Anda di halaman 1dari 14

BAB III

FUNGSI ANALITIK
Sekarang kita akan mempelajari fungsi dari variabel kompleks dan pengembangannya
dalam teori differensial, yang mana sangat berperan dalam analisis kompleks.
1. Limit fungsi kompleks
Misalkan f suatu fungsi yang terdefinisi disemua titik z dalam lingkungan
penghilangan dari z0. Pertanyaan bahwa limit dari f(z) melalui z yang didekati dengan
z0 adalah suatu bilangan w0, atau
lim f z w0
z z0

a.
Mempunyai arti bahwa titik w = f(z) dapat dibuat sembarang dekat dengan w 0 jika
kita memilih z yang cukup dekat dengan z0 tetapi berbeda dengan z0. Kita sekarang
mengeksperisakan definisi dari limit dalam bentuk yang tepat digunakan.
Pernyataan (1) mempunyai arti bahwa, untuk setiap bilangan > 0, terdapat
suatu bilangan positif sedemikian sehingga
f z w0

(2)

0 z z0

asalkan

Secara geometri definisi ini mengatakan bahwa, untuk setiap lingkungan


w w0
dari w0, terdapat suatu lingkungan penghilangan dari z 0,
0 z z0
sedemikian sehingga untuk setiap z dalam lingkungan tersebut
mempunyai suatu bayangan w dalam lingkungan (lihat gambar 3.1). Perlu dicatat
0 z z0
bahwa, meskipun semua titik dalam lingkungan penghilangan
tidak
w w0
perlu semua bayangannya keseluruh lingkungan
. . Jika f suatu fungsi
konstan yang bernilai w0 maka bayangan dari z selalu merupakan pusat dari
lingkungan. Sebagai catatan, sekali kita mendapatkan suatu , maka kita dapat
mengganti dengan dengan setiap bilangan positif yang lebih kecil dari , misalnya /2.

Gambar 3.1
Definisi (2) menyatakan bahwa f terdefinisi disemua titik dalam suatu
lingkungan penghilangan z0. Sehingga lingkungan penghilangan selalu ada jika z 0 adalah
suatu titik interior dari suatu daerah dimana f terdefinisi. Kita dapat memperluas definisi dari
limit dalam kasus dimana z0 adalah titik batas dari daerah yang memungkin bahwa persamaan
(2) yang pertama dipenuhi dengan hanya titik z terletak dikedua daerah dan domain
0 z z0

.
lim f z
z 1

i
2

Contoh 1. Tunjukkan bahwa jika f(z) = iz/2 dalam cakram buka |z| < 1, maka
.
Titik z = 1 terletak pada batas dari daerah definisi f. Akan diselidiki bahwa jika z dalam
f z

z 1
i
iz i

2
2 2
2

daerah |z| < 1,


f z

. Juga, untuk setiap z dan suatu bilangan positif ,


0 z 1 2

asalkan
. Jadi syarat persamaan (2) dipenuhi oleh titik-titik
dalam daerah |z| < 1 jika sama dengan 2 atau bilangan positif yang lebih kecil (lihat gambar
3.2)

Gambar 3.2
Dalam pendahuluan konsep tentang limit pada paragraph pertama bagian ini, kita
dapatkan suatu sifat bahwa, jika suatu limit dari suatu fungsi f(z) ada disuatu titik z0, maka

lim f z w0

z z0

limitnya itu adalah tunggal. Untuk membuktikan sifat ini, kita misalkan bahwa
lim f z w1
z z0

dan
sehingga

. Maka, untuk setiap bilangan positif, terdapat bilangan positif 0 dan 1


f z w0
f z w1

Dan
dimana

menyatakan

f z w0 f z w1

0 z z0 0

asalkan
0 z z0 1

asalkan
yang paling

bilangan

0 z z0

Jadi, jika
antara 0 dan

kecil

,
maka

f z w0 f z w1 2
w1 w0 2

w1 w0

Hal ini menunjukkan bahwa,


. Tetapi
adalah suatu konstanta
non negatif , dan dapat dipilih sembarang yang paling kecil. Jadi w1-w0 = 0, atau w1 = w0.
Jika z0 adalah suatu titik interior dari daerah definisi f, dan limit dari persamaan (1) ada,
persamaan (2) yang pertama harus berlaku untuk setiap titik dalam lingkungan penghilangan
0 z z0
z z0
. Jadi simbol
mengakibatkan bahwa z adalah dapat mendekati z 0
dalam sembarang arah, tanpa dari suatu arah yang khusus. Contoh berikut menggunakan cara
ini.
z
f z
lim f z
z 0
z
Contoh 2. Jika
, maka (3)
tidak ada. Jika limitnya ada, maka kita dapat
menemukan limitnya dengan memisalkan titik z = (x,y) mendekati titik asal dari berbagai
f z

arah. Tetapi jika z = (x,0) adalah titik tak nol pada sumbu real,
f z

x i0
1
x i0

dan jika z =

0 iy
1
0 iy

(0,y) adalah titik tak nol pada sumbu imajiner,


. Jadi, dengan memisalkan z
mendekati titik asal sepanjang sumbu real, kita peroleh limitnya adalah 1. Pada hal lain,
didekati sepanjang sumbu imajiner diperoleh limitnya sama dengan 1. Dari ketunggalan
limit, kita simpulkan bahwa limit pada persamaan (3) tidak ada.
TEOREMA-TEOREMA PADA LIMIT
Teorema 1. Misalkan bahwa f(z) = u(x,y) + iv(x,y), z0= x0 + iy0, dan w0 = u0 + iv0. Maka
lim f z w0
z 0

(1)
jika dan hanya jika
lim u x, y u 0

lim

x , y x0 , y 0

(2)

x , y x0 , y0

dan

v x, y v 0

Untuk membuktikan teorema di atas, kita asumsikan bahwa limit pada (2) benar dan
akan dibuktikan limit pada (1). Limit pada persamaan (2) untuk setiap positif terdapat
bilangan positif 1 dan 2 sehingga

2
2
u u0
0 x x0 y y 0 1
2
(3)
asalkan
Dan

2
2
v v0
0 x x0 y y 0 2
2
(4)
asalkan
Misalkan menyatakan bilangan yang paling kecil antara 1 dan 2. Karena
u iv u 0 iv 0 u u 0 i v v0 u u 0 v v0
Dan

x x0 2 y y0 2

x x0 i y y 0 x iy x 0 iy 0

.
Dari persamaan (3) dan (4) diperoleh
u iv u 0 iv 0
2 2
Asalkan
0 x iy x0 iy 0
Jadi, limit pada (1) benar.
Misalkan sekarang mulai mengasumsikan bahwa limit (1) benar. Dengan asumsi ini
kita ketahui bahwa, untuk setiap bilangan positif, terdapat bilangan positif sehingga
u iv u 0 iv 0
(5)
asalkan
0 x iy x0 iy 0
(6)
.
Tetapi
u u 0 u u 0 i v v0 u iv u 0 iv 0
v v 0 u u 0 i v v 0 u iv u 0 iv 0

Dan

x iy x0 iy 0

x x0 i y y 0

x x0 2 y y 0 2
.

Jadi dari sini persamaan (5) dan (6) memberikan bahwa


u u0
v v0
dan
Asalkan
0 x iy x 0 iy 0
Ini menunjukkan bahwa limit (2) telah dibuktikan, dan bukti teorema telah lengkap.
Teorema 2. Misalkan bahwa

lim f z w0

z z0

lim F z W0

z z0

(7)
dan
Maka
lim f z F z w0 W0
z z0

(8)

lim f z .F z w0 .W0

z z0

(9)
Dan, jika W0 0, maka
w
f z
lim
0

z z0 F z

W0
(10)
Teorema ini dapat dibuktikan secara langsung dengan menggunakan definisi limit dari
fungsi bernilai kompleks. Tetapi dengan teorema 1, pembuktian lebih mudah. Sebagai
contoh, kita buktikan (9), dan kita tulis
f z u x, y iv x, y F z U x, y iV x, y
,
,
z0 = x0 + iy0, w0 = u0 + iv0, W0 = U0 + iV0.
Maka dari hipotesis persamaan (7) limit (x,y) mendekati (x 0,y0) dari fungsi u, v, U,
dan V ada dan mempunyai limit u 0, v0, U0, dan V0 masing-masing. Jadi komponen real dan
imajinernya dari perkalian f(z)F(z) = (uU vV) + i(vU + uV) mempunyai limit u 0U0 v0V0
dan v0U0 + u0V0, masing-masing, dengan (x,y) mendekati (x0,y0). Jadi dengan menggunakan
teorema 1, f(z)F(z) mempunyai limit (u0U0 v0V0) + i( v0U0 + u0V0) dengan z mendekati z0;
dan ini sama dengan w0W0. Sifat (9) buktinya telah diberikan, dan untuk sifat (8) dan (10)
lim c c
z z0

