Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
ISK adalah istilah umum yang menunjukkan keberadaan mikroorganisme (MO)
dalam urin. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit infeksi yang
sering ditemukan di praktik umum, walaupun bermacam-macam antibiotika sudah
tersedia luas di pasaran. Data penelitian epidemiologi klinik melaporkan hampir 2535% semua perempuan dewasa pernah mengalami ISK selama hidupnya.1
Infeksi saluran kemih adalah ditemukannya bakteri pada urin di kandung kemih,
yang umumnya steril. Istilah ini dipakai secara bergantian dengan istilah infeksi urin.
Termasuk pula berbagai infeksi di saluran kemih yang tidak hanya mengenai kandung
kemih (prostatitis, uretritis).2
Dikatakan bakteria positif pada pasien asimtomatis bila terdapat lebih dari 10 5
unit koloni bakteri dalam sampel urin porsi tengah (midstream), sedangkan pada pasien
simtomatis bisa terdapat jumlah koloni yang lebih rendah.2
Infeksi saluran kemih (ISK) tipe sederhana (uncomplicated type) jarang
dilaporkan menyebabkan insufiensi ginjal kronik (IGK) walaupun sering mengalami
ISK berulang. Sebaliknya ISK berkomplikasi (complicated type) terutama terkait
refluks vesikoureter sejak lahir sering menyebabkan insufisiensi ginjal kronik (IGK)
yang berakhir dengan gagal ginjal terminal (GGT).1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Defenisi

Beberapa istilah yang perlu dipahami:

Bakteriuria bermakna (significant backteriuri) adalah keberadaan mikroorganisme


murni (tidak terkontaminasi flora normal dari uretra) lebih dari 105 colony forming
units per mL (cfu/ml) biakan urin dan tanpa lekosituria.5

Bakteriuria simtomatik adalah bakteriuria bermakna dengan manifestasi klinik

Bakteriuria asimtomatik (covert bacteriuria) adalah bakteriuria bermakna tanpa


manifestasi klinik.5
Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan istilah yang digunakan untuk menunjukkan
bakteriuria patogen dengan colony forming units per mL CFU/ ml urin > 105, dan
lekositouria >10 per lapangan pandang besar, disertai manifestasi klinik.5
ISK akhir-akhir ini juga didefinisikan sebagai suatu respon inflamasi tubuh terhadap
invasi mikroorganisme pada urothelium.5
2.2.

Epidemiologi
Infeksi saluran kemih (ISK) tergantung banyak faktor; seperti usia, gender,

prevalensi bakteriuria, dan faktor predisposisi yang menyebabkan perubahan strukutur


saluran kemih termasuk ginjal.3
Selama periode usia beberapa bulan dan lebih dari 65 tahun perempuan
cenderung menderita ISK dibandingkan laki-laki. ISK berulang pada laki-laki jarang
dilaporkan, kecuali disertai faktor predisposisi (pencetus).3
Prevalensi bakteriuri asimtomatik lebih sering ditemukan pada perempuan.
Prevalensi selama periode sekolah (school girls) 1% meningkat menjadi 5% selama

periode aktif secara seksual. Prevalensi infeksi asimtomatik meningkat mencapai 30%,
baik laki-laki maupun perempuan bila disertai faktor predisposisi.4
Tabel 1. Faktor Predisposisi (Pencetus) ISK5
Faktor predisposisi (pencetus) ISK

2.3.

Litiasis

Obstruksi saluran kemih

Penyakit ginjal polikistik

Nekrosis papilar

DM pasca transplantasi ginjal

Nefropati analgesik

Penyakit Sickle-cell

Senggama

Kehamilan dan peserta KB dengan tablet progesteron

Kateterisasi

Etiologi
Pada umumnya ISK disebabkan mikro-organisme tunggal:
-

Escherichia coli merupakan MO yang paling sering diisolasi dari pasien

dengan infeksi sistomatik maupun asimtomatik.


Mikroorganisme lainnya yang sering ditemukan seperti Proteus spp (33%
ISK anak laki-laki berusia 5 tahun), Klebsiella spp, dan Stafilokokus dengan
koagulase negatif.

Infeksi yang disebabkan Pseudomonas spp dan MO lainnya seperti Stafilokokus


jarang dijumpai, kecuali pasca kateterisasi.1
2.4.

