Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PENGGUNAAN KALIMAT EFEKTIF DALAM


PENYIARAN BERITA DI MEDIA MASSA

OLEH :
KARTIKA GEMMA PRAVITRI
J1A013057
ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNOLOGI PANGAN DAN
AGROINDUSTRI
UNIVERSITAS MATARAM
2013

KATA PENGANTAR
Marilah kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang
telah memberikan nikmat kesehatan jasmani dan rohani kepada kita
semua sehingga makalah ini dapat selesai tepat pada waktunya.
Sholawat serta salam kita curahkan kepada Nabi besar kita
Muhammad SAW yang telah menunjukan kepada kita jalan yang lurus
berupa ajaran agama islam.
Penulis

merasa bersyukur karena telah menyelesaikan tugas

makalah yang berjudul

Penggunaan Kalimat Efektif

Penyiaran Berita Di Media Massa

Dalam

yang merupakan tugas akhir

Bahasa Indonesia. Disini penulis mencoba untuk menjelaskan kalimat


efektif secara umum, ciri-ciri kalimat jurnalistik yang efektif,
penerapan kalimat efektif dalam penyiaran berita di media massa,
masalah dalam kalimat jurnalistik yang efektif, kesalahan tata dan
keektifan kalimat.
Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih yang
sedalam-dalamnya kepada Prof. Ir. H. Sunarpi, Ph.D. sebagai rektor
Universitas Mataram, Prof. Ir. Eko Basuki, M.App.Sc., Ph.D. sebagai
dekan Fakultas Teknologi Pangan dan Agroindustri, Ir. M. Abbas
Zaini, MP. sebagai ketua program studi Ilmu dan Teknologi Pangan,
Drs. H. Nasaruddin M. Ali, BA., M.Pd. sebagai dosen mata kuliah
Bahasa Indonesia yang telah memberikan tugas mengenai karya tulis
ilmiah ini sehingga pengetahuan kami dalam menulis karya ilmiah
semakin bertambah. Kepada Ir. Ahmad Alamsyah, MP. sebagai dosen
pembimbing akademik, kepada dosen-dosen dan tenaga administrasi
yang tidak dapat penulis sebutkan namanya satu persatu yang telah
i

turut membantu hingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik


dalam waktu yang tepat, kepada orang tua penulis yang selalu
mendoakan dan mendukung dalam hal apapun,

kepada sahabat-

sahabat penulis yang telah membantu dan memberi masukan kepada


penulis selama mengerjakan karya tulis ilmiah ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini jauh dari
sempurna, baik dari segi penyusunan, bahasan, ataupun penulisannya.
Oleh karena itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun, khususnya dari dosen mata kuliah untuk menjadi acuan
bagi kami agar menjadi lebih baik di masa yang akan datang.

Mataram, Desember 2013

Penulis

ii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR....................................................................
DAFTAR ISI...................................................................................
BAB I : PENDAHULUAN

i
iii

1.1 Latar Belakang................................................................


1.2 Perumusan Masalah.........................................................
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Penelitian Masalah Secara Umum.........
1.3.2 Tujuan Penelitian Masalah Secara Khusus........
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat Peniltian Teoritis..................................
1.4.2 Manfaat Penelitian Praktis..................................

1
2
2
2
2
2

BAB II : KAJIAN PUSTAKA......................................................... 4


BAB III : PEMBAHASAN
3.1 Kalimat Efektif Secara Umum.......................................
5
3.2 Ciri-ciri Kalimat Jurnalistik yang Efektif.......................
6
3.3 Penerapan Kalimat Efektif dalam Penyiaran Berita di
Media Massa................................................................... 8
3.4 Masalah Dalam Kalimat Jurnalistik Yang Efektif..........
9
3.5 Kesalahan Tata Dan Keefektifan Kalimat....................... 11
BAB IV : PENUTUP
4.1 Kesimpulan....................................................................... 14
4.2 Saran.................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA

iii

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pada era teknologi, komunikasi banyak dilakukan dengan memanfaatkan
media teknologi komunikasi, seperti televisi, telepon, dan internet. Media massa
mengemban fungsi memasyarakatkan bahasa Indonesia.
Media massa menjadi teladan dalam penggunaan bahasa Indonesia yang baik
dan benar. Pada kenyataannya, banyak media massa yang mengingkari fungsi

