Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH

ASUHAN KEBIDANAN PATOLOGIS VARICELLA

Disusun Oleh :
Kelompok 4
Dina Fransiska

(B1301038)

Eka Riyanti

(B1301045)

Eka Velly Handayani

(B1301046)

Esti Nurulhatam

(B1301051)

Ety Purnaningsih

(B1301052)

Fatimah Nur Rahma

(B1301053)

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH


PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN
GOMBONG
2015

TINJAUAN TEORI
A. Definisi
Varicella atau chickenpox atau sering disebut cacar air adalah suatu infeksi
virus menular, yang menyebabkan ruam kulit berupa sekumpulan bintikbintik kecil yang datar maupun menonjol, lepuhan berisi cairan serta
keropeng, yang menimbulkan rasa gatal. Merupakan infeksi akut menular,
disebabkan oleh virus varisela-zoster (Marmi, 2011).
Varicella merupakan penyakit anak-anak dan sangat jarang dijumpai dalam
kehamilan dan nifas. Walaupun umumnya cacar air itu suatu penyakit ringan,
namun pada wanita hamil kadang-kadang bisa menjadi berat dan dapat
menyebabkan partus prematurus (Marmi, 2011).
B. Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah oleh infeksi dari virus Varicella-Zoster
(VZV). Penamaan virus ini memberi pengertian bahwa infeksi primer virus
ini menyebabkan timbulnya penyakit varisela, sedangkan reaktivasi (keadaan
kambuh setelah sembuh dari varisela) menyebabkan herves zoster.
Secara morfologis identik dengan virus Herpes Simplex. Virus ini dapat
berbiak dalam bahan jaringan embrional manusia. Virus yang infektif mudah
dipindahkan oleh sel-sel yang sakit. Virus ini tidak berbiak dalam binatang
laboratorium. Pada cairan dalam penderita, virus ini juga dapat ditemukan.
Antibodi yang dibentuk tubuh terhadap virus ini dapat diukur dengan tes
ikatan komplemen, presipitasi gel, netralisasi atau imunofluoresensi tidak
langsung terhadap antigen selaput yang disebabkan oleh virus.

C. Patofisiologi
Infeksi virus masuk bersama airborne droplet masuk ke traktus
respiratorius, tidak tertutup kemungkinan penularan juga lewat lesi kulit tapi
penyebaran paling efektif melalui sistem respirasi. Selanjutnya virus akan
berkembang di dalam sistem retikuloendotelial, kemudian akan terjadi virema

disertai gejala konstitusi yang diikuti dengan munculnya lesi di permukaan


virus.
Jalur transmisi varicella melalui inhalasi atau droplet infection, yang
dianggap mulai infeksius sejak 2 hari sebelum lesi kulit muncul.
Kemungkinan lain penularan terjadi melalui lesi di kulit. Lesi di kulit
dianggap tidak infeksius setelah semua menjadi krusta, dengan kemungkinan
penularan terjadi sampai 10-21 hari (rata-rata 15 hari, sejak awal muncul lesi
kulit).
Tanda awal varicella mungkin mirip gejala flu, dengan malaise dan
demam, diikuti munculnya lesi kulit yang khas. Pada suatu periode waktu
didapatkan lesi berupa makula, papula, vesikel/pustula, dan krusta, dengan
lokasi tersebar/tidak berkelompok.
D. Sistem Penyebaran
1. Biasanya mulai dar badan (dada), menyebar ke wajah dan ekstremitas.
2. Bentuk makula, papula vesikula dan krusta dapat terjadi pada waktu yang
sama.
3. Bila terjadi infeksi skunder, cairan vesikula yang jernih akan berubah
menjadi nanah lymfodenopati.

E. Tanda Gejala
Pada penderita akan merasa sedikit demam, pilek, cepat merasa lelah, lesu,
dan lemah. Gejala-gejala ini khas untuk infeksi virus. Pada kasus yang lebih
berat, bisa di dapatkan nyeri sendi, sakit kepala dan pusing. Berapa hari
kemudian timbullah kemerahan pada kulit yang berukuran kecil yang pertama
kali ditemukan di sekitar dada dan perut. Gejalanya mulai timbul dalam
waktu 10-21 hari setelah terinfeksi.
Kemerahan pada kulit ini lalu berubah menjadi lenting berisi cairan
dengan dinding tipis. Ruam kulit ini mungkin terasa agak nyeri atau gatal
sehingga dapat tergaruk secara tidak sengaja. Jika lenting ini tidak dibiarkan
maka akan segera membentuk keropeng (krusta) yang nantinya akan terlepas

dan meninggalkan bercak di kulit yang lebih gelap (hiperpigmentasi). Bercak


ini lama-kelamaan akan pudar sehingga beberapa waktu kemudian tidak akan
meninggalkan bekas lagi. Proses ini memakan waktu selama 6-8jam.
Selanjutnya akan terbentuk bintik-bintik dan lepuhan yang baru.
Pada bayi, misalnya bayi yang usianya belum genap satu tahun akan lebih
menderita pada saat terserang virus ini karena demamnya bisa sangat tinggi.
Kulitnya pun akan bisa terinfeksi bakteri. Mereka belum bisa mengeluarkan
apa yang dirisaukannya kecuali menangis.
F. Efek Samping
1. Pada Kehamilan
5 10% wanita dewasa rentan terhadap infeksi virus varicella zoster.
Infeksi varicella akut terjadi pada 1 : 7500 kehamilan.
Komplikasi maternal yang mungkin terjadi :
a. Persalinan preterm
b. Ensepalitis
c. Pneumonia
Resiko terjadinya sindroma fetal adalah 2% bila ibu menderita
penyakit pada kehamilan antara 13 30 minggu ; dan 0.3% bila infeksi
terjadi pada kehamilan kurang dari 13 minggu. Bila infeksi pada ibu
terlihat dalam jangka waktu 3 minggu pasca persalinan maka resiko
infeksi janin pasca persalinan adalah 24% . Bila infeksi pada ibu terjadi
dalam jangka waktu 5 21 hari sebelum persalinan dan janin mengalami
infeksi maka hal ini umumnya ringan dan self limiting.
Bila infeksi terjadi dalam jangka waktu 4 hari sebelum persalinan atau
2 hari pasca persalinan, maka neonatus akan berada pada resiko tinggi
menderita infeksi hebat dengan mortalitas 30%. Pada ibu hamil yang
terpapar dan tidak jelas apakah sudah pernah terinfeksi dengan virus
varicella zoster harus segera dilakukan pemeriksaan IgG.
Bila hasil pemeriksaan tidak dapat segera diperoleh atau IgG negatif,
maka diberikan VZIG dalam jangka waktu 6 minggu pasca paparan.
Imunisasi varciella tidak boleh dilakukan pada kehamilan oleh karena
vaksin terdiri dari virus yang dilemahkan.

2. Pada Persalinan
Bila infeksi terjadi dalam jangka waktu 4 hari sebelum persalinan atau
2 hari pasca persalinan, maka neonatus akan berada pada resiko tinggi
menderita infeksi hebat dengan mortalitas 30%. Imunoglobulin varicella
zoster (VZIG) harus diberikan pada neonatus dalam jangka waktu 72 jam
pasca persalinan dan di isolasi. Plasenta dan selaput ketuban adalah bahan
yang sangat infeksius. Bila serangan Herpes Zoster sangat dekat dengan
saat persalinan maka varicella dapat ditularkan secara langsung pada janin
sehingga hal ini harus dicegah.
G. Komplikasi
Pada ibu hamil yang terpapar dan tidak jelas apakah sudah pernah
terinfeksi dengan virus varicella zoster harus segera dilakukan pemeriksaan
IgG. Bila hasil pemeriksaan tidak dapat segera diperoleh atau IgG negatif,
maka diberikan VZIG dalam jangka waktu 6 minggu pasca paparan.
Imunisasi varciella tidak boleh dilakukan pada kehamilan oleh karena
vaksin terdiri dari virus yang dilemahkan. Varisela pada ibu hamil trimester
pertama dapat menimbulkan kelainan kongenital sedangkan infeksi ibu hamil
menjelang melahirkan dapat terjadi varisela congenital.
Pada masa kehamilan angka kejadian Herpes Zoster tidak lebih sering
terjadi dan bila terjadi maka tidak menimbulkan resiko terhadap janin. Bila
serangan Herpes Zoster sangat dekat dengan saat persalinan maka varicella
dapat ditularkan secara langsung pada janin sehingga hal ini harus dicegah.
Untuk mengurangi risiko kerusakan akibat garukan, sebaiknya :
1. Kulit dicuci sesering mungkin dengan air dan sabun menjaga kebersihan
tangan.
2. Kuku dipotong pendek agar saat digaruk tidak terjadi infeksi.
3. Pakaian tetap kering dan bersih.
4. Diberi obat antibiotikan atau jika kasusnya berat diberi obat anti-virus
asiklovir.
5. Isolasi untuk mencegah penularan.
6. Diet bergizi tinggi (tinggi kalori dan protein).
7. Bila demam tinggi, kompres dengan air hangat.

