Anda di halaman 1dari 11

Tinjauan Pustaka

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1


Triple-Reasortant (rH1N1)
pada Manusia

I Made Setiawan
Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. DR Sulianti Saroso

Absrak: Virus influenza A H1N1 pada saat pertama kali muncul dan beredar pada spesies
mamalia adalah sama, tetapi karena kecepatan perkembangan mutasi masing-masing virus
H1N1 unggas, babi, dan manusia berbeda, maka virus tersebut juga mempunyai antigenisitas
berbeda. Oleh karena itu, bila virus H1N1 babi dapat menginfeksi manusia, maka virus tersebut
akan cepat menyebar dan mungkin akan memberikan gejala penyakit yang lebih berat
dibandingkan H1N1 manusia musiman yang biasa menginfeksi manusia, terutama jika diinfeksi
oleh virus infulenza A babi H1N1 triple-reassortant babi-unggas-manusia. Cara penularan
penyakit yang disebabkan oleh influenza A babi H1N1 triple-reassortant pada manusia secara
pasti belum diketahui, tetapi diperkirakan sama dengan cara penularan virus influenza H1N1
yang menginfeksi manusia musiman. Neuraminidase inhibitor (oseltamivir dan zanamivir)
diperkirakan cukup efektif sebagai obat infeksi virus influenza A babi H1N1 triple-reassortant,
tetapi bukti klinis obat itu untuk virus rH1N1 belum ada. Untuk mencegah infeksi virus flu babi
pada manusia sebaiknya dengan mengimunisasi babi, unggas, dan manusia. Tetapi, vaksin
untuk virus H1N1 triple-reassortant sampai saat ini belum ada. Tindakan yang penting adalah
melakukan pencegahan pribadi dengan cukup istirahat, menggunakan masker bila dekat
penderita flu, cuci tangan, dan sebagainya.
Kata kunci: flu babi H1N1 triple-reassortant, mutasi, pengobatan, pencegahan.

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009


526

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manus


ia

Infection of Swine Influenza A H1N1 Triple-Reassortant (rH1N1)


Virus in Human
I Made Setiawan
Prof. Dr. Sulianti Saroso Infection Disease Hospital

Abstract: At the first emergence of influenza A H1N1 virus in mammals (human and swine) and
bird, species of the viruses had the same genetic and antigenic. But, because of the difference in
gene mutation rate of swine, bird and human influenza A H1N1 viruses, each of these viruses has
different antigenicity. Therefore, when swine influenza A H1N1 infect human, this virus spreads
very vast and with a few more severe signs and symptoms, especially when infected by swine
influenza A H1N1 triple-reassortant virus, compared with human H1N1 virus which infect seasonally. The spreading of this virus is not known, but it may be the same with the spreading of
human influenza A H1N1 virus that infect seasonally. Neuraminidase inhibitor drugs (oseltamivir
or zanamivir) may be effective to treat patients infected by swine flu rH1N1, although there are no
evidence bases of the drugs for the noval virus. To prevent infection of this virus to human, the
swine, bird and human should be immunized. But the vaccine for this noval virus for human now
is still in research. The most important thing that the people must do to prevent infection are to take
enough rest, use masker when contact with flu patient, always washing hand, etc.
Key word: Swine flu H1N1 triple-reassortant, Mutation, therapy, prevention

Pendahuluan
Virus influenza A adalah virus yang sangat infeksius
pada berbagai spesies termasuk manusia. Virus tersebut terdiri
atas 16 subtipe hemagglutinin (HA) dan 9 subtipe neuraminidase (NA) yang semuanya terdapat pada burung air (waterfowl) dan burung laut (seabirds). Virus tinggal pada burungburung ini selama berabad-abad dan tidak virulen, tetapi
bila menyerang spesies lain ia menjadi virulen.1,2
Saat ini, ada beberapa subtipe virus influenza A yang
beredar dan menginfeksi babi. Pada tahun 1930 dan 1990,
virus influenza A yang paling banyak beredar serta
menginfeksi babi adalah virus influenza babi klasik H1N1
(cH1N1). Dari tahun ke tahun, gen virus tersebut hanya
sedikit mengalami perubahan, tetapi sesudah tahun 1990
muncullah beberapa galur dan subtipe virus influenza A
triple-rassortant, di antaranya adalah rH1N1, rH3N2, dan
rH1N2. Genom virus itu merupakan kombinasi genom yang
berasal dari virus influenza A burung, babi, dan manusia,
yang sekarang sangat banyak beredar di peternakan babi di
Amerika Utara.3,4
Babi diperkirakan merupakan tempat mencampur gen
virus influenza burung, babi, dan manusia yang mengakibatkan terjadi mutasi shift (reassortment). Peristiwa itu
memegang peranan penting munculnya virus influenza baru
yang mampu menyebabkan pandemi pada manusia.3 Laporan

akhir-akhir ini tentang penularan luas virus influenzaArH1N1


babi pada manusia di Meksiko,Amerika Serikat, dan di negara
lain, merupakan tanda timbulnya masalah kesehatan secara
global.4
Virologi
Virus Influenza A adalah virus berselubung, dengan
genom terdiri atas 8 segmen gen RNA untai tunggal sense
negatif yang terpisah, mengkode 10 protein utama. Protein
hemaglutinin (HA atau H) adalah glikoprotein besar yang
dihubungkan-N menonjol dari permukaan selubung virus
sebagai trimer. Pada saat virus akan menginfeksi sel pejamu,
HA berikatan dengan reseptor yang mengandung sialic acid
yang terdapat pada permukaan sel pejamu, kemudian terjadi
fusi antara sel dan virus setelah HA dipotong secara
proteolitik menjadi segmen HA1 dan HA2.5,6 HA1 berbentuk
kepala globuler protein besar dan mengandung situs pengikat
reseptor, serta merupakan situs antigenik utama menempelnya
antibodi netralisasi. Situs antigenik tersebut adalah Ca, Cb,
Sa dan Sb yang ditemukan pada H3 dan H1 dari protein HA.6
Neuraminidase (NA atau N) merupakan glikoprotein
selubung yang kedua. Protein NA tetrameric memotong sialic
acid dari residu gula yang berdekatan. NA mungkin berfungsi
untuk mencegah agar tidak terjadi agregasi virion dan untuk
meningkatkan lepasnya virion yang mengalami budding.5.6

527
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manusia

Meningkatnya kekuatan fungsi pengikatan HA dan enzimatik


NA secara bersama-sama dapat mengoptimalkan replikasi
virus.6 Selain itu, NA pada virus influenza dapat menginduksi
terjadinya apoptosis atau matinya sel yang terprogram dan
berfungsi sebagai faktor virulensi dengan mengikat dan
mengaktivasi plasminogen dengan meningkatkan pemotongan HA.7 Walaupun demikian, peranan NA secara
keseluruhan di dalam siklus hidup virus masih belum jelas.8
Terdapat 16 subtipe HA dan 9 subtipe NA yang dapat
dibedakan secara genetik dan antigenik, sehingga virus diberi
nama H1N1, H3N2, H2N2, dst. Berdasarkan sejarah perkembangannya, subtipe virus influenza A hanya sedikit yang
dapat diisolasi dari spesies mamalia. Misalnya yang dapat
diisolasi dari manusia hanya H1N1, H2N2, dan H3 N2, yang
dapat diisolasi dari kuda adalah H3N8, H7N7, dan dari babi
adalah H1N1, H3N2, dan H1N2. Sebaliknya, burung air (waterfowl) dapat diinfeksi saluran cernanya secara subklinik
oleh semua subtipe virus influenza A (H1-16 dan N1-9).
Dengan demikian, burung air merupakan sumber virus influenza secara global di alam.6

Dengan 8 segmen RNA yang bebas, dari dua induk virus


mungkin akan diperoleh sebanyak 256 genotipe virus yang
berbeda, sehingga reassortment merupakan mekanisme yang
sangat kuat untuk membentuk perbedaan genetik. Kedua
metode antigenik shift sudah dapat dibuktikan pada virus
influenza manusia. Beredarnya virus influenza A H5N115 dan
H9N216 pada populasi manusia di Asia Tenggara tahun 1997
dan 1999 merupakan contoh penularan interspesies virus flu
burung secara in toto. Peristiwa pandemi influenza manusia
1957 dan 1968 juga sebagai akibat reassortment virus influenza manusia.17,50 Demikian juga munculnya H1N1 reassortant
(rH1N1) merupakan triple-reassortment influenza babi,
unggas, dan manusia yang mengakibatkan pandemi influenza saat ini.18
Peristiwa reassortment tidak terjadi langsung pada
manusia atau burung dan peristiwa tersebut diperkirakan
terjadi pada babi. Virus influenza burung lebih suka berikatan
pada sel yang mempunyai molekul reseptor dengan 2,3
hubungan sialic acid dan galaktose (terdapat pada sel epitel
intestinal bebek, tetapi tidak ditemukan pada saluran napas
manusia), sedang virus influenza manusia lebih suka
berikatan dengan molekul reseptor 2,6 hubungan sialic acid
dan galaktose (terdapat pada sel epitel trakea manusia) tetapi
tidak terdapat pada saluran cerna burung.19 Akibatnya, virus
influenza manusia tidak dapat bereplikasi secara efisien pada
burung, demikian juga sebaliknya, virus influenza burung
tidak dapat bereplikasi secara efisien pada manusia.11
Sebaliknya babi sangat unik dan rentan terhadap infeksi virus influenza burung maupun manusia karena sel epitel pada
trakeanya terdapat kedua molekul reseptor 2,3 dan 2,6.19
Berdasarkan hal tersebut, babi dianggap sebagai tempat
percampuran, sehingga terjadi reassortment antara manusia
dan burung.2,10,17 Untuk mendukung teori ini, virus influenza
reassortant manusia-burung telah diisolasi dari babi yang
dijual secara komersial di Eropa.15 Demikian juga, virus influenza manusia ataupun burung dapat diisolasi dari babi di

Gambar 1. Virus Influenza A5

Brazil dan Thailand.20,21

Genom virus terdiri atas 8 segmen: segmen 1: PB1=gen


PB1 polymerase untuk transkripsi; segmen 2: PB2=gen PB2 Virus Influenza A yang Menginfeksi Manusia
polymerase untuk transkripsi dan replikasi; segmen 3: PA=gen
Sejak dua setengah abad yang lalu diperkirakan telah
PA polymerase transcriptase fungsi belum diketahui; segme terjadi 10 sampai 20 kali pandemi influenza pada manusia
n
yang melanda seluruh dunia dan yang paling banyak menelan
4: HA=gen hemaglutinin untuk fusi dengan sel; segmen 5:
korban adalah pandemi flu Spanyol yang menyebabkan 200
NP=gen protein nukleokapsid untuk mensintesis RNA;
juta orang sakit dan sekitar 20 juta orang meninggal. Virus
segmen 6: NA=gen neuraminidase untuk memotong HA;
influenza yang menyebabkan pandemi tersebut adalah
segment 7: M=gen matrik protein dan kanal ion; segmen 8:
H1N1.1
NS=gen protein nonstruktural, nukleus.
Selanjutnya, sejak virus influenza manusia pertama kali
Selain glikoprotein HA dan NA, virion influenza juga
ditemukan pada tahun 1933, terjadi pandemi Asia tahun 1957
mengandung dua protein struktural besar yang lain yaitu,
disebabkan oleh virus influenza A baru H2N2 dan pandemi
nukleoprotein (NP) mengenkapsidasi RNA virus. Protein
Hong Kong tahun 1968 disebabkan oleh virus influenza
matrix M1 berinteraksi dengan NP dan ekor sitoplasmik prosubtipe H3N2. Virus influenza H1N1 yang beredar sejak
tein HA dan NA, sehingga terbentuk struktur kerangka virion. pandemi Spanyol, tidak muncul mulai tahun 1977. Dari
adanya penularan virus antar spesies in toto atau melalui
masing-masing virus subtipe baru yang pertama muncul
reassortment genetik antara virus yang beredar saat ini di
adalah di China dan epidemi sebelumnya juga berasal dari
dalam populasi dengan satu atau dua virus yang baru.11
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009
528

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manus


ia

H1N1 endemik pada manusia termasuk galur yang


menyebabkan pandemi Spanyol tahun 1918. Galur H1N1 yang
kurang virulen masih banyak beredar pada manusia saat ini
dan menyebabkan penyakit flu yang ringan dan sebagai
penyebab sebagian dari flu musiman. Galur H1N1 yang lain
juga masih endemis pada populasi babi dan unggas.18
Varian Virus Influenza Babi H1N1 Klasik (cH1N1) dan
Varian lain
Pada tahun 1931 pertama kali diketahui virus influenza
dapat menginfeksi saluran napas babi. Tiga tahun berikutnya
baru diketahui virus influenza dapat menyebabkan infeksi
pada manusia.22 Sejak itu, virus influenza A babi H1N1 klasik
Gambar 2. Subtipe Virus Influenza A yang Beredar pada Po- (cH1N1) beredar dan menginfeksi babi secara rutin diAmerika
Utara. Virus tersebut dominan menginfeksi babi selama 60
pulasi Manusia.18
tahun.3,23
Dari tahun 1965 sampai 1980, virus influenza babi H1N1
China. Dari bukti virologi dan serologi ternyata sejak tahun
klasik di Amerika Serikat secara genetik dan antigenik masih
1889 terjadi 6 peristiwa munculnya subtipe HA yang lama
sangat terlindung. Pergantian asam amino sebagai akibat
menghilang dari peredaran pada populasi manusia. Tiga
mutasi drift segmen protein HA1 virus influenza babi adalah
subtipe HA virus influenza manusia muncul secara bergantian
0,4-0,48%/tahun,24 sedangkan virus influenza H1N1 manusia
yaitu, virus H2 pada tahun 1889, H3 tahun 1900, H1 pada
tahun 1918, H2 muncul kembali pada tahun 1957, H3 muncul 0,8%/tahun.12Akhir-akhir ini telah ditemukan berbagai varian
antigenik dan genetik H1 virus flu babi. Pada segmen HA1
kembali 1968, dan H1 muncul kembali tahun 1977. Hasil
virus tersebut mengandung mutasi 18 asam amino. Virus itu
analisis filogenetik memperlihatkan bahwa virus H1N1 yang
betul-betul baru dan asli dari burung (tidak virus reassortant) tidak dapat bereaksi dengan 2 sampai 4 antibodi monoklonal
yang digunakan untuk mengidentifikasi virus HA1 influenza
muncul pada manusia atau babi sebelum pandemi influenza
babi yang klasik. Mutasi itu juga terjadi pada situs antigenik
1918 dan menggantikan galur virus influenza sebelumnya.
Ca dan Sb dan satu mutasi dengan penambahan situs
Apakah virus pertama masuk ke populasi manusia
glikosilasi yang sangat penting. Virus H1N1 juga sangat
selanjutnya ditularkan ke populasi babi, atau sebaliknya,
menarik karena menyebabkan suhu tubuh penderita sangat
masih belum diketahui dengan pasti. Tempat sembunyi vitinggi (>42oC) dan menyebabkan kelainan paru yang tidak
rus influenza H1N1 yang muncul di Rusia tahun 1977 masih
khas, dan sangat berbeda dengan kelainan yang ditimbulkan
belum diketahui dengan jelas.1,50 Sampai sekarang virus inoleh virus influenza babi yang klasik.25
fluenza A banyak beredar pada populasi manusia adalah viPada tahun 1997 dan 1998 virus diisolasi sebanyak 26
rus influenza A subtipe H3N2 dan H1N1.18
isolat dari sekelompok babi di Amerika Serikat bagian Utara
Virus influenza A subtipe H1N1 merupakan penyebab
dan Tengah. Berdasarkan gambaran reaksi antibodi moinfluenza yang paling banyak pada manusia. Beberapa galur
Virus influenza A Babi H1N1
Triple-Reassortant
PB2
PB1
PA
HA
NP
NA
M
NS

Virus influenza A Babi H1N2


Triple-Reassortant

PB2
PB1
PA
HA
NP
NA
M
NS
Babi klasik, garis keturunan amerika Utara
Burung, garis keturunan Amerika Utara
H3N2 Manusia (musiman)
H1N1 Manusia (musiman)

Virus influenza A Babi H3N2


Triple-Reassortant
PB2
PB1
PA
HA
NP
NA
M
NS

HA=gen hemaglutinin, M=gen protein matric, NA=gen neuraminidase, NP=gen protein nukleokapsid,
NS=gen protein nonstrukturak, PA=gen PA polymerase, PBI=gen polymerase, dan PB2=gen PB2 polymerase
Gambar 3. Komponen Genetik Virus Influenza A babi (H1) Triple-reassortment yang Diisolasi dari 11 Penderita
di Amerika Serikat pada Bulan Desenber 2005 - Februari 2009 dan H3N2 Triple-Reassortment.4,23
529
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manusia


sebanyak 3-5% dan perbedaan asam mino sebanyak 2-5%
dibandingkan isolat virus flu babi tahun 1988.6,26
noklonal isolat virus tersebut dibagi menjadi 7 kelompok
Pada tahun 1998 virus influenza H3N2 mulai muncul
antigenik. Setelah diadakan analisis sekuens gen HA dari 11
dan menginfeksi populasi babi di seluruh Amerika Serikat.
isolat tersebut ternyata ditemukan perbedaan nukleotida
Ternyata virus tersebut adalah virus H3N2 triple-

reassortment (rH3N2). Selanjutnya terjadi reassortmen


t
antara rH3N2 dengan virus influenza babi cH1N1 sehingga
timbul reassortant baru rH1N2 dan rH1N1 yang kemudian
menginfeksi babi secara luas diAmerika Serikat. Virus rH3N2
dan rH1N2 juga dapat diisolasi dari kalkun dan bebek di
Amerika Serikat.3,23

negara harus meningkatkan sistem survelans.18


Pada tanggal 29 April komite kedaruratan kesehatan
dunia mengumumkan pandemi influenza meningkat dari fase
4 menjadi fase 5. Hal tersebut berarti, WHO sudah melihat
tanda-tanda pandemi semakin jelas dengan bukti jumlah kasus
makin meningkat dan makin meluas ke barbagai negara.41
Selanjutnya, kasus infeksi virus influenza A rH1N1 makin
Virus Influenza A Babi H1N1 Menginfeksi Manusia lama makin bertambah mencapai 30 000 kasus dan terbanyak
di Amerika Serikat, Kanada, Meksiko, kemudian menyebar ke
Kasus dan klaster infeksi virus influenza cH1N1 babi
seluruh dunia meliputi 53 negara termasuk Indonesia. Pada
pada manusia sudah ada secara sporadis di Amerika Serikat
tanggal 11 Juni 2009, WHO mengumumkan pandemi influ27-30
sejak tahun 1970an.
Sampai tahun 2005, the Center for
enza rH1N1 sudah sampai ke fase 6.42
Disease Control and Prevention (CDC) menerima 1-2
kasus
Virulensi Virus Influenza Reassortant
infeksi virus flu babi klasik pada manusia setiap tahun.4
Kecepatan evolusi virus influenza burung, babi, dan
Sebelum epidemi virus influenzaA(rH1N1) babi pada manusia
manusia adalah berbeda. Kecepatan evolusi gen virus influyang terjadi saat ini telah ditemukan lebih dari 50 kasus infeksi
enza pada burung lebih lambat dibandingkan dengan virus
virus influenza babi pada manusia di seluruh dunia yang
influenza babi maupun manusia. Kecepatan evolusi gen vimengakibatkan 7 orang meninggal; ada yang sebelumnya
rus influenza babi jauh lebih rendah dibandingkan dengan
sehat dan ada juga yang menderita penyakit tertentu tergen virus influenza manusia. Oleh karena itu, sebagai akibat
masuk ibu hamil dan anak yang menderita immunocomproperbedaan kecepatan itu susunan gen masing-masing virus
31-33
mised.
Infeksi ini sebagian besar disebabkan oleh virus
akan berbeda, sehingga susunan asam amino dari masinginfluenzaAbabi klasik H1N1. Tanda dan gejala penyakit yang
masing proteinnya juga berbeda.1,10 Dengan demikian, epitop
disebabkan infeksi virus influenza babi klasik tidak berbeda
antigenik dari masing-masing virus juga berbeda. Sebagai
dengan infeksi virus influenza manusia musiman.33
contoh, H1 virus influenza burung akan berbeda dengan H1
Sampai April 2009, belum ada bukti kuat adanya
virus influenza babi maupun H1 virus influenza pada manusia;
penularan virus influenza babi dari manusia ke manusia, bila
demikian juga, N1 dari virus influenza burung berbeda dengan
4
ada hanya sedikit, tetapi pada bulan Maret sampai April
N1 virus influenza babi maupun manusia. Oleh karena itu,
2009 dilaporkan dua kasus dengan penularan sangat jelas
antibodi spesifik terhadap masing-masing antigen tidak dapat
34,51
dari manusia ke manusia. Berdasarkan penelitian serologis
mengadakan reaksi silang dengan antigen virus lain.4
juga dilaporkan bahwa orang yang bekerja dekat dengan
Akibatnya, virus influenza A H1N1 babi tampak sedikit lebih
peternakan babi mempunyai risiko tinggi untuk mendapat
virulen bila menginfeksi manusia dibandingkan dengan vi4,35-38
infeksi flu babi.
rus influenza H1N1 manusia, karena mempunyai beberapa
Pada tahun 2005 mulai dilaporkan virus influenza babi
epitop berbeda. Virus influenza H5 menginfeksi manusia akan
H1 triple-reassortment yang menginfeksi manusia. Di luar
lebih virulen, karena virus H5 sama sekali belum pernah
Amerika Serikat terdapat 2 laporan kasus infeksi virus influmenginfeksi manusia dan mempunyai struktur protein yang
enza babi triple-reassortant, tetapi, kedua kasus itu adalah
sangat berbeda dengan virus influenza A manusia H1, H2,
23,39
infeksi virus influenza rH3N2.
Pada bulan Desember 2005
dan H3, yang sudah menginfeksi manusia sejak lama.
sampai Februari 2009 CDC menerima 11 laporan kasus infeksi
4,40
virus influenza A babi H1 reassortant pada manusia.
Karakteristik Penderita Terinfeksi Virus Influenza rH1N
Pada bulan Maret 2009, di Meksiko ditemukan pe1
ningkatan jumlah kasus penyakit saluran napas akut yang
Analisis laporan kasus 11 penderita bulan Desember
tidak biasa terjadi. Pada tanggal 18 April di Amerika Serikat
2005 sampai Februari 2009, menunjukkan bahwa umur
dilaporkan dua kasus flu babi H1N1 triple-reassortant yang penderita berkisar antara 16 bulan sampai 48 tahun dengan
berasal dari unggas, babi, dan manusia. Selanjutnya, pada
nilai tengah umur 10 tahun. Delapan penderita berumur kurang
tanggal 25 April, WHO menyatakan KLB flu babi rH1N1 di
dari 18 tahun; 7 penderita laki-laki. Beberapa penderita
Amerika Utara merupakan keadaan darurat kesehatan
mempunyai hubungan keluarga. Sebagian besar penderita
masyarakat yang harus diwaspadai dan masing-masing
pernah terpapar dengan babi. Dari data tersebut dapat
disimpulkan bahwa sampai bulan Februari 2009 sebagai
sumber utama penularan masih berasal dari babi. Penularan
530
dari manusia ke manusia sangat terbatas.4
Berbagai karakteristik klinik dari 11 penderita dianalisis.
Empat dari 11 penderita (36%) sudah mempunyai penyakit
sebelum terserang influenza rH1N1: asma 2 orang, immunodefisiensi 1 orang, dan eksim 1 orang. Tiga orang sudah
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manus


