Anda di halaman 1dari 30

PENGARUH MINYAK JELANTAH HASIL PEMURNIAN

AMPAS TEBU TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT


TIKUS (Rattus norvegicus)

KARYA TULIS ILMIAH


Diajukan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Metodologi dan Desain Penelitian

TAZYINUL QORIAH ALFAUZIAH


260110110027

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS FARMASI
JATINANGOR
2015

PENGARUH MINYAK JELANTAH HASIL PEMURNIAN AMPAS


TEBU TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT TIKUS (Rattus
norvegicus)
Tazyinul Qoriah Alfauziah/260110120027
Outline:
-

Prevalensi minyak jelantah


Kandungan minyak jelantah
Bahaya minyak jelantah, studi in vivo
Pemurnian minyak jelantah dengan adsorben
Ampas tebu, alasan
Uji kualitas minyak hasil pemurnian
Kurangnya studi in vivo minyak jelantah hasil pemurnian
Sistem detoksifikasi utama -> hati
Kadar SGOT dan SGPT sebagai indikator kerusakan hati

PENGARUH MINYAK JELANTAH HASIL PEMURNIAN


AMPAS TEBU TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT
TIKUS (Rattus norvegicus)

KARYA TULIS ILMIAH

TAZYINUL QORIAH ALFAUZIAH


260110110027

Jatinangor, April 2015


Menyetujui,

Pembimbing

Arif Budiman, M. Si., Apt.


NIP. 19820912 201012 1 004

PENGARUH MINYAK JELANTAH HASIL PEMURNIAN AMPAS


TEBU TERHADAP KADAR SGOT DAN SGPT TIKUS (Rattus
norvegicus)
Tazyinul Qoriah Alfauziah/260110120027
ABSTRAK
Penggunaan

minyak

secara

terus

menerus

dan

pemanasan dalam suhu tinggi menyebabkan kerusakan minyak


karena terjadi proses hidrolisis, oksidasi, dan polimerisasi. Pada
minyak

jelantah,

bilangan

asam

dan

peroksida

meningkat,

akibatnya menimbulkan berbagai macam penyakit. Dengan dalih


lemahnya kondisi ekonomi, masyarakat tetap menggunakan minyak
jelantah sehingga tercetuslah gagasan untuk melakukan pemurnian
minyak jelantah dengan menggunaka adsorben. Penelitian ini
bertujuan untuk menyajikan data klinis mengenai keamanan dari
minyak jelantah yang telah dimurnikan dengan menggunakan
ampas tebu pada kadar SGOT dan SGPT tikus putih (Rattus
norvegicus). Sebanyak 18 ekor tikus dibagi ke dalam 3 kelompok,
yaitu kontrol positif, kontrol negatif, dan kelompok uji. Setelah
minggu ke-8, diukur kadar SGOT dan SGPT tikus. Hasil yang
diharapkan adalah kadar SGOT dan SGPT kelompok uji tidak

melebihi kontrol positif. Bila demikian, dapat disimpulkan bahwa


minyak jelantah hasil pemurnian dengan ampas tebu aman
dikonsumsi.
Kata kunci: Minyak jelantah, SGOT dan SGPT, ampas tebu, tikus
Kunci utama: SGOT dan SGPT

BAB I
PENDAHULUAN
1. 1Latar Belakang
Minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok yang
konsumsinya mencapai 3,2 juta ton pada tahun 2010 (BPOM dalam
Nurhasanah et al., 2015). Selain itu, makanan yang digoreng
banyak disukai oleh masyarakat (Sutejo et al., 2012). Minyak
goreng yang digunakan secara terus menerus dan dipanaskan
dalam suhu tinggi menyebabkan kerusakan minyak (Setiati, 2003).
Secara

kimia,

minyak

goreng

mengalami

reaksi

cyclization,

polimerisasi, oksidasi, hidrolisis, dan degradasi menjadi senyawa


yang mudah menguap (Thomas et al., 1986). Hidrolisis terjadi saat
makanan yang berair digoreng sehingga menyebabkan produksi
asam lemak yang berakibat pada meningkatnya bilangan asam.
Oksidasi minyak goreng terjadi akibat kontak dengan oksigen.
Meskipun tidak terjadi pemanasan, dapat terjadi auto-oksidasi.
Namun, reaksi ini dibantu dengan adanya kenaikan temperatur,
paparan sinar UV dan adanya logam berat (Cu dan Fe) (EN Frankel,
1980).
Minyak goreng yang dipakai berulang kali warnanya akan
menjadi gelap dan berbau tengik. Reaksi degradasi menurunkan
kualitas minyak sehingga minyak tidak dapat digunakan lagi