Klasifikasi

Infeksi Saluran Kemih (ISK) Bawah1


Presentasi klinis ISK bawah tergantung gender:
1. Perempuan
- Sistitis. Sistitis adalah presentasi klinis infeksi kandung kemih disertai
-

bakteriuria bermakna.
Sindroma uretra akut (SUA). Sindrom uretra akut adalah presentasi klinis
sistitis tanpa ditemukan mikroorganisme (steril), sering dinamakan sistitis

bakterialis. Penelitian terkini SUA disebabkan MO anaerobik.


2. Laki-laki
Presentasi klinis ISK bawah pada laki-laki mungkin sistitis, prostatitis,
epidimidis dan uretritis.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas1
1. Pielonefritis akut (PNA). Pielonefritis akut adalah proses inflamasi parenkim
ginjal yang disebabkan infeksi bakteri.
2. Pielonefritis kronis (PNK). Pielonefritis kronis mungkin akibat lanjut dan infeksi
bakteri berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih
dan refluks vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonefritis kronik
yang spesifik. Bakteriuria asimtomatik kronik pada orang dewasa tanpa faktor
predisposisi tidak pernah menyebabkan pembentukan jaringan ikat parenkim
ginjal.
Data epidemiologi klinik tidak pernah melaporkan hubungan antara
bakteriuria asimptomatik dengan pielonefritis kronik.
2.5

Patogenesis

Patogenesis Urinary Pathogens


Patogenesis bakteriuri asimtomatik menjadi bakteriuri simtomatik dengan presentasi
klinis ISK tergantung dari patogenitas bakteri dan status pasien sendiri (host).1
1. Peranan Patogenitas Bakteri. Sejumlah flora saluran cerna termasuk Eschiria
coli diduga terkait dengan etiologi ISK. Penelitian melaporkan lebih dari 170

serotipe 0 (antigen) E.Coli yang patogen. Patogenisitas E.Coli terkait dengan


bagian permukaan sel polisakarida dari lipopolisakarin (LPS).1
Hanya IG serotipe dari 170 serotipe O/E.coli yang berhasil diisolasi rutin
dari pasien klinis, diduga strain E.coli ini mempunyai patogenesitas khusus.
Penelitian intensif berhasil menemukan faktor virulensi E.Coli dikenal sebagai
virulence determinalis.1
Bakteri patogen dari urin (urinaru pathogens) dapat menyebabkan
presentasi klinis ISK tergantung juga dari faktor lainnya seperti perlengketan
mukosa oleh bakteri, faktor virulensi, dan variasi fase faktor virulensi.1
Peranan Bakteri attachment of mucosa. Penelitian membuktikan bahwa
fimbriae (proteinaceous hair-like projection from the bacterial surface)
merupakan salah satu pelengkap patogenesitas yang mempunyai kemampuan
untuk melekat pada permukaan mukosa saluran kemih. Pada umumnya P
Fimbriae dari strain E.Coli ini dapat diisolasi hanya dari urin segar.1
Peranan faktor virulensi lainnya. Kemampuan untuk melekat (adhesion)
mikroorganisme (MO) atau bakteri tergantung dari organ pili atau fimbriae
maupun non-fimbriae. Pada saat ini dikenal beberapa adhesion seperti fimbriae
(tipe 1, P dan S), non fembrial adhesions (DR haemaglutinin atau DFA
component of DR blood group), fimbrial adhesions (AFA-1 dan AFA-III), Madhesions, G-adhesions dan curli adhesions (2).1
Sifat patogenitas lain dari E.coli berhubungan dengan toksin. Dikenal beberapa
toksin seperti -haemolisin, cytoxic necrotizing factor-1 (CNF-1), DAN iron
uptake system (aerobactin dan enterobactin). Hampir 95% -haemolisin terikat
pada kromosom dan berhubungan dengan pathogenicity islands (PAIS) dan
hanya 5% terikat pada gen plasmio.1
Resistensi uropatogenik E.coli terhadap serum manusia dengan perantara
(mediator) beberapa faktor terutama aktivasi sistem komplemen termasuk
membrane attack complex (MAC). Mekanisme pertahanan tubuh berhubungan
dengan pembentukan kolisin (Col V), K-1, Tra T proteins dan outer membrane
protein (OHPA). Menurut beberapa peneliti uropatogenik MO ditandai dengan
5

ekspresi faktor virulensi ganda. Beberapa sifat uropatogen MO, seperti resistensi
serum, sekuestrasi besi, pembentukan hidroksat dan antigen K yang muncul
mendahului manifestasi klinis ISK. Gen virulensi dikendalikan faktor luar
seperti suhu, ion besi, osmolaritas, pH, dan tekanan oksigen. Laporan penelitian
Johnson mengungkapkan virulensi E.Coli sebagai penyebab ISK terdiri atas
fimbriae type 1 (58%), P-fimbriae (24%), aerobactin (38%), haemolysin (20%),
antigen K (22%), resistensi serum (25%), dan antigen O (28%).1
Faktor virulensi variasi fase. Virulensi bakteri ditandai dengan kemampuan
untuk mengalami perubahan bergantung pada dari respon faktor luar. Konsep
variasi fase MO ini menunjukan peranan beberapa penentu virulensi bervariasi
di antara individu dan lokasi saluran kemih. Oleh karena itu, ketahanan hidup
bakteri berbeda dalam kandung kemih dan ginjal.1
2. Peranan Faktor Tuan Rumah (host)
Faktor Predisposisi Pencetus ISK. Penelitian epidemiologi klinik mendukung
hipotesis peranan status saluran kemih merupakan faktor resiko atau pencetus
ISK. Jadi faktor bakteri dan status saluran kemih pasien mempunyai peranan
penting untuk kolonisasi bakteri pada saluran kemih. Kolonisasi bakteri sering
mengalami kambuh (eksasebarsi) bila sudah terdapat kelainan sturktur anatomi
saluran kemih. Dilatasi saluran kemih dapat menyebabkan gangguan proses
klirens normal dan sangat peka terhadap infeksi.1
Zat makanan dari bakteri akan meningkat dari normal, diikuti refluks
MO dari kandung kemih ke ginjal. Endoktoksin (lipid A) dapat menghambat
peristaltik ureter. Refluks vesikoureter ini sifatnya sementara dan hilang sendiri
bila mendapat terapi antibiotika.1
Proses pembentuntkan jaringan parenkim ginjal sangat berat bila refluks
vesikoureter terjadi sejak anak-anak. Pada usia dewasa muda tidak jarang
dijumpai di klinik gagal ginjal terminal (GGT) tipe kering, artinya tanpa edema
dengan/tanpa hipertensi.1
Status imunologi pasien (host). Penelitian laboratorium mengungkapkan
bahwa golongan darah dan status sekretor mempunyai konstribusi untuk

kepekaan terhadap ISK. Prevalensi ISK juga meningkat terkait dengan golongan
darah AB, B, dan PI (antigen terhadap tipe fimbriae bakteri) dan dengan fenotipe
golongan darah Lewis.1
Kepekaan terhadap ISK rekuren dari kelompok pasien dengan saluran
kemih normal (ISK tipe sederhana) lebih besar pada kelompo antigen darah nonsekretorik dibandingkan kelompok seketorik.
Penelitian lain melaporkan sekresi IgA urin meningkat dan diduga
mempunyai peranan penting untuk kepekaan terhadap ISK rekuren.1
2.6.

Patofisiologi
Pada individu normal, biasanya laki-laki maupun perempuan urine selalu

steril karena dipertahankan jumlah dan frekuensi kencing. Uretro distal


merupakan tempat kolonisasi mikroorganisme nonpathogenic fastidious gram
positive dan gram negative.1
Hampir semua ISK disebabkan invasi mikroorganisme asending dari
uretra kedalam kandung kemih. Pada beberapa pasien tertentu invasi
mikroorganisme dapat mencapai ginjal. Proses ini dipermudah refluks
vesikoureter.1
Proses invasi mikroorganisme hematogen sangat jarang ditemukan di
klinik, mungkin akibat lanjut dari bakterimia. Ginjal diduga merupakan lokasi
infeksi sebagai akibat lanjut septikemiatau endokarditis akibat Staphylococcus
aureus. Kelainan ginjal yang terkait dengan endokarditis

(Staphylococcus

aureus) dikenal Nephritis Lohlein. Beberapa peneliti melaporkan pielonefritis


akut (PNA) sebagai akibat lanjut invasi hematogen dari infeksi sistemik gram
negatif.1
2.7.