dapat dibuktikan dengan cara serupa. Sebagai akibat dari teorema 1 adalah

lim z z 0

z z0

Untuk setiap konstanta kompleks c = a+bi dan setiap z 0. Juga,


lim z n z 0n

dan dari

z z0

sifat (9) dan induksi matematika, bahwa


(n = 1,2, ...). juga, dalam sifat (8) dan
2
(9), limit dari suatu polinom P(z) = a 0 + a1z + a2z + ... + anzn dengan z mendekati z0 adalah
nilai dari polinom dititik z0, yakni:
lim P z P z 0
z z0

(11)
Selain itu sifat dari limit adalah
lim f z w0
z z0

lim f z w0

z z0

(12)
Jika
, maka
Sifat ini mudah dibuktikan dengan menggunakan definisi dari limit dan kenyataan bahwa
f z w0 f z w0
LIMIT DITITIK TAK HINGGA
Terkadang cukup baik untuk memasukkan titik di ketakhinggaan dalam bidang
kompleks, yang dinotasikan dengan , dan menggunakan limit yang memuatnya. Bidang

kompleks bersama-sama dengan titik takhingga ini disebut bidang kompleks perluasan.
Untuk memvisualisasi titik diketakhinggaan, salah satu yang dapat dipikirkan dari bidang
kompleks misalnya perputaran suatu titik mengelilingi suatu permukaan bola menurut garis
katulistiwa dengan pusat titik z = 0 (gambar 3.3). Setiap titik z di bidang mempunyai
hubungan dengan tepat satu titik P pada permukaan bola. Titik P ditentukan oleh garis yang
melalui titik z dan kutub utara N dari bola dengan permukaannya. Dengan cara demikian,
setiap titik P pada permukaan bola, yang lainnya pada kutub utara N, terdapat hubungan
dengan tepat satu titik z di bidang. Dengan memisalkan titik N dari bola yang berhubungan
dengan titik tak hingga, diperoleh korespondensi satu-satu antara titik-titik pada bola dan
titik-titik pada bidang kompleks perluasan. Bola tersebut dikenal sebagai bola Riemann,
dan hubungannya disebut proyeksi stereografik.

Gambar 3.3
Perhatikan bagian luar dari lingkaran satuan yang berpusat pada titik asal bidang
kompleks yang berhubungan dengan belahan bumi bagian atas di mana katulistiwa dan titik
N dihilangkan. Selanjutnya, untuk setiap bilangan positif kecil , titik-titik tersebut di
bidang kompleks di luar lingkaran |z| = 1/ berhubungan dengan titik-titik pada bola dekat
ke N. Kita sebut himpunan ini |z| > 1/ suatu lingkungan , atau lingkungan dari .
Perlu disepakati bahwa, berkenaan dengan titik z, kita artikan suatu titik di bidang
hingga. Selanjutnya, jika titik diketakhinggaan dipertimbangkan, maka akan dijelaskan
secara khusus.
lim f z w0

z z0

Artinya sekarang kita siap memberikan pernyataan


, jika salah satu z0
atau w0, atau mungkin keduanya diganti dengan titik takhingga. kita mengganti lingkungan
dari z0 dan w0 dengan lingkungan dari .
lim f z
z z0

Pernyataan
, mempunyai arti bahwa untuk setiap bilangan positif,
terdapat suatu bilangan positif sedemikian hingga

f z

(1)

0 z z0

asalkan

Jadi, titik w = f(z) terletak dalam lingkungan -

1
w

dari asalkan z terletak dalam lingkungan penghilangan dari z 0,


1
0
0 z z0
f z
. Pernyataan pada persamaan (1) dapat ditulis
asalkan
0 z z0
, dari sini terlihat bahwa
1
lim
0
lim f z
z

z
0 f z
z z0
(2)
jika dan hanya jika
.
Contoh 1
iz 3
z 1
lim

lim
0
lim f z w0
z 1 z 1
z 1 iz 3
z
karena
selanjutnya,
mempunyai arti bahwa,
untuk setiap positif, terdapat suatu bilangan positif sedemikian sehingga
1
z
f z w0