(Maskan et al., 2003). Di Cianjur, sebanyak 62,8% ibu rumah tangga


masih menggunakan minyak jelantah (Nadirawati et al., 2010).
Konsumsi dan produksi minyak goreng yang semakin meningkat
akhirnya

menjadikan

ketersediaan

minyak

jelantah

melimpah

(BPOM dalam Nirmala et al., 2015). Minyak jelantah mempunyai


bilangan peroksida tinggi sehingga bisa menjadi sumber radikal
bebas di dalam tubuh (Setiati, 2003). Penggunaan minyak jelantah
dapat

membahayakan

kesehatan

dan

menimbulkan

penyakit

seperti kanker, peradangan, aterosklerosis, penyempitan pembuluh


darah, dan mempercepat proses penuaan (Widayat et al., 2006).
Meskipun menimbulkan dampak negatif, penggunaan
minyak jelantah merupakan hal yang biasa bagi masyarakat.
Sebagian orang mengatakan gorengan dari minyak jelantah lebih
sedap. Alasan lainnya adalah karena kondisi ekonomi yang lemah
(Triyanto, 2013). Untuk meningkatkan kualitas bahan pangan, serta
pertimbangan

dari

sisi

ekonomi,

muncul

penelitian

untuk

memurnikan minyak jelantah agar bisa digunakan kembali (Yustinah


et al., 2011) dengan kualitas yang sama seperti minyak goreng
baru. Salah satu cara pemurnian minyak jelantah yan sederhana
dan efisien adalah dengan menggunakan adsorben (Maskan et al.,
2003). Adsorben yang dapat digunakan di antaranya kaolin, zeolit,

arang aktif, alumina, sekam padi, ampas tebu, tempurung kelapa,


dan bentonit (Marshall et al., 1996).
Menurut Triyanto (2013), terjadi penurunan bilangan asam
dan bilangan peroksida pada minyak jelantah yang dimurnikan
menggunakan ampas tebu teraktivasi. Begitu pula pada minyak
jelantah

hasil

pemurnian

dengan

menggunakan

arang

aktif

(Yustinah et al. 2011). Namun, penelitian eksperimental secara in


vivo mengenai keamanan minyak jelantah hasil pemurnian masih
belum ditemukan sampai sekarang. Penelitian ini bermaksud untuk
menyajikan data klinis mengenai keamanan minyak jelantah hasil
pemurnian yang diukur dari kadar SGOT dan SGPT tikus.
1. 2Identifikasi Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, masalah yang dapat
diidentifikasikan adalah bagaimana pengaruh pemberian hasil
pemurnian minyak jelantah dengan ampas tebu terhadap kadar
SGOT dan SGPT tikus?
1. 3Maksud dan Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keamanan
pemberian hasil pemurnian minyak jelantah dengan ampas tebu
secara in vivo pada tikus.
1. 4Kegunaan Penelitian
Diharapkan hasil penelitian dapat memberikan informasi
ilmiah mengenai keamanan hasil pemurnian minyak jelantah

menggunakan ampas tebu sehingga dapat menjadi referensi dalam


melanjutkan proses pemurnian minyak jelantah.
1. 5Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan metode eksperimental yang
dilakukan di laboratorium. Pada penelitian ini, dilakukan pengujian
keamanan secara in vivo pada tikus putih (Rattus norvegicus)
jantan strain Wistar yang diberikan hasil pemurnian minyak jelantah
menggunakan ampas tebu dengan kadar SGOT dan SGPT sebagai
parameter. Tahapan kerja yang dilakukan adalah sebagai berikut:
1. Pemurnian minyak goreng bekas dengan ampas tebu (Triyanto,
2013)
a. Proses penghilangan bumbu (despicing)
b. Pemucatan (bleaching)
2. Pengujian keamanan hasil pemurnian minyak jelantah dengan
ampas

tebu terhadap kadar SGOT

dan SGPT

tikus

putih

menggunakan alat tes SGOT dan SGPT.


