Anda di halaman 1dari 31

UJI EFEK TONIKUM EKSTRAK ETANOL DAUN SAMBILOTO

(Andrographis paniculata, Nees.) TERHADAP HEWAN UJI MENCIT


DENGAN METODE MASERASI

Usulan Karya Tulis Ilmiah

Oleh :
Feni Indriyani
C11211224

PROGRAM STUDI DIII FARMASI


POLITEKNIK KESEHATAN BHAKTI MULIA
2015

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Indonesia memiliki 3000 jenis tanaman obat namun baru sekitar
450 saja yang sudah diketahui khasiatnya sehingga perkembangan obat di
Indonesia belum pesat. Obat tradisional belum bisa diterima sepenuhnya
oleh kalangan medis dan dunia kedokteran modern. Namun akhir-akhir ini
penelitian mengenai obat tradisional semakin banyak dilakukan baik oleh
kalangan akademis, medis maupun instansi swata dan pemerintah
(Prapanza dan Marianto, 2003).
Penggunaan obat zaman dahulu dan sekarang memang berbeda.
Dahulu obat tradisional dikonsumsi dalam keadaan segar dan diolah secara
sederhana. Zaman sekarang obat tradisional digunakan dalam bentuk
sediaan instan seperti jamu. Kendala utama ketika mengkonsumsi obat
tradisional adalah bahan baku dan proses peracikan yang dianggap
merepotkan. Selain bahan baku yang menjadi kendala obat tradisional
adalah pengetahuan dan informasinya. Tanaman obat hanya dikenal lewat
cara bertukar pengalaman, cerita dari mulut ke mulut atau kitab-kitab
zaman dahulu. Maka diperlukan cara untuk mempublikasikan khasiat dan
manfaat obat tradisional secara lebih luas misalnya melalui buku, media
massa dan hasil penelitian.
Penggunaan obat penambah stamina pada zaman sekarang ini
semakin meluas. Hal ini seiring dengan kebutuhan masyarakat yang

semakin meningkat pola aktivitas kerjanya. Masyarakat pada era ini


membutuhkan kerja ekstra keras karena semakin banyaknya tuntutan atau
persaingan untuk memenuhi kebutuhan sosial dan ekonomi. Pola aktivitas
kerja yang semakin meningkat membutuhkan tenaga lebih banyak
sehingga menyebabkan kelelahan, oleh karena itu membutuhkan obat
penambah stamina agar stamina menjadi lebih fit dan bugar (Wahyuni dan
Kusumawati, 2008).
Tonikum adalah suatu bahan atau campuran bahan yang dapat
memperkuat tubuh atau tambahan tenaga atau energi pada tubuh. Kata
tonik berasal dari bahasa Yunani yang berarti meregang. Tonikum dapat
meregang atau memperkuat sistem fisiologi tubuh sebagaimana halnya
olahraga yang dapat memperkuat otot-otot, yaitu dengan meningkatkan
kelenturan alami dan sistem pertahanan tubuh (Hermayanti, 2013).
Tonik digunakan untuk memacu dan memperkuat semua sistem
dan organ serta menstimulan perbaikan sel-sel tonus otot. Efek tonik ini
terjadi karena efek stimulan yang dilakukan terhadap sistem syaraf pusat.
Efek tonik ini dapat digolongkan ke dalam golongan psikostimulansia.
Senyawa psikostimulansia dapat meningkatkan aktivitas psikis, sehingga
menghilangkan rasa kelelahan dan penat, serta meningkatkan kemampuan
berkonsentrasi (Wahyuni dan Kusumawati, 2008)
Salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat yaitu
tanaman sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.). Tanaman ini
mengandung bahan kimia diantaranya senyawa andrographolid yang

menyebabkan rasa pahit terutama bagian daun dan batangnya. Diduga


senyawa ini merupakan bahan aktif daun sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) yang banyak mengandung unsur-unsur mineral seperti
kalium, natrium, kalsium dan asam kersik. Beberapa penelitian juga
menunjukkan bahwa tanaman sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.)
mengandung alkane, keton, aldehid, damar, dan minyak atsiri (Prapanza
dan Marianto, 2003).
Habitat asli sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) adalah
tempat-tempat terbuka yang teduh dan agak lembab seperti kebun, tepi
sungai, pekarangan, semak atau rumpun bambu. Sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) mudah tumbuh sepanjang tahun baik musim kemarau
maupun musim penghujan. Tanaman sambiloto (Andrographis paniculata,
Nees.) dapat cepat berkembangbiak dengan setek batang atau biji
(Prapanza dan Marianto, 2003).
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan
menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, di luar
pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus
manjadi serbuk. Ekstrak air dilakukan penyarian dengan air dengan cara
maserasi, perkolasi atau dapat pula dengan penyeduhan dengan air
mendidih (Dirjem POM, 1979). Penelitian yang sudah dilakukan oleh
Warditiani dkk menunjukkan bahwa ekstrak etanol terpurifikasi herba
sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) positif mengandung golongan
flavonoid dan terpenoid (Warditiani et.al, 2013)

Berdasarkan penelitian dalam Warta Tumbuhan Obat Indonesia


tahun 1996 ditemukan bahwa infus daun sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) tergolong cukup aman. Berdasarkan kriteria Gleason,
M. N., infus sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) termasuk zat
yang Practically Non Toxic (Dzulkarnain, Arifin dan Santosoatmodjo,
1974)
Berdasarkan

latar

belakang

tersebut

maka

yang

menjadi

permasalahan dalam penelitian ini adalah apakah ekstrak etanol daun


sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) mempunyai efek tonik pada
mencit dan pada konsentrasi berapa dapat memberikan efek tonik yang
optimum.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah uji efek tonikum ekstrak etanol daun sambiloto
(Andrographis paniculata, Nees.) adalah :
1. Apakah ektrak etanol daun sambiloto (Andrographis paniculata,
Nees.) Memberikan efek tonikum pada hewan uji mencit ?
2. Berapa konsentrasi ekstrak etanol daun sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) yang paling efektif untuk memberikan efek tonikum
?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian uji efek tonikum ekstrak etanol daun sambiloto
(Andrographis paniculata, Nees.) dibagi menjadi dua, yaitu secara umum
dan khusus sebagai berikut :
1. Tujuan Khusus
Mengetahui adanya efek tonikum ekstrak etanol daun
sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) pada hewan uji mencit dan

mengetahui konsentrasi ekstrak etanol daun sambiloto (Andrographis


paniculata, Nees.) yang paling efektif untuk memberikan efek tonikum
2. Tujuan Umum
Memberikan informasi kepada masyarakat bahwa tanaman
sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) yang pada awalnya
dikenal sebagai tumbuhan obat anti kanker ternyata memiliki khasiat
sebagai tonikum, sehingga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
daya tahan dan stamina tubuh.
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat teoritis
Manfaat teoritis pada penelitian ini berkaitan dengan kemampuan
ektrak etanol daun sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) untuk
memberikan efek tonikum pada hewan uji mencit.
2. Manfaat praktis
a. Bagi Penulis
Sebagai sarana untuk menerapkan ilmu yang diperoleh
selama di bangku kuliah dan menambah pengetahuan serta
wawasan.
b. Bagi Akademis
Sebagai salah satu bahan referensi dan kepustakaan bagi
Prodi Farmasi Bhakti Mulia Sukoharjo demi perkembangan ilmu
dan wawasan pengetahuan
c. Bagi Masyarakat
Mengenalkan tentang daun sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) dapat digunakan sebagai tonikum yaitu untuk
meningkatkan daya tahan dan stamina tubuh

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pustaka
1. Tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.)
a. Ciri Fisik
Sambiloto termasuk dalam genus Andrographis. Genus ini
terdiri dari 28 spesies tetapi hanya sedikit yang berkhasiat obat dan
yang paling popular adalah Andrographis paniculata. Sambiloto
memiliki beberapa sinonim yakni Justicia paniculata, Burm., Justicia
stricta, Lamk., dan Justicia latebrosa, Russ. Tanaman yang
digolongkan

jenis

perdu

atau

semak

ini

termasuk

keluarga

Acanthaceae. Sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) termasuk


kedalam subfamili Acanthoidae. (Khasiat dan manfaat sambiloto)
Klasifikasi tanaman sambiloto (Andrographis paniculata,
Nees.) sebagai berikut :
Devisi
: Spermatophyta
Sub Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Dicotyledonae
Bangsa
: Solanales
Suku
: Acanthaceae
Marga
: Andrographis
Jenis
: Andrographis paniculata Ness
Tanaman ini dikenal dengan nama daerah sambiloto. Tanaman
ini juga dikenal dengan sebutan sambilata (Melayu), sambiloto (Jawa
tengah), ki oray (Sunda), pepaitan (Maluku), shirotholmustaqim
(Aceh),

ampadu

(Minangkabau),

Tumbuhan, Tumbuhan obat Indonesia)

sambiroto

(Bali)

(ITO

dan

Diukur dari pangkal batang hingga ujung tajuk, tinggi


sambiloto bervariasi antara 30 cm 100 cm. Tanaman yang rasanya
sangat pahit ini memiliki banyak cabang. Bunganya berwarna putih
keunguan. Daunnya kecil-kecil, berbentuk lanset (pedang), ujung
runcing, tetapi rata, tangkai pendek, lebar 1 cm 3 cm. Permukaan
atas daun berwarna hijau tua dan permukaan bawahnya berwarna hijau
muda. Buah sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) berbentuk
jorong (bulat panjang), pangkal dan ujungnya tajam. Panjang buah
sekitar 2 cm. (khasiat dan manfaat sambiloto)
b. Kandungan kimia
Beberapa penelitian menunjukkan
sambiloto

(Andrographis

paniculata,

bahwa

Nees.)

tanaman

mengandung

Andrographolid, keton, aldehid, dammar, saponin, tannin, minyak


atsiri, flavonoid dan terpentin. (khasiat dan manfaat sambiloto)
1) Andrographolid
Daun sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.)
mengandung sejumlah senyawa kimia yang merupakan ciri khas
tumbuhan ini. Semua bagian tanaman sambiloto seperti daun,
batang bunga dan akar terasa sangat pahit jika dimakan atau
direbus untuk diminum. Rasa pahit itu disebabkan oleh adanya
senyawa andrographolid yang banyak terdapat di dalam tanaman
sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) , terutama bagian daun
dan batangnya. Di dalam daun kadar senyawa andrographolid
sebesar 2,5% - 4,8% dari berat keringnya. Diduga senyawa ini

