Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengembangan dalam
berhubungan,saling

berbagai

aspek

bergantung,

keperawatan

saling

bersifat

mempengaruhi

dan

saling
saling

berkepentingan. Oleh karena itu inovasi dalam pendidikan keperawatan,


praktek

keperawatan,

merupakan

fokus

ilmu

keperawatan

utama

keperawatan

dan

kehidupan

Indonesia

keprofesian

dalam

proses

profesionalitas.Proses profesionalisasi merupakan proses pengakuan terhadap


sesuatu yang dirasakan, dinilai dan diterima secara spontan oleh masyarakat,
maka dituntut untuk mengembangkan dirinya dalam sistim pelayanan
kesehatan.
Keperawatan Indonesia sampai saat ini masih berada dalam proses
mewujudkan keperawatan sebagai profesi, maka akan terjadi beberapa
perubahaan dalam aspek keperawatan yaitu: penataan pendidikan tinggi
keperawatan, pelayanan dan asuhan keperawatan, pembinaan dan kehidupan
keprofesian, dan penataan lingkungan untuk perkembangan keperawatan.
Perubahaan-perubahaan ini akan membawa dampak yang positif seperti
makin

meningkatnya

diselenggarakan,

mutu

makin

kesehatan/keperawatan

pelayanan

sesuainya

yang

kesehatan/keperawatan

jenis

tersedia

dengan

dan

keahlian

tuntutan

yang
tenaga

masyarakat,

bertambahnya kesempatan kerja bagi tenaga kesehatan.Oleh karena alasanalasan di atas maka Pelayanan keperawatan harus dikelola secara profesional,
karena itu perlu adanya Manajemen Keperawatan. Manajemen Keperawatan
harus dapat diaplikasikan dalam tatanan pelayanan nyata di Rumah Sakit,
sehingga perawat perlu memahami bagaiman konsep dan Aplikasinya di
dalam organisasi keperawatan itu sendiri.
Pelayanan kesehatan di rumah sakit berjalan secara sinergis antar
disiplin

profesikesehatan

dan non

kesehatan.

Perawat

memberikan

pelayanan dan asuhanmenggunakan suatu sistem management of nursing care


delivery (Woke,1990). Dalam studinya, Woke menyebutkan manajemen

pelayanan keperawatan di rumah sakitterintegrasi dengan pelayanan kesehatan


lain, karena sasaran yang ingin dicapai ialah pasien. Pelayanan keperawatan di
berbagai

negara

relatif sama,

hanya

saja

di

Indonesia

memiliki

keunikan tersendiri mengingat faktor kemajemukan pendidikan perawat


Nurachmah, 2000).
Kemajemukan ini membawa dampak pada tidak konsistennya sistem
pelayanan

keperawatan. Fungsi

manajemen

tidak

mampu

diperankan

oleh perawat di sebagian besar rumah sakit di Indonesia. Salah satu fungsi
manajemen ialah directing dimana didalamnya terdapat kegiatan supervisor
adalah 1) Kepala ruang rawat (Karu). Karu bertanggung jawab dalam
supervisi keperawatan kepada pasien. Karu merupakan ujung tombak tercapai
tidaknya

tujuan

pelayanan keperawatan

di

rumah

sakit.

Ia

bertanggungjawab mengawasi perawat pelaksana dalam melakukan praktik


keperawatan. 2) Pengawas perawatan. Pengawas bertanggung jawab terhadap
supervisi pelayanan keperawatan pada areanya yaitu beberapa Karu yang ada
pada Unit Pelaksana Fungsional (UPF).
Pengawasan dan Pengendalian merupakan proses akhir dari proses
manajemen,dimana

dalam

pelaksanaannya

proses

pengawasan

dan

pengendalian saling keterkaitandengan proses-proses yang lain terutama


dalam perencanaan. Dalam proses manajemenditetapkan suatu standar yang
menjadi acuan, diantaranya yaitu : visi-misi, standar asuhan,penampilan
kinerja,

keuangan,

dan

lain

sebagainya.