a. Menyiapkan 18 ekor tikus putih jantan strain Wistar berumur
kurang lebih tiga bulan dengan berat rata-rata 200 g.
b. Mengadaptasikan tikus di lingkungan baru selama satu minggu,
memberi pakan standar, dan memeriksa kesehatannya.
c. Membagi tikus ke dalam tiga kelompok:
1) Kontrol negatif, yaitu kelompok tikus putih yang diberikan
minyak curah per oral sebanyak 1 mL.
2) Kontol positif, yaitu kelompok tikus putih yang diberikan
minyak goreng bekas tanpa pemurnian sebanyak 1 mL.
3) Kelompok uji, yaitu kelompok tikus putih yang diberikan
minyak goreng bekas dengan pemurnian sebanyak 1 mL.

d. Mengukur kadar SGOT dan SGPT tikus setelah diberi perlakuan


selama 8 minggu.
3. Analisis data secara statistika dengan metode Analisis Varians
(ANAVA) tipe Desain Acak Sempurna dan metode Duncan.
1. 6Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmakologi dan
Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Padjadjaran pada bulan
Maret 2015 sampai dengan selesai.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Minyak Goreng Kelapa Sawit
2.5.1
Kelapa Sawit
Minyak kelapa sawit berasal dari mesokarp kelapa sawit.
Kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu bagian
vegetatif (akar, batang, dan daun) dan bagian generatif (bunga dan
buah).
Berikut merupakan klasifikasi tanaman kelapa sawit:
Divisi

: Spermatophyta

Sub Divisi: Angiospermae


Kelas

: Monocotyledoneae

Bangsa

: Arecales

Suku

: Arecaceae

Genus

: Elaieis

Spesies

: Elaeis guineensis

Gambar 2.1 Tanaman Kelapa


Sawit
(Sumber: http://id.wikipedia.org)
2.5.2
Minyak Goreng
Minyak goreng merupakan salah satu bahan pokok yang

konsumsinya mencapai 3,2 juta ton pada tahun 2010 (BPOM dalam
Nurhasanah et al., 2015). Minyak nabati yang sering digunakan
adalah minyak kelapa sawit, zaitun, kedelai, jagung, dan bunga
matahari.

Komposisi utama dari minyak goreng adalah trigliserida dari


bahan nabati baik dengan maupun tanpa perubahan kimiawi,
contohnya hidrogenasi, pendinginan, dan proses pemurnian (May,
1994).
Tabel 2.1. Komponen Asam Lemak dalam Minyak Sawit
Jenis Asam Lemak
Asam Laurat (C12:0)
Asam Meristrat (C14:0)
Asam Palmitat (C16:0)
Asam Stearat (C18:0)
Asam Oleat (C18:1)
Asam Linoleat (C18:2)
Asam Linolenat (C18:3)

Persen Komposisi
0,0 0,4
0,6 1,7
41,1 47,0
3,7 5,6
38,2 43,6
6,6 11,9
0,0 0,6
(May, 1994).

Minyak kelapa sawit terdiri dari trigliserida, ester gliserol


dengan tiga molekul asam lemak (Ketaren, 1986), yang dapat
dilihat berdasarkan gambar berikut:

Gambar 2.2 Struktur trigliserida


(Sumber: http://www.chem-is-try.org/wp-content/uploads/2010/01/gambar-14.41260x300.jpg)

2.2 Kerusakan Minyak Goreng


Parameter rusaknya minyak

goreng dapat dilihat dari

ketengikan dan perubahan warna minyak goreng. Kerusakan dapat


terjadi pada baik pada proses pengolahan, penyimpana, distribusi,
dan penggunaannya. Ketengikan disebabkan karena terjadi reaksi
oksidasi dan hidrolisis (Meyer, 1960), sedangkan perubahan warna
minyak goreng terjadi karena reaksi oksidasi dan Maillard (Moreira,
1999; Maskan et al., 2003).
2.5.1
Reaksi Oksidasi Minyak Goreng
Reaksi oksidasi terjadi karena adanya oksigen, kenaikan
temperatur, adanya cahaya, dan kontak dengan peroksida logam
berat (Cu, Zn, Sn) yang berasal dari alat dan kemasan (Raharjo,
2004). Oksidasi dapat terjadi pada saat penyimpanan (Lee et al.,
2002). Reaksi ini menghasilkan produk berupa peroksida, radikal
bebas, keton, aldehid, polimer, hidroperoksida, dan monomer
teroksidasi,

yang

kesemuanya

memberikan

pengaruh

terhadap kesehatan (Paul et al., 1997).