(3)
asalkan
. Dengan mengganti z pada persamaan (3) dengan 1/z,
1
f w0
z0
z
maka diperoleh
asalkan
. Ini berarti bahwa,
1
lim f w0
lim f z w0
z 0
z
z
(4)
jika dan hanya jika
.
KEKONTINUAN
Suatu fungsi f adalah kontinu di titik z0 jika memenuhi ketiga syarat berikut:
lim f z
z z0

(1)
ada
(2) f(z0) ada
lim f z f z 0
z z0

(3)
Pernyataan pada persamaan (3) jelas memuat pernyataan pada persamaan (1) dan (2),
karena secara implisit keberadaan nilai dari setiap sisi adalah sama. Pernyataan pada
persamaan (3) mengatakan bahwa, untuk setiap bilangan positif, terdapat suatu bilangan
positif sedemikian sehingga
f z f z0
z z0
(4)
asalkan
Suatu fungsi dari variabel kompleks dikatakan kontinu dalam daerah R jika fungsi
tersebut kontinu disetiap titik dalam R
Jika dua fungsi f, g adalah kontinu di suatu titik, maka f + g dan f.g juga kontinu di
suatu titik; demikian juga f/g kontinu di suatu titik asalkan g tidak nol. Hal ini merupakan
akibat dari teorema 2 bagian 12.

Berdasarkan definisi pada persamaan (4) diperoleh bahwa komposisi dari fungsifungsi kontinu adalah kontinu. Untuk menunjukan ini, kita misalkan w = f(z) adalah suatu
fungsi yang mempunyai daerah definisi memuat bayangan dari lingkungan z 0. Sekarang,
anggaplah f kontinu di z0 dan g kontinu di titik w0 = f(z0). Dari kekontinuan g di titik w0,
kita ketahui bahwa, untuk setiap bilangan positif, terdapat bilangan positif sedemikian
sehingga
g f z g f z0
f z f z0
asalkan
tetapi, berhubungan dengan , terdapat suatu bilangan positif sedemikian sehingga
z z0
ketaksamaan kedua dipenuhi asalkan
. Ini berarti, bahwa kekontinuan dari
g[f(z)] di z0 telah dibuktikan.
Berdasarkan definisi pada persamaan (4) dengan mudah dapat ditunjukan bahwa jika
suatu fungsi f(z) adalah kontinu dan tidak nol disuatu z0 maka f(z) 0 untuk setiap z
f z0

2
dalam suatu lingkungan dari z0. Untuk itu, jika f(z0) 0 dan bilangan positif
,
maka berdasarkan ketaksamaan (4) terdapat suatu bilangan positif sedemikian sehingga
f z0
f z f z0
z z0
2
asalkan
.
z z0
Jika terdapat suatu titik z dalam lingkungan
sehingga f(z) = 0, maka
f z0
f z0
2
kontradiksi dengan
. Dari teorema 1 diperoleh bahwa suatu fungsi f dari
variabel kompleks adalah kontinu di titik z0 = (x0, y0) jika dan hanya jika fungsi komponen
u dan v kontinu di titik z0 = (x0, y0).
Contoh. Fungsi
f z cos x 2 y 2 cosh 2 xy i sin x 2 y 2 sinh 2 xy

Adalah kontinu dimana-mana dalam bidang kompleks, karena komponen real dan imajiner
dari f adalah kontinu disetiap titik (x, y). Kekontinuan dari fungsi-fungsi komponen adalah
akibat dari kekontinuan dari polinom dalam x dan y melalui kekontinuan dari fungsi
trigonometri dan hiperbolik.
Berbagai sifat fungsi kontinu dari variabel kompleks dapat diturunkan melalui hubungan dari
fungsi kontinu bernilai real dengan dua peubah real. Sebagai contoh, fungsi f(z) = u(x, y) +
iv(x, y) yang kontinu dalam daerah R adalah tertutup dan terbatas. Fungsi

u x, y 2 v x , y 2
adalah kontinu di R dan mencapai nilai maksimum dimana mana
dalam R. Jadi, f adalah terbatas pada R dan |f(z)| mencapai nilai maksimum dimana mana
dalam R. Atau secara tepatnya f dikatakan terbatas dalam R, jika terdapat bilangan real non
negatif M sehingga
(5) |f(z)| M untuk setiap z dalam R
Hasil lain yang dapat diturunkan dari hubungan fungsi bernilai real dari dua variabel real,
bahwa fungsi f yang kontinu dalam suatu daerah R yang tertutup dan terbatas adalah kontinu
seragam. Yaitu, suatu nilai dari , tidak tergantung dari z 0, jadi dapat dipilih sehingga syarat

f z f z0

z z0

pada persamaan
asalkan
adalah dipenuhi untuk setiap titik z 0
dalam R.
TURUNAN
Misalkan f suatu fungsi dengan daerah definisinya memuat lingkungan dari suatu titik z 0.
Turunan dari f di z0, ditulis f(z0), adalah didefinisikan dengan
f z f z0
f ' z 0 lim
z z0
z z0
(1)
Asalkan limit ada. Fungsi f dikatakan terdiferensiabel di z 0 jika turunannya di z0 ada. Dengan
z z z 0
mengubah z pada persamaan (1) dalam bentuk variabel kompleks yang baru
,
maka kita dapat menuliskan definisi di atas menjadi
f z 0 z f z 0
f ' z 0 lim
z 0
z
(2)
f z 0 z
Sebagai catatan, karena f terdefinisi pada suatu lingkungan dari z 0, bilangan
z
adalah selalu terdefinisi untuk
yang cukup kecil (lihat gambar 3.4).

Gambar 3.4
Jika pada persamaan (2) dari definisi turunan, kita akan mengganti z 0 dengan z dan kita
misalkan bilangan

w f z z f z

menyatakan perubahan nilai dari f yang berkaitan

z
dengan perubahan
pada titik dimana f dihitung. Maka, jika kita menulis
persamaan (2) menjadi

dw
dz

untuk f(z),

(3)

dw
w
lim
dz z 0 z

Contoh 1. Misalkan bahwa f(z) = z2. Disetiap titik z,

z z z 2 lim 2 z z 2 z
w
lim
z 0 z
z 0
z 0
z
2

lim

jadi

dw
dz

karena

2 z z

adalah suatu polinom

atau f(z) = 2z.

RUMUS DIFERENSIAL
Definisi turunan dalam bagian 15 adalah serupa dengan turunan dari fungsi berbilai real dari
suatu variabel real. Kenyataan ini, dijadikan dasar untuk memberikan rumus differensial yang
diturunkan dari definisi, bersama-sama dengan teorema-teorema pada limit, dengan cara yang
sama digunakan dalam kalkulus. Dalam rumus ini, turunan dari fungsi f di suatu titik z adalah

dinotasikan dengan salah satu

d
f z f ' z
dz

, tergantung pada notasi ini digunakan.

Misalkan c suatu konstanta komplekx, dan f suatu fungsi yang mempunyai turunan di
suatu z. Maka dengan mudah dapat ditunjukan bahwa
d
d
d
c0
z 1
cf z cf ' z
dz
dz
dz
(1)
,
,
. Juga, jika n bilangan bulat positif,
d n
z nz n 1
dz
(2)
. Rumus ini juga benar untuk n suatu bilangan bulat negatif, asalkan z
0. Jika turunan dari dua fungsi f dan F ada di suatu titik z
d
f z F z f ' z F ' z
dz
(3)
d
f z F z f z F ' z f ' z F z
dz
(4)
; dan jika F(z) 0
d f z
F z f ' z f z F ' z

dz F z
F z 2
(5)
Penurunan (4) diperoleh dengan cara merubah f(z)F(z) menjadi

f z z F z z f z F z f z F z z F z f z z f z F z z

z
z
jika kedua sisi dibagi dengan
dan kita misalkan
menuju nol, maka rumus di
atas menunjukan turunan f(z)F(z).
Terdapat juga aturan rantai untuk differensial fungsi komposisi. Misalkan
bahwa f mempunyai turunan di z0 dan g mempunyai turunan di f(z0). Maka fungsi
F[z] = g[f(z)] mempunyai turunan di z0, dan
(6) F(z0) = g[f(z0)]f(z0).

Jika kita tulis w = f(z) dan W = F(z), juga W = F(z), dari aturan rantai

dW dW dw

dz
dw dz

Contoh. Untuk mencari turunan dari (2z2 + i)5, kita tulis w = 2z2 + i dan W = w5. Maka
5
4
d

2 z 2 i 5w 4 4 z 20 z 2 z 2 i
dz

Kita mulai membuktikan rumus(6), pilih titik z0 sehingga f(z0) ada. Tulis w0 = f(z0) dan
juga asumsikan bahwa g(w0) ada. Maka terdapat suatu lingkungan |w w0| < dari w0
sehingga, untuk setiap titik w dalam lingkungan, kita mendefinisikan suatu fungsi yang
mempunyai nilai (w0) = 0 dan

g w g w0
g ' w0
w w0

(7)

jika w w0. Sebagai catatan bahwa, dari definisi


turunan
lim w 0
w w0

(8)
. Jadi adalah kontinu di w0. Selanjutnya dari persamaan (7) diperoleh
(9) g(w) g(w0) = [g(w0)+(w)](w-w0).(|w-w0|< adalah benar jika w = w0; karena f(z0)
ada maka f kontinu di z0. Kita dapat memilih bilangan positif sedemikian sehingga
titik f(z) terletak dalam lingkungan |w w 0|< dari w0 jika z terletak dalam
lingkungan |z z0|< dari z0. Jadi dengan mengganti variabel w dalam (9) dengan
f(z) jika z suatu titik dalam lingkungan |z z 0|<. Dengan substitusi w0 = f(z0),
persamaan (9) diperoleh
g f z g f z0
f z f z0
0 z z0
g ' f z 0 f z
z z0
z z0
(10)
, dimana z
z0
PERSAMAAN CAUCHY-RIEMANN
Dalam bagian ini, kita memperoleh pasangan dari persamaan turunan parsial orde
pertama fungsi komponen u dan v dari fungsi

(1) f(z) = u(x, y) +iv(x, y)


harus memenuhi di suatu titik z0 = (x0, y0) jika turunan dari f ada di titik z0 = (x0, y0). Kita
juga tunjukkan bagaimana menulis f(z 0) dalam suku suku dari turunan parsialnya.
Misalkan bahwa turunan
f ' z 0 lim

z 0

(2)

f z 0 z f z 0
z

teorema, kita mempunyai


Re f ' z 0

lim

x ,y 0.0

lim

x ,y 0.0

(4)
(5)

ada. Tulis z0 = x0 + iy0 dan

f z 0 z f z 0

, maka dari

Re

(3)
Im f ' z 0

z x iy

f z 0 z f z 0

Re

dimana

f z 0 z f z 0 u x 0 x, y 0 y u x 0 , y 0 i v x0 x, y 0 y v x 0 , y 0

z
x iy
x iy

per
samaan ini sangat penting untuk memikirkan bahwa persamaan (3) dan (4) benar
untuk

x, y

menuju (0, 0) dalam sembarang arah yang kita pilih.


x , y
Khususnya, misalkan
menuju (0, 0) sepanjang horizontal melalui titik titik

x,0

y 0

, dengan indikasi. Ini berarti bahwa


peroleh bahwa
u x0 x, y 0 u x 0 , y 0
Re f ' z 0 lim
x 0
x
u x 0 x , y 0 u x 0 , y 0
x 0
x

dalam persamaan (5), dan kita

Im f ' z 0 lim

f ' z 0 u x x 0 , y 0 iv x 0 , y 0
(6)

jadi,

, dimana ux(x0, y0) dan v(x0, y0) menyatakan turunan


parsial orde pertama dari variabel x dari fungsi u dan v di (x0, y0).
x, y
0, y
Kita dapat memisalkan
menuju nol sepanjang garis vertikal
. Dalam
x 0
hal ini,
dalam persamaan (5): dan diperoleh
f ' z 0 v y x 0 , y 0 iu x0 , y 0
(7)
ini menunjukan bahwa f(z0) dinyatakan dalam bentuk
turunan parsial orde pertama dari u dan v terhadap variabel y. Sebagai catatan bahwa

f ' z 0 i u y x 0 , y 0 iv x 0 , y 0

persamaan (7) dapat juga ditulis


persamaan (6) dan
(7) tidak hanya memberikan f(z0) dalam bentuk turunan parsial dari fungsi komponen
u dan v, tetapi juga merupakan syarat perlu untuk keberadaan f(z 0). Pada persamaan
bagian real dan imajiner pada bagian kanan persamaan di atas, kita peroleh bahwa
keberadaan dari f(z0) memerlukan bahwa
u x x0 , y0 v y x0 , y0
u y x 0 , y 0 v x 0 , y 0
(8)
dan
Persamaan (8) ini disebut
Persamaan Cauchy Riemann (C-R)
Sebagai ringkasan dari hasil di atas, kita nyatakan dalam teorema berikut ini:
f z u x, y iv x, y
Teorema. Misalkan bahwa
dan f(z0) ada di titik z0 = x0 + y0.
Maka turunan parsial orde pertama dari u dan v harus ada di titik (x 0, y0), dan
memenuhi persamaan cauchy-riemann
(9) ux = vy dan uy = -vx juga f(z0) dapat ditulis
f ' z 0 u x iv x
(10)
dimana turunan parsialnya dihitung pada (x0, y0).

f z z 2 x 2 y 2 i 2 xy

Contoh 1.
adalah terdiferensiabel dan f(z) = 2z. Akan
diselidiki bahwa persamaan C-R dipenuhi dimana-mana. Kita catat bahwa u(x, y) = x 2
u x 2 x v y u y 2 y v x
y dan v(x, y) = 2xy. Jadi
,
. Selanjutnya, dari persamaan
(10), f(z) = 2x+i2y = 2(x + iy) = 2z.
2

Karena persamaan C-R adalah merupakan syarat perlu untuk keberadaan dari turunan
suatu fungsi f di titik z0, maka persamaan C-R selalu dapat digunakan untuk mengetahui
dititik mana f tidak mempunyai turunan.
FUNGSI ANALITIK
Pada bagian ini akan dipelajari pendahuluan dari suatu fungsi analitik. Suatu fungsi f
dari variabel kompleks z adalah analitik dalam suatu himpunan buka jika fungsi f
mempunyai turunan disetiap titik dalam himpunan tersebut. Jika suatu fungsi f adalah
analitik dalam suatu himpunan S yang tidak buka, maka f adalah analitik dalam suatu
himpunan buka yang memuat S. Khususnya, f adalah analitik di suatu titik z 0 jika f itu
analitik dalam lingkungan z0.
Sebagai catatan, bahwa fungsi f(z) = 1/z adalah analitik disetiap titik tak nol dalam
bidang hingga. Tetapi fungsi f(z) = |z|2 adalah tidak analitik disetiap titik karena
turunannya hanya ada di z = 0 dan tidak pada seluruh lingkungannya.
Suatu fungsi dikatakan entire jika fungsi tersebut adalah analitik disetiap titik dalam
seluruh bidang hingga. Sebagai contoh turunan dari fungsi polinom ada dimana-mana,
maka setiap fungsi polinom suatu entire.

Jika suatu fungsi f tidak analitik disuatu titik z 0 tetapi analitik pada beberapa titik
pada setiap lingkungan dari z0, maka z0 disebut titik singular atau singularitas dari f. Titik
z = 0 adalah jelas merupakan suatu titik singular dari fungsi f(z) = 1/z. Fungsi f(z) = |z| 2
tidak mempunyai titik singular sebab tidak analitik dimana-mana.
Selanjutnya, kita akan selalu menggunakan syarat cukup dari rumus differensial.
Turunan jumlah dan perkalian dua fungsi ada asalkan turunan dari masing-masing fungsi
tersebut ada. Jadi, jika ada fungsi analitik dalam domain D, maka jumlah dan
perkaliannya adalah analitik dalam domain D. Dengan hal serupa, hasil baginya adalah
analitik dalam domain D. Khususnya, hasil bagi P(z)/Q(z) dari dua polinom adalah
analitik dalam setiap domain Q(z) 0.
Dari aturan rantai untuk turunan dari suatu fungsi komposisi, kita peroleh bahwa
komposisi dari dua fungsi analitik adalah analitik. Sebagai bukti, misalkan bahwa suatu
fungsi f(z) adalah analitik dalam domain D dan bayangannya dari D oleh transformasi w
= f(z) adalah termuat dalam daerah definisi fungsi g(w). Maka komposisi g[f(z)] adalah

analitik dalam D, dan turunannya

d
g f z g ' f z f ' z
dz

Teorema. Jika f(z) = 0 dimana-mana dalam suatu domain D, maka f(z) harus konstan
pada seluruh D
Untuk membuktikan ini, kita tulis f(z) = u(x, y) + iv(x, y). Karena f(z) = 0 di D,
maka ux + ivx = 0; dan, dari persamaan C-R, vy iuy = 0. Akibatnya, ux = uy = vx = vy = 0
disetiap titik dalam D.