Dengan

demikian

dalam

pelaksanaannya perlu dilakukan pengawasan apakah setiap tahapan proses


manajemen telah sesuai dengan standar atau tidak dan jika ditemukan adanya
penyimpangan maka perlu dilakukan pengendalian sehingga kembali sesuai
standar yang berlaku.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
1. Apa pengertian dari supervisi keperawatan?

2. Apa tujuan dari supervisi keperawatan?


3. Apa saja sasaran supervisi keperawatan?
4. Bagaimana prinsip-prinsip supervisi keperawatan?
5. Bagaimana model-model supervisi keperawatan?
6. Bagaimana penerapan supervisi di rumah sakit?
7. Apa saja tehnik supervisi keperawatan?
8. Apa saja kompetensi supervisor?
9. Apa saja tugas dan tanggung jawab supervisor?
10. Apa saja sistem yang mendukung penerapan supervise?
11. Bagaimana cara sepervisi?
12. Apa saja kegiatan rutin supervisor?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini
1. Mengetahui pengertian dari supervisi keperawatan.
2. Mengetahui tujuan dari supervisi keperawatan.
3. Mengetahui sasaran supervisi keperawatan.
4. Mengetahui prinsip-prinsip supervisi keperawatan.
5. Mengetahui model-model supervisi keperawatan.
6. Mengetahui penerapan supervisi di rumah sakit.
7. Mengetahui tehnik supervisi keperawatan.
8. Mengetahui kompetensi supervisor.
9. Mengetahui tugas dan tanggung jawab supervisor.
10. Mengetahui sistem yang mendukung penerapan supervise.
11. Mengetahui cara sepervisi.
12. Menyebutkan kegiatan rutin supervisor.

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Konsep Supervisi
1. Pengertian Supervisi Keperawatan
Supervisi adalah suatu proses kemudahan untuk penyelesaian tugas-tugas
keperawatan
merencanakan,

(Swansburg

&

mengarahkan,

Swansburg,
membimbing,

1999).

Supervisi

mengajar,

adalah

mengobservasi,

mendorong, memperbaiki, mempercayai, mengevaluasi secara terus menerus


pada setiap perawat dengan sabar, adil serta bijaksana (Kron, 1987). Supervisi
merupakan suatu cara yang efektif untuk mencapai tujuan organisasi.
Supervisi mengandung pengertian yang lebih demokratis. Dalam
pelaksanaannya supervisi bukan hanya mengawasi apakah seluruh staf
3

keperawatan menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya sesuai dengan


instruksi atau ketentuan yang telah digariskan, tetapi juga bersama para
perawat bagaimanan memperbaiki proses keperawatan yang sedang
berlangsung. Jadi dalam kegiatan supervisi seluruh staf keperawatan bukan
sebagai pelaksanan pasif, melainkan diperlukan sebagai patner kerja yang
memiliki ide-ide, pendapat dan pengalaman yang perlu didengar, dihargai dan
diikut sertakan dalam usaha-usaha perbaikan proses keperawatan. Dengan
demikian supervisi diartikan sebagai suatu aktifitas pembinaan yang
direncanakan untuk membantu para tenaga keperawatan dan staf lainnya
dalam melakukan pekerjaan mereka secara efektif.
Supervisor harus mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang
nyaman. Ini tidak hanya meliputi lingkungan fisik, tetapi juga suasana kerja
diantara para tenaga keperawatan dan tenaga lainnya. Juga meliputi jumlah
persediaan dan kelayakan peralatan agar memudahkan pelaksanaan tugas.
Lingkungan yang sehat bila dapat memberikan rasa bebas dan keinginan untuk
bekerja lebih baik. Supervisor juga mengusahakan semangat kebersamaan
dengan lebih menekankan kita daripada saya. Pada suatu saat supervisor
akan memerlukan bantuan dalam mengambil keputusan melalui pengamalan
dalam tugas untuk menemukan metoda yang lebih baik guna melaksankan
pendelegasian tugas dalam kelompok kerja, tentu memerlukan dukungan dari
anggota kelompok. Walaupun supervisor memperhatikan kondisi dan hasil
kerja, tetapi perhatian utama ialah manusianya, untuk itu harus mengenal tiap
individu dan mampu merangsang agar tiap pelaksana mau meningkatkan diri.
Salah satu tujuan utama dari supervisi adalah orientasi, latihan dan bimbingan
individu, berdasarkan kebutuhan individu dan mengarah pada pemanfaatan
kemampuan dan pengembangan ketrampilan yang baru. Dalam pelaksanaan
supervisi, supervisor membuat suatu keputusan tentang suatu pekerjaan yang
akan dilaksanakan, kemudian siapa yang akan melaksanakan. Untuk itu
supervisor perlu memberikan penjelasan dalam bentuk arahan kepada para
pelaksana.
2. Tujuan Supervisi Keperawatan

