Anda di halaman 1dari 18

FOTOGRAFI DASAR

KELOMPOK PERIODE X FORENSIK

ANJAR NURYANTO
ABANG SUPRIANTO
DESTI ERYANI
ERIKA FITRIANI
GRACE SHEILA LAMES
JOKO HERDIYANTO
TRI JUNI ARDHI
WINDA SARASWATI

A. Definisi Fotografi
Fotografi [f'tgrfi] adalah suatu proses seni merekam gambar, berupa proses
penangkapan cahaya pada suatu media yang sensitif cahaya, seperti film atau sensor
elektronik. Pola-pola cahaya yang dikeluarkan dan dipantulkan dari obyek, akan
diteruskan ke suatu media elektronik atau media kimia berbahan dasar silver halide yang
terdapat di dalam suatu alat yang disebut kamera selama waktu eksposur melalui lensa
1

fotografi, termasuk di dalamnya proses penyimpanan dari hasil informasi yang ditangkap,
secara elektronik maupun kimiawi1.
Kata photography berasal dari tulisan perancis photographie yang didasari oleh
bahasa yunani, yaitu (phos) yang berarti cahaya dan (graphis) yang artinya
coretan atau gambar. Maka fotografi, dapat diartikan suatu proses menggambar dengan
cahaya1.

B. Definisi fotografi forensik


Fotografi forensik sering juga disebut forensik imaging atau crime scene photography
adalah suatu proses seni menghasilkan bentuk reproduksi dari tempat kejadian perkara
atau tempat kejadian kecelakaan secara akurat untuk kepentingan penyelidikan hingga
pengadilan. Fotografi forensik juga termasuk ke dalam bagian dari upaya pengumpulan
barang bukti seperti tubuh manusia, tempat-tempat dan setiap benda yang terkait suatu
kejahatan dalam bentuk foto yang dapat digunakan oleh penyelidik atau penyidik saat
melakukan penyelidikan atau penyidikan. Termasuk di dalam kegiatan fotografi forensik
adalah pemilihan pencahayaan yang benar, sudut pengambilan lensa yang tepat, dan
pengambilan gambar dari berbagai titik pandang. Skala seringkali digunakan dalam
gambar yang diambil sehingga dimensi sesungguhnya dari obyek foto dapat terekam.
Biasanya digunakan penggaris atau perekat putih yang berskala sentimeter diletakkan
berdekatan dengan lesi atau perlukaan sebagai referensi ukuran. Pada bagian yang tidak
terekspos atau kurang memberikan gambaran yang signifikan, dapat digunakan probe (alat
pemeriksa luka) atau jari sebagai penunjuk dengan posisi yang semestinya1.
Gambar yang diambil biasanya berupa gambar yang berwarna atau dapat pula dalam
bentuk gambar hitam-putih tergantung kebutuhannya. Gambar berwarna lebih dipilih saat
mengumpulkan bukti berupa cat atau bercak yang ditemukan di TKP (tempat kejadian
perkara). Sebaliknya, jejak ban akan lebih tegas pola dan perbedaan warna dengan
sekitarnya saat diambil dalam bentuk foto hitam-putih1.
Metode yang digunakan dalam fotografi forensik tergantung dari kebijakan setiap
negara berkaitan dengan pemakaian kamera dengan film 35 mm atau secara digital.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Dulu dikatakan, fotografi
konvensional atau yang menggunakan film dianggap lebih memiliki resolusi gambar yang
baik dan tinggi sehingga memungkinkan untuk dilakukan pembesaran guna memperoleh
2

detail gambar yang dibutuhkan. Foto digital memiliki kelebihan berupa tanggal dan waktu
yang tertanda secara automatis pada gambar untuk menunjukkan keabsahan gambar yang
diambil dan hal ini tidak dimiliki oleh foto konvensional di mana, keabsahan gambar harus
dibuktikan sendiri oleh sang fotografer dengan cara misalnya mengikut sertakan saksisaksi dalam fotonya.Seiring dengan perkembangan teknologi, perbedaan antara kamera
film (analog) dan kamera digital tidak lagi terlalu mencolok. Setiap alat dapat dipakai
dalam kegiatan fotografi forensik, sesuai dengan kebutuhannya1.
C.

Klasifikasi Fotografi Forensik2


1. Fotografi olah TKP
2. Fotografi Teknik: Sidik Jari, Blood Spatter, Pemeriksaan bercak darah dengan
luminol, Bite Marks, Tire Marks, Shoeprint, Memar
3. Fotografi Otopsi

D. Peranan Fotografi Forensik


1. Fotografi Tempat Kejadian Perkara

Dalam penyidikan TKP fotografi forensik merupakan elemen penting dalam


penyelidikan.Tujuannya berguna untuk mendokumentasikan tempat kejadian perkara
termasuk lokasi korban sebelum di periksa oleh ahli patologi forensik dan dibawa ke
kamar mayat untuk diperiksa lebih lanjut. Untuk pengumpulan dan pemeriksaan bukti fisik
seperti noda darah dan item lainya digunakan film berwarna karena sangat cocok dalam
pengumpulan semua bukti fisik pada tempat kejadian perkara. Rekaman video juga bisa
digunakan dalam dokumentasi TKP.Unit TKP dan ahli patologi forensik,bisa meminta
bantuan ahli laboratorium untuk membantu memotret barang-barang bukti fisik,untuk
mengukur perbandingan jejak bukti,identifikasi dan bisa menghasilkan pembesaran foto
seperti fotografi menggunakan infra merah dan ultraviolet atau mikroskop untuk
menumpulkan laporan barang bukti yang berguna untuk persidangan.2

Teknik Fotografi TKP


Fotografer TKP bekerja di tempat terjadinya perkara di mana pun itu terjadi. Pada
TKP indoor atau yang terjadi di dalam suatu ruangan, biasanya fotografer TKP
menggunakan metode pengambilan gambar empat sudut. Pertama, foto diambil secara
serial di pintu masuk ruangan tempat korban ditemukan. Lalu fotografer berpindah sudut
dan melakukan hal serupa saat di pintu masuk, demikian seterusnya hingga sudut ruangan
yang keempat, untuk menghasilkan gambaran panoramik ruangan. Selanjutnya konsentrasi
dipusatkan ke tubuh korban untuk dilakukan pengambilan gambar dengan jarak
pengambilan terjauh dari sisi kiri dan kanan maupun jarak dekat jika diperlukan. Tak luput
dari pandangan fotografer mengenai obyek di sekitar tubuh korban seperti senjata yang
berpotensi sebagai senjata yang digunakan, tumpahan air dari minuman, atau asbak beserta
isinya. Semua ruangan yang terhubung pada ruangan TKP juga diambil gambarnya secara
panoramik, termasuk segala sesuatu yang dianggap tidak biasa ditemui berkaitan dengan
TKP yang sedang diolah tersebut. Proses serupa juga dilakukan terhadap TKP outdoor atau
yang terjadi di luar ruangan, seperti TKP kecelakaan lalu lintas, TKP di tempat kerja (pada
kasus kematian akibat kecelakaan kerja), dan TKP bencana (pada kasus kecelakaan
pesawat terbang)1.
Teknik Fotografi TKP menurut FBI Laboratory Division

Memotret TKP secepat mungkin.


4

Siapkan log fotografi yang mencatat semua foto, deskripsi dan lokasi bukti.
Memotret secara keseluruhan, sedang, dan close-up yang terlihat dari TKP.
Foto dari sudut pandang mata untuk mewakili tampilan normal.
Memotret daerah yang paling rapuh dari TKP pertama.
Memotret semua bukti di tempat sebelum direposisi atau dibersihkan.
Semua barang bukti harus difoto close-up, pertama tanpa skala dan kemudian

dengan skala, mengisi seluruh frame foto.


Memotret interior TKP dalam sebuah serial tumpang tindih menggunakan lensa
normal, jika mungkin. Secara keseluruhan foto-foto dapat diambil menggunakan
lensa sudut lebar.

2. Fotografi forensik teknik


2.1 Pemeriksaan Noda Darah
Pemeriksaan darah menyajikan informasi yang bermanfaat bagi ilmuwan forensik
dalam berbagai investigasi kriminalitas. Informasi diperoleh dari darah oleh ahli patologi
forensik, ahli toksikologi, ahli serologi, dan ahli olah TKP1.
Dokumentasi fotografi bukti fisik di TKP, termasuk noda darah, merupakan bagian penting
dari upaya investigasi secara keseluruhan dan rekonstruksi. Peneliti TKP menanggapi
kasus kematian dan kejahatan kekerasan non-fatal yang sering tidak menghargai informasi
yang berharga tersedia dari pemeriksaan yang cermat dan interpretasi pola bercak darah.
Akibatnya, dokumentasi foto korban, adegan,bukti bukti, dan penyerang sehubungan
dengan noda darah mungkin tidak lengkap dan kurang detail untuk evaluasi berikutnya dan
presentasi ruang sidang1.
Angle of Impact
Sudut dampak didefinisikan sebagai sudut internal di mana darah menghantam sasaran
permukaan. Sudut dampak adalah fungsi dari hubungan antara lebar dan panjang noda
darah yang dihasilkan. Pada dampak dari 90, resultan noda darah melingkar akan
memiliki lebar yang sama dan panjang, masing-masing mewakili diameter lingkaran.
Sudut dampak yang lebih akut,semakin besar elongasi dari bercak darah tersebut.
Pengukuran lebar dan panjang noda darah individu diambil melalui poros tengah masingmasing dimensi. Nilai yang dihitung dari lebar rasio panjang (W / L) digunakan dalam
rumus: sudut dampak = arc sin W / L
Nilai arc sin memberikan nilai sudut dampak dapat ditentukan dari tabel trigonometri atau
dengan menggunakan kalkulator ilmiah yang memiliki fungsi arc sin. Sudut dampak dari

noda

darah

adalah

fungsi

dari

panjang

nya

lebar-panjang

rasio1

2.2 Foto Bercak Darah dengan Luminol


Luminol adalah senyawa chemiluminescent yang terkenal dan digunakan sebagai uji
katalitik dugaaan untuk adanya darah, mengambil manfat dari peroksidase-seperti aktivitas
heme untuk memproduksi cahaya sebagai produk akhir bukan reaksi warna sebenarnya.
Reagen Luminoldigunakan pada objek atau area yang mengandung jejak yang dicurigai
terdapat noda darah. Iluminasi putih keabu-abuan atau produksi cahaya dari area yang
dicurigai diamati dalam ruangan gelap merupakan tes yang positif. Luminol sangat baik
digunakan untuk mendeteksi jejak darah yang tidak dapat dilihat secara langsung di TKP.
Hal ini termasuk pelacakan darah di lantai yang gelap dan area karpet, celah dan retakan
di lantai dan dinding, dan area dimana dicurigai telah dibersihkan dari darah sebelumnya1.
Nilai dari bukti noda darah sebagai alat penting untuk rekonstruksi TKP ditingkatkan
dengan dokumentasi fotografi yang baik. Fotografi menyediakan catatan permanen bukti
bercak darah dalam sebuah kasus yang mudah disampaikan kepada hakim. Bukti foto
harus

berdiri dalam pengawasan ahli dan pengacara serta menjadi alat bantu visual

terhadap hakim yang harus menimbang bukti dan mencapai keputusan yang benar di
pengadilan1.

2.3 Investigasi Bekas Gigitan


Bekas gigitan pada kulit menujukkan pola luka di kulit yang diakibatkan oleh gigi. Hal
ini adalah tanda signifikan yang paling serin menyertai tindak kekerasan kriminal seperti
pembunuhan, kekerasan seksual, kekerasan terhadap anak, kekerasan domestik. Bekas
gigitan dapat juga ditimbulkan oleh binatang, paling sering anjing dan kucing1.
Tujuan dari penyelidikan tanda gigitan ada tiga: pertama, untuk mengenali tanda
gigitan; kedua, untuk memastikan bahwa itu akurat unutk didokumentasikan; dan ketiga,
untuk membandingkannya dengan gigi dari tersangka. Jika luka yang berpola tidak
terdeteksi atau tidak dapat dikenali sebagai suatu tanda gigitan, seluruh penyelidikan
mendahului karena dokter gigi forensik tidak akan diberitahu dan kesempatan untuk
mengumpulkan barang bukti dengan benar akan hilang. Pengumpulan bukti tanda gigitan
memerlukan pengetahuan dan pengalaman. Hal ini menyita waktu dan penanganan teknis
yang sulit yang bertujuan untuk merekam cedera bermotif dengan cara yang dapat

direproduksi pada ukuran dan bentuk untuk perbandingan di masa akan datang menjadi
replica gypsum (model) dari gigi tersangka1.

Tanda gigitan manusia dewasa memperlihatkan dua lengkungan yang berbeda


(bagian atas lebih besar, bagian bawah lebih kecil)

Diagram gambaran dari tanda gigitan manusia dewasa yang mencerminkan


pola khas permukaan yang berhubungan pada gigi.
Dokter gigi forensik adalah orang yang tepat untuk membuat fotografi yang diperlukan
sebagai perbandingan terhadap gigi tersangka. Foto kerja adalah gambar penting yang
akan digunakan untuk ukuran yang dikontrol dibandingkan denga gigi tersangka.
Penggaris ABFO #2 memiliki dua skala, linear dan sirkular dan baik digunakan untuk
tujuan ini. Tanda gigitan harus difoto dengan kulit dalam posisi dimana ia digigit. Pada

orang dewasa hidup ini dapat dipastikan melalui cerita. Pada orang yang meninggal dan
anak-anak, kulit harus difoto dalam rentang posisi yang mungkin1.

Penggaris ABFO #2 memilik skala akurat, linear dan sirkular


2.4 Identifikasi Sidik Jari
Istilah sidik jari mengacu pada ibu jari, telapak dan jari kaki. Ketika diperiksa oleh ahli
sidik jari menjadi alat identifikasi yang sangat berharga. Identifikas jari pertama kali
ditemukan pada tahun 1982 di Buenos Aires oleh Juan Vucatich, hal ini disebabkan adanya
kasus pembunuhan terhadap 2 orang anak laki-laki Fransesca Rojas, dimana dia menuduh
tetangganya telah mambunuