Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM KORALOGI

DISUSUN OLEH :
ZIHNI IHKAMUDDIN

26020110130082

AULIA RATNASARI DS

26020110130083

FAISAL ISLAMI

26020110130085

LUTHFI SINATRYA

26020110130086

FADHIL FEBYANTO

26020110130087

AKHMAD FAISAL

26020110130089

KINTANTYA QURRATA

26020110130090

LIA ARYANTI

26020110130091

YULIA KARTIKASARI

26020110130092

DIAS NATASASMITA

26020110130093

PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN


JURUSAN ILMU KELAUTAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2012

LEMBAR PENILAIAN
PRAKTIKUM KORALOGI
Nama: KELOMPOK 3

NO.

KELAS : B

KETERANGAN

1.

Pendahuluan

2.

Tinjauan Pustaka

3.

Materi dan Metode

4.

Hasil dan Pembahasan

5.

Kesimpulan

6.

Daftar Pustaka

Ttd: .................................

NILAI

TOTAL

Mengetahui,
Koordinator Praktikum

ILHAM
K2D 009 0

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perairan Indonesia kaya akan sumberdaya alamnya dan salah satu kekayaan
tersebut adalah terumbu karang, dimana di daerah ini belum banyak dilakukan
kegiatan untukmenggali informasi yang berkaitan dengan karang. Meskipun
kondisi karang yang sangat menarik ini kini cukup memprihatinkan karena
berbagai beban aktivitas manusia yang berlebihan dan kepadatan penduduk di
wilayah pesisir yang terus bertambah, namun berbagai informasi yang dapat
merubah lingkungan menjadi lebih baik sangatlah diperlukan.
Kini masyarakat yang mengetahui dan mempelahari karang serta segala yang
berkaitan dengan berbagai hal pada karang sangatlah jarang, maka bila segala
kegiatan yang memberikan informasi mengenai karang tentu akan menambah
pengetahuan lebih untuk masa yang akan datang.
Terumbu karang (Coral reef) merupakan kumpulan organisme yang hidup
didasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat
menahan gaya gelombang laut. Organismeorganisme yang dominan hidup disini
adalah binatang-binatang karang yang mempunyai kerangka kapur, dan algae
yang banyak diantaranya juga mengandung kapur (Sorokin, 1993).
Terumbu karang menyediakan berbagai manfaat langsung maupun tidak
langsung. Cesar (2000) menjelaskan bahwa ekosistem terumbu karang banyak
meyumbangkan berbagai biota laut seperti ikan karang, mollusca, crustacean bagi
masyarakat yang hidup dikawasan pesisir. Selain itu bersama dengan ekosistem
pesisir lainnya menyediakan makanan dan merupakan tempat berpijah bagi
berbagai jenis biota laut yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Dari pernyataan-pernyataan diatas menurut para ahli bahwa terumbu karang
merupakan ekosistem yang sangat penting di lautan. Untuk itu perlu dipelajari
atau dikaji lagi ilmu-ilmu yang membahas mengenai terumbu karang. Ilmu yang
mengkaji tentang terumbu karang dan sekitarnya dinamakan koralogi. Ilmu
koralogi ini penting agar kita dapat mengetahui seluk-beluk mengenai terumbu

karang. Dengan kita mengetahui seluk-beluk terumbu karang maka kita dapat
mengetahui apa yang harus dilakukan untuk menjaga kelestarian terumbu karang.
Ekosistem terumbu karang tersusun atas beberapa karang dan biota-biota lain
yang hidup di dalamnya. Karang adalah binatang yang mempunyai sengat atau
lebih dikenal sebagai cnida (cnida=jelata) yang dapat menghasilkan kerangka
kapur didalam jaringan tubuhnya (Suharsono, 1996). Menurut Nybakken (1992)
Karang hidup berkoloni atau sendiri, tetapi hampir semua karang hermatipik
hidup berkoloni dengan berbagai individu hewan karang atau polyp.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah

Melatih para mahasiswa untuk mengenali jenis-jenis karang keras


(Scelactinia)
Melatih para mahasiswa untuk menerapkan penggunaan kunci identifikasi
karang keras melalui bentuk koloni (life form)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Terumbu Karang


Binatang karang adalah pembentuk utama ekosistem terumbu karang.
Binatang karang yang berukuran sangat kecil, disebut polip, yang dalam jumlah
ribuan membentuk koloni yang dikenal sebagai karang (karang batu atau karang
lunak). Dalam peristilahan terumbu karang, karang yang dimaksud adalah
koral, sekelompok hewan dari ordo Scleractinia yang menghasilkan kapur
sebagai pembentuk utama terumbu, sedangkan Terumbu adalah batuan sedimen
kapur di laut, yang juga meliputi karang hidup dan karang mati yang menempel
pada batuan kapur tersebut. Sedimentasi kapur di terumbu dapat berasal dari
karang maupun dari alga. Secara fisik terumbu karang adalah terumbu yang
terbentuk dari kapur yang dihasilkan oleh karang. Di Indonesia semua terumbu
berasal dari kapur yang sebagian besar dihasilkan koral. Di dalam terumbu
karang, koral adalah insinyur ekosistemnya. Sebagai hewan yang menghasilkan
kapur untuk kerangka tubuhnya,karang merupakan komponen yang terpenting
dari ekosistem tersebut. Jadi Terumbu karang (coral reefs) merupakan ekosistem
laut tropis yang terdapat di perairan dangkal yang jernih, hangat (lebih dari 22
C), memiliki kadar CaCO3 (Kalsium Karbonat) tinggi, dan komunitasnya
didominasi berbagai jenis hewan karang eras (Nybakken, J.W, 1988).
Terumbu adalah endapan-endapan masif yang penting dari kalsium karbonat
yang terutama dihasilkan oleh karang (filum Cnidaria, klas Anthozoa, ordo
Madreporaria = Sleractinia) dengan sedikit tambahan dari alga berkapur dan
organisme-organisme lain yang mengeluarkan kalsium karbonat. Meskipun
karang ditemukan di seluruh lautn di dunia, baik di perairan kutub ataupun di
perairan ugahari, seperti halnya daerah tropik, terumbu karang hanya berkembang
di daerah tropik. Hal ini disebabkan karena adanya dua kelompok karang yang
berbeda, yang satu dinamakan hermatipik dan yang lain ahermatipik (Nybakken,
1992).
Ada

dua

tipe

kapur (hermatypic
karang (ahermatypic

karang,

yaitu

coral) dan

yang

coral).

karang

yang

membentuk

bangunan

tidak

dapat

membentuk

bangunan

Karena

dapat

membentuk

bangunan

karang hermatypic coral sering dikenal pula sebagai reef-building coral seperti
pada jenis Scleractinia.
Kemampuan hermatypic coral membentuk bangunan kapur tidak lepas dari
proses hidup binatang ini. Binatang karang ini dalam hidupnya bersimbiose
dengan sejenis alga berfotosintesis (zooxanthellae) yang hidup di jaringanjaringan polyp karang tersebut. Hasil samping dari aktivitas fotosintesis ini adalah
endapan kapur kalsium karbonat (CaCO3) yang membentuk struktur dan
bangunan yang khas. Ciri ini yang digunakan untuk menentukan jenis dan spesies
binatang karang (Mapstone,1990).
Terumbu karang (Coral reef ) merupakan masyarakat organisme yang hidup
didasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat
menahan gaya gelombang laut. Sedangkan organismeorganisme yang dominan
hidup disini adalah binatang-binatang karang yang mempunyai kerangka kapur,
dan algae yang banyak diantaranya juga mengandung kapur. Berkaitan dengan
terumbu karang diatas dibedakan antara binatang karang atau karang (reef coral )
sebagai individu organism atau komponen dari masyarakat dan terumbu karang
(coral reef ) sebagai suatu ekosistem (Nybakken, J.W, 1988)
Terumbu karang (coral reef ) sebagai ekosistem dasar laut dengan penghuni
utama karang batu mempunyai arsitektur yang mengagumkan dan dibentuk oleh
ribuan hewan kecil yang disebut polip. Dalam bentuk sederhananya, karang terdiri
dari satu polip saja yang mempunyai bentuk tubuh seperti tabung dengan mulut
yang terletak di bagian atas dan dikelilingi oleh tentakel. Namun pada kebanyakan
spesies, satu individu polip karang akan berkembang menjadi banyak individu
yang disebut koloni (Mapstone,1990).
Terumbu karang (coral reef) merupakan masyarakat organism yang hidup di
dasar perairan dan berupa bentukan batuan kapur (CaCO3) yang cukup kuat
menahan gaya gelombang laut. Sedangkang organism-organisme yang dominan
hidup disini adalah binatang karang yang memiliki kerangka kapur, algae yang
banyak diantaranya juga mengandung kapur (Nybakken, J.W, 1988).
Terumbu terbentuk dari endapan massif terutama kalsium karbonat yang
dihasilkan

oleh

hewan

karang

(filum Cnidaria,

kelas Anthozoa,

bangsa Scleractina),

alga

berkapur

dan

organism-organisme

lain

yang

mengeluarkan kalsium karbonat (Nybakken, 1992).


Pembentukan karang merupakan proses yang lama dan kompleks. Berkaitan
dengan pembentukan terumbu karang terbagai atas dua kelompok yaitu karang
yang membentuk terumbu atau disebuthermatypic coral dan karang yang tidak
dapat membentuk terumbu atau ahermatypic coral. Kelompok hermatypic
coral dalam prosesnya bersembiosis dengan zooxentellae dan membutuhkan sinar
matahari untuk membentuk bangunan dari kapur yang dikenal dengan reef
building corals, sedangkan kelompok kedua tidak dapat membentuk bangunan
kapur sehingga dikenal dengan non-reef building corals yang secara normal
hidupnya tidak tergantung pada sinar matahari (Veron, 1986).

2.2 Anatomi dan Morfologi Karang


2.2.1 Anatomi Karang

Bagian-bagian tersebut didefenisikan sebagai berikut :


1. Koralit, merupakan keseluruhan rangka kapur yang terbentuk dari satu polip.
2. Septa, lempeng vertikel yang tersusun secara radial dari tengah tabung, seri
septa berbentuk daun dan tajam yang keluar dari dasar dengan pola berbeda
pada tiap spesies sehingga menjadi dasar pembagian (klasifikasi) spesies
karang. Dalam satu koralit terdapat beberapa lempeng vertikel septa.
3. Konesteum, suatu lempeng horisontal yang menghubungkan antar koralit.
4. Kosta, bagian septa yang tumbuh hingga mencapai dinding luar dari koralit

5. Kalik, bagian diameter koralit yang diukur dari bagian atas septa yang
berbentuk lekukan mengikuti bentuk bibir koralit
6. Kolumela, struktur yang berada di tengah koralit. Terdapat empat bentuk
kolumela yang sering dijumpai yaitu padat, berpori, memanjang dan tanpa
kolumela.
7. Pali, bagian dalam sebelah bawah dari septa yang melebar membentuk
tonjolan sekitar kolumela. Membentuk struktur yang disebut paliform.
8. Koralum, merupakan keseluruhan rangka kapur yang dibentuk oleh
keseluruhan polip dalam satu individu atau satu koloni.
9. Lempeng dasar, merupakan bagian dasar atau fondasi dari septa yang muncul
membentuk struktur yang tegak dan melekat pada dinding.

(Veron, 1986)
2.2.2 Anatomi Karang
Satu individu karang atau disebut polip karang memiliki ukuran yang
bervariasi mulai dari yang sangat kecil 1 mm hingga yang sangat besar yaitu lebih
dari 50 cm. Namun yang pada umumnya polip karang berukuran kecil. Polip
dengan ukuran besar dijumpai pada karang yang soliter.
Karang atau disebut polip memiliki bagian-bagian tubuh terdiri dari
1.

Mulut dikelilingi oleh tentakel yang berfungsi untuk menangkap mangsa dari
perairan serta sebagai alat pertahanan diri.

2. Rongga tubuh (coelenteron) yang juga merupakan saluran pencernaan


(gastrovascular)
3.

Dua lapisan tubuh yaitu ektodermis dan endodermis yang lebih umum disebut
gastrodermis karena berbatasan dengan saluran pencernaan. Di antara kedua

lapisan terdapat jaringan pengikat tipis yang disebut mesoglea. Jaringan ini
terdiri dari sel-sel, serta kolagen, dan mukopolisakarida. Pada sebagian besar
karang, epidermis akan menghasilkan material guna membentuk rangka luar
karang. Material tersebut berupa kalsium karbonat (kapur).

Gambar 1. Anatomi polip karang


(Veron, 1986)
Bertempat di gastrodermis, hidup zooxanthellae yaitu alga uniseluler dari
kelompok Dinoflagelata, dengan warna coklat atau coklat kekuning-kuningan.

Gambar 2. Lapisan tubuh karang dengan sel penyengat dan zooxanthellae.

Tampak sel penyengat dalam kondisi tidak aktif dengan yang sedang aktif
Karang dapat menarik dan menjulurkan tentakelnya. Tentakel tersebut aktif
dijulurkan pada malam hari, saat karang mencari mangsa, sementara di siang hari
tentekel ditarik masuk ke dalam rangka (Veron, 1986)
Di ektodermis tentakel terdapat sel penyengatnya (knidoblas) , yang
merupakan ciri khas semua hewan Cnidaria. Knidoblas dilengkapi alat penyengat
(nematosita) beserta racun di dalamnya. Sel penyengat bila sedang tidak
digunakan akan berada dalam kondisi tidak aktif, dan alat sengat berada di dalam
sel. Bila ada zooplankton atau hewan lain yang akan ditangkap, maka alat
penyengat dan racun akan dikeluarkan (Veron, 1986)

2.3 Jenis-Jenis Koralit


Suatu koralit karang baru dapat terbentuk dari proses budding (percabangan)
dari karang. Selain bentuk koralit yang berbeda-beda, ukuran koralit juga berbedabeda. Perbedaan bentuk dan ukuran tersebut memberi dugaan tentang habitat serta
cara menyesuaikan diri terhadap lingkungan, namun faktor dominan yang
menyebabkan perbedaan koralit adalah karena jenis hewan karang (polip) yang
berbeda-beda (Veron, 1986)
Pembagian bentuk koralit sebagai berikut :
1. Placoid, masing-masing koralit memiliki dindingnya masing-masing dan
dipisahkan oleh konesteum.

2. Cerioid, apabila dinding koralit saling menyatu dan membentuk permukaan


yang datar.

3. Phaceloid, apabila koralit memanjang membentuk tabung dan juga mempunyai


koralit dengan dinding masing-masing.

