Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam menghadapi masa depan perlu melakukan analisis situasi dan kecenderungan serta
mengenali kekuatan, kelemahan, peluang dan tantangan yang ada dan yang potensiil akan ada.
Berbekal pengalaman yang cukup panjang dari perjalanan promosi kesehatan dari masa para
kemerdekaan sampai sekarang, banyak yang dapat dikemukakan tentang hal-hal tersebut.
Selanjutnya kekuatan yang ada perlu dikonsolidasikan dan ditingkatkan, kelemahan perlu
dikenali dan diperbaiki, peluang perlu dimanfaatkan, sedangkan tantangan harus dihadapi dengan
sabar dan dengan semangat pantang menyerah.

Selanjutnya berdasarkan itu semua kita memantapkan langkah untuk menjalani masa
depan. Hal-hal tersebut telah diuraikan dengan jelas dalam Kebijakan Nasional Promosi
Kesehatan, yang ditetapkan dengan Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 1193 Tahun
2004. Dalam bab ini, sebagian dari uraian tersebut akan dikutip di sini dengan penambahan dan
pengurangan di sana sini.

Sesuai the Bangkok Charter, Promosi kesehatan adalah proses pemberdayaan manusia
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatannya termasuk faktor-faktor yang
mempengaruhinya, sehingga dapat memperbaiki derajat kesehatannya. Berdasarkan pengertian
tersebut, Promosi kesehatan merupakan konsep sehat yang positif dan inklusif yang menekankan
pada kualitas hidup, mental dan spiritual yang sebaik-baiknya. Promosi kesehatan, karenanya
merupakan konsep yang efektif untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas sumber daya
manusia.

Sehubungan dengan itu Promosi Kesehatan merupakan solusi yang sangat tepat terhadap
permasalahan dan tantangan pembangunan kesehatan sekarang dan yang akan datang. Salah satu
hak asasi setiap manusia adalah untuk memperoleh kualitas kesehatan yang setinggi-tingginya,
sebagai prasyarat utama untuk memperoleh kualitas sumber daya manusia yang sebaik-baiknya.
Sedangkan pada hakekatnya pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan kualitas SDM
(Sumber Daya Manusia) itu disamping mendaya gunakan SDA (Sumber Daya Alam) untuk
sebesar-besar manfaat bagi manusia secara berkeadaban, yaitu dengan melestarikan dan tidak
merusaknya.

Konsep Promosi Kesehatan tersebut telah teruji dan dapat menggerakkan peran aktif
masyarakat dalam upaya mereka mememelihara dan meningkatkan kesehatannya sendiri dan
lingkungannya. Promosi Kesehatan dengan berbagai model pelaksanaannya telah menempatkan
masyarakat bukan sebagai obyek tetapi subyek, bukan sasaran tetapi pelaku, dan bukan pasif
menunggu tetapi aktif berperan dalam upaya dan pembangunan kesehatan bagi diri, masyarakat
dan lingkungannya.

Konsep Promosi Kesehatan tersebut juga terbukti sesuai bukan hanya untuk masyarakat di
negara yang telah berkembang, tetapi juga di negara yang sedang berkembang. Ia juga dapat
dilakukan baik di masyarakat perkotaan maupun di perdesaan, bagi masyarakat yang tergolong
kaya, juga bagi masyarakat yang tergolong miskin. Demikian pula Promosi Kesehatan juga perlu
dilakukan oleh mereka yang merasa sehat, agak sehat, atau yang merasa sakit. Karena semua
saja, perlu memelihara dan/atau meningkatkan derajat kesehatannya dalam rangka meningkatkan
kualitas sumber daya manusia dan hidup secara produktif dan berkualitas.

Konsep Promosi Kesehatan akan semakin mantap dengan adanya dukungan WHO dan
dunia internasional, apalagi dengan selalu diselenggarakannya konferensi dunia (direncanakan
setiap tiga tahun). Demikian pula dengan adanya dukungan organisasi profesi internasional yang
juga menyelenggarakan konferensi internasional secara tiga tahunan. Dalam konferensi
internasional tersebut konsep beserta aplikasinya di lapangan serta kendala-kendalanya selalu
dibahas dan dipertajam. Belum lagi WHO juga sering mengadakan pertemuan konsultasi untuk
membahas penyelenggaraan promosi kesehatan di berbagai negara.

Dengan konsep yang mantap dan terus menerus dipertajam ini, Promosi Kesehatan
diharapkan dapat melangkah ke masa depan dengan mantap. Namun demikian konsep tersebut
perlu terus menerus direview dan disesuaikan dengan keadaan serta perkembangan di masa
depan.
Visi, Misi Dan Strategi Yang Jelas

Promosi Kesehatan di Indonesia telah mempunyai visi, misi dan strategi yang jelas,
sebagaimana tertuang dalam SK Menkes RI No. 1193/2004 tentang Kebijakan Nasional Promosi
Kesehatan. Visi, misi dan strategi tersebut sejalan dan bersama program kesehatan lainnya
mengisi pembangunan kesehatan dalam kerangka Paradigma Sehat menuju Visi Indonesia Sehat.

Visi Promosi Kesehatan adalah:

“PHBS 2010”, yang mengindikasikan tentang terwujudnya masyarakat Indonesia baru


yang berbudaya sehat. Visi tersebut adalah benar-benar visioner, menunjukkan arah, harapan
yang berbau impian, tetapi bukannya tidak mungkin untuk dicapai. Visi tersebut juga
menunjukkan dinamika atau gerak maju dari suasana lama (yang ingin diperbaiki) ke suasana
baru (yang ingin dicapai). Visi tersebut juga menunjukkan bahwa bidang garapan Promosi
kesehatan adalah aspek budaya (kultur), yang menjanjikan perubahan dari dalam diri manusia
dalam interaksinya dengan lingkungannya dan karenanya bersifat lebih lestari.

Misi Promosi Kesehatan yang ditetapkan adalah:

1. Memberdayakan individu, keluarga dan masyarakat untuk hidup sehat;


2. Membina suasana atau lingkungan yang kondusif bagi terciptanya phbs di masyarakat;
3. Melakukan advokasi kepada para pengambil keputusan dan penentu kebijakan. Misi
tersebut telah menjelaskan tentang apa yang harus dan perlu dilakukan oleh Promosi
Kesehatan dalam mencapai visinya.

Misi tersebut juga menjelaskan fokus upaya dan kegiatan yang perlu dilakukan. Dari misi
tersebut jelas bahwa berbagai kegiatan harus dilakukan serempak.

Selanjutnya strategi Promosi Kesehatan yang selama ini dikenal adalah ABG, yaitu:
Advokasi, Bina Suasana dan Gerakan Pemberdayaan Masyarakat. Ketiga strategi tersebut
dengan jelas menunjukkan bagaimana cara menjalankan misi dalam rangka mencapai visi.
Strategi tersebut juga menunjukkan ketiga strata masyarakat yang perlu digarap. Strata primer
adalah masyarakat langsung perlu digerakkan peran aktifnya melalui upaya gerakan atau
pemberdayaan masyarakat (community development, PKMD, Posyandu, Poskestren, Pos UKS,
dll). Strata sekunder adalah para pembuat opini di masyarakat, perlu dibina atau diajak bersama
untuk menumbuhkan norma perilaku atau budaya baru agar diteladani masyarakat. Ini dilakukan
melalui media massa, media tradisonal, adat, atau media apa saja sesuai dengan keadaan,
masalah dan potensi setempat. Sedangkan strata tertier adalah para pembuat keputusan dan
penentu kebijakan, yang perlu dilakukan advokasi, melalui berbagai cara pendekatan sesuai
keadaan, masalah dan potensi yang ada. Ini dilakukan agar kebijakan yang dibuat berwawasan
sehat, yang memberikan dampak positif bagi kesehatan.

Dengan visi, misi dan strategi seperti ini, Promosi Kesehatan juga jelas akan melangkah
dengan mantapnya di masa depan. Namun sebagaimana konsep Promosi kesehatan yang
disebutkan dimuka, visi, misi dan strategi tersebut juga harus dapat dioperasionalkan secara lebih
membumi di lapangan, sesuai keadaan, masalah dan potensi setempat. Ujung Tombak
Pembangunan Kesehatan Dan Pilar Indonesia Sehat.

Tujuan program Promosi Kesehatan pada dasarnya adalah untuk meningkatkan


kemampuan masyarakat untuk hidup sehat. Tujuan ini sangat mendukung bahkan mempunyai
kemiripan dengan rumusan tujuan pembangunan kesehatan sebagaimana yang dirumuskan dalam
UU Kesehatan, baik UU Kesehatan Tahun 1960, UU Kesehatan Tahun 1992, maupun Tujuan
dalam SKN Baru, yang direncanakan sebagai naskah akademis Rancangan UU Kesehatan yang
akan datang. Ini menunjukkan bahwa Promosi Kesehatan pada hakekatnya merupakan ujung
tombak pembangunan kesehatan. Dapat dikatakan bahwa semua upaya dan program kesehatan,
sebenarnya perlu diawali dengan upaya atau program kesehatan. Dengan perkataan lain, promosi
kesehatan menyiapkan masyarakat agar menjadi lebih sadar, paham, dan siap untuk berbuat.
Setelah itu diikuti atau dibarengi dengan program-program kesehatan yang memberikan layanan
teknis kesehatan. Maka pantaslah apabila Promosi Kesehatan dinyatakan sebagai ujung tombak
pembangunan kesehatan.

