Anda di halaman 1dari 11

Persiapan dan Teknik Pemeriksaan USG Obstetri dan Ginekologi Dasar

Tujuan Pembelajaran
Umum
Setelah mempelajari tulisan ini, pembaca diharapkan mampu mengetahui persiapan yang
harus dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan USG serta teknik pemeriksaan USG Dasar
obstetric dan ginekologi.
Khusus
1. Mampu menyebutkan langkah-langkah persiapan pemeriksaan USG obstetri ginekologi,
termasuk persiapan alat, persiapan pasien, dan persiapan pemeriksa, serta pengelolaan
limbah dan prosedur pencegahan infeksi universal.
2. Mengetahui cara kerja gelombang suara, artefak, dan proses perubahannya sehingga
3.
4.
5.
6.

menjadi sebuah gambar yang dapat dianalisa.


Mengetahui keamanan pemeriksaan USG, terutama bagi janin.
Mampu menyebutkan indikasi pemeriksaan USG obstetri dan ginekologi.
Mampu menyebutkan manfaat lain dari pemeriksaan USG.
Mampu melakukan pemeriksaan dasar USG Dasar obstetri dan ginekologi dengan baik

dan benar.
7. Mampu menjelaskan dengan baik tatacara pemeriksaan USG Obstetri Ginekologi Dasar
sehingga klien bersedia memberikan persetujuan tindak medik pemeriksaan USG
Obstetri dan Ginekologi.
Pembahasan pada Persiapan dan Teknik Pemeriksaan USG Obstetri
Ginekologi terdiri dari :

Pendahuluan
Indikasi Pemeriksaan
Tampilan gambar
Persiapan pemeriksaan
Teknik pemeriksaan
Persetujuan tindak medic

Pendahuluan
Pada setiap pemeriksaan USG, diperlukan persiapan yang baik dari pasien, pemeriksa,
maupun peralatan yang akan dipergunakan. Bila salah satu tidak siap, kemungkinan adanya
gangguan dalam proses pemeriksaan USG tersebut dapat saja terjadi. Misalnya, bila pemeriksa

sedang dalam kondisi kelelahan atau sakit, maka pemeriksaan USG harus dihentikan. Bila klien
belum memberikan persetujuan untuk pemeriksaan USG, maka pemeriksaan USG tersebut tidak
dapat dilaksanakan.
Sebelum memulai pemeriksaan, perhatikan setting mesin USG. Jangan memakai setting
obstetri untuk pemeriksaan ginekologi, atau setting jantung untuk pemeriksaan obstetri. Setting
yang salah akan menyebabkan kesalahan dalam diagnosis semakin besar. Selain itu, buku manual
harus diletakkan didekat mesin USG agar bila terjadi masalah dapat dicari penyelesaiannya pada
buku manual tersebut.
Kesamaan teknik dasar pemeriksaan USG obstetri dan ginekologi diperlukan agar dapat
dicapai suatu standarisasi dalam pemeriksaan USG tersebut. Standarisasi ini penting didalam
mencapai dan melakukan evaluasi tingkat kompetensi seorang sonografer atau sonologist.
Indikasi Pemeriksaan
Indikasi pemeriksaan USG merupakan salah satu prasyarat penting yang harus dipenuhi
sebelum pemeriksaan USG dilakukan. Pemeriksaan USG janganlah dilakukan secara rutin atau
setiap melakukan pemeriksaan pasien, terutama bila pasien hamil. Banyak panduan yang telah
diterbitkan, misalnya dari ISUOG (International Society of Ultrasound in Medicine), AIUM
(American Institute of Ultrasound in Medicine), RCOG (Royal College of Obstetrics and
Gynecology), atau ASUM (Australian Society of Ultrasound in Medicine).
Untuk mempermudah memilah indikasi pemeriksaan tersebut penulis menyaran-kan
pembagian indikasi sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

indikasi obstetri,
indikasi ginekologi onkologi,
indikasi endokrinologi reproduksi,
indikasi uroginekologi, dan
indikasi non obstetri ginekologi.