Tahapan reaksinya dapat dilihat pada gambar berikut:

buruk

Gambar 2.3 Reaksi oksidasi pada minyak goreng (Ketaren, 1986).


2.5.2
Reaksi Hidrolisis Minyak Goreng
Reaksi hidrolisis minyak goreng menghasilkan asam lemak
bebas akibat kontak dengan air sehingga menyebabkan minyak
menjadi semakin tengik dan bakteri perusak berkembang biak
(Poedjadi, 1994). Asam lemak bebas yang terbentuk mudah
teroksidasi dan terdekomposisi menjadi radikal bebas (Lin et al.
2001).

Gambar 2.4 Reaksi hidrolisis minyak goreng


(Sumber: http://www.chem-is-try.org/wp-content/uploads/2010/01/gambar-14.43300x73.jpg)

2.5.3
Reaksi Maillard Minyak Goreng
Reaksi Maillard merupakan reaksi pencoklatan yang bersifat
nonenzimatis akibat adanya reaksi antara gula pereduksi dan gugus
amin bebas yang berasal dari asam amino atau protein (Catrien et
al., 2008). Diperkirakan bahwa senyawa dalam bahan yang
digoreng terlarut dalam minyak dan memberikan warna gelap pada
minyak. Komponen bahan yang digoreng akan berinteraksi baik
dengan minyak maupun senyawa hasil degradasi membentuk
senyawa berwarna (Maskan et al., 2003).
2.3 Parameter Kualitas Minyak Goreng
Kualitas minyak goreng secara umum dapat diketahui dari
kadar air, bilangan asam, bilangan peroksida, dan bilangan iod.
Tabel 2.2. Parameter Kualitas Minyak Goreng
No
1
2
3

Kriteria Uji
Warna
Kadar Air
Asam
lemak

Persyaratan
kuning muda
jernih
maks. 0,3%
maks. 0,3%

bebas
Bilangan
maks. 2 mEq/kg
Peroksida
5 Bilangan Iod
45-46
Sumber: Dewan Standardisasi Nasional, 1995
4

2.5.1
Kadar Air
Kadar air marupakan persentasi air yang menguap pada
pemanasan dengan temperatur dan waktu tertentu. Air yang
terkandung dalam minyak dapat menyebabkan hidrolisis yang
berperan dalam ketengikan minyak (Ketaren, 1986).
2.5.2
Bilangan Asam
Bilangan asam menunjukkan jumlah asam lemak bebas
dalam suatu minyak. Menurut Ketaren (1986), bilangan asam
dinyatakan

sebagai

banyaknya

KOH

(dalam

milligram)

yang

digunakan untuk menetralisasi asam lemak bebas pada satu gram


minyak. Bilangan asam ini berhubungan dengan titik asap dan
indeks bias minyak goreng. Meningkatnya bilangan asam minyak
gireng, indeks bias minyak meningkat, sedangkan titik asap minyak
menurun (Winarno, 1997).
2.5.3
Bilangan Peroksida
Bilangan peroksida menunjukkan derajat kerusakan minyak
yang didasarkan pada reaksi alkali iodida dengan ikatan peroksida.
Iod kemudian dititrasi dengan larutan natrium tiosulfat. Bilangan
peroksida dinyatakan dalam mol ekivalen peroksida dalam 1000
gram sampel (Ketaren, 1986).
2.5.4
Bilangan Iod

