Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN

RY/FS/10056R/2011
STUDI KELAYAKAN
ATAS
PERUBAHAN KEGIATAN USAHA UTAMA
PT CITRA KEBUN RAYA AGRI Tbk

Ref. No. RY/FS/10056R/2011

Jakarta, 24 November 2011

Kepada Yth,
Direksi
PT Citra Kebun Raya Agri Tbk
Menara Imperium Lt. 18
Metropolitan Kuningan Superblok Kav. I
Jl. HR Rasuna Said
Jakarta 12980

Dengan hormat,
Dalam rangka pelaksanaan transaksi dan untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang diatur dalam
Peraturan Badan Pengawas Pasar Modal-LK (Bapepam-LK) No. IX.E.2, PT Citra Kebun Raya Agri Tbk
(CKRA atau Perseroan) telah menunjuk KJPP Raymond Yoranouw (RY), sebagai Penilai
Independen untuk memberikan pendapat atas kelayakan Rencana Transaksi Perseroan, sesuai dengan
Surat Penunjukkan No. 217A/Dir-CKRA/XI/2011 tertanggal 8 November 2011.
Dalam melaksanakan penugasan tersebut, RY melakukan analisa kelayakan perubahan kegiatan
usaha utama Perseroan yang didasarkan pada proyeksi keuangan sehubungan dengan Rencana
Transaksi Perseroan, yaitu pengambilalihan 88% saham dalam PT Persada Indo Tambang (PIT),
setelah divestasi 99,99% saham PT Horizon Agro Industry (HAI).
Sebelumnya kami telah menerbitkan Laporan No. RY/FS/10056/2011 tertanggal 24 November 2011.
Laporan ini kami terbitkan kembali berkaitan dengan perubahan proyeksi keuangan oleh manajemen
akibat revisi estimasi cadangan bijih besi yang digunakan, dan guna melengkapi pendapat atas
kelayakan Rencana Transaksi Perseroan.
Analisa kelayakan usaha dapat dilakukan berdasarkan perhitungan kelayakan investasi Perseroan dan
perbandingan antara rasio kinerja proyeksi keuangan Perseroan dalam kondisi tanpa adanya PIT dan
dengan adanya pengambilalihan 88% saham PIT.
Untuk mengevaluasi kelayakan investasi Perseroan pada Rencana Transaksi digunakan
2 (dua) indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), yang didasarkan
pada proyeksi nilai kini arus kas bersih PIT hingga tahun 2017. Penggunaan NPV berarti mengukur
nilai kini dari pengeluaran investasi dan manfaat bisnis yang digambarkan oleh proyeksi manfaat netto.
Nilai NPV mencerminkan selisih dari nilai sekarang arus kas masa datang dengan nilai investasi. Jika
nilai NPV positif maka investasi tersebut dapat diterima sedangkan jika nilai NPV negatif, investasi
tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan. Nilai IRR mencerminkan besarnya tingkat bunga yang apabila
digunakan untuk mendiskonto seluruh selisih kas masuk akan menghasilkan jumlah kas yang sama
dengan jumlah investasi.

Kelayakan investasi Perseroan dihitung dengan menggunakan dua indikator yaitu Net Present Value
(NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), dengan ringkasan sebagai berikut:
Keterangan

NPV
(Juta Rupiah)

IRR
(%)

PIT

71.850

Sangat tinggi*

* Dengan nilai akuisisi 88% saham PIT oleh CKRA sebesar Rp 500 juta, dibandingkan dengan proyeksi
penghasilan bisnis PIT di masa depan yang sangat potensial, maka tingkat balikan internal (IRR) investasi ini
adalah sangat tinggi dan tidak terhitungkan. Hal tersebut terjadi karena nilai kini arus kas bersih dalam tahun
pertama akuisisi 88% saham PIT telah jauh melampaui nilai akuisisi tersebut.

Berdasarkan proyeksi keuangan dan analisa kelayakan usaha, apabila Perseroan mengambil alih 88%
saham PIT dan melakukan perubahan kegiatan utama Perseroan menjadi pertambangan bijih besi,
maka akan menghasilkan investasi yang layak dan pertumbuhan laba bersih yang lebih baik. Dengan
demikian, rencana pengambilalihan 88% saham PIT dinilai layak untuk dilaksanakan.
Laporan ini berdasarkan asumsi bahwa semua informasi keuangan dan informasi lain yang diberikan
Perseroan atau yang tersedia secara umum adalah lengkap dan akurat; tidak ada perubahan kondisi
pasar dan perekonomian, peraturan perpajakan, manajemen dan kebijakan akuntansi; serta
terpenuhinya semua kondisi dan kewajiban Perseroan dan semua pihak yang terlibat dalam Rencana
Transaksi Perseroan.
Laporan ini disiapkan secara obyektif dan karenanya tidak sah di bawah kondisi lainnya, dan tidak
dapat digunakan maupun dikutip untuk tujuan lainnya tanpa persetujuan tertulis dari RY.
Kami tidak diwajibkan untuk memperbaharui laporan ini berdasarkan kejadian yang terjadi setelah
tanggal laporan ini.
Kami berterima kasih atas perhatian, kerjasama dan kesempatan yang diberikan dalam pekerjaan ini.

Hormat kami,
KJPP Raymond Yoranouw

Raymond Yoranouw, MBT, MAPPI (Cert.)


Managing Partner
Ijin Penilai
: B-1.09.00113
STTD
MAPPI

: 03/BL/STTD-P/B/2009
: 03-S-01751

PERNYATAAN
Sebatas kemampuan dan keyakinan yang kami miliki, kami menyatakan:


Semua keterangan dalam laporan Studi Kelayakan ini adalah benar sesuai dengan
pemahaman terbaik dari Penilai;

Analisis dan kesimpulan hanya dibatasi oleh asumsi dan kondisi yang dilaporkan;

Penilai tidak mempunyai kepentingan terhadap obyek yang dinilai kelayakannya;

Imbalan jasa tidak berkaitan dengan hasil yang dilaporkan;

Analisa kelayakan dilakukan dengan memenuhi ketentuan KEPI dan SPI;

Penilai telah memenuhi persyaratan pendidikan profesional yang ditentukan dan/atau


diselenggarakan oleh asosiasi Penilai yang diakui Pemerintah;

Penilai memiliki pemahaman mengenai obyek yang dinilai kelayakannya;

Penilai melakukan inspeksi terhadap obyek yang dinilai kelayakannya;

Tidak seorang lain pun, kecuali yang disebutkan dalam laporan Studi Kelayakan, telah
menyediakan bantuan profesional dalam menyiapkan penilaian kelayakan ini.

Pihak-pihak di bawah ini telah bekerja secara profesional untuk membantu pihak yang
menandatangani Laporan ini:

Supervisor:
Jaya Sukito
MAPPI No. 09-P-02648

......................................................

Jessica Tjoa
MAPPI No. 10-P-02650

......................................................

Penilai:

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

CATATAN PENTING
Laporan Studi Kelayakan (Laporan) ini disiapkan oleh KJPP Raymond Yoranouw (RY), sebagai
Penilai Independen untuk PT Citra Kebun Raya Agri Tbk (CKRA atau Perseroan) dalam
kaitannya dengan rencana pengambilalihan 88% saham dalam PT Persada Indo Tambang (PIT).
Laporan dan fakta yang terkandung di dalamnya adalah berdasarkan informasi dan representasi
yang disediakan oleh Perseroan yang kemudian dikompilasi oleh RY. Laporan ini berisi semua
informasi sehubungan dengan rencana usaha Perseroan, dan bahwa informasi yang terkandung
dalam laporan ini benar dan akurat dalam semua hal material dan tidak menyesatkan.
Laporan ini berisi informasi rahasia Perseroan dan harus dibaca dan hanya digunakan sehubungan
dengan rencana usaha dan sebaiknya tidak diperbanyak atau digunakan dalam keseluruhan atau
sebagian untuk tujuan lain.
Dalam menerima laporan ini, Perseroan mengakui bahwa (i) Perseroan telah diberikan
kesempatan untuk meminta dan mereview, dan telah menerima semua informasi yang diperlukan
untuk memeriksa kembali keakuratan informasi atau untuk melengkapi informasi di dalamnya (ii)
Perseroan tidak bergantung kepada Penilai atau seseorang yang memiliki hubungan afiliasi
dengan Penilai atau pihak lain yang berafiliasi dengan Penilai sehubungan dengan pemeriksaan
keakuratan informasi atau keputusan. Penyampaian dari laporan ini atau setiap negosiasi yang
dibuat berdasarkan laporan ini, dalam kondisi apapun, tidak dapat diimplikasikan bahwa informasi
yang terkandung adalah benar setelah tanggal laporan ini.
RY sebagai Penilai Independen menegaskan bahwa kami tidak berafiliasi dengan Perseroan dan
PIT, baik langsung maupun tidak langsung, seperti yang didefinisikan oleh Standar Penilaian
Indonesia.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

ii

DAFTAR ISI

PERNYATAAN ................................................................................................................................. i
CATATAN PENTING........................................................................................................................ ii
DAFTAR ISI.................................................................................................................................... iii
1.
RINGKASAN EKSEKUTIF...................................................................................................... 1
1.1 UMUM........................................................................................................................... 1
1.2 GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN....................................................................................... 1
1.3 RUANG LINGKUP ............................................................................................................ 1
1.4
RENCANA TRANSAKSI .................................................................................................... 2
1.5 ANALISA KELAYAKAN USAHA ............................................................................................ 2
2.
KEGIATAN USAHA................................................................................................................ 3
2.1 PENDIRIAN DAN INFORMASI UMUM ..................................................................................... 3
2.2 POSISI KEUANGAN DAN LABA RUGI HISTORIS ...................................................................... 6
2.3 USAHA PERTAMBANGAN BIJIH BESI ................................................................................... 8
3. TINJAUAN INDUSTRI DAN PROSPEK USAHA ......................................................................... 9
3.1 EKONOMI SECARA UMUM ................................................................................................. 9
3.2 INDUSTRI BAJA DAN SEMEN DUNIA .................................................................................. 10
3.3 INDUSTRI BIJIH BESI INDONESIA ...................................................................................... 12
3.4 INDUSTRI BAJA DAN SEMEN INDONESIA ............................................................................ 14
3.5 ANALISA SWOT ........................................................................................................... 15
4.
RENCANA TRANSAKSI....................................................................................................... 16
4.1 LATAR BELAKANG RENCANA TRANSAKSI .......................................................................... 16
4.2 MAKSUD DAN TUJUAN TRANSAKSI ................................................................................... 16
5.
PROYEKSI KEUANGAN ...................................................................................................... 18
5.1 ASUMSI PROYEKSI KEUANGAN ........................................................................................ 18
6.
ANALISA KELAYAKAN USAHA........................................................................................... 20
6.1 NILAI INVESTASI ........................................................................................................... 20
6.2 ANALISA INVESTASI ....................................................................................................... 20
6.3 ANALISA INKREMENTAL .................................................................................................. 22
6.4 KESIMPULAN ................................................................................................................ 23
7.
SYARAT PEMBATASAN...................................................................................................... 24
LAMPIRAN

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

iii

1.

