Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

KAIFIYAH SHOLAT IED DALAM PANDANGAN


MUHAMMADIYAH

Disusun Oleh :
GEMILANG PRATAMA
(112120150)
8D

PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOREJO

2015
1

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum Wr.Wb
Segala puji bagi Allah, sang Pencipta alam semesta beserta isinya untuk
kepentingan hidup manusia. Shalawat dan salam semoga dicurahkan kepada Nabi
penutup semua risalah samawi, yaitu Muhammad SAW, beserta keluarga,
parasahabat, dan pengikutnya. Alhamdulillah, dengan izin Allah kami dapat
menyelesaikan makalah yang berjudul Kaifiyah Sholat Ied. Walaupun dalam
makalah ini tidak lepas dari kekurangan dan kekhilafan, kami mengharapkan
kritik dan saran dari Dosen Pembimbing untuk perbaikannya, agar makalah ini
bisa lebih baik lagi. Mudah mudahan makalah yang saya buat ini dengan sangat
sederhana, dapat bermanfaat bagi kita bersama. Amin
Wassalamualaikum wr wb
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN SAMPUL

KATA PENGANTAR .

ii

DAFTAR ISI

iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ...


B. Rumusan Masalah ..

1
2

BAB II PEMBAHASAN .

A. Pengertian Sholat Hari Raya


B. Hukum dan Syariat ..
C. Waktu dan Tempat ...
D. Tata Cara dan Khutbah
E. Hal-hal yang Disunahkan .
F. Adzan dan Qomat .
G. Permasalahan
BAB III PENUTUP .
A. Kesimpulan ..
B. Saran.
DAFTAR PUSTAKA .

3
3
4
7
8
9
10
11
13
14
15

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar belakang
Idul Fitri memang hari istimewa. Secara syari pun dijelaskan bahwa Idul
Fitri merupakan salah satu hari besar umat Islam selain Hari Raya Idul Adha.
Karena agama ini membolehkan umat utk mengungkapkan perasaan bahagia dan
bersenang-senang pada hari itu.Sebagai bagian dari ritual agama prosesi perayaan
Idul Fitri sebenarnya tidak bisa lepas dari aturan syariat. Ia harus didudukkan
sebagaimana keinginan syariat.Bagaimana masyarakat kita selama ini menjalani
perayaan Idul Fitri yg datang menjumpai? Secara lahir kita menyaksikan perayaan
Hari Raya Idul Fitri masih sebatas sebagai rutinitas tahunan yg memakan biaya
besar dan juga melelahkan. Kita seperti belum menemukan esensi yg sebenar dari
Hari Raya Idul Fitri sebagaimana yg dimaukan syariat.Bila Ramadhan sudah
berjalan 3 minggu atau sepekan lagi ibadah puasa usai aroma Idul Fitri seolah
mulai tercium. Ibu-ibu pun sibuk menyusun menu makanan dan kue-kue bajubaju baru ramai diburu transportasi mulai padat krn banyak yg bepergian atau
karna arus mudik mulai meningkat serta berbagai aktivitas lainya. Semua itu
seolah sudah menjadi aktivitas wajib menjelang Idul Fitri belum ada tandatanda menurun atau berkurang.Untuk mengerjakan sebuah amal ibadah bekal ilmu
syari memang mutlak diperlukan. Bila tidak ibadah hanya dikerjakan berdasar
apa yg dia lihat dari para orang tua. tdk ayal bentuk amalan pun menjadi demikian
jauh dari yg dimaukan syariat.Demikian pula dgn Idul Fitri. Bila kita paham
bagaimana bimbingan Rasulullah SAW dlm masalah ini tentu berbagai aktivitas
yg selama ini kita saksikan bisa diminimalkan. Karena yang terpenting adalah
bagaimana kita memahami makna dan menjalankan solat hari raya idul fitri
sesuai dengan syariat islam yang telah di ajarkan oleh rasulullah SAW.