Mengusahakan seoptimal mungkin kondisi kerja yang nyaman, ini


tidak hanya meliputi lingkungan fisik, tetapi juga suasana kerja diantaranya
para tenaga keperawatan dan tenaga lainnya, juga meliputi jumlah persediaan
dan kelayakan perawatan agar memudahkan pelaksanaan tugas. Oleh karena
itu tujuan supervisi adalah :
1. Mengorientasikan staf dan pelaksana keperawatan.
2. Melatih staf dan pelaksana keperawatan.
3. Memberikan arahan dalam pelaksanaan tugasnya agar menyadari dan
mengerti terhadap peran, fungsi sebagai staf dan pelaksana asuhan
keperawatan.
4. Memberikan layanan kemampuan staf dan pelaksanaan keperawatan
dalam memberikan asuhan keperawatan.
3. Sasaran Supervisi Keperawatan
Sasaran yang harus dicapai dalam supervisi adalah sebagai berikut :
a)
b)
c)
d)
e)
f)
g)

Pelaksanan tugas sesuai dengan pola.


Struktur dan hirarki sesuai dengan rencana.
Staf yang berkualitas dapat dikembangkan secara kontinue/sistematis.
Penggunaan alat yang efektif dan ekonomis.
Sistem dan prosedur yang tidak menyimpang.
Pembagian tugas, wewenang ada pertimbangan objek/rational.
Tidak terjadi penyimpangan/penyelewengan kekuasaan, kedudukan dan
keuangan.

4. Prinsip-Prinsip Supervisi Keperawatan


Menurut Keliat (1993) prinsip supervise keperawatan adalah sebagai berikut:
a) Supervisi dilakukan sesuai dengan struktur organisasi RS.
b) Supervisi memerlukan pengetahuan dasar manajemen, ketrampilan
hubungan antar manusia, kemampuan menerapkan prinsip manajemen dan
kepemimpinan.
c) Fungsi supervisi diuraikan dengan jelas dan terorganisir dan dinyatakan
melalui petunjuk, peraturan dan kebijakan dan uraian tugas standar.
d) Supervisi adalah proses kerjasama yang demokratis antara supervisor dan
perawat pelaksana.
e) Supervisi menggunakan proses manajemen termasuk menerapkan misi,
falsafah, tujuan dan rencana yang spesifik untuk mencapai tujuan.
f) Supervisi menciptakan lingkungan yang mendukung komunikasi efektif,
merangsang kreativitas dan motivasi.

g) Supervisi mempunyai tujuan yang berhasil dan berdaya guna dalam


pelayanan keperawatan yang member kepuasan klien, perawat, dan
manajer.
5. Model-Model Supervisi Keperawatan
Beberapa model supervisi dapat diterapkan dalam kegiatan supervisi antara
lain ( Suyanto, 2008 ):
a. Model Konvensional
Model

supervisi

dilakukan

melalui

inspeksi

langsung

untuk

menemukan masalah dan kesalahan dalam pemberian asuhan keperawatan.