Bilangan iod adalah derajat ketidakjenuhan asam lemak


bebas yang menyusun minyak dan lemak. Asam lemak tidak jenuh
dapat mengikat iod membentuk senyawa jenuh. Semaki banyak iod
yang terikat maka semakin banyak ikatan rangkap yang terdapat
dalam minyak tersebut. Bilangan iod dinyatakan sebagai jumlah
gram iod yang berikatan dalam 100 gram minyak atau lemak
(Sudarmadji et al., 1997).
2.4 Pemurnian Minyak Goreng
Pemurnian minyak goreng bertujuan untuk menghilangkan
rasa dan bau tengik, warna kecoklatan dan memperpanjang masa
simpan. Pemurnian minyak goreng terdiri dari 4 tahap, yaitu:
1. Penghilangan bumbu (Despicing)
Despicing adalah proses pengendapan dan pemisahan
bumbu dan kotoran dari bahan pangan. Pemisahan dapat dilakukan
dengan penambahan adsorben dan pemanasan uap, atau dapat
juga dengan sentrifugasi (Winarno, 1997).
2. Netralisasi
Netralisasi adalah proses pemisahan asam lemak bebas
dengan mereaksikan asam lemak dalam minyak goreng dengan
larutan alkali sehingga terbentuk sabun
3. Pemucatan (Bleaching)
Bleaching merupakan proses pemucatan warna minyak
goreng bekas yang menjadi gelap disebabkan karena degradasi
bahan pangan, logam, dan proses oksidasi. Pada prinsipnya warna

kecoklatan

pada

minyak

diadsorpsi

dengan

menggunakan

adsorben.
4. Penghilangan bau (Deodorisasi)
Deodorisasi

dilakuakn

di

dalam

tempat

vakum

lalu

dipanaskan dengan mengalirkan uap panas sehingga senyawa


volatil akan terbawa (Winarno, 1997).
2.5 Hati
Hati adalah kelenjar terbesar di dalam tubuh manusia yang
memiliki berat sekitar 1,5 kg (Junquiera et al., 2007). Hati
merupakan organ viseral terbesar yang berada di bawah kerangka
iga (Sloane, 2004).

Gambar 2. Anatomi hati


2.5.1
Fisiologi Hati
Menurut Guyton & Hall (2008), hati memiliki beberapa
fungsi, di antaranya:
1. Berperan dalam metabolisme protein, karbohidrat, dan lemak,
tergantung pada kebutuhan tubuh.

2. Sebagai tempat penyimpanan berbagai zat, contohnya mineral


(Fe, Cu) dan vitamin yang larut dalam lemak (vitamin A, D, E,
dan K), glikogen dan racun-racun yang sukar dikeluarkan tubuh
(pestisida DDT).
3. Sebagai organ detoksifikasi, hati menginaktivasi hormon, toksin,
dan obat,
4. Untuk fagositosis leukosit dan eritrosit yang tua atau rusak, dan
mikroorganisme.
5. Untuk mensekresikan empedu yang berperan dalam absorbs
dan emulsifikasi lemak.
2.5.2
Parameter Kerusakan Hati
Tes fungsi hati yang umum untuk mengetahui adanya
gangguan dalam organ hati adalah Aspartate Transaminasei (AST),
yang

di

Indonesia

dikenal

sebagai

SGOT

(Serum

Glutamin-

oxaloacetic transaminase) dan Alanine Transaminase (ALT) yang


lebih dikenal sebagai SGPT (serum glutamic-pyruvic transaminase)
(Wibowo et al., 2007).
2.6 Ampas Tebu sebagai Adsorben
Tebu termasuk kepada famili

rumput-rumputan

yang

berkembang biak pada iklim sedang sampai panas. Tebu hidup pada
daerah dengan ketinggian 1 sampai 1300 meter di atas permukaan
laut.
Produk

tebu

yang

utama

adalah

sukrosa.

Namun

kandungannya hanya mencapai 5-10% dan sisanya adalah ampas

tebu kurang lebih 90% tets tebu dan air. Ampas tebu dapat
digunakan sebagai adsorben karena mengandung serat yang terdiri
dari lignin 19,7%, selulosa 50-60%, dan pentosan 27,5% (Syukur,
2006). Ampas tebu biasanya digunakan sebagai bahan bakar dalam
proses pembuatan gula. Selain itu, dapat juga digunakan sebagai
bahan baku serat, pakan ternak, papan, kertas, dan plastik (Witono,
2003). Ampas tebu dapat pula digunakan sebagai adsorben logam
berat, contohnya kadmium, seng, timbal, dan tembaga dengan
efisiensi beturut-turut sebesar 70, 90, 80, dan 55% (Kaur et al.,
2008).
2.7 Efek Minyak Jelantah pada Tubuh
Menurut Arini (1999), konsumsi minyak jelantah sangat tidak
baik bagi kesehatan. Sebaiknya minyak goreng digunakan tidak
lebih dari tiga kali penggorengan karena pada setiap penggorengan
minyak mengalami penurunan kualitas. Kadar vitamin dan lemak
tidak jenuh yang terdapat di dalam minyak semakin berkurang, dan
akhirnya menyisakan asam lemak jenuh yang menyebabkan stroke
dan penyakit jantung koroner.
Menurut Rahayu (2006) mekanisme kerusakan jaringan
akibat konsumsi minyak jelantah berasal dari kandungan radikal
bebas dalam minyak jelantah. Radikal bebas tersebut berikatan
dengan oksigen di dalam tubuh dan membentuk peroksil radikal.
Peroksil mengabsorbsi atom hidrogen dari molekul lipid tidak jenuh