8. Upayakan agar tidak terjadi infeksi pada kulit, misalnya pemberian


antiseptik pada air mandi.
9. Upayakan agar vesikel tidak pecah.
H. Penatalaksanaan
1. Pengobatan umum pada varicella, sebagai berikut :
a. Topical : Bedak dan antibiotika.
b. Sistemik : Sedativa, antipiretik, antibiotika untuk infeksi sekunder,
acyclovir.
2. Pengobatan berdasarkan penyakit varicella dibagi menjadi 2, yaitu pada
penderita normal dan penderita dengan imunokompromise atau penurunan
system imun :
a. Normal :
1) Neonatus Acylovir 500mg/m2 setiap 8 jam selama 10 hari.
2) Anak-anak terapi sintomatis atau Acyclovir 20mg/kgBB selama
7 hari.
3) Dewasa atau dengan kortikostreoid Acylovir 5x 800mg selama 7
hari.
4) Wanita hamil, Pnemonia Acylovir 5x 800mg selama 7 hari atau
Acylovir IV 10mg/BB setiap 8jam selama 7 hari.pemeriksaan sinar
x torak untuk menyingkirkan kemungkinan pneumonia mengingat
bahwa komplikasi pneumonia terjadi pada 16% kasus dan
mortalitas sampai diatas 40%.
5) Bila terjadi pneumonia maka perawatan harus dilakukan di rumah
sakit dan diterapi dengan antiviral oleh karena perubahan
dekompensasi akan sangat cepat terjadi. Sindroma varicella
kongenital dapat terjadi. Diagnosa sindroma didasarkan atas
temuan IgM dalam darah talipusat dan gambaran klinik pada
neonatus antara lain :
a) Hipoplasia tungkai
b) Parut kulit
c) Korioretinitis
d) Katarak
e) Atrofi kortikal
f) Mikrosepali
g) PJT simetrik

Resiko terjadinya sindroma fetal adalah 2% bila ibu menderita penyakit


pada kehamilan antara 13 30 minggu ; dan 0.3% bila infeksi terjadi pada
kehamilan kurang dari 13 minggu. Bila infeksi pada ibu terlihat dalam jangka
waktu 3 minggu pasca persalinan maka resiko infeksi janin pasca persalinan
adalah 24%.
Bila infeksi pada ibu terjadi dalam jangka waktu 5 21 hari sebelum
persalinan dan janin mengalami infeksi maka hal ini umumnya ringan dan
self limiting. Bila infeksi terjadi dalam jangka waktu 4 hari sebelum
persalinan atau 2 hari pasca persalinan, maka neonatus akan berada pada
resiko tinggi menderita infeksi hebat dengan

mortalitas 30%.

b. Imunokompromise
1) Penyakit ringan > Acyclovir 5800mg selama 7-10 hari.
2) Penyakit sedang > Acyclovir IV 10mg/kgbb selama 7 hari atau
lebih lama.
3) Acyclovir resisten (AIDS) > Foscarnet IV 40mg/kgbb sampai
penyakit teratasi.
Selain pengobatan diatas untuk menurunkan demam, sebaiknya
digunakan Asetamofen, jangan Aspirin. Obat anti-virus boleh diberikn kepada
anak yang berusia lebih dari 2 tahun. Asiklovir biasanya diberikan kepada
remaja, karena pada remaja penyakit ini lebih berat. Asikloir bisa mengurangi
beratnya penyakit jika diberikan dalam waktunya 24 jam setelah munculnya
ruam yang pertamanya. Obat anti-virus lainnya adalah Vidarabin.
Setelah masa penyembuhan varicella, dapat dilanjutkan dengan
perawatan bekas luka yang ditimbulkan dengan banyak mengkonsumsi air
mineral untuk menetralisir ginjal setelah mengkonsumsi obat. Konsumsi
vitamin C placebo ataupun yang langsung dari buah-buahan segar seperti
juice jambu biji, juice tomat atau anggur. Vitamin E untuk kelembaban kulit
bisa didapat dari placebo, minuman dari lidah buaya, ataupun runput laut.

DAFTAR PUSTAKA

Marmi, dkk. 2014. Asuhan Kebidanan Patologi. Yogyakarta: Pustaka Belajar


Prawirohardjo, Sarwono. 2007. Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta: YBP-SP
Prawirohardjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP
Siwi Walyani, Elisabeth. 2014. Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal
& Neonatal. Yogyakarta: Pustaka Baru Press. (hlm: 84-85)