Anda di halaman 1dari 15

KIMIA FARMASI ANALISIS 2;NITRIMETRI

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Seorang farmasis dituntun untuk menguasasi berbagai metode yang digunakan untuk
menetapkan kadar maupun pembakuan suatu bahan atau menganalisis senyawa obat salah
satunya adalah dengan titrasi nitrimetri yang termasuk kedalam titrasi volumetric. Nitrimetri
umumnya digunakan sebagai penentuan sebagian besar obat sulfonamida dan obat-obat lain
sesui penggunaannya.
Nitritometri merupakan penetapan kadar secara kuantitatif dengan menggunakan
larutan baku natrium nitrit..Nitritometri disebut juga dengan metode titrasi diazotasi.
Senyawa-senyawa yang dapat ditentukan kadarnya dengan metode nitritometri diantaranya
adalah penisilin dan sulfamerazin. Penetapan kadar senyawa ini dilakukan untuk mengetahui
kemurnian zat tersebut dalam satu sample.
Reaksi diazotasi telah digunakan secara umum untuk penetapan gugusan amino
aromatis dalam industri zat warna dan dapat dipakai untuk penetapan sulfanilamida dan
semua senyawa-senyawa yang mengandung gugus amino aromatis.
an metode nitritometri antara lain sulfamerazin, sulfadiazine, sulfanilamide. Senyawasenyawa ini dalam farmasi sangat bermanfaat seperti sulfanilamide sebagai antimikroba.
Melihat kegunaannya tersebut, maka percobaan ini perlu dilakukan.
Tujuan Titrasi Nitrimetri adalah untuk Memperoleh molaritas larutan baku
NaNO2-,serta Menetapkan kadar zat dalam sampel secara nitrimetri.Analisis titrimetri adalah pemeriksaan atau penentuan sesuatu bahan dengan teliti.
Analisis ini dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu analisis kuantitatif dan analisis kulitatif.
Analisis kulitatif adalah pemeriksaan sesuatu berdasarkan komposisi atau kualitas, sedangkan
analisisi kuantitatif adalah pemeriksaan berdasarkan jumlahnya atau kuantitinya . Pada saat
ini yang dibahas hanyalah analisis kuantitatif. Salah satu cara analisis kuntitatif adalah
titirimetri, yaitu analisis penentuan konsentrasi dengan mengukur volume larutan yang akan
ditentukan konsentrasinya dengan volume larutan yang telah diketahui konsentrasinya
dengan teliti atau analisis yang berdasarkan pada reaksi kimia. Reaksi pada penentuan ini
harus berlangsung secara kuantitatif.
Jenis reaksi yang terjadi pada titrimetri ini dapat dibagi menjadi 2 bagian yaitu :
1. reaksi yang tidak mengalami perubahan bilangan oksidasi atau reaksi yang tidak terjadi
transfer/perpindahan elektron;
2. reaksi yang mengalami perubahan bilangan oksidasi atau reaksi yang terjadi transfer/
perpindahan elektron.
Pada saat ini yang akan dipelajari adalah reaksi yang tidak mengalami perubahan
bilangan oksidasi, karena dasar yang dipelajari baru sampai tahap ini. Reaksi yang tidak
mengalami perubahan bilangan oksidasi meliputi (1)reaksi penetralan(asam-basa), reaksi
pembentukan endapan, reaksi pembentukan kompleks. Untuk kegiatan ini reaksi yang
dibahas hanyalah reaksi asam-basa karena dasar-dasar mengenai teori ini sudah diperoleh
yaitu teori asam-basa, sifat-sifat unsur golongan IA(1), IIA(2), IVA(16), IIVA(17), larutan,
dan konsentrasi larutan. Reaksi asam basa adalah reaksi yang terjadi antara larutan asam
dengan larutan basa, hasil reaksi ini dapat bersifat netral disebut juga reaksi penetralan, asam,
dan basa tergantung pada larutan yang direaksikan. Larutan yang direaksikan ini salah
satunya disebut larutan baku.

