Anda di halaman 1dari 6

2.

2 Pengaruh Teori Lokasi Terhadap Terjadinya Konversi Lahan Pertanian


Penggunaan lahan merupakan resultante dari interaksi berbagai macam faktor yang
menentukan keputusan perorangan, kelompok, ataupun pemerintah. Oleh karena itu proses
perubahan penggunaan lahan sifatnya sangat kompleks. Mekanisme perubahan itu melibatkan
kekuatan-kekuatan pasar, sistem administratif yang dikembangkan pemerintah, dan
kepentingan politik.
Konsep von Thunen pada dasamya menjelaskan bahwa penggunaan lahan sangat
ditentukan oleh biaya angkut produk yang diusahakan yang pada akhirnya menentukan sewa
ekonomi tanah (land rent). Kesimpulan penting yang dapat diambil dari pengembangan teori
von Thunen adalah:

(l) kecenderungan semakin menurunnya keuntungan akibat makin

jauhnya lokasi produksi dari pasar, namun terdapat perbedaan laju penurunan (gradien)
antarkomoditas, dan (2) jumlah pilihan-pilihan menguntungkan yang semakin menurun
dengan bcrtambahnya jarak ke kota/pusat pasar.
Tingkat sewa tanah paling mahal ada di pusat pasar dan makin rendah apabila makin
jauh dari pasar. Berdasarkan perbandingan (selisih) antara harga jual dengan biaya produksi,
masing-masing jenis produksi memiliki kemampuan yang berbeda untuk membayar sewa
tanah. Makin tinggi kemampuannya untuk membayar sewa tanah, makin besar kemungkinan
kegiatan itu berlokasi dekat ke pusat pasar. Teori lokasi von Thunen dapat digambarkan
dalam diagram sebagai berikut:

Gambar 1.1
Diagram Cincin Von Thunen
Penggunaan tanah saat ini tidak lagi berkelompok persis seperti cincin dan isi masingmasing cincin juga tidak lagi sama seperti dalam diagram Von Thunen. Namun demikian,
konsep Von Thunen bahwa sewa tanah sangat mempengaruhi jenis kegiatan yang mengambil
tempat pada lokasi tertentu masih tetap berlaku dan hal ini mendorong terjadinya konsentrasi
kegiatan tertentu pada lokasi tertentu. Von Thunen menggunakan contoh sewa tanah untuk
produksi pertanian, tetapi banyak ahli studi ruang berpendapat bahwa teori itu juga relevan
untuk sewa/penggunaan tanah di perkotaan dengan menambah aspek tertentu, misalnya
aspek kenyamanan dan penggunaan tanah di masa lalu. Penggunaan tanah di perkotaan tidak
lagi berbentuk cincin tetapi tetap terlihat adanya kecenderungan pengelompokan untuk
penggunaan yang sama berupa kantong-kantong, di samping adanya penggunaan berupa
campuran antara berbagai kegiatan. Penggunaan lahan memang berbeda antara satu kota
dengan kota lainnya. Namun, kecenderungan saat ini adalah pusat kota umumnya didominasi
oleh kegiatan perdagangan dan jasa, sedikit ke arah puar diisi oleh kegiatan industri kerajinan
(home industry) bercampur dengan perumahan sedang/kumuh. Perumahan elit justru
mengambil lokasi lebih ke arah luar lagi (mengutamakan kenyamanan). Industri besar
umumnya berada di luar kota karena banyak pemerintah kota melarang industri besar dan
yang berpolusi mengambil lokasi di dalam kota.
Teori lokasi von Thunen seperti dijelaskan di atas, dapat dipergunakan untuk
menjelaskan terjadinya alih fungsi lahan pertanian yang terjadi di Kabupaten Sleman. Alih
fungsi lahan sawah tidak terlepas dari situasi ekonomi di Kabupaten Sleman secara
keseluruhan. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi menyebabkan beberapa sektor ekonomi
tumbuh dengan cepat sehingga sektor tersebut membutuhkan lahan yang lebih luas. Lahan
sawah yang terletak dekat dengan sumber ekonomi akan mengalami pergeseran penggunaan
kebentuk lain seperti pemukiman, industri manufaktur dan fasilitas infrastruktur. Hal ini

terjadi karena land rent persatuan

luas yang diperoleh dari aktivitas baru lebih tinggi

daripada yang dihasilkan sawah.


2.3 Faktor-faktor yang Menentukan Konversi Lahan
Faktor-faktor yang mendorong dan mempengaruhi alih fungsi lahan (konversi) dari
lahan pertanian ke lahan non pertanian diantaranya adalah :
1. Faktor kependudukan, pesatnya peningkatan jumlah penduduk telah meningkatkan
permintaan tanah untuk perumahan, jasa, industri, dan fasilitas umum lainnya. Selain
itu, peningkatan taraf hidu masyarakat juga turut berperan menciptakan tambahan
lahan akibat peningkatan intensitas kegiatan masyarakat, seperti lapangan golf, tol,
pusat pembelanjaan, tempat rekreasi dan sarana lainnya.
2. Kebutuhan lahan untuk kegiatan non pertanian antara lain pembangunan real estate,
kawasan industri, perdagangan, dan jasa-jasa lainnya yang memerlukan lahn yang
luas, sbaian diantaranya berasal dari lahan pertanian termasuk sawah. Hal ini dapat di
mengerti, mengingat lokasinya dipilih sedemikian rupa sehingga dekat dengan
pengguna jasa yang terkonsentrasi di perkotaan dan wilayah disekitarnya (sub urban
area). Lokasi di sekitar kota, yang sebelumnya didomonasi oleh penggunaan lahan
pertanian, menjadi sasaran pengembangan kegiatan non-pertanian mengingat
harganya yang relatif murah serta telah di lengkapi dengan sarana dan prasarana
penunjang seperti jalan raya, listrik, telepon, air bersih dan fasilitas lainnya. Selain itu,
terdapat keberadaan sawah kejepit yakni sawah-sawah yang tidak terlalu luas karena
daerah sekitarnya sudah beralih menjadi perumahan atau kawasan industri, sehingga
petani pada lahan tersebut mengalami kesulitan mendapatkan untuk mendapatkan air,
tenaga kerja, dan sarana produksi lainnya, yang memaksa mereka untuk mengalihkan
atau menjual tanahnya.
3. Faktor ekonomi, yaitu tingginya land rent yang diperoleh dari aktivitas sektor non
pertanian dibandingkan sektor pertanian. Rendahnya insentif untuk berusaha tani

disebabkan oleh tingginya biaya produksi, sementara haga hasil pertanian relatif
rendah dan berfluktuasi. Selain itu, karena faktor kebutuhan keluarga petani yang
terdesak oleh kebutuhan modal usaha atau keperluan keluarga lainnya (pendidikan,
mencari perkerjaan non pertanian, atau lainnya), hal ini seringkali membuat petani
tidak mempunyai pilihan selain menjual lahan pertaniannya.
4. Faktor sosial budaya, antara lain keberadaan hukum waris yang menyebabkan
terfragmentasinya tanah pertanian, sehingga tidak memenuhi batas minimum skala
ekonomi usaha yang menguntungkan.
5. Degradasi lingkungan, antara lain kemarau panjang yang menimbulkan kekurangan
air untuk pertanian terutama sawah, penggunaan pupuk dan pestisida secara
berlebihan yang berdampak pada peningkatan serangan hama tertentu akibat
musnahnya predator alami dari hama yang bersangkutan, serta pencemaran air irigasi,
rusaknya lingkungan sawah sekitar pntai mengakibatkan terjadinya instrusi
(penyusupan) air laut ke daratan yang berpotensi meracuni tanaman padi.
6. Otonomi daerah yang mengutamakan pembangunan pada sektor menjanjikan
keuntungan jangka pendek lebih tinggi guna meningkatkan PAD yang kurang
memperhatikan kepentingan jangka panjang dan kepentingan nasional yang
sebenarnya penting bagi masyarakat secara keseuruhan.
7. Lemahnya sistem perundang-undangan dan penegakan hukum (law enforcment) dari
peraturan-peraturan yang ada.
2.3 Dampak Konversi Lahan
Dampak negatif terjadinya alih fungsi lahan diantaranya yaitu :
1)
2)
3)
4)
5)

Lahan pertanian semakin habis


Berkurang bahkan hilangnya penghasilan padi para petani
Krisis pangan
Pengangguan
Kekeringan, alih fungsi lahan juga memerlukan air yang banyak misalnya untuk

pemukiman.
6) Limbah (air, tanah, udara) berpotensi tercemar

7) Perubahan sosial, wilayah kecamatan atau desa yang biasanya tenang dan tentram
akan menjadi bising, bisa memunculkan emosi yang bisa memancing suatu konflik,
dan tentunya retaknya hubungan sosial antar masyarakat.
Alih fungsi lahan umumnya terjadi di wilayah perkotaan [urban] maupun perdesaan
[rural]. Ruang-ruang terbuka berupa lahan hijau dan produktif saat ini terus mengalami
penyusutan akibat pembangunan kota [urban sprawl] untuk pemukiman, industri, komersil,
dan peruntukan lainnya. Di wilayah perkotaan, alih fungsi lahan telah menjadi permasalahan
sosial, karena banyak lahan/ruang publik hijau dikonversi menjadi ruang komersil. Daerah
resapan semakin berkurang. UU. No. 26 tahun 2007 mengatur dengan tegas bahwa proporsi
Ruang Terbuka Hijau (RTH) pada wilayah kota minimal 30% dari luas wilayah, namun
pelaksanaannya masih mengalami kendala akibat pengendalian kebijakan spasial yang tidak
sungguh-sungguh.

DAFTAR PUSTAKA
Direktorat Pangan dan Pertanian, Strategi Pengendalian Alih Fungsi Lahan Pertanian, Direktorat Pangan dan
Pertanian, Jakarta, 2006, hal 5.
Rustiadi dkk, Perencanaan dan Pengembangan Wilayah, Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2009, hal. 66.

Tarigan, Perencanaan Pembangunan Wilayah, PT. Bumi Aksara, 2005, hal. 94.