Selanjutnya Promosi Kesehatan yang mempunyai bidang garapan perilaku hidup sehat
adalah satu dari tiga pilar Indonesia Sehat. Pilar lainnya adalah: Lingkungan Sehat dan Pelayanan
Kesehatan yang bermutu, adil dan merata. Sebagai salah satu pilar Indonesia Sehat, Promosi
Kesehatan jelas mempunyai peran yang sangat menentukan dalam pencapaian visi Indonesia
Sehat. Hal ini juga diperkokoh dengan ditetapkannya Promosi Kesehatan sebagai salah satu
program unggulan. Sedangkan di dalam PROPENAS dan Rencana Pembangunan Jangka
Menengah (2004-2009) serta dalam RENSTRA Departemen Kesehatan (2005-2009) Promosi
Kesehatan menempati prioritas dalam urutan pertama. Hal ini juga tercermin dalam alokasi
anggaran yang meningkat cukup tajam mulai tahun 2005.

Perlu disebutkan pula bahwa Upaya pemberdayaan masyarakat yang merupakan bidang
garapan Promosi Kesehatan ditetapkan seagai salah satu sub sistem dalam Sistem Kesehatan
Nasional yang baru. Promosi kesehatan (penyuluhan kesehatan) juga ditetapkan dalam Stándar
Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan untuk kabupaten/kota; Promosi Kesehatan juga
ditetapkan sebagai pelayanan wajib Puskesmas. Selain itu juga telah ditetapkan jabatan
fungsional Penyuluh Kesehatan Masyarakat dan tunjuangan jabatannyapun telah diberikan. Ini
semua menunjukkan bahwa peran Promoisi Kesehatan dalam pembangunan kesehatan pada masa
yang akan datang tetap penting dan karenanya memerlukan perhatian lebih saksama. Namun
dalam operasionalnya di lapangan, diperlukan kepekaan yang tinggi dari segenap petugasnya
serta diperlukan kreatifitas dalam menerjemahkannya sesuai keadaan, masalah dan potensi
setempat.

Metode Dan Tehnik Yang Handal

Melalui pengalaman yang cukup panjang, dan dengan dukungan jaringan kemitraan yang
cukup kuat dari dunia internasional, Promosi Kesehatan mempunyai berbagai metode dan tehnik
yang cukup handal dalam pemberdayaan masyarakat. Itu semua telah dituangkan dalam berbagai
panduan atau pedoman tertulis, seperti: Panduan Daerah Kerja Intensif PKM, Pendekatan
Edukatif, KIE, Panduan PKMD, Penyelenggaraan Posyandu, ARRIF, PHBS, Panduan Advokasi,
Panduan Kampanye atau sosialisasi program kesehatan (dalam Bina Susana), dll.

Dalam kaitan itu juga telah diselenggarakan pelatihan dan atau sosialisasi panduan atau
pedoman tersebut bagi para pejabat dan pelaksana di daerah. Demikian pula telah dikembangkan
daerah-daerah percontohan atau uji coba di beberapa daerah. Selain itu juga telah dikembangkan
proto type media, misalnya untuk : Kesehatan Keluarga dan Gizi, Garam Yodium, Kawasan
Tanpa Rokok, HIV/AIDS, dll. Selain itu, bekerjasama dengan Badan Litbang Depkes dan BPS
juga telah dikembangkan sistem surveilans perilaku beresiko terpadu dan sistem informasi
PHBS. Dalam kaitan itu telah dilakukan pemetaan PHBS di berbagai daerah.

Selanjutnya dalam berbagai konferensi internasional/dunia tentang promosi kesehatan,


metode dann tehnik promosi kesehatan tersebut juga selalu memperoleh perhatian. Demikian
pula pada pertemuan-pertemuan nasional selalu membahas inovasi atau setidaknya improvisasi
metode dan tehnik yang dilakukan oleh berbagai daerah, program atau LSM. Tanpa mengurangi
apresiasi terhadap metode dan tehnik yang telah ada dan yang dikembangkan selama ini, perlu
pula terus menerus dikembangkan metode dan tehnik yang lebih sesuai untuk masa yang akan
datang. Namun demikian, apabila diperlukan dapat pula menghidupkan, memberi “ruh” atau
semangat baru (revitalisasi) metode dan tehnik yang telah ada, misalnya : revitalisasi PKMD,
dsb.

Kemitraan Dan Jaringan Yang Luas

Promosi Kesehatan mengembangkan kerjasama dengan berbagai pihak dalam model


jaringan kemitraan. Kerjasama dengan model Jaringan dan/atau Kemitraan ini membuat
kerjasama menjadi lebih hidup dan dinamis. Dalam jaringan dan/atau kemitraan ini tidak perlu
ada organisasi yang kaku dan mekanisme kerja yang baku. Yang penting jaringan dan /atau
kemitraan ini dikembankan atas dasar kesetaraan (equity), keterbukaan (transparancy) dan saling
memberi manfaat (mutual benefit). Pada saat ini Promosi Kesehatan mempunyai jaringan
kemitraan cukup luas.

Kemitraan dengan berbagai program kesehatan, adalah kerjasama dalam menggarap pesan-
pesan kesehatan. Setiap program kesehatan pasti memerlukan dukungan aspek perilaku yang
merupakan sisi lain dari tehnis program (the other side of the coin). Kemitraan seperti ini pada
masa yang akan datang tentu akan perlu terus menerus dilakukan, karena program kesehatan
tanpa promosi kesehatan akan buta, sebaliknya promosi kesehatan tanpa program kesehatan akan
lumpuh.

Kemitraan dengan lintas sektor, adalah kerjasama dengan sektor di luar kesehatan.
Kerjasama tersebut terutama untuk saling memberi dukungan dalam membuat kebijakan yang
sehat serta mensosialisasikannya kepada masyarakat luas. Kemitraan ini pada masa yang akan
datang akan dan perlu terus menerus dikembangkan karena masalah kesehatan tidak dapat
dipisahkan dari masalah lain di luar bidang kesehatan. Masalah-masalah tersebut akan saling
mempengaruhi, dan karenanya perlu saling memberi dukungan.

Kemitraan dengan Organisasi Kemasyarakatan, Organisasi Profesi dan Lembaga Swadaya


Masyarakat, adalah kerjasama dalam memberdayakan masyarakat di bidang kesehatan. Di sini
dapat saling bertukar informasi dan saling belajar tentang berbagai hal. Fokusnya adalah agar
masyarakat dapat lebih berdaya dalam mengatasi, melindungi dan meningkatkan kesehatan diri
dan lingkungannya. Dalam kaitan itu masyarakat juga diharapkan berdaya atau mampu
memberikan masukan serta mengawasi upaya kesehatan yang dilakukan pemerintah. Baik
melalui “koalisi”, “wali amanah” ataupun “dewan penyantun” yang dibentuk di tingkat provinsi,
kabupaten atau kecamatan.

Kemitraan dengan pihak swasta dilakukan untuk menjalin kerjasama yang saling
menguntungkan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia, terutama di bidang kesehatan.
Kerjasama tersebut juga termasuk dalam menghimpun sumber daya yang diperlukan untuk
mendukung upaya kesehatan dalam rangka pengembangan SDM secara keseluruhan. Kemitraan
ini jelas perlu dikembangkan lebih lanjut, karena pihak swasta pada umumnya juga memerlukan
manusia yang sehat agar dapat menggunakan produk dan jasanya.

Kemitraan-kemitraan tersebut agar lebih berhasil guna dan berdaya guna diwadahi dalam
suatu jaringan, yang memungkinkan pihak-pihak yang bermitra dapat berinteraksi secara lebih
leluasa kapan dan di mana saja memerlukannya.

Selain jaringan kemitraan di tingkat nasional, juga ada kemitraan antara Pusat dan Daerah,
yang juga dikembangkan atas dasar kesetaraan, keterbukaan dan saling menguntungkan, sesuai
dengan era desentralisasi sekarang ini. Selain itu juga ada jaringan kemitraan regional dan global,
seperti dengan sesama negara ASEAN, dengan negara-negara anggota Mega Country Network,
dengan organisasi profesi internasional, dll. Jaringan kemitraan ini juga terus menerus perlu
dikembankan, mengingat batas-batas antar negara kini sudah menjadi semakin tipis dan longgar.
B. Tinjauan Teori

Pengertian PHBS

PHBS merupakan Visi Nasional Promosi Kesehatan yang mengarahkan individu- individu
dalam rumah tangga (keluarga) dan masyarakat dalam rangka mencegah timbulnya penyakit dan
masalah-masalah kesehatan lainnya, menanggulangi penyakit dan masalah-masalah kesehatan
lainnya untuk meningkatkan derajat kesehatan, memanfaatkan yankes (layanan kesehatan) serta
mengembangkan dan menyelenggarakan UKBM

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sekumpulan perilaku yang dipraktekkan atas dasar
kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan seseorang atau keluarga dapat menolong
diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah upaya untuk memberikan pengalaman
belajar bagi perorangan, kelompok dan masyarakat dengan cara membuka jalur komunikasi,
memberikan informasi dan melakukan edukasi guna meningkatkan pengetahuan, sikap dan
perilaku melalui pendekatan advokasi, bina suasana dan melakukan gerakan pemberdayaan
masyarakat sehingga dapat menerapkan cara hidup sehat.

Kondisi sehat dapat dicapai dengan mengubah perilaku dari yang tidak sehat menjadi
perilaku sehat, dan menciptakan lingkungan sehat di keluarga dan masyarakat. Oleh karena itu
kesehatan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan oleh setiap individu serta diperjuangakan oleh
semua pihak secara keseluruhan (totalitas).

