Anda di halaman 1dari 6

PEMBAHASAN

A. Pembuatan dan pewarnaan Bakteri Tahan Asam (BTA)


Dari hasil percobaan , pada pembuatan dan pewarnaan bakteri tahan asam tidak
terbentuk sediaan, sehingga pada saat pengamatan pada mikroskop tidak terlihat
bakterinya.
Pengecetan Bakteri Tahan Asam (BTA) menggunakan tiga jenis cat Ziehl-Neelson
(ZN) yaitu carbol fuchsin 0,3 %, asam alkohol 3 % dan methylene blue 3 %. Dalam
pengecatan ini digunakan sample sputum.
Sebelum dibuat apusan, objek glass difiksasi untuk menghilangkan lemak yang
menempel pada permukaanya dan untuk menghilangkan kontaminan lain yang ada
pada objek glass. Apusan yang dibuat tidak boleh terlalu tebal agar bakteri tidak
bertumpuk-tumpuk sehingga proses pengamatan bentuk sel bakteri menjadi lebih
mudah, tetapi apusan yang dibuat juga tidak boleh terlalu tipis.
Pewarnaan BTA ini dilakukan dengan menggunakan pewarnaan Ziehl Neelson
yng menggunakan 3 jenis warna sebagai berikut :
1. Pewarnaan dengan Carbol Fuchsin 3 %
Pewarnaan pertama ini, akan sulit menembus dinding dari Bakteri tahan asam,
sehingga dilakukan pemanasan untuk memuaikan dinding sel bakteri tersebut
sehingga warna carbol fuchsin ini mampu diserap oleh sel-sel bakteri. Namun perlu
diperhatikan, pemanasan dilalukan jangan sampai mendidih cukup samapai menguap
agar sel-sel bakteri tersebut tidak rusak.
2. Penambahan larutan asam alkohol 0,3 %
Penambahan alkohol berfungsi untuk membilas atau melunturkan zat warna
(decolorization) pada sel bakteri (mikroorganisme). Saat sel-sel bakteri sudah mampu
menyerap warna carbol fuchsin maka dinding sel tersebut akan kembali tertutup
dalam pada suhu semula. Sehingga sebelum dilakukan penambahan asam alkohol
ditunggu samapai 5 menit. Saat penambahan asam alkohol ini, maka bakteri yang
bukan BTA akan dilunturkan kembali warna carbol fuchsin tersebut karena tidak
mampu mengikat kuat seperti halnya bakteri BTA.

3. Pemberian zat warna Methylene Blue


Terakhir dilakukan penambahan Methylene blue. Methylene Blue merupakan
pewarna tandingan atau pewarna sekunder. Zat ini berfungsi untuk mewarnai kembali
sel-sel yang telah kehilangan pewarna utama setelah perlakuan dengan asam alkohol.
Zat warna methylene blue masuk ke dalam sel bakteri non BTA yang
permeabilitas dinding selnya membesar akibat lapisan lipid pada bakteri non BTA
terekstraksi oleh asam alkohol, sehingga menyebabkan sel bakteri non BTA tersebut
menjadi berwarna biru. Pada bakteri BTA dinding selnya sudah terdehidrasi dengan
perlakuan alkohol, pori pori mengkerut, daya rembes dinding sel dan membran
menurun sehingga zat warna methylene blue tidak dapat masuk sehingga sel bakteri
BTA berwarna merah.
Waktu yang dipelukan untuk menunggu setiap warna juga berbeda. Hal ini
dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan pada saat pembacaan preparat pada
mikroskop.
1.

Menunggu selama 5 menit setelah pewarnaan dengan warna carbol fuchsin dan
dilakukan pemanasan bertujuan agar cat ini dapat diserap dan melekat sempurna pada
dinding bakteri dan dinding selnya kembali seperti semula setelah dilakukan

2.
3.

pemanasan.
Warna dapat luntur secara sempurna dan tidak ada yang tersisa.
Menunggu selama 1 menit setelah penambahan pewarna methylene blue bertujuan
agar cat ini dapat diserap sempurna pada dinding bakteri non BTA sehingga ada
perbedaan warna antara bakteri BTA dan Non BTA.
Setelah pewarnaan dan menunggu selama waktu diatas, dilakukan pembilasan
dengan aquadest yang bertujuan untuk membilas zat warna yang berlebih sebelum
dilanjutkan dengan pewarnaan berikutnya.
Hal yang perlu diperhatikan
Fase yang paling kritis adalah dekolorisasi yang mengakibatkan warna yang tidak
terikat oleh sel bakteri lepas dari sel, pemberian asam alkohol jangan sampai berlebih
karena akan menyebabkan overdekolorization sehingga sel BTA hampir sama dengan
Non BTA yang menyebabkan sulit membedakannya, tetapi jangan juga terlalu sedikit
dalam memberikan alkohol (underdecolorization) karena tidak akan melunturkan

warna secara sempurna sehingga sel Non BTA bisa saja berwrna ungu mendekati
warna sel BTA.
Kaca obyek harus selalu dicuci dengan aquades diantara penambahan pewarna
untuk menghilangkan kelebihan warna dan mempersiapkan pewarna berikutnya.
Faktor yang membedakan BTA dan Non BTA
Perbedaan mendasar antara bakteri BTA dan non BTA adalah pada komponen
dinding selnya. Dinding sel BTA mengandung lapisan lilin (lapisan lemak) yang
sangat banyak sehingga dalam proses penyerapan warna perlu dilakukan pemanasan
untuk memuaikan dinding sel tersebut sehingga pewarna dapat diserap. Namun dalam
dinding sel bakteri non BTA lapisan lemaknya tidak banyak sehingga untuk melakuka
penyerapan warna tidak perlu dilakukan pemanasan dan pelunturan warna pun sangat
mudah dilakukan saat penambahan asam alkohol.
Beberapa faktor kesalahan pada saat pewarnaan antara lain pemberian zat
warna yang berlebihan sehingga sel bakteri tidak nampak, kurang maksimalnya dalam
proses fiksasi sehingga masih ada bakteri yang belum mati, dan faktor yang lain
adalah pada proses pencucian terlalu deras dalam membilas zat warna dengan air
sehingga dapat menyebabkan bakteri larut terbawa air. Kesalahan dapat dari praktikan
(human error) saat meletakkan sampel sputum pada kaca sediaan, sampel yang
diletakkan terlalu sedikit sehingga warna tidak terserap.
B. Pengamatan preparat pewarnaan BTA
Pada percobaan, ketika pengamatan preparat pewarnaan BTA, bakteri tidak
terlihat. Hal ini dapat disebabkan dari kesalahan awal saat pewarnaan BTA, sampel
yang banyak mengandung lendir sehingga warna tidak terserap, dan kesalahan pada
praktikan (human error).
C. Pengamatan bakteri pada sediian kontrol
Dari pengmatan pada sediian kontrol, ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang
pandang yang menunjukkan positif 3 (+3). Ada beberapa tipe interpretasi pemeriksaan
mikroskopis. WHO merekomendasikan pembacaan dengan skala International Union
Against Tuberculosis and Lung Disease (IUATLD):
Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang

ditemukan.
Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang, disebut positif 1 (+1)
Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut positif 2 (+2)

Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut positif 3 (+3)

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Pemeriksaan Sputum


Pengambilan

sputum

sebaiknya

dilakukan

pada

pagi

hari,

dimana

kemungkinan untuk mendapat sputum bagian dalam lebih besar.


Waktu yang diperlukan untuk pengambilan sputum adalah 3 kali pengambilan
sputum dalam 2 kali kunjungan, yaitu Sputum sewaktu (S), yaitu ketika penderita
pertama kali datang; Sputum pagi (P), keesokan harinya ketika penderita datang lagi
dengan membawa sputum pagi (sputum pertama setelah bangun tidur), Sputum
sewaktu (S), yaitu saat penderita tiba di laboratorium, penderita diminta
mengeluarkan sputumnya lagi.
Pengambilan sputum pada pasien tidak boleh menyikat gigi. Agar sputum
mudah dikeluarkan, dianjurkan pasien mengonsumsi air yang banyak pada malam
sebelum pengambilan sputum. Sebelum mengeluarkan sputum, pasien disuruh untuk
berkumur-kumur dengan air dan pasien harus melepas gigi palsu (bila ada). Sputum
diambil dari batukkan pertama (first cough). Cara membatukkan sputum dengan Tarik
nafas dalam dan kuat (dengan pernafasan dada) batukkan kuat sputum dari bronkus
trakea mulut wadah penampung. Wadah penampung berupa pot steril bermulut besar
dan berpenutup.
Periksa sputum yang dibatukkan, bila ternyata yang dibatukkan adalah air
liur/saliva, maka pasien harus mengulangi membatukkan sputum. Sebaiknya, pilih
sputum yang mengandung unsur-unsur khusus seperti : darah dan unsur-unsur lain.
Bila sputum susah keluarkan lakukan perawatan mulut Perawatan mulut dilakukan
dengan obat glyseril guayakolat (expectorant) 200 mg atau dengan mengonsumsi air
teh manis saat malam sebelum pengambilan sputum.
Sputum yang dikeluarkan oleh seorang pasien hendaknya dapat dievaluasi
sumber, warna, volume, dan konsistensinya karena kondisi sputum biasanya
memperlihatkan secara spesifik proses kejadian patologik pada pembentukan sputum
itu sendiri.
Klasifikasi bentukan sputum dan kemungkinan penyebabnya :

Sputum yang dihasilkan sewaktu membersihkan tenggorokan, kemungkinan


berasal dari sinus, atau saluran hidung, bukan berasal dari saluran napas bagian
bawah.

Sputum yg terbentuk perlahan & terus meningkat tanda bronkhitis/

bronkhiektasis
Sputum kekuning-kuningan proses infeksi.
Sputum hijau proses penimbunan nanah. Warna hijau ini dikarenakan adanya
verdoperoksidase yg dihasikan oleh PMN dalam sputum. Sputum hijau ini sering
ditemukan pada penderita bronkhiektasis karena penimbunan sputum dalam

bronkus yang melebar dan terinfeksi.


Sputum merah muda&berbusa tanda edema paru akut.
Sputum berlendir, lekat, abu-abu/putih tanda bronkitis kronik.
Sputum berbau busuk tanda abses paru/ bronkhiektasis.

Unsur-unsur yang terdapat dalam sputum:


Butir keju, yaitu potongan potongan kecil berwarna kuning yang berasal dari
jaringan nekrotik, didapat ada tuberculosis pulmonum, gangrena abses dan pada
actinomycosis
Uliran spiral Cursman : bentuk kuning berulit yang sering dilihat benang pusat.
Didapat pada asma bronchiale.
Tuanngan bronchi. Bahan tuangan itu adalah fibrin, besarnya tergantung pad
besarnya bronchus tempaqt pembentukannya. Didapat pada bronchitis fibrinosa dan
kadang-kadang pada pneumonia.
Sumbat Dittrich, yaitu benda kuning putih yang dibentuk dalam bronci atau
bronchioli. Ditemukan pada asma bronchiale, bronchitis dan bronchiectasi. Sumbat
Dittrich berbeda dari tuangan bronchi karena ia tidak tersusun dari fibrin tetapi dari
sel-sel rusak, lemak dan bakteri. Dalam praktek sumbat Dittrich sukar dibedakan
dari tunagan fibrin.

DAFTAR PUSTAKA
Mastra, Nyoman, dkk. 2014. Bakteriologi. Denpasar : Politektnik Kesehatan Denpasar
Jurusan Analis Kesehatan.
Lay, B. W. 1994. Analisis Mikroba di Laboratorium. Jakarta: PT. Raga Grafindo
Persada.
Syahrurachman, dkk. 1994. Buku Ajar Mikrobiologi Kedokteran Edisi Revisi.
Jakarta: UI Press.

Jawetz, Melnick, Adelberg. 1996. Mikrobiologi Kedokteran edisi 20. Jakarta : Penrbit
Buku Kedokteran EGC.