Supervisi dilakukan untuk mengoreksi kesalahan dan memata-matai staf
dalam mengerjakan tugas. model ini sering tidak adil karena hanya melihat
sisi negative dari pelaksanaan pekerjaan yang dilakukan para perawat
pelaksana sehingga sulit terungkap sisi positif, hal-hal yang baik ataupun
keberhasilan yang telah dilakukan.
b. Model Ilmiah
Supervisi dilakukan dengan pendekatan yang sudah direncanakan
sehingga tidak hanya mencari kesalahan atau masalah saja. Oleh karena itu
supervisi yang dilakukan dengan model ini memiliki karakteristik sebagai
berikut yaitu, dilakukan secara berkesinambungan dilakukan dengan
prosedur, instrument dan standar supervise yang baku, menggunakan data
yang objektif sehingga dapat diberikan umpan balik dan bimbingan.
c. Model Klinis
Supervisi model klinis bertujuan untuk membantu perawat pelaksana
dalam mengembangkan profesionalisme sehingga penampilan dan
kinerjanya dalam pemberian asuhan keperawatan meningkat. Supervisi
dilakukan secara sistematis melalui pengamtan pelayanan keperawatan
yang diberikan oleh seorang perawat selanjutnya dibandingkan dengan
standar keperawatan.
d. Model Artistic
Supervisi model artistic dilakukan dnegan pendekatan personal untuk
menciptakan rasa aman sehingga supervisor dapat diterima oleh perawat
pelaksana yang disupervisi. Dengan demikian akan tercipta hubungan
saling percaya sehingga hubungan antara perawat dan supervisor akan
terbuka dan mempermudah proses supervisi.
6

6. Penerapan Supervisi Di Rumah Sakit


Penerapan supervise dirumah sakit terdiri dari self supervision, one to
one supervision, group supervision dan team of staff supervision (kementrian
Kesehatan, 2010) adalah :
1. Self supervision
Self supervision adalah supervise yang mengevaluasi pekerjaannya sendiri
apakah sudah efektif atau menuju kepada perubahan intervision kepada
pasien.
2. One to one supervision
One to one supervision adalah hubungan antara supervision dan supervisee
yang mengarah pada tujuan belajar yang diinginkan. Tipe one to one
supervision memberikan kebebasan pada individu untuk berkreasi dan
lebih berfokus sesuai dengan masalah individu.
3. Group supervision
Group supervision adalah clinical supervision dimana grup perawat
bertemu bersama, keuntungan tipe group supervisor adalah masukan dari
sejumlah orang, pertukaran pengalaman, berorientasi pada konseling dan
pendekatan keperawatan, menerima support terutama perawat baru.
4. Team of staff supervision
Team of staff supervision melibatkan kelompok yang bekerja sebagai
tenaga kesehatan dengan pekerjaan yang sama akan mendapatkan
supervisor

dari

luar

institusi

untuk

membantu

meningkatkan

kemampuannya.
7. Tehnik Supervisi Keperawatan
Tehnik Supervisi meliputi
1. Proses supervisi keperawatan terdiri dari 3 elemen kelompok, yaitu :
a) Mengacu pada standar asuhan keperawatan.
b) Fakta pelaksanaan praktek keperawatan sebagai pembanding untuk
menetapkan pencapaian.

c) Tindak lanjut dalam upaya memperbaiki dan mempertahankan kualitas


asuhan.
2. Area Supervisi.
b) Pengetahuan dan pengertian tentang klien.
c) Ketrampilan yang dilakukan disesuaikan dengan standar.
d) Sikap penghargaan terhadap pekerjaan misalnya kejujuran, empati
3. Cara Supervisi
Supervisi dapat dilakukan melalui dua cara, Yaitu:

a) Langsung
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang berlangsung,
dimana supervisor dapat terlibat dalam kegiatan, feed back dan perbaikan.
Adapun prosesnya adalah:
1. Perawat pelaksana melakukan secara mandiri suatu tindakan keperawatan
didampingi oleh supervisor.
2. Selama proses, supervisor dapat memberi dukungan, reinforcement dan
petunjuk.
3. Setelah selesai, supervisor dan perawat pelaksana melakukan diskusi yang
bertujuan untuk menguatkan yang telah sesuai dan memperbaiki yang
masih kurang. Reinforcement pada aspek yang positif sangat penting
dilakukan oleh supervisor.

b) Supervisi secara tidak langsung :


Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan. Supervisor
tidak melihat langsung apa yang terjadi dilapangan sehingga mungkin terjadi
kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara tertulis.