RINGKASAN EKSEKUTIF

1.1

UMUM
KJPP Raymond Yoranouw (RY) ditunjuk oleh PT Citra Kebun Raya Agri Tbk (CKRA
atau Perseroan) berdasarkan Surat Penunjukkan No. 217A/Dir-CKRA/XI/2011 tertanggal
8 November 2011 dengan maksud untuk melakukan penyusunan studi kelayakan
sehubungan dengan perubahan bidang usaha utama Perseroan, berupa rencana transaksi
divestasi 99,99% saham PT Horizon Agro Industry (HAI) dan pengambilalihan 88%
saham dalam PT Persada Indo Tambang (PIT).
Laporan studi kelayakan ini telah disusun berdasarkan laporan keuangan Perseroan dan
laporan keuangan PIT per tanggal 30 September 2011 dan informasi lainnya berkaitan
dengan rencana usaha sebagaimana dijabarkan dalam proyeksi keuangan dan
pembahasan dalam Bab 5.
Laporan ini disiapkan secara obyektif dan karenanya tidak sah di bawah kondisi lainnya,
dan tidak dapat digunakan maupun dikutip untuk tujuan lainnya tanpa persetujuan tertulis
dari RY.

1.2

GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN


PIT didirikan pada tahun 2006 dan merupakan perusahaan yang bergerak di bidang
pertambangan bijih besi. Perusahaan berkedudukan di Medan dan memiliki kantor cabang
di Jakarta dengan lokasi pertambangan di Nagari Sungai Kunyit, Sumatera Barat. PIT
memulai kegiatan operasionalnya pada tahun 2011.
Per tanggal 30 September 2011, PIT memiliki Ijin Usaha Pertambangan (IUP) dengan area
eksplorasi di Sungai Kunyit, Solok Selatan yang memiliki luas sebesar 2.936 Ha dan
berakhir pada tanggal 27 April 2012. Untuk area operasi produksi, PIT berlokasi di Sungai
Kunyit, Solok Selatan dengan luas sebesar 150,80 Ha dan IUP akan berakhir pada tanggal
27 April 2015.
Telah dilakukan peninjauan lokasi Sungai Kunyit pada tahun 2010 oleh Pusat Penelitian
dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, dimana dinyatakan jumlah cadangan
pada daerah tergali sebanyak 1.827.000 MT dan pada daerah yang akan dieksploitasi
sebanyak 3.636.000 MT, dengan total cadangan 5.463.000 MT. Karena belum dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk menentukan jumlah cadangan terukur maupun terbuktinya,
terdapat ketidakpastian dalam hal jumlahnya sehingga manajemen PIT hanya
menggunakan estimasi jumlah cadangan sebesar 10% dari jumlah tersebut.

1.3

RUANG LINGKUP
Studi Kelayakan Usaha ini didasarkan pada data dan informasi terbatas yang kami peroleh
dari manajemen Perseroan yaitu:





Laporan Keuangan PIT yang telah diaudit untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2010 dan tanggal 30 September 2011;
Data mengenai kegiatan perusahaan termasuk estimasi cadangan bijih besi di
tambang PIT;
Proyeksi keuangan Perseroan serta PIT untuk tahun 2012-2017;
Hasil diskusi dengan manajemen.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

1.4

RENCANA TRANSAKSI
Latar belakang dilaksanakannya Rencana Transaksi adalah sebagai berikut:
1. Saat ini kegiatan utama Perseroan adalah sebagai perusahaan holding melalui anak
perusahaannya yang bergerak dalam bidang perkebunan kelapa sawit, namun
manajemen Perseroan berpendapat bahwa kinerja Perseroan saat ini belum membaik
di mata publik dan pemegang saham Perseroan, oleh karena itu Perseroan
merencanakan untuk melakukan pengembangan usaha di bidang pertambangan bijih
besi dengan mengakuisisi PIT setelah melepas seluruh kepemilikannya dalam
PT Horizon Agro Industry (HAI);
2. Kegiatan Perseroan lainnya melalui anak perusahaan yang baru diharapkan akan
dapat menyumbang pendapatan dengan komposisi yang lebih besar.
Manajemen Perseroan berkeyakinan bahwa latar belakang rencana tersebut merupakan
bagian dari rencana jangka panjang Perseroan dan akan menjadikan Perseroan menjadi
perusahaan yang baik dan memiliki potensi pengembangan usaha di masa mendatang.

1.5

ANALISA KELAYAKAN USAHA


Untuk mengevaluasi kelayakan investasi Perseroan pada Rencana Transaksi digunakan
2 (dua) indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), yang
didasarkan pada 88% nilai kini arus kas bersih PIT yang diproyeksikan hingga tahun 2017
(sesuai pengambilalihan 88% saham PIT oleh Perseroan). Penggunaan NPV berarti
mengukur nilai kini dari pengeluaran investasi dan manfaat bisnis yang digambarkan oleh
proyeksi manfaat netto.
Nilai NPV mencerminkan selisih dari nilai sekarang arus kas masa datang dengan nilai
investasi. Jika nilai NPV positif maka investasi tersebut dapat diterima sedangkan jika nilai
NPV negatif, investasi tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan. Nilai IRR mencerminkan
besarnya tingkat bunga yang apabila digunakan untuk mendiskonto seluruh selisih kas
masuk akan menghasilkan jumlah kas yang sama dengan jumlah investasi.
Analisa kelayakan usaha dapat dilakukan berdasarkan perhitungan kelayakan investasi
Perseroan dan perbandingan antara rasio kinerja proyeksi keuangan Perseroan dalam
kondisi tanpa adanya PIT dan dengan adanya pengambilalihan 88% saham PIT.
Kelayakan investasi Perseroan dihitung dengan menggunakan dua indikator yaitu Net
Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), dengan ringkasan sebagai berikut:
Keterangan

NPV
(Juta Rupiah)

IRR
(%)

PIT

71.850

Sangat tinggi*

* Dengan nilai akuisisi 88% saham PIT oleh CKRA sebesar Rp 500 juta, dibandingkan dengan proyeksi
penghasilan bisnis PIT di masa depan yang sangat potensial, maka tingkat balikan internal (IRR) investasi ini
adalah sangat tinggi dan tidak terhitungkan. Hal tersebut terjadi karena nilai kini arus kas bersih dalam tahun
pertama akuisisi 88% saham PIT telah jauh melampaui nilai akuisisi tersebut.

Berdasarkan proyeksi keuangan dan analisa kelayakan usaha, apabila Perseroan


mengambil alih 88% saham PIT dan melakukan perubahan kegiatan utamanya setelah
melepas kepemilikan dalam anak perusahaan yang bergerak dalam bidang perkebunan
kelapa sawit, maka akan menghasilkan investasi yang layak dan pertumbuhan laba bersih
yang lebih baik. Dengan demikian, rencana pengambilalihan 88% saham PIT dinilai layak
untuk dilaksanakan.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

2.

KEGIATAN USAHA

2.1

PENDIRIAN DAN INFORMASI UMUM


CKRA
PT Citra Kebun Raya Agri Tbk (Perusahaan) didirikan berdasarkan Akta No. 435 tanggal
19 September 1990 dari Notaris Siti Pertiwi Henny Shidki, SH dengan nama PT Ciptojaya
Kontrindoreksa. Akta Pendirian Perusahaan telah memperoleh pengesahan dari Menteri
Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C2-9.936.HT.01.01.TH.95
tanggal 11 Agustus 1995 serta diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia No.
92 tanggal 17 Nopember 1995, Tambahan No. 9501.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dalam
Akta No. 82 tanggal 11 Oktober 2010 dari Notaris Sutjipto, SH, mengenai perubahan
susunan pengurus Perusahaan. Akta perubahan tersebut telah dilaporkan kepada Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Penerimaan
Pemberitahuan No. AHUAH.01.10-28278 tanggal 5 Nopember 2010.
Sesuai dengan Pasal 3 Anggaran Dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan
bergerak dalam bidang pertanian, perindustrian, perdagangan, jasa dan transportasi darat.
Pada saat ini, aktivitas utama Perusahaan berfokus pada investasi pada anak perusahaan
yang bergerak dalam bidang pertanian dan perkebunan, khususnya pada penanaman dan
industri pengolahan kelapa sawit, cassava dan produk turunannya.
Perusahaan berdomisili di Jakarta dan berkantor di Menara Imperium Lt. 18, Jl. HR.
Rasuna Said Kav 1. Metropolitan Kuningan Superblok, Jakarta 12980.
Pada tanggal 5 Mei 1999, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) dalam surat No. S-656/PM/1999 untuk melakukan
Penawaran Umum atas 63.600.000 saham Perusahaan kepada masyarakat dengan harga
nominal Rp 250 per saham dengan harga penawaran Rp 250 per saham. Perusahaan
telah mencatatkan seluruh sahamnya sebanyak 168.000.000 saham di Bursa Efek
Indonesia (dahulu Bursa Efek Jakarta) pada tanggal 19 Mei 1999.
Pada tanggal 15 Juni 2001, Perusahaan melakukan penambahan modal tanpa hak
memesan efek terlebih dahulu sebanyak 8.400.000 saham Seri B dengan harga
pelaksanaan Rp 125 per saham.
Pada tanggal 28 Desember 2007, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua
Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dalam Surat
No. S-6571/BL/2007 untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) I kepada para
pemegang saham dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD)
sebanyak 834.960.000 saham dengan harga pelaksanaan Rp 250 per saham di mana
melekat sejumlah 58.800.000 Waran Seri I. Setiap pemegang 15 saham, berhak atas 71
HMETD, di mana 1 HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli 1
saham baru dan atas setiap 71 saham baru melekat 5 Waran Seri I yang diberikan secara
cuma-cuma. Waran Seri I merupakan efek yang memberikan hak kepada pemegangnya
untuk membeli saham dengan harga sebesar Rp 250 yang dilaksanakan selama periode
pelaksanaan Waran yaitu tanggal 28 Juli 2008 sampai dengan tanggal 20 Pebruari 2011.
Waran Seri I, selama tidak dilaksanakan, tidak mempunyai hak sebagai pemegang saham
dan hak atas dividen. Apabila Waran Seri I tidak dilaksanakan sampai habis masa periode
pelaksanaannya, maka Waran tersebut akan kadaluarsa, tidak bernilai, tidak berlaku serta