Manfaat Perilaku Hidup Bersih dan Sehat adalah sebagai suatu upaya untuk membantu
masyarakat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri dalam tatanan rumah tangga, institusi
pendidikan dan tempat ibadah agar dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dalam rangka
menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Apabila seluruh anggota keluarga dan
masyarakat menjadi sehat maka anak akan tumbuh cerdas dalam lingkungan yang sehatِ
masyarakat akan mampu mewujudkan lingkungan yang sehatِ mampu mencegah dan
menaggulangi penyakit dan masalah kesehatan serta biaya untuk kesehatan (penyakit) dapat
dimanfaatkan untuk keperluan lain
PHBS merupakan Visi Nasional Promosi Kesehatan yang mengarahkan individu-individu
dalam rumah tangga (keluarga) masyarakat Indonesia telah melaksanakan PHBS dalam rangka:

1. Mencegah timbulnya penyakit dan masalah-masalah kesehatan lainnya


2. Menanggulangi penyakit dan masalah-masalah kesehatan lainnya untuk meningkatkan
derajat kesehatan.
3. Memanfaatkan yankes (layanan kesehatan)
4. Mengembangkan dan menyelenggarakan UKBM (Usaha Kesehatan Berbasis
Masyarakat).

Kelompok Sasaran dan Pesan-Pesan Kunci

Dalam melakukan pendekatan PHBS kepada masyarakat penting untuk menetapkan


kelompok sasaran dan pesan-pesan kunci. Penetapan kelompok sasaran penting dilakukan untuk
memperjelas target obyek yang harus dibidik, artinya subyek pengemban misi sosialisasi dan
advokasi PHBS harus terlebih dahulu mengidentifikasi obyek kelompok masyarakat yang akan
digarap. Terlebih lagi dengan keterbatasan waktu dan tenaga tentunya akan lebih efektif jika
sudah ada penetapan kelompok sasaran sehingga lebih mudah dalam membuat skala prioritas.

Kelompok – kelompok sasaran dalam pendekatan PHBS antara lain yaitu:

1. Rumah Tangga

Rumah tangga sebagai elemen terkecil dari masyarakat sangat memegang peranan penting
dalam peningkatan kesadaran PHBS, rumah tangga yang sehat tentunya akan menjamin
terwujudnya masyarakat yang sehat, begitu pula sebaliknya.

2. Tempat-tempat umum (TTU)

Tempat-tempat umum (TTU) memegang andil yang cukup besar dalam PHBS. Beban pada
siang hari yang diperkirakan jumlahnya bertambah menjadi 3 kali lipat daripada malam hari
menjadi tolak ukur kepadatan dan frekwensi utility/penggunaan fasilitas umum.
3. Sekolah

Sekolah bila digarap dengan baik merupakan media peningkatan kesadaran PHBS yang
paling efektif. Hal ini disebabkan oleh daya ingat dan daya tangkap terhadap sesuatu lebih
tajam oleh usia sekolah bila dibdaningkan dengan usia selepas masa sekolah. Dan bila kita
lihat tentunya hampir sebagian besar masyarakat Indonesia, pernah mengenyam masa sekolah.

4. Tempat kerja

Sebagaimana telah dijabarkan di poin b. Bahwa pada siang hari memiliki beban 3 kali lipat
dibandingkan dengan malam hari. Tentunya selain konsentrasi beban berada pada tempat-
tempat umum (TTU) tentunya konsentrasi beban juga terbagi pada tempat-tempat kerja.
Dimana di Indonesia terdapat banyak sekali sektor usaha (kerja) baik yang berskala besar
maupun kecil.

5. Institusi kesehatan

Institusi kesehatan menjadi salah satu kelompok sasaran dalam pendekatan PHBS
dikarenakan fungsi dan peranan institusi kesehatan itu sendiri yaitu memberikan pelayanan
kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat. Dapat dikatakan bila institusi kesehatannya
menerapkan PHBS minimal dapat memberikan pelayanan sebagaimana tugas pokok dan
fungsinya sebagai penyedia pelayanan kesehatan masyarakat. Disamping itu pendekatan
PHBS juga akan efektif jika disertai dengan perumusan pesan-pesan kunci yang akan di
sosialisasikan kepada kelompok- kelompok sasaran dalam masyarakat. Hal ini penting untuk
dilakukan sebagai usaha untuk membetuk komunikasi yang efektif dengan obyek kelompok
sasaran yang tentunya punya latar belakang pengetahuan yang multidimensi tentang sanitasi.

Pesan-pesan kunci PHBS seperti yang tercantum dalam Rencana Promosi Kesehatan
dalam berbagai level antara lain adalah:

1. Stakeholder
2. PHBS di 5 tatanan:

a) Rumah tangga Sehat


b) Sekolah Sehat
c) Tempat Kerja Sehat
d) Tempat Ibadah Sehat
e) Institusi Kesehatan Sehat

3. Desa Siaga
4. Kemitraan

a) Kemitraan lintas program dan sektor


b) Kemitraan Pemuda Peduli Siaga
c) Kemitraan dengan PKK

LINGKUNGAN SEHAT

Lingkungan hidup adalah kondisi di sekitar hidup kita, di dalam rumah, di halaman rumah,
termasuk di lingkungan kerja (bisa kantor, toko ataupun pasar bagi yang berjualan). Setengah
hidup kita berada di tempat kerja. Karena itu tidak cukup hanya membenahi rumah saja, tetapi
lingkungan kerja kita pun perlu disehatkan.

Pengaruh lingkungan terhadap kesehatan manusia sangat besar. Manusia bersentuhan


dengan panas, dingin, angin dan lembab, termasuk kuman. Sistem tubuh kita mampu beradaptasi.
Tetapi jika kondisi ini ekstrim (terlalu panas, terlalu dingin, sangat lembab, banyak angin) bisa
mengganggu kesehatan. Yang paling berbahaya adalah lingkungan yang kotor, kumuh dan
lembab. Sampah berserakan, air limbah rumah tangga tergenang, yang pasti akan banyak lalat,
nyamuk, serangga dan kuman (bakteri, virus, jamur, parasit) dan udara pun kotor berbau.

Lingkungan yang bersih sangat tidak disukai oleh kuman, lalat dan nyamuk. Sebaliknya
lingkungan yang kotor menjadi ‘surga’ bagi serangga dan kuman (bakteri, virus, jamur, parasit).
Jika lingkungan hidup kita bersih, maka udaranya segar dan bersih. Udara semacam ini adalah
udara yang sehat. Berarti setiap saat kita menghirup ‘kesehatan’. Jika lingkungannya kumuh,
udaranya juga kotor, berarti setiap hari kita menghirup ‘penyakit’.

Kebersihan lingkungan sangat tergantung dari kebiasaan hidup bersih, mulai dari mandi,
gosok gigi, mencuci tangan dan berwudhu. KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARI
IMAN. Orang yang rajin beribadah, tecermin dari rumah dan lingkungannya yang bersih dan
sehat. Bagi umat Islam, membersihkan lingkungan itu ibadah, berarti dia melindungi
keluarganya, tetangganya dan orang lain dari penyakit, dan juga memberikan udara yang bersih
dan segar bagi orang disekitarnya.

SYARAT LINGKUNGAN BERSIH DAN SEHAT

1. Sampah dikumpulkan, dibakar atau ditanam.


2. Cukup cahaya matahari di dalam kamar.
3. Ventilasi rumah/keluar masuknya udara di dalam kamar cukup.
4. Halaman ditanam bunga atau tanaman lain agar udaranya segar dan banyak oksigen.
5. Ada sumber air bersih (sumur, PDAM, dsb).
6. Ada WC yang memenuhi syarat.
7. Air limbah rumah tangga tidak tergenang (ada SPAL).

Indikator yang digunakan dalam pendataan PHBS meliputi sepuluh indikator perilaku,
antara lain:

1. Tidak merokok
2. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
3. Pemberian ASI eksklusif
4. Imunisasi
5. Balita ditimbang
6. Sarapan pagi
7. Makan buah dan sayur
8. Cuci tangan
9. Gosok gigi
10. Olahraga

Kesehatan itu milik kita yang paling berharga. Sakit yang berulang-ulang (karena Pola
Hidup yang salah) bisa menghabiskan tabungan yang kita susun untuk masa depan keluarga.
Demi anak-anak dan masa depan mereka, amalkan PHBS sekarang juga Dalam lingkup rumah
tangga, untuk ber-PHBS kegiatanya cukup banyak seprti tidak merokok dalam rumah, memberi
ASI, menimbang balita secara rutin, memberantas jentik nyamuk, dll. Khusus dalam program
PAMSIMAS, sebagaimana tercakup dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), ada 5
pilar ver-PHBS, yaitu: Stop Buang Air Besar Sembarangan (STOP BABS), Cuci Tangan Pakai
Sabun (CTPS)ِ Pengamanan Air Minum Rumah Tangga, Pengelolaan Sampah Rumah Tangga
dan Pengelolaan Air Limbah Rumah Tangga

STOP BABS

Latar Belakang

Sampai saat ini, diperkirakan sekitar 47% masyarakat Indonesia masih buang air besar
sembarangan, ada yang berperilaku buang air besar ke sungai, kebon, sawah, kolam dan tempat-
tempat terbuka lainnya. Perilaku seperti tersebut jelas sangat merugikan kondisi kesehatan
masyarakat, karena tinja dikenal sebagai media tempat hidupnya bakteri coli yang berpotensi
menyebabkan terjadinya penyakit diare. Tahun 2006 sebesar 423 per 1000 penduduk terserang
diare dengan angka kematian sebesar 2,52 %.
Berbagai alasan digunakan oleh masyarakat untuk buang air besar sembarangan, antara
lain anggapan bahwa membangun jamban itu mahal, lebih enak BAB di sungai, tinja dapat untuk
pakan ikan, dan lain-lain yang akhirnya dibungkus sebagai alasan karena kebiasaan sejak dulu,
sejak anak-anak, sejak nenek moyang, dan sampai saat ini tidak mengalami gangguan kesehatan.
Alasan dan kebiasaan tersebut harus diluruskan dan dirubah karena akibat kebiasaan yang tidak
mendukung pola hidup bersih dan sehat jelas-jelas akan memperbesar masalah kesehatan.
Dipihak lain bilamana masyarakat berperilaku higienis, dengan membuang air besar pada temapt
yang benar, sesuai dengan kaidah kesehatan, hal tersebut akan dapat mencegah dan menurunkan
kasus-kasus penyakit menular. Dalam kejadian diare misalnya, dengan meningkatkan akses
masyarakat terhadap sanitasi dasar, dalam hal ini meningkatkan jamban keluarga, akan dapat
menurunkan kejadian diare sebesar 32%.