merupakan bahan aktif daun sambiloto (Andrographis paniculata,


Nees.) yang banyak mengandung unsur-unsur mineral seperti
kalium, natrium, kalsium dan asam kersik. (khasiat dan manfaat
sambiloto)
2) Aldehid dan Keton
Aldehid adalah senyawa organik yang karbon karbonilnya
(karbon yang terikat pada oksigen) selalu berikatan dengan paling
sedikit satu hidrogen. Keton adalah senyawa organik yang karbon
karbonilnya dihubungkan dengan dua karbon lain. Aldehid dan
keton dapat membentuk ikatan hidrogen antar molekul karena tidak
adanya gugus hidroksil (-OH). Dengan demikian titik didihnya
lebih rendah dibanding alkohol padanannya. Tapi aldehida dan
keton dapat saling tarik melalui antaraksi polar-polar, sehingga titik
didihnya lebih tinggi dibanding alkana padanannya. (Kima organic
dan hayati hal 82)
Aldehid dan keton dapat membentuk ikatan hidrogen
dengan molekul air yang polar. Anggota deret yang rendah yaitu
formaldehida, asetaldehida dan aseton bersifat larut air dalam
segala perbandingan.
Berbagai aldehid dan keton telah diisolasi dari tanaman dan
hewan. Banyak diantaranya, terutama yang berbobot molekul
tinggi, berbau sedap. Senyawa tersebut umum dikenal dengan
nama biasa yang menyatakan sumber alam atau sifat khasnya. Uji

untuk mendeteksi senyawa ini hasilnya mudah dilihat. Uji yang


paling banyak digunakan untuk deteksi aldehida adalah uji Tollens,
Benedict dan Fehling. (Kima organic dan hayati hal 82)
3) Saponin
Saponin adalah jenis glikosida yang banyak ditemukan
dalam tumbuhan. Saponin memiliki karakteristik berupa buih,
sehingga ketika direaksikan dengan air dan dikocok maka akan
terbentuh buih yang dapat bertahan lama. Saponin mudah larut
dalam air dan tidak larut dalam eter. Saponin memiliki rasa pahit
menusuk dan menyebabkan bersin serta iritasi pada selaput lender.
Saponin merupaka racun yang dapat menghancurkan butir darah
atau hemolisis pada darah.
Saponin siklasifikasikan menjadi dua yaitu : saponin steroid
dan saponin triterpenoid. Saponin steroid tersusun atas inti steroid
(C7) dengan molekul karbohidrat. Steroid saponin dihidrolisis
menghasilkan suatu aglikon yang dikenal sebagai saraponin. Tipe
saponin ini memiliki efek anti jamur. Saponin triterpenoid tersusun
atas inti triterpenoid dengan molekul karbohidrat. Dihidrolisis
menghasilkan suatu aglikon yang disebut sapogenin. Ini merupaka
suatu senyawa yang mudah dikristalkan lewat asetalasi sehingga
dimurnikan. Tipe saponin ini adalah turunan amyrine. (Dasar-dasar
farmakologi kelas X, hal 22)
4) Tanin

Tanin merupakan golongan yang terdiri atas senyawa


polifenol larut air, yang memiliki bobot molekul tinggi. Senyawa
ini memberikan rasa kelat dan pahit dalam tanaman dan makanan.
Secara garis besar tanin terbagi menjadi dua golongan yaitu tanin
dapat terhidrolisis dan tanin yang tidak dapat terhidrolisis.
(farmakognosi dan fitoterapi, hal 85)
5) Dammar
Resin atau dammar adalah suatu campuran yang kompleks
dari sekret tumbuh-tumbuhan dan insekta, biasanya berbentuk
padat dan amorf dan merupakan hasil terakhir dari metabolism dan
dibentuk diruang-ruang skizofen dan skizolisigen.
Secara fisis resin (damar) ini biasanya keras, transparan
plastis dan pada pemanasan menjadi llunak atau meleleh. Secara
kimiawi resin adalah campuran yang kompleks dari asam-asam
resinat, alkoholiresinat, resinotannol, ester-ester dan resene-resene.
Bebas dari zat lemas dan mengandung sedikir oksigen. Karena
mengandung zat karbon dalam kadar tinggi, maka kalau dibakar
menghasilkan hangus. Juga ada yang menganggap bahwa resin
terdiri dari zat-zat terpenoid, yang dengan jalan adisi dengan air
menjadi damar dan fitosterin. Sifat larut dalam air, sebagian larut
dalam alkohol, larut dalam eter, aseton, petroleum eter, kloroform,
minyak terpenting dan lain-lain minyak. Apabila resin-resin di
pisahkan dan di murnikan, biasanya dibentuk zat padat bis