tersebut. Dari tahun ke tahun penggunaan bahasa Indonesia dalam media massa
mengalami perubahan. Dapat dilihat dengan banyaknya media massa yang tidak
mempunyai acuan dalam pembakuan kosa kata, keefektifan kalimat, dan istilah
dalam bahasa Indonesia sehingga menimbulkan ketidakseragaman istilah.
Pembelajaran bahasa Indonesia yang baik dan benar yang diajarkan di sekolahsekolah atau lembaga pendidikan akan sia-sia karena pada saat di luar sekolah
justru diajari oleh media massa dengan bahasa Indonesia yang tidak sesuai dengan
kaidah bahasa Indonesia. Mengingat pentingnya peran penggunaan bahasa dalam
media massa, maka perlu dilakukan analisis terhadap penggunaan bahasa di media
massa. Sudah saatnya permasalahan ini kita atasi agar media massa bisa
memberikan contoh kepada masyarakat Indonesia bagaimana menggunakan
bahasa yang baik dan sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

1.2 Perumusan Masalah


1. Apa yang dimaksud dengan kalimat efektif ?
2. Bagaimana ciri-ciri kalimat jurnalistik yang efektif ?
3. Bagaimana penerapan kalimat efektif dalam penyiaran berita di
media massa ?
4. Apa saja masalah dalam kalimat jurnalistik yang efektif ?
5. Seperti apa contoh kesalahan tata dan keefektifan kalimat ?

1.3 Tujuan Penelitian


1.3.1
1.3.2

Tujuan umum makalah ini yaitu bagaimana kita dapat mengetahui


penggunaan kalimat efektif dalam penyiaran berita di media massa.
Tujuan khusus dari makalah ini yaitu :
1. Mengetahui pengertian kalimat efektif secara umum.
2. Mengetahui ciri-ciri kalimat jurnalistik yang efektif.
3. Mengetahui penerapan kalimat efektif dalam penyiaran berita.
4. Mengetahui masalah-masalah dalam kalimat jurnalistik yang
efektif.

5. Mengetahui contoh kesalahan tata dan keefektifan kalimat.

1.4 Manfaat Penelitian


1.4.1 Manfaat teoritis dari makalah ini adalah kita dapat menambah wawasan
tentang penggunaan kalimat efektif dalam penyiaran berita.
1.4.3Manfaat praktis dari makalah ini, yaitu :
1. Meningkatkan kemampuan untuk menyampaikan berita dengan
menggunakan kalimat efektif.
2. Meningkatkan kemampuan berkomunikasi secara lisan dengan
menggunakan kalimat efektif.
3. Meningkatkan kemampuan menganalisis kesalahan penggunaan
kalimat efektif dalam penyiaran berita.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA
Bahasa Indonesia memiliki banyak jenis. Ragam bahasa Indonesia dapat
dibedakan berdasarkan suku penggunanya,

bidang kajian, dan lingkungan

penggunaanya. Berdasarkan lingkungan penggunaanya dikenal jenis bahasa


Indonesia di media massa, di lembaga pemerintahan, lingkungan pendidikan, dan
ragam bahasa Indonesia di lingkungan keluarga. Masing-masing ragam bahasa
tersebut memiliki karakteristik tersendiri dan memiliki kelebihan dan kekurangan.
Seiring dengan terus berkembangnya menuju arus global, kehadiran media
massa, baik cetak maupun elektronik, telah menjadi sebuah sejarah. Ia telah
dianggap sebagai ikon peradaban masyarakat modern dalam memburu informasi.
Cukup dengan membaca atau menyaksikan tayangan berita, masyarakat bisa
dengan mudah mengikuti berbagai informasi yang terjadi di berbagai belahan
dunia.
Fungsi media massa adalah menyajikan informasi yang benar-benar terjadi,
dan meneruskan nilai-nilai sosial-budaya kepada generasi penerus, serta
memberikan hiburan kepada masyarakat. Dalam hal ini, fungsi media massa
adalah mengumpulkan informasi tentang kenyataan sebagai bahan berita,
mengolah, dan menyunting bahan berita tersebut. Selanjutnya media massa
menyajikannya sebagai berita, serta menulis tajuk rencana sebagai bentuk

pernyataan sikap terhadap masalah yang diberitakan untuk menuntun pikiran dan
pemahaman khalayak. Pada dasarnya bahasa media massa dapat dikelompokkan
menjadi media cetak, media dengar, dan media pandang-dengar. Dalam ragam
bahasa tulis ataupun dengar, orang yang berbahasa tidak berhadapan langsung
dengan pihak lain yang diajak berbahasa. Implikasinya, bahasa yang digunakan
harus lebih terang dan jelas karena penyampaian informasi tidak dapat disertai
gerak isyarat, pandangan, anggukan, dan semacamnya sebagai pemahaman
terhadap informasi tertentu. Sementara media pandang- dengar, misalnya televisi,
pada umumnya menggunakan bahasa yang minim kata-kata, karena kemiskinan
3

bahasa itu diperkaya dengan mimik, gesture, ataupun perilaku yang mendukung
gagasan yang disampaikan.
Sebagaimana ragam bahasa tulis dan dengar tersebut, ragam bahasa media
massa memiliki persyaratan. Pertama, bahasa media massa harus terpelihara.
Penggunaan bahasa yang terpelihara dengan baik, menjadi sebuah keniscayaan
bagi sebuah media sesuai dengan fungsinya sebagai media publik. Ia akan
dibaca, didengar, dan dinikmati oleh berbagai kalangan yang beragam, baik dari
sisi tingkat usia dan pendidikan, status sosial-ekonomi, budaya, suku, maupun
agama. Fungsi gramatikal, seperti subjek, predikat, objek, keterangan, atau
hubungan di antara fungsi-fungsi itu harus jelas dan nyata. Penggunaan bahasa
media yang terpelihara, jujur, dan santun akan ikut menentukan kredibilitas media
yang bersangkutan dalam meraih simpati publik. Artinya, aturan-aturan yang
berlaku dalam penulisan harus dipatuhi. Kaidah-kaidah kebahasaan, seperti
penggunaan ejaan, istilah, tanda baca, dan semacamnya sepenuhnya harus
diperhatikan dan ditaati. Bahasa media yang terpelihara dengan baik akan
diteladani publik dalam berbahasa secara baik dan benar. Kedua, bahasa media
juga harus lebih mudah dipahami. Karena harus membawa pesan dan nilai-nilai
moral kepada publik, bahasa media massa harus mudah dipahami. Apa yang
disampaikan dalam sebuah media jangan sampai menimbulkan penafsiran ganda
yang dapat membangun opini publik secara keliru. Aspek-aspek konstruksi
bahasa, seperti kata bentuk, tata kalimat, keefektifan kalimat hendaknya dipilih

secara cermat, dan tunggal makna. Penggunaan konstruksi bahasa yang singkat
dan padu jelas akan lebih tepat dan bermakna jika dibandingkan dengan
penggunaan konstruksi bahasa yang berpanjang-panjang, berbelit-belit, dan
bertele-tele.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Kalimat Efektif Secara Umum
Kalimat efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk
menimbulkan kembali gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca seperti
gagasan yang ada pada pikiran pembicara atau penulis. Kalimat dikatakan
efektif

apabila

berhasil

menyampaikan,

pesan,

gagasan,

maupun

pemberitahuan sesuai dengan yang dimaksud pembicara atau penulis. Kalimat


efektif terdiri atas kata-kata yang mempunyai unsur SPOK atau kalimat yang

mempunyai gagasan pembicara atau penulis.


A. Unsur-unsur Kalimat Efektif
1. Subjek (S)
Subjek (S) adalah bagian kalimat yang menunjukkan pelaku atau sesuatu
hal yang menjadi pokok pembicaraan. Subjek biasanya diisi oleh jenis
frasa benda, klausa, atau frasa verbal.
2. Predikat (P)
Predikat (P) adalah bagian kalimat yang memberitahu atau melakukan
tindakan. Selain itu, predikat dapat pula menyatakan sifat atau ciri subjek.
Predikat dapat juga berupa kata atau frasa, sebagian besar berkelas verba
atau adjektiva, tetapi dapat juga numeralia, nomina, atau frasa nominal.
3. Objek (O)
Objek (O) adalah bagian kalimat yang melengkapi predikat. Objek pada
umumnya berupa nomina, frasa nominal, atau klausa. Letak objek selalu di
belakang Predikat yang berupa verba transitif.

4. Pelengkap (Pel)
Pelengkap atau komplemen adalah bagian kalimat yang melengkapi
predikat. Letak pelengkap umumnya di belakang predikat yang berupa
verba. Posisi seperti itu juga ditempati oleh objek, dan jenis kata yang
mengisi pelengkap, yaitu dapat berupa nomina, frasa nominal, atau klausa.
Namun, antara pelengkap dan objek terdapat perbedaan.
5

5. Keterangan (Ket)
Keterangan (Ket) adalah bagian kalimat yang menerangkan berbagai hal
mengenai bagian kalimat yang lainnya. Unsur keterangan dapat berfungsi
menerangkan S, P, O, dan Pel. Posisinya bersifat bebas, dapat di awal, di
tengah, atau di akhir kalimat. Pengisi Ket adalah frasa nominal, frasa
preporsisional, adverbia, atau klausa.

3.2 Ciri-ciri Kalimat Jurnalistik yang Efektif


Kalimat jurnalistik yang efektif adalah adalah kalimat yang memiliki
kemampuan untuk menimbulkan kembali gagasan atau pikiran pada diri pembaca,
seperti apa yang ada didalam pikiran dan benak penulisnya. Kalimat jurnalistik
harus memiliki kandungan kata-kata tertentu yang bernilai rasa, berciri ikonis, dan
kadangkala bersifat anamotopis, sehingga maksud penyampaian ide atau pokok
pikiran dapat tersampaikan dengan baik.
Kalimat jurnalistik yang efektif, sangat bertautan erat dengan persoalan
pemilihan kata. Pemilihan kata yang tidak selalu benar secara linguistik, tetapi
juga tepat secara sosioloinguistik dan secara sosiopragmatik. Adapun ciri-ciri
pokok dari kalimat jurnalistik yang efektif adalah sebagai berikut :
a. Kesepadanan struktur
Kesepadanan struktur yang dimaksud dalam kalimat jurnalistik yang efektif
ialah keseimbangan antara gagasan dan struktur bahasayang digunakan pada
saat orang menulis sebuah kalimat. Kesepadanan struktur harus memiliki
ciri, diantaranya adalah kejelasan antara subjek dan predikatnya, kata
penghubung intrakalimat tidak digunakan di dalam kalimat tunggal, dan
predikat kalimat jurnalistik tidak didahului oleh kata yang.
b. Keparalelan bentuk

Kepararelan bentuk yang dimaksud dalam kalimat jurnalistikyang efektif


ialah kesamaan jenis atau bentuk kata dan frasa yang digunakan di dalam
kalimat jurnalistik. Pola idealnya ialah :
1. Nomina-nomina-nomina,
2. Adjektiva-adjektiva-adjektiva,
6

3. Verba-verba-verba.
Pola beruntun dalam kalimat efektif tidak boleh bercampur, misalnya
bersusunan nomina-verba-adjektiva atau verba-verba-nomina.
c. Ketegasan makna
Ketegasan makna dalam kalimat jurnalistik ialah perlakuan penonjolan pada
gagasan pokok kalimatjurnalistik tersebut. Penonjolan gagasan dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1. Meletakkan bagian yang ditonjolkan ke bagian depan.
2. Membuat urutan kata-kata bertahap.
3. Membuat pengulangan proporsional.
4. Membuat pertentangan ide atau pikiran yang hendak ditonjolkan.
5. Menggunakan partikel penegas.
d. Kehematan kata
Kehematan kata dalam kalimat jurnalistik yang efektif, menunjuk pada
sosok kehati-hatian dan pencermatan dalam penggunaan kata. Ciri dari
kehematan kata dalam kalimat jurnalistik ialah sebagai berikut :
1. Menghilangkan pengulangan subjek.
2. Menghilangkan pemakaian superordinat.
3. Menghindarkan kesinoniman.
4. Menggunakan bentuk yang jamak.
e. Kecermatan bahasa
Kecermatan bahasa dalam kalimat jurnalistik ialah kehati-hatian dalam
menyusun kalimat jurnalistik, sehingga tidak akan menimbulkan makna
ganda, tidak bersifat ambigu, serta tepat dan akurat dalam pemilihan kata.
f. Keterpaduan gagasan