Mengapa harus STOP BABS

Tinja atau kotoran manusia merupakan media sebagai tempat berkembang dan berinduknya
bibit penyakit menular (missal kuman/bakteri, virus dan cacing). Apabila tinja tersebut dibuang
di sembarang tempat, missal kebon, kolam, sungai, dll maka bibit penyakit tersebut akan
menyebar luas ke lingkungan, dan akhirnya akan masuk dalam tubuh manusia, dan berisiko
menimbulakan penyakit pada seseorang dan bahkan bahkan menjadi wabah penyakit pada
masyarakat yang lebih luas.

Stop buang air besar sembarangan (STOP BABS) akan memberikan manfaat dalam hal-hal
sebagai berikut:

1. Menjaga lingkungan menjadi bersih, sehat, nyaman dan tidak berbau


2. Tidak mencemari sumber air yang dapat dijadikan sebagai air baku air minum atau air untuk
kegiatan sehari-hari lainya seperti mandi, cuci, dll
3. Tidak mengundang serangga dan binatang yang dapat menyebarluaskan bibit penyakit,
sehingga dapat mencegah penyakit menular

Kemana tinja harus dibuang?


Mengingat tinja merupakan bentuk kotoran yang sangat merugikan dan membahayakan
kesehatan masyarakat, maka tinja harus dikelola, dibuang dengan baik dan benar. Untuk itu tinja
harus dibuang pada suatu “wadah” atau sebut saja Jamban keluarga.

Jamban yang digunakan masyarakat bisa dalam bentuk jamban yang paling sederhana, dan
murah, misal jamban CEMPLUNG, atau jamban yang lebih baik, dan lebih mahal misal jamban
leher angsa dari tanah liat, atau bahkan leher angsa dari bahan keramik.

Prinsip utama tempat pembuangan tinja adalah suatu wadah atau tempat yang mampu
menjaga atau mencegah tinja tersebut tidak mencemari air (terutama air untuk sumber air
minum) dan tidak mencemari tanah.

Siapa yang harus menggunakan jamban

Semua anggota keluarga harus menggunakan jamban untuk membuang tinja, baik anak-
anak (termasuk bayi dan anak balita) dan lebih-lebih orang dewasa. Dengan pemikiran tertentu,
oleh orang tua seringkali tinja bayi dan anak-anak dibuang sembarangan oleh orang tuanya, misal
kehalaman rumah, kebon, dll. Hal ini perlu diluruskan, bahwa tinja bayi dan anak-anak juga
harus dibuang ke jamban, karena tinja bayi dan anak-anak tersebut sama bahayanya dengan tinja
orang dewasa.

Apa peran kader masyarakat.

Kader kesehatan, atau kelompok masyarakat desa yang berkesadaran dan berkepentingan
untuk memajukan dan meningkatkan derajat kesehatan mempunyai peran yang sangat penting
dalam promosi perilaku stop buang air besar sembarangan, yaitu anttara lain:

1. Memanfaatkan setiap kesempatan di dusun/desa untuk memberikan penyuluhan tentang


pentingnya perilaku buang air besar yang benar dan sehat .
2. Melakukan pendataan rumah tangga yang anggota keluarganya masih BAB Sembarangan,
mendata rumah tangga yang sudah memiliki jamban “sederhana” dan mendata keluarga yang
sudah memiliki jamban yang sudah lebih sehat (leher angsa)
3. Mengadakan kegiatan yang sifatnya memicu, mendampingi, dan memonitor perilaku
masyarakat dalam menghentikan kebiasaan buang air besar sembarangan, sehingga dalam
tatanan dusun/desa terwujud kondisi terbebas dari perilaku buang air besar sembarangan.
4. Menggalang daya (bisa tenaga ataupun dana) antar sesama warga untuk memberi bantuan
dalam pembangunan jamban bagi warga yang lain
5. Menjadi resource-lingker (penghubung) antar warga masyarakat dengan berbagai pihak terkait
yang berkepentingan dalam mewujudkan jamban yang sehat (improved jamban).

CATATAN PENTING

Disamping hal-hal tersebut diatas, Kader kesehatan juga harus mengetahui ciri utama dari
pendekatan yang dianut dalam Program Pamsimas, yang disebut CLTS/STBM. Pendekatan ini
adalah digalakannya pemicuan untuk merubah perilaku masyarakat dalam menuju buangan air
besar yang benar dan sehat secara totalitas dan keseluruhan dalam desa/dusun tersebut. Adapun
prinsip dan ciri penting CLTS/STBM adalah sebagai berikut:

Prinsip – prinsip CLTS/STBM, adalah :

1. Tanpa subsidi kepada masyarakat


2. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban
3. Masyarakat sebagai pemimpin
4. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan - perencanaan –
pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan.

Ciri-ciri penting dalam CLTS/STBM adalah :

1. Inisiatif masyarakat
2. Total atau keseluruhan, keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara kolektif adalah kunci
utama.
3. Solidaritas masyarakat, laki dan perempuan, kaya dan miskin, semua akan sangat terlibat
dalam pendekatan ini.

CUCI TANGAN PAKAI SABUN

Latar belakang

Dari aspek kesehatan masyarakat, khususnya pola penyebaran penyakit menular, cukup
banyak penyakit yang dapat dicegah melalui kebiasan atau perilaku higienes dengan cuci tangan
pakai sabun (CTPS), seperti misal penyakit diare, typhus perut, kecacingan, flu burung, dan
bahkan flu babi yang kini cukup menghebohkan dunia.

Seperti halnya perilaku buang air besar sembarangan, perilaku cuci tangan, terlebih cuci
tangan pakai sabun merupakan masih merupakan sasaran penting dalam promosi kesehatan,
khususnya terkait perilaku hidup bersih dan sehat. Hal ini disebabkasn perilaku tersebut masih
sangat rendah, dimana baru 12% masyarakat yang cuci tangan pakai sabun setelah buang air
besar, hanya 9% ibu-ibu yang mencuci tangan pakai sabun setelah membersihkan tinja bayi dan
balita, hanya sekitar 7% masyarakat yang cuci tangan pakai sabun sebelum memberi makan
kepada bayi, baru 14% masyarakat cuci tangan pakai sabun sebelum makan. Dengan perilaku
cuci tangan yang benar, yaitu pakai sabun dan menggunakan air bersih yang mengalir akan
dapat menurunkan kejadian diare sampai 45%.

Mengapa perlu CTPS

Perilaku cuci tangan pakai sabun ternyata bukan merupakan perilaku yang biasa dilakukan
sehari-hari oleh masyarakat pada umumnya. Rendahnya perilaku cuci tangan pakai sabun dan
tingginya tingkat efektifitas perilaku cuci tangan pakai sabun dalam mencegah penularan
penyakit, maka sangat penting adanya upaya promosi kesehatan bermaterikan peningkatan cuci
tangan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami betapa perilaku ini harus dilakukan, antara lain
karena berbagai alasan sbb:
1. Mencuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyakit yang dapat menyebabkan ratusan ribu
anak meninggal setiap tahunya.
2. Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup
3. CTPS adalah satu-satunya intervensi kesehatan yang paling “cost-effective” jika dibanding
dengan hasil yang diperolehnya.

Kapan harus cuci tangan

Ada 5 waktu kritis untuk cuci tangan pakai sabun yang harus diperhatikan, yaitu saat-saat
sebagai berikut:

1. Sebelum makan
2. Sebelum menyiapkan makanan
3. Setelah buang air besar
4. Setelah menceboki bayi/anak
5. Setelah memegang unggas/hewan

Selain 5 waktu kritis tersebut, ada beberap waktu lain yang juga penting dan harus dilakukan cuci
tangan, yaitu:

• Sebelum menyusui bayi


• Setelah batuk/bersin dan membersihkan hidung
• Setelah membersihkan sampah
• Setelah bermain di tanah atau lantai (terutama bagi anak-anak)

Apa manfaat cuci tangan

Ada beberapa manfaat yang diperoleh setelah seseorang melakukancuci tangan pakai sabun,
yaitu antara lain:

1. Membunuh kuman penyakit yang ada ditangan


2. Mencegah penularan penyakit, seperti disentr, flu burung, flu babi, typhus, dll
3. Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman
Bagaimana mencuci tangan yang benar

1. Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun seperlunya
2. Bersihkan telapak tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari dan punggung tangan
3. Bersihkan tangan pakai lap bersih.