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

jangka waktunya tidak akan diperpanjang. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa
Efek Indonesia pada tanggal 17 Januari 2008.
Pada tanggal 30 Juni 2008, Perusahaan memperoleh pernyataan efektif dari Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) dalam Surat No. S4214/BL/2008 tanggal 30 Juni 2008 untuk melakukan Penawaran Umum Terbatas (PUT) II
kepada para pemegang saham dalam rangka penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu (HMETD) sebanyak 4.045.440.000 saham dengan harga pelaksanaan Rp 250 per
saham. Saham-saham tersebut dicatatkan pada Bursa Efek Indonesia pada tanggal 14
Juli 2008.
Berdasarkan daftar pemegang saham yang diterbitkan oleh biro administrasi efek yaitu
PT Sinartama Gunita, susunan pemegang saham Perusahaan pada tanggal 30 Juni 2011
adalah sebagai berikut :

Pemegang Saham
Citra Group Pte Limited
PT Kurnia Cemerlang
Adrianus Holy Marhendra
Masyarakat (masing-masing
kepemilikan kurang dari 5%)
Jumlah Modal Ditempatkan dan
Disetor

Jumlah Saham

Persentase
Kepemilikan

Jumlah
Seri A

Seri B

80,00%
12,12%
-

4.045.432.280
612.731.436
100.000

1.011.358.070.000
153.182.859.000
25.000.000

7,88%

390.136.284

8.400.000

98.584.071.000

100,00%

5.048.400.000

8.400.000

1.263.150.000.000

Berdasarkan Akta No. 30 tanggal 3 Maret 2011 dari Notaris Sutjipto, SH, susunan dewan
komisaris dan direksi Perusahaan per 30 Juni 2011 sebagai berikut :
Dewan Komisaris
Komisaris Utama
Komisaris
Komisaris Independen
Dewan Direktur
Direktur Utama
Direktur

: Adrianus Holy Marhendra


: Lies Sri Rahayu
: Husni Thamrin Mukti
: Peter Chao
: Yudhi Asmara Yasmine
Hong Moi Me

Perusahaan memiliki baik langsung maupun tidak langsung, lebih dari 50% saham anak
perusahaan dan/atau mempunyai pengaruh signifikan atas manajemen anak perusahaan
sebagai berikut. Berikut adalah anak perusahaan Perseroan per 30 Juni 2011:
Anak Perusahaan

Lokasi

Kegiatan Usaha

PT Horizon Agro Industry (HAI)

Bandar Lampung

Perkebunan Cassava

Persentase
kepemilikan
99,99%

Jakarta
Jakarta
Jambi
Jambi

Perkebunan Cassava
Perkebunan Kelapa Sawit
Perkebunan Kelapa Sawit
Perkebunan Kelapa Sawit

99,74%
99,74%
89,99%
89,99%

Anak Perusahaan HAI


PT Surya Lestari Niaga
PT Surya Nusa Makmur
PT Ary Kirana Lestari
PT Surya Kuary Abadi

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

PIT
PT Persada Indo Tambang (PIT) didirikan berdasarkan Akta No. 14 tanggal 3 Agustus
2006, yang dibuat di hadapan Notaris Halim Alrasyid Kanggara, S.H., dan telah
mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia
dalam Surat Keputusan No. W2-00209 HT.01.01-TH.2006 tanggal 1 Desember 2006.
Anggaran Dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan
Akta Notaris Roosmidar, S.H. No 166 tanggal 30 September 2010 mengenai perubahan
tempat kedudukan Perusahaan. Akta perubahan tersebut telah memperoleh persetujuan
dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan
No. AHU-10058.AH.01.02.Tahun 2011 tanggal 25 Februari 2011.
Sesuai dengan pasal 3 Anggaran Dasar, ruang lingkup kegiatan PIT bergerak di bidang
pertambangan, dan kegiatan utama PIT dalam bidang pertambangan bijih besi.
Dokumen dan data perijinan yang dimiliki oleh PIT antara lain:
 Tanda Daftar Perusahaan (TDP) No. 02.12.1.51.10091 yang dikeluarkan oleh
Pemerintah Kota Medan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan berlaku sampai
dengan tanggal 15 Januari 2012.
 Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP) Menengah No. 321/02.13/PM/XI/2009 tanggal 3
November 2009 yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Kota Medan dan berlaku sampai dengan tanggal 10 Desember 2012.
 Surat Keterangan Domisili Perusahaan No. 259\1.824.02\2010 tanggal 2 November
2010 yang dikeluarkan oleh Pemerintah Propinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta
Kotamadya Jakarta Pusat, Kecamatan Gambir, Kelurahan Gambir dan berlaku sampai
dengan tanggal 2 November 2011.
 Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) No. 02.591.083.7-025.000 tanggal 30 Desember
2010.
 Keputusan Bupati Solok Selatan No. 540/11/IUP/DESDM/Bup-2010 mengenai
persetujuan perpanjangan dan perubahan kuasa pertambangan eksplorasi menjadi izin
usaha pertambangan eksplorasi tanggal 27 April 2010.
 Keputusan Bupati Solok Selatan No. 540/2/IUP/DESDM/Bup-2010 mengenai
persetujuan perubahan kuasa pertambangan eksploitasi menjadi izin usaha
pertambangan operasi produksi tanggal 27 April 2010.
Berdasarkan Akta No. 51 tanggal 13 November 2009 yang dibuat di hadapan Notaris
Roosmindar, S.H., modal dasar PIT adalah sebesar Rp 1.000.000.000 yang terdiri atas
1.000 lembar saham dengan nilai nominal Rp 1.000.000 per lembar. Dari modal dasar
tersebut telah ditempatkan dan disetor sebesar Rp 500.000.000 yang terdiri atas 500
lembar saham, dengan struktur modal per 30 September 2011 sebagai berikut:
Pemegang Saham

1.000

Jumlah Disetor
(Rp)
1.000.000.000

125
125
125
125
500

125.000.000
125.000.000
125.000.000
125.000.000
500.000.000

Jumlah Saham

Modal Dasar
Modal Ditempatkan dan Disetor Penuh
Agus Isywara Yoe
Alwijaya AW
Boelio Muliadi
Tay Robianto
Jumlah

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

25,00
25,00
25,00
25,00
100,00

Susunan anggota Direksi dan Komisaris PIT per tanggal 30 September 2011 adalah
sebagai berikut:
Komisaris Utama
Direktur Utama
Direktur
2.2

: Alwijaya AW
: Agus Isywara Yoe
: Tay Robinto

POSISI KEUANGAN DAN LABA RUGI HISTORIS


CKRA
Laporan Posisi Keuangan (Neraca) dan Laba Rugi Konsolidasi Perseroan untuk periode 6
bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2011 dan 31 Desember 2010 telah diaudit oleh
KAP Johan Malonda Mustika dan Rekan dimana karena konsolidasi keuangan Perseroan
maka tidak dinyatakan pendapat atas Laporan Keuangan Konsolidasi per dan untuk
periode 6 bulan yang berakhir pada tanggal 30 Juni 2011 serta per dan untuk tahun yang
berakhir pada tanggal 31 Desember 2010.
Di samping itu, Laporan Posisi Keuangan (Neraca) dan Laba Rugi Konsolidasi Perseroan
untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2009 diaudit oleh auditor
independen lain yang dalam laporannya No. 037A/RW-AK/LAP/0511 tanggal 10 Mei 2011
tidak menyatakan pendapat atas Laporan Keuangan Konsolidasi tersebut.
Ringkasannya adalah sebagai berikut:
)
(dalam Rupiah)
Keterangan

Operating Highlight
Penjualan
Laba Kotor
Laba(Rugi) Usaha
Laba(Rugi) Bersih
Financial Position
Aset Lancar
Aset Tidak Lancar
Kewajiban Lancar
Kewajiban Tidak Lancar
Ekuitas
Key Performance Ratio
Marjin Laba Kotor
Marjin Laba (Rugi) Usaha
Marjin Laba Bersih
Return on Assets (ROA)
Return on Equity (ROE)
Rasio Lancar
Rasio Cepat
Rasio Kewajiban terhadap Aset
Rasio Kewajiban terhadap Ekuitas

2009

2010
(1 tahun)
Disajikan Kembali

2011
(6 bulan)

8.464.200.000
610.200.000
(6.289.198.991)
(423.953.479)

(3.285.588.066)
(41.001.854.246)

(2.096.961.989)
8.901.297.222

543.003.906.872
732.640.300.694
11.945.766.494
28.385.298.196
1.235.313.142.876

506.315.085.982
654.283.158.446
12.367.025.760
10.798.866.570
1.137.432.352.098

509.586.073.393
661.237.373.343
12.919.363.178
11.570.434.238
1.146.333.649.320

7,21%
-74,30%
-5,01%
-0,03%
-0,03%
45,46
0,06
0,03
0,03

N/A
N/A
N/A
-3,53%
-3,60%
40,94
0,04
0,02
0,02

N/A
N/A
N/A
0,76%
0,78%
39,44
0,05
0,02
0,02

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

PIT
Posisi neraca per 31 Desember 2010 dan 30 September 2011 dan laporan laba rugi untuk
periode 9 bulan yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan 1 tahun yang berakhir
pada tanggal 31 Desember 2010 yang telah diaudit oleh KAP Johan Malonda Mustika dan
Rekan dengan pendapat wajar tanpa pengecualian, disajikan sebagai berikut:
(dalam Rupiah)
Deskripsi
ASET
Aset Tidak Lancar
Piutang Pihak Berelasi
Biaya Eksplorasi dan Pengembangan
Jumlah Aset Tidak Lancar
JUMLAH ASET
KEWAJIBAN DAN EKUITAS
Kewajiban Jangka Pendek
Hutang Lain-lain
Hutang Royalti
Hutang Pajak
Jumlah Kewajiban Jangka Pendek