Kepaduan gagasan ialah kepaduan pernyataan di dalam kalimat jurnalistik,


sehingga apa yang disampaikan di dalam kalimat tidak terpotong. Adapun
beberapa cirinya adalah :
1. Kalimat tidak bertele-tele
2. Tidak perlu ada kata seperti daripada atau tentang antara kata kerja
dengan objek penderitanya.
7

g. Kelogisan bahasa
Kelogisan bahasa ialah bahwa ide dari kalimat jurnalistik itu harus dapat
dibaca dan diterima oleh rasio atau akal. Cara penulisannya juga harus
sesuai dengan aturan ejaan dan tata kebahasaan yang berlaku.

3.3 Penerapan Kalimat Efektif Dalam Penyiaran Berita


Di media massa banyak terjadi kesalahan dalam penggunaan kalimat
efektif sehingga para pendengar kurang memahami maksud dari penyiar
berita tersebut. Fungsi media massa adalah menyajikan informasi tentang
kenyataan, memilih, dan menafsirkan, menyajikan, dan meneruskan nilainilai sosial-budaya kepada generasi penerus, serta memberikan hiburan
kepada masyarakat. Dalam konteks demikian, fungsi media massa adalah
mengumpulkan informasi tentang kenyataan sebagai bahan berita, mengolah,
dan

menyunting

bahan

berita

tersebut.

Selanjutnya

media

massa

menyajikannya sebagai berita, serta menulis tajuk rencana sebagai bentuk


pernyataan sikap terhadap masalah yang diberitakan untuk menuntun pikiran
dan pemahaman khalayak, serta melakukan kontrol sosial.
Pada dasarnya bahasa media massa dapat dikelompokkan menjadi media
cetak atau tulis, media dengar, dan media pandang-dengar. Dalam ragam
bahasa tulis ataupun dengar, orang yang berbahasa tidak berhadapan langsung
dengan pihak lain yang diajak berbahasa. Implikasinya, bahasa yang
digunakan harus lebih terang dan jelas karena penyampaian informasi tidak
dapat disertai gerak isyarat, pandangan, anggukan, dan semacamnya sebagai
tanda penegasan atau pemahaman terhadap informasi tertentu. Oleh karena

itu, kalimat dalam ragam bahasa tulis ataupun lisan harus lebih cermat
sifatnya. Sementara media pandang- dengar, misalnya televisi, pada
umumnya menggunakan bahasa yang minim atau miskin kata-kata, karena
kemiskinan bahasa itu diperkaya dengan mimik, gesture, ataupun perilaku
yang mendukung gagasan yang disampaikan.
8

Sebagaimana ragam bahasa tulis dan dengar tersebut, ragam bahasa media
massa memiliki persyarakat.
1. Bahasa media massa harus terpelihara. Penggunaan bahasa yang terpelihara
dengan baik, menjadi sebuah keniscayaan bagi sebuah media sesuai dengan
fungsinya sebagai media publik. Ia akan dibaca, didengar, dan dinikmati oleh
berbagai kalangan yang beragam, baik dari sisi tingkat usia dan pendidikan,
status sosial-ekonomi, budaya, suku, maupun agama. Fungsi gramatikal,
seperti subjek, predikat, objek, keterangan, atau hubungan di antara fungsifungsi itu harus jelas dan nyata. Penggunaan bahasa media yang terpelihara,
jujur, jernih, dan santun akan ikut menentukan kredibilitas media yang
bersangkutan dalam meraih simpati publik. Artinya, aturan-aturan yang
berlaku dalam penulisan harus dipatuhi. Kaidah-kaidah kebahasaan, seperti
penggunaan ejaan, istilah, tanda baca, dan semacamnya sepenuhnya harus
diperhatikan dan ditaati. Bahasa media yang terpelihara dengan baik akan
diteladani publik dalam berbahasa secara baik dan benar
2. Bahasa media juga harus lebih mudah dipahami. Karena tugasnya membawa
pesan dan nilai-nilai moral kepada publik, bahasa media massa harus mudah
dipahami. Apa yang disampaikan dalam sebuah media jangan sampai
menimbulkan penafsiran ganda yang dapat menggiring dan membangun opini
publik secara keliru. Aspek-aspek konstruksi bahasa, seperti kata bentuk, tata
kalimat, tata makna hendaknya dipilih secara cermat, netral makna, dan
tunggal makna Penggunaan konstruksi bahasa yang singkat dan padu jelas
akan lebih tepat dan bermakna jika dibandingkan dengan penggunaan
konstruksi bahasa yang berpanjang-panjang, berbelit-belit, dan bertele-tele.

