Anda di halaman 1dari 7

Nama

: Lina Kustikawati

Nim

: 121072

Kls

:2B
TUGAS SEMESTER PENDEK KEPERAWATAN ANAK
1. Pathway beserta diagnosa kperawatan yang muncul
a. Anak dengan kejang demam
PATOFISIOLOGI

Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel/organ otak diperlukan


energi yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme
otak yaitu glukosa sifat proses ini adalah oksidasi dengan perantaraan
fungsi paru-paru dan diteruskan ke otak melalui sestem kardiovaskuler.
Dari uraian di atas, diketahui bahwa sumber energi otak adalah glukosa
yang melalui proses oksidasi dipecah menjadi CO2 dan air. Sel yang
dikelilingi oleh membran yang terdiri dari permukaan dalam yaitu lipoid
dan permukaan luar yaitu ionik. Dalam keadaan normal membran sel
neuron dapat dilalui dengan mudah oleh ion kalium (K+) dan sangat sulit
oleh natrium (Na+) dan elektrolit lainnya kecuali ion klorida (Cl-).
Akibatnya konentrasi K+ dalam sel neuron tinggi dan ion Na+ rendah,
sedang di luar sel neuron terdapat keadaan sebaliknya. Karena keadaan
tersebut, maka terjadi perbedaan potensial membran yang disebut potesial
membran dari neuron. Untuk menjaga keseimbangan potensial membran
ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na - K Atp ase yang terdapat
pada
permukaan
sel.
Keseimbangan potensial membran ini dapat diubah oleh perubahan
konsentrasi ion di ruang ekstraseluler. Rangsangan yang datangnya
mendadak seperti mekanis, kimiawi atau aliran listrik dari sekitarnya dan
perubahan patofisiologi dan membran sendiri karena penyakit atau
keturunan.
Pada demam, kenaikan suhu 1o C akan mengakibatkan kenaikan suhu 1o
C akan mengakibatkan metabolisme basal 10 - 15 % dan kebutuhan O2
meningkat
20
%.
Pada seorang anak berumur 3 tahun sirkulasi otak mencapai 65% dari
seluruh tubuh dibandingkan dengan orang dewasa (hanya 15%) oleh
karena itu, kenaikan suhu tubuh dapat mengubah keseimbangan dari
membran sel neuron dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion
kalium dan natrium melalui membran listrik. Ini demikian besarnya
sehingga meluas dengan seluruh sel dan membran sel sekitarnya dengan
bantuan bahan yang tersebut neurotransmitter dan terjadi kejang.
Pada anak dengan ambang kejang yang rendah, kejang dapat terjadi pada
suhu 38o C dan anak dengan ambang kejang tinggi, kejang baru terjadi
pada suhu 40o C atau lebih, kejang yang berlangsung lama (>15 menit)
biasanya disertai apnea. Meningkatnya kebutuhan O2 dan untuk kontraksi
otot skelet yang akhirnya terjadi hipoksemia, hiperkapnia, denyut jantung
yang tidak teratur dan makin meningkatnya suhu tubuh karena tingginya
aktifitas otot dan selanjutnya menyebabkan metabolisme otek meningkat.

Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan


hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul oedema
otak yang mengakibatkan kerusakan sel neuron otak

PATHWAY KEJANG DEMAM


Infeksi bakteri firus
dan penyakit
z
Reaksi inflamasi
Proses demam
Hipertermia
Resiko
keterlambatan
Reflek
Kesadaran
Resiko
menelan
Aspirasi
menurun
Resiko
kejang
Resiko
cidera

Rangsang mekanik
dan biokimia
gangguan
keseimbangan
cairan
Pelepasan muatan
dan
elektrolit
listrik
semakin meluas
keseluruhan
Perubahan sel
maupun
membran
konsentrasi
ion di sel
Ketidak
seimbangan
sekitarnya
dengan
ruan ekstraseluler
potensi
membran ATP
bantuan
Kontraksi
Metabolisme
otot
Kebutuhan
Resiko
Afiksia
O2meni
Kurang
dari
15
ASE

Kelainan neurologis
perinatal/prenatal
Suhu
tubuh
semakin
Resiko
Perubahan
Resiko
kerusakan
suplay
sel
Perubahan
Termoregulasi
beda
meningkat
Resiko
cidera
kejang
ketidakefektifan
darah
neuron
ke
otak
otak
Perubahan
Lebih
dari
15
difusi
menit
Na +
potensial
tidak
membran
efektif

Data
S :ibu mengatakan berat
badan B naik 1kg dl 3hari
kmrn

Diagnosa
a)

volume cairan berhubungan dengan kehilangan protein


sekunder terhadap peningkatan permiabilitas glomerulus.

O :wajah terlihat
bulat,bengkak seluruh
tubuh,drajat dua

S : ibu mengatakan anaknya


tidak mau makan

Kelebihan

Tujuan volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria


hasil penurunan edema, ascites, kadar protein darah
meningkat, output urine adekuat 600 700 ml/hari, tekanan
darah dan nadi dalam batas normal.

b)

Perubahan

O : tidak mau makan

nutrisi ruang dari kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi


sekunder terhadap kehilangan protein dan penurunan napsu
makan.
Tujuan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil
napsu makan baik, tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi
makan yang dihidangkan dihabiskan, edema dan ascites tidak
ada.

S : ibu klien mengatakan


anaknya sering menangis
c)
O : mengis saat di dekati
perawat

Kecemasan
anak berhubungan dengan lingkungan perawatan yang asing
(dampak hospitalisasi).
Tujuan kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria
hasil kooperatif pada tindakan keperawatan, komunikatif
pada perawat, secara verbal mengatakan tidak takur.

2.

Diagnosa dan Rencana Keperawatan.


a)

Kelebihan
berhubungan

dengan

kehilangan

protein

sekunder

volume
terhadap

cairan
peningkatan

permiabilitas glomerulus.
3.
Tujuan volume cairan tubuh akan seimbang dengan kriteria hasil penurunan
edema, ascites, kadar protein darah meningkat, output urine adekuat 600 700
ml/hari, tekanan darah dan nadi dalam batas normal.
4. Intervensi
1.

Catat intake dan output secara akurat


6.

2.

Kaji dan catat tekanan darah, pembesaran


abdomen, BJ urine

3.

Timbang berat badan tiap hari dalam skala


yang sama

4.

Berikan cairan secara hati-hati dan diet


rendah garam.

5.

Diet protein 1-2 gr/kg BB/hari.

5. Rasional
7. Evaluasi harian keberhasilan
terapi dan dasar penentuan
tindakan
8. Tekanan darah dan BJ urine
dapat menjadi indikator
regimen terapi
9. Estimasi penurunan edema
tubuh
10.
11. Mencegah edema bertambah
berat
12.
13. Pembatasan protein
bertujuan untuk
meringankan beban kerja

hepar dan mencegah


bertamabah rusaknya
hemdinamik ginjal.
14.
a)

Perubahan

nutrisi

ruang

dari

kebutuhan berhubungan dengan malnutrisi sekunder terhadap kehilangan protein dan


penurunan napsu makan.
15.
Tujuan kebutuhan nutrisi akan terpenuhi dengan kriteria hasil napsu makan
baik, tidak terjadi hipoprtoeinemia, porsi makan yang dihidangkan dihabiskan,
edema dan ascites tidak ada.
16. Intervensi

17. Rasional

1.
Catat intake dan output makanan secara akurat

20. Monitoring asupan nutrisi


bagi tubuh

2.

21.

Kaji adanya anoreksia, hipoproteinemia, diare.

22. Gangguan nuirisi dapat


terjadi secara perlahan.
Diare sebagai reaksi edema
intestinal

18.
1.
Pastikan anak mendapat makanan dengan diet yang

23. Mencegah status nutrisi


menjadi lebih buruk

cukup
19.
24.
25.
a)

Kecemasan

anak

berhubungan

dengan lingkungan perawatan yang asing (dampak hospitalisasi).


26.
Tujuan kecemasan anak menurun atau hilang dengan kriteria hasil kooperatif
pada tindakan keperawatan, komunikatif pada perawat, secara verbal mengatakan
tidak takur.
27. Intervensi
1.
Validasi perasaan takut atau cemas
29.
30.
1.
Pertahankan kontak dengan klien
31.
1.
Upayakan ada keluarga yang menunggu

28. Rasional
34. Perasaan adalah nyata dan
membantu pasien untuk
tebuka sehingga dapat
menghadapinya.
35. Memantapkan hubungan,
meningkatan ekspresi
perasaan
36. Dukungan yang terus
menerus mengurangi
ketakutan atau kecemasan

32.
33.
1.
Anjurkan orang tua untuk membawakan mainan
atau foto keluarga.

yang dihadapi.
37. Meminimalkan dampak
hospitalisasi terpisah dari
anggota keluarga.

38.