Titrasi redoks banyak digunakan dalam pemeriksaan kimia karena berbagai zat
organik dan zat anorganik dapat ditentukan dengan cara ini. Namun demikian agar tirasi
redoks ini berhasil dengan baik, maka persyaratan berikut harus dipenuhi (1) :
Salah satu metode yang termasuk dalam titrasi redoks adalah diazotasi (nitritometri).
Titrasi diazotasi berdasarkan pada pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatis
bebas yang direaksikan dengan asam nitrit, dimana asam nitrit ini diperoleh dengan cara
mereaksikan natrium nitrit dengan suatu asam (2:114).
1.2. Tujuan Percobaan
Untuk mengetahui cara analisis/ penetapan kadar zat/ obat dalam sediaan farmasi
dengan menggunakan metode nitrimetri.
1.3. Prinsip Percobaan
Berdasarkan reaksi pembentukan garam diazonium antara NaNO2 dengan asam
sulfanilat.

BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Teori Umum


Titrasi redoks banyak digunakan dalam pemeriksaan kimia karena berbagai zat
organik dan zat anorganik dapat ditentukan dengan cara ini. Namun demikian agar tirasi
redoks ini berhasil dengan baik, maka persyaratan berikut harus dipenuhi (1) :
1. Harus tersedia pasangan sistem redoks yang sesuai sehingga terjadi pertukaran elektron
secara stokhiometri.
2. Reaksi redoks harus berjalan cukup cepat dan berlangsung secara terukur (kesempurnaan
99%).
3. Harus tersedia cara penentuan titik akhir yang sesuai.
Salah satu metode yang termasuk dalam titrasi redoks adalah diazotasi (nitritometri).
Titrasi diazotasi berdasarkan pada pembentukan garam diazonium dari gugus amin aromatis
bebas yang direaksikan dengan asam nitrit, dimana asam nitrit ini diperoleh dengan cara
mereaksikan natrium nitrit dengan suatu asam (2:114).
Dalam titrasi diazotasi, digunakan dua macam indikator, yaitu indikator dalam dan
indikator luar. Sebagai indikator dalam digunakan campuran indikator tropeolin oo dan
metilen biru, yang mengalami perubahan warna dari ungu menjadi biru kehijauan. Sedangkan
untuk indikator luarnya digunakan kertas kanji iodida (2 : 117).

Tirtasi diazotasi ini sangat sederhana dan sangat berguna untuk menetapkan kadar
senyawa-senyawa antibiotic sulfonamide dan juga senyawa-senyawa anestetika local
golongan asam amino benzoate.
2.1.1 Pengertian Titrasi Nitrimetri
3

1.
2.
3.
4.

a.

b.
1.
2.
c.

Metode titrasi diazotasi disebut juga dengan nitrimetri yakni metode penetapan kadar
secara kuantitatif dengan mengunakan larutan baku natrium nitrit. Metode ini didasarkan
pada reaksi diazotasi yakni reaksi antara amina aromatic primer dengan asam nitrit dalam
suasana asam membentuk garam diazonium.
Nitrimetri adalah suatu cara penetapan kadar, suatu zat dengan larutan nitrit.
2.1.2. Prinsip Titrasi Nitrimetri
Prinsipnya adalah reaksi diazotasi
Pembrtukan garam diazonium dari gugus amin aromatic primer (amin aromatic sekuder dan
gugus nitro aromatic);
Pembentukan senyawa nitrosamine dari amin alifatik sekunder;
Pembentukan senyawa azidari gugus hidrazida dan
Pemasukan gugus nitro yang jarang terjadi karena sulitnya nitrasi dengan menggunakan asam
nitrit dalam suasana asam.
Contoh zat yang memiliki gugu amin aromatic primer misalnya benzokain, sulfa; yang
mempunyai gugus amin alifatis misalnya Na siklamat; yang memiliki gugus hidrazida
misalnya INH; yang memiliki gugu amin aromatis sekunder adalah parasetamol, fenasetin,
dan yang memiliki gugus nitroaromatik adalah kloramfenikol.
2.1.3. Hal-hal yang diperhatikan dalam nitrimetri
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam nitrimetri adalah :
Suhu
Pada saat melakukan titrasi, suhu harus antara 5-150C. walaupun sebenarnya pembentukan
garam diazonium berlangsung pada suhu yang lebih rendah yaitu 0-5 0C. pada temperature 5150C digunakan KBr sebagai stabilisator. Titrasi tidak dapat dilakukan dalam suhu tinggi
karena :
HNO2 yang terbentuk akan menguap pada suhu tinggi.
Garam diazonium yang terbentuk akan terurai menjadi fenol.
Keasaman
Titrasi ini berlangsung pada PH + 2, hal ini dibutuhkan untuk
Mengubah NaNO2 menjadi HNO2Pembentukan garam diazonium.
Kecepatan reaksi