Apa peran kader masyarakat

1. Memanfaatkan setiap kesempatan di dusun/desa untuk memberikan penyuluhan tentang


pentingnya perilaku CTPS
2. Mengadakan kegiatan yang sifatnya “suatu gerakan” cuci tangan pakai sabun sehingga dapat
menarik perhatian masyarakat, seperti pada hari besar kesehatan, pesta desa, dll

PENGAMANAN AIR MINUM RUMAH TANGGA

Mengapa perlu air bersih

Air merupakan kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-hari untuk minum, mandi, cuci,
dan keperluan lainnya. Bila kita tidak menggunakan air yang bersih. Air banyak dijumpai di
alam, dan merupakan benda social yang melimpah ruah seperti kita lihat di laut, sungai, danau
dan lain-lain. Namun demikian air yang bersih yang sehat merupakan benda ekonomi, yang kini
susah untuk diperoleh bagi masyarakat.

Air merupakan suatu unsure yang sangat penting dalam aspek kesehatan masyarakat,
dimana air dapat menjadi sumber dan tempat perindukan dan media kehidupan bibit penyakit.
Banyak penyakit yang tterkait dengan air, baik air kotor dan bahkan juga air yang bersih secara
fisik, seperti diare, demam berdarah, dll.

Air dialam akan digunakan sebagai sumber air baku air minum bagi masyarakat. Air yang
tercemar akan menyebabkan susah dalam pengolahanya, memerlukan teknologi yang kadang-
kadang canggih. Untuk itu air dialam harus dipelihara, dan diccegah dari pencemaran.
Apa syarat air bersih

Air bersih dan air minum harus memenuhi syarat kesehatan, baik syarat fisik, biologi
maupun kimiawi. Syarat fisik dapat dibedakan melalui inder kita, seperti dapat dilihat, dirasa,
dicium, diraba. Secara fisik air harus memenuhi syarat sbbi: air tidak berwarna, bening/jernih
air tidak keruh, bebas dari lumpur, sampah, busa, dll air tidak berasa, tidak rasa asin, tidak rasa
asam, tidak payau air tidak bberbau, tidak bau amis, anyir, busuk, tdak bau belerang, dll.

Apa manfaat air

Air yang bersih dan sehat, akan memberi menfaat bagi kesehatan masyarakat, seprti
terhindar dari gangguan penyakit diare, cholera, disentri, thypus, penyakit kulit, dll Disamping
dari aspek penyakit, air juga sangat penting untuk aspek kebersihan diri, atau hygiene
perorangan.

Dari sumber air bersih dapat diperoleh

Air bersih untuk kebutuhan dapat diperoleh dari berbagai sumber. Namun seringkali
sumber air bersih jauh dari lokasi tempat tinggal suatu kelompok masyarakat, sehingga sulit dan
membutuhkan tenaga dan biaya untuk mendapatkannya. Sumber-sumber air tersebut adalah:
mata air air sumur (bias sumur dalam atau sumur dangkal) air ledeng atau perusaahan air
minum air hujan air dalam kemasan

Bagaimana menjaga sumber air bersih

Sumber mata air harus dilindungi dari bahan pencemar, baik cemaran fisik, cemaran
biologi maupun cemaran kimiawi Sumur gali, sumur pompa, kran-kran umum dan juga mata air
harus dijaga bangunannya agar tidak rusak, seperti lantai sumur tidak boleh retak, tidak rusak,
bibir sumur diplester, dll Lingkungan sumber air harus dijaga kebersihannya, seprti tidak boleh
untuk tempat pembuangan sampah, tidak ada genangan air, dll Gayung, timba, dan ember
pengambil air harus dijaga tetap bersih, tidak diletakan di lantai. Jarak sumber air (missal sumur)
tidak boleh berdekatan dengan tangki jamban keluarga, tidak boleh ada berdekatan dengan
kandang ternak. Dan lain-lain
Bagaimana menjaga air minum yang ada di rumah supaya sehat

Meskipun air terlihat bersih, namun air tersebut belum tentu bebas dari kuman penyakit.
Untuk itu air harus direbus dulu sampai mendidih, karena kuman akan mati pada suhu 100
derajat C (saat air ,mendidih). Disamping cara tersebut diatas, ada beberapa cara untuk
membunuh kuman dalam air, misal derngan member bahan-bahan kimia terbatas yang sudah
dinyatakan aman bagi kesehatan (misal air rahmat, sodis, dll)

Apa peran kader

1. Melakukan pendataan rumah tangga mana yang sudah dan yang belum memiliki ketersedian
air bersih/air minum di rumahnya.
2. Bersama dengan tokoh masyarakat/pemerintah desa, berusaha untuk mencari sumber air,
berupaya mencari jalan kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan air bersih bagi
lingkungannya
3. Membentuk kelompok pemakai air (pokmair misalnay) untuk mengawasi sumber air,
memelihara saluran air dan memperbaiki kerusakan bilamana terjadi
4. Menggalang pihak lain, termasuk dunia usaha untuk memberi bantuan dalam penyedian air
bersih dan air minum.
5. Memanfaatkan setiap kesemapatan untuk memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang
hidup bersih dan sehat , tentang air yang sehat bagi masyarakat, dll.

PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA

Apa itu sampah

Sampah adalah limbah yang bersifat padat, terdiri dari bahan yang bias membusuk
(organic) dan tidak membusuk (anorganik) yang dianggap sudah tidak berguan lagi dan harus
dikelola agar tidak membahayakan lingkungan dan masyarakat. Namun demikian anggapan
bahwa sampah itu tidak berguna kini mulai memudar, karena ternyata kini sampah justru
mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi sehingga “sampah” bias menjadi barang rebutan,
untuk diolah atau digunakan kembali, dan kemudian dijula sebagai bahan komoditas yang sangat
menggiurkan.
Sampah yang dihasilkan di pedesaan relative sedikit dibandingkan dengan lahan di desa
tersebut. Jenis sampah pada umumnya berupa bahan-bahan organic yang mudah hancur secara
alami oleh alam-lingkungan

Mengapa sampah perlu dikelola

Sampah harus dikelola dengan baik dan benar, karena bila tidak akan dapat menjadi tempat
perindukan vector bibit penyakit penyakit. Sampah akan menarik binatang-binatang yang dikenal
dalam aspek kesehatan dapat menyebarluaskan penyakit, seperti misal lalat, kecoa , tikus, dan
anjing.

Penyakit-penyakit yang berkaitan erat dengan sampah yang tidak dikelola dengan benar
antara lain : demam berdarah, disentri, thypus, dan lain-lain

Jenis-jenis sampah

Sampah digolongkan menjadi dua jenis yaitu sampah basah (organic) dan sampah kering
(non-organik). Sampah basah biasanya akan mudah mengalami pembusukan, seperti misal sisa
makanan, sisa sayuran, buah-buahan, daun, dan lain-lain. Sampah kering relative sukar dan
bahkan tidak dapat mebusuk, separti misal kayu, sisa kertas, botol, plastic, sisa-sisa bangunan
( pecahan batu, batu bata) seng, logam, kaca, dan lain-lain

Kemana sampah dibuang

Untuk pedesaan, pada umumnya sampah biasanya ditangani dengan beberapa cara, yaitu :
Dengan dibakar Dibuang ke lubang galian Dibuat kompos

Apa itu 3R

Namun dengan berkembangnya dunia usaha dan juga ilmu pengetahuan, kini sampah
dapat dikelola dengan lebih menguntungkan, yaitu yang dikenal dengan istilah pendekatan 3R
( reduce, reuse dan recycle).
Reduce, adalah upaya pengelolaan sampah dengan cara mungurangi volume sampah itu
sendiri. Cara ini sifatnya lebih mengarah ke pendekatan pencegahan. Misal kalo beli sayuran
pilihlah sayuran yang sesedikit mungkin dibuang, kalo ambil makanan jangan berlebihan,
sehingga akan mengurangi makanan yang menjadi sampah.

Reuse, yaitu suatu cara untuk menggunakan kembali sampah yang ada, untuk keperluan
yang sama atau fungsinya yang sama. Misal botol sirop digunakan kembali untuk botol sirop,
atau untuk botol kecap. Tentunya proses ini harus dilakukan dengan baik, missal dengan dicuci
yang benar.

Recycle, atau daur ulang, adalah pemanfaatan limbah melalui pengolahan fisik atau kimia,
untuk mengahsilkan produk yang sama atau produk yang lain. Misal sampah organik diolah
menjadi kompos, besi bekas diolah kembali menjadi barang-barang seni dari besi, dll

Apa peran kader

1. Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mengelola sampah dengan benar, dan bila
mungkin dapat mendatangan keuntungan secara financial.
2. Menggalang pihak lain, termasuk dunia usaha untuk memberi bantuan dalam pengelolaan
sampah
3. Memanfaatkan setiap kesemapatan untuk memberi penyuluhan kepada masyarakat tentang
hidup bersih dan sehat , tentang persampahan terkait masalah kesehatan masyarakat

PENGELOLAAN LIMBAH CAIR RUMAH TANGGA

Apa itu limbah cair RT

Limbah cair rumah tangga merupakan limbah yang berbentuk cair yang merupakan
timbulan dari kegiatan rumah tangga. Limbah cair ini dapat berasal dari kamar mandi, peturasan,
cucian barang/bahan dari dapur. Dalam pengertian ini limbah cair ini tidak termasuk limbah cair
yang berasal dari WC/jamban keluarga.
Limbah cair dari kegiatan rumah tangga volumenya relative sedikit dibanding dengan luas
lahan yang ada di desa tersebut. Namun demikian limbah cair tersebut tetap harus dikelola,
karena kalo dibuang sembarangan akan membuat lingkungan kotor, berbau, dan mengurangi
estetika dan kebersihan lingkungan

Mengapa limbah cair perlu dikelola

Limbah cair harus dikelola dengan baik dan benar, karena bila tidak akan dapat menjadi
tempat perindukan vector bibit penyakit penyakit. Limbah cair akan menarik binatang-binatang
yang dikenal dalam aspek kesehatan dapat menyebarluaskan penyakit, seperti misal lalat, kecoa ,
tikus. Penyakit-penyakit yang berkaitan erat dengan sampah yang tidak dikelola dengan benar
antara lain : demam berdarah, disentri, thypus, dan lain-lain.