31 Des 2010

30 Sept 2011

375.000.000
580.493.435
955.493.435
955.493.435

13.162.904.004
13.162.904.004
13.162.904.004

(dalam- Rupiah)202.147.670
-

151.434.629
167.343.648
520.925.947

Kewajiban Jangka Panjang


Provisi Kewajiban Lingkungan
Hutang Pihak Berelasi
Liabilitas Pajak Tangguhan
JUMLAH KEWAJIBAN

455.493.435
455.493.435

81.083.333
11.675.046.194
96.462.133
12.373.517.607

Ekuitas
Modal ditempatkan dan disetor penuh 500 saham
Saldo Laba
Jumlah Ekuitas
TOTAL KEWAJIBAN DAN EKUITAS

500.000.000
500.000.000
955.493.435

500.000.000
289.386.397
789.386.397
13.162.904.004

(dalam Rupiah)

Pendapatan Usaha

September 2011
(9 Bulan)
9.243.979.512

Beban Pokok Penjualan

(8.133.492.381)

Laba Kotor

1.110.487.131

Beban Usaha

(724.638.601)

Laba Sebelum Pajak Penghasilan

385.848.530

Pajak Kini

Pajak Tangguhan

(96.462.133)

Laba Bersih Periode Berjalan

289.386.397

Pendapatan Komprehensif Lainnya

Laba Bersih Komprehensif

289.386.397

Deskripsi

2010

Pajak Penghasilan

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

2.3

USAHA PERTAMBANGAN BIJIH BESI


Selama tahun 2011, PIT masih menggunakan jasa kontraktor tambang untuk melakukan
kegiatan operasinya di lokasi tambang bijih besinya. Sebagai referensi, telah dilakukan
peninjauan lokasi Sungai Kunyit pada tahun 2010 oleh Pusat Penelitian dan
Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, di mana dinyatakan jumlah cadangan
pada daerah tergali sebanyak 1.827.000 MT dan pada daerah yang akan dieksploitasi
sebanyak 3.636.000 MT, dengan total cadangan 5.463.000 MT. Karena belum dilakukan
penelitian lebih lanjut untuk menentukan jumlah cadangan terukur maupun terbuktinya,
terdapat ketidakpastian dalam hal jumlahnya sehingga manajemen PIT hanya
menggunakan estimasi jumlah cadangan sebesar 10% dari jumlah tersebut.
Dengan dasar demikian, untuk tahun 2012 direncanakan untuk dilakukan penambangan
secara langsung oleh manajemen PIT, dimana diperkirakan produksi selama 1 bulan
adalah sebesar 10.000 MT, sehingga jumlah 1 tahun produksi adalah 120.000 MT. Jumlah
tonase produksi tersebut diperkirakan mengalami kenaikan sebesar 30.000 MT per
tahunnya hingga mencapai 180.000 MT untuk tahun 2014. Dalam tahun 2015 diperkirakan
hanya akan diproduksi 96.300 MT, seluruhnya dalam 4 bulan pertama tahun tersebut. Total
produksi selama 4 tahun proyeksi tersebut diperhitungkan sebesar 546.300 MT.
Sesuai dengan fluktuasi harga bijih besi di pasar global, maka berpengaruh terhadap
fluktuasi harga pasar lokal. Harga jual yang digunakan dalam studi ini adalah USD 85 per
MT bijih besi untuk tahun 2012, yang diperhitungkan meningkat menjadi USD 87, USD 90,
dan USD 92 per MT untuk tahun 2013, 2014 dan 2015.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

3.

TINJAUAN INDUSTRI DAN PROSPEK USAHA

3.1

EKONOMI SECARA UMUM


Pemulihan perekonomian global masih menunjukkan perkembangan yang positif. Selain
ditopang oleh ekspansi perekonomian negara emerging market, seperti Cina, pemulihan
ekonomi global juga ditopang oleh menguatnya permintaan domestik walaupun dengan laju
yang lebih moderat. Sementara itu, pemulihan di Eropa berjalan sedikit lebih lambat akibat
konsumsi yang masih melemah sejalan dengan tingginya tingkat penggangguran,
membengkaknya defisit fiskal di sejumlah negara di kawasan Eropa. Dengan perkembangan
ekonomi global tersebut, pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2011 diperkirakan lebih
optimis dari perkiraan sebelumnya.
Di pasar keuangan global, perbaikan ekonomi global yang terus berlanjut mendorong kinerja
pasar keuangan global. Indeks saham di berbagai bursa menunjukkan tren yang meningkat,
meski sempat terkoreksi akibat sentimen negatif yang dipicu oleh sinyal pengetatan
kebijakan moneter di Cina. Optimisme di pasar keuangan global tersebut juga disertai oleh
membaiknya persepsi risiko di emerging market.
Hal ini mendorong derasnya aliran modal ke emerging market, yang mendukung penguatan
di pasar keuangan dan apresiasi mata uang di sejumlah negara. Inflasi global diperkirakan
relatif masih rendah sehingga mendorong otoritas moneter di sebagian besar negara maju
untuk melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif sehingga arus modal masuk ke
negara emerging, termasuk Indonesia diperkirakan masih akan berlanjut.
Berlanjutnya perbaikan pada perekonomian global berdampak positif pada perekonomian
domestik. Dari sisi permintaan, pertumbuhan ekspor menunjukkan kinerja yang kian
membaik sejalan dengan peningkatan permintaan global. Demikian juga konsumsi rumah
tangga, akan tetap tumbuh relatif tinggi, didukung oleh daya beli masyarakat yang membaik
dan keyakinan konsumen yang menguat.
Penerapan Asean China-Free Trade Agreement (ACFTA) berpotensi membawa dampak
positif bagi perekonomian domestik baik dari jalur ekspor maupun impor. Melalui jalur ekspor,
tingginya daya saing Indonesia dalam komoditas sumber daya alam akan semakin
mendorong kenaikan ekspor terutama ke Cina. Dari jalur impor, ACFTA akan mendorong
ketersediaan bahan baku dan barang modal yang lebih murah sehingga dapat memperbaiki
efisiensi produksi. Kegiatan investasi juga akan meningkat meskipun belum terlalu signifikan.
Kegiatan investasi terutama terjadi pada sektor bangunan, yaitu sektor infrastruktur. Sektorsektor lain yang akan menunjukkan ekspansi ekonomi antara lain sektor manufaktur dan
sektor perdagangan, terutama terkait dengan meningkatnya konsumsi masyarakat dan
permintaan komoditas ekspor, serta sektor pengangkutan dan komunikasi seiring dengan
aktivitas ekonomi yang meningkat.
Membaiknya kinerja ekspor dan aliran modal asing yang terus berlangsung menjaga kinerja
neraca pembayaran Indonesia (NPI) tetap solid. Perkembangan ekonomi global yang
kondusif, terutama kondisi perekonomian mitra dagang, mendukung perbaikan kinerja ekspor.
Kenaikan ekspor tersebut diprakirakan dapat mengimbangi kenaikan impor yang terjadi
sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

Transmisi kebijakan moneter di sektor keuangan juga terus berlanjut. Hal ini tercermin dari
masih menurunnya suku bunga deposito dan kredit walaupun BI rate tidak mengalami
perubahan sejak September 2009. Kredit yang disalurkan di akhir tahun 2009 meningkat
dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Ke depan, transmisi kebijakan moneter ini
diperkirakan terus membaik sejalan dengan membaiknya persepsi pelaku ekonomi di sektor
riil dan perbankan terhadap perekonomian dan komitmen perbankan untuk menurunkan suku
bunga.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada tahun 2012 sekitar 6,7% angka
tertinggi sejak tujuh tahun terakhir. Percepatan pertumbuhan ekonomi selain didukung
dengan pengeluaran pemerintah, juga harus memanfaatkan peluang investasi pihak swasta.
Pemberian insentif secara tepat dalam hal ini diperlukan untuk mendorong peningkatan
investasi pihak swasta. Berikut adalah kondisi ekonomi makro Indonesia secara umum:
Indikator
Pertumbuhan ekonomi riil (%)
Inflasi (%)
Nilai tukar rata-rata (Rp/USD)
SPN tiga bulan (%)
Rata-rata harga minyak dunia
(USD/ barel)
Produksi minyak (juta barel/hari)

Realisasi Realisasi
2008
2009
6,2
4,4
11,4
2,78
9.691
9.300
9,3
7,6

Realisasi
2010
6,0
5,5
9.300
6,5

Realisasi
2011
6,5
5,65
8.900
5,6

RAPBN
2012
6,7
5,3
8.800
6

96,8

61,6

60

85

90

0,931

0,952

0,970

0,945

0,950

Sumber: Departemen Keuangan

3.2 INDUSTRI BAJA DAN SEMEN DUNIA


Berdasarkan Asosiasi Baja Dunia (Worldsteel), penjualan baja dunia akan meningkat
sebesar 6,5% menjadi 1,39 miliar ton pada tahun 2011, menyusul pertumbuhan 15,1% pada
tahun 2010. Pada tahun 2011 semester pertama, terjadi momentum berkelanjutan dalam
pemulihan permintaan baja global. Hal ini terjadi walaupun serangkaian perkembangan
negatif di kawasan Eropa yang terlilit krisis utang, gempa bumi di Jepang, kerusuhan politik
di beberapa negara dari kawasan Timur Tengah mengarah ke peningkatan harga minyak
dan pengetatan moneter di negara berkembang.
Cadangan bijih besi dunia diperkirakan mencapai 160 370 milyar ton. Dengan kandungan
besi berjumlah 79 180 milyar ton. Beberapa negara yang mempunyai cadangan bijih besi
terbesar antara lain Ukraina, Brazil, Russia, Cina, dan Australia.
Penjualan baja di China pada 2011 diperkirakan meningkat sebesar 7,5% menjadi 643,2 juta
ton menyusul pertumbuhan 8,5% pada tahun 2010. Penjualan baja di India pada 2011
diperkirakan tumbuh 4,3% menjadi 67,7 juta ton karena didorong pertumbuhan ekonomi.
Untuk Asia Pasifik, penjualan baja akan tumbuh masing-masing sebesar 9,0% dan 4,9%
pada tahun 2011 dan 2012.
Di Amerika Serikat, penjualan baja diperkirakan akan pulih kuat dengan pertumbuhan 11,6%.
Pada 2012, penjualan baja di Amerika Serikat diperkirakan tumbuh sebesar 5,2% menjadi
93,8 juta ton. Di Amerika Tengah dan Selatan, penjualan baja diperkirakan tumbuh sebesar
4,7% pada tahun 2011 untuk mencapai historis tinggi 47,8 juta ton.
Negara-negara Eropa terus menunjukkan pemulihan yang berbeda pada tahun 2011.
Sementara permintaan baja di Jerman dan Polandia diperkirakan tumbuh pada tingkat yang