Gejala Klinis
a. Pielonefritis Akut (PNA)1
-

Panas tinggi : 39,5C 40,5C disertai menggigil dan sakit pinggang


Sering didahului gejala ISK bawah

b. Sistitis1
-

Sakit suprapubik
Polakisuria
Nokturia
Disuria
Stranguria

c. Sindrom Uretra Akut (SNA)1


Gejala klinis SUA sulit dibedakan dengan Sistitis. SUA sering ditemukan
pada perempuan usia antara 20-50 tahun.
Gejala klinis SUA hanya sedikit sekali yaitu hanya disuri dan sering
kencing disertai dengan cfu/ml urine <105 yang sering disebut Sistitis
Abakterialis.
SUA dibagi menjadi 3 kelompok pasien, yaitu :
1. Kelompok pertama pasien dengan piuria, biakan urine dapat
diisolasi E.coli dengan cfu/ml urine 103 - 105. Sumber infeksi
berasal dari kelenjar peri-uretral atau uretra sendiri. Kelompok
pasien ini memberikan respons baik terhadap antibiotik standar
seperti ampicillin.
2. Kelompok kedua pasien dengan lekosituri 10 50/lapangan
pandang dan kultur urine steril. Kultur (biakan) khusus
ditemukan Chlamydia trachomatis atau bakteri anaerobik.
3. Kelompok ketiga pasien tanpa piuri dan biakan urine steril.
d. ISK Rekuren1
ISK Rekuren terdiri dari 2 kelompok, yaitu :
1. Re-infeksi (re-infections). Pada umumnya episode infeksi dengan
interval >6 minggu dengan mikroorganisme yang berlainan.
2. Relapsing Infections. Setiap kali infeksi disebabkan
mikroorganisme yang sama, disebabkan sumber infeksi tidak
mendapat terapi yang adekuat.
Tabel 2. Klasifikasi ISK Rekuren dan Mikroorganisme.1
Klasifikasi ISK
Sekali-sekali ISK

Patogenesis
Reinfeksi

Mikroorganisme
Berlainan

Gender
Laki-laki atau
8

Sering ISK
ISK setelah terapi

Sering episode

Berlainan

wanita
Wanita

ISK
ISK persisten

Sama

Wanita atau

Terapi tidak sesuai

Sama

laki-laki
Wanita atau

Terapi inefektif

Sama

laki-laki
Wanita atau

Sama

laki-laki
Wanita atau

Sama / berlainan

laki-laki
Wanita atau

Berlainan

laki-laki
Wanita atau

setelah reinfeksi
Infeksi persisten
Tidak adekuat
(Relapsing)

Reinfeksi cepat
Fistula
enterovesikal

2.8.

laki-laki

Diagnosis5

Gangguan Berkemih :

Peningkatan frekuensi
Jumlah sedikit

Nyeri
9

Awal Miksi

Ya

Ya

Tidak

Pemeriksaan Urine

Tidak

Setelah Miksi

URETRITIS

Ya

Hasil biakan aliran tengah


> 100.000 kolon/ml
Hasil biakan kateterisasi
> 10.000 kolon/ml

Hasil biakan aliran


tengah < 100.000
kolon/ml
Hasil biakan kateterisasi
< 10.000 kolon/ml

Tidak

SISTITIS

Kostovertebral

BAKTERI URIA
ASIMPTOMATIK

PIELONEFRITIS

2.9.

RANGSANGAN MEKANIK
AKIBAT PEMBESARAN
UTERUS

Pemeriksaan Penunjang
Analisa urine rutin, pemeriksaan mikroskop urine segar tanpa putar, kultur urine,

serta jumlah kuman/ml urine merupakanprotokol standar untuk pendekatan diagnosis


ISK. Pengambilan dan koleksi urine, suhu dan teknik transportasi sampel urone harus
sesuai dengan protokol yang dianjurkan.4
Investigasi lanjutan terutama renal imaging procedures tidak boleh rutin, harus
berdasarkan indikasi klinis yang kuat. Renal imaging procedures untuk investigasi
factor predisposisi ISK, yaitu :4
1. Ultrasonogram (USG)
10

2. Radiografi :
- Foto polos abdomen
- Pielografi IV
- Micturating cystogram
3. Isotop Scanning
Indikasi investigasi lanjutan setelah ISK, yaitu :
1. ISK kambuh (relapsing infection)
2. Pasien laki-laki
3. Gejala urologic : kolik ginjal, piuria, hematuria
4. Hematuria persisten
5. Mikroorganisme jarang seperti: Pseudomonas spp dan Proteus spp
6. ISK berulang dengan interval 6 minggu.
2.10.

