Anda di halaman 1dari 4

IV.

SANITASI DAN HIGIENE

A. Sanitasi Peralatan Pengolahan


Peralatan yang digunakan oleh perusahaan pada proses produksi memiliki permukaan
yang halus, rata, terbuat dari bahan yang tidak mudah karatan, tidak mudah rontok, tidak
mudah mengelupas dan mudah dibersihkan. Sanitasi yang dilakukan oleh perusahaan untuk
menjaga alat pengolahan tetap bersih dan terjaga dari kontaminan yang dapat merusak
mutu produk adalah dengan cara mencuci peralatan sebelum dan sesudah dipakai untuk
proses pengolahan. Proses pencucuian pada peralatan dimulai dari melakukan penyiraman,
penyabunan, pemboilasan, dan klorinisasi. Penyiraman dilakukan dengan menggunakan air
bersih dan selanjutnya di rendam dalam air berkadar klorin 200 ppm. Kondisi fisik
peralatan juga menjadi perhatian utama perusahaan dan selalu dilakukan setiap hari.
Peralatan yang sudah dalam keadaan rusak akan dipisahkan dan diganti dengan yang baru.
Sistem sanitasi pada peralatan pengolahan dilakukan secara rutin pada saat sebelum
dan sesudah kegiatan produksi berlangsung. Pembersihan peralatan dilakukan oleh petugas
dengan cara membersihkan meja produksi, alat alat pemotong, inner pan, lon pan,
keranjang plastik dan bak fiber. Peralatan yang sudah bersih ditata secara rapi dan benar,
sehingga memudahkan didalam pencarian dan penggunaanya.
B. Menjaga Sanitasi Ruang Pengolahan
Penjagaan sanitasi ruang pengolahan meliputi keadaan lingkuangan sekitar dan desain
bangunan unit pengolahan. Sanitasi ruang pengolahan yang dilakukan untuk mencegah
terjadinya kontaminasi pada produk meliputi langit langit ruang pengolahan, desain dan
keadaan lantai, pintu masuk, jendela, lampu penerangan, ventilasi udara dan pengatur suhu
ruangan.
1. Lantai
Lantai yang terdapat di dalam ruang produksi terbuat dari bahan dasar yang
kedap air, tahan lama dan mudah dibersihkan. Selain itu, desain lantai dibuat miring
untuk memudahkan jalannya air limbah sisa produksi. Sudut antara dinding dan
lantai ruangan dibuat lengkung, sehingga memudahkan proses pembersihan. Proses
pembersihan lantai ruang produksi dilakukan secara berkala oleh petugas sanitasi.
Pembersihan dilakukan dengan cara mengepel lantai dengan air klorin 200 ppm.

2. Dinding Bangunan
Dinding ruang produksi didesain dengan permukaan yang kedap air. Bagian
permukaan dindingnya dilapisi keramik. Warna dinding yang digunakan pada ruang
produksi berwarna terang, yang bertujuan agar mudah dikontrol apabila terlihat
kotor. Setiap selesai proses produksi pada bagian keramik yang ada di dinding
selalu dibersihkan, agar tidak menyebabkan kontaminasi yang tidak diinginkan
pada proses produksi berlangsung.
3. Atap dan Langit-langit
Atap dan langit-langit dirancang sedemikian rupa untuk mencegah terjadinya
akumulasi kotoran, kondensasi, pertumbuhan jamur dan pengelupasan serta
berwarna terang untuk menjamin kebersihannya. Pembersihan langit-langit
dilakukan pada saat tidak ada kegiatan proses.
4. Pintu
Pintu yang digunakan di dalam ruang pengolahan terbuat dari bahan yang
tahan air serta dilengkapai dengan alat pencegah lalat untuk menghindari masuknya
lalat di dalam ruang produksi. Pembersihan pintu dilakukan setiap hari oleh petugas
sanitasi.
5. Penerangan
Penerangan ruang pengolahan dan ruang ispeksi mnemadai dan dilengkapi
dengan pelindung yang aman, permukaan kerja didalam ruangan harus terang sesuai
dengan pelindung yang aman, permukaan kerja di dalam ruangan harus terang
sesuai dengan keperluan dan persyaratan kesehatan. Pengecekan terhadap lampu
penerangan dilakukan secara berkala oleh teknisi
6. Ventilasi
Ventilasi yang digunakan mampu mencegah kondensasi, aliran udara secara
mekanik mengalir dengan baik dari area bersih ke area yang kotor, menjamin
peredaran udara baik, dapat menghilangkan uap, gas, debu, dan panas, mudah
dirawat dan dibersihkan. Fungsi ventilasi pada ruang produksi di gantikan oleh
exhaust fan. Alat ini terpasang di atas langit-langit yang fungsinya sama yaitu
sebagai alat sirkulasi udara. Pengecekan terhadap alat ini dilakukan oleh teknisi
secra berkala
C. Standar Sanitasi Pekerja Untuk Mencegah Kontaminasi

Pengawasan yang dilakukan oleh PT. Istana Cipta Sembada (ICS) terhadap kesehatan
personil yang dapat mengakibatkan kontaminasi sudah diatur didalam standar sistem
sanitasi pekerja yang diterapkan oleh PT. Istana Cipta Sembada (ICS). Standar standar yang
harus dipenuhi oleh pekerja sesuai aturan PT. Isatana Cipta Sembada (ICS) untuk menjegah
kontaminasi dari para pekerja antara lain :
1. Pekerja harus berbadan sehat, tidak mengidap penyakit menular sehingga tidak
menyebabakan kontaminasi pada produk yang di olah.
2. Setiap pekerja yang melalui pemeriksaan medis atau oleh supervisor dinyatakan sakit,
luka, infeksi, luka luar seperti luka bakar atau masalah kesehatan lain bisa
mengkontaminasi produk maupun bahan pengepakan harus diistirahatkan sementara
sampai kondisinya sembuh atau membaik.
3. Quality Control (QC) melakukan pengecekan kebersihan dan kesehatan perorangan
dari pekerja sebelum mereka bekerja setiap harinya.
4. Selama diruang proses, setiap pekerja harus memakai perlengkapan pakaian kerja
meliputi baju kerja, afron, sepatu boot, sarung tangan, masker dan topi.
5. Pekerja yang sedang melakukan proses pengolahan dilarang menggunakan perhiasan
seperti cincin, gelang, jam tangan dan lain-lain agar tidak jatuh ke produk.
6. Pekerja harus mencucui tangan sebelum mulai bekerja dan setiap 1 jam sekali saaat
melakukan proses pengolahan dan ketika tangan terkontaminasi.
7. Selama proses, pekerja dilarang bicara, merokok, makan, minum, dan meludah di
sembarang tempat.
8. Kuku tangan harus dalam keadaan bersih dan harus dipotong serta tidak
diperkenanakan memakai pitek atau cat kuku.
9. Selama di toilet, pekerja wajib menanggalkan baju kerja dan mengganti sepatu boot
khusus ke toilet.

D. Menghilangkan Hama Dari Unit Pengolahan


Pencegahan dan penanggulangan hama yang ada di PT. Istana Cipta Sembada
dilakukan dengan cara sederhana. Hama yang dicegah dan dikendalikan antara lain tikus,
lalat, nyamuk, kecoa dan semut. Pengendalian hama tikus dilakukan menggunakan rat box,
dimana merupakan suatu box dari plastik sebagai tempat umpan tikus, tetapi umpan yang
di taruh didalam box ini sudah diberikan bahan aktif yaitu Bromodrolon. Bromodrolon ini
memiliki sifat meracuni tikus dan menyebabkan tikus tidak bau saat mati dan langsung
kering. Rat box sendiri diletakkan diluar gedung gedung produksi, tidak didalam ruang

industry karena dapat mengkontaminan produk gurita, selain itu rat box diletakkan dijalur
jalur yang dilewati tikus sehingga efektif. Selain menggunakan rat box untuk mencegah
serangan hama tikus juga dipasang perangkat massal yang terbuat dari besi, yang dipasang
tersembunyi dan diluar ruangan pada jalan jalan tikus. Umpan yang digunakan pada
perangkap massal yaitu roti malkist, mie instant dan ikan asin, penggunaan umpan yang
bermacam macam dikarenakan tikus juga memiliki selera makanan yang berbeda beda, jadi
harus dapat menyesuaikan umpan yang tepat.
Untuk pencegahan serangga seperti lalat, ntamuk, kecoa dan semut, menggunakan
insect killer yang diletakkan pada pintu masuk dan pintu keluar pada ruangan produksi.
Pencegahan semut dilakukan dengan cara penyemprotan menggunakan cairan zipermetin
dan zeta zipermetin, selain itu menggunakan asam borat tetapi langsung ditaruh pada
sarang semut. Alat insect killer yang digunakan selalu dibersihkan dua kali dalam seminggu
agar selalu bersih dan efektif.
Proses pencegahan dan penanggulangan hama didalam prosesnya selalu direkap
didalam laporan harian pada kertas yang sudah disediakan. Proses yang dilakukan untuk
pencegahan dan penanggulangan hama disesuaikan dengan ISO 22000 pada prakteknya.