sehingga

terjasi

reaksi

berkepanjangan

yang

menghasilkan

peroksida-peroksida yaitu peroksinitrit, peroksil, dan peroksinitrit ini


bersifat lipofilik yang menyebabkan peroksida lipid dalam membran
dan di dalam sel yang terserang adalah mitokondria, kemudian
melepaskan

ribosa

dan

reticulum

endoplasmik,

sehingga

pemasokan energi yang diperlukan untuk memelihara fungsi dan


struktur retikulum endoplasmik terlambat dan sintesis protein
menurun sekali sehingga sel kehilangan daya untuk mengeluarkan
trigliserida

dan

terjadilah kerusakan sel,

yang

menyebabkan

nekrosis. Terbukti pada penelitian Aisyah et al. (2014) sel otot


jantung dan sel neuron yang rusak, inti selnya tidak jelas, sel
mengerut, dan sitoplasmanya gelap.

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Alat
Peralatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah labu ukur, beaker
glass, Erlenmeyer, Erlenmeyer bertutup, gelas ukur, pipet tetes, pipet volume, corong,
neraca digital, pengaduk magnet, buret, mortir, stamper, kertas saring, kertas pH
universal, sentrifuse, corong, termomter, buret, desikator, alat ukur SGOT dan SGPT,
timbangan tikus, syringe, sonde oral.

3.2. Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak goreng bekas,
minyak curah, ampas tebu, natrium bisulfit, asam sulfat, natrium hidroksida, aquades,
kalium hidroksida, natrium tiosulfat, kalium iodide, amilum, asam asetat glasial,
iodine, bromine, asam klorida, kalium bromat, asam oksalat, indikator PP, alkohol
96%, kloroform.

3.3. Hewan Percobaan


Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah mencit
(Rattus norvegicus) jantan galur Wistar.

3.4. Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunanakan adalah metode in vivo menggunakan


tikus jantan. Dilakukan dengan metode Point of Care Testing (POCT) menggunakan
Alat Ukur dan Strip SGOT dan SGPT. Tahapan kerja yang dilakukan meliputi
pemurnian minyak goreng bekas dengan ampas tebu, pengujian keamanan hasil
pemurnian minyak goreng bekas terhadap kadar SGOT dan SGPT tikus putih, dan
analisis terhadap data yang dihasilkan.
3.4.1. Pengukuran Kadar SGOT dan SGPT
Pengukuran kadar SGOT dan SGPT dilakukan terhadap tikus putih jantan
yang diberikan minyak goreng bekas hasil pemurnian dan minyak goreng curah
sebagai kontrol negatif. Kemudian kadar SGOT dan SGPT dalam darah tikus putih
diukur dengan menggunakan alat. Langkah-langkah yang dilakukan dalam pengujian
adalah sebagai berikut:
1. Menyediakan minyak goreng bekas yang telah digunakan lima
kali penggorengan dalam jangka waktu tertentu.
2. Persiapan pemurnian minyak goreng
a. Menyiapkan larutan KOH, natrium tiosulfat, kalium iodida
15%, kalium iodida jenuh, larutan Hanus, larutan amilum 1%,
larutan asam sulfat, natrium bisulfit.
b. Standardisasi larutan
c. Membuat arang aktif dari ampas tebu
3. Pemurnian minyak goreng bekas
a. Proses penghilangan bumbu
Dilakukan sentrifugasi pada semua minyak goreng bekas yang
telah disiapkan, kemudian dilakukan pengambilan minyak

yang

bebas

dari

kotoran

padatan

dengan

disaring

menggunakan kertas saring.