Kemana limbah cair harus dibuang

Limbah cair harus dibuang pada sarana pengolahan air limbah (SPAL) yang dapat dibuat
oleh masing-masing rumah tangga. Bentuk SPAL dapat berupa sumuran ataupun saluran dengan
ukuran tertentu. Sumuran atau saluran tersebut diberi bahan-bahan yang dapat berfungsi untuk
menyaring unsure yang terkandung dalam limbah cair. Bahan tersebut disusun dengan formasi
urutan sebagai berikut:

- Batu belah ukuran diameter 5-10 cm


- Ijuk
- Batu belah diameter 10-15 cm

Apa peran kader

1) Memberikan motivasi kepada masyarakat untuk mengelola limbah cair dengan benar, dan
bila mungkin dapat dijadikan media yang dpat dimanfaatkan secara ekonomi.
2) Menghubungi unit/instansi terkait untuk memberikan bimbingan teknis dalam pembangunan
sarana (SPAL).
3) Memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk memberi penyuluhan kepada masyarakat
tentang hidup bersih dan sehat, menjaga lingkungan yang bersih aman dan nyaman
BAB II

PEMBAHASAN

Tindakan Pencegahan Merupakan Prioritas Menuju Pola Hidup Sehat


Mendengar kata lanjut usia atau tua, imajinasi kita akan terbawa ke seseorang yang tua
renta, keriput, bongkok berjalan tertatih-tatih, bahkan mungkin terbaring di tempat tidur.
Oleh karena itu, banyak diantara kita yang takut untuk menjadi tua. Padahal menjadi tua
merupakan realita hidup yang tidak bisa ditolak. Tetapi apakah penuaan organ-organ tubuh dan
datangnya berbagai penyakit dimasa tua, merupakan suatu realita hidup yang tak bisa ditolak.

Mengacu pada paradigma sehat yang sekarang terus disosialisasikan yakni bernuansa pada
upaya pencegahan , maka perhatian utamanya adalah terhadap :

1) Kebijakanyang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan


2) Memberikan dukungan dan alokasi sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat
namun tetap mengupayakan yang sakit segera sehat.

Pada prinsipnya paradigma sehat adalah kebijakan yang menekankan pada masyarakat
untuk mengutamakan kegiatan kesehatan secara pencegahan terhadap penyakit (preventif) dari
pada mengobati penyakit

Berita

*Mewujudkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

Hari/Tanggal: Selasa, 25 Nopember 2008

Program acara Nanny 911 yang ditayangkan MetroTV, Minggu (19/10), sungguh menarik.
Di sana ditayangkan seorang ibu muda, Jannice (32), yang memiliki kebiasaan sangat buruk dan
jorok. Rumahnya yang megah di kompleks perumahan mewah di suatu negara bagian di AS
berubah bak kandang babi. Tentu, menjijikkan.

Sang ibu muda ini memiliki kebiasaan buruk, yakni lebih memerhatikan babi piarannya
(Mickey) ketimbang dua anak balitanya, Jelly (3,5 tahun) dan Zoey (18 bulan). Babi Mickey
bahkan memiliki kamar sendiri di rumah pasangan muda itu. Mickey dibiarkan berkeliaran dan
mengacak-acak seisi rumah. Karuan saja, rumah mereka jadi kotor dan berantakan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah kedua balitanya mulai meniru perilaku babi Mickey.
Setiap kali waktu makan, kedua balitanya melemparkan piringnya ke lantai, lalu memakannya
sebagaimana cara Mickey makan. Suatu kali, Zoey melemparkan sebuah buku ke toilet.
Kemudian, buku itu diambil dan dijilat. Weaa...aah, sungguh menjijikkan! Pernah pula, putri
bungsunya itu tersungkur gara-gara diseruduk Mickey.

Karry (35), sang suami, melihat ada kejanggalan dengan kondisi psikis istrinya. Ia meminta
Nanny, konsultan keluarga sekaligus aktor program reality show Nanny 911, untuk mengubah
kebiasaan buruk sang istri yang semakin abnormal. Maka, datanglah Nanny dan timnya ke rumah
mereka.

Singkat cerita, selama satu minggu, Nanny berhasil mengubah kebiasaan buruk dan jorok
Jannice. Walaupun awalnya Jannice merasa kesal, benci, dan dipandang rendah. Ia merasa ada
persekongkolan antara suaminya dan Nanny untuk menyudutkan dirinya. Puncaknya, Nanny 911
membuat aturan dan jadwal acara keluarga yang meliputi jadwal dan tempat makan, tidur,
bermain, dll. Langkah pertama yang dilakukan Nanny adalah mengeluarkan babi Mickey dan
ditempatkan di sebuah kandang yang tak jauh dari rumah mereka. Jannice nyaris mengusir
Nanny karena babi piaraannya dipisahkan dengan dirinya. Namun, dengan memberikan
pengertian terus-menerus pada Jannice, Nanny akhirnya berhasil mengubah kehidupan pasangan
muda di AS tersebut.

Ilustrasi singkat tadi menggambarkan betapa kebiasaan yang demikian buruk bisa diubah
dengan mengubah cara berpikir, disiplin, taat pada aturan, serta kerja keras dan pantang
menyerah. Dalam waktu singkat, kendati tak mudah, mindset dan kebiasaan seseorang bisa
diubah.

Hidup Bersih dan Sehat

Hidup bersih, sehat, bahagia dan sejahtera lahir batin adalah dambaan setiap orang. Hidup
berkecukupan materi bukan jaminan bagi seseorang bisa hidup sehat dan bahagia. Mereka yang
kurang dari sisi materi juga bisa menikmati hidup sehat dan bahagia. Sebab, kesehatan terkait
erat dengan perilaku atau budaya. Perubahan perilaku atau budaya membutuhkan edukasi yang
terus-menerus.
Pemerintah sudah cukup lama mengampanyekan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
Namun, berbagai kendala klasik menghadang. Di antaranya: disparitas status kesehatan
antartingkat sosial ekonomi, antarkawasan, dan antarperkotaan-perdesaan, beban ganda penyakit,
rendahnya kinerja pelayanan kesehatan, kebiasaan merokok, pemberian air susu ibu (ASI)
eksklusif dan gizi lebih pada balita, rendahnya kebersihan lingkungan, rendahnya kuantitas,
pemerataan, dan keterjangkauan pelayanan kesehatan, dan terbatasnya tenaga kesehatan dan
penyebarannya.

Indikator yang digunakan dalam pendataan PHBS meliputi sebelas indikator perilaku,
antara lain tidak merokok, persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, pemberian ASI eksklusif,
imunisasi, balita ditimbang, sarapan pagi, makan buah dan sayur, cuci tangan, gosok gigi, dan
olahraga.

Dari aspek lingkungan, harus memenuhi tujuh indikator yaitu tersedianya jamban, air
bersih, bebas jentik, pemilahan sampah, sistem pembuangan air limbah (SPAL), ventilasi, lantai,
dan kepadatan rumah.

Budaya atau perilaku hidup bersih dan sehat harus menjadi bagian integral dari kehidupan
kita. PHBS harus tertanam pada anak sejak kecil sehingga mereka sudah terbiasa dengan pola
hidup bersih dan sehat hingga mereka dewasa.

Kesehatan adalah investasi kita di masa kini dan masa depan. Masyarakat juga harus
disadarkan bahwa kesehatan dibangun bukan oleh obat-obatan atau tindakan kuratif lainnya, tapi
75 persen kesehatan kita dibangun oleh lingkungan yang sehat dan perilaku hidup bersih dan
sehat. Tidak ada yang bisa kita kerjakan bila badan kita sakit. Bahkan, tidak ada artinya
perjalanan karier yang menanjak bila kondisi fisik, psikis, dan lingkungan kita makin buruk.

Peran PKK

Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) sejatinya tugas setiap orang, tak hanya
kaum perempuan kendati motor penggerak PKK sebagian besar kaum perempuan. Yang perlu
dipahami masyarakat adalah ada perbedaan siginifikan antara PKK dulu dengan sekarang.
PKK bukan bagian organik dari pemerintah, tapi mitra strategis pemerintah dalam
menjalankan pembangunan. Kepedulian PKK pada berbagai persoalan keluarga menjadi
kekuatan PKK dalam menjawab persoalan-persoalan riil masyarakat. Salah satunya adalah
perhatiannya pada soal kesehatan anak, ibu, dan keluarga.

Momentum Kesatuan Gerak PKK-KB Kesehatan ke-14 yang akan digelar di Kota Bogor,
Jawa Barat, 21 Oktober 2008 merupakan agenda tahunan yang diselenggarakan selama tiga
bulan, Oktober-Desember 2008. Momentum ini merupakan pengejawantahan dari komitmen
jajaran PKK dalam mendukung program KB dan Kesehatan. Kegiatan ini akan mendorong
optimalisasi pelayanan berbagai sarana kesehatan seperti posyandu, puskesmas, kampanye
perilaku hidup bersih dan sehat, dll.

Pemerintah menyarankan 17 tip hidup sehat. Di antaranya ibu hamil memeriksakan


kehamilannya sedini mungkin dan paling sedikit empat kali selama masa kehamilan dan meminta
pertolongan persalinan kepada bidan, memberi ASI saja kepada bayinya selama empat bulan
pertama. Ibu hamil juga disarankan minum tablet tambah darah atau tablet zat besi.