Dalam bidang USG obstetri, indikasi yang dianut di RSPAD Gatot Soebroto adalah :
1. melakukan pemeriksaan USG begitu diketahui hamil atau belum pernah di USG di
Departemen OBGIN RSPAD Gatot Soebroto,
2. penapisan USG pada trimester pertama (kehamilan 10 14 minggu),
3. penapisan USG pada kehamilan trimester kedua (18 22 minggu),
4. penapisan USG pada kehamilan trimester ketiga (28-32minggu) dan
5. pemeriksaan tambahan yang diperlukan, misalnya untuk memantau tumbuh kembang

janin pada kasus pertumbuhan janin terhambat atau pemeriksaan ulang plasenta
praevia pada kehamilan 36 minggu.
Dalam bidang ginekologi onkologi pemeriksaannya diindikasikan bila ditemukan massa
tumor didaerah pelvik dan untuk pemantauan hasil pengobatan. Dalam bidang endokrinologi
reproduksi pemeriksaan USG diperlukan untuk mencari kausa gangguan hormon, pemantauan
folikel, evaluasi terapi infertilitas, dan pemeriksaan pada pasien dengan gangguan haid. Dalam
bidang uroginekologi, pemeriksaan USG dilakukan pada kasus kelainan kongenital genitalia,
gangguan berkemih, atau gangguan akibat kelemahan otot-otot dasar panggul. Bidang kajian ini
masih baru sehingga masih terbuka luas untuk penelitian dasar maupun lanjut. Sedangkan
indikasi non obstetrik bila kelainan yang dicurigai berasal dari disiplin ilmu lain, misalnya dari
bagian pediatri, penyaki dalam, atau rujukan pasien dengan kecurigaan metastasis dari organ
ginekologi dll.
Berikut ini diberikan contoh indikasi yang dikeluarkan oleh NIH (National Institute of
Health, USA)
National Institute of Health (NIH), USA (1983 1984) menentukan indikasi untuk
dilakukannya pemeriksaan USG obstetri ginekologi sebagai berikut :
1. Menentukan usia gestasi secara lebih tepat pada kasus yang akan menjalani seksio
sesarea berencana, induksi persalinan atau pengakhiran kehamilan secara elektif.
2. Evaluasi pertumbuhan janin, pada pasien yang telah diketahui menderita insufisiensi
uteroplasenta, misalnya pre-eklampsia berat, hipertensi kronik, penyakit ginjal kronik,
diabetes mellitus berat; atau menderita gangguan nutrisi sehingga dicurigai terjadi
pertumbuhan janin terhambat, atau makrosomia.
3. Perdarahan per vaginam pada kehamilan yang penyebabnya belum diketahui.
4. Menentukan bagian terendah janin bila pada saat persalinan bagian terendahnya sulit
ditentukan atau letak janin masih berubah-ubah pada trimester ketiga akhir.
5. Kecurigaan adanya kehamilan ganda berdasarkan ditemukannya dua DJJ yang berbeda
frekuensinya atau tinggi fundus uteri tidak sesuai dengan usia gestasi, dan atau ada
riwayat pemakaian obat-obat pemicu ovulasi.
6. Membantu tindakan amniosentesis atau biopsi villi koriales.
7. Perbedaan bermakna antara besar uterus dengan usia gestasi berdasarkan tanggal hari
pertama haid terakhir.
8. Teraba masa pada daerah pelvik.
9. Kecurigaan adanya mola hidatidosa.