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

10

mengesankan, permintaan baja di Spanyol diprediksi hanya 1,7%. Secara keseluruhan,


permintaan baja di Uni Eropa diproyeksikan meningkat sebesar 7,0% pada 2011 menjadi 155
juta ton.
Pada 2012, pertumbuhan permintaan baja di Eropa kecuali Polandia diperkirakan sebesar
9,5%. Secara keseluruhan, permintaan baja di Uni Eropa diperkirakan tumbuh sebesar 2,5%
menjadi sekitar 158,9 juta ton pada 2012, membawanya kembali ke hanya 80% dari puncak
2007.
Di Jepang, permintaan baja diperkirakan menurun 2,7% menjadi 61,8 juta ton pada 2011
terutama karena gangguan yang disebabkan oleh gempa. Pada 2012 permintaan baja di
Jepang diperkirakan akan menunjukkan pertumbuhan 0,8% menjadi 62,3 juta ton, atau 77%
dari tingkat puncak di 2007.
Secara keseluruhan, permintaan baja di UE diproyeksikan meningkat 7,0% pada tahun 2011
menjadi 155 juta ton. Pada tahun 2012, secara keseluruhan permintaan baja di UE
diperkirakan tumbuh 2,5% menjadi sekitar 158,9 juta ton.
Produsen baja cenderung sangat responsif terhadap situasi pasar dengan menurunkan atau
menaikkan produksi. Karena ada gejala krisis, perusahaan-perusahaan baja di China, Eropa,
dan AS mengurangi produksinya untuk menurunkan pasokan sehingga harga menjadi
terjaga. Di Australia, produsen menurunkan produksi baja hingga sekitar 50%, Eropa sekitar
30%, dan China juga di kisaran 25%-30%.
Berdasarkan data Asosiasi Baja Dunia (World Steel Association) per 20 September 2011,
tingkat produksi baja kasar (crude steel) dari 64 negara di dunia hingga Agustus 2011
cenderung stagnan pada level rata-rata sekitar 126,5 juta ton/bulan. Tingkat produksi sempat
turun di posisi 118,3 juta ton pada Februari 2011, mengalami puncak produksi di level 129,95
juta pada Mei 2011, dan terakhir berproduksi 124,6 juta ton pada Agustus 2011.
Permintaan baja di sektor automotif dan konstruksi akan terus mengalami peningkatan
secara signifikan. Akibatnya, sekali lagi telah melambungkan bijih besi di pusat perhatian
dengan meningkatnya harga di tingkat kuat.
Saat ini harga pasir besi di pasaran dunia mengalami peningkatan yang cukup tinggi dengan
nilai ekonomis yang sangat besar pula. Harga satu ton pasir besi di pasaran internasional
saat ini berkisar USD 40.
Menurut International Cement Review, konsumsi semen dunia tahun 2010 tumbuh 9.9%
menjadi 3,3 miliar ton. Jika pada tahun 2008 konsumsi semen menurun 2.4% menjadi 2,8
miliar ton akibat krisis global yang dipicu oleh krisis moneter di Amerika Serikat, maka pada
tahun 2009 konsumsi semen kembali bangkit dan tumbuh 5.9% menjadi 3,0 miliar ton dan
terus tumbuh pada tahun-tahun berikutnya. Tahun 2012 diperkirakan konsumsi semen dunia
akan mencapai 3,9 miliar ton. Pertumbuhan yang positif ini didorong oleh kenaikan konsumsi
semen yang tinggi di beberapa negara berkembang di dunia, yang disebabkan oleh
meningkatnya tingkat pendapatan dan fokus pada pembangunan infrastruktur.
Cina tetap menjadi negara yang mengkonsumsi semen global dengan jumlah permintaannya
di tahun 2010 adalah sebesar 1,8 miliar ton. India, pada posisi kedua dengan jumlah
konsumsi sebesar 290 juta ton. Meskipun kecil, Indonesia, Malaysia, Nigeria, Vietnam dan
Uni Emirat Arab mencatat pertumbuhan konsumsi semen pertahun yang cukup signifikan.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

11

Pada negera-negara seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Eropa Barat, penjualan semen
akan meningkat dibawah pertubuhan rata-rata konsumsi semen dunia. Di Amerika Serikat
misalnya, pasar diharapkan membaik karena adanya kegiatan pemulihan bangunan tempat
tinggal, serta pengeluaran pemerintah yang besar pada sektor konstruksi di tahun 2011. Di
Eropa Barat, meningkatnya kegiatan pembangunan akan menguntungkan pasar semen di
negara-negara seperti Jerman dan Portugal. Demikian pula, peningkatan anggaran untuk
sektor konstruksi di Jepang akan membantu meningkatkan pertumbuhan konsumsi semen
dunia secara keseluruhan.
Permintaan global akan meningkat sebesar 7% dengan tingkat rata-rata pertumbuhan
meningkat dari 2,4% pada tahun 2010 menjadi 4% di tahun 2011. Berdasarkan data dari bea
cukai Cina, untuk kuartal pertama 2011, Cina mengekspor sebesar 2,913 juta ton semen.

3.3 INDUSTRI BIJIH BESI INDONESIA


Industri pertambangan di Indonesia diperkirakan akan tumbuh pesat dalam lima tahun ke
depan dan menjadi sektor yang makin strategis. Hal ini akan mendorong meningkatnya
investasi asing di sektor tersebut dengan dukungan perbankan nasional maupun
internasional. Sejak tahun 2010, nilai industri pertambangan mencapai lebih dari
USD 73 miliar, yang menyumbang sekitar 11% terhadap produk domestik bruto Indonesia.
Dari tiga jenis sumber logam besi di Indonesia, yaitu bijih besi primer yang jumlahnya hanya
relatif sedikit, kemudian bijih besi laterit dan pasir besi yang berjumlah cukup banyak, perlu di
dorong untuk diolah secara komersial menjadi besi, baik dalam bentuk pig iron, sponge
iron maupun reduced iron.
Pasir besi merupakan salah satu bahan baku dasar dalam industri besi baja dimana
keterdapatannya di Indonesia banyak dijumpai di daerah pesisir seperti di pesisir Jawa,
Sumatera, Sulawesi dan Nusa Tenggara.
Secara umum pasir besi terdiri dari mineral opak yang bercampur dengan butiran-butiran
dari mineral non logam seperti, kuarsa, kalsit, feldspar, ampibol, piroksen, biotit, dan
tourmalin. mineral tersebut terdiri dari magnetit, titaniferous magnetit, ilmenit, limonit, dan
hematit, Titaniferous magnetit adalah bagian yang cukup penting merupakan ubahan dari
magnetit dan ilmenit. Mineral bijih pasir besi terutama berasal dari batuan basaltik dan
andesitik volkanik.
Pasir dan bijih besi selain untuk industri logam besi juga telah banyak dimanfaatkan pada
industri semen. Perkembangan industri yang cukup pesat di Indonesia selama 5 tahun
belakangan ini menuntut tersedianya bahan baku industri yang cukup besar. Salah satu
industri yang cukup berkembang pesat di Indonesia adalah industri besi dan baja.
Peningkatan jumlah industri di bidang besi dan baja ini dikaitkan dengan semakin
dibutuhkannya besi dan baja untuk keperluan kontruksi yang akhir-akhir ini terus
berkembang.
Peningkatan pembangunan di bidang konstruksi yang cukup pesat di Indonesia inilah yang
secara tidak langsung dapat meningkatkan kebutuhan besi dan baja untuk industri. Selain
untuk kepentingan kontruksi, besi dan baja juga mulai banyak dibutuhkan di industri
transportasi dan juga industri rumah tangga.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

12

Di Indonesia, endapan bijih besi dalam bentuk pasir besi diperkirakan berjumlah 83 juta ton
dengan kadar sekitar 38-59 % Fe. Pasir besi ini diketemukan di pantai selatan Pulau Jawa.
Kebutuhan akan besi dari tahun ke tahun makin meningkat. Pada saat ini kebutuhan besi
baja di Indonesia mencapai sekitar sembilan juta ton pertahun. Bahan baku bijih besi
berbentuk pellet yang digunakan untuk pembuatan besi baja tersebut saat ini masih diimpor.
Indonesia sebagai negara yang mempunyai cadangan bijih besi yang melimpah, harus dapat
memanfaatkan kekayaan alam yang ada sebaik mungkin.
Di satu sisi Indonesia memiliki potensi bahan baku baja tersebut berupa pasir besi maupun
bijih besi. Pasir besi ini banyak dijumpai di sepanjang pesisir pantai jawa bagian selatan.
Potensi pasir besi yang terhampar luas di sepanjang pesisir Desa Wotgalih, Kecamatan
Yosowilangun, Kabupaten Lumajang yang rencananya akan ditambang oleh PT Aneka
Tambang (PT Antam) merupakan salah-satu terbaik di Indonesia. Cadangan pasir besi di
pesisir selatan Lumajang ini, menyimpan kandungan sebesar 1 juta metrik ton. Perkiraan
produksi yang akan dihasilkan setiap tahun selama kurun waktu 10 tahun mencapai 250 ribu
ton hingga 300 ribu ton.
Untuk mencukupi kebutuhan besi dan baja nasional saat ini lebih banyak dipenuhi dengan
melakukan import bahan baku mentah berupa pellet besi dari Australia atau negara lain
penghasil bahan baku tersebut seperti Cina atau Kanada. Selain dengan melakukan impor
pellet besi industri dalam negeri juga memanfaatkan besi bekas utuk dilebur kembali.
Salah satu kegunaan pasir besi adalah untuk produksi semen. Diagram di bawah ini
menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara produksi pasir besi dibandingkan dengan
produksi semen nasional:

Sumber: www.buysellmines.blogspot.com

Tercatat pada semester I 2011 harga bijih besi melonjak sebesar 21% menjadi USD182 per
ton dari periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar US$150 per ton. Diperkirakan
harga bijih besi bakal naik tipis menjadi USD 184 per ton pada semester II 2011. Kenaikan
harga itu dipicu oleh permintaan yang tinggi. Apabila dirata-ratakan maka prediksi harga bijih
besi pada semester II 2011 itu naik 20% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya
sebesar USD 153 per ton.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

13

3.4 INDUSTRI BAJA DAN SEMEN INDONESIA


Indonesia termasuk salah satu konsumen sekaligus produsen baja yang relatif besar, namun
selama ini produksi baja nasional tidak pernah seimbang dengan konsumsi kebutuhan dalam
egeri. Menurut Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (IISIA), tahun 2011 Indonesia masih
harus mengimpor baja sekitar tiga juta ton untuk memenuhi tingginya kebutuhan baja di
dalam negeri. Khusus untuk kebutuhan domestik, konsumsi baja di sektor konstruksi dan
manufaktur tahun ini diperkirakan naik tajam sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang
diramalkan bisa mencapai 6,4%. Sektor konstruksi tahun 2011 diperkirakan tumbuh menjadi
7,3%, sedangkan tahun sebelumnya mencapai 6,8%, sementara sektor manufaktur
ditargetkan tumbuh 6,2%, sementara realisasi tahun 2010 hanya mencapai 5%.
Di sisi lain, pasar baja di Indonesia secara keseluruhan tahun ini diperkirakan mencapai
Rp 63,7 triliun atau setara 9,5 juta ton baja. Angka itu meningkat 53,4% dibandingkan tahun
2010 yang mencapai Rp 41,5 triliun, sementara harga rata-rata baja pada 2011 akan naik
1523% dibanding tahun 2010.
Disebutkan, saat ini sekitar empat sampai lima juta ton pasokan baja nasional masih harus
dipenuhi dari luar negeri. Angka tersebut hampir setara dengan 40 50% dari total
kebutuhan baja nasional. Fakta ini membuktikan bahwa investasi baja di Indonesia sangat
prospektif bagi perusahaan domestik dan asing, namun calon investor baja perlu
mengantisipasi persaingan dengan perusahaan baja Cina yang produknya selama ini diduga
membanjiri pasar Indonesia.
Konsumsi produk jadi baja nasional di semester II-2011 akan mengalami kenaikan sekira
lima persen dibandingkan semester I-2011 yang sebesar 3,58 juta ton. Total konsumsi baja
nasional pada tahun 2010 adalah sekira 7,9 8 juta ton. Sedangkan pada tahun ini,
konsumsi baja nasional diperkirakan akan naik hingga mencapai 8,3 juta ton.
Khusus kebutuhan baja di dalam negeri, selain ditopang pertumbuhan ekonomi, konsumsi
baja juga didorong oleh peningkatan produksi automotif. Tahun 2011 ini peningkatan
produksi mobil dan motor masing-masing diproyeksikan mencapai 800 ribu unit dan 7,2 juta
unit. Sebelumnya Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa industri manufaktur
besar dan sedang pada triwulan III/2011 tumbuh sebesar 5,6% dibandingkan periode yang
sama 2010. Dari pertumbuhan tersebut, sektor automotif mencatat produksi terbesar di
antara sektor industri lain sebesar 29,76%.
Industri semen nasional tumbuh sekira 10% pada semester pertama tahun 2011.
Pertumbuhan itu didorong oleh perkembangan industri properti. Pertumbuhan industri semen
di pulau Jawa lebih pesat dibandingkan di luar pulau Jawa. Pasalnya, saat ini, pembangunan
properti banyak dilakukan di pulau Jawa. Sedangkan, di luar Jawa, masih terpusat di
Sumatera.
Berdasarkan catatan Asosiasi Semen Indonesia (ASI), sekitar 60-70% porsi konsumsi semen
di Indonesia masih berasal dari sektor swasta dan sisanya diserap oleh proyek pemerintah.
Pertumbuhan konsumsi semen terutama akan ditopang sektor properti perumahan dan
perkantoran yang masih terus berkembang. Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi tahun
2012, kapasitas terpasang industri semen nasional ditaksir mencapai 51 juta ton. Angka ini
berdasarkan perhitungan utilisasi industri semen yang mencapai 85%. Saat ini, kapasitas
terpasang semen nasional sekitar 47 juta ton.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

14

Penjualan semen pada semester I-2011 mencapai 22,38 juta ton atau naik 14,8% dari
periode yang sama tahun lalu yang hanya 19,5 juta ton. Kenaikan ini di luar dari perkiraan
pabrik semen, karena ditopang adanya momen menjelang Puasa dan Lebaran.
Dengan melihat kondisi kapasitas produksi pabrik semen saat ini, maka diperkirakan akan
terjadi oversupply dalam 4 tahun mendatang karena ada pemain baru. Bila ada kenaikan
10% setiap tahun, maka di 2015 diperkirakan konsumsi semen mencapai 65 juta ton
sementara tahun 2012 sebesar 48 juta ton, tahun ini 44 juta ton dan 2010 sebanyak 40 juta
ton.
Harga semen diprediksi akan mengalami kenaikan di tahun 2011, seiring peningkatan harga
batubara yang menjadi bahan bakar utama produksi semen sekitar 30%. Biaya energi, yakni
listrik dan batubara merupakan penyumbang terbesar terhadap ongkos produksi semen,
yakni mencapai 65-70%.

3.5

ANALISA SWOT
Kondisi industri yang positif dan negatif merefleksikan peluang dan ancaman yang dihadapi
oleh PIT. Mempertimbangkan hal-hal tersebut, maka PIT perlu menentukan strategi yang
dapat diimplementasikan atau digunakan dalam proyeksi keuangan.
Untuk melanjutkan kelangsungan usaha dan meningkatkan persaingan pasar, maka PIT
mengindentifikasi kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang dimiliki, sebagai berikut:
Kekuatan (Strengths)

Telah diperolehnya IUP Eksplorasi seluas 2.936 hektar;

Kelemahan (Weakness)

Investasi awal yang cukup besar untuk peralatan dan mesin penambangan;

Peluang (Opportunity)

Indonesia merupakan salah satu negara penghasil mineral terbesar di dunia, termasuk
bijih besi;
Konsumsi bijih besi yang semakin meningkat terutama dari negara-negara emerging
market;

Ancaman (Threat)

Peraturan pemerintah yang berubah-ubah.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

15

4.

RENCANA TRANSAKSI

4.1

LATAR BELAKANG RENCANA TRANSAKSI


Latar belakang dilaksanakannya Rencana Transaksi adalah sebagai berikut:
1. Saat ini kegiatan utama Perseroan hanya melalui anak perusahaan yang bergerak di
bidang perkebunan cassava dan kelapa sawit namun tidak memberikan kontribusi
pendapatan yang baik bagi Perseroan, oleh karena itu Perseroan merencanakan untuk
melakukan pengembangan usaha di bidang pertambangan bijih besi dengan
mengakuisisi PIT, setelah melakukan divestasi kepemilikan saham dalam PT Horizon
Agro Industry (HAI);
2. Kegiatan Perseroan lainnya melalui anak perusahaan yang baru diharapkan akan
dapat menyumbang pendapatan dengan komposisi yang lebih besar.
Manajemen Perseroan berkeyakinan bahwa latar belakang rencana tersebut merupakan
bagian dari rencana jangka panjang Perseroan dan akan menjadikan Perseroan menjadi
perusahaan yang baik dan memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan usahanya di
masa mendatang.

4.2

MAKSUD DAN TUJUAN TRANSAKSI


Maksud dan tujuan dari dilaksanakan Rencana Transaksi ini, antara lain:


Meningkatkan Prospek Usaha


Dengan mengambilalih PIT sesuai dengan Rencana Transaksi oleh Perseroan, maka
prospek usaha Perseroan dapat meningkat dengan memanfaatkan peluang usaha
yang disumbang oleh PIT. Perluasan lingkup kegiatan operasional diharapkan dapat
meningkatkan pendapatan dan keunggulan bersaing Perseroan.

Meningkatkan Kepercayaan
Meningkatnya prospek usaha Perseroan, karena menurunnya tingkat risiko usaha dan
bertambahnya potensi untuk meningkatkan kinerja keuangan dengan adanya
pengambilalihan PIT, diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan pihak ketiga
kepada Perseroan baik kepada pihak mitra usaha dan pemegang saham Perseroan.

Memberikan Manfaat bagi Pemegang Saham


Dengan pengambilalihan PIT yang diharapkan dapat meningkatkan pendapatan dan
laba Perseroan secara keseluruhan maka akan membuat saham Perseroan di Bursa
Efek Indonesia menjadi semakin menarik dan likuid. Jika kinerja keuangan Perseroan
dapat meningkat, maka akan meningkatkan potensi pembagian dividen bagi
pemegang saham.

Memberikan Nilai Tambah


Memberikan suatu nilai tambah bagi semua pemegang saham, manajemen, karyawan,
melalui peningkatan Good Corporate Governance dalam hal akuntabilitas, tanggung
jawab, transparansi dari masing-masing lini usaha yang dapat berdiri sendiri secara
independen. Perseroan juga dapat meningkatkan nilai untuk jangka panjang dengan
adanya pertumbuhan pendapatan dan kegiatan usaha.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

16

Sedangkan dampak dan risiko yang mungkin timbul sehubungan dengan Rencana
Transaksi antara lain sebagai berikut:






Kenaikan biaya operasional dan eksplorasi PIT yang tidak diimbangi dengan
pendapatan dari kegiatan usaha, jika tidak dilakukan dengan pola manajemen
pertambangan yang baik;
Persaingan dengan perusahaan pertambangan sejenis;
Kondisi keamanan, sosial, politik dan perekonomian yang dapat mempengaruhi kondisi
industri pertambangan di Indonesia;
Kebijakan-kebijakan pemerintah yang dapat membatasi kegiatan usaha
pertambangan.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

17

5.