B. RUMUSAN MASALAH
Dengan latar belakang di awal tadi kiranya dapat disusun beberapa
rumusan masalah sebagai berikut :

1.

Apa yang dimaksud dengan dengan solat hari raya idul fitri?

2.

Apa hukum dan disyariatkannya solat idul fitri?

3.

Bagaimana tata cara solat dan khutbah solat idul fitri?

4.

Apa saja hal-hal yang disunnahkan pada waktu hari raya idul fitri?

5.

Adakah azan dan qomat pad asaat solat hari raya idul fitri?

6.

Wajibkah solat idul fitri bagi musafir?

7.

Bagaimana bila solat idul fitri bertepatan dengan solat jumat?

8.

Bolehkah solat idul fitri di lakukan pada tanggal 2 syawal?

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Sholat Hari Raya.
Rangkaian ibadah-ibadah Ramadhaniyat diakhiri dengan "Idul Fithri". 'Id
secara etimologis berarti 'kembali'. dan Fithri berarti 'berbuka' atau fitroh.
Sedangkan secara istilah, 'Idul Fithri ialah kembali berbuka (makan minum)
setelah berpuasa atau kembali kepada fithroh setelah melalui masa training dan
pembersihan (tathhir) selama bulan Ramadhan idul fitri.
B. Hukum dan Disyariatkannya Sholat Hari Raya Idul Fitri
Hari Raya 'Idul Fithri disyariatkan pertama kali pada tahun awal Hijriyah.
Seperti dilapor

kan oleh Anas: Adalah mereka (penduduk Madinah)

memiliki dua hari raya, hari dimana mereka bermain dan bergembira, sampai
Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Rasulullah SAW bertanya: Apakah tujuan
dan arti dua hari ini ? Mereka menjawab; pada zaman jahiliyah dulu kami
bermain pada dua hari raya ini. Rasulullah SAW berkata :Sesungguhnya Allah
SWT telah mengganti dua hari itu dengan hari Raya yang lebih baik, yakni
hari raya "'Idul Fithri" dan hari raya "'Idul Adhha" (HR. Nasa'I - Ibnu
Hibban).Hukum shalat 'idul fithri adalah sunnah muakadah, yaitu sunnah yang
sangat dipelihara dan dianjurkan oleh Rasulullah SAW kepada umatnya. Dalil
yang menunjukkan atas disyariatkannya shalat 'Idul Fithri, salah satunya :
Al-Qur'an surat al Kautsar ayat 2. (maka dirikanlah solat karena rabb mu;
dan berkorbanlah). Dan
Rajab berkata: Para ulama berbeda pendapat tentang hukum Shalat Idul fitri
menjadi 3 pendapat:
- Pertama: Shalat Id merupakan amalan Sunnah yg dianjurkan seandainya
orang-orang meninggalkannya maka tidak berdosa. Ini adalah pendapat AlImam Ats-Tsauri dan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad.
- Kedua: Bahwa itu adalah fardhu kifayah sehingga jika penduduk suatu
negeri sepakat untuk tidak melakukan berarti mereka semua berdosa dan mesti
diperangi karna meninggalkannya. Ini yang tampak dari madzhab Al-Imam

Ahmad dan pendapat sekelompok orang dari madzhab Hanafi dan Syafii.
-Ketiga: Wajib ain seperti hal Shalat Jumat. Ini pendapat Abu Hanifah dan
salah satu riwayat dari Imam Ahmad.
Al-Imam Asy-SyafiI mengatakan dalam Mukhtashar Al-Muzani:
Barangsiapa memiliki kewajiban utk mengerjakan Shalat Jumat wajib bagi
utk menghadiri shalat 2 hari raya. Dan ini tegas bahwa hal itu wajib ain.
Yang terkuat dari pendapat yg ada wallahu alam adl pendapat ketiga dgn
dalil berikut:


:



: .

