Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PENDIDIKAN

INKLUSIF DI INDONESIA
OLEH FAHMI HARISTIAN FAUZI

Pendahuluan
Pendidikan merupakan hak asasi setiap
manusia
Di Indonesia, pendidikan merupakan salah
satu tujuan yang hendak dicapai oleh negara
Pendidikan yang tidak diskriminatif menjadi
agenda penting untuk diwujudkan.
Pendidikan yang tidak diskriminatif dalam
pelaksananannya memang belumlah seperti
apa yang diharapkan.

lanjutan
Masih terdapat kelompok-kelompok masyarakat
tertentu yang harus termarjinalkan dari pendidikan.
Satu dari sekian banyak kelompok tersebut adalah
kelompok anak dengan kebutuhan khusus (ABK)
Diskriminasi terhadap kelompok anak berkebutuhan
khusus dalam sistem pendidikan Indonesia secara
nyata dapat terlihat dari upaya pemisahan
(segregasi) satuan pendidikan dan ketidakmerataan
perbandingan jumlah antara satuan pendidikan
umum dengan sekolah luar biasa di suatu wilayah
yang cenderung tidak seimbang

Lanjutan
Pendidikan inklusif merupakan suatu kebijakan pendidikan
yang dikeluarkan pemerintah untuk memperluas akses
pendidikan bagi semua anak berkebutuhan khusus.

Akan tetapi, seperti beberapa kebijakan pendidikan lainnya,


pada pelaksanaanya kebijakan pendidikan inklusif nyatanya
memang

tidak

terlepas

dari

berbagai

permasalahan

sehingga sampai dengan saat ini belum bisa mencapai


tujuan yang diharapkan.

Pendidikan Inklusif
Pendidikan Inklusif merupakan
pengembangan dari konsep
Inklusi (inclusion) yang secara
harfiah berarti ketercakupan
atau disebut juga ketersertaan

KONSEP PENDIDIKAN INKLUSIF

Menurut Heijmen (Wasliman, 2009) inklusi pada hakekatnya sebuah


filosofi pendidikan dan sosial yang menitik beratkan pada sikap
menghargai keberagaman, menghormati bahwa semua orang adalah
bagian dari sesuatu yang berharga dalam kebersamaan di masyarakat,
apapun perbedaannya.

Stubbs dalam bukunya Inclusive Education Where There Are Few


Resources (2002: 38) Inklusi atau Pendidikan Inklusif bukan nama
lain untuk pendidikan kebutuhan khusus. Pendidikan inklusif
menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi
dan

mencoba

memecahkan

kesulitan

yang

muncul

di

sekolah....pendidikan kebutuhan khusus dapat menjadi hambatan


bagi perkembangan praktek inklusi di sekolah.

Sehingga terdapat perbedaan antara Pendidikan Khusus, Pendidikan


Integrasi dan Pendidikan Inklusif

KONSEP PENDIDIKAN INKLUSIF

1. Pemisahan
(segregasi)
2. Memandang anak
sebagai Masalah
3. Ingin menjadikan
anak

normal

1. Integrasi
2. Fokusnya masih

1.

Integrasi

2.

Sekolah menyesuaikan
dengan kebutuhan

terhadap anak
3. Anak

anak
3.

Pembelajaran

harusmenyesuaikan

ditujukan untuk

dengan sistem yang

mengembangkan

ada di sekolah

bakat dan potensi


istimewa dari anak
berkebutuhan khusus

PENDIDIKAN INKLUSIF SEBAGAI KEBIJAKAN PUBLIK


Pendidikan inklusif adalah sistem penyelenggaraan pendidikan yang
memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang memiliki
kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa
untuk mengikuti pendidikan atau pembelajaran dalam lingkungan
pendidikan

secara

bersama-sama

dengan

peserta

didik

pada

umumnya (Pasal 1)

Tujuan Pendidikan Inklusif (Pasal 2)antara lain :


1.memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada semua
peserta didik yang memiliki kelainan fisik, emosional, mental, dan
sosial, atau memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa
untuk

memperoleh

pendidikan

yang

bermutu

sesuai

dengan

kebutuhan dan kemampuannya;


2.mewujudkan

penyelenggaraan

pendidikan

yang

menghargai

keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik .

Implementasi Pendidikan Inklusif


Pada Tahun 2002 pemerintah secara resmi mulai melakukan
proyek ujicoba di di 9 propinsi yang memiliki pusat sumber.
Sejak saat itu lebih dari 1500 siswa berkelainan telah
bersekolah di sekolah reguler, dan pada tahun 2005
meningkat menjadi 6.000 siswa atau 5,11% dari seluruh
jumlah anak berkebutuhan khusus. Sedangkan pada tahun
2007 meningkat 7,5% menjadi 15.181 siswa yang tersebar
pada 796 sekolah inklusif yang terdiri dari 17 TK, 648 SD, 75
SLTP, dan 56 SLTA

Faktanya....
Berdasarkan data tersebut, diketahui bahwa mayoritas
sekolah inklusif di Indonesia atau sekitar 81, 40% masih
didominasi oleh Sekolah Dasar. Akan tetapi, bila dibandingkan
dengan jumlah seluruh SD yang ada di Indonesia yaitu
144.567, maka jumlah seluruh SD inklusif di Indonesia
sebenarnya baru mencapai 0,44%. Selanjutnya, dengan
mengambil angka kasar jumlah penyandang cacat usia
sekolah di Indonesia adalah 1,5 juta, maka jumlah anak
berkelainan yang terlayani pendidikannya melalui sekolah
inklusif sebenarnya baru mencapai 1% dari seluruh populasi
yang ada.

Di Bandung
Hasil penelitian Juang Sunanto (2009) pada beberapa
sekolah inklusif di Bandung menunjukan bahwa
implementasi pendidikan inklusif di Indonesia,
khususnya di Bandung masih dihadapkan kepada
berbagai isu dan permasalahan yang cukup kompleks
dan sifatnya masih mendasar, terutama terkait dengan
pemahaman inklusif itu sendiri dan implementasinya di
lapangan, kebijakan pemerintah dan kepala sekolah,
pembinaan professional guru, proses pembelajaran,
sistem dukungan, maupun penyiapan siswa.

Di Yogyakarta
DI Yogyakarta, sejak tahun 2001 pemerintah telah

melakukan uji coba penyelenggaraan pendidikan inklusif


di 12 sekolah, jumlah ini bertambah menjadi sebanyak
120 sekolah pada tahun 2008 dan pada tahun 2010
telah mencapai 168 sekolah inklusif. Namun secara
umum pendidikan inklusif di Daerah Istimewa Yogyakarta
nyatanya belum mampu memberikan akses pendidikan
setara. Saat ini, sekitar 1.400 anak berkebutuhan khusus
di Daerah Istimewa Yogyakarta belum tersentuh
pendidikan (Kompas Edisi 13 Januari 2010).

Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta bisa dikatakan sebagai wilayah yang

progresif dalam penyelenggaran pendidikan inklusif di


DI Yogyakarta. Pada tahun 2005 di Kota Yogyakarta
terdapat 10 sekolah inklusif yang terdiri atas 6 sekolah
inklusif jenjang pendidikan dasar dan 4 sekolah inklusif
jenjang pendidikan menengah. Jumlah ini kemudian
meningkat menjadi 20 sekolah pada tahun 2011, yang
terdiri atas 13 sekolah inklusif jenjang pendidikan dasar
dan 7 sekolah menengah

Kota Yogyakarta
Kota Yogyakarta merupakan satu-satunya wilayah di DI
Yogyakarta yang telah memiliki peraturan daerah
dalam mengatur penyelenggaraan pendidikan inklusif
yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Walikota No 47
tahun

2008

tentang

Penyelenggaraan

Inklusif di Kota Yogyakarta.

Pendidikan

Beberapa Permasalahan
Kurangnya sarana dan sumber belajar asesibilitas
untuk mengakomodasi kebutuhan mobilitas dan
belajar ABK;
Belum semua guru regular memiliki kompetensi
memberikan layanan ABK dan masih minimnya guru
khusus di sekolah inklusif, meskipun bukan suatu
keharusan (identik) antara guru khusus dan sekolah
inklusif;
Belum seluruh warga sekolah memiliki kesepahaman
tentang pendidikan inklusif dan layanan ABK;

Beberapa Permasalahan
Masih ada kesulitan menyelaraskan antara standar
layanan persekolahan reguler yang selama ini
berjalan dan variasi kebutuhan belajar Anak
Berkebutuhan Khusus (ABK);
Sekolah inklusif belum menerima siswa ABK;
Sekolah belum mampu menyediakan program yang
tepat, bagi ABK dengan kondisi kecerdasan di bawah
rata-rata (tunagrahita);
Belum ada sistem evaluasi hasil belajar (baik
formatif dan sumatif) yang tepat sesuai kebutuhan
ABK;

Beberapa Permasalahan
Masih adanya anggapan keberadaan ABK akan
mempengaruhi ketuntasan hasil belajar akhir tahun,
akibatnya ABK dipindahkan di SLB menjelang ujian;
Layanan inklusif masih belum menyatu dalam
sistem dan iklim sekolah, sehingga ada dua label
siswa, ABK dan reguler;
Belum semua pengambil kebijakan termasuk bidang
pendidikan memahami tentang sistem inklusif;
Secara pengelolaan pelaksanaan pendidikan inklusif
kurang dipersiapkan dengan komprehensif; dan
Belum optimalnya penyediaan bahan ajar sesuai
kebutuhan ABK. (Ishartiwi, 2010:2)

Fakta di Lapangan
Implementasi kebijakan pendidikan inklusif justru
cenderung meleset dari konsep.
Pendidikan inklusif cenderung dipersepsi sama
dengan pendidikan integrasi, sehingga masih
ditemukan keadaan dimana anak berkebutuhan
khusus yang harus menyesuiakan dengan sistem
sekolah. Padahal seharusnya penyelenggaraan
pendidikan
inklusif
menuntut
pihak
sekolah
melakukan penyesuaian baik dari segi kurikulum,
sarana parasarana pendidikan, maupun sistem
pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan
individu peserta didik.

Faktor-Faktor yang mempengaruhi


1. Kejelasan Standar dan Sasaran
Kebijakan;
2. Sumberdaya ;
3. Komunikasi; dan
4. Disposisi
(Fahmi Haristian Fauzi ,2011)

Rekomendasi
1. Pemerintah

harus

lebih

aktif

dalam

mensosialisasikan kebijakan pendidikan inklusif


kepada semua pihak, terutama pihak sekolah,
sehingga

pemahaman

sekolah

terhadap

kebijakan pendidikan inklusif menjadi lebih baik


2. Pemerintah sebaiknya lebih optimal dalam upaya
menyediakan

sumber

daya

penunjang

implementasi kebijakan pendidikan inklusif di


sekolah baik sarana dan prasarana, biaya, serta
ketersediaan guru pembimbing khusus yang
sesuai dengan kebutuhan anak berkebutuhan
khusus.

Rekomendasi
3. Sekolah dan stakeholders yang ada di dalamnya
diharapkan
terhadap

dapat

meningkatkan

implementasi

kebijakan

komitmen
pendidikan

inklusif di sekolah, antara lain dengan tidak


mempersulit
untuk

anak-anak

dapat

berkebutuhan

memperoleh

khusus

pendidikan,

memberikan program pembelajaran yang sesuai


dengan minat dan bakat istimewa yang dimiliki
oleh

setiap

siswa

serta

meningkatkan

kemandirian dan kreatifitas dalam menghadapi


kendala-kendala

dalam

pendidikan inklusif di sekolah.

penyelenggaran