10. Evaluasi tindakan pengikatan serviks uteri (cervical cerclage).


11. Suspek kehamilan ektopik.
12. Pengamatan lanjut letak plasenta pada kasus plasenta praevia.
13. Alat bantu dalam tindakan khusus, misalnya fetoskopi, transfusi intra uterin, tindakan
shunting, fertilisasi in vivo, transfer embrio, dan chorionic villi sampling (CVS).
14. Kecurigaan adanya kematian mudigah / janin.
15. Kecurigaan adanya abnormalitas uterus.
16. Lokalisasi alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR).
17. Pemantauan perkembangan folikel.
18. Penilaian profil biofisik janin pada kehamilan diatas 28 minggu.
19. Observasi pada tindakan intra partum, misalnya versi atau ekstraksi pada janin kedua
gemelli, plasenta manual, dll.
20. Kecurigaan adanya hidramnion atau oligohidramnion.
21. Kecurigaan terjadinya solusio plasentae.
22. Alat bantu dalam tindakan versi luar pada presentasi bokong.
23. Menentukan taksiran berat janin dan atau presentasi janin pada kasus ketuban pecah
preterm dan atau persalinan preterm.
24. Kadar serum alfa feto protein abnormal.
25. Pengamatan lanjut pada kasus yang dicurigai menderita cacat bawaan.
26. Riwayat cacat bawaan pada kehamilan sebelumnya.
27. Pengamatan serial pertumbuhan janin pada kehamilan ganda.
28. Pemeriksaan janin pada wanita berusia di atas 35 tahun.
Tampilan Gambar
Tampilan gambar pada layar monitor dapat berupa ampiltudo (A), brightness (B), timemotion (TM), dan Doppler. Tampilan Amplitudo saat ini sudah tidak dipergunakan lagi dalam
bidang obstetri ginekologi. Tampilan brightness saat ini sudah merupakan gambaran yang nyata
(realtime), artinya yang kita lihat adalah yang juga sedang diperiksa, misalnya pada waktu janin
bergerak, maka pada saat yang sama kita juga dapat melihat pada layer monitor bayi yang sedang
bergerak.
Pada pemeriksaan time-motion atau lebih sering disebut M-mode dapat dilihat suatu
grafik pergerakan yang berhubungan dengan keteraturan dan satuan waktu, misalnya dari
pergerakan katup jantung dapat diukur berapa frekuensi denyut jantung janin dalam satu menit
dan dapat dilihat apakah teratur atau tidak. Selain itu, dapat juga diukur ketebalan dinding
jantung janin, serta patologi yang ada pada jantung dan daerah sekitarnya. Tampilan Doppler
memungkinkan kita melihat denyut pembuluh darah, arah aliran darah (memakai Doppler
berwarna) dan melakukan kalkulasi kecepatan aliran darah (velositas) dalam pembuluh darah.

Semakin tinggi frekuensi gelombang suara, maka semakin pendek gelombang suara yang
dipergunakan, sehingga gambar yang dihasilkan lebih jelas dan rinci (memiliki resolusi tinggi).
Kebalikannya bila semakin tinggi frekuensi yang dipergunakan, maka kedalaman penetrasi
gelombang suara semakin rendah (dangkal), artinya untuk pemeriksaan organ superfisial atau
yang dekat dengan transduser lebih baik memakai frekuensi tinggi (> 5 MHz), misalnya USG
transvaginal atau payudara.
Ketajaman gambar juga dipengaruhi oleh fokus. Fokus dapat diatur melalui mesin USG
oleh operator, fokus ditempatkan pada daerah yang akan diamati. Khusus untuk pemeriksaan
jantung janin hanya dipergunakan satu fokus saja, sedangkan untuk organ lainnya cukup dua
buah fokus. Semakin banyak fokus yang dipergunakan, semakin banyak energi yang dipakai,
sehingga gambar USG semakin tidak tegas gambarannya. Pada Gambar 3 dapat dilihat
penempatan fokus yang salah (Gambar A) dan benar (Gambar B). Ketajaman gambar akan
sangat berbeda dan hal ini akan mempengaruhi ketepatan hasil diagnostik sonografisnya.
Resolusi aksial dan lateral mempengaruhi ketajaman gambar. Resolusi aksial adalah
kemampuan untuk membedakan dua titik pada daerah yang tegak lurus dengan transduser.
Resolusi lateral adalah kemampuan untuk membedakan dua titik pada daerah horizontal (lateral)
terhadap transduser. Selain itu, ketajaman gambar juga dapat dipengaruhi oleh adanya artefak.
Persiapan Pemeriksaan
Persiapan yang harus dilakukan sebelum melakukan pemeriksaan USG adalah :
a. Pencegahan infeksi
b. Persiapan alat
c. Persiapan pasien
d. Persiapan pemeriksa
a. Pencegahan infeksi
Cuci tangan sebelum dan setelah kontak langsung dengan pasien, setelah kontak dengan
darah atau cairan tubuh lainnya, dan setelah melepas sarung tangan, telah terbukti dapat
mencegah penyebaran infeksi. Epidemi HIV/AIDS telah menjadikan pencegahan infeksi
kembali menjadi perhatian utama, termasuk dalam kegiatan pemeriksaan USG dimana infeksi