PROYEKSI KEUANGAN

5.1

ASUMSI PROYEKSI KEUANGAN


Proyeksi keuangan digunakan asumsi yang merefleksikan rencana bisnis manajemen
untuk masa mendatang. Sebagai tambahan, informasi dan saran yang relevan dari
manajemen sehubungan dengan pergerakan di setiap variabel dalam kerangka kerja yang
sudah ditentukan, juga digunakan sebagai pertimbangan.
Selama periode proyeksi, diasumsikan tidak ada perubahan pada peraturan perpajakan
dan peraturan perbankan. Selain itu juga diasumsikan tidak ada perubahan pada
manajemen dan kebijakan akuntansi. Nilai tukar mata uang USD diasumsikan tetap
sebesar Rp 9.000 per USD 1.
Produksi dan Pendapatan
Kegiatan eksplorasi dan pengembangan akan terus berlanjut, namun diasumsikan PIT
akan mulai melakukan kegiatan produksi dan penjualan bijih besi tanpa kontraktor mulai
tahun 2012 dan seterusnya, yang mana diperhitungkan adanya peningkatan efisiensi
penghasilan dari penambangannya.
Sebagai referensi, telah dilakukan peninjauan lokasi Sungai Kunyit pada tahun 2010 oleh
Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara, dimana dinyatakan
jumlah cadangan pada daerah tergali sebanyak 1.827.000 MT dan pada daerah yang akan
dieksploitasi sebanyak 3.636.000 MT, dengan total cadangan 5.463.000 MT. Karena belum
dilakukan penelitian lebih lanjut untuk menentukan jumlah cadangan terukur maupun
terbuktinya, terdapat ketidakpastian dalam hal jumlahnya sehingga kami tidak
menggunakan angka tersebut dalam perhitungan kami. Manajemen PIT pun hanya
menggunakan estimasi jumlah cadangan sebesar 10% dari jumlah tersebut. Kami
berpendapat bahwa asumsi tersebut dapat digunakan, karena mengacu ke perlakuan
pasar modal umumnya untuk berbagai tambang mineral yang belum menggunakan JORC
untuk laporan analisa kandungannya, yang mana turut diterapkan di ASX.
Dalam proyeksi keuangan diperhitungkan volume produksi 8.000 MT per bulan untuk
kwartal terakhir tahun 2011, dan sebesar 10.000 MT per bulan untuk tahun 2012, yang
meningkat menjadi 12.500 MT per bulan dalam tahun 2013 dan 15.000 MT per bulan
dalam tahun 2014, kemudian menjadi 24.075 MT per bulan selama empat bulan pertama
tahun 2015. Dengan demikian diperkirakan total produksi hingga tahun 2015 (akhir masa
IUP OP) adalah sebanyak 546.300 MT.
Harga jual bijih besi dengan kadar Fe 60-63% untuk kwartal terakhir 2011 dan tahun 2012
diasumsikan sebesar USD 85 (FOB Vessel) per MT, dan kemudian meningkat menjadi
USD 87, 90 dan 92 per MT untuk periode proyeksi tahun 2013-2015.
Beban Pokok Pendapatan
Dalam Proyeksi Beban Pokok Pendapatan, diperhitungkan jumlah beban mining, stripping
& production sebesar 7,73% dari pendapatan, beban loading & hauling sebesar 20,90%
dari pendapatan, lab analyst cost sebesar 0,49% dan beban port, sea carrier & shipments
sebesar 7,03% dari pendapatan, serta direct labor (tenaga kerja langsung) sebesar 5% dari
pendapatan. Di samping itu diperhitungkan beban royalti yang mencakup pembayaran ke

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

18

Pemerintah sebesar 3% x USD 30 (digunakan kurs Rp 9.000 per USD 1) x jumlah MT


(tonase) penjualan bijih besi dan Rp 12.000/MT royalti ke kepala suku daerah setempat.
Amortisasi biaya eksplorasi dan pengembangan yang ditangguhkan dilakukan hingga akhir
tahun 2015 (masa berakhirnya IUP OP dan proyeksi keuangan) dengan metode garis
lurus.
Beban Usaha
Beban usaha terdiri dari beban umum administrasi yang diperhitungkan sebesar 9,33%
pada tahun 2012 dan bertahap berkurang hingga mencapai 8,28% pada tahun 2015, selain
beban amortisasi sebesar Rp 922.215.318 tiap tahunnya.
Proyeksi Arus Kas Bersih PIT selama hingga tahun 2015 adalah sebagai berikut (dalam
jutaan Rupiah):
Keterangan

Penjualan Bersih
Beban Pokok Penjualan
Beban Usaha
Laba sebelum bunga dan pajak (EBIT)
Pajak atas EBIT
Laba operasi bersih setelah pajak
Depresiasi & amortisasi
Arus Kas Kotor
Perubahan Investasi
Kenaikan/ (penurunan) modal kerja
Pengeluaran modal
Investasi Kotor
ARUS KAS BERSIH

Proyeksi
Okt-Des
2011

Proyeksi
2012
1

Proyeksi
2013
2

Proyeksi
2014
3

Proyeksi
2015
4

18.360
(8.381)
(918)

91.800
(42.556)
(15.912)

117.450
(53.714)
(19.221)

145.800
(65.983)
(23.396)

79.736
(37.116)
(13.105)

9.061

33.332

44.515

56.421

29.516

(2.362)

(8.333)

(11.129)

(14.105)

(7.379)

6.699

24.999

33.386

42.316

22.137

3.291

3.291

3.291

3.291

6.699

28.290

36.677

45.606

25.428

6.699

28.290

36.677

45.606

25.428

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

19

6.

ANALISA KELAYAKAN USAHA

Analisa kelayakan usaha Perseroan dihitung dari kelayakan investasi Perseroan pada perusahaan
yang akan diambilalih berdasarkan proyeksi keuangan sesuai dengan Rencana Transaksi
Perseroan dengan melakukan pengambilalihan 88% saham PIT.
6.1

NILAI INVESTASI
Nilai Rencana Pengambilalihan 88% saham PIT adalah sebesar Rp 500.000.000,
sebagaimana tercantum dalam Keterbukaan Informasi, dan dinyatakan dalam Perjanjian
Pengikatan Jual Beli antara Perseroan dengan masing-masing para pemegang saham PIT
tertanggal 24 Nopember 2011.
Dengan demikian, nilai Rencana Pengambilalihan Perseroan atas PIT tersebut akan kami
perhitungkan sebagai investasi awal untuk perhitungan kelayakan usaha perusahaan yang
diambilalih.

6.2

ANALISA INVESTASI
Untuk mengevaluasi kelayakan investasi Perseroan pada Rencana Transaksi digunakan
2 (dua) indikator yaitu Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), yang
didasarkan pada 88% nilai kini arus kas bersih PIT yang diproyeksikan hingga tahun 2015
(sesuai pengambilalihan 88% saham PIT oleh Perseroan). Penggunaan NPV berarti
mengukur nilai kini dari pengeluaran investasi dan manfaat bisnis yang digambarkan oleh
proyeksi manfaat netto.
Nilai NPV mencerminkan selisih dari nilai sekarang arus kas masa datang dengan nilai
investasi. Jika nilai NPV positif maka investasi tersebut dapat diterima sedangkan jika nilai
NPV negatif, investasi tersebut sebaiknya tidak dilaksanakan. Nilai IRR mencerminkan
besarnya tingkat bunga yang apabila digunakan untuk mendiskonto seluruh selisih kas
masuk akan menghasilkan jumlah kas yang sama dengan jumlah investasi.

6.2.1

Penentuan Tingkat Diskonto


Dalam menghitung tingkat diskonto (discount factor) untuk AKB digunakan tingkat diskonto
berdasarkan Biaya Modal Rata-rata Tertimbang (Weighted Average Cost of Capital/
WACC) dengan formula sebagai berikut:
WACC = [ ke x We ] + [ kd (1-t) x Wd ]
Dimana :
ke
= biaya modal untuk ekuitas
kd
= biaya modal untuk hutang
We
= bobot ekuitas dalam struktur kapital
Wd
= bobot hutang dalam struktur kapital
t
= tarif pajak
Tingkat diskonto (discount rate) yang digunakan adalah biaya modal rata-rata tertimbang
(weighted average cost of capital), yang diperoleh dari biaya modal untuk hutang berbunga
dan biaya modal untuk ekuitas.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

20

Sedangkan perhitungan biaya modal untuk ekuitas ditentukan dengan mengaplikasikan


model Capital Asset Pricing Model (CAPM). Model ini menyatakan bahwa biaya ekuitas
adalah bunga bebas risiko ditambah premium untuk menutup risiko sistimatis dari sekuritas
saham, dengan formula sebagai berikut :
Ke = Rf + (Rm-Rf)
Ke = Rf + . Rp
Dimana:
Rf
= tingkat pengembalian untuk investasi bebas risiko
Rm
= tingkat pengembalian yang diharapkan oleh pasar ekuitas
Rp
= selisih antara Rm dengan Rf

= sensitivitas antara tingkat pengembalian investasi dengan pasar


Rf (Risk free rate), adalah tingkat suku bunga untuk instrumen-instrumen yang dianggap
tidak memiliki kemungkinan gagal bayar. Untuk penilaian ini, instrumen bebas risiko yang
digunakan adalah rata-rata tingkat suku bunga Surat Utang Negara (SUN) yang jatuh
tempo antara 10 sampai dengan 20 tahun, yaitu sebesar 8,11% per tahun.
Rp (Equity Risk Premium - ERP), adalah selisih antara tingkat bunga investasi bebas
risiko dengan tingkat kembalian investasi dalam bentuk penyertaan. Penentuan equity
market risk premium memasukkan premi untuk risiko spesifik negara (country-specific risk
premiums) seperti volatilitas harga saham untuk menghasilkan base equity market risk
premium. Dengan mengikutkan risiko-risiko ini, dihasilkan tingkat diskonto yang
mengakomodasi perubahan-perubahan sentimen jangka pendek di sekuritas di pasar
negara berkembang (emerging market).
Untuk memperoleh gambaran mengenai ERP, digunakan pendekatan sebagai berikut :
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Aswath Damodaran mengenai Country Default
Spreads and Risk Premiums yang diterbitkan pada bulan Januari 2011 menyatakan
bahwa pasar pada negara dengan emerging market umumnya 1,5 kali lebih volatil
dibandingkan dengan Amerika Serikat. Dengan menerapkan rasio volatilitas pasar
Indonesia ke pasar Amerika Serikat dengan cara mengalikannya, maka diperoleh tingkat
premi risiko untuk pasar Indonesia adalah sebesar 9,13%.
(Beta), adalah pengukur tingkat sensitivitas pengembalian investasi terhadap
pengembalian pasar saham secara keseluruhan. Beta akan dihitung dengan mengacu
kepada (unlevered) beta Damodaran yang kemudian disesuaikan (relevered) dengan
struktur kapital atau tingkat leverage perusahaan untuk memperoleh beta yang sesuai,
dengan formula sebagai berikut:
L = U x [ 1 + (1 t) x DER]
Dimana :
L
= beta levered, yaitu beta yang mengacu pada portfolio pasar dengan
pengaruh hutang
U
= beta unlevered, yaitu beta yang mengacu pada portfolio pasar tanpa
pengaruh hutang
t
= tingkat pajak
DER = rasio hutang terhadap ekuitas