4. Meandroid, apabila koloni mempunyai koralit yang membentuk lembah dan


koralit disatukan oleh dinding-dinding yang saling menyatu dan membentuk
alur-alur seperti sungai.

5. Flabello-meandroid,

seperti

meandroid,

membentuk

lembah-lembah

memanjang, namun koralit tidak memiliki dinding bersama.

6. Dendroid, yaitu bentuk pertumbuhan dimana koloni hampir menyerupai pohon


yang dijumpai cabang-cabang dan di ujung cabang biasanya dijumpai kalik
utama.

7. Hydnophoroid, koralit terbentuk seperti bukit tersebar pada seluruh permukaan


sehingga sangat mudah untuk dikenal.

(Veron, 1986)
2.4 Life Form Karang
Pembentukan terumbu karang merupakan proses yang lama dan kompleks.
Berkaitan dengan pembentukan terumbu, karang terbagi atas dua kelompok yaitu
karang yang membentuk terumbu (karang hermatipik) dan karang yang tidak
dapat membentuk terumbu (karang ahermatipik). Kelompok pertama dalam
prosesnya bersimbiosis dengan zooxanthellae dan membutuhkan sinar matahari
untuk membentuk bangunan dari kapur yang kemudian dikenal reef building
corals, sedangkan kelompok kedua tidak dapat membentuk bangunan kapur
sehingga dikenal dengan nonreef building corals yang secara normal hidupnya
tidak tergantung pada sinar matahari (Veron, 1986).
Pembentukan terumbu karang hermatipik dimulai adanya individu karang
(polip) yang dapat hidup berkelompok (koloni) ataupun menyendiri (soliter).
Karang yang hidup berkoloni membangun rangka kapur dengan berbagai bentuk,
sedangkan karang yang hidup sendiri hanya membangun satu bentuk rangka
kapur. Gabungan beberapa bentuk rangka kapur tersebut disebut terumbu. Karang
memiliki variasi bentuk pertumbuhan koloni yang berkaitan dengan kondisi
lingkungan perairan. Berbagai jenis bentuk pertumbuhan karang dipengaruhi oleh
intensitas cahaya matahari, hydrodinamis (gelombang dan arus), ketersediaan
bahan makanan, sedimen, subareal exposure dan faktor genetik (Suharsono, 1996)
Berdasarkan bentuk pertumbuhannya karang batu terbagi atas karang
Acropora dan non-Acropora (English et.al., 1994). Perbedaan Acropora dengan
non- Acropora terletak pada struktur skeletonnya. Acropora memiliki bagian yang
disebut axial koralit dan radial koralit, sedangkan non-Acropora hanya memiliki
radial koralit.

Skeleton Acropora

Skeleton non-Acropora

A. Bentuk Pertumbuhan Karang non-Acropora


1. Bentuk Bercabang (branching), memiliki cabang lebih panjang daripada
diameter yang dimiliki, banyak terdapat di sepanjang tepi terumbu dan bagian
atas lereng terutama yang terlindungi atau setengah terbuka. Bersifat banyak
memberikan tempat perlindungan bagi ikan dan invertebrata tertentu.

Contohnya pada genus Pocillopora dan Seriatopora


2. Bentuk Padat (massive), dengan ukuran bervariasi serta beberapa bentuk
seperti bongkahan batu. Permukaan karang ini halus dan padat, biasanya
ditemukan di sepanjang tepi terumbu karang dan bagian atas lereng terumbu.

Contohnya pada genus Porites dan Goniastrea


3. Bentuk Kerak (encrusting), tumbuh menyerupai dasar terumbu dengan
permukaan yang kasar dan keras serta berlubang-lubang kecil, banyak terdapat
pada lokasi yang terbuka dan berbatu-batu, terutama mendominasi sepanjang
tepi lereng terumbu. Bersifat memberikan tempat berlindung untuk hewanhewan kecil yang sebagian tubuhnya tertutup cangkang.

Contohnya pada genus Montipora


4. Bentuk lembaran (foliose), merupakan lembaranlembaran yang menonjol pada
dasar terumbu, berukuran kecil dan membentuk lipatan atau melingkar,
terutama pada lereng terumbu dan daerah-daerah yang terlindung. Bersifat
memberikan perlindungan bagi ikan dan hewan lain.

Contohnya pada genus Montipora


5. Bentuk Jamur (mushroom), berbentuk oval dan tampak seperti jamur, memiliki
banyak tonjolan seperti punggung bukit beralur dari tepi hingga pusat mulut.

Contohnya pada genus Fungia


6. Bentuk submasif (submassive), bentuk kokoh dengan tonjolan-tonjolan atau
kolom-kolom kecil

Contohnya

pada

genus

Goniatsrea

dan

Echinopora
7. Karang api (Millepora), semua jenis karang api yang dapat dikenali dengan
adanya warna kuning di ujung koloni dan rasa panas seperti terbakar bila
disentuh

8. Karang biru (Heliopora), dapat dikenali dengan adanya warna biru pada
rangkanya

(Nybakken, J.W, 1988)


B. Bentuk pertumbuhan Acropora sebagai berikut :
Acropora bentuk cabang (Branching Acropora), bentuk bercabang seperti ranting
pohon.
1. Acropora meja (Tabulate Acropora), bentuk bercaban dengan arah mendatar
dan rata seperti meja. Karang ini ditopang dengan batang yang berpusat atau
bertumpu pada satu sisi membentuk sudut atau datar.