:

Dari Ummu Athiyyah ia mengatakan: Rasulullah SAW memerintahkan


kami utk mengajak keluar pada Idul Fitri dan Idul Adha yaitu gadis-gadis
wanita yg haid dan wanita-wanita yg dipingit. Adapun yg haid maka dia
menjauhi tempat shalat dan ikut menyaksikan kebaikan dan dakwah muslimin.
Aku berkata: Wahai Rasulullah salah seorang dari kami tdk memiliki jilbab?
Nabi menjawab: Hendak saudara meminjamkan jilbabnya.Perhatikanlah
perintah Nabi SAW untuk pergi menuju tempat shalat sampai-sampai yg tidak
punya jilbab pun tidak mendapatkan udzur. Bahkan tetap harus keluar dgn
dipinjami jilbab oleh yg lain.Shiddiq Hasan Khan berkata: Perintah utk keluar
berarti perintah utk shalat bagi yg tdk punya udzur Karena keluar merupakan
sarana utk shalat dan wajib sarana tersebut berkonsekuensi wajib yg diberi
sarana.
Di antara dalil yg menunjukkan wajib Shalat Id adalah bahwa Shalat Id
menggugurkan Shalat- Jumat bila kedua bertepatan dlm satu hari. Dan sesuatu
yg tdk wajib tdk mungkin menggugurkan suatu kewajiban.
C. Waktu dan Tempat Sholat Idul Fitri
a. Waktu solat idul fitri.
Para ulama sependapat bahwa waktu shalat 'idul fithri dimulai sejak terbit
matahari 1 Syawwal hingga sebelum zawal (dzuhur), seperti waktu shalat dhuha.

(HR.Ahmad). Di sunnahkan agar menyegerakan shalat 'Idul Adhha dan


mengakhirkan sedikit shalat 'Idul Fithri. (HR. Syafi'i). Hikmahnya untuk shalat
'idul adha agar waktu menyembelih hewan qurban lebih panjang. Sedang untuk
'idul fithri agar waktu menyalurkan zakat lebih luas. Dan Yazid bin Khumair ArRahabi berkata: Abdullah bin Busr salah seorang sahabat Nabi SAW pergi
bersama orang-orang di Hari Idul Fitri atau Idhul Adha maka ia mengingkari
lambat imam. Iapun berkata: Kami dahulu telah selesai pada saat seperti ini. Dan
itu ketika tasbih.Yang dimaksud dengan kata ketika tasbih adalah ketika waktu
shalat sunnah. Dan itu adalah ketika telah berlalu waktu yang dibenci shalat
padanya. dalam riwayat yang shahih riwayat Ath-Thabrani yaitu ketika Shalat
Sunnah Dhuha.Ibnu Baththal berkata: Para ahli fiqih bersepakat bahwa Shalat Id
tidak boleh dilakukan sebelum terbit matahari atau ketika terbitnya. Shalat Id
hanyalah diperbolehkan ketika diperbolehkan shalat sunnah. Demikian
dijelaskan Ibnu Hajar.
Namun sebenar ada yang berpendapat bahwa awal waktu adalah bila
terbit matahari walaupun waktu dibenci shalat belum lewat. Ini pendapat Imam
Malik. Adapun pendapat yg lalu adalah pendapat Abu Hanifah Ahmad dan salah
satu pendapat pengikut Syafii. Namun yang kuat adalah pendapat yang pertama
karna menurut Ibnu Rajab: Sesungguhnya telah diriwayatkan dari Ibnu Umar
Rafi bin Khadij dan sekelompok tabiin bahwa mereka tidak keluar menuju
Shalat Id kecuali bila matahari telah terbit. Bahkan sebagian mereka Shalat Dhuha
di masjid sebelum keluar menuju Id. Ini menunjukkan bahwa Shalat Id dahulu
dilakukan setelah lewat waktu larangan shalat.
b. Tempat solat idul fitri
Banyak ulama menyebutkan bahwa petunjuk Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam dalam shalat dua hari raya adalah beliau selalu melakukan di
mushalla.Mushalla yg dimaksud adalah tempat shalat berupa tanah lapang dan
bukan masjid sebagaimana dijelaskan sebagian riwayat hadits berikut ini.
:

Dari Al-Bara Ibnu Azib ia berkata: Nabi pergi pada hari Idul Adha ke
Baqi lalu shalat 2 rakaat lalu menghadap kami dengan wajah dan mengatakan:
Sesungguh awal ibadah kita di hari ini adalah dimulai dengan shalat. Lalu kita
pulang kemudian menyembelih kurban. Barangsiapa yang sesuai dengan itu
berarti telah sesuai dengan sunnah Ibnu Rajab berkata: Dalam hadits ini
dijelaskan bahwa keluar Nabi Shallallahu alaihi wa sallam dan shalat adalah di
Baqi namun bukan yang dimaksud adalah Nabi shalat di kuburan Baqi. Tapi
yang dimaksud adalah bahwa beliau shalat di tempat lapang yang bersambung
dengan kuburan Baqi dan nama Baqi itu meliputi seluruh daerah tersebut. Juga
Ibnu Zabalah telah menyebutkan dengan sanad bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam shalat Id di luar Madinah sampai di lima tempat sehingga pada akhir shalat
tetap di tempat yg dikenal . Lalu orang-orang sepeninggal beliau shalat di tempat
itu.


:







Dari Abu Said Al-Khudri ia mengatakan: Bahwa Rasulullah dahulu
keluar di hari Idul Fitri dan Idhul Adha ke mushalla yang pertama kali beliau
lakukan adalah shalat lalu berpaling dan kemudian berdiri di hadapan manusia
sedang mereka duduk di shaf-shaf mereka. Kemudian beliau menasehati dan
memberi wasiat kepada mereka serta memberi perintah kepada mereka. Bila
beliau ingin mengutus suatu utusan maka beliau utus atau ingin memerintahkan
sesuatu maka beliau perintahkan lalu beliau pergi.Ibnu Hajar menjelaskan: AlMushalla yang dimaksud dalam hadits adalah tempat yang telah dikenal jarak
antara tempat tersebut dengan masjid Nabawi sejauh 1.000 hasta. Ibnul Qayyim
berkata: Yaitu tempat jamaah haji meletakkan barang bawaan mereka.AsySyaikh Al-Albani rahimahullahu berkata: Nampak tempat itu dahulu di sebelah
timur masjid Nabawi dekat dgn kuburan Baqi
D. Tata Cara Sholat dan Khutbah Idul Fitri
a. Tata cara solat idul fitri

Shalat Id dilakukan dua rakaat pada prinsip sama dgn shalat-shalat yg


lain. Namun ada sedikit perbedaan yaitu dgn ditambah takbir pada rakaat yg
pertama 7 kali dan pada rakaat yg kedua tambah 5 kali takbir selain takbiratul
intiqal.
Adapun takbir tambahan pada rakaat pertama dan kedua itu tanpa takbir
ruku sebagaimana dijelaskan oleh Aisyah dlm riwayatnya:


Dari Aisyah ia berkata: Rasulullah bertakbir para Fitri dan Adha 7 kali dan 5 kali
selain 2 takbir ruku. Kemudian Syarat dan rukun shalat 'id mengikuti syarat dan
rukun shalat wajib. Dan pada rekaat kedua lima kali takbir, tidak termasuk takbir
ketika bangkit dari sujud (rakaat pertama) ke rakaat kedua (takbirotul qiyam),
dengan mengangkat kedua tangan setiap takbir, sebagaimana dilaporkan Amar bin
Syuaib (HR. Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud dan Daru quthni).Shalat 'Idul Fithri
dilakukan sebelum khutbah 'Idul Fithri, sebagaimana dilaporkan oleh Ibnu Umar "
Adalah Rasulullah SAW , Abu Bakar, Umar, Utsman melaksanakan shalat Idul
Fithri sebelum khutbah 'Idul Fithri " (HR. Bukhori-Muslim). Riwayat yang sama
juga dilaporkan oleh Abu Said.
b. Khutbah solat hari raya idul fitri
Pelaksanaan khutbah 'Idul Fithri yaitu setelah shalat 'Id seperti
dilaporkan oleh Ibnu Umar dan Abu Said (HR. Bukhori-Muslim). Hukum khutbah
'Idul Fithri dan mendengarkannya adalah sunnat, seperti yang dilaporkan oleh
Abdullah bin As Said (HR. An Nasa'i, Abu Daud dan Ibnu Majah). Dan yang
paling afdlol mengikuti seluruh rangkaian shalat/khutbah 'Idul Fithri dari awal
sampai akhir. Dan seperti pada shalat jum'at, khutbah 'Idul Fithri terdiri dari dua
khutbah.
E. Hal-Hal yang di Sunnahkan pada Waktu Hari Raya Idul Fitri

Hal-hal yang disunnahkan pada Waktu Hari Raya yaitu Mengisi malam
'Idul Fithri dengan ibadah dan taqorrub kepada Allah, seperti dzkir, shalat, qiroatul
Qur'an, tasbih, istighfar dan sebagainya. Dan yang lebih afdlol, menghidupkan
malam 'Id semalam suntuk, seperti dilaporkan ubadah bin Shamit (HR. Ath
Thobari dan Daru Quthni), tentunya kalau kuat,tanpa mengorbankan ibadahibadah wajib seperti, shalat isya' dan shalat subuh, tepat pada waktunya dengan
berjama'ah. Menghindari mengisi malam-malam 'Idul Fithri dengan acara hurahura, takbiran sambil menabuh beduk yang justru mengganggu (tidak khusyuk),
memutar kaset takbiran sementara orangnya tidur dan lain-lain, yang bertentangan
dengan sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW. Menghidupkan sunnah takbiran
semenjak terbenam matahari akhir Ramadhan hingga berangkat ke tempat shalat
'id sampai kemudian shalat 'id dilaksanakan dengan lafal, al: "Allaahu Akbar (3x),
La Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar, Allaahu Akbar Walillahil Hamdu". Mandi
(HR. Ibnu Majah), memakai wangi-wangian (parfum) (HR. Baihaqi), bersiwak
(menggosok gigi),memakai sebaik-baik pakaian. Bersegera (berpagi-pagi) menuju
tempat shalat 'Idul fithri, dengan tenang, dan penuh ketulusan. Dan lebih afdlol
kalau berjalan, sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW, seperti dilaporkan oleh
Ali bin Abi Tholib (HR. Tirmidzi).Makan (sarapan) sebelum berangkat shalat 'Idul
Fithri, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. (HR. Bukhori)Membayar
zakat fitrah sebelum berangkat shalat 'Idul Fithri (batas akhir pembaya ran zakat
fitrah). Sekalipun zakat fitrah boleh saja dibayar beberapa hari sebelum 'Idul
Fithri. (HR. Abu Daud, Ibnu Majah, Daraquthni, al Hakim).Bergembira dan
menggembirakan sesama muslim dan lebih mempererat tali ukhuwah diantara
kaum muslimi. Disunnahkan juga agar jalan ketika pergi dan jalan ketika pulang
tidak sama. Seperti yang dipraktekkan Rasulullah SAW. Sebagaimana yang
dilaporkan Jabir (HR. Bukhori).
F. Adzan dan Qomat pada Waktu Hari Raya Idul Fitri
Adzan dan qomat Tidak disyari'atkan adzan dan qomat pada waktu
shalat 'Idul Fithri dan 'Idul Adha, seperti dilaporkan Ibnu Abbas dan Jabir (HR.
Bukhori dan Muslim). Dan Dari Jabir bin Samurah ia berkata: Aku shalat
bersama Rasulullah 2 Hari Raya bukan hanya 1 atau 2 kali tanpa adzan dan tanpa