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

21

Beta PIT akan dihitung dengan mengacu kepada (unlevered) beta berdasarkan data
Damodaran industri pertambangan yaitu sebesar 0,73.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor di atas dan kekuatan/ kelebihan serta risiko yang
dihadapi, kami berpendapat bahwa tingkat biaya ekuitas sebesar 24,78% per tahun adalah
wajar untuk mendiskonto arus kas bersih untuk ekuitas dari PIT dengan perhitungan
sebagai berikut :
Perhitungan Cost of Equity
Keterangan
Rf
Rm-Rf

Rs

8,11%
9,13%
0, 73
10,0%
24,78%

Total

Karena perhitungan nilai ekuitas dari suatu perusahaan dilakukan dengan mendiskonto
tingkat balikan terhadap keseluruhan modal (Free Cash Flow to the Firm/ Invested
Capital), maka tingkat diskonto yang digunakan adalah tingkat diskonto yang merupakan
rata-rata tertimbang biaya modal, baik yang berasal dari hutang berbunga (interest bearing
debt) maupun yang berasal dari ekuitas.
Dalam penilaian ini, biaya modal untuk hutang diasumsikan digunakan tingkat bunga
pinjaman rata-rata dalam mata uang Rupiah yang berlaku di pasar periode Januari 2009Juni 2011 yaitu sebesar 12,73%.
Sebagaimana telah diuraikan di atas, diperoleh biaya modal untuk ekuitas dan biaya modal
untuk hutang untuk masing-masing yang disesuaikan dengan struktur kapital selama masa
proyeksi yaitu 100:0; sehingga diperoleh WACC untuk PIT dan anak perusahaan selama
periode proyeksi adalah 24,78%.
6.3

ANALISA INKREMENTAL
Analisa inkremental dapat dilihat dengan membandingkan proyeksi Perseroan tanpa
terjadinya Rencana Transaksi dan dengan terjadinya Rencana Transaksi. Setelah
transaksi divestasi saham PT Horizon Agri Industry (HAI), maka kinerja konsolidasian
Perseroan di masa depan tidak akan membaik, dan bahkan tidak memiliki pendapatan
apapun.
Sedangkan kinerja konsolidasian Perseroan dengan terjadinya Rencana Transaksi selama
periode proyeksi tahun 2012-2015 adalah sebagai berikut:
(dalam jutaan Rupiah, kecuali dinyatakan lain)

Keterangan
Penjualan Bersih
Laba Usaha
Laba Bersih
EBITDA
Marjin Laba Usaha
Marjin Laba Bersih
Marjin EBITDA

Proyeksi
2012
91.800
33.332
24.999
36.623
36,3%
27,2%
39,9%

Proyeksi
2013
117.450
44.515
33.386
47.806
37,9%
28,4%
40,7%

Proyeksi
2014
145.800
56.421
42.316
59.712
38,7%
29,0%
41,0%

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

Proyeksi
2015
79.736
29.516
22.137
32.807
37,0%
27,8%
41,1%

22

Dengan adanya Rencana Transaksi, pendapatan Perseroan dan anak perusahaan


diproyeksikan akan mengalami tingkat pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar
26,03% atau mencapai Rp 145,8 milyar pada tahun 2014, sebelum menurun pada tahun
2015 karena berakhirnya IUP Operasi Produksi dalam bulan April 2015. Pertumbuhan
tersebut dapat dicapai dengan asumsi seluruh usaha Perseroan memiliki prospek yang
baik.
Di samping itu, dengan adanya Rencana Transaksi, EBITDA Perseroan secara konsolidasi
diproyeksikan akan mengalami tingkat pertumbuhan majemuk tahunan (CAGR) sebesar
27,69% atau mencapai Rp 59,7 milyar pada tahun 2014 yang menunjukkan tingkat
profitabilitas yang baik.
Berdasarkan analisa profitabilitas atas keseluruhan Rencana Transaksi di atas terlihat
bahwa Rencana Transaksi yang akan dilakukan Perseroan memiliki prospek dan tingkat
profitabilitas yang baik.
6.4

KESIMPULAN
Analisa kelayakan usaha dapat dilakukan berdasarkan perhitungan kelayakan investasi
Perseroan dan perbandingan antara rasio kinerja proyeksi keuangan dalam kondisi tanpa
adanya PIT dan dengan adanya pengambilalihan 88% saham PIT.
Kelayakan investasi Perseroan dihitung dengan menggunakan dua indikator yaitu Net
Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR), dengan ringkasan sebagai berikut
(lihat Apendiks 3):
Keterangan

NPV
(Juta Rupiah)

IRR
(%)

PIT

71.850

Sangat tinggi*

* Dengan nilai akuisisi 88% saham PIT oleh CKRA sebesar Rp 500 juta, dibandingkan dengan proyeksi
penghasilan bisnis PIT di masa depan yang sangat potensial, maka tingkat balikan internal (IRR) investasi ini
adalah sangat tinggi dan tidak terhitungkan. Hal tersebut terjadi karena nilai kini arus kas bersih dalam tahun
pertama akuisisi 88% saham PIT telah jauh melampaui nilai akuisisi tersebut.

Berdasarkan proyeksi keuangan dan analisa kelayakan usaha, apabila Perseroan


mengambil alih 88% saham PIT, maka akan menghasilkan investasi yang layak dan
pertumbuhan laba bersih yang lebih baik. Dengan demikian, rencana pengambilalihan 88%
saham PIT dinilai layak untuk dilaksanakan.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

23

7.
1.

2.

3.

4.

5.
6.

7.

8.

SYARAT PEMBATASAN
Studi Kelayakan Usaha ini didasarkan pada data dan informasi terbatas yang kami peroleh
dari manajemen Perseroan, yaitu:
 Laporan Keuangan PIT yang telah diaudit untuk periode yang berakhir pada tanggal 31
Desember 2010 dan tanggal 30 September 2011;
 Laporan Penilaian 88% Ekuitas PIT per 30 September 2011 oleh KJPP Raymond
Yoranouw, dengan laporan No. RY/SV/10055R/2011 tertanggal 24 November 2011;
 Laporan Penilaian 99,99% Ekuitas PT Horizon Agro Industry per tanggal 30 Juni 2011
yang disusun oleh KJPP Syukrial, Setiawan & Rekan dengan laporan
No. Esesco.BV.11.12.185 tanggal 19 Desember 2011;
 Laporan Peninjauan Lokasi Penambangan Batu Besi di daerah Sungai Kunyit dan
sekitarnya, Kab. Solok Selatan, Sumatera Barat oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Mineral dan Batubara 2010;
 Copy Perjanjian Pengikatan Jual Beli tertanggal 24 Nopember 2011 antara Perseroan
dengan PT Rajawali Agro Andalan Nusantara berkaitan dengan divestasi 99,99% saham
PT Horizon Agro Industry (HAI) sebanyak 749.999 saham;
 Copy Perjanjian Pengikatan Jual Beli antara Perseroan dengan masing-masing para
pemegang saham PIT tertanggal 24 Nopember 2011, berkaitan dengan investasi dalam
88% saham PT Persada Indo Tambang (PIT) sebanyak 440 saham;
 Proyeksi Keuangan PIT;
 Data mengenai kegiatan perusahaan.
Data yang diberikan oleh manajemen Perseroan termasuk rencana usaha Perseroan dan
anak perusahaannya merupakan tanggung jawab manajemen Perseroan, dan manajemen
Perseroan membebaskan RY dan para pegawai RY dari tanggung jawab akibat kesalahan
informasi. Kami tidak melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap aset, kepemilikan
atau kepentingan bisnis yang menjadi unsur dari studi kelayakan ini.
RY merupakan anggota independen (independent member) dari Baker Tilly International Ltd,
United Kingdom; yang mana masing-masing merupakan entitas yang terpisah dan
independen.
Kami tidak mempunyai kepentingan terhadap aset, kepemilikan atau kepentingan bisnis yang
menjadi subyek dari penyusunan studi kelayakan usaha ini, baik untuk saat ini maupun di
masa mendatang. Kami tidak memiliki kepentingan pribadi atau kecenderungan untuk
berpihak berkenaan dengan subyek dari laporan ini maupun pihak-pihak yang terlibat di
dalamnya.
Kompensasi yang kami terima dari penugasan ini tidak dikaitkan dengan hasil kelayakan
usaha yang dilaporkan ataupun didasarkan pada hasil yang telah ditentukan sebelumnya.
Analisis, opini dan kesimpulan telah dibuat, dan laporan ini telah disusun sesuai dengan
Standar Penilaian Indonesia dari Gabungan Perusahaan Penilai Indonesia (GAPPI) dan
Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI), kecuali dinyatakan lain.
Studi kelayakan usaha disusun berdasarkan kondisi pasar saat ini. Kejadian dimasa
mendatang merupakan suatu hal yang sulit diprediksi, sehingga perubahan kondisi pasar di
kemudian hari mungkin dapat mempengaruhi nilai yang ditentukan saat ini.
Tanda tangan pimpinan dan cap yang resmi merupakan syarat mutlak sahnya laporan studi
kelayakan usaha ini.

Studi Kelayakan Investasi CKRA dalam PT Persada Indo Tambang

24