b. Proses pemucatan
Ditambahkan larutan

H2SO4

untuk

dengan alur kerja sebagai berikut:

mengaktifkan

arang,

4. Menyiapkan 18 ekor tikus putih jantan strain Wistar berumur


kurang lebih tiga bulan dengan berat rata-rata 200 g.
5. Mengadaptasikan tikus di lingkungan baru selama satu minggu,
memberi pakan standar, dan memeriksa kesehatannya.
6. Membagi tikus ke dalam tiga kelompok:
a. Kontrol negatif, yaitu kelompok tikus putih yang diberikan
minyak curah per oral sebanyak 1 mL.
b. Kontol positif, yaitu kelompok tikus putih yang diberikan
minyak goreng bekas tanpa pemurnian sebanyak 1 mL.

c. Kelompok uji, yaitu kelompok tikus putih yang diberikan minyak


goreng bekas dengan pemurnian sebanyak 1 mL.
7. Mengukur kadar SGOT dan SGPT tikus setelah diberi perlakuan
selama 8 minggu.

3.4.2. Analisis Data


Setelah didapatkan data dari hasil pengujian, maka evaluasi data dilakukan dengan
menggunakan analisis data pengujian aktivitas secara statistika dengan metode
Analisis Varians (ANAVA) tipe Desain Acak Sempurna (DAS).

DAFTAR PUSTAKA
EN Frankel. 1980. Lipid Oxidation. Prog Lipid Res. 19: 1-22.
Ketaren, S. 1986. Penghantar Teknologi Minyak dan Lemak. Edisi
Kesatu. Jakarta: UI-Press.
Marshall WE and Mitchell MJ. 1996. Agriculture by-product as metal
adsorbent: Sorption properties and resistance to mechanical
abrasion. J Chem Techn Biotechnol. 66: 1-7.
Maskan M. and H.I. Bagci. 2003. Effect of Different Adsobent on
Purification of Used Sunflower Seed Oil Utilized For Frying.
Journal of Research Technology. 217: 215-218.
Moreira, R. G. 1999. Deep-Fat Frying Fundamentals and Aplication.
Aspen Publishers Inc., Weat Port, Connecticut.
Nadirawati dan Muthmainnah NN. 2010. Pengetahuan ibu rumah
tangga tentang kolesterol dan penggunaan minyak jelantah di
Desa Neglasari Kecamatan Bojong Picung Cianjur. Jurnal
Keperawatan Soedirman. 5 (2).
Nurhasanah N, Aulia SK, Tri DW, dan Nur IPN. 2015. Pengaruh
antioksidan jelly drink kulit buah naga merah dan rosella

terhadap

kadar

SGOT

dan

SGPT.

Jurnal

Pangan

dan

Argoindustri. 3 (2): 511-522.


Setiati. 2003. Radikal bebas, antioksidan, dan proses menua. J.
Medika. 6 (2): 69-76.
Sutejo IR, Rosita D. 2012. Kerusakan sel hati dan peningkatan
kolesterol serum mencit akibat pemberian minyak goreng
bekas pakai. Jurnal IKESMA. 8 (1): 9-16.
Thomas R. Richardson, and John W. Finley. 1986. Chemical Changes
in Food During Processing. USA: Van Nonstrand Reinhold
Company Inc.
Triyanto A. 2013. Peningkatan kualitas minyak goreng bekas
menggunakan arang ampas tebu teraktivasi dan penetralan
dengan NaHSO3. [Skripsi]. Semarang: Jurusan Kimia FMIPA
UNNES. 2;32
Widayat, Suherman, dan K. Haryani. 2006. Optimasi proses adsorbs
minyak goreng bekas dengan adsorben zeolit alam: studi
pengurangan bilangan asam. J. Penelitian Teknik Kimia. 17 (1):
77-82.
Yustinah,

dan

Hartini.

2011.

Adsorbsi Minyak

Goreng

Bekas

Menggunakan Arang Aktif dari Sabut Kelapa. Dalam: Prosiding

Seminar Nasional Teknik Kimia Kejuangan, Pengembangan


Teknologi

Kimia

untuk

Pengolahan

Sumber

Daya

Alam

Indonesia. Yogyakarta, 22 Februari 2011. Yogyakarta: Program


Studi Teknik Kimia FTI UPN Veteran. B05-1 B05-5.