terbakar. Resin ini juga tidak larut dalam air,tetapi larut dalam
alkohol dan lain-lain pelarut organik yang membentuk larutan yang
apabila di uapkan meninggalkan sisa yang berupa lapisan tipis
seperti vernis. (Nadjeebs blog)
6) Minyak Atsiri
Minyak atsiri lazim dikenal dengan nama minyak mudah
menguap atau minyak terbang. Definisi minyak atsiri yang ditulis
dalam Encyclopedia of Chemical Technology menyebutkan bahwa
minyak atsiri merupakan senyawa yang pada umumnya berwujud
cairan, yang diperoleh dari bagian tanaman, akar, kulit, batang,
daun, buah, biji maupun dari bungan dengan cara penyulingan
dengan uap. Meskipun kenyataannya untuk memperoleh minyak
atsiri dapat dapat juga diperoleh dengan cara lain seperti dengan
cara ekstraksi dengan menggunakan pelarut organik maupun
dengan cara dipres atau dikempa dan secara enzimatik. (minyak
atsiri, 2004)
Minyak atsiri dapat dibagi menjadi dua kelompok. Pertama
minyak atsiri yang dengan mudah dapat dipisahkan menjadi
komponen-komponen atau penyusun murninya. Komponenkomponen ini dapat menjadi bahan dasar untuk diproses menjadi
produk-produk lain. Contohnya minyak sereh dan minyak daun
cengkeh. Biasanya komponen utama yang terdapat dalam minyak
atsiri tersebut dipisahkan atau diisolasi dengan penyulingan

bertingkat atau dengan proses kimia yang sederhana. Kelompok


kedua adalah minyak atsiri yang sukar dipisahkan menjadi
komponen murninya. Contoh minyak akar wangi dan minyak
kenanga.
7) Flavonoid
Flavonoid adalah senyawa yang terdiri dari C6 C3 C6.
Flavonoid umumnya terdapat pada tumbuhan sebagai glikosida.
Gugusan gula bersenyawa pada satu atau lebih grup hidroksil
fenolik. Flavonoid terdapat pada seluruh bagian tanaman, termasuk
pada buah, tepung sari dan akar. Kegunaannya pada manusia
dengan dosis kecil dapat bekerja sebagai stimulan pada jantung,
hesperidin mempengaruhi pembuluh darah kapiler. Flavon
terhidroksilasi bekerja sebagai diuretik dan sebagai antioksidan
pada lemak. (penuntun fitokimia dlm farmasi)
8) Terpenoid
Terpenoid adalah senyawa alam yang terbentuk dengan
proses biosintesis, terdistribusi luas dalam dunia tumbuhan dan
hewan. Terpenoid ditemukan tidak hanya pada tumbuhan tingkat
tinggi namun juga pada terumbu karang dan mikroba.
Sebagian besar terpenoid mempunyai struktur siklik dengan
satu atau lebih gugus fungsional (hidroksi, karbonil dll). Sesuai
dengan strukturnya, terpenoid pada umumnya merupakan senyawa
yang larut dalam lipid, senyawa ini berada pada sitoplasma sel
tumbuhan. Berdasarkan tingkat kepolarannya terpenoid pada

umumnya diekstraksi dari jaringan tumbuhan dengan petroleum


eter, eter dan kloroform, selanjutnya dipisahkan dengan metode
kromatografi dengan fasa diam silica gel atau alumina dan dengan
fasa gerak yang sesuai. Senyawa tidak menguap terpenoid
diimplikasikan sebagai hormon seks. (penuntun fitokimia dalam
farmasi)
c. Kegunaan
Sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) berkhasiat sebagai
obat demam, obat penyakit kulit, obat kencing manis, obat radang
telinga dan obat masuk angin. Sambiloto (Andrographis paniculata,
Nees.) juga memiliki khasiat dari kandungan kimia yang dimiki yaitu
kalium yang berfungsi meningkatkan jumlah urin sekaligus membantu
mengeluarkannya. Minyak atsiri yang bermanfaat sebagai antiradang.
Laktone yang berfungsi sebagai antiradang dan antipiretik karena
mengandung

neoandgrographolid,

andrographolid,

deoksiandrographolid, 14-deoksi-11, dan 12-didehidroandrographolid.


Flavonoid

yang

antara

lain

berfungsi

untuk

mencegah

dan

menghancurkan penggumpalan darah.


Zat andrographolid menghasilkan rasapahit yang luar biasa
pada sambiloto dan memiliki multiefek farmakologis. Zat aktif ini
mampu menghambat pertumbuhan sel kanker hati, payudara dan
prostat. Sebagai koleretik andrographolid dapat meningkatlkan aliran
empedu, garam empedu dan asam empedu. Selain itu zat ini juga bisa

meningkatkan

produkdi antibodi.

Beberapa

efek

farmakologis

sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) yang sudah diketahui


diantatanya antiradang, antiinfeksi sehingga bisa digunakan sebagai
antbiotik untuk melawan virus, merangsang daya tahan sel darah putih
sehingga efektif untuk mengobati infeksi, antibakteri bakteriotatis pada
Staphylococeus aureus
2. Simplisia
a. Definisi Simplisia
Simplisia adalah bahan alam yang digunakan sebagai obat
yang belum mengalami pengolahan apapun kecuali pengeringan.
Ada tiga macam simplisia yaitu simplisia nabati, simplisia hewani
dan simplisia mineral. (Dirjen POM, 1985 cara pembuatan
simplisia)
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman
utuh, bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat tanaman ialah
isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau isi sel dengan
cara tertentu dikeluarkan selnya, atau zat-zat nabati lainnya yang
dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan berupa zat
kimia murni.
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan utuh,
bagian hewan atau zat-zat yang berguna yang dihasilkan oleh
hewan dan belum berupa zat kimia murni.
Simplisia pelican (mineral) adalah simplisia yang berupa
bahan pelican (mineral) yang belum diolah atau telah diolah

dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia murni. (Dirjen
POM, 1977 MMI Jilid 1)
b. Penanganan Simplisia
Tanaman obat yangmenjadi sumber simplisia nabati, merupakan
salah satu faktor yangdapat mempengaruhi mutu simplisia. Pada
umumnya pembuatan simplisia melalui tahapan sebagai berikut:
1. Pengumpulan Bahan Baku
Kadar senyawa aktif dalam suatu simplisia berbeda-beda
antara lain tergantung pada bagian tanaman yang digunakan,
umur tanaman atau bagian tanaman pada saat panen, waktu
panen dan lingkungan tempat tumbuh. Waktu panen sangat erat
hubungannya dengan pembentukan senyawa aktif di dalam
bagian tanaman yang akan dipanen
2. Sortasi Basah
Sortasi basah dilakukan untuk memisahkan kotoran
kotoran atau bahan bahan asing lainnya dari bahan simplisia.
Misalnya pada simplisia pada simplisia yang dibuat dari akar
suatu tanaman obat, bahan-bahan asing seperti tanah, kerikil,
rumput, batang, daun akar yang telah rusak, serta pengotor
lainnya harus dibuang.
3. Pencucian
Pencucian dilakukan untuk menghilangkan tanah dan
pengotor lainnya yang melekat pada bahan simplisia.
Pencucian dilakukan dengan air bersih. Bahan simplisia yang
mengandung zat yang mudah larut di dalam air yang mengalir,
pencucian dilakukan dalam waktu sesingkat mungkin. Cara

sortasi dan pencucian sangat mempengaruhi jenis dan jumlah


mikroba awal simplisia.
4. Perajangan
Beberapa jenis simplisia

perlu

mengalami

proses

perajangan. Perajangan bahan simplisia dilakukan untuk


mempermudah

proses

pengeringan,

pengepakan

dan

penggilingan. Tanaman yang baru diambil tidak boleh langsung


dirajang tetapi dijemur dalam keadaan utuh selama 1 hari.
5. Pengeringan
Tujuan pengeringan adalah untuk mendapatkan simplisia
yang tidak mudah rusak, sehingga dapat disimpan dalam waktu
yang lebih lama. Dengan mengurangi kadar air dan
menghentikan reaksi enzimatik akan dicegah penurunan mutu
atau perusakan simplisia. Air yang msih tersisa dalam simplisia
pada kadar tertentu dapat menjadi media pertumbuhan kapang
dan jasad renik lainnya.
6. Sortasi kering
Sortasi setelah pengeringan sebenarya merupaka tahap
akhir pembuatan simplisia. Tujuan sortasi untuk memisahkan
benda-benda asing seperti bagian-bagian tanaman yang tidak
diinginkan dan pengotor-pengotor lain yang masih ada dan
tertinggal pada simplisia kering. Proses ini dilakukan sebelum
simplisia dibungkus atau kemudian disimpan.
7. Pengepakan dan Penyimpanan
Simplisia dapat rusak, mundur atau berubah mutunya
karena berbagai faktor luar dan dalam seperti cahaya, oksigen

udara,

reaksi

kimia

intern,

dehidrasi,

penyerapan

air,

pengotoran, serangga dan kapang.


Oleh karena itu pada penyimpanan simplisia perlu
diperhatikan

beberapa

hal

yang

dapat

mengakibatkan

kerusakan simplisia yaitu cara pengepakan, pembungkusan dan


pewadaahan, persyaratan gudang simplisia, cara sortasi dan
pemeriksaan mutu, serta cara pengawetannya. Penyebab
kerusakan pada simplisi

yang

utama

adalah

air dan

kelembaban.
8. Pemeriksaan Mutu
Pemeriksaan mutu simplisia dilakukan pada waktu penerimaan
atau pembeliannya dari pengumpul atau pedagang simplisia.
(Cara pembuatan simplisia)
c. Ekstrak
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan
menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok,
diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus
mudah digerus menjadi serbuk. Ekstrak air dilakukan penyarian
dengan air dengan cara maserasi, perkolasi atau dapat pula dengan
penyeduhan dengan air mendidih (FI III)
3. Metode Penyarian
a. Penyarian
Penyarian adalah kegiatan penarikan zat yang dapat larut
dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia
yang disari mengandung zat aktif yang dapat larut dan zat yang
tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein dan lain-lain. Faktor

yang mempengaruhi kecepatan penyarian adalah kecepatan difusi


zat yang larut melalui lapisan-lapisan batas antara cairan penyari
dengan bahan yang mengandung zat tersebut.
Zat aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat
digolongkan ke dalam alkaloida, glikosida, flavonoid dan lain-lain.
Struktur kimia yang berbeda-beda akan mempengaruhi kelarutan
serta stabilitas senyawa-senyawa tersebut terhadap pemanasan,
logam berat, udara, cahaya dan derajat keasaman. Dengan
diketahui zat aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah
pemilihan cairan penyari dan cara penyarian yang tepat.
Proses penyarian selain memperhatikan sifat fisik simplisia
dan sifat zat aktifnya, juga harus memperhatikan zat-zat yang
sering terdapat dalam simplisia seperti protein, karbohidrat, lemak
dan gula. Proses penyarian dapat dipisahkan menjadi pembuatan
serbuk, pembahasan, penyarian dan pemekatan. (Sediaan galenik)
b. Maserasi
Maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana.
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam
cairan penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan
masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif
akan larut dan karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan
zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka larutan yang
terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehingga

terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan di


dalam sel. (sediaan galenik, hal 10)
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang
mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak
mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari,
tidak mengandung benzoin, stirak dan lain-lain. Keuntungan cara
penyarian dengan maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan
yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan. Kerugian cara
maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang
sempurna. (sediaan galenik, hal 10)
c. Larutan Penyari
Pemilihan cairan penyari harus mempertimbangkan banyak
faktor. Cairan penyari yang baik harus memenuhi kriteria berikut
ini :
- Murah dan mudah diperoleh
- Stabil secara fisika dan kimia
- Bereaksi netral
- Tidak mudah menguap dan tidak mudah terbakar
- Selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat yang dikehendaki
- Tidak mempengaruhi zat berkhasiat
- Diperbolehkan oleh peraturan
Dalam penelitian ini menggunakan pelarut etanol karena
beberapa pertimbangan yakni :
- Lebih selektif
- Kapang dan kuman sulit tumbuh dalam etanol 20% keatas
- Tidak beracun
- Netral
- Absorbsinya baik
- Etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan
- Panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih sedikit.

Sedangkan kerugiannya adalah etanol mahal harganya,


mudah menguap dan mudah terbakar. Etanol dapat melarutkan
alkaloida, basa minyak menguap, glikosida, kurkumin, kumarin,
antrakinon, flavonoid, steroid, dammar dan klorofil. Lemak,
malam, tannin dan saponin hanya sedikit larut. Dengan demikian
zat pengganggu yang larut hanya terbatas.
Peningkatan penyarian digunakan campuran antara etanol
dan air. Perbandingan jumlah etanol dan air tergantung pada bahan
yang akan disari. (sediaan galenik, hal 6)
4. Mencit (Mus muscullus L.)
Klasifikasi ilmiah pada mencit atau tikus putih yaitu :
Kerajaan
: Animalia
Filum
: Chordata
Kelas
: Mammalia
Ordo
: Rodentia
Famili
: Muridae
Upafamili
: Murinae
Genus
: Mus
Spesies
: Mus musculus
Mencit adalah binatang asli Asia, India dan Eropa Barat. Jenis
ini sekarang ditemukan di seluruh dunia karena pengenalan oleh
manusia. Sebagian besar mencit diperoleh dari peternak hewan
laboratorium untuk digunakan dalam penelitian biomedis, pengujian,
dan pendidikan. Bahkan tujuh puluh persen dari semua hewan yang
digunakan dalam kegiatan biomedis adalah mencit. Dalam ilmu
genetika, mencit adalah mamalia yang dicirikan paling lengkap.
Anatomi dan fisiologi mencit :
Berat badan mencit dewasa : 25 gram 40 gram (betina); 20
gram -40 gram (jantan)

Lama hidup
Umur dewasa
Umur kawin
Siklus estrus
Jumlah anak
Berat lahir
Pernapasan rate
Denyit jantung

denyut/menit
Rata-rata suhu normal dubur : 99,5oF
Perut dibagi menjadi bagian nonglandular proksimal dan bagian

distal kelenjar.
Paru-paru kiri terdiri dari satu lobus, sedangkan paru-paru kanan

terdiri dari empat lobus.


Memiliki liam pasang kelenjar susu.
Sangat berkkonsentrasi urin diproduksi; jumlah besar protein

: 1,5 tahun 3 tahun


: 35 hari
: 8 minggu
: 12 jam 14 jam
: rata-rata 6, bisa sampai 15 ekor
: 0,5 gram 1,0 gram
: 94 napas/menit 163 napas/menit
:
325
denyut/menit

780

diekskresikan dalam urin. (wikipedia)


5. Tonikum
Tonikum adalah obat yang menguatkan badan dan merangsang
selera makan. (Restiani, 2009 Cited Retani 2014 : Hal 4)
Tonikum adalah istilah yang dahulu digunakan untuk kelas
preparat

obat-obatan

yang

dipercaya

mempunyai

kemampuan

mengembalikan tonus normal pada jaringan. Tonikum mempunyai efek


yang menghasilkan tonus normal yang ditandai dengan ketegangan
terus-menerus (Restiani, 2009 Cited Retani 2014 : Hal 4).
Efek dari tonikum adalah efek yang memacu dan memperkuat
system organ serta menstimulan perbaikan sel-sel tonus otot. Efek
tonik ini terjadi karena efek stimulan dilakukan terhadap sistem saraf
pusat. Efek tonik ini dapat digolongkan ke dalam golongan

psikostimulansia. Senyawa psikostimulansia dapat meningkatkan


kemampuan berkonsentrasi kapasitas yang bersangkutan. (Mutschler,
1986 : Hal 157)
Stimulan

yang

dihasilkan

bekerja

pada

korteks

yang

mengakibatkan euforia, tahan lelah, stimulansia ringan. Pada medula


menghasilkan efek meningkatkan pernapasan, stimulasi psikomotor,
stimulasi vagus, euphoria dapat menunda tumbuhya sikap negatif
terhadap kerja yang melelahkan (Nieforth dan Cohen 1981 : Hal.).
6. Kafein
Kafein adalah 1,3,4 trimetil xantin. Pemerian berupa serbuk
putih atau bentuk jarum mengkilat putih, biasanya menggumpal tidak
berbau, mempunyai rasa pahit (Mutschler, 1986). Kelarutan kafein
dalam air bertambah dengan adanya asam sitrat, benzoat, salisilat, dan
bromida. Dari turunan xantin yang ada didalam tanaman yaitu kafein,
teofilin dan teobramin, kafein memiliki kerja psikotonik yang paling
kuat. Agak kurang kerjanya adalah teofilin, sedangkan pada teobromin
tidak mempunyai stimulasi pusat (Mutschler, 1986).
B. Kerangka Pikir
Ekstrak etanol daun
sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.)

Terpenoid sebagai tonikum

Kontrol
positif

Pengujian pada hewan uji


dengan variasi dosis

Kontrol
negatif

Mengamati pengaruh
pemberian perlakuan
terhadap hewan uji

Peningkatan daya tubuh


C. Hipotesis
Daun sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) mengandung
flavonoid dan terpenoid dimana kedua senyawa tersebut dapat
memberikan efek tonikum. Terutama terpenoid yang merupakan golongan
stimulant. Penelitian yang sudah dilakukan oleh Widjaja pada tahun 2012
menyebutkan bahwa ektrak terpurifikasi herba sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) positif mengandung golongan senyawa flavonoid dan
terpenoid. Ekstrak terpurifikasi dibuat dengan mengekstraksi serbuk herba
sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.) dengan metode maserasi
menggunakan etanol 90%, kemudian dilakukan purifikasi bertahap
menggunakan pelarut n-heksan. Jadi daun sambiloto (Andrographis
paniculata, Nees.) dapat digunakan sebagai penambah stimulant tubuh.

BAB 3
METODE PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat
Penelitian dilakukan di Laboratorium Farmasi Peltekkes Bhakti Mulia
Sukoharjo.
2. Waktu

Penelitian dilaksanakan pada bulan November 2014 April 2015


B. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental menggunakan True
experiment designI dengan pendekatan Pretes postes with control grup.
Perlakuan dengan pemberian ekstrak etanol daun sambiloto terhadap
mencit jantan.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi pada penelitian ini adalah mencit jantan (Mus musculus L.)
ras Swiss.
2. Sampel
Sampel yang diambil harus mempunyai kriteria, mencit jantan yang
tidak cacat secara anatomi, sudah berumur 1-2 bulan dan berat badan
20-30 gram sebagai hewan uji, dan tidak menunjukkan aktivitas
pergerakan sebelum perlakuan.
3. Besar Sampel
Jumlah mencit jantan (Mus Musculus L.) ras Swiss yang
digunakan dalam penelitian ini sebanyak 45 ekor. Terdapat 3 kelompok
pada perlakuan ekstrak etanol daun samboloti (Andrographis
paniculata, Nees.)

yang setiap kelompok digunakan 3 ekor mencit

dan perlakuan pemberian ekstrak menggunakan 3 variasi dosis dan


dilakukan 3 kali replikasi. Sedangkan pada kelompok kontrol positif
dan kontrol negatif tiap kelompoknya juga digunakan 3 ekor mencit
yang tiap kelompoknya dilakukan 3 kali replikasi.
4. Cara Pengambilan Sampel
Sampel diambil dari mencit yang secara genetic sifatnya sama,
maka pengambilan sampel secara Simple random sampling untuk
menghindari bias karena faktor umur dan berat badan maka
pengelompokan sampel dilakukan secara acak dan dilakukan
penimbangan mencit sebelum perlakuan.
Mencit sebanyak 45 ekor diadaptasi dengan lingkungannya
selama satu minggu dan dipuaskan selama 8 jam sebelum digunakan.
Setelah menjalani masa adaptasi kemudian mencit dibagi menjadi 5
kelompok secara acak. Masing-masing kelompok terdiri dari 3 ekor
mencit.
Kelompok I diberi perlakuan secara peroral CMC-Na 1% b/v
sebagai control negatif. Kelompok II, III, IV diberi perlakuan secara
peroral ekstrak etanol daun sambiloto sebanyak 1 ml/20 g BB mencit.
Untuk kelompok II dengan konsentrasi 5% b/v, kelompok III dengan
konsentrasi 10% b/v, kelompok IV dengan konsentrasi 15% b/v.
Kelompok V diberi perlakuan secara peroral kafein 100
D. Variabel Penelitian
Variabel penelitian yang digunakan yaitu :
1. Variabel bebas
Variabel bebas (variable independent) dalam penelitian ini yaitu
ekstrak daun sambiloto.

2. Variabel terikat
Variabel terikat (variable dependent) dalam penelitian ini yaitu efek
tonikum yang timbul pada mencit.
3. Variabel Kontrol
Variabel kontrol dalam penelitian ini yaitu sebagai control positifnya
kafein, dan control negatifnya CMC-Na 1%.
E. Definisi Operasional
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan
menyinari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar
pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak kering harus mudah digerus
menjadi serbuk. Ekstrak air dilakukan penyarian dengan air dengan cara
maserasi, perkolasi, atau dapat pula dengan penyeduhan dengan air mendidih.
Ekstrak etanolik adalah ekstrak kental yang dihasilkan dari suatu penyarian
zat aktif menggunakan penyari etanol dan kemudian diuapkan sampai hasil
penyarian menjadi kental dengan warna yang kehitaman.
Ekstrak etanol daun sambiloto (Andrographis paniculata, Nees.)
adalah ekstrak kental dari simplisia Andrographis paniculata, Nees. Dengan
cara mengekstraksi daun sambiloto(Andrographis paniculata, Nees.) dengan
pelarut etanol 90% dengan metode maserasi yang kemudian diuapkan.
Kontrol positif adalah bahan yang digunakan sebagai pembanding,
digunakan kafein yang dapat memberikan efek stimulan dan sebagai obat
perangsang susunan saraf pusat yang kuat.