Setiap bayi harus diimunisasi lengkap sebelum usia 1 tahun dan ditimbang berat badannya
sejak lahir sampai usia 5 tahun di posyandu atau sarana kesehatan. Setiap orang agar makan
makanan yang mengandung unsur zat tenaga, zat pembangun, garam yodium, dan zat pengatur
sesuai dengan Pedoman Umum Gizi Seimbang (PUGS).

Setiap orang juga disarankan membuang air besar atau tinja di jamban (WC), mencuci
tangan dengan sabun setelah buang air besar dan waktu akan makan. Selain itu, gunakan air
bersih dan air untuk minum agar dimasak dahulu, jangan lupa olahraga teratur dan jadi peserta
Dana Sehat (Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat).

Jika sebagian besar masyarakat memahami manfaat perilaku hidup bersih dan sehat, bukan
tak mungkin kita mampu menekan tingginya angka diare, DBD, dan ISPA yang kerap datang
pada musim pancaroba (pergantian musim). Kita juga dapat melihat kenaikan angka perempuan
hamil yang melahirkan pada tenaga kesehatan.
Pada akhirnya kita akan melihat warga memiliki kemandirian dalam mewujudkan derajat
kesehatan sebagai hak individualnya yang akan berkontribusi pada kenaikan IPM Jabar. Semoga!

*Mendidik/Mengajarkan Anak Pola Hidup Sehat Dan Bersih Sejak Dini/Awal Mengutamakan
Kesehatan bersama

Tue, 12/08/2008 - 1:05am — godam64

Anak-anak adalah generasi penerus kita yang akan menggantikan keberadaan kita dan anak
kandung adalah aset yang paling berharga ketika kita sudah tua renta nanti. Anak yang sehat
umumnya akan tumbuh berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat. Orang yang sehat akan
memiliki banyak peluang dalam kehdupan di dunia dibandingkan dengan orang yang sakit-
sakitan.

Untuk itu mari kita ajarkan anak-anak kita dengan berbagai pemahaman dengan berbagai
metode agar mereka dapat menjadi anak yang sehat. Mendidik anak haruslah sabar dan dilakukan
dengan pendekatan yang baik dan jika perlu berikan penjelasan secara mendalam disertai dengan
contoh, analogi, cerita, sejarah, gambar, audio, video, dan lain sebagainya.

Berikut ini adalah hal-hal dasar yang perlu kita tanamkan pada anak-anak kita agar dapat menjadi
anak dengan perilaku yang sehat dan bersih :

1. Rajin Membersihkan Diri Sendiri

- Mandi dua kali sehari pada pagi dan sore hari

- Mandi dengan sikat gigi, sabunan, sampoan yang baik dan bersih

- Rajin mencuci tangan dengan sabun sampai bersih

- Rajin potong kuku tangan dan kaki serta membersihkannya

- Memotong rambut jika sudah panjang atau tidak rapi

- Menggunakan pakaian yang bersih dan rapi


2. Rajin Membersihkan Lingkungan

- Ikut kerja bakti membersihkan lingkungan bersama warga sekitar

- Aktif ikut piket di kelas membersihkan kebersihan sekolah

- Membantu orang tua bersih-bersih rumah

- Tidak membuang sampah sembarangan

- Gemar membersihkan kamar tidur pribadi

3. Pola Makan Sehat

- Makan makanan minuman yang bergizi

- Tidak jajan sembarangan yang tidak terjamin kebersihannya / tidak higienis

- Membatasi makanan ringan atau snack

- Tidak makan berlebihan agar tidak obesitas

- Memebekali anak untuk membedakan makanan yang baik dan buruk untuk kesehatan

4. Pola Hidup Yang Sehat

- Tidur secara teratur dan cukup

- Olahraga yang teratur dan rutin

- Menjauhi narkoba, rokok, minuman keras, dsb

- Hidup sederhana tidak gelamor dan gengsi

- Rajin menabung untuk bekal di masa depan

5. Pola Pergaulan Yang Sehat


- Tidak pacaran sebelum dewasa dan mapan

- Memilih teman yang berkelakuan dan perilaku baik

- Tidak ikut-ikutan tawuran dan kagiatan vandalisme lain

- Tidak semena-mena terhadap orang lain

- Menghormati orang yang lebih tua

- Menghargai sesama manusia walau berbeda ras, agama, suku, dll

- Mengamalkan dan menyebarkan pengetahuan yang dimiliki

Dan masih banyak perilaku yang sehat dan bersih lainnya yang perlu diajarkan kepada anak kita
agar memiliki masa depan yang baik.

*Dinkes Imbau Budayakan Pola Hidup Bersih & Sehat

Selasa, 26 Mei 2009 03:25:41

Prinsip PHBS harus diterapkan oleh masyarakat untuk mencegah sumber-sumber penyakit
berkembang dilingkungan tempat tinggal warga, terang Kadinkes I Putu Sura Artika SKM MM.
Dinas kesehatan sudah mulai melaksanakan program fogging di Kota Arga Makmur khususnya
kawasan padat penduduk yang biasa ditemukan kasus Malaria. Hal ini dilakukan sebagai
kegiatan rutin yang dilaksanakan untuk membunuh nyamuk-nyamuk malaria dewasa yang bisa
mengakibatkan terjadinya penyakit malaria.

Daerah yang selama ini epidemis malaria juga dipriotitaskan untuk pelaksanaan Fooging
tersebut, ujar Putu lebih lanjut. Selama ini setiap ada laporan dari masyarakat mengenai kasus
malaria disuatu daerah, dinkes langsung menurunkan tim kelokasi tersebut untuk langsung
melakukan fooging.

Selain dari peran pemerintah melalui dinas kesehatan, partisipasi masayarakat juga sangat
diharapkan khususnya pola 3 M ( Menguras, Membersihkan dan Mengubur) perlu diterapkan
oleh masyarakat. Pasalnya nyamuk malaria dan demam berdarah sering ditemukan diwilayah
perkotaan khususnya permukimam padat penduduk. Sebagaimana diketahui bahwa nyamuk
senang bersarang di tempat penampungan air , seperti bak mandi dan air dibarang bekas di
tempat-tempat sampah.

Diharapkan agar masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar untuk mencegah
terjadinya penyakit menular khususnya malaria dan demam berdarah selama musim penghujan
seperti sekarang ini, harap Putu.

*GAYA HIDUP SEHAT! MENGAPA PERLU!

Mengapa Ya?

Banyak orang berkata bahwa “ hidup itu singkat, untuk apa susah-susah diet atau olahraga.
Makan saja apa yang kita suka, lakukanlah apa yang kita mau”

Anggapan itu seakan melupakan bahwa dengan badan yang sehatlah kita baru dapat
mengerjakan semua kegiatan dengan senang hati dan mencapai tujuan dengan maksimal. Atau
dengan kata lain, SEHAT akan membuat hidup menjadi lebih indah dan bermakna.

Namun, gaya hidup sehat kini telah menjadi kata yang manis, yang sangat laku dijual. Saar
ini banyak sekali dagangan yang ditawarkan dengan mengtasnamakan gaya hidup sehat oleh para
pembuat produk, sehingga arti gaya hidup sehat itu sendiri menjadi kabur buat kita.

Secara sederhana gaya hidup dapat diartikan sebagai cara seseorang menghabiskan waktu
dan uangnya. Maka gaya hidup yang sehat dapat dianggap sebagai pola perilaku yang akan
memberikan dampak pada kesehatan kita dan selanjutnya berpengaruh juga pada kesehatan orang
lain.
Pertanyaannya sekarang adalah, perilaku seperti apa yang berdampak baik buat kesehatan kita?
Berikut ini adalah hal-hal yang sangat sederhana yang dapat kita lakukan untuk mencoba
menjalankan gaya hidup sehat, antara lain :

1) Makan-makanan dengan gizi seimbang ( empat sehat lima sempurna )


2) Olahraga secara teratur
3) Tidak menggunakan narkoba atau bahan-bahan psikotropika lainnya.
4) Tidak melakukan seks bebas.
5) Menggunakan air dan jamban yang bersih dan sehat.
6) Membuang sampah pada tempatnya.
7) Tidak menebang pohon dengan sembarangan.
8) Bagi ibu menyusui waib memberikan ASI ekslusif selama minimal enam bulan dan
vaksin sesuai aturan kesehatan pada bayi.
9) Menggunakan alat-alat kontrasepsi sesuai aturan dan kadar kesehatan dengan baik.
Tidak merokok.
10) Beribadah dengan baik, sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing.

Bila dilihat sepintas, mungkin banyak dari kita akan tertawa kecil dan sinis membaca hal-
hal diatas. Apalagi bagi warga kota yang hidup dizaman sekarang, dimana semuanya serba cepat
dan instant. Ada banyak hal yang akan bertentangan dan sulit dilakukan, terutama bila dilihat
dari gaya pergaulan dan tingkat kecanggihan teknologi masa kini.