Reaksi diazotasi berlangsung lambat sekali, sehingga agar reaksi sempurna maka titrasi harus
dilakukan perlahan-lahan dan dengan pengocokan yang kuat. Frekuensi tetesan pada awal
titrasi kira-kira 1 ml/menit, lalu menjelang titik-titik akhir menjadi 2 tetes/menit.
2.1.4. Indicator Nitrimetri
Untuk menentukan titik akhir titrasi nitrimetri dapat dgynakan digunakan 2 indikator
yaitu:
a. Indikator dalam
Yaitu indicator yang digunakan dengan cara memasukkan indicator tersebut ke dalam
larutan yang akan akan dititrasi, contohnya tropeolin 00 dan metilen blue (5 : 3).
b. Indikator luar
Sulfanilat ke dalam Erlenmeyer usahakan terlokalisasi pada satu titik, agar tidak
diperlukan banyak ammonia untuk melarutkan Serelah asam sulfanilat larut, larutan
kemudian diasamkan dengan HCI 25% sampai pH 2, karena asam nitrit terbentuk pada
suasana asam. Kemudian tembahan KBr, yang pada titrasi nitrimetri diperlukan sebagai :
1. Katalisator, yaitu untuk mempercepat reaksi karena KBr dapat mengikat NO 2 membentuk
nitrosobromid, yang akan meniadakan teaksi tautomerasi dari bentuk keto dan langsung
membentukfenol.
2. Stabilisator, yaitu untuk mengikat NO2 agar asam nitrit tidak terurai atau menguap.

Dalam nitrimetri, berat ekivalen suatu senyawa sama dengan berat molekulnya karena
1 mol senyawa bereaksi dengan 1 mol asam nitrit dan menghasilkan 1 mol garam diazonium.
Dengan alasan ini pula, untuk nitrimetri, konsentrasi larutan baku sering dinyatakan dengan
molitas (M) karena maloritasnya sama dengan normalitasnya.
Pada titrasi diazotasi, penentuan titik akhir titrasi dapat menggunakan indicator luar,
indicator dalam, dan secara potensiometri.
Indikator Luar
Indikator luar yang digunakan adalah pasta kanji-iodida atau dapat pula menggunakan
kertas kanji-iodida. Ketika larutan digoreskan pada pasta atau kertas, adanya kelebihan asam
nitrit akan mengoksidasi iodide menjadi iodium dan dengan adanya kanji-iodida ini peka
terhadap kelebihan 0,05 0,10 ml natrium nitrit dalam 200 ml larutan. Reaksi yang terjadi
dapat dituliskan sebagai berikut :

Titik akhir titrasi tercapai apabila pada penggoresan larutan yang dititrasi pada pasta
kanji-iodida atau kertas kanji-iodida akan terbentuk warna biru segera sebab warna biru juga
terbentuk beberapa saat setelah dibiarkan di udara. Hal ini disebabkan karena oksidasi iodide
oleh udara (O2) menurut reaksi :
4 KI + 4 HCI + O2
2H2O + 212 + 4 KCI
I2 Kanji
kanji iod (biru)
Untuk meyakinkan apakah benar-benar sudah terjadi titik akhir titrasi, maka
pengujian seperti di atas dilakukan lagi setelah dua menit

Indikator Dalam
Indikator dalam terdiri atas campuran tropeolin OO dan metilen biru. Tropeolin OO
merupakan indicator asam-basa yang berwarna merah dalam suasana asam dan berwarna
kuning bila dioksidari oleh adanya kelebihan asam nitrit, sedangkan metilen biru sebagai
pengkontras warna sehingga pada titik akhir titrasi akan terjadi perubahan dari ungu menjadi
biru sampai hijau tergantung senyawa yang dititrasi.
Pemakaian kedua indicator ini ternyata memiliki kekuarangan. Pada indicator luar
harus dikerahui dulu perkiraan jumlah titran yang diperlukan, sebab kalau tidak tahu
perkiraan jumlah titra yang dibutuhkan, maka sering melakukan pengujian apakah sudah
tercapai titik akhir titrasi atau belum. Di samping itu, kalau sering melakukan pengujian,
dikhawatirkan akan banyak larutan yang dititrasi (sampel) yang hilang pada saat pengujian
titik akhir sementara itu pada pemakaian indicator dalam walaupun pelaksanaannya mudah
tetapi seringkali untuk mengatasi hal ini, maka digunakan metode pengamatan titik akhir
secara potensiomerti.

Metode Potensiometri
Metode yang beik untuk penetapan titik akhir nitrimetri adalah metode potensiometri dengan
menggunakan electrode kolomelplatina yang dicelupkan ke dalam titrat. Pada saat titik akhir
titrasi (adanya kelebihan asam nitrit), akan terjadi depolarisasi elektoda sehingga akan terjadi
perubahan arus yang sangat tajam sekitar +0,80 Volt sampai +0,90 Volt. Metode ini sangat
cocok untuk sampel dalam bentuk sediaan sirup yang berwarna.
Tirtasi diazotasi dapat digunakan untuk :
a) Penetapan kadar senyawa-senyawa yang mempunyai gugus amin aromatis primer bebas
seperti selfamilamid.
b) Penetapan kadar senyawa-senyawa yang mana gugus amin aromatic terikat dengan gugus
lain seperti suksinil sulfatiazol, ftalil sulfatiazol dan parasetamol.
Pada penetapan kadar senyawa yang mempunyai gugus aromatic yang terikat dengan gugus
lain seperti suksinil sulfatiazol harus dihidrolisis lebih dahulu sehingga diperoleh gugus amin
aromatis bebas untuk selanjutnya bereaksi dengan natrium nitrit dalam suasana asam
membentuk garam diazonium. Reaksi yang terjadi pada analisis suksinil sulfatiazol adalah
sebagai berikut:
Gambar

c) Senyawa-senyawa yang mempunyai gugus nitro aromatis seperti kloramfenikol.


Senyawa-senyawa nitro aromatis dapat ditetapkan kadarnya secara nitrimetri setelah
direduksi terlebih dahulu untuk menghasilkan senyawa amin aromatis primer.

Kloramfenikol yang mepunyai gugus nitro aromatis direduksi terlebih dahulu dengan Zn/HCI
untuk menghasilkan senyawa amin aromatis primer yang bebas yang selanjutnya bereaksi
dengan asam nitric untuk membentuk garam diazonium. Pada penetapan kloramfenikol reaksi
yang terjadi seperti dalam gambar 7.14.
Dalam farmakope Indonesi, titrasi diazotasi digunakan untuk menetapkan kadar:
benzokain;
primakuin
fosfat
dan
sediaan
tabletnya;
prokain
HCI;sulfasetamid;natriumsulfasetamid;sulfametazin;selfadoksin;sulfametoksazl;tetrakain;
dan tetrakain SCI.
2.1.5 Penggunaan suatu zat warna azo sebagai indikator - metil jingga
Senyawa Azo berisi sistem yang sangat terdelokalisasi elektron yang mengambil di kedua
cincin benzena dan atom nitrogen dua menjembatani cincin. The delokalisasi juga dapat diperluas
pada hal-hal yang melekat pada cincin benzena juga.
Jika cahaya putih jatuh pada salah satu molekul, beberapa panjang gelombang yang diserap
oleh elektron terdelokalisasi. Warna yang Anda lihat adalah hasil dari panjang gelombang nondiserap. Kelompok-kelompok yang memberikan kontribusi pada delokalisasi (dan sehingga untuk
penyerapan cahaya) dikenal sebagai sebuah kromofor.

Memodifikasi kelompok hadir dalam molekul dapat memiliki efek pada cahaya diserap, dan
sebagainya pada warna yang Anda lihatAnda dapat mengambil keuntungan dari hal ini dalam
indikator.
Metil oranye adalah zat warna azo yang ada dalam dua bentuk tergantung pada pH:

Zat Warna Azo


Zat warna azo adalah senyawa yang paling banyak terdapat dalam limbah tekstil,
yaitu sekitar 60 % - 70 %
Senyawa azo memiliki struktur umum RNNR, dengan R dan R adalah rantai
organik yang sama atau berbeda.
Senyawa ini memiliki gugus NN yang dinamakan struktur azo. Nama azo
berasal dari kata azote, merupakan penamaan untuk nitrogen bermula dari bahasa Yunani a
(bukan) + zoe (hidup). Untuk membuat zat warna azo ini dibutuhkan zat antara yang
direaksikan dengan ion diazonium (seperti pada Gambar 1).

