarang ini side scan sonar telah dilengkapi dengan GPS
sehingga dapat menentukan kedudukan suatu lokasi secara geografis. Aplikasi
side scan sonar juga telah banyak dipergunakan dalam berbagai kegiatan,
diantaranya kegiatan komersial, militer dan aplikasi liburan pipa lepas pantai
termasuk lokasi dan survei, penegakan hukum dan operasi pemulihan
pencarian, arkeologi laut, kapal karam berburu dan mencari ikan.
Cara kerja side scan sonar:

Side scan sonar digunakan dengan cara menariknya di kolom


perairan. Selama perjalannya, side scan sonar secara terus-menerus
memancarkan pulsa akustik ke arah tegak lurus terhadap arah perjalanan.
Gelombang akustik yang dipancarkan tersebut akan mengenai dasar
perairan ataupun objek lain di dasar perairan dan kemudian akan
dipantulkan kembali ke bagian penerima. Gelombang pantulan inilah
yang kita kenal dengan backscatter. Waktu selama gelombang akustik
dipancarkan sampai diterima kembali akan terus dicatat bersama dengan
amplitudonya untuk diplotkan secara deret waktu yang kemudian akan
dikirim ke user. Oleh user data tersebut di ditampilkan untuk kemudian
diinterpretasikan. Proses ini berlangsung secara terus menerus sehingga
terbentuk gambar dari dasar perairan.

Gambar 1.3 Cara kerja side scan sonar


Secara garis besar pengunaan akustik bawah air dalam kelautan
dan perikanan dapat dikelompokkan menjadi lima yakni untuk survey,
bududaya perairan, penelitian tingkah laku ikan, mempelajari penampilan
dan selektifitas alat-alat penangkapan ikan dan lain-lain. Dalam survey
kelautan dapat digunakan untuk menduga spesies ikan, menduga ukuran
individu ikan, kelimpahan/stok sumberdaya hayati laut (plankton dan
ikan).
Aplikasi dalam budidaya perairan dapat digunakan dalam
penentuan/pendugaan jumlah biomass dari ikan dalam jaring/ kurungan
pembesaran (penned fish/enclosure), untuk menduga ukuran individu
ikan dalam jaring/kurungan dan untuk memantau tingkah laku ikan
(dengan telemetering tags), khususnya aktifitas makan (feeding activity).
Sedangkan dalam penelitian tingkah laku ikan dapat digunakan untuk
pergerakan/migrasi ikan (vertical dan horizontal) dan orientasi ikan (tilt
angel), reaksi menghindar (avoidance) tewrhadap gerak kapal dan alat
penangkapan ikan, respon terhadap rangsangan (stimuli) cahaya, suara,
listrik, hydrodinamika, kimia, mekanik dan sebagainya. Untuk kegiatan
aplikasi studi penampilan dan slektifitas alat penangkapan ikan terutama
dalam studi pembukaan mulut trawl, kedalam, posisi dan sebagainya.
Dalam slektifitas penangkapan (prosentase ikan yang tertangkap terhadap
yang terdeteksi didepan mulut trawl atau didalam lingkaran purse seine).
Kegiatan lain yang dapat dikaji dengan teknologi akustik bawah air

adalah sifat sifat-sifat akustik dari air laut dan obyek bawah air,
pendeteksian kapal selam dan obyek-obyek lainya.
Menurut Arnaya (1991) Kegunaan lain dari akustik bawah air
adalah untuk penentuan kedalaman air dalam pelayaran, jenis dan
komposisi dasar laut (lumpur, pasir, kerikil, karang dan sebagainya),
untuk penentuan contour dasar laut, lokasi kapal berlabuh atau
pemasangan bangunan laut, untuk eksplorasi minyak dan mineral didasar
laut, mempelajari proses sedimentasi dan untuk pertahanan keamanan
(pendeteksian kapal-kapal selam dengan pemasangan buoy-system)
Berikut adalah penerapan teknologi akustik bawah air untuk
eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya non-hayati laut, berikut ini
merupakan bagian dari peranan sonar yaitu :
1) Pengukuran Kedalaman Dasar Laut (Bathymetry)
Pengukuran kedalaman dasar laut dapat dilakukan

dengan

Conventional Depth Echo Sounder dimana kedalaman dasar laut


dapat dihitung dari perbedaan waktu antara pengiriman dan
penerimaan pulsa suara. Dengan pertimbangan sistim Side-Scan
Sonar pada saat ini, pengukuran kedalaman dasar laut (bathymetry)
dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemetaan dasar laut (Sea
Bed Mapping) dan pengidentifikasian jenis-jenis lapisan sedimen
dibawah dasar laut (subbottom profilers).
2) Pengidentifikasian Jenis-jenis Lapisan

Sedimen

Dasar

Laut

(Subbottom Profilers)
Seperti telah disebutkan diatas bahwa dengan teknologi akustik
bawah air, peralatan side-scan sonar yang mutahir dilengkapi dengan
subbottom profilers dengan menggunakan prekuensi yang lebih
rendah dan sinyal impulsif yang bertenaga tinggi yang digunakan
untuk penetrasi kedalam lapisan-lapisan sedimen dibawah dasar laut.
Dengan adanya klasifikasi lapisan sedimen dasar laut dapat
menunjang dalam menentukkan kandungan mineral dasar laut
dalam. Dengan demikian teknologi akustik bawah air dapat
menunjang esplorasi sumberdaya non hayati laut.

3) Pemetaan Dasar Laut (Sea bed Mapping)


Dengan teknologi side-scan sonar dalam pemetaan dasar laut, dapat
menghasilkan tampilan peta dasar laut dalam tiga dimensi. Dengan
teknologi akustik bawah air yang canggih ini dan dikombinasikan
dengan data dari subbottom profilers, akan diperoleh peta dasar laut
yang lengkap dan rinci. Peta dasar laut yang lengkap dan rinci ini
dapat digunakan untuk menunjang penginterpretasian struktur
geologi bawah dasar laut dan kemudian dapat digunakan untuk
mencari mineral bawah dasar laut.
4) Pencarian kapal-kapal karam didasar laut
Pencarian kapal-kapal karam dapat ditunjang dengan teknologi sidescan sonar baik untuk untuk kapal yang sebagian terbenam di dasar
laut ataupun untuk kapal yang keseluruhannya terbenam dibawah
dasar laut. Dengan teknologi ini, lokasi kapal karam dapat ditentukan
dengan tepat. Teknologi akustik bawah air ini dapat menunjang
eksplorasi dan eksploitasi dalam bidang Arkeologi bawah air
(Underwater archeology) dengan tujuan untuk mengangkat dan
mengidentifikasikan kepermukaan laut benda-benda yang dianggap
bersejarah.
5) Penentuan jalur pipa dan kabel dibawah dasar laut.
Dengan diperolehnya peta dasar laut secara tiga dimensi dan
ditunjang dengan data subbottom profiler, jalur pipa dan kabel
sebagai sarana utama atau penunjang dapat ditentrukan dengan
optimal dengan mengacu kepada peta geologi dasar laut. Jalur pipa
dan kabel tersebut harus melalui jalur yang secara geologi stabil,
karena sarana-sarana tersebut sebagai penunjang dalam eksplorasi
dan eksploitasi di Laut.
6) Analisa Dampak Lingkungan di Dasar Laut
Teknologi akustik bawah air Side-Scan Sonar ini dapat juga
menunjang analisa dampak lingkungan di dasar laut. Sebagai contoh
adalah setelah eksplorasi dan ekploitasi sumber daya hayati di dasar
laut dapat dilakukan, Side-Scan Sonar dapat digunakan untuk
memonitor perubahan-perubahan yang terjadi disekitar daerah