8. Kompetensi Supervisor
Tanggung jawab utama seorang supervisor adalah mencapai hasil sebaik
mungkin dengan mengkoordinasikan system kerjanya. Para supervisor
mengkoordinasikan pekerjaan karyawan dengan mengarahkan, melancarkan,
membimbingan, memotivasi, dan mengendalikan (Dharma, 2003). Seorang
keperawatan dalam menjalankan tugasnya sehari-hari harus memiliki
kemampuan dalam (Suyanto, 2008):
a. Memberikan pengarahan dan petunjuk yang jelas, sehingga dapat
dimengerti oleh staf dan pelaksana keperawatan.
b. Memberikan saran, nasehat dan bantuan kepada staf dan pelaksanan
keperawatan.
c. Memberikan motivasi untuk meningkatkan semangat kerja kepada staf dan
pelaksanan keperawatan.
d. Mampu memahami proses kelompok (dinamika kelompok).
e. Memberikan latihan dan bimbingan yang diperlukan oleh staf dan
pelaksana keperawatan.
f. Melakukan penilaian terhadap penampilan kinerja perawat.
g. Mengadakan pengawasan agar asuhan keperawatan yang diberikan lebih
baik.
9. Tugas dan Tanggung Jawab Supervisor
a) Tugas Supervisor
Tugas supervisor dapat dibagi menjadi beberapa tugas penting dan pokok,
setidaknya ada 5 tugas pokok dari seorang supervisor yang paling utama.
1. Menyampaikan kebijakan yang disampaikan oleh jabatan di atasnya
kepada seluruh bawahan dan grupnya.
2. Mengatur kelompok kerja pada grup yang dipegangnya.
9

3. Memberikan tugas pada subordinat.nya


4. Melaksanakan tugas, proyek, dan pekerjaan secara langsung.
5. Memberikan training pada subordinat.
6. Memimpin dan memotivasi subordinate atau bawahannya.
7. Menegakkan aturan yang telah ditentukan oleh perusahaan.
8. Mendisiplinkan bawahan/subordinate.
9. Memecahkan masalah sehari-hari yang rutin.
10. Membuat rencana jangka pendek untuk tugas yang telah ditetapkan oleh
atasannya.
11. Mengontrol dan mengevaluasi kinerja bawahan.
12. Memberikan info pada manajemen mengenai kondisi bawahan, atau
menjadi perantara antara pekerja dengan manajemen.
Tugas dalam memimpin seorang supervisor memang berbeda dengan
tugas moderator. Supervisor di tuntut memiliki wibawa sebagai seorang
pemimpin yang siap berkorban serta menjalankan tugas yang diemban agar
visi dan misi perusahaan dapat tercapai. Tugas dan wewenang ini hamper
sama pada supervisor produksi, management, marketing dan sebagainya.

b) Tanggung Jawab Supervisor


Seorang supervisor harus memiliki kriteria pemimpin yang baik dan adil,
hal ini dikarenakan vitalnya peran supervisor dalam kesuksesan perusahaan.
Tugas supervisor dan tanggung jawabnya memang penting untuk perusahaan,
namun secara garis besar supervisor dapat kita bagi menjadi 5 tanggung jawab
yang besar yaitu:

Planning, merencanakan kegiatan yang menjadi tugasnya

Organizing, mengordinasikan kegiatan dantugas agar berjalan lancar

Staffing, memastikan setiap orang yang terlibat pada tugas dan pekerjaan
tersebut.

Directing, Mengarahkan bagaimana agar tugas dan pekerjaan tersebut


dapat berjalan lancar.