Senyawa azo dapat berupa senyawa aromatik atau alifatik. Senyawa azo aromatik
bersifat stabil dan mempunyai warna menyala. Senyawa azo alifatik seperti dimetildiazin
(Gambar 2) lebih tidak stabil. Dengan kenaikan suhu atau iradiasi, ikatan nitrogen dan karbon
akan pecah secara simultan melepaskan gas nitrogen dan radikal. Dengan demikian, beberapa
senyawa azo alifatik digunakan sebagai inisiator radikal.

a.
1.
2.
3.
4.
5.
b.

2. 1.6 Prosedur Titrasi Nitrimetri


Pembuatan Pasta Kanjij Lodida
Larutkan 750 mg KIP dalam 5 ml air.
Larutan 2 g ZnCL2 P dalam 10 ml air.
Campuran kedua larutan, tambahkan 100 ml air, panaskan hingga mendidih.
Tambahkan sambil aduk, suspense 5 g pati P dalam 35 ml air.
Didihkan selama 2 menit, dinginkan.
Pembakuan NaNO2 dengan Asam Sulfanilat
Sebelum menetapkan kadar, karena NaNO2 yang digunakan sebagai titra bukan baku primer
maka perlu dilakukan pembakuan terhadap NaNO2 digunakan asam sulfanilat. Asam
sulfanilat ditimbang seksama sebanyak sekita 50 mg, lalu dilarutkan dalam ammonia 25%
karena asam sulfanilat sukar larut dalam air. Ammonia di sini hanya digunakan untuk
melarutkan, karenanya jangan terlalu banyak, karena akan mempngaruhi pH. Untuk
mengakali masalah ini, maka pada saat memasukkan asam

c.
1.
2.
3.

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Pada titrasi nitrimetri ini digunakan dua indicator, indicator dalam dan indicator luar.
Untuk indicator luar, digunakan pasta kanji iodide. Pada titik akhir, terdapat ion
NO2- berlebih, maka NO2- akan bereaksi dengan iodide dan mengoksidasi iodide menjadi
iodium yang akan bereaksi dengan amilum membentuk kompleks warna biru.
Penetapan kadar sampel amin primer
Timbang 250 mg sampel, masukkan ke dalam Erlenmeyer 100 ml, tambahkan 50 ml air dan
5 ml HCI P.
Dinginkan hingga suhu 150C, tambahkan 5 tetes tropeolin 00 0,1% dan 3 3 tetes metilen blue
0, 1%.
Titrasi larutan pada suhu ruang dengan NaNO2 0,1 M sambil diaduk kuat sampai retjadi
perubahan warna dari ungu ke biru (dengan indicator dalam) dan terjadi goresan warna biru
pada pasta kanji iodide yang terulang lagi setelah digoreskan 1 menit kemudian (dengan
indicator luar).
Cara Kerja :
Timbang seksama + 50 mg asam sulfanilat, masukkan ke dalam labu Erlenmeyer 100 ml.
Tambahkan 1-2 tetes ammonia 25% kocok sampai larut
Tambahkan 20 ml air.
Tambahkan 5 ml HCI P.
Tambahkan + 0,5 g serbuk KBr.
Masukkan 5 tetes treopilin 00 0,1% dan 3 tetes metilen blue 0,1%
Tirasa dengan NaNO2 0,1 M sambil diaduk kuat sampai terjadi perubahan warna dari ungu
ke biru (dengan indicator dalam) dan terjadi goresan warna biru pada pasta kanji iodide yang
terulang lagi setelah digoreskan 1 menit kemudian (dengan indicator luar).
Reaksi yang terjadi padi pembakuan NaNO2 adalah :
NaNO2 + HCI
HNO2 = NaCI
H2O + HCI