Namun perlu kita ingat bersama bahwa menurut sebuah penelitian oleh para ahli fisiologi
Universitas Indonesia, gaya hidup sehat dapat :

a. Mengurangi resiko terkena penyakit tekanan darah tinggi sampai 55%,


b. Mengurangi resiko diabetes hingga 50%,
c. Mengurangi resiko terkena tumor dan kanker hingga 35%
d. Mengurangi resiko terkena serangan stroke dan jantung koroner hingga 75%
e. Yang paling penting adalah usia harapan hidup dapat diperpanjang hingga 10 tahun ke atas
dari rata-rata usia harapan hidup manusia Indonesia.
Sebenarnya gaya hidup sehat dapat diraih tanpa mengeluarkan biaya uang sepeserpun
asalkan kita memiliki kemauan yang kuat untuk menjalankannya. Dengan kemauan semuanya
akan menjadi mudah dilakukan dan efeknya luar biasa sekali. Gaya hidup sehat, akan membuat
kita merasa lebih tenteram, aman dan nyaman, memiliki rasa percaya diri, berpenampilan lebih
sehat dan ceria, sukses dalam pekerjaan dan menikmati pergaulan dan kehidupan tanpa merasa
ketingagalan zaman. So……! Marilah Kita Mulai Budayakan gaya Hidup Sehat!

*GUBERNUR : POLA HIDUP BERSIH DAN SEHAT HARUS DIBUDAYAKAN

Thursday, 12 November 2009 16:15

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan meminta agar masyarakat membudayakan Pola
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Karena menurutnya, dengan PHBS memperkecil resiko terkena
penyakit. Seiring dengan itu, Pemprop Jabar bersama “stakeholder” senantiasa meningkatkan
kualitas lingkungan. Diantaranya dengan program perbaikan lingkungan, penyediaan sarana
sanitasi dasar, menekan tingkat pencemaran dan menggencarkan sosialisasi PHBS. Hal ini
disampaikan saat Peringatan HKN tingkat Propinsi Jawa Barat, Kamis (12/11) pagi di Halaman
Biofarma, Bandung. “Masalah utama bidang kesehatan diantaranya adalah masih rendahnya
budaya PHBS di tingkat rumahtangga,” imbuhnya.

Hari Kesehatan Nasional (HKN) ke-45 bertema Lingkungan Sehat Rakyat Sehat, maka
program pembangunan kesehatan diarahkan pada peningkatan kualitas lingkungan dengan
capaian sasaran meningkatnya derajat kesehatan masyarakat, yang pada akhirnya akan
meningkatkan kualitas bangsa yang terukur dalam Indeks Pembangunan Manusia (IPM), ”

Menurut Heryawan, saat ini ukuran kualitas sebuah bangsa dilihat dari capaian IPM. Saat
ini kondisi IPM secara nasional masih rendah dibanding dengan negara-negara lain sesama
anggota ASEAN, khususnya Malaysia dan Singapura. Sementara Jawa Barat dengan
penduduknya yang mencapai 42,1 juta jiwa berupaya untuk mencapai IPM pada angka 80. “Saat
ini dengan kisaran IPM pada angka 71. Tentunya dengan dukungan semua pihak, diharapkan
Jawa Barat pada tahun 2015 dapat mencapai IPM 80,” ujar Heryawan.
Menurut Departemen Kesehatan RI (2007) terungkap, secara nasional bahwa ada sekitar
24,8 persen rumah tangga yang tidak memiliki fasilitas buang air besar. Serta ada 32,5 persen
rumah tangga yang tidak memiliki saluran pembuangan air limbah. Masih data yang sama juga
terungkap angka kematian bayi (AKB) mencapai 34 per 1000 kelahiran, angka kematian ibu
(AKI) sebesar 228 per 1000 kelahiran, prevalensi gizi kurang pada anak balita mencapai 18
persen.

Sementara dalam arahan Menkes yang dibacakan Gubernur menyatakan ada 3 pilar utama
yang saling bersinerji dalam rangka meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Ketiga pesan
itu antara lain; Lingkungan sehat merupakan cermin perilaku sehat, Lingkungan fisik dan non
fisik harus mampu menciptakan rakyat lebih sehat, dan mendorong peran aktif masyrakat untuk
terus membudayakan PHBS.

*Kota Banjar dan Kabupaten Sumedang Sebagai Pemenang

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan memberikan penghargaan kepada Kabupaten/Kota


Siaga tingkat Propinsi Jawa Barat tahun 2009. Penghargaan tersebut diberikan kepada
Kabupaten/Kota yang dinilai mampu meningkatkan kesiagan dan kemampuannya dalam
mencegah dan mengatasi masalah kesehatan.

Untuk kategori kabupaten:

1. Juara Terbaik I diraih Sumedang mendapat hadiah sebesar Rp 175 juta


2. Terbaik II diraih Sukabumi dengan nilai Rp 150 juta
3. Terbaik III diraih Kuningan dengan nilai Rp 125 juta.

Sementara untuk kategori Kota:

1. Juara Terbaik I direbut Kota Banjar dengan nilai bantuan dana sebesar Rp 175 juta
2. Terbaik II diraih Kota Cimahi dengan nilai bantuan dana sebesar Rp 125 juta
BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Promosi Kesehatan telah mengalami pasang surut. Banyak yang telah dicapai, tetapi lebih
banyak lagi yang belum dilakukan. Di antara semuanya itu, yang paling penting adalah
pengambilan hikmah, makna, nilai atau “wisdom” yang dapat ditarik dari rentetan perjalanan
sejarah itu. Kemudian belajar dari semuanya itu kita dapat menjalani masa kini dan menghadapi
masa depan dengan lebih terarah dan mantap.

Beberapa hikmah, makna atau nilai yang dapat dipetik dari Promosi Kesehatan itu adalah
sebagai berikut:

1. Bahwa Promosi Kesehatan merupakan kebutuhan mutlak baik bagi masyarakat maupun bagi
penyelenggara kesehatan.
2. Bahwa upaya promosi kesehatan perlu dilakukan secara terpadu dengan program-program
kesehatan. Promosi kesehatan tanpa program akan tidak berarti apa-apa (lumpuh),
sebaliknya program kesehatan tanpa promosi kesehatan akan kurang mengenai sasaran
(buta).
3. Bahwa gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan esensi dari upaya Promosi Kesehatan.
Upaya ini adalah upaya dari, oleh, untuk dan bersama masyarakat. Upaya ini dapat
dilakukan dengan model Pendidikan Kesehatan Rakyat (Model Bekasi), Daerah Kerja
Intensif PKM (Model Bandung), Pendekatan Edukatif, Pengembangan PKMD, Posyandu,
Gerakan PHBS, dll.
4. Bahwa gerakan pemberdayaan masyarakat tersebut perlu didukung dengan upaya bina
suasana (mempengaruhi opini publik) dan upaya advokasi kebijakan (mempengaruhi
kebijakan yang berorientasi sehat). Bahwa untuk itu perlu dikembangkan rencana aksi yang
jelas dan operasional.
5. Bahwa kemitraan dengan berbagai pihak perlu dilakukan, baik lintas program, lintas sektor,
pemerintah-masyarakat, termasuk swasta dan LSM, Pusat-Daerah, unsur pelayanan-unsur
ilmuwan/Perguruan Tinggi, maupun antara berbagai negara dalam lingkup lingkup
global/internasional.
6. Bahwa SDM promosi kesehatan profesional perlu dipersiapkan dengan sungguh-sungguh,
sehingga mempunyai kemampuan yang diperlukan sebagai planner, mediator, educator,
advocator, social marketer, dll.
7. Bahwa metode dan teknik promosi kesehatan perlu terus menerus dikembangkan secara
bertahap sesuai dengan kemajuan dan perkembangan IPTEK, yang juga dapat memenuhi
berbagai kebutuhan berdasar keadaan, masalah dan potensi setempat.
8. Bahwa pengembangan promosi kesehatan perlu dilakukan berdasarkan pada fakta (evidence-
based) dengan mendayagunakan data dan informasi dalam perencanaan dan
pencatatan/pelaporan, yang dilakukan sejak di tingkat Kabupaten/Kota, sampai tingkat
Provinsi dan Nasional.
9. Bahwa untuk menjalankan kegiatan promosi kesehatan diperlukan dukungan organisasi yang
mantap, baik di Pusat, Provinsi, maupun Kabupaten/Kota, dilengkapi dengan sarana dan
prasarana yang memadai.
10. Selain itu juga diperlukan adanya Organisasi Profesi Promosi Kesehatan yang kuat, yang
berperan antara lain sebagai mitra, pemikir, pemasok, pengamat dan pengkritik kegiatan
promosi kesehatan di lapangan.
Selanjutnya, perlu disadari bahwa upaya promosi kesehatan merupakan tanggungjawab
kita bersama, bahkan bukan sektor kesehatan semata, melainkan juga lintas sektor, masyarakat
dan dunia usaha. Promosi kesehatan perlu didukung oleh semua pihak yang berkepentingan
(stakeholders). Kesamaan pengertian, efektifitas kerjasama dan sinergi antara aparat kesehatan
pusat, provinsi, kabupaten/kota dan semua pihak dari semua komponen bangsa adalah sangat
penting dalam rangka mencapai visi, tujuan dan sasaran promosi kesehatan secara nasional.
Semuanya itu adalah dalam rangka menuju Indonesia Sehat, yaitu Indonesia yang penduduknya
hidup dalam perilaku dan budaya sehat, dalam lingkungan yang bersih dan kondusif dan
mempunyai akses untuk memperoleh pelayanan kesehatan yang bermutu, sehingga dapat hidup
sejahtera dan produktif.

Itu semua kita lakukan adalah dalam rangka membangun jiwa dan membangun badan,
sebagaimana tertuang dalam lagu kebangsaan kita “Hiduplah Indonesia Raya”. Dalam kaitan
dengan itu, kita, kapan dan di manapun berada, perlu melakukan sesuatu, apa saja yang dapat kita
lakukan asal positif, dengan ihlas. Sebagai penutup buku ini, kita perlu renungkan kata-kata bijak
dari orang yang sangat bijak bestari, yaitu: “Mulailah dari dirimu sendiri”.