ia
sakit dan 2 penderita memerlukan perawatan dengan bantu
an
mendapat imunisasi influenza musiman sebelum terserang
ventilator, tetapi, tidak satupun dari penderita yang m
influenza rH1N1. Hanya 3 dari penderita dirawat inap di rumah
e-

ninggal.4
enza A rH1N1 baru pada manusia, kemungkinan penularan
Masa inkubasi penyakit 3,5 hari (berkisar 3-9 hari). Gejala yang dianggap paling umum dari penderita adalah melalui
klinis yang ditemukan adalah panas 9 orang, batuk 10 orang,
kontak yang erat. Seluruh sekresi saluran napas dan cairan
nyeri kepala 6 orang, nyeri tenggorokan 6 orang, mencret 3
yang lain (cairan diare penderita rH1N1 sebaiknya dianggap
orang. Nyeri otot, muntah, dan napas pendek masing-masing
sangat infeksius).42
dilaporkan 2 orang. Satu orang menderita konjungtivitis.
Median suhu dari penderita yang demam adalah 39,7oC
Orang yang Berisiko Tinggi Bila Terinfeksi Virus Influ(berkisar 38,5-40,4oC). 4
enza rH1N1
Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium dan tes
Menurut Center for disease control and preventions
virologi ternyata semua penderita (11 orang) terinfeksi oleh
(CDC and Prevention)Amerika Serikat, kelompok orang yang
virus influenza A H1 triple-reassortment; yaitu 10 orang dianggap mempunyai risiko tinggi untuk mendapat komplikasi
terinfeksi virus subtipe rH1N1 dan 1 orang terinfeksi virus
infeksi virus influenza rH1N1 adalah sama dengan kelompok
influenza subtipe rH1N2.4 Gen hemagglutinin (HA) virus inorang yang mempunyai risiko tinggi untuk mendapat
fluenza A babi (H1) triple-reassortant dapat diisolasi dari 5 komplikasi jika diinfeksi oleh influenza musiman. Kelompok
penderita berasal dari dua garis keturunan filogenetik yang
tersebut adalah:42
berbeda yang beredar saat ini pada populasi babi di Amerika
1. Anak berumur di bawah 5 tahun dan yang mempunyai
Utara yaitu, swH1-beta dan swH1 gama. Protein H di antara
risiko paling tinggi adalah anak yang berumur kurang
satu garis keturunan mempunyai persamaan asam amino 98dari 2 tahun
100%, sedangkan di antara dua garis keturunan mempunyai
2. Orang dewasa yang berumur lebih dari 65 tahun
perbedaan hampir 50% asam amino. Jika dibandingkan
3. Orang yang menderita:
dengan H1 nenek moyang pada saat baru terbentuk dan H1
- Penyakit paru kronis (termasuk asma), penyakit
virus influenza yang beredar secara musiman, berbeda
kardiovaskuler (kecuali hipertensi), penyakit neurosebanyak lebih dari 100 asam amino. Dari hasil penelitian
logis, penyakit ginjal, hepar, hematologis (termasuk
permulaan ternyata tidak terjadi reaksi silang antara antisepenyakit sel sickle), neuromuskuler, penyakit
rum terhadap virus influenza babi H1 reassortant dengan
metabolik (termasuk diabetes)
virus influenza A H1 manusia yang menginfeksi musiman,
- Penyakit imunosupresif, termasuk yang disebabkan
tetapi, seluruh isolat dari 11 penderita tidak ada yang resisten
oleh obat dan HIV.
terhadap adamantan amantadin dan rimantadin, serta
- Ibu hamil
- Orang yang berumur kurang dari 19 tahun yang
mendapat pengobatan aspirin jangka panjang
- Orang yang bekerja di rumah perawatan dan fasilitas
perawatan penyakit kronis lain
neuraminidase inhibitor oseltamivir dan zanamivir.4
Pemeriksaan Laboratorium untuk Mendeteksi Virus
Reassortant
Cara Penularan Virus Influenza rH1N1
Pada tes inhibisi hemaglutinasi (HI) isolat umumnya
Saat ini cara penularan virus ifluenza A rH1N1 sedang
dipelajari dan merupakan bagian dari penelitian pandemi yang tidak dapat dihambat oleh antiserum yang spesifik terhadap
virus influenza A manusia musiman, tetapi, galur virus
sedang terjadi. Data terbatas memperlihatkan bahwa virus
reassortant umumnya dapat dihambat oleh antiserum
tersebut ditularkan dengan cara yang sama dengan virus
terhadap virus babi H1N1. Umumnya antibodi yang terbentuk
influenza yang lain. Virus influenza manusia menular antar
manusia terutama melalui droplet partikel besar saluran napas tidak bereaksi silang dengan virus influenza A manusia.4,39
Untuk memastikan diagnosis umumnya dilakukan biakan
(misalnya, pada saat penderita batuk atau bersin dekat dengan
virus, tetapi membutuhkan waktu yang lama dan tekniknya
seseorang yang rentan). Dalam penularan itu perlu kontak
sangat rumit. Tes umum yang dilakukan saat ini adalah dengan
erat antara penderita sebagai sumber dengan orang yang
rentan sebagai penerima, karena droplet tidak masih melayang pemeriksaan PCR menggunakan primer spesifik. Tes itu
di udara dan umumnya bergerak hanya dalam jarak yang mempunyai keuntungan karena dapat mendeteksi virus yang
jumlahnya sedikit dan juga dapat mendeteksi virus yang
pendek (kurang dari 6 kaki). Cara penularan yang lain juga
sudah mati.18
dapat terjadi yaitu, kontak dengan permukaan yang
terkontaminasi dan penularan melalui nukleus droplet yang
Pengobatan
sangat kecil (juga disebut penularan dengan cara airborne).
Obat Antivirus
Peran dari cara penularan terakhir masih belum jelas pada
epidemiologi influenza. Karena data penularan virus rH1N1
Berdasarkan hasil penelitian ternyata sudah banyak vimasih sangat terbatas, adanya infeksi pada mata, konjungtiva,
rus influenza H1N1 yang menginfeksi manusia musiman
dan saluran cerna masih belum diketahui. Karena virus influsudah resisten terhadap obat antivirus neuraminidase inMaj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

531

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manusia


zanamivir dan oseltamivir, tetapi resisten terhadap ob
at
hibitor,43-45 tetapi, data tentang resistensi virus influenza
antivirus M2 inhibitor adamantan seperti amantadin d
rH1N1 (flu babi yang menyebabkan pandemi saat ini) belum
an
ada. Walaupun demikian, menurut CDC, virus rH1N1 sensitif
rimantadin.46 Jadi untuk pengobatan infeksi virus influenza
terhadap obat antivirus neuraminidase inhibitor seperti,

rH1N1 disarankan menggunakan oseltamivir atau zanamivir.


Saran pemakaian obat tersebut akan diubah bila sudah ada
data lain tentang efektivitas obat, bila timbul efek samping
obat, dan ada data suseptibilitas dari obat. Hal yang penting
adalah sebelum memberikan obat harus dilakukan pertimbangan klinis secara hati-hati. Jika seseorang diduga
terinfeksi influenza rH1N1 tetapi suhu tubuh tidak meningkat,
maka obat antivirus tidak perlu diberikan, kecuali penderita
mempunyai risiko untuk mendapat komplikasi. Jadi obat
tersebut disarankan diberikan kepada:42
1. Seluruh penderita yang dirawat di rumah sakit, yang
diperkirakan menderita infeksi virus influenza rH1N1
2. Penderita yang mempunyai risiko mendapat komplikasi
bila terinfeksi rH1N1
Jika penderita tidak mempunyai risiko atau tidak dirawat
di rumah sakit, sebagai petunjuk untuk memutuskan memberikan pengobatan, dokter sebaiknya menggunakan
pertimbangan klinik. Pengobatan penderita anak-anak harus
hati-hati. Banyak anak yang tidak mempunyai risiko tinggi
untuk mendapat komplikasi sebagai akibat infeksi influenza
rH1N1 mengalami penyembuhan sendiri sama dengan jika
terinfeksi virus influenza musiman. Pemakaian antivirus pada
kelompok tersebut manfaatnya sedikit. Oleh karena itu,
pengobatan harus ditujukan terutama kepada penderita yang
dirawat dan kelompok penderita yang mempunyai risiko
tinggi.42
Bila pemberian obat antivirus sudah diputuskan, maka
zanamivir atau oseltamivir harus diberikan secepat mungkin
sesudah timbulnya gejala. Pegobatan antivirus pada penderita
influenza musiman sangat bermanfaat bila mulai diberikan
dalam 48 jam munculnya gejala penyakit. Beberapa penelitian
tentang pengobatan oseltamivir pada penderita influenza
musiman yang dirawat di rumah sakit memberikan keTabel 1. Dosis Antivirus untuk Pengobatan Infeksi Virus In
fluenza rH1N142
Obat

Pengobatan/Dosis

Oseltamivir
Dewasa
Anak >12 bulan

Peroral
75 mg 2 kali/hari selama 5 hari
60 mg/hari dibagi 2 dosis
90 mg/hari dibagi 2 dosis
120 mg/hari dibagi 2 dosis
150 mg.hari dibagi 2 dosis

Zanamivir
Dewasa
Anak

<15 kg
16-23 kg
24-40 kg
>40 kg

5 mg Inhalasi 2 kali/hari
5 mg Inhalasi 2 kali/hari (umur
>7 tahun)

532

untungan termasuk menurunnya angka kematian selama


dirawat, walaupun penderita mulai mendapat obat sesudah
48 jam munculnya gejala penyakit. Lamanya pemberian obat
oseltamivir adalah 5 hari. Dosis pemberian obat dapat dilihat
pada Tabel 1 dan Tabel 2.42
Anak Umur Di bawah 1 tahun
Anak yang berumur di bawah 1 tahun mempunyai risiko
tinggi untuk mendapat komplikasi akibat infeksi virus influenza musiman. Karakteristik infeksi virus influenza A rH1N1
pada manusia sedang dipelajari dan belum diketahui apakah
bayi mempunyai risiko tinggi untuk mendapat komplikasi
sebagai akibat infeksi virus influenza A rH1N1 jika dibandingkan dengan anak yang berumur lebih tua atau orang
dewasa. Oseltamivir tidak diijinkan untuk diberikan kepada
anak yang berumur kurang dari 1 tahun. Berdasarkan data
yang terbatas pengobatan oseltamivir untuk infeksi influenza musiman pada anak kurang dari 1 tahun ternyata efek
samping yang timbul sangat jarang.42
Tabel 2. Dosis Oseltamivir untuk Pengobatan Anak Berumur
Kurang dari 1 tahun42
Umur
< 3 bulan
3-5 bulan
6-11 bulan

Dosis pengobatan untuk 5 hari


12 mg dua kali/hari
20 mg dua kali/hari
25 mg dua kali/hari

Karena bayi mempunyai angka kesakitan dan kematian


sangat tinggi bila terserang virus influenza, maka bayi yang
terinfeksi virus influenza rH1N1 akan memperoleh keuntungan
bila diberikan obat oseltamivir. Dokter yang merawat harus
menyadari kurangnya data dosis dan keamanan bila akan
memberikan oseltamivir pada bayi muda yang terinfeksi virus influenza A rH1N1 dengan gejala yang berat dan harus
diamati secara cermat tentang adanya efek samping.42
Ibu hamil
Ibu hamil mempunyai risiko tinggi untuk terjadi
komplikasi bila terinfeksi virus influenza musiman. Penyakit
berat pernah dilaporkan pada ibu hamil pada pandemi yang
lalu. Pernah dilaporkan kasus ibu hamil yang terinfeksi virus
influenza A rH1N1 menderita penyakit yang berat dan pada
tahun 1988 seorang ibu hamil dilaporkan meninggal setelah
terinfeksi virus influenza babi.32 Studi pengobatan oseltamivir
dan zanamivir pada ibu hamil belum pernah dilakukan.
Walaupun sedikit efek samping yang ditemukan pada ibu
hamil yang mendapat oseltamivir, ternyata efek samping
tersebut tidak mempunyai hubungan dengan pemberian obat
oseltamivir. Oleh karena itu, sebaiknya pemberian oseltamivir
maupun zanamivir tidak merupakan kontraindikasi untuk ibu
hamil. Untuk ibu hamil mungkin lebih baik diberikan zanamivir,
karena absorpsi sistemik terbatas, tetapi sering disertai
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manus


ia
komplikasi saluran napas, karena pemberiannya lewat saluran
napas, terutama pada perempuan yang mempunyai risiko
untuk mendapat komplikasi saluran napas.42

Pertimbangan Khusus untuk Anak


Aspirin atau obat yang mengandung aspirin (misal bi
s-

muth subsalisilat-PeptoBismol) sebaiknya jangan diberikan


kepada setiap orang yang berumur kurang dari 18 tahun yang
sudah diduga menderita penyakit influenza rH1N1 karena
mempunyai risiko untuk terjadi Reye Syndrome. Untuk
menurunkan panas disarankan menggunakan antipiretik lain
seperti asetaminofen atau obat anti-inflamasi nonsteroid.42
Pencegahan
Pencegahan penyakit infeksi influenza A rH1N1 pada
manusia harus melibatkan pencegahan infeksi pada babi dan
unggas. Banyak ahli menyarankan untuk melakukan imunisasi
babi terhadap infeksi virus influenzaAH1N1 sehingga jumlah
virus yang beredar pada babi berkurang dan penularan ke
manusia juga menurun. Hal yang sama juga diharapkan jika
unggas diimunisasi.47,48
Imunisasi Babi
Dahulu banyak para ahli tidak setuju untuk mengimunisasi babi agar tidak menularkan virus influenza kepada
manusia. Kemudian imunisasi babi dianggap perlu, karena
dapat mengurangi replikasi virus sehingga babi tidak sakit
dan virus tidak menyebar ke populasi manusia.47,48 Masalah
yang selalu dihadapi dalam mengimunisasi babi adalah mutasi
drift dan mutasi shift pada gen virus, sehingga vaksin kurang
efektif untuk mencegah penyakit. Selain itu, babi umur muda
masih memiliki antibodi maternal yang diperoleh dari
induknya yang mendapat imunisasi, sehingga efikasi vaksin
menjadi rendah. Dengan demikian, virus masih tetap dapat
beredar di dalam populasi babi.49
Vaksin influenza babi yang ada saat ini adalah vaksin
virus utuh mati yang dicampur adjuvan. Virus yang digunakan
diperbanyak di dalam telor bebek yang berembrio. Vaksin
tersebut mampu merangsang munculnya IgG titer tinggi di
dalam serum dan paru, sehingga dapat mengurangi timbulnya
gejala klinis. Antibodi terhadap protein H tampak paling
protektif. Perlindungan terhadap infeksi tidak seluruhnya
dapat dihambat, tetapi multiplikasi virus dapat dikurangi.49
Karena adanya varian virus baru yang menginfeksi babi
maka Departemen Pertanian Amerika Serikat menyarankan
untuk menambahkan komponen virus baru, agar vaksin
memberikan efikasi yang lebih tinggi, tetapi harga vaksin
akan menjadi lebih mahal dan waktu yang dibutuhkan untuk
uji klinis akan lama. Untungnya, perlindungan silang yang
diberikan oleh vaksin terhadap berbagai varian antigenik virus influenza lebih luas pada babi dibandingkan dengan
vaksin influenza pada manusia.49
Saat ini, vaksin virus hidup yang dimodifikasi untuk
babi tidak ada. Jenis vaksin tersebut sebenarnya mempunyai
Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

keuntungan, karena dapat meningkatkan rangsangan imunitas


seluler, terutama ditujukan terhadap protein NP yang sangat
dilindungi, sehingga lebih memberikan imunitas heterosubtipik. Penggunaan jenis vaksin hidup harus berhati-hati
karena dapat terjadi reassortment dengan galur virus liar.49
Ada berbagai jenis vaksin lain, misalnya vaksin dengan
menggunakan vektor seperti virus vaksinia, baculovirus,
alphavirus, dan adenovirus yang sekarang sedang dipelajari.
Vaksin DNA juga sekarang sedang dipelajari. Vaksin ini
tampaknya cukup menguntungkan karena tidak menggunakan virus hidup, tetapi dapat menghasilkan protein
virus dengan konformasi yang normal. Vaksin ini dapat
merangsang imunitas humoral maupun seluler dalam jangka
waktu yang sangat panjang.49
Imunisasi Unggas
Unggas, terutama burung air dapat diinfeksi berbagai
subtipe virus influenza, jadi tanpa memandang subtipe H
dan N. Strategi mengawasi infeksi influenza pada unggas liar
sampai saat ini belum ada. Karena virus influenza selalu
beredar pada unggas liar, maka tujuan utama pengawasan
adalah untuk mengurangi paparan virus terhadap peternakan
unggas dan babi.49
Imunisasi ternak unggas pada prinsipnya sama dengan
imunisasi pada mamalia yaitu pada manusia dan babi.
Antibodi terhadap protein H sangat penting untuk perlindungan terhadap infeksi virus. Vaksin pada unggas mempunyai perlindungan silang yang lebih luas terhadap berbagai
variasi antigenik virus influenza dibandingkan vaksin influenza untuk manusia. Selain itu, virus influenza liar yang
menginfeksi unggas hanya sedikit mengalami mutasi drift,
sehingga perubahan struktur protein sangat jarang, walaupun
pernah dilaporkan mutasi drift pada virus influenza yang
menginfeksi ternak di Meksiko.49
Imunisasi pada Manusia
Imunisasi pada manusia sangat penting untuk mencegah agar tidak menderita penyakit virus influenza rH1N1,
tetapi vaksin tersebut sampai saat ini belum ada. Pemerintah
Amerika Serikat sekarang sedang berusaha untuk membuat
vaksin yang mengandung virus rH1N1.18 Vaksin virus influenza yang ada walaupun sudah mengandung komponen virus influenza H1N1 musiman pada manusia, kurang efektif
untuk mencegah penyakit virus influenza rH1N1. Meskipun
demikian, beberapa ahli menyatakan bahwa vaksin masih
dapat digunakan untuk meringankan gejala penyakit, karena
masih memiliki beberapa persamaan epitop antigenik pada
protein H maupun protein N.18
Kemoprofolaksis Antivirus
Untuk profilaksis infeksi virus influenza A rH1N1 disarankan menggunakan oseltamivir atau zanamivir. Lama
pemberian kemoprofilaksis antivirus setelah pajanan adalah
10 hari sesudah terpajan virus influenza A rH1N1. Indikasi
533

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manusia


sama dengan yang diamati pada infeksi virus influenza A
musiman. Dari studi yang dilakukan pada infeksi influenza
pemberian kemoprofilaksis pasca pajanan adalah bila
musiman, penderita dapat menularkan penyakit mulai satu
mengadakan kontak erat dengan kasus confirmed, probable,
hari sebelum munculnya gejala sampai 7 hari sesudah men
dan suspect penderita rH1N1 dalam masa infeksius. Masa
jadi
infeksius seseorang yang terinfeksi virus rH1N1 diperkirakan

sakit. Anak-anak terutama bayi yang masih muda mempunyai


kecenderungan untuk infeksius dalam waktu yang lebih
panjang. Sebagai pegangan, masa infeksius adalah satu hari
sebelum munculnya gejala sampai 7 hari setelah munculnya
gejala. Bila kontak dengan penderita terjadi lebih dari 7 hari
dari saat munculnya penyakit, maka pemberian profilaksis
tidak perlu. Untuk profilaksis sebelum terpajan, antivirus
diberikan selama terpajan dan diteruskan 10 hari setelah
terpajan terakhir dengan penderita rH1N1 dalam masa
infeksius. Oseltamivir dapat juga digunakan untuk profilaksis
pada anak yang berumur kurang dari 1 tahun.42
Kemoprofilaksis antivirus setelah terpapar penderita
infeksi virus rH1N1 menggunakan oseltamivir atau zanamivir
dapat dipertimbangkan untuk:42

Tabel 4. Dosis Profilaksis Infeksi rH1N1 pada Anak Berumur


Kurang dari 1 Tahun Menggunakan Oseltamivir42
Umur

Dosis profilaksis selama 10 hari

<3 bulan
3-5 bulan
6-11 bulan

Tidak disarankan kecuali keadaannya sangat kritis


20 mg sekali setiap hari
25 mg sekali setiap hari

Pencegahan Pribadi
Untuk menjaga kesehatan pribadi dan mengurangi
penyebaran virus disarankan:42
1. Tutup mulut dan hidung bila batuk dan bersin; tisu yang
digunakan dibuang ke bak sampah
2. Cuci tangan terutama setelah batuk atau bersin meng1. Orang yang mengadakan kontak erat dengan kasus (congunakan sabun dan air; akan lebih baik bila menggunakan
firmed, probable, dan suspect) yang mempunyai risiko
pencuci tangan yang mengandung alkohol
tinggi mendapat komplikasi influenza.
3. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut, karena
2. Petugas perawatan, petugas kesehatan masyarakat, ordapat menyebarkan virus
ang yang menemukan kasus pertama yang tidak meng4. Jangan berdekatan dengan orang yang sedang sakit flu
gunakan alat proteksi terpapar dengan penderita influ5. Bila menderita flu, anda harus tinggal di rumah selama 1
enza rH1N1 (confirmed, probable, suspect) dalam mas
minggu setelah gejala mulai muncul atau sampai 24 jam
a
atau lebih sesudah gejala menghilang agar tidak meinfeksius.
nularkan penyakit kepada orang lain
6.
Dalam keadaan pandemi, sebaiknya sekolah ditutup agar
Kemoprofilaksis antivirus sebelum terpapar harus
penyebaran
tidak terjadi dengan cepat. Hindari bepergian
digunakan seperlunya dan harus dikonsultasikan kepada
ke
tempat
banyak
orang berkumpul.
petugas kesehatan yang berwenang. Untuk petugas yang
mempunyai risiko tinggi mendapat komplikasi (petugas
keperawatan, petugas kesehatan masyarakat, petugas terdepan di masyarakat) harus menggunakan alat pelindung
diri atau melakukan tugas secara bergantian.42
Tabel 3. Dosis

Antivirus Profilaksis

Infeksi

Virus Influenz

a
rH1N142
Obat
Oseltamivir
Dewasa
Anak <12 bulan

Zanamivir
Dewasa
Anak

Dosis kemoprofilaksis

<15 kg
16-23 kg
24-40 kg
>40 kg

75
30
45
60
75

mg
mg
mg
mg
mg

sekali sehari
sekali/hari
sekali/hari
sekali/hari
sekali/hari

peroral
peroral
peroral
peroral
peroral

Dua kali inhalasi 5 mg sekali/hari


(10 mg)
Dua kali inhalasi 5 mg sekali/hari
(10 mg) (umur >5 tahun)

Penutup
Virus influenza A babi H1N1 triple-reassortant berbeda
dengan virus influenza A babi H1N1 klasik maupun dengan
virus influenza A H1N1 yang menginfeksi manusia secara
musiman, walaupun pada dasarnya mempunyai asal nenek
moyang yang sama. Perbedaan itu akibat gen virus mengalami
mutasi drift maupun shift. Oleh karena itu, infeksi virus rH1N1
pada manusia diperkirakan akan menyebar dengan cepat dan
memberikan gejala sedikit lebih berat dibandingkan dengan
virus H1N1 yang menginfeksi manusia secara musiman. Saat
ini WHO sudah mengumumkan ke seluruh dunia bahwa
pandemi influenza A babi rH1N1 sudah sampai ke fase 6.
Artinya virus sudah menular dari manusia-ke-manusia
dengan sangat mudah dan sangat cepat, serta sudah
menyebar hampir ke seluruh negara di dunia.
Daftar Pustaka
1.
2.
3.

534

4.

Webster RG. Influenza: an emerging disease. Emerg Infect Dis.


1998;4:436-41.
Ma W, Kahn RE, Richt JA. The pig as a mixing vessel for influenza viruses: human and veterinary implications. J Mol Genet
Med. 2009;3:158-66.
Wuethrich B.Chasing the fickle swine flu. Science. 2003;
299:1502-5.
Shinde V, Bridges CB, Uyeki TM, Shu B, Balish A, Xu X, et al.
Triple-reassortment swine influenza A (H1) in humans in the
United States, 2005-2009. N Engl J Med. 2009;361:1-10.

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manus


ia
6.
5.

Lamb RA, Krug RM. Orthomyxoviridae: the viruses and their


replication. Dalam: Knip DM & Howley PM. Eds Field Virology.
Edisi ke-4. Philadelphia; Lippincott, Williams, and Wilkins;
2001.h.1487-531.

7.
8.

Olsen CW. The emergence of novel swine influenza viruses in


North America. Virus Res. 2002;85:199-210.
Goto H, Kawaoka Y. A novel mechanism for the acquisition of
virulence by a human influenza A virus. Proc Natl Acad Sci USA.
1998;95:10224-8.
Liu C, Eichelberger MC, Compans RW, Air GM. Influenza type A

9.
10.
11.

12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.

21.

22.
23.
24.
25.

virus neuraminidase does not play a rol in viral entry, replication,


assembly, or budding. J Virol. 1995;69:1099-06.
Holsinger LJ, Nichani D, Pinto LH, Lamb RA. Influenza A virus
M2 channel protein: a structure-fungsion analysis J Virol.
1994;68:1551-63.
Webster RG, Kawaoka Y. Influenza an emerging and re-emerging disease. Virology. 1994;5:103-11.
Murpy BR, Webster EG. Orthomyxoviruses. In: Field BN, Knipe
DM, Howley PM, Chanock RM, Melnick JL, Monath TP, et al.
(Eds.) Field Virology. Philadelphia; Lippincott-Raven Publishers: 1996.p.1397-445.
Raymond FL, Caton AJ, Cox NJ, Kendal AP, Brown-lee GG.
Antigenicity and evolution amongst recent influenza viruses of
H1N1 subtype. Nuc Acids Res. 1983;11:7191-203.
Dea S, Bilodeau R, Sauvageau R, Montpetit C, Martineau GP.
Antigenic variant of Swine influenza virus causing proliferative
and necrotizing pneumonia in pigs. J Vet Invest. 1992;4:380-92.
Olsen CW, McGregor MW, Cooley AJ, Schantz B, Hotze B,
Hinshaw VS. Antigenic and analysis of a recently isolated H1N1
swine influenza virus. Am J Vet Res. 1993;54:1630-6.
Class ECJ, Kawaoka Y, de Jong JC, Masurel N, Websre RG. Infection of children with avian-human reassortant influenza virus
from pigs in Europe. Virology. 1994; 204:453-7.
Peiris M, Yuen KY, Leung CW, Chan KH, Ip PLS, Lai RWM, et
al. Human infection with influenza H9N2. Lancet. 1999;354:9167.
WebsterRG, Bean WJ, Gorman OT, Chambers TM, Kawaoka Y.
Evolution and ecology of influenza A viruses. Microbid Rev.
1992;56:152-79.
CDC and Prevention. Novel H1N1 flu situation. Last updated
June 25. August 20, 2009. Available from http://www.CDC.gov
Ito T, Nelson J, Couceiro SS, Kelm S, Baum LG, Krauss S, et al.
Molecular basis for the generation in pigs of influenza A viruses
with pandemic potential. J Virol. 1998;72:7367-73.
Mancini DAP, Cunha EMS, Mendoa RMZ, Dias ALF, de Castro
AF, Pinto JR, et al. Evidence of swine respiratory infection by
influenza viruses in Brazil. Cited August 20; 2009. Available from
http//www.sbv.org.br/revistavirusr&r/volume11pdf/Artigo
Mancini et al.(a).pdf
Nakharuthai C, Boonsoongnern A, Poolperm P, Wajjwalku W,
Urairong K, Chumsing W, et al. Occurrence of swine influenza
virus Infection in swine with porcine respiratory disease complex. Southeast Asian J Trop Med Public Health. 2008;39:104553.
Shope RE. Swine influenza. III Firation experiments and etiology. J Exp Med. 1931;54:373-85.
Olsen CW, Karasin AI, Carman S, Li Y, Bastien N, Ojkic D, et al.
Triple reassortment H3N2 influenza A viruses, Canada, 2005.
Emerg Infect Dis. 2006;12:1132-5.
Luoh SM, McGregor MW, Hinshaw VS. Hemagglutinin mutations related to antigenic variation in H1 swine influenza viruses.
J virol. 1992;66:1066-73.
Vincent AL, Swenson SL, Lager KM, Gauger PC, Loiacono C
Zhang Y. Characterization of an influenza isolated from pigs
during an outbreak of respiratory disease in swine and people
during a county fair in the United States. Vet Microbiol. 2009;
137:51-9

26. Olsen CW, Carey S, Hinshwa L, Karasin AI, Virologic and serologic surveillance for human, swine, and avian influenza virus
infections among pig in the north-central United State. Ardh
Virol. 2000;145:1399-419.
27. Dacso CC, Couch RB, Six HR, Young JF, Quarles JM, Kasel JA.
Sporadic occurrence of zoonotic swine influenza virus infections. J Clin Microbiol. 1984;20:833-5.
28. Wentwort DE, Thomson BL, Xu X, Regnery HL, Cooley AJ,
Mcgregor MW, et al. An influenza A (H1N1) virus, closely related to swine influenza virus, responsible for a fatal case of
human influenza. J Virol. 1994;68:2051-8.
29. Gaydos JC, Top FH, Hodder RA, Russell P. Swine influenza A
outbreak, Fort Dix, New Jersey, 1976. Emerg Infect Dis.
2006;12:23-8.
30. Sancho BA, Teres MO, Cuenca SM, Val PR, Villanueva PS, Casa
I, et al. Human case of swine influenza A (H1N1), Aragon, Spain,
November 2008. Eurosurveillance. 2009;14:1-2.
31. Patriarca PA, Kendal AP, Zakowski PC, Cox NJ, Trautman MS,
Cherry JD, et al. Lack of significant person-to-person spread of
swine influenza-like virus following fatal infection in an
immunocompromised child. Am J Epid. 1984;119:152-8.
32. McKinney WP, Volker P, Kaufman J. Fatal swine influenza pneumonia during late pregnacy. Arch Intern Med. 1990;150:213-5.
33. Myers KP, Olsen CW, Gray GC. Cases of swine influenza in
human: a review of the literature. Clin Infect Dis. 2007;44:10848.
34. Ginsberg M, Hopkins J, Maroufi A, Dunne G, Giessick J, McVay P,
et al. Swine influenza A (H1N1) infections in two children Southern California, March - April 2009. Morb Mort Wkly Rep.
2009;58(15):400-2.
35. Olsen CW, Brammer L, Easterday BC, Arden N, Belay E, Baker
I, et al. Serologic evidence of H1 swine influenza virus infection
in swine Farm Residents and Employees. Emerg Infect Dis.
2002;8:814-9.
36. Myers KP, Olsen CW, Setterquist SF, Capuano AW, Donham KJ,
Thacker EL, et al. Are swine workers in the United State at
increased risk of infection with zoonotic influenza virus? Clin
Infect Dis. 2006;42:14-20.
37. Ramirez A, Capuano AW, Wellman DA, Lesher KA, Setterquist
SF, Gray GC. Preventing Zoonotic Influenza Virus Infection.
Emerg Infect Dis. 2006;12:997-1000.
38. Gray GC, McCarthy T, Capuano AW, Setterquist SF, Oisen CW,
Alavanja MC, et al. Swine workers and swine influenza virus
infections. Emerg Infect Dis. 2007;13:1871-8.
39. Robinson JL, Lee BE, Patel J, Bastien N, Grimsrud K, Seal RF, et
al. Swine influenza (H3N2) infection in a child and possible
community transmission, Canada. Emerg Infect Dis.
2007;13:1865-70.
40. Newman AP, Reisdorf E, Beinemann J, Uyeki TM, Balish A, Shu
B, et al. Human case of swine influenza A (H1N1) triple reassortant
virus infection, Wisconsin. Emerg Infect Dis. 2008;14:1470-2.
41. Coker R. Swine flu: fragile health systems will make surveillance
and mitigation a challenge. Br Med J 2009;338:1087.
42. CDC H1N1 Flu/Interim Guidance on Antiviral Recommendation
for Patients Conf. 6/27/2009. Cited: June 27, 2009. Available
from http://www.CDC.gov
43. Sheu TG, Deyde VM, Okomo-Adhiambo M, Garten RJ, Xu X,
Bright RA, et al. Surveillance for neuraminidase inhibitor resistance among human influenza A and B viruses circulating worldwide from 2004 to 2008. Antimicrob Agent and Chemother
2008;52:3284-92.
44. Hauge SH, Dudman S, Borgen K, Lackenby A, Hungnes O.
Oseltamivir-resisitant influenza viruses A (H1N1), Noeway, 200708. Emerg Infect Dis. 2009;15:155-62.
45. Mascona A. Global transmission of oseltamivir-resistant influenza. N Eng J Med. 2009;360:953-6.
46. Bright RA, Medina M-j, Xu X, Perez-Oranaz G, Wallis TR, Davis

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009

535

Infeksi Virus Influenza A Babi H1N1 Triple-Reasortant (rH1N1) pada Manusia


XM, et al. Incidence of adamantane resistance among influenza
A (H3N2) viruses isolated worldwide from 1994 to 2005: a cause
for concern. Lancet. 2005;366:1175-81.
47. Boffey PM. Swine flu campaign: should we vaccinate the pigs?
Science. 1976;192:870-1.

48. Boffey PM. Swine flu vaccination campign: the scientific controversy mounts. Science 1976;193:559-63.
49. Thaker E, Janke B. Swine influenza virus: zoonotic potential and
vaccination strategies control of avian and swine influenzas. J
Infect Dis. 2008;197:S19-24.

50. Raymond FL, Caton AJ, Cox NJ, Kendal AP, Brown-lee GG.
Antigenicity and evolution of influenza HA hemagglutinin, from
1950 to 1957 and 1977 to 1983: two pathways from one gene.
Virology. 1986;148:275-87.
51. WHO. Update: Swine Influenza A (H1N1) Infections - California
and Texas, April 2009. Morb Mortal Wkly Rep 2009.
SS

536

Maj Kedokt Indon, Volum: 59, Nomor: 11, Nopember 2009