H3O + CI

HNO2 + H3O + Br

N=O + 2H2O

Br
Setelah Kbr ditambahkan, lalu ditambahkan indicator dalam, yang berupa campuran tropeolin
00 dan metilen blue dengan perbandingan 5 : 3 digunakan campuran indicator, karena
perubahan wana tropeolin 00 dari warna merah menjadi kuning. Karena warna kuning tidak
jelas, maka untuk memperjelas titik akhir diperlukan metilen blur agar pada titik akhir terlihat
warna biru. Sehungga dengan mencapur kedua indicator ini akan terjadi perubahan warna
dari violet menjadi biru. Reaksi dari indicator adalah : yaitu indicator yang dipakai tidak
dengan memasukkan ke dalam larutan yang akan dititrasi, tetapi hanya dengan menggoreskan
larutan yang akan diperiksa pada indicator ini pada saat titik akhir hampir dicapai. Contohnya
pasta kanji iodide.
Sulfadiazin merupakan turunan dari sulfonamida yang penggunaannya secara luas
untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram-negatif
tertentu, beberapa jamur.

Dari struktur sulfadiazin secara kuantitatif dapat digunakan beberapa metode


berdasarkan gugus fungsinya, Metode diazotasi Dapat dilakukan karena adanya gugus amin
primer bebas.

BAB III
ALAT,BAHAN DAN METODE

3.1 Alat Pada Titrasi nitrimetri :


Buret
Klem buret dan statif
Labu takar
Gelas ukur
Beaker Glass
Erlenmeyer
Pipet volume
Pipet
Botol semprot
Stirrer
Tempat es
Ubin keramik
3.2. Bahan Pada Titrasi Nitrimetri:
Larutan baku NaNo2 0,1N.
Asam sulfanilat.
kBr.
Etanol. 96%
HCl 4N
Indikator treopeolin oo + metilen blue ( 5:3)
Es batu (penangan es)
Aquadest
3.3.Prosedur Umum.
3.3.1 pembakuan larutan baku NaNO2 oleh asam sulfanilat.
1.
toimbang dengan seksama 100 mg asam oksalat.
2.
Larutkan dalam labu Erlenmeyer dengan menggunakan aquadest 25 mL.
3.
Tambahkan HCl 4N sebanyak 5 mL.
4.
Tambahkan indicator campur tropeolin oo + metilen blue (5:3)
5.
Dinginkan sampai suhu 15oC, tambah KBr sebanyak 10 mg jika perlu.
6.
Titrasi dengan larutan NaNO2 0,1N yang akan dibakukan kembali sampai terjadi
perubahan warna larutan ungu menjadi biru kehijauan.
7.
hitung kadar NaNO2 0,1 N sebenarnya.
3.3.2. Penetapan kadar sample berberntuk larutan:
1.
larutkan sample dalam labu ukur, dengan aquadest sampai tanda batas.
2.
aduk larutan sample sampai larut sempurna.

pipet larutan sample dengan pipet ukur/volume pipet sebnyak 25 mL.


4.
Tambahkan HCl 4N sebnyak 5 mL.
5.
Tambahkan indicator campur Tropeolin oo + metilen blue (5:3)
6.
Dinginkan sampai suhu 15oC, tambahkan KBr 10 mg jika perlu.
7.
Titrasi dengan larutan NaNO2 0,1 N yang akan dibakukan kembali sampai terjadi
perubahan warna larutan ungu menjadi biru kehijauan.
8.
Hitung kadar % zat aktif dalam sample.
3.3.3. Prosedur Menurut Literatur
Sulfadiazin (BM : 250,27)
3.

FI III Hal 579 :Lakukan Penetapan menurut cara nitrimetri, jika perlu hangatkan hingga
sulfadiazin larut.
1 ml Natrium Nitrit 0,1 M ~2,00227mg C10H10N4O2S

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Pembakuan Larutan baku NaNO2 oleh Asam sulfanilat 0,1 N

NaNO2

Awal
Akhir
Terpakai

0
5
5

0
5,6
5,6

No

Berat Asam sulfanilat

Volume NaNO2

1
2

100 mg
111 mg

5
5,6

Perhitungan:
Normalitas NaNO21:

Normalitas NaNO2 2 :

Normalitas Rata-Rata :

Jadi Rata-rata Normalitas NaNO2adalah 0,1042N

Penetapan kadar sample dalam sediaan obat :


Sample Obat: Sulfadiazine Larutan
BE Sulfadiazine: 250,27

NaNO2

Awal
Akhir

0
5

5
10,5

10
15

Terpakai

V NaNO2 rata-rata :

Perhitungan kadar :
I

II.

III.

Perhitungan Kadar Rata-rata :

5,5