silang dapat saja terjadi. Kemungkinan penularan infeksi lebih besar pada waktu pemeriiksaan
USG transvaginal karena terjadi kontak dengan cairan tubuh dan mukosa vagina.
Risiko penularan dibagi dalam tiga tingkatan, yaitu tinggi, sedang, dan ringan.
1) Risiko penularan tinggi terjadi pada pemeriksaan USG intervensi (misalnya punksi
menembus kulit, membran mukosa atau jaringan lainnya); peralatan yang dipakai
memerlukan sterilisasi (misalnya dengan autoklaf atau etilen oksida) dan dipergunakan
sekali pakai dibuang.
2) Risiko penularan sedang terjadi pada pemeriksaan USG yang mengadakan kontak
dengan mukosa yang intak, misalnya USG transvaginal; peralatan yang dipakai minimal
memerlukan desinfeksi tingkat tinggi (lebih baik bila dilakukan sterilisasi).
3) Risiko penularan ringan terjadi pada pemeriksaan kontak langsung dengan kulit intak,
misalnya USG transabdominal; peralatan yang dipakai cukup dibersihkan dengan alcohol
70% (sudah dapat membunuh bakteri vegetatif, virus mengandung lemak, fungisidal, dan
tuberkulosidal) atau dicuci dengan sabun dan air.
Panduan di bawah ini dapat membantu mencegah penyebaran infeksi :
o Semua jeli yang terdapat pada transduser harus selalu dibersihkan, bisa memakai kain
halus atau kertas tissue halus.
o Semua peralatan yang terkontaminasi atau mengandung kotoran harus dibersihkan dengan
sabun dan air. Perhatikan petunjuk pabrik tentang tatacara membersihkanperalatan USG.
o Transduser kemudian dibersihkan dengan alkohol 70% atau direndam selama dua menit
dalam larutan yang mengandung sodium hypochlorite (kadar 500 ppm10 dan diganti
setiap hari), kemudian dicuci dengan air mengalir dan selanjutnya dikeringkan.
o Transduser harus diberi pelapis sebelum dipakai untuk pemeriksaan USG transvaginal,
bisa memakai sarung tangan karet, atau kondom.
o Pemeriksa harus memakai sarung tangan sekali pakai (tidak steril) pada tangan yang akan
membuka labia sebelum transduser vagina dimasukkan. Perhatikan jangan sampai sarung
tangan tersebut mengotori peralatan USG dan tempat pemeriksaan.
o Setelah melakukan pemeriksaan, kondom atau sarung tangan harus dimasukkan pada
tempat khusus untuk mencegah penyebaran infeksi, dan kemudian pemeriksa mencuci
tangan.

o Pada pemeriksaan USG invasif, misalnya ovum pick-up persiapan yang dilakukan sama
seperti akan melakukan tindakan operasi, misalnya peralatan yang dipakai harus steril,
operator mencuci tangan dengan larutan mengandung khlorheksidine 3%, memakai sarung
tangan dan masker, serta memakai kacamata. Kulit dibersihkan dengan memakai etil
alkohol 70%, isopropil alkohol 60%, khlorheksidin alkohol, atau povidone iodine.
Transduser dibersihkan dan dilakukan desinfeksi, kemudian dibungkus dengan plastic
khusus yang steril. Membran mukosa vagina dibersihkan dengan larutan yang
mengandung khlorheksidin 0,015% ditambah larutan cetrimide 0,15%.
b. Persiapan alat
Perawatan peralatan yang baik akan membuat hasil pemeriksaan juga tetap baik. Mesin
USG diletakkan disebelah kanan tempat tidur pasien, bila pemeriksa bertangan kiri, maka mesin
diletakkan disisi kiri pasien. Hidupkan peralatan USG sesuai dengan tatacara yang dianjurkan
oleh pabrik pembuat peralatan tersebut. Panduan pengoperasian peralatan USG sebaiknya
diletakkan di dekat mesin USG, hal ini sangat penting untuk mencegah kerusakan alat akibat
ketidaktahuan operator USG.
Perhatikan tegangan listrik pada kamar USG, karena tegangan yang terlalu naik-turun
akan membuat peralatan elektronik mudah rusak. Bila perlu pasang stabilisator tegangan listrik
dan UPS (uninterrupted power supply).
Setiap kali selesai melakukan pemeriksaan USG, bersihkan semua peralatan dengan
hatihati, terutama pada transduser (penjejak) yang mudah rusak. Bersihkan transduser dengan
memakai kain yang lembut dan cuci dengan larutan anti kuman yang tidak merusak transduser
(informasi ini dapat diperoleh dari setiap pabrik pembuat mesin USG).
Selanjutnya taruh kembali transduser pada tempatnya, rapikan dan bersihkan
kabelkabelnya, jangan sampai terinjak atau terjepit. Setelah semua rapih, tutuplah mesin USG
dengan plastik penutupnya. Hal ini penting untuk mencegah mesin USG dari siraman air atau zat
kimia lainnya.
Agar alat ini tidak mudah rusak, tentukan seseorang sebagai penanggung jawab
pemeliharaan alat tersebut.
c. Persiapan pasien