3.4 Masalah Dalam Kalimat Jurnalistik Yang Efektif


Jenis-jenis kesalahan dalam kalimat jurnalistik yang efektif adalah sebagai
berikut :

a. Subjek Dan Predikat Tidak Eksplisit


Contoh :
Dari peristiwa-peristiwa yang terjadi saat ini itu perlu mendapatkan
perhatian yang serius dari berbagai pihak, sehingga pada masa yang akan
datang tidak akan ada seorang pun yang akan menuntut ganti rugi.
Di dalam keputusan itu sesungguhnya merupakan kebijaksanaan yang
dapat menguntungkan banyak pihak, sehingga perlu kita dukung bersama.
Dengan hanya menekuni dan mencermati seluk-beluk teorinya saja, belum
tentu akan dapat melahirkan seorang penulis yang benar-benar handal.
b. Subjek dan predikat kalimat terpisah terlalu jauh
Contoh :
Mereka, selagi kami sedang berdua dengan pacar sambil berdiri di atas
jembatan layang, asyik bercakap-cakap dan memandangi perahu-perahu
yang berlayar dengan cepat dibawah sana, kami melemparkan sesuatu ke
dalam sungai, lalu tertawa secara lepas bersama-sama.
Kami, karena keluarga dan kawan-kawan kami semuanya menasihati
untuk tidak menginap di hotel yang sangat besar itu, kami berkeputusan
untuk segera menginap saja di sebuah rumah penduduk sederhana yang
tidak jauh dari tempat itu.
c. Keterangan yang tidak tepat penempatannya
Squinting modifier keterangan yang bersifat menyerong.
Dangling modifier keterangan yang menggantung.
Misplaced modifier keterangan yang letaknya salah.
Unidiomatic modifier keterangan yang sifatnya idiomatis.

Abrupt modifier keterangan yang sifatnya mendadak hadir.


Illogically separated modifier keterangan yang terpisah secara tidak
logis.
Fragment kalimat yang tidak lengkap, kalimat yang menggantung.
d. Kalimat yang bertumpukan (running-on sentences)
Contoh :
10

Kita semua ini harus bersedia dalam mengemban amanat penderitaan


rakyat,harus selalu berusaha keras untuk mengupayakan kesejahteraan bagi
seluruh bangsa, demikian juga keamanan untuk masyarakat di lingkungan
sekitarnya, baik itu yang bersifat jasmani maupun rohani.
e. Tanda koma yang dipakai tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang
baik dan benar.
Contoh :
Seorang mahasiswa seumpama, saja dia seorang pendaki gunung sedang
mendaki gunung yang sangat tinggi, yaitu gunung cita-cita yang juga sangat
tinggi.
f. Kalimat rancu
Contoh :
Di sekolah internasional para siswa diajarkan berbagai macam
keterampilan dan kemahiran dalam bahasa asing maupun dalam hal
teknologi informasi.
Dalam bahasa Indonesia sama sekali tidak mengenal bentuk yang sifatnya
jamak atau plural seperti halnya di dalam bahasa inggris.
g. Kalimat yang mengandung bagian-bagian yang pleonastis
Contoh :
Pada zaman dahulu kala, di dalam sebuah kerajaan yang cukup besar di
daerah Bantul Barat, memerintah seorang ratu cantik yang sangat arif lagi
amat bijaksana.
h. Kalimat yang mengandung gejala yang hiperkorek
Contoh :

Semua izazahnya harus dilaminasikan terlebih dahulu di unit 3 lantai 2


supaya lebih awet.
3.5 Kesalahan Tata dan Keefektifan Kalimat
Analisis kesalahan dalam bidang tata kalimat menyangkut urutan kata,
kepaduan, susunan frase, kepaduan kalimat, dan logika kalimat.
11

Contoh

kesalahan penggunaan bahasa dalam siaran berita televisi swasta di

antaranya sebagai berikut :