iqamah. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dan Jabir bin Abdillah Al-Anshari
kedua berkata: Tidak ada adzan pada hari Fitri dan Adha. Kemudian aku berta
kepada Ibnu Abbas tentang itu mk ia mengabarkan kepadaku bahwa Jabir bin
Abdillah Al-Anshari mengatakan: Tidak ada adzan dan iqamah di hari Fitri
ketika keluar imam tdk pula setelah keluarnya. Tidak ada iqamah tdk ada
panggilan dan tdk ada apapun tdk pula iqamah.
Ibnu Rajab berkata: Tidak ada perbedaan pendapat di antara ulama dlm
hal ini dan bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam Abu Bakar dan Umar
radhiallahu anhuma melakukan Shalat Id tanpa adzan dan iqamah.Al-Imam
Malik berkata: Itu adl sunnah yg tiada diperselisihkan menurut kami dan para
ulama sepakat bahwa adzan dan iqamah dlm shalat 2 Hari Raya adl
bidah.Bagaimana dgn panggilan yg lain semacam: Ash-shalatu Jamiah?AlImam Asy-Syafii dan pengikut menganggap hal itu sunnah. Mereka berdalil
dengan:
Pertama: riwayat mursal dari seorang tabiin yaitu Az-Zuhri.
Kedua: mengqiyaskan dgn Shalat Kusuf.
Namun pendapat yg kuat bahwa hal itu juga tdk disyariatkan. Adapun
riwayat dari Az-Zuhri merupakan riwayat mursal yg tentu tergolong dhaif.
Sedangkan pengqiyasan dgn Shalat Kusuf tidaklah tepat dan kedua memiliki
perbedaan. Di antara bahwa pada Shalat Kusuf orang2 masih berpencar sehingga
perlu seruan semacam itu sementara Shalat Id tidak. Bahkan orang2 sudah menuju
tempat shalat dan berkumpul padanya.
Asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullahu berkata:
Qiyas di sini tdk sah krn ada nash yg shahih yg menunjukkan bahwa di zaman
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam utk Shalat Id tdk ada adzan dan iqamah atau
suatu apapun. Dan dari sini diketahui bahwa panggilan utk Shalat Id adl bidah
dgn lafadz apapun.
Ibnu Qayyim berkata: Apabila Nabi Shallallahu alaihi wa sallam sampai
ke tempat shalat mk mulailah beliau shalat tanpa adzan dan iqamah dan tanpa
ucapan Ash-shalatu Jamiah dan Sunnah Nabi adl tdk dilakukan sesuatupun dari
itu.

G. Permasalahan
1. Wajibkah solat hari raya idul fitri bagi musafir ?
Sebuah pertanyaan telah diajukan kepada Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah yg intinya: Apakah utk Shalat Id disyaratkan pelaku seorang yg mukim
(musafir) ?
Beliau kemudian menjawab yg intinya: Ulama berbeda pendapat dalam
masalah ini. Ada yang mengatakan disyaratkan mukim. Ada yang mengatakan
tidak disyaratkan mukim.Lalu beliau mengatakan: Yang benar tanpa keraguan
adl pendapat yg pertama. Yaitu Shalat Id tidak disyariatkan bagi musafir karna
Rasulullah SAW banyak melakukan safar dan melakukan 3 kali umrah selain
umrah haji beliau juga berhaji wada dan ribuan manusia menyertai beliau serta
beliau berperang lbh dari 20 peperangan namun tdk seorangpun menukilkan
bahwa dlm safar beliau melakukan Shalat Jumat dan Shalat Id
2. Bila solat idul fitri bertepatan dengan solat jumat ?
Bila Id Bertepatan dengan Hari Jumat dengan dalil yaitu :
: :


: : . :

:

Dari Iyas bin Abi Ramlah Asy-Syami ia berkata: Aku menyaksikan Muawiyah
bin Abi Sufyan dia sedang berta kepada Zaid bin Arqam: Apakah kamu
menyaksikan bersama Rasulullah dua Id berkumpul dlm satu hari? Ia menjawab:
Iya. Muawiyah berkata: Bagaimana yg beliau lakukan? Ia menjawab:
Beliau Shalat Id lalu memberikan keringanan pada Shalat Jumat dan
mengatakan: Barangsiapa yg ingin mengerjakan Shalat Jumat mk shalatlah.

:


Dari Abu Hurairah dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau berkata:
Telah berkumpul pada hari kalian ini Id mk barangsiapa yg berkehendak telah
mencukupi dari Jumat- dan sesungguh kami tetap melaksanakan Jumat.Ibnu
Taimiyyah berkata: Pendapat yg ke-3 dan itulah yg benar bahwa yg ikut Shalat Id
mk gugur dari kewajiban Shalat Jumat. Akan tetapi bagi imam agar tetap

10

melaksanakan Shalat Jumat supaya orang yg ingin mengikuti Shalat Jumat dan
orang yg tdk ikut Shalat Id bisa mengikutinya. Inilah yg diriwayatkan dari Nabi
dan para shahabatnya.Lalu beliau mengatakan juga bahwa yg tdk Shalat Jumat
mk tetap Shalat Dzuhur.Ada sebagian ulama yg berpendapat tdk Shalat Dzuhur
pula di antara Atha`. Tapi ini pendapat yg lemah dan dibantah oleh para ulama.
3. Bolehkah solat idul fitri dilakukan tanggal 2 syawal..?
Seumpama, informasi tentang terlihatnya hilal melalui ru'yah baru
diketahui siang hari atau telah lewat waktu sholat idul fitri, bagaimanakah cara
pelaksanaan sholat idul fitri? Apakah sholat id tetap dilakukan atau tidak?
Mungkin di jaman ini, kejadian seperti ini kemungkinan kecil terjadi. Penetapan 1
Syawal telah dilakukan pada malam sebelumnya. Bahkan, dengan metode hisab,
penentuan 1 syawal dapat dilakukan jauh hari sebelumnya. Akan tetapi, untuk
daerah terpencil yang meyakini bahwa penentuan 1 syawal "hanya" syah dengan
metode ru'yah, kejadian seperti sangat mungkin terjadi, Misalnya, ketika lewat
waktu dzhuhur baru diperoleh informasi bahwa kemarin hilal telah terlihat. Lalu
apa yang harus dilakukan?
Berikut ini adalah Jawabannya.
Dari Umair bin Anas bin Malik dari pamannya dari kalangan shahabat
bahwasanya ada sekelompok pengendara datang. Mereka mempersaksikan bahwa
telah melihat hilal kemarin. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam
memerintahkan mereka untuk berbuka (Iedul Fithri) dan pergi pagi-pagi ke tanah
lapang keesokan harinya. (HR. Ahmad dan Abu Dawud, dishahihkan oleh Syaikh
Al-Albani di dalam Shahih Sunan Tirmidzi 1/214, hadits ke 1026).
Hadits ini sebagai dalil bagi orang yang berkata bahwasanya sahalat Ied boleh
dilakukan pada hari kedua, apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar
waktu shalatnya. Pendapat ini adalah pendapat Al-AuzaI, At-Tsauri, Ahmad,
Ishaq, Abu Hanifah, Abu Yusuf, Muhammad, SyafiI, dll Dhahir hadits diatas
menunjukkan bahwa shalat pada hari yang kedua itu adalah penunaian bukan
qadla. Demikian keterangan Imam Asy-Syaukani dalam Nailul Authar 3/310.

11

Imam As-Shanani menyatakan : hadits diatas sebagai dalil bahwa shalat Ied
dilaksanakan hari kedua tatkala waktu Ied diketahui dengan jelas sesuadah keluar
(habis) waktu shalat. (Subulus Salam 2/133)

12

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Beberapa pelajaran mengenai pengertian,tata cara, hukum,hal-hal yang di
sunnahkan,dan permasalahan solat hari raya idul fitri telah teruraikan dalam karya
ini walau mungkin tak sempurna dan masih banyak kesalahan di dalamnya. Hari
raya idul fitri memang banyak makna bagi tiap-tiap orang tapi kita seharusnya
memaknai sesuai dengan apa yang telah di ajarkan rasulullah SAW yakni idul fitri
adalah ialah kembali berbuka (makan minum) setelah berpuasa atau kembali
kepada fithroh setelah melalui masa training dan pembersihan (tathhir) selama
bulan Ramadhan idul fitri. Kemudian hukum dari solat Id adalah sunnah
muakadah, yaitu sunnah yang sangat dipelihara dan dianjurkan oleh Rasulullah
SAW kepada umatnya. Kemudian sunnah yang telah dianjurkan oleh rasulullah
pada waktu hari raya di antaranya: Mandi, memakai wangi-wangian, menggosok
gigi,memakai sebaik-baik pakaian. Bersegera menuju tempat shalat 'Idul fithri,
dengan tenang, dan penuh ketulusan. Dan lebih afdlol kalau berjalan, serta tak
lupa untuk makan sebelum berangkat solat kemudian beberapa permasalahan
tentang status musafir telah dibahas bahwa musafir tidak disyariatkan untuk solat
Id, permasalahan bila solat Id bertepatan dengan hari jumat yaitu yang ikut Shalat
Id maka gugur dari kewajiban Shalat Jumat. Akan tetapi bagi imam agar tetap
melaksanakan Shalat Jumat supaya orang yang ingin mengikuti Shalat Jumat
dan orang yang tidak ikut Shalat Id bisa mengikutinya.kemudian permasalahan
bila solat di lakukan tanggal 2 syawal.Mungkin di jaman ini, kejadian seperti ini
kemungkinan kecil terjadi. Penetapan 1 Syawal telah dilakukan pada malam
sebelumnya. Bahkan, dengan metode hisab, penentuan 1 syawal dapat dilakukan
jauh hari sebelumnya tapi jika memang terjadi shalat Ied boleh dilakukan pada
hari kedua, apabila tidak jelas waktu Ied kecuali setelah keluar waktu
shalatnya.demikianlah karya ini di buat- dengan masih banyak kesalahan dan
kekurangannya karena kebenaran datang dari allah semata dan kesalahan-

13

kesalahan takkan lepas dari saya sebagai manusia yang memiliki banyak
kekurangan.
B. Saran
Dari kesimpulan tadi saya memberikan saran jika Untuk mengerjakan
sebuah amal ibadah bekal ilmu syari memang mutlak diperlukan. Bila tidak
ibadah hanya dikerjakan berdasar apa yg dia lihat dari para orang tua. tdk ayal
bentuk amalan pun menjadi demikian jauh dari yg dimaukan syariat.Demikian
pula dgn Idul Fitri. Bila kita paham bagaimana bimbingan Rasulullah SAW dlm
masalah ini tentu berbagai aktivitas yg selama ini kita saksikan bisa
diminimalkan.

14

DAPTAR PUSTAKA
Mahmud, Syaltut. 1984. Akidah dan Syariah Islam, Jakarta: PT Bina Aksara
Pimpinan

pusat

muhammadiyah.

Himpunan

Muhammadiyah,
----------------------,------.

Putusan

Majlis

Tarjih

Jogjakarta: 1967
Majalah Salafy

22,------------:----------

15

edisi

XXIII.Hal

12-