Sebelum pasien menjalani pemeriksaan USG, ia sudah harus memperoleh informasi yang
cukup mengenai pemeriksaan USG yang akan dijalaninya. Informasi penting yang harus
diketahui pasien adalah harapan dari hasil pemeriksaan, cara pemeriksaan (termasuk posisi
pasien), akurasi ketepatan diagnostik, perlu tidaknya pemeriksaan USG 3D, dan berapa biaya
pemeriksaan.
Caranya dapat dengan memberikan brosur atau leaflet atau bisa juga melalui penjelasan
secara langsung oleh dokter pemeriksa. Sebelum melakukan pemeriksaan USG, pastikan bahwa
pasien benar-benar telah mengerti dan memberikan persetujuan untuk dilakukan pemeriksaan
USG atas dirinya.
Bila akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal, tanyakan kembali apakah ia
seorang nona atau nyonya ?, jelaskan dan perlihatkan tentang pemakaian kondom yang baru
pada setiap pemeriksaan (kondom penting untuk mencegah penularan infeksi).
Pada pemeriksaan USG transrektal, kondom yang dipasang sebanyak dua buah, hal ini
penting untuk mencegah penyebaran infeksi.
Terangkan secara benar dan penuh pengertian bahwa USG bukanlah suatu alat yang dapat
melihat seluruh tubuh janin atau organ kandungan, hal ini untuk menghindarkan kesalahan
harapan dari pasien. Sering terjadi bahwa pasien mengeluh Kok sudah dikomputer masih juga
tidak dikatahui adanya cacat bawaan janin atau ada kista indung telur ? USG hanyalah salah
satu dari alat bantu diagnostik didalam bidang kedokteran. Mungkin saja masih diperlukan
pemeriksaan lainnya agar diagnosis kelainan dapat diketahui lebih tepat dan cepat.
d. Persiapan pemeriksa
Pemeriksa diharapkan memeriksa dengan teliti surat pengajuan pemeriksaan USG, apa
indikasinya dan apakah perlu didahulukan karena bersifat darurat gawat, misalnya pasien dengan
kecurigaan kehamilan ektopik. Tanyakan apakah ia seorang nyonya atau nona, terutama bila
akan melakukan pemeriksaan USG transvaginal.
Selanjutnya cocokkan identitas pasien, keluhan klinis dan pemeriksaan fisik yang ada;
kemudian berikan penjelasan dan ajukan persetujuan lisan terhadap tindak medik yang akan
dilakukan. Persetujuan tindak medik yang kebanyakan berlaku di Indonesia saat ini hanyalah
bersifat persetujuan lisan, kecuali untuk tindakan yang bersifat invasif misalnya kordosintesis
atau amniosintesis.

Dimasa mendatang tampaknya pemeriksaan USG transvaginal memerlukan persetujuan


tertulis dari pasien. Salah satu tujuan utamanya adalah untuk mencegah penularan penyakit
berbahaya seperti HIV/AIDS dan penyakit menular seksual akibat semakin banyaknya seks
bebas dan pemakaian NARKOBA.
Setiap mesin mempunyai konfigurasi tampilan tombol-tombol yang berbeda, sehingga
setiap pemeriksa harus menyesuaikan dengan peralatan yang dipakainya serta mengenali semua
lokasi dan fungsi tombol-tombol yang tersedia.
Transduser dipegang oleh tangan yang terdekat dengan tubuh pasien, hal ini untuk
mencegah terjatuhnya transduser tersebut. Sebaiknya pemeriksa duduk dikursi ergonomis yang
dapat bergerak, berputar, dan dapat diatur ketinggiannya agar posisi tangan sama tinggi dengan
dinding perut pasien (pemeriksaan USG transabdominal) atau duduk di depan perineum pada
saat melakukan pemeriksaan USG transvaginal. Mesin USG harus dapat dijangkau oleh tangan
kiri pemeriksa agar pemeriksaan tersebut dapat optimal dan tidak membuat lekas lelah.
Pemeriksa juga harus berlatih dengan baik agar dapat merasakan bahwa transduser
tersebut merupakan kepanjangan dan bagian dari tangannya (terutama transduser transvaginal)
sehingga adanya tahanan, konsistensi masa, atau perlekatan dapat dirasakan. Jangan memegang
transduser terlalu kaku dan kuat karena akan menimbulkan cedera pada lengan dan bahu.
Pemeriksa juga harus mengetahui program pencegahan infeksi universal.
Selain itu, pemeriksa diharapkan selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya
dengan cara membaca kembali buku teks atau literatur-literatur mengenai USG, mengikuti
pelatihan secara berkala dan mengikuti seminar-seminar atau pertemuan ilmiah lainnya
mengenai kemajuan USG mutakhir (continuing professional development / CPD). Kemampuan
diagnostik seorang sonografer dan sonologist sangat ditentukan oleh pengetahuan, pengalaman
dan latihan yang dilakukannya.
Teknik Pemeriksaan
Pemeriksaan USG obstetri dan ginekologi dapat dilakukan melalui cara :
a.
b.
c.
d.
e.

Transabdominal
Transvaginal,
Transperineal / translabial,
Transrektal, atau
Pemeriksaan USG invasive

1. Pemeriksaan USG transabdominal


Setelah pasien tidur terlentang, perut bagian bawah ditampakkan dengan batas bawah
setinggi tepi atas rambut pubis, batas atas setinggi sternum, dan batas lateral sampai tepi
abdomen.
Letakkan kertas tissue besar pada perut bagian bawah dan bagian atas untuk melindungi
pakaian wanita tersebut dari jelly yang kita pakai. Taruh jelly secukupnya pada kulit perut,
kemudian lakukan pemeriksaan secara sistematis.
Pertama-tama gerakkan transduser secara longitudinal ke atas dan ke bawah, selanjutnya
horizontal ke kiri dan ke kanan. Penjejak digerakkan dari bawah ke atas, dimulai dari garis
tengah perut (panah nomor 1), kemudian setelah sampai daerah perut atas transduser digeser ke
sisi kanan kemudian digerakkan ke bawah (panah nomor 2), selanjutnya transduser digeser kesisi
kiri abdomen dan digerakkan kembali ke arah atas (panah nomor 3). Selanjutnya gerakan
transduser dilakukan kearah lateral kanan secara horizontal dan sistematis (panah nomor 4),
kemudian dari kanan ke arah kiri (panah nomor 5) dan terakhir dari kiri bawah ke arah kanan
(panah nomor 6).
Secara garis besar, ada empat gerakan dasar transduser pada pemeriksaan USG
transabdominal, yaitu bergeser (sliding), berputar (rotating), membentuk sudut (angling), dan
ditekan (dipping),
Pemeriksa jangan terlalu menekan transduser karena hal tersebut membuat pasien tidak
nyaman (timbul rasa ingin berkemih), dan juga akan menimbulkan distorsi uterus sehingga
pengukurannya menjadi salah.
Pada pemeriksaan USG sebaiknya dicantumkan posisi transduser terhadap tubuh ibu atau
organ kandungan (body-mark).

Gambar. 1.1 Arah Gerakan transuder pada pemeriksaan UTA.