10

Controlling, melakukan control terhadap kegiatan dalam grup serta


pekerjaan yang dilakukan oleh grup tersebut.
Tugas dan tanggung jawab supervisor memang sangat luas seperti halnya

tugas HRD, pada intinya adalah bagaimana ia memastikan bahwa semua


pekerjaan dapat dilakukan dengan baik. Supervisor juga dituntut dapat
memberikan motivasi kepada karyawan atau bawahannya agar kembali
semangat bekerja serta di jalur yang benar dalam melakukan pekerjaan.
10. Sistem yang Mendukung Penerapan Supervisi
a. Preceptorship
Preceptorship adalah dosen atau instruktur dan memiliki arti yaitu cara
belajar perawat yang dinamik sebagai interaktif proses yang tidak bisa
direncanakan karena banyak hal tidak terduga karena menekan kebutuhan
individu. Preceptorship juga mengidentifikasi pengalaman perawat dengan
tanggung

jawabnya

pada

sekelompok

klien,

dimana

melakukan

pembelajaran seperti mengajar, instruktur, supervise dan role model.


b. Mentorship
Mentor adalah perawat profesional yang berpengalaman memelihara dan
menuntun perawat baru untuk menjadi atau berkembang menjadi perawat
profesional.
Mentoring adalah fenomena yang kompleks dan menyenangkan, natural
dan sangat berarti untuk keuntungan individu dalam membagi pengalaman
dan pengetahuan dengan teman.
Peran mentor:
1)

Peran sebagai inspirasi

2)

Peran sebagai investor

3)

Peran sebagai supporter

11. Cara Supervisi


Cara supervisi dapat dilakukan melalui dua cara, Yaitu:
a. Langsung
Supervisi dilakukan secara langsung pada kegiatan yang sedang
berlangsung, dimana supervisior dapat terlibat dalam kegiatan, feed back

11

dan perbaikan. Supervisi dilakukan secara langsung, dimana supervisior


dapat terlibat dalam kegiatan, feed back dan perbaikan.
Adapun prosesnya adalah:
1. Perawat pelaksan melakukan secara mandiri

suaru

tindakan

keperawaran didampingi oleh supervisior


2. Selama proses, supervisior dapat memberi dukungan, reinforcement
dan petunjuk
3. Setelah selesai, supervisior dan perawat pelaksana melakukan diskusi
yang bertujuan untuk menguatkan yang telah sesuai dan memperbaiki
yang masih kurang. Reinforcement pada aspek yang positif sangat
penting dilakukan oleh supervisior.
b. Tidak Langsung
Supervisi dilakukan melalui laporan baik tertulis maupun lisan.
Supervisior tidak melihat langsung apa yang terjadi dilapangan sehingga
mungkin terjadi kesenjangan fakta. Umpan balik dapat diberikan secara
tertulis.

12. Menyebutkan Kegiatan Rutin Supervisor


1. Sebelum pertukaran shift (15-30 menit)
a. Cek Fasilitas, peralatan, sarana.
b. Cek schedule kerja
2. Pada Waktu mulai shift (15-30 menit)
a. Cek personal yang ada
b. Analisa personal dan pekerjaan
c. Atur pekerjaan
d. Identifikasi kendala yang muncul
e. Cari jalan keluar supaya pekerjaan cepat selesai
3. Sepanjang hari dinas
a. Mengecek pekerjaan setiap personal yaitu dapat mengarahkan,
mengoreksi, instruksi, dan latihan sesuai dengan kebutuhannya.
b. mengecek kemajuan pekerjaan setiap personal sehingga dapat segera
membantu apabila diperlukan.
c. Mengecek pekerjaan rumah tangga
d. Mengecek kembali lembar pekerjaan personil dan kenyamanan kerja
terutama untuk personil yang baru
e. Berjaga-jaga ditempat apabila ada yang membutuhkan bantuan, ada
pertanyaan, atau hal-hal yang terkait.
f. Mengatur jam kerja atau istirahat personil

12

g. Mendeteksi dan mencatat problem yang muncul pada saat itu dan
kemudian tentukan pemecahannya
h. Mengecek kembali kecukupan alat/ fasilitas/ sarana yang rusak
kemudian melaporkannya
i. Mengecek adanya kejadian kecelakaan kerja
j. Menyiapkan dna melaporkan secara rutin mengenai pekerjaan
4. Sekali dalam sehari (15-30 menit)
Mengobservasi satu personil atau area kerja secara kontinu untuk 15
menit. Melihat dengan seksama hal-hal yang mungkin terjadi seperti:
keterlambatan pekerjaan, lamanya mengambil barang, kesulitan pekerjaan
dan lain sebagainya
5. Sebelum pulang (15 menit)
a. Membuat daftar masalah yang belum terpecahkan dan berusaha untuk
memecahkan persoalan tersebut keesokan harinya
b. Pikirkan pekerjaan yang telah dilakukan sepanjang hari dengan
mengecek hasilnya
c. Lengkapi laporan harian sebelum pulang
d. Membuat daftar pekerjaan untuk keesokan harinya, membawa pulang
memepelajari dirumah sebelum pergi bekerja kembali.