1. Aksi ini merupakan yang kedua kali dengan tujuan menuntut agar pemilik
bar menutup atau mengganti nama tersebut dengan nama lain.
Seharusnya... menuntut pemilik bar ... Kata menuntut merupakan kata
kerja transitif. Kata kerja transitif menuntut objek langsung (tanpa antara).
Oleh karena itu, setelah kata menuntut harusnya langsung objek (yaitu
pemilik), bukan kata kata hubung (agar). Selain itu, penggunaan agar yang
mengikuti kata tujuan merupakan redundance atau bentuk berlebihan.
Kalimat yang benar adalah Aksi ini merupakan kali kedua yang menuntut
pemilik agar menutup atau mengganti nama bar tersebut dengan nama lain.
2. Kericuhan ini merupakan puncak kekesalan pelaku pelemparan Jack
Saragih yang menolak dirinya diganti karena ia beralasan masih menjabat
sebagai anggota dewan hingga tahun 2009 mendatang.
Kalimat ini mengandung klausa ambiguitas

(dapat ditafsirkan ganda).

Klausa yang dimaksud adalah puncak kekesaalan pelaku pelemparan Jack


Saragih yang dapat diartikan (1) Jack Saragih adalah lokus pelemparan,
(2) Jack Saragih adalah pelaku pelemparan.
Jika yang dimaksudkan adalah arti (2), maka bentuk yang digunakan
seharusnya adalah Kericuhan ini merupakan puncak kekesalan Jack
Saragih, pelaku pelemparan, yang menolak dirinya diganti karena ia
beralasan masih menjabat sebagai anggota dewan hingga tahun 2009
mendatang.
3. Sejumlah petugas keamanan yang dibantu beberapa anggota dewan
langsung membawa pelaku pelemparan ke luar ruang sidang paripurna.

Seharusnya disisipkan kata olehsebelum kata beberapa anggota


sebagai pelaku. Dengan demikian sebaiknya kalimat yang digunakan adalah :
Sejumlah petugas keamanan yang dibantu (oleh) beberapa anggota dewan
langsung membawa pelaku pelemparan ke luar ruang sidang paripurna.
Dari contoh-contoh yang telah di kemukakan di atas masih banyak kesalahan
yang terdapat di media massa. Oleh karena itu, maka perlu dilakukan analisis
12

terhadap penggunaan bahasa di media massa. Dengan analisis yang cermat,


masyarakat penutur mengetahui bentuk yang benar dan yang salah, latar belakang
timbulnya kesalahan, dan alternatif pemecahannya. Selanjutnya, analisis
kesalahan juga berguna sebagai salah satu kegiatan dalam rangka pembinaan
penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

13

BAB IV
PENUTUP
4.1

Kesimpulan
Bahasa media masa atau bahasa jurnalistik memegang peranan penting dalam

perkembangan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Untuk itu, seharunya
pihak media massa memiliki tenaga penyelaras yang bertugas memelihara
penggunaan bahasa Indonesia untuk dapat menyampaikan informasi dengan
bahasa yang efektif dan santun. Namun pada kenyataannya saat ini tidak semua
pihak media massa memiliki tenaga penyelaras bahasa sehingga masih banyak
ditemukan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia yang baik dan benar dalam media massa.

4.2

Saran
1. Penyiar hendaknya menjadi contoh pengguna bahasa Indonesia yang

efektif, baik, santun, benar, dan cendekia, serta memiliki kompetensi


sesuai dengan bidang siarannya.
2. Pihak media massa hendaknya mengangkat tenaga ahli bahasa Indonesia
yang bertugas menjadi penyelaras bahasa Indonesia sebelum beritanya
dikonsumsi publik.

14

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal dan Farid Hadi, 1001 Kesalahan Berbahasa, Bahan Penyuluhan
Bahasa Indonesia, Penerbit Akademika Pressindo, Jakarta, 2003.
Dewabrata, A.M., Kalimat Jurnalistik, Penerbit Buku Kompas, Jakarta, 2004
Keraf, Gorys, Diksi dan Gaya Bahasa, Nusa Indah, Ende-Flores, 2000
Rahardi, R. Kunanja, Bahasa Jurnalistik : Pedoman Kebahasaan untuk
Mahasiswa, Jurnalis, dan Umum, Penerbit Ghalia Indonesia, Bogor, 2011