2. Acropora merayap (Encursting Acropora), bentuk merayap, biasanya terjadi


pada Acropora yang belum sempurna.

3. Acropora Submasif (Submassive Acropora), percabangan bentuk gada/lempeng


dan kokoh.

4. Acropora berjari (Digitate Acropora), bentuk percabangan rapat dengan


cabang seperti jari-jari tangan

(Supriharyono, 2000)
2.5 Reproduksi dan Histologi Karang
Menurut Richmond (2001), seperti hewan lain, karang memiliki
kemampuan reproduksi secara aseksual dan seksual.
Reproduksi aseksual adalah reproduksi yang tidak melibatkan peleburan gamet
jantan (sperma) dan gamet betina (ovum). Pada reproduksi ini, polip/koloni
karang membentuk polip/koloni baru melalui pemisahan potongan-potongan
tubuh atau rangka. Ada pertumbuhan koloni dan ada pembentukan koloni baru
Reproduksi seksual adalah reproduksi yang melibatkan peleburan sperma dan
ovum (fertilisasi). Sifat reproduksi ini lebih komplek karena selain terjadi

fertilisasi, juga melalui sejumlah tahap lanjutan (pembentukan larva,


penempelan baru kemudian pertumbuhan dan pematangan).

2.5.1 Reproduksi Aseksual


Menurut Richmond (2001), dalam membahas reproduksi aseksual, perlu
dipisahkan antara pertumbuhan koloni dengan pembentukan koloni baru
1. Pertunasan
Terdiri dari:
Intratentakular yaitu satu polip membelah menjadi 2 polip; jadi polip baru
tumbuh dari polip lama
Ekstratentakular yaitu polip baru tumbuh di antara polip-polip lain. Jika
polip dan jaringan baru tetap melekat pada koloni induk, ini disebut
pertambahan ukuran koloni. jika polip atau tunas lepas dari koloni induk
dan membentuk koloni baru, ini baru disebut reproduksi aseksual
2. Fragmentasi
Koloni baru terbentuk oleh patahan karang.
Terjadi terutama pada karang bercabang, karena cabang mudah sekali patah
oleh faktor fisik (seperti ombak atau badai) atau faktor biologi (predasi oleh
ikan). Patahan (koloni) karang yang lepas dari koloni induk, dapat saja
menempel kembali di dasaran dan membentuk tunas serta koloni baru. Hal itu
hanya dapat terjadi jika patahan karang masih memiliki jaringan hidup
3. Polip bailout
Polip baru terbentuk karena tumbuhnya jaringan yang keluar dari karang mati.
Pada karang yang mati, kadang kala jaringan-jaringan yang masih hidup dapat
meninggalkan skeletonnya untuk kemudian terbawa air. Jika kemudian
menemukan dasaran yang sesuai, jaringan tersebut akan melekat dan tumbuh
menjadi koloni baru
4. Partenogenesis
Merupakan peristiwa dimana larva tumbuh dari telur yang tidak mengalami
fertilisasi

2.5.2 Reproduksi Seksual


Karang memiliki mekanisme reproduksi seksual yang beragam yang
didasari oleh penghasil gamet dan fertilisasi. Keragaman itu meliputi:
A. Berdasar individu penghasil gamet, karang dapat dikategorikan bersifat:
1. Gonokoris
Dalam satu jenis (spesies), telur dan sperma dihasilkan oleh individu yang
berbeda. Jadi ada karang jantan dan karang betina
Contoh: dijumpai pada genus Porites dan Galaxea
2. Hermafrodit
Bila telur dan sperma dihasilkan dalam satu polip. Karang yang hermafrodit
juga kerap kali memiliki waktu kematangan seksual yang berbeda, yaitu :
Hermafrodit yang simultan ; menghasilkan telur dan sperma pada w aktu
bersamaan dalam kesatuan sperma dan telur (egg-sperm packets). Meskipun
dalam satu paket, telur baru akan dibuahi 10-40 menit kemudian yaitu setelah
telur dan sperma berpisah.
Contoh: jenis dari kelompok Acroporidae, favidae
Hermafrodit yang berurutan ; ada dua kemungkinan yaitu :
o Individu karang tersebut berfungsi sebagai jantan baru, menghasilkan
sperma untuk kemudian menjadi betina (protandri), atau
o Jadi betina dulu, menghasilkan telur setelah itu menjadi jantan (protogini)
Contoh: Stylophora pistillata dan Goniastrea favulus
Meski dijumpai kedua tipe di atas, sebagian besar karang bersifat gonokoris
(Richmond,2001)
B. Berdasar mekanisme pertemuan telur dan sperma
1. Brooding/planulator
Telur dan sperma yang dihasilkan, tidak dilepaskan ke kolom air sehingga
fertilisasi secara internal. Zigot berkembang menjadi larva planula di dalam polip,
untuk kemudian planula dilepaskan ke air. Planula ini langsung memiliki
kemampun untuk melekat di dasar perairan untuk melanjutkan proses
pertumbuhan.
Contoh: Pocillopora damicornis dan Stylophora
2. Spawning

Melepas telur dan sperma ke air sehingga fertilisasi secara eksternal. Pada
tipe ini pembuahan telur terjadi setelah beberapa jam berada di air.
Contoh: pada genus Favia
Dari sebagian besar jenis karang yang telah dipelajari proses reproduksinya, 85%
di antaranya menunjukkan mekanisme spawning. Waktu pelepasan telur secara
massal, berbeda waktu tergantung kondisi lingkungan, sebagai contoh:
Richmond dan Hunter menemukan bahw a di Guam, Micronesia: puncak
spawning terjadi 7-10 hari setelah bulan purnama bulan Juli
Kenyon menemukan spawning di Kepulauan Palau terjadi selama beberapa
bulan, yaitu Maret, April dan Mei
(Richmond 1991)
Siklus reproduksi karang secara umum adalah sebagai berikut:

Telur & spema dilepaskan ke kolom air (a)


terjadi di permukaan air (b)

fertilisasi menjadi zigot

zygot berkembang menjadi larva planula yang

kemudian mengikuti pergerakan air . Bila menemukan dasaran yang sesuai, maka
planula akan menempel di dasar (c)
terjadi kalsifikasi (e)

planula akan tumbuh menjadi polip (d)

membentuk koloni karang (f) namun karang soliter tidak

akan membentuk koloni (Richmond,2001).


Baik reproduksi secara seksual maupun secara aseksual dijalankan oleh
karang tentunya untuk tujuan mempertahankan keberadaan spesiesnya di alam.
Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan sehingga kedua metode tersebut
saling melengkapi (Richmond,2001).

III. MATERI DAN METODE

3.1

Materi
Materi yang disampaikan pada praktikum matakuliah Koralogi ini adalah

mengenai morfologi dan anatomi karang, histologi, serta penentuan kondisi


terumbu karang dengan teknik transek.

3.2

Waktu dan Tempat

3.2.1

Praktikum Laboratorium
Praktikum Laboratorium matakuliah koralogi dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Senin, 12 November 2012
Waktu

: Pukul 13.00 15.00 WIB

Tempat

: Laboratorium Biologi Lt. 1 Jurusan Ilmu Kelautan,

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan,

Universitas Diponegoro,

Tembalang, Semarang

3.2.2

Praktikum Lapangan
Praktikum lapangan matakuliah Koralogi ini dilaksanakan pada:
Hari, tanggal : Sabtu, 17 November 2012
Waktu

: Pukul 08.00- Selesai

Tempat

: Pulau Panjang, Jepara

3.3

Alat dan Bahan

3.3.1

Praktikum Laboratorium

3.3.1.1 Alat
a. Mikroskop
b. Alat tulis
c. Buku gambar
d. Karang yang sudah mati
e. Lup (kaca pembesar)
f. Cover glass

3.3.1.2`Bahan
a. Sampel hasil isolasi karang
b. Alkohol

3.3.2

Praktikum Lapangan

3.3.2.1 Alat

Skin dive

Kertas Waterprof

Pelampung

Roll Meter

Alat Tulis

Papan Jalan

3.4 Metode
3.4.1

Praktikum Laboratorium

Morfologi dan Anatomi karang


1. Dilakukan pengamatan karang yang telah disediakan oleh asisten
2. Pengamatan dilakukan dengan bantuan kaca pembesar atau lup dan buku
identifikasi
3. Digambar bentuk life form dan bentuk koralit dari karang tersebut dan
diberi keterangan
Histologi
1. Dilakukan

pengambilan

sampel

dengan

cara

mentetesi

preparat

menggunakan pipet tetes


2. Deagles diletakka diatas preparat yang telah ditetesi sampel tadi agar
sampel tidak tercecer
3. Preparat disiapkan diatas deagles sebagai penutup
4. Mikroskop diletakkan dalam kondisi siap untuk pakai
5. Preparat diletakkan yang berisisampeltadipadamikroskopdengan pas/tepat
6. Sampel diamati dengan mengatur objek yang tepat pada
kearah kanan kiri atau atas bawah sampai hasil ditemukan

mikroskop

7. Hasil yang diperole pada kertas gambar sebagai laporan sementara dan
memberikan keterangan

3.4.2

Praktikum Lapangan

Penentuan Kondisi Terumbu Karang dengan Teknik Transek


1. Dilakukan pemilihan lokasi pengamatan di depan dataran terumbu,
praktikan berenang atau snorkling menuju lokasi pengamatan.
2. Dipilih komunitas terumbu karang dengan jenis karang penyusun yang
cukup bervariasi.
3. Diletakkan transek garis dengan menarik meteran roll meter sejajar garis
pantai sepanjang 100 meter.
4. Diamati koloni karang keras yang terdapat di bawah meteran kemudian
identifikasi genus atau jenis dengan menentukan bentuk koloni, ciri- ciri
koralit (bentukdan diameter) serta mengukur panjang masing- masing
koloni.
5. Dicatat bentuk dan ukuran koloni serta koralit tersebut dari 0 100 meter
dengan ketelitian (panjang koloni= cm dan diameter koralit= mm) dalam
kertas waterprof
6. Dihitung prosentase tutupan karang hidup dengan rumus:

Dimana
Ni = Prosentase tutupan karang hidup (%)
Li = Panjang koloni karang per panjang transek garis (cm)
L =Panjang transek garis (100 m)
7. Diolah data yang didapat pada komputer dengan membuat pie-chart

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
4.1.1 Pendataan Life Form
Li (cm)
Kelompok Kelompok Kelompok
2
3
4
385
590
510
75
140
100
43
70
0
679
813
340
711
471
163
44
70
0
0
0
0
138
220
1090
113
0
0
126
10
0
48
0
0
138
20
0
0
16
0
0
80
8
0
0
97
0
0
66
0
0
67
0
0
59

Life Form Kelompok


1
CS
127
DC
293
OT
65
SD
770
CM
945
ACD
30
CF
10
DCA
235
ACS
15
ACB
10
ACT
0
ACE
0
CB
0
SP
0
COTS
0
AA
0
R
0
SC
0

4.1.2 Penutupan Karang Tiap Life Form


Life Form

Li (cm)

Persentase
Penutupan (%)

CS

1612

16,12

DC

608

6,08

OT

178

1,78

SD

2602

26,02

CM

2290

22,9

ACD

144

1,44

10

0,1

CF

DCA

1683

16,83

ACS

128

1,28

ACB

146

1,46

ACT

48

0,48

ACE

158

1,58

CB

16

0,16

SP

88

0,88

COTS

97

0,97

AA

66

0,66

67

0,67

SC

59

0,59

10000

100

Jumlah

Perhitungan:

CS

CM

%
DC

ACD

%
OT

CF

%
SD

DCA

ACS

SP

ACB
COTs

ACT
AA

ACE
R

CB

SC

4.1.3 Penutupan Karang Transek


Klasifikasi

Persentase

Li (cm)

Penutupan (%)

HC

4552

45,52

SC

59

0,59

Other Living

2111

21,12

Non Living Object

3278

32,77

10000

100

Jumlah

4.1.4 Grafik Pie Chart

4.2

Pembahasan

4.2.1 Praktikum Laboratorium


Hasil dari pengamatan histologi yang telah dilakukan terhadap beberapa
sampel sayatan jaringan dari karang menunjukan beberapa bagian-bagian dari
histologi karang tersebut berupa mesentary (ms), mesoglea (mg), fasculer (fc),
germinal varicei (gy), yolk (y), dan zooxanthella (z). Hanya terdapat satu sampel
yang memiliki kuning telur yaitu sayatan H-41 (2), sedangkan sampel yang lain
tidak terlihat jelas adanya kuning telur. Setiap bagian memiliki ciri-ciri tersendiri,
mesoglea (mg) memiliki ciri berupa saluran panjang dan terdapat bintik-bintik
hitam, mesentary berupa kumpulan dari bintik-bintik hitam yang membentuk
kelompok, dan zooxanthella berbentuk bulat agak besar.
Hal yang dilakukan saat pengamatan anatomi berupa pengamatan lifeform,
morfologi, dan jenis coralite pada karang tersebut. Hasil pengamatan menunjukan
terdapat beberapa lifeform pada jenis karang berupa massive dan mushroom.
Setiap karang memiliki jenis coralite yang berbeda walaupun dalam lifeform yang
sama. Bebrapa bentuk massive memiliki coralite ceroid, meandroid dan phaceloid.
Sedangkan untuk mushroom termasuk kedalam karang yang soliter. Setiap
coralite memiliki ciri khas tersendiri, ceroid memiliki satu wall atau dinding
sehingga karang tersebut tidak memiliki conesteum, placoid memiliki wall yang
berbeda seingga karang ini memiliki conesteum atau pemisah antar wall, placeloid
memiliki tegakan sendiri dan tidak memiliki kosta hanya memiliki wall dan

memiliki conesteum, meandroid memiliki satu wall dan terdiri dari beberapa
columela.

4.2.2

Praktikum Lapangan

4.2.2.1 Pengamatan Ekosistem Terumbu Karang dengan Metode LIT


Pada saat praktikum lapangan, tepatnya di sebelah barat pulau panjang.
Kita dapat mengetahui bahwa sebaran karang keras melebihi angka 45 %,dari 45
% tersebut, didominasi karang jenis Non Acropora sebesar 86%, sedangkan untuk
komposisi jenis lifeform, kita menemukan banyak sekali coral massive sebesar
22,9 %.
Bila dibandingkan antara karang massive dan branching, jumlah karang
branching lebih sedikit dari pada karang massive di sebelah barat perairan pulau
panjang, padahal telah kita ketahui bahwa pertumbuhan karang branching lebih
cepat dibandingkan karang massive, namun pada kenyataanya jumlahnya
cenderung terbalik. Hal ini bisa dikarenakan oleh daya tahan dari life form
tersebut. Untuk branching dia memang memiliki alur reproduksi yang sangat
cepat, namun memiliki struktur CaCo3 yang rapuh, hal ini bertolak belakang
dengan life form massive, dimana pertumbuhannya sangat lambat, namun dia
memiliki struktur CaC03 yang sangat kuat. Sehingga karang massive mampu
hidup pada kondisi yang lebih ekstrim dari pada karang branching
Kerusakan atau kematian terumbu karang, baik itu yang mati (DC)
maupun yang telah ditumbuhi alga (DCA), disebabkan oleh banyak faktor, yang
inti utamanya terbagi menjadi 2 bagian , yaitu faktor manusia, dan faktor alam.
Untuk faktor manusia meliputi kegiatan seperti : kegiatan orang memancing,
tempat sandar kapal, dsb. Untuk faktor alam meliputi kedalaman, temperature,
salinitas, pergerakan air, dan kecerahan perairan.
Banyaknya karang yang mati dan telah ditumbuhi alga (DCA),
menyebabkan terjadinya pertumbuhan bulu babi (Diadema saxatile) tumbuh
sangat pesat, karena pada daerah tersebut nutrisi makanan utama yaitu alga, cukup
melimpah.

4.2.1.2 Pengenalan Metode Manta Taw


Manta taw pada dasarnya merupakan metode pengamatan ekosistem
terumbu karang.Pada saat praktikum lapangan kali ini, kegiatan manta taw,
dilakukan pada daerah perairan teluk awur, -/+ 200 meter ke arah utara dermaga
teluk awur.
Metode manta taw, bila dibandingkan dengan Line Intercept transek (LIT),
cenderung memiliki banyak perbedaan, bisa dilihat dari data yang diambil, bila
manta taw menggunakan presentase penutupan tanpa melihat jenis lifeformnya,
sedangkan untuk Line intercept transek (LIT), cenderung lebih jelas karena data
yang diambil hingga tingkat jenis genus, dan juga datanya memiliki ketelitian 1
cm.

V. KESIMPULAN
Dari praktikum yang sudah dilakukan kita dapat menyimpulkan beberapa hal,
yaitu :
5.1 Dalam praktikum kali ini karang keras (Scleractinia) yang di temukan di
Pulau Panjang antara lain adalah jenis karang massive, karang branching,
karang digitate dan karang submassive. Karang keras yang paling banyak
adalah jenis karang massive, karena karang massive memiliki bentuk seperti
bongkahan batu yang kokoh dan tahan akan kondisi ekstrim.

5.2 Untuk identifikasi karang bisa dilihat dari bentuknya, seperti karang massive
yang memiliki bentuk seperti bongkahan batu. Karang branching memiliki
cabang yang panjang dan karang submassive yang memiliki tonjolan
tonjolan atau kolom kolom kecil. Beberapa karang massive memiliki
coralite ceroid, meandroid dan phaceloid.

DAFTAR PUSTAKA

Cesar, HS. 2000. Coral Reefs : Their Functions, Threats and Economic Value.
Working Paper Series Work in Progress, World Bank, Washington DC.
Mapstone, G.M 1990. Reef Corals and Sponges of Indonesia: a Video Based
Learning Module. Division of Marine Science. United nation Educational
Scientific and Cultural Organization. Nedherlands
Nybakken, J.W. 1988. Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologi (alih bahasa dari
Marine Biology : An Ecologycal Approach, Oleh : M. Eidman,
Koesoebiono, D.G. Bengen, M.Hutomo, dan S. Sukardjo). PT Gramedia.
Jakarta.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut suatu pendekatan Ekologi. Gramedia Pustaka
Utama. Jakarta.
Richmond, R.H. 2001. Reproduction and Recruitment in Corals: Critical Links in
the Persistence of Reefs. Dalam: Birkeland, C. (ed.) 2001. Life and Death of
Coral Reefs. Chapman & Hall, New York: 175-197.
Sorokin, Y. I., 1993. Coral Reef Ecology. Ecological Studies 102. SpringerVerlag. Berlin. Heidelberg. 465 pp.
Suharsono, 1996. Jenis-Jenis Karang Yang Umum di Jumpai di Perairan
Indonesia. P3O-LIPI. Jakarta.
Supriharyono, 2000.

Pengelolaan Ekosistem Terumbu Karang. Penerbit

Djambatan. Jakarta.
Veron. J.E.N. 1986. Coral of Australia and The Indofasific. Angus & Robertos.
Australia,