Anda di halaman 1dari 8

2.

Antiseptik
a). Minyak Atsiri atau dikenal sebagai minyak eteris, minyak esensial, minyak terbang
serta minyak aromatic, adalah kelompok besar minyak nabati yang berwujud cairan kental
pada suhu ruang namun mudah menguap sehingga memberikan aroma yang khas. Merupakan
desinfekstan yang lemah. Misalnya eugonl
- Eugenol
Bahan ini adalah eses kimiawi minyak cengkeh dan mempunyai hubungan dengan
fenol, agak lebih mengiritasi daripada minyak cengkeh dan keduanya adalah suatu antiseptic
dan anodin. Bahan ini bersifat sedatif dan pemakaian setelah pulpektomi, seagau bagian dari
selaeran saluran akar. Sebagai campuran dari tambalan sementara.
b) Berbasis fenol
Fenol meruapakan bahan kriteria putih yang mempunyai efek racun protoplasma
( menyebabkan nekrosis jaringan lunak ), yang mempunyai bau khas seperti batu bara:
Mempunyai efek :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Germisid
Kaustik
Anastetik lokal
Antiprutif
Presetasinya kedalam kulit dengan denaturasi protein
Pada kadar tinggi: mengedapkan protein
Pada kadar rendah : mendenaturasi protein

Pemakaian fenol dibidang Kedokteran Gigi yaitu :


1. Devitalisasi gigi sulung ( kons 5%)

2. Mengurangi rasa nyilu pada dentin, o.k merusak ujung ujung syaraf ditempat
yang ngilu
3. Untuk obat sterilisasi saluran akar pada perawatan endodotik.
Efek sistemik
1. Sifat korosif pada mukosa mulut dan mukosa lambung usu , muntah, sakit perut
2. Bila terminum terjadi keracunan sistemik berupa : stimulasi ssp,depersi
kardiovaskuler, da kematian.
Kerugian Fenol :
1. Terjadi perubahan warna pada gigi tumpatan
2. Merusak rasa
3. Sedikit mengiritasi mukosa
2.1 Jenis jenis fenol
a. Para-klorofenol
Para-klorofenol masuk lebih kedalam tubuh dentin sehingga memusnahkan
mikroorganisme disaluran akar. Berfungsi untuk pretisipasi atau koagulasi
bakteri. Compoud ini adalah penganti produk fenol dengan klorin
mengantikan salah satu atom hydrogen.
b. Para-klorofenol berkamfer
Bahan ini terdiri dari dua bagian para-klorofenol dan tiga bagian berkamfer.
Bahan ini memperoleh popularitas tingkat tinggi sebagai medikamen saluran
akar selain satu abad. Kamfer berguna sebagai suatu sarana dan suatu
pengecer serta mengurangi efek mengiritasi yang memiliki para-klorefenol
murni selain itu juga memperpanjang efek maksimal.
c. Klorofenol kamfer membol
Terdiri dari dua bagian para-klorofenol dan tiga bagian kamfer. Daya
disinfektan sifatnya mengiritasi lebih kecil dari pada formokresol. Mempunyai
spectrum anti bactery luas dan efetif terhadap jamur. Bahan utamanya
paraklorofenol. Mampu memusnakan berbagai mikroorganisme dalam saluran
akar. Kamfer sebagai sarana pengencer serta efek mengiritasi dari

paraklorofenol murni. Selain itu memperpanjang rasa sakit. Bahan ini


memiliki kemampuan desinfeksi dan sifat mengiritasi kecil dan mempunyai
spectrum anti bakteri yang luas dan digunakan dalam semua perawatan saluran
akar gigi mempunyai kelainan apikal.
c) . Aldehid.
A. Formokresol
Bahan ini adalah kombinasi formalin dan kresol dalam pembandingan
1:2 atau 1:1. Formalin merupakan desinfektan kuat yang bergabung dengan albumin
membentuk suatu subtransi yang tidak dapat dilarutkan formokresol adalah suatu
medikamen bakteriasidal yang tidak spesifik dan sangat efektif terhadap organisme
aerobikdan anaerobik yang ditemukan dalam saluran akar. Bahan ini efektif untuk
bakteri aerob dan anaerob namun dapat menimbulkan efek nekrosis. Penggunaannya
pada gigi non vital, mematikan saraf gigi dan sebagai bahan fiksasi. Dan
diindikasikan pada perawatan pulpektomi.
B. Glutaldehid
Minyak tanpa warna ini agak larut dalam air dan disamping itu
mempunyai reaksi yang agak asam. Obat ini merupakan desinfeksi yang sangat kuat
dan fiksatif. Konsetrasi rendah dan tidak ada reaksi inflamasi.
C. Kalsium Hidrosida
Kompund ini juga telah digunakan sebagai medikamen saluran akar.
Pengaru antiseptiknya mungkin berhubungan dengan PH-nya yang tinggi dan
pengaruh melumerkan jaringan pulpa yang nekrotik. Pasta kalsium hidroksida paling

baik digunakan sebagai suatu medikamen intrasaluran bila penundaan yang terlalu
lama antar kunjugan karena bahan ini tetap selama berada dalam saluran akar.
D. Nitrogen
Merupakan suatu antispetik yang mengadung para formaldehida
sebagai suatu bahan utamanya, dapat digunakan sebagai medikamen intrasaluran
maupun sebagai siler atau bahan pengisi. Nitrogen mengandung eugenol dan
fenilmerkurik borat, dan kadang juga terdapat bahan tambahan seperti timah,
kortikostreroid, antibiotika, dan minyak wangi.
E. Halogen.
Digunakan seagai medikamen intraseluler yang mempunyai pengaruh
disenfektan berbanding terbalik dengan berat atomnya, yang termasuk golongan ini adalah :
a. Sodium Hipoklrorit.
Kompoun ini kadang-kadang digunakan sebagai medikamen intrasaluran.
Mempunyai pengaruh desinfektan terbesar diantara kelompok sodium hiproklit.
Sodium hipoklorit sebagai medikamen saluran akar yang efektitas namun bersifat
iritasi. Aktivitas sodium hipoklirit ini hebat tetapi hanya sementara, compound ini
lebih baik diaplikasikan pada saluran akar tiap dua hari sekali. Bahan ini memiliki
chlorine yang bersifat iritatif, tidak stabil dan bersifat toksik bila jumlah besar.
Bahan ini bisa juga digunakan sebagai bahan irigasi saluran.
b. Yolida.

Bahan ini mungkin memusnakan mikroorganisme dengan membentuk garam yang


merugikan kehidupan mikroorganisme. Kompod yolida terdiri dari : 2 bagian
antiseptik, yodin 4 bagian antiseptik yolida, dan 94 bagian air distalasi.
F. Komponen Amonium Kuartener
Quats adalah compound yang menurunkan tegangan permukaan
larutan. Bahan bahan ini dibuat tidak aktif oleh compound antispetic. Karena
compound antiseptik kuartener bermuatan positif dan mikroorganisme antiseptik,
akan terbentuk suatu efek permukaan aktif dengan compound melekat pada
mikroorganisme dan membalik muatan.

Bab III
Kesimpulan
Pemberian pada saluran akar untuk menghambat atau membunuh mikroorganisme
didalamnya digunakan obat sterilisasi saluran akar. Obat sterilisasi saluran akar merupakan

obat

medikan

intrasaluran

sebagain

desinfektan

saluran

akar,

yang

membunuh

mikroorganisme patogen.
Syarat obat steriliasi saluran akar adalah sebagai berikut:
1. Harus suatu germisida dan fungsida yang efetif
2. Tidak mengiritasi jaringan periapikal
3. Tetap stabil dalam larutan
4. Mempunyai efek antimikrobial yang lama
5. Harus aktif dengan adanya darah, serum dan derivat protein jaringan
6. Mempunyai tegangan permukaan rendah
7. Tidak menganggu perbaikan jaringan periapikal
8. Tidak menodai struktur
9. Harus mampu dinonaktifkan dengan medium biakan.
10. Tidak menginduksi respon imun berantara sel.
Jenis-jenis obat strelisasi saluran akar :
1. Antibiotik : adalah segolongan senyawa baik alami maupun sintetik yang mempunyai
efek menekan atau menghentinkan suatu proses biokimia didalam organisme. Khusus
dalam proses infeksi oleh bakteri.
a. Penisilin
b. Eritromisin
c. Klaritonisim
d. Sefalosporin
e. Kidamisin
f. Mentrodazol
2. Antispetik : menghamat pertumbuhan mikroorganisme invitro dan invivo pada
jaringan hidup.
a. Minyak atsiri : fenol
b. Berbasis fenol: fenol, para kolofenol, para berkamfer, para klorofenol
berkamfer menthol.
c. Aldehid : formokresol, gluttraldehid, kalsium hidroksida, nitrogen halogen

Tahap-tahap sterilisasi saluran akar sebagai berikut :


-

Cavity entrance
Yaitu menghilangkan hambatan yang menghalagi masuknya alat preparasi kedalam
S.A

Mengeluarkan jaringan pulpa


Membersihkan saluran akar
Membentuk saluran akar
Irigasi saluran akar
Cleaning
Tindakan pemberishan pada ruang dari saluran akar pengambilan semua kotoran dan
sisa jaringa nekrotik.

Shapping
Tindakan untuk membentuk dinding saluran akar sebagai persiapan untuk tahap
saluran akar.

Daftar Pustaka

Grossman,dkk.1995.Ilmu Endodontik dalam Pratek.Edisi 11. Alih bahasa : Rafiah


abyono. Jakarta : EGC
Harty.F.J. 1992.Endodotik Klinis. Jakarta: Hiprokrates
Louis l. Grossman, Seynour Oilet,Carlose E Del Rio ; alih bahasa Rafiah abyono.
1995. Ilmu Endodotik dalam Praktek Jakarta : EGC
Waltion E.R.Torabinejad, M. 1998 , Prinsip Ilmu Endodotik Edisi 2.Alih Bahasa :
Norlan Sumawinata. Jakarta: EGC
Waltion E.R.Torabinejad, M. 1998 , Prinsip Ilmu Endodotik Edisi 3.Alih Bahasa :
Norlan Sumawinata. Jakarta: EGC
Tarigan, Rasita 2006. Perawatan Pulpa Gigi ( Endodotik Edisi 2 Revisi. Jakarta EGC
Walton, Richard E. 2008. Prinsip dan Praktik Ilmu Endodonsia Edisi 3. Jakarta EGC