Kontrol negatif adalah bahan yang digunakan sebagai pembanding,


dimaksudkan sebagai kelompok tanpa perlakuan sehingga perubahan pada
variabel terikat dapat terlihat. Sebagai kontrol negatif digunakan aquadest.
Tonikum adalah obat yang menguatkan badan dan merangsang selera
makan. Efek dari tonikum berupa efek yang memacu dan memperkuat semua
sistem organ serta menstimulan perbaikan sel-sel tonus otot.
F. Instrumen Penelitian dan Pengumpulan Data
G. Uji Validitas dan Reliabilitas
1. Validitas dijaga dengan:
a. Kondisi mencit dibuat sama
b. Sampel diambil secara acak
c. Penelitian efek tonikum pada mencit menggunakan criteria
standard an alat ukur yang sama.
2. Reliabilitas data dijaga dengan replikasi tiga kali pada tiap uji
H. Teknik Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis secara statistic menggunakan metode uji
Anova pada tingkat kepercayaan 95%.
I. Prosedur Penelitian
1. Alat
Beker glass
Batang pengaduk
Klain flannel
Gelas ukur
Cawan penguap
Pipet tetes
Spuit peroral
Bejana air
Lap atau handuk pengering
Timbangan analitik
Blender
Waretbath
Stopwatch
2. Bahan

(pyrex)
(lokal)
(lokal)
(pyrex)
(lokal)
(lokal)
(terumo)
(lokal)
(lokal)

Bahan sampel

: 200 g daun sambiloto (Andrographis


paniculata, Nees.) yang sudah di

keringkan
Bahan kimia

:
-

2 liter etanol 96%


Aquabidest

Hewan uji
Hewan uji yang digunakan adalah mencit jantan
Dosis pemberian
Dosis control positif (kafein)
: 100mg/kg BB
Dosis ekstrak
:
50mg/kg BB
100mg/kg BB
200mg/kg BB
Dosis control negatif (CMC-Na)
:
Volume peberian
Volume pemberian yang digunakan secara per oral adalah 1.0

ml.
J. Cara Kerja
1. Pengambilan Sampel
Sampel diambil dari daerah Pacitan, Jawa Timur yaitu daun
sambiloto yang segar, utuh tidak cacat. Kemudian dikeringkan.
2. Pengeringan dan pembuatan serbuk
Daun sambiloto yang akan digunakan disortasi, dicuci, dianginanginkan lalu dioven pada suhu 50oC sampai kering. Kemudian
dihaluskan dengan cara di blender hingga berbentuk serbuk.
3. Pembuatan ekstrak
a. Membersihkan simplisia daun sambiloto (Andrographis
b.
c.
d.
e.

paniculata, Nees.).
Menimbang bobot simplisia sebesar 200 gram.
Menghaluskan simplisia dan dimasukkan kedalam beker glass.
Menambahkan etanol 90% 1.000 ml kedalam beker glass.
Mendiamkan maserasi selama 18 jam kemudian mengaduknya
selama 6 jam. Lalu didiamkan lagi selama 18 jam.

f. Menyerkai maserasi dengan kain flanel. Sementara ampasnya


direndam lagi dengan etanol 90% sebanyak 1.000 ml.
Kemudian diserkai lagi dengan kain flanel dan hasilnya
dicampur dengan hasil serkai yang pertama.
g. Menyaring hasil maserasi menggunakan kertas saring.
h. Hasil maserasi berupa tingtur yang akan menjadi ekstrak kental
setelah diuapkan.
4. Pemberian pada mencit
a. Sebelum diuji, hewan uji ditimbang terlebih dahulu untuk
menentukan dosisnya.
b. Hewan uji dimasukkan ke dalam bejana/tangki yang berisi air
dan diberi gelombang.
c. Setelah timbul lelah dengan tanda hewan uji membiarkan
d.
e.
f.
g.

kepalanya dibawah permukaan air selama 7 detik.


Diangkat dari tangki dan dicatat waktu lelahnya.
Hewan uji diistirahatkan selama 30 menit.
Setelah itu hewan uji diberi perlakuan peroral.
30 menit kemudian, hewan uji direnangkan kembali dan dicatat

waktu lelahnya.
h. Dihitung data efek toniknya (farmakologi, 2013).
K. Hipotesis Sintetik
H0 : ekstrak etanol daun sambiloto tidak memiliki efek tonikum
H1 : ekstrak etanol daun sambiloto memiliki efek tonikum
L. Jadwal Penelitian
No
1

Jenis Kegiatan
Pengajuan Judul
Penyusunan

2
3
4
5

Proposal
Ujian Proposal
Pengajuan Surat Ijin
Pengumpulan Data

Okt

2014
Nov Des

Jan

Feb

2015
Mar Apr

Mei

6
7
8

Analisis Data
Laporan Penelitian
Ujian Hasil