Pengobatan
1. Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas1
Pasien dengan Pielonefritis Akut memerlukan rawat inap untuk memelihara
satus hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam.
Indikasi rawat inap pasien dengan Pielonefritis Akut, yaitu :
- Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap
-

antibiotika oral
Pasien sakit berat atau debilitasi
Terapi antibiotik oral selama rawat jalan mengalami kegagalan
Diperlukan investigasi lanjutan
Factor predisposisi untuk ISK tipe berkomplikasi
Komorbiditas seperti kehamilan, diabetes mellitus, usia lanjut

The Infectious Disease Society of America menganjurkan satu dari tiga


alternative terapi antibiotik intravena sebagai terapi awal selama 48-72 jam
sebelum diketahui mikroorganisme penyebabnya, yaitu :
- Fluorokuinolon
- Amiglikosida dengan atau tanpa ampicillin
- Sefalosporin dengan spektrum luas dengan atau tanpa aminoglikosida
2. Infeksi Saluran Kemih (ISK) Bawah1
Prinsip pengobatan ISK bawah meliputi intake cairan yang banyak, antibiotika
yang adekuat dan kalau perlu terapi simptomatik untuk alkalinisasi urine,
yaitu:
- Hampir 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam dengan
antibiotika tunggal seperti ampicillin 3 gram, trimetoprim 200 mg
11

Bila infeksi menetap disertai kelainan urinalisis (lekosuria) diperlukan

terapi konvensional selama 5 - 10 hari


Pemeriksaan mikroiskopis urine dan biakan urine tidak diperlukan bila
semua gejala hilang dan tanpa lekosuria

Jika terjadi Reinfeksi berulang (frequent re-infection) :


-

Disertai faktor predisposisi : terapi antimikroba yang intensif diikuti


koreksi faktor resiko
Tanpa faktor predisposisi :
Asupan cairan banyak
Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba
tarakan tunggal misalnya trimetoprim 200 mg

Pasien dengan Sindrom Uretra Akut dengan hitung kuman 10 3 105


memerlukan antibiotika yang adekuat. Infeksi klamidia memberikan hasil
yang baik dengan tetrasiklin. Infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme
anaerobik diperlukan antimikroba yang serasi, misalnya golongan kuinolon.
2.11. Komplikasi
Kompilasi ISK tergantung dari tipe yaitu :1
1. ISK Sederhana (uncomplicated)
ISK akut tipe sederhana seperti sistitis yaitu non-obstruksi dan bukan
perempuan hamil merupakan penyakit ringan (self limited disease) dan tidak
menyebabkan akibat lanjut jangka lama.
2. ISK Tipe Berkomplikasi (complicated)
- ISK selama kehamilan
Kondisi
BAS
(Basiluria Asimptomatik)

ISK Trimester III

Resiko Potensial
Pielonefritis
Bayi premature
Anemia
Pregnancy-induced hypertension
Bayi mengalami retardasi mental
Pertumbuhan bayi lambat
Cerebral palsy
Fetal death

12

Basiluria Asimptomatik (BAS) merupakan resiko untuk Pielonefritis diikuti


penurunan laju filtrasi glomerulus (LFG).
-

ISK pada Diabetes Mellitus.


Penelitian epidemiologi klinik melaporkan bakteriuria dan ISK lebih sering
ditemukan pada perempuan dengan DM dibandingkan dengan perempuan
tanpa DM.
Komplikasi emphysematous cystitis, pielonefritis yang terkait spesies
kandida dan infeksi Gram-negatif lainnya dapat dijumpai pada DM.
Pielonefritis emfisematosa disebabkan mikroorganisme pembentuk gas
seperti E.coli, Candida spp dan Clostridium tidak jarang dijumpai pada
DM. pembentukan gas sangat intensif pada parenkim ginjal dan jaringan
nekrosis disertai hematom yang luas. Pielonefritis emfisematosa sering
disertai syok septic dan nefropati akut vasomotor (AVH).
Abses perinefrik merupakan komplikasi ISK pada pasien dengan DM
(47%), nefrolitiasis (41%), dan obstruksi ureter (20%).

2.12. Pencegahan
Data epidemiologi klinik mengungkapkan uji saring bakteriuria asimptomatik
bersifat selektif dengan tujuan utama untuk mencegah menjadi bakteriuria disertai
presentasi klinik ISK. Uji saring bakteriuria asimptomatik harus rutin dengan jadwal
tertentu untuk kelompok pasien perempuan hamil, pasien DM terutama perempuan,
dan pasca transplantasi ginjal perempuan dan laki-laki, dan kateterisasi laki-laki dan
perempuan.6
2.13. Prognosa
Para ahli berpendapat bahwa prognosa dari infeksi saluran kemih tanpa
komplikasi pada perempuan umumnya baik, tanpa adanya faktor pemberat. Pada infeksi
saluran kemih dengan komplikasi, prognosa tergantung pada kondisi penyebabnya.6

13

BAB III
KOLEGIUM PENYAKIT DALAM (KPD)
CATATAN MEDIK PASIEN
ANAMNESA PRIBADI
Nama

: Julyana

Umur

: 45 tahun

Jenis Kelamin

: perempuan

Suku / Bangsa

: Batak / Indonesia

Status

: Menikah

Agama

: Kristen

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Alamat

: Jl. Sempurna no 20 Medan

Tanggal masuk

: 19 Desember 2014

ANAMNESA PENYAKIT
Keluhan utama

: Nyeri saat buang air kecil

Telaah

Nyeri ini dialami sejak 3 bulan sebelum masuk rumah sakit, memberat dalam 1
minggu ini.

Nyeri dirasakan bersifat hilang timbul. OS juga mengeluhkan nyeri perut bagian
kiri bawah. Riwayat buang air kecil tersendat disangkal, riwayat buang air kecil
tidak lancer disangkal, riwayat buang air kecil berpasir atau keluar batu
disangkal. Buang air kecil berdarah disangkal. Riwayat keputihan disangkal.

14

Os juga mengalami demam, demam yang bersifat hilang timbul sejak 1 bulan
ini. Demam bersifat naik turun secara perlahan dengan suhu tinggi, dan turun

dengan obat penurun panas.


Rasa mual dirasakan dalam 1 minggu ini, tanpa disertai muntah.
BAB (+) normal.
Riwayat bengkak pada kaki tidak dijumpai
Riwayat darah tinggi dan sakit gula disangkal OS
RPT

: tidak jelas

RPO

: tidak jelas.

STATUS PASIEN
Sensorium

: compos mentis

Tekanan darah

: 120/60 mmHg

Pulse

: 84 x/i

Respiratory rate

: 22 x/i

Temperature

: 38,0 C

Anemia

: (-)

Ikterus

: (-)

Sianosis

: (-)

Dispnoe

: (-)

Oedem

: (-)

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Kepala
Kepala

: dalam batas normal

Rambut

: dalam batas normal

Mata

: konjungtiva palpebral inferior pucat (-/-),


sclera ikterik (-/-)

15

THM

: dalam batas normal

Leher
Trakea

: medial

TVJ

: R-2 cm H2O

Pembesaran KGB

: tidak dijumpai

Thorak
Inspeksi

: simetris fusiformis

Palpasi

: stem fremitus kanan=kiri

Perkusi

: sonor

Auskultasi

: SP : vesikuler
ST : -

Abdomen
Inspeksi

: simetris

Palpasi

: Soepel. Lien dan Ren tidak teraba.

Perkusi

: Sonor

Auskultasi

: peristaltik (+) normal

Tapping Pain (-)


Genitalia

: perempuan, tidak ada kelainan

Ekstermitas
Ekstremitas Superior : dalam batas normal, oedem (-)
Ekstremitas Inferior : oedem pretibial (-/-)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
16

Darah rutin
WBC
RBC
HGB
HCT
MCV
MCH
MCHC
Platelet

: 14.300 uL
: 4.330.000 uL
: 13,4 gr/dL
: 36,4%
: 84,1 fL
: 30,9 pg
: 36,8 dL
: 345.000 uL

DIFFERENTIAL DIAGNOSIS
-

Batu Saluran Kemih


Abses Ginjal
PID

DIAGNOSIS SEMENTARA
-

Infeksi Saluran Kemih

PENATALAKSANAAN
-

Tirah baring
Diet MB
IVFD RL 20 gtt/I (makro)
Inj. Ceftriaxone 2gr/ 12 jam/IV/ST
Inj. Ketorolac 30 mg/ 8 jam/IV
Inj. Ranitidin 50 mg/ 8 jam/IV
Inj. Ondasentron 4gr/ 8 jam
Inj. Novalgin 1 amp jika T >38,5C
Paracetamol 3x500mg

ANJURAN
-

Urinalisa
Kultur Urine
RFT
LFT
USG Ginjal dan Saluran Kemih

17