eksplorasi tersebut. Pemetaan dasar laut yang dilakukan setelah


eksplorasi sumber daya non-hayati tersebut, dapat menunjang analisa
dampak lingkungan yang telah terjadi yang akan terjadi.
Jenis-jenis Sonar
Terdapat berbagai jenis dan model sonar di pasaran sekarang.
Tiap-tiap satunya mempunyai kelebihan yang tersendiri. Walaupun
begitu, dari segi prinsipnya adalah sama.
Penggunaan sonar dapat memudahkan pengesanan ikan di
sekeliling bot dan juga boleh menbantu mengelakkan halangan halangan di laut. Di samping dapat meningkatkan jumlah tangkapan, ia
juga menolong menjimatkan masa operasi dan mengurangkan kos
kerugian peralatan tangkapan semasa operasi di laut.

Gambar 1.4 Sonar aktif

Penggunaan dalam Eksplorasi Laut dan Perikanan


Secara garis besar pengunaan akustik bawah air dalam kelautan
dan perikanan dapat dikelompokkan menjadi lima yakni untuk survey,
bududaya perairan, penelitian tingkah laku ikan, mempelajari penampilan
dan selektifitas alat-alat penangkapan ikan dan lain-lain.
Dalam survey kelautan dapat digunakan untuk menduga spesies
ikan, menduga ukuran individu ikan, kelimpahan/stok sumberdaya hayati
laut (plankton dan ikan). Aplikasi dalam budidaya perairan dapat
digunakan dalam penentuan/pendugaan jumlah biomass dari ikan dalam
jaring/ kurungan pembesaran (penned fish/enclosure), untuk menduga

ukuran individu ikan dalam jaring/kurungan dan untuk memantau


tingkah laku ikan (dengan telemetering tags), khususnya aktifitas makan
(feeding activity).
Sedangkan dalam penelitian tingkah laku ikan dapat digunakan untuk
pergerakan/migrasi ikan (vertical dan horizontal) dan orientasi ikan (tilt
angel), reaksi menghindar (avoidance) tewrhadap gerak kapal dan alat
penangkapan ikan, respon terhadap rangsangan (stimuli) cahaya, suara,
listrik, hydrodinamika, kimia, mekanik dan sebagainya.
Untuk kegiatan aplikasi studi penampilan dan slektifitas

alat

penangkapan ikan terutama dalam studi pembukaan mulut trawl,


kedalam, posisi dan sebagainya. Dalam slektifitas penangkapan
(prosentase ikan yang tertangkap terhadap yang terdeteksi didepan mulut
trawl atau didalam lingkaran purse seine). Kegiatan lain yang dapat dikaji
dengan teknologi akustik bawah air adalah sifat sifat-sifat akustik dari air
laut dan obyek bawah air, pendeteksian kapal selam dan obyek-obyek
lainya.

DAFTAR PUSTAKA
Haller I & Grupp H 2009, Demand by product characteristics: measuring solar
cell quality over time, Science and Technology Policy Research (SPRU),
University of Sussex, UK.
Heechan, K 2009, Solar Energy Markets in China and India, Seri Quarterly, no.
105.
Hollaway, L.C 2011, ThermoplasticCarbon Fiber Composites Could Aid SolarBased Power Generation: Possible Support System for Solar Power Satellites,
Journal of Composites for Construction.
Jacobson, M 2009, Review of Solutions to Global Warming, Air Pollution, and
Energy Security, Energy and Environmental Science.
Jacobson, M.Z & Delucchi, M.A 2009, A Path to Sustainable Energy by 2030,
Scientific American, http://www.scientificamerican.com/article.cfm?id=a-pathtosustainable-energy-by-2030.
Matsumura, M 2009, Utilization of Solar Cell, Research Center for Solar Energy
Chemistry.
Robert J. Urick. 1983. Principle of Underwater Sound, Peninsula Publishing,
Los Altos, California
Trends E-Magazine 2011, The quest for cheap, reliable solar energy, vol. 7.
West, K 2003, Solar Cell Beyond Silicon, Riso International Energy Confrence.