Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

Menghitung Waktu Solidifikasi pada Proses Sand Casting Magnesium


Pemodelan Menggunakan Macromedia Flash Player

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fenomena Transport

Oleh Kelompok 10(B)


No.
1.
2.
3.
4.

Nama
Rifky Wijaya
Ginanjar Saputra
Hany Kusumawati
Dea Anggraheni P.

NIM
3334130273
3334130779
3334131303
3334132493

JURUSAN TEKNIK METALURGI


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
CILEGON BANTEN
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, berkat
rahmat dan anugerahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah ini ditulis guna memenuhi tugas mata kuliah Fenomena Transport
dan diharapkan dapat menambah pengetahuan kita semua tentang fenomena
transport dan waktu solidifikasi pada proses pengecoran.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penulisan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan baik dari
teknik penulisan maupun isi. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka penulis
menerima segala kritik demi perbaikan di masa mendatang.
Akhir kata, semoga makalah ini dapat bermanfaat sebagaimana mestinya.

Cilegon, Desember 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL............................................................................................. i
KATA PENGANTAR .......................................................................................... ii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
DAFTAR TABEL ................................................................................................. iv
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ v
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang...................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................ 1
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................................. 1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Perpindahan Kalor ................................................................................ 2
2.1.1 Konduksi ..................................................................................... 2
2.1.2 Konveksi ..................................................................................... 3
2.1.3 Radiasi ......................................................................................... 3
2.2 Pengecoran Logam ............................................................................... 4
2.3 Sand Casting ......................................................................................... 5
2.3.1 Tahapan-tahapan dalam Proses Sand Casting............................. 6
2.4 Solidifikasi Logam ............................................................................... 7
2.4.1 Waktu Solidifikasi....................................................................... 8
2.5 Contoh Permasalahan & Pemodelan .................................................... 8
2.5.1 Contoh Permasalahan .................................................................. 8
2.5.2 Pemodelan ................................................................................... 10
BAB III KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan ........................................................................................... 12
DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Karakteristik pasir dan magnesium (solid & liquid) .......................... 9

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1

Ilustrasi perpindahan panas secara konduksi, konveksi,


dan radiasi ...................................................................................... 2

Gambar 2.2

Penuangan logam cair ke dalam cetakan (pengecoran) ................. 4

Gambar 2.3

Bagian-bagian cetakan pasir dalam proses sand-casting .............. 5

Gambar 2.4

Diagram alir proses sand casting .................................................. 6

Gambar 2.5

Kurva pendinginan logam murni ................................................... 7

Gambar 2.6

Tampilan pemodelan untuk menghitung waktu solidifikasi


pada sand casting magnesium ....................................................... 11

Gambar 2.7

Animasi sand casting magnesium ................................................. 11

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Proses-proses kemetalurgian tidak dapat terlepas dari fenomena transport,

baik itu perpindahan momentum, perpindahan energi, maupun perpindahan massa.


Tanpa terkecuali proses pengecoran.
Pengecoran (casting) adalah suatu proses penuangan materi cair seperti
logam atau plastik ke dalam cetakan untuk kemudian dibiarkan membeku. Pada
dasarnya, semua logam yang mampu dicairkan dapat dibentuk melalui proses
pengecoran. Logam yang umum dibentuk dengan proses pengecoran antara lain
besi, alumunium, tembaga, magnesium, dan timah. Penggunaan produk cor dalam
kehidupan sehari-hari pun sangat luas; dapat dijumpai mulai dari peralatan rumah
tangga, industri komponen pemesinan, industri mesin-mesin perkakas, alat-alat
berat, industri automotif maupun peralatan transportasi.
Salah satu faktor penting dalam proses pengecoran adalah waktu
solidifikasi; seberapa lama logam yang telah dilebur akan kembali membeku
setelah dituang ke dalam cetakan.

1.2

Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini antara lain:

1)

Apa itu proses pengecoran, serta bagaimana fenomena transport yang


menyertainya?

2)

Bagaimana menghitung waktu solidifikasi dalam proses pengecoran?

1.3

Tujuan Penulisan
Secara umum, makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah

Fenomena Transport. Berdasarkan rumusan masalah di atas, secara khusus


penulisan makalah ini bertujuan untuk:
1)

mengetahui proses pengecoran, fenomena transport yang menyertainya, dan

mengetahui perhitungan waktu solidifikasi dalam proses pengecoran.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Perpindahan Kalor
Perpindahan kalor (heat transfer) adalah perpindahan energi dalam bentuk

panas yang terjadi akibat adanya perbedaan suhu di antara benda atau material.
Ada tiga mekanisme perpindahan kalor, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi.

Gambar 2.1 Ilustrasi perpindahan panas secara konduksi, konveksi, dan radiasi

2.1.1

Konduksi
Konduksi

adalah

proses

perpindahan

kalor

dari

daerah

yang

bertemperatur tinggi ke daerah yang bertemperatur rendah dalam suatu


medium atau antara medium-medium berlainan yang bersinggungan secara
langsung sehingga terjadi pertukaran energi dan momentum. Laju perpindahan
kalor secara konduksi dirumuskan dalam Hukum Fourier:
................................................................................................. [2.1]
Keterangan:
q = laju konduksi (kJ/s, Watt)
k = konduktivitas termal (W/mK)

A = luas permukaan (m2)


dT = perbedaan temperatur (K)
dx = ketebalan benda (m)

2.1.2

Konveksi
Konveksi adalah perpindahan kalor antara permukaan solid dengan fluida

yang mengalir di sekitarnya. Contoh konveksi yaitu peristiwa pendinginan


secangkir kopi. Perpindahan kalor secara konveksi diklasifikasikan menjadi
dua, yaitu:
1)

Konveksi bebas (free/natural convection): aliran fluida disebabkan


perbedaan kerapatan akibat perbedaan temperatur.

2)

Konveksi paksa (forced convection): aliran fluida disebabkan oleh gaya


pemaksa (misalkan oleh pompa atau kipas).

Laju konveksi dirumuskan dalam Hukum Pendinginan Newton:


(

)...................................................................................... [2.2]

Keterangan:
q = laju konveksi (kJ/s, Watt)
h = koefisien konveksi (W/mK)
A = luas permukaan (m2)
Ts = temperatur permukaan solid (K)
T = temperatur fluida yang mengalir (K)

2.1.3

Radiasi
Berbeda dengan konduksi dan konveksi, radiasi merupakan perpindahan

kalor yang terjadi akibat pancaran gelombang elektromagnetik sehingga dapat


terjadi di ruang hampa udara sekalipun. Radiasi elektromagnetik yang
diakibatkan perbedaan temperatur disebut radiasi termal. Menurut Hukum
Stefan-Boltzmann, laju perpindahan kalor secara radiasi dirumuskan:
.................................................................................................... [2.3]
Keterangan:
q = laju radiasi (kJ/s, Watt)

= konstanta Boltzmann (5.66910-8 W/m2K4)


A = luas permukaan (m2)
T4 = temperatur benda (K)

2.2

Pengecoran Logam
Pengecoran / penuangan (casting) merupakan teknik pembuatan produk

logam dengan menuangkan logam cair yang telah dilebur ke dalam rongga
cetakan yang serupa dengan bentuk asli dari produk cor yang akan dibuat.

Gambar 2.2 Penuangan logam cair ke dalam cetakan (pengecoran)

Berdasarkan metodenya, pengecoran diklasifikasikan menjadi:


1)

Sand casting

2)

Die casting

3)

Centrifugal casting

4)

Continuous casting

5)

Shell moulding

6)

Investment casting

Sedangkan berdasarkan usia cetakannya, secara garis besar proses pengecoran


diklasifikasikan menjadi:
1)

Expendable mold processes, cetakan dihancurkan setelah proses pengecoran


(sekali pakai).

2)

Permanent mold processes, cetakan terbuat dari logam dan dapat digunakan
berkali-kali.

2.3

Sand Casting
Sand casting merupakan proses pembentukan benda kerja dengan

menuangkan logam cair (molten metals) ke dalam cetakan pasir. Cetakan pasir
harus dibuat dan dikerjakan sedemikian rupa dengan bagian-bagian yang lengkap
sesuai dengan bentuk benda kerja. Bagian-bagian cetakan pasir yang paling
penting antara lain:

Gambar 2.3 Bagian-bagian cetakan pasir dalam proses sand-casting

1)

Pouring basin, adalah lekukan pada cetakan. Berfungsi mengurangi


kecepatan logam cair hang masuk langsung dari ladle ke sprue. Kecepatan
aliran logam yang tinggi akan mengerosi sprue.

2)

Sprue (saluran turun), saluran masuk dari luar dengan posisi vertikal.
Jumlah sprue dapat lebih dari satu, tergantung kecepatan penuangan yang
diinginkan.

3)

Gating system, merupakan saluran masuk ke dalam cavity dari sprue.


Jumlah gating system dapat lebih dari satu, tergantung ukuran rongga
cetakan yang akan diisi logam cair.

4)

Cavity (rongga cetakan), dibuat menggunakan pola (pattern). Merupakan


ruang tempat logam cair yang dituangkan ke dalam cetakan. Rongga ini
berbentuk sama dengan benda kerja yang akan dicor.

5)

Core (inti), membuat rongga pada benda cor. Bahan core harus tahan
temperatur cair logam. Core dibuat terpisah dari cetakan dan dirakit saat
cetakan akan digunakan.

6)

Riser, tempat yang akan terisi oleh kelebihan logam cair. Riser berguna
dalam mengisi kembali rongga cetakan bila terjadi penyusutan akibat proses
solidifikasi.

2.3.1

Tahapan-tahapan dalam Proses Sand Casting

Gambar 2.4 Diagram alir proses sand casting

Proses sand casting melibatkan perancangan produk cor, pembuatan pola


dan core inti, pembuatan cetakan (cope & drag), penuangan logam cair serta
pembongkaran produk cor, sebagai berikut:
1)

Perancangan produk cor.

2)

Menyiapkan bidang dasar / pelat datar.

3)

Meletakkan cope (pola atas) yang sudah dilengkapi dudukan core (inti)
pada permukaan pelat datar tadi.

4)

Sama seperti langkah 3, untuk drag (pola bawah) beserta sistem saluran.

5)

Menyiapkan koak core (untuk pembuatan core).

6)

Core yang telah jadi disatukan (core dibuat berupa paroan / setengah).

7)

Cope ditambahkan sistem saluran (saluran masuk dan riser), lalu diisi
dengan pasir cetak.

8)

Setelah dipadatkan, cope dan sistem saluran dilepaskan dari cetakan.

9)

Drag diisi pasir cetak, dipadatkan, lalu pola dilepaskan dari cetakan

10)

Core ditempatkan pada dudukan core yang ada pada drag.

11)

Cope dipasangkan dengan drag, dikunci, lalu dituangkan logam cair.

12)

Setelah membeku dan dingin, cetakan dibongkar lalu produk cor


dibersihkan dari sisa-sisa pasir cetakan.

13)

2.4

Produk cor siap untuk diperlakukan lebih lanjut.

Solidifikasi Logam
Solidifikasi (pembekuan) adalah proses transformasi logam dari fasa

liquidnya kembali ke fasa padat. Proses solidifikasi logam murni berbeda dengan
logam paduan. Logam murni membeku pada temperatur konstan yang sama
dengan temperatur leburnya. Solidifikasi terjadi seiring berjalannya waktu seperti
terlihat pada kurva di bawah ini:

Gambar 2.5 Kurva pendinginan logam murni

Tahapan solidifikasi logam murni dalam proses pengecoran, yaitu:


1)

Logam murni cair pada titik leburnya (temperatur lebur).

2)

Seiring penuangan logam cair ke cetakan, cairan logam mengalami


penurunan temperatur.

3)

Pendinginan awal dimulai. Temperatur awal dan temperatur akhir


pendinginan adalah sama; local solidification time.

4)

Setelah pendinginan selesai, cairan logam mulai mengalami pengerasan


struktur hingga proses solidifikasi mendekati temperatur kamar.

Beberapa istilah waktu dalam proses solidifikasi logam murni:


1)

Local solidification time (waktu solidifikasi lokal): waktu pembekuan


sebenarnya.

2)

Total solidification time (waktu solidifikasi total): waktu keseluruhan dari


penuangan sampai proses pembekuan berakhir. Setelah pembekuan
berakhir, temperatur turun hingga temperatur kamar.

2.4.1

Waktu Solidifikasi
Baik dalam pengecoran logam murni maupun logam paduan, proses

solidifikasi memerlukan waktu. Waktu solidifikasi total adalah waktu yang


diperlukan oleh logam cair untuk membeku (menjadi padat) setelah penuangan
ke dalam cetakan. Lamanya waktu solidifikasi tergantung kepada ukuran dan
bentuk bahan cor sesuai persamaan empiris berikut:
( )

[ (

] ( ) .................................................... [2.4]

yang dikenal sebagai aturan Chvorinov. Di mana C adalah konstanta


Chvorinov, V dan A adalah volume dan luas permukaan bahan cor.
Aturan Chvorinov mengindikasikan bahwa bahan cor yang memiliki
rasio V/A tinggi akan mengalami proses solidifikasi yang lebih lambat daripada
bahan cor dengan rasio V/A rendah.

2.5
2.5.1

Contoh Permasalahan & Pemodelan


Permasalahan
Sand casting of a magnesium part with dimensions of 10 cm by 10 cm by

2.5 cm. The environment temperature is 25C. Determine the time for the part
to solidify if the metal is poured at its melting point!

Tabel 2.1 Karakteristik pasir dan magnesium (solid & liquid)


Thermal

Melting

Latent Heat of

Conductivity

Point

Solidification

(W/mK)

(C)

(kJ/kg)

1500

0.6

1.07

1700

156

1.38

650

384

Specific Heat

Density

(kJ/kgK)

(kg/m3)

Sand

1.16

Mg (solid)
Mg (liquid)

Material

Penyelesaian:
(subscript c = cast = magnesium, m = mold = sand)

Latent heat of solidification of Mg,

Density of Mg,

Melting temperature of Mg,

Initial sand temperature,

Thermal conductivity of sand,

Density of sand,

Specific heat of sand,

Volume of solidified Mg,

Area of sand-Mg interface,


(

Total solidification time (Chvorinovs rule):


( )

[ (

* (

) (

* (

)(
seconds

] ( ) (Geiger & Poirier, 1973: 332)


)+ (
)+ (

2.5.2

Pemodelan dengan Macromedia Flash Player


Permasalahan pada subbab 2.5.1 dapat dimodelkan dalam Flash Player.

Kita juga dapat berkreasi membuat animasi proses sand casting. Dengan
menggunakan bantuan Action Script dan properties, variabel-variabel yang
diketahui di soal dapat dijadikan input text, sedangkan variabel yang akan
dicari (yaitu t) dijadikan dynamic text.
Adapun supaya nilai t (waktu solidifikasi) dapat diperoleh, rumus aturan
Chvorinov terlebih dahulu diterjemahkan ke dalam script seperti berikut:
stop();
//deklarasi tipe variabel dan nilai awal
var t,hf,dm,mp,et,tc,ds,sh,v,a = Number;
t = 0;
hf = 0;
dm = 0;
mp = 0;
et = 0;
tc = 0;
ds = 0;
sh = 0;
v = 0;
a = 0;
//deklarasi fungsi rumus
rumus = function(){
A= (dm*hf);
B= (mp-et);
C= (tc*ds*sh);
D= (v/a);
E= 3.14*Math.pow (A,2)*1*Math.pow (D,2);
F= 4*Math.pow (B,2)*C ;
t = E/F ;
}
//objek hitung
bt_play.onRelease = function (){
rumus(); //mengupdate hasil dengan memanggil rumus fungsi
}
rumus(); //memanggil fungsi rumus

Begitu Flash Movie di-play, masukkan semua variabel yang diketahui ke


dalam kotak input text lalu tekan button/tombol (harus dibuat terlebih dahulu)
sehingga nilai t otomatis muncul. Ilustrasinya dapat dilihat di Gambar 2.6.

Gambar 2.6 Tampilan pemodelan untuk menghitung waktu solidifikasi pada sand casting magnesium

Gambar 2.7 Animasi sand casting magnesium

BAB III
KESIMPULAN

3.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil tinjauan pustaka pada BAB II, penulis menarik beberapa

kesimpulan sebagai berikut:


1)

Pengecoran

merupakan

teknik

pembuatan

produk

logam

dengan

menuangkan logam cair ke dalam rongga cetakan yang serupa dengan


bentuk produk cor yang akan dibuat.
2)

Fenomena transport yang terlibat dalam proses pengecoran salah satunya


yaitu konduksi. Adanya perpindahan kalor antara logam cair yang dituang
dengan dinding-dinding cetakan.

3)

Peristiwa solidifikasi dalam proses pengecoran mengindikasikan bahwa


terjadi juga perpindahan kalor secara konveksi; logam cair mengalami
pendinginan hingga membeku akibat kehilangan kalor terhadap udara di
sekelilingnya.

4)

Waktu solidifikasi total dapat dihitung menggunakan aturan Chvorinov:


( )

[ (

]( )

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Arsyad; Ardi. N/A. Makalah Teknik Pengecoran Logam. Makassar:


Jurusan Mesin UNHAS.
Buchori, Luqman. N/A. Perpindahan Panas (Heat Transfer) http://tekim.undip.
ac.id/images/download/PERPINDAHAN_PANAS.pdf diunduh 16 November 2014
Colton, J.S. 2011. Casting Analysis 2 Solidification and Cooling, Surface
Tension, Gas Solubility and Porosity. USA: Georgia Institute of
Technology.
Finkelstein & Leete. 2006. Macromedia Flash 8 For Dummies. Indiana:
Wiley Publishing.
Geiger & Poirier. 1973. Transport Phenomena in Metallurgy. USA: Addison
Wesley Publishing Company.
Holman, J.P. 1968. Heat Transfer, sixth edition. New York: McGraw Hill, Ltd.
Karim, Moh. Irsyad; dkk. 2013. Makalah Media Flash Menggunakan Aplikasi
Adobe Flash CS3. Surabaya: IAIN Sunan Ampel.
N/A. N/A. BAB II Dasar Teori http://eprints.undip.ac.id/41578/3/BAB_II.pdf
diunduh 16 November 2014
N/A. N/A. Solidification of Metals http://www.kecbu.uobaghdad.edu.iq/uploads/articles/
lectures/AutoMat/%20MANUFACTURING%20PROCESSES%20-I-first%20stage%20
dr.%20faez/Solidification%20of%20Metals%208.pdf diunduh 30 November 2014
Sudjana, Hardi. 2008. Teknik Pengecoran Logam, Jilid 2. Jakarta: Depdiknas.