B. Konsep Delegasi
1. Pengertian Delegasi
Delegasi adalah suatu pelimpahan wewenang dan tanggung jawab
formal kepada orang lain untuk melaksanakan kegiatan tertentu.
Pendelegasian adalah pelimpahan kekuasaan, wewenang dan tanggung
jawab kepada orang lain. Pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya rutinitas
sebaiknya didelegasikan ke orang lain agar seorang manajer dapat
menggunakan waktunya itu untuk melakukan tugasnya sebagai seorang
manajer.
Pendelegasian adalah kegiatan seseorang untuk menugaskan stafnya /
bawahannya

untuk

melaksanakan

bagian

dari

tugas

manajer

yang

bersangkutan dan pada waktu bersamaan memberikan kekuasaan kepeda


staf/bawahan tersebut, sehingga bawahan itu dapat melaksanakan tugas tugas
itu sebaik baiknya serta dapat mempertanggung jawabkan hal hal yang
didelegasikan kepadanya, ( Manulang,1988)

13

Pendelegasian merupakan proses penugasan, wewenang dan tanggung


jawab kepada bawahan. (Sujak, 1990)
Delegasai wewenang adalah proses yang paling fundamental dalam
organisasi, sebab pimpinan tak kan sanggup melakukan segala sesuatu dan
membuat setiap keputusan.
Pendelegasian (pelimpahan wewenang) merupakan salah satu elemen
penting dalam fungsi pembinaan. Sebagai manajer perawat dan bidan
menerima prinsip-prinsip delegasi agar menjadi lebih produktif dalam
melakukan fungsi-fungsi manajemen lainnya. Delegasi wewenang adalah
proses dimana manajer mengalokasikan wewenang kepada bawahannya.
2. Proses Delegasi

14

1. Seleksi dan susun tugas


Sediakan waktu yang cukup untuk menyusun daftar tugas-tugas yang
harus dilimpahkan secara rasional dan dapat dilaksanakan oleh staf. Tahap
berikutnya yang harus dikerjakan secara otomatis adalah menyiapkan laporan
yang kontinu, menjawab setiap pertanyaan, menyiapkan jadwal berurutan,
memesan alat-alat, presentasi pada komisi yang bertanggung jawab, dan
melaksanakan asuhan keperawatan dan tugas teknis lainnya. Menyusun suatu
daftar secara berurutan dengan dua kriteria, yakni waktu yang diperlukan dan
pentingnya bagi institusi. Hal yang terpenting dalam mendelegasikan tugas

15

adalah menentukan suatu tugas pendelegasian dan wewenang secara bertahap.


Hal ini akan menghindari terjadinya suatu penyalahgunaan wewenang.
2. Seleksi orang yang tepat
Pilih orang yang sesuai untuk melaksanakan tugas limpah tersebut
berdasarkan kemampuan dan persyaratan lainnya. Tepat tidaknya Anda
memilih staf bergantung dari kemampuan manajer mengenal kinerja staf,
kelebihan, kelemahan, dan perilakunya.
Hati-hati terhadap pendelegasian yang berlebihan atau yang terlalu
sedikit. Jika anda memberikan pendelegasian terlalu berlebih, maka staf tidak
akan siap untuk menerima keadaan tersebut dan akan berdampak terhadap
kegagalan staf dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab untuk tugas
yang pertama kali diterimanya. Sebaliknya, pendelegasian yang terlalu sedikit
akan menjadi hal yang sangat buruk efeknya terhadap staf maupun institusi.
Pendelegasian jeni sini akan menghabiskan waktu dan sering berakibat
terhadap beban bagi staf.
3. Berikan arahan dan motivasi kepada staf
Salah satu kesalahan dalam pendelegasian adalah ketiadaan arahan yang jelas.
Lebih baik pendelegasian dilakukan secara tertulis, dan ajarkan pula
bagaimana melaksanakan tugas tersebut. Jika anda sudah siap untuk
memberikan pendelegasian, maka Anda harus mampu menjawab pertanyaanpertanyaan sebagai berikut:
a. Apakah saya sudah menjelaskan alas an pendelegasian dan tugas ini
penting dilakukan?
b. Apakah semua tugas sudah jelas dalam ingatan kita? Haruskah saya
menuliskan secara rinci?
c. Jika jawabannya ya, dapatkah saya memberikan instruksi dan prosedur
secara rinci terhadap tingkatan pemahaman staf?
d. Apakah tugas yang dilimpahkan dapat memberikan staf kesempatan untuk
berkembang dan memotivasi secara tepat?
e. Apakah staf Anda sudah mendapatkan latihan, pengalaman dan
ketrampilan yang diperlukan dalam melaksanakan tugas tersebut?
Hal penting dalam pendelegasian adalah kesepakatan antara manajer
keperawatan dan staf mengenai hasil yang diharapkan.
4. Lakukan supervisi yang tepat.

16

Anda harus bisa menentukan kapan dan apa yang perlu dilakukan
supervise dan bantuan. Sepanjang control penting, tergantung bagaimana staf
melihatnya.
a. Overcontrol, Kontrol yang terlalu berlebihan akan merusak delegasi yang
diberikan. Staf tidak akan dapat memikul tanggungjawabnya dengan baik
dan Anda hanya terfokus dalam hal-hal yang tidak didelegasikan.
b. Undercontrol, Kontrol yang kurang juga akan berdampak buruk terhadap
delegasi, dimana staf akan tidak produktif melaksan akan tugas limpah dan
berdampak secara signifikan terhadap hasil yang diharapkan. Hal ini juga
menyebabkan pemborosan waktu dan anggaran sebenarnya dapat
dihindari. Berikan kesempatan waktu yang cukup kepada staf untuk
berpikir dan melaksanakan tugas tersebut. Namun, berikan pula penekanan
terhadap deadline, agar staf Anda akan mematuhi pola tersebut.
3. Hal-Hal yang harus Diperhatikan dalam Delegasi
1. Perhatikanlah orang yang hendak kita beri dalegasi, mengapa orang itu
kita minta dan apa tepatnya hal yang akan kita minta kepadanya.
2. Jelaskan permintaan itu dengan tnang dan dalam situasi santai, orang yang
akan kita beri delegasi kita beri latar belakang tugas dan hal hal yang
mungkinakan tersangkut dalam tugas itu.
3. Sampaikanlah harapan kita dan jelaskan kekuasaan yang kita berikan
kepadanya. Dan mintalah dia mulai bekerjamelaksanakan tugas yang kita
serahkan kepadanya.
4. Jika dia sanggup, beritahukanlah bagaimana kita dapat membantunya demi
suksesnya pelaksanaan tugas itu.
5. Hendaklah kita setia pada kesepakatan yang telah dibuat, apabila dia ingin
perubahan bicarakanlah pada dia dan utarakan alasan alasannya. Jika
delegasi telah selesai ucapkanlah terima kasih kepadanya, bahkan dimuka
umum jika dirasa tepat.

17

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Supervisi keperawatan diperlukan untuk mencapai tujuan pelayanan
keperawatan di rumah sakit, supervisi bukan berarti menghukum tetapi
memberikan pengarahan dan petunjuk agar perawat dapat menyelesaikan
tugasnya secara efektif-dan-efisien.
Supervisor diharapkan mempunyai

hubungan

interpersonal

yang

memuaskan dengan staf agar tujuan supervisi dapat tercapai untuk


meningkatkan motivasi, kreativitas dan kemampuan perawat yang pada
akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas pelayanan keperawatan.

DAFTAR PUSTAKA
18

Nursalam. 2014. Manajemen Keperawatan : Aplikasi dalam Praktik Keperawatan


Profesional. Edisi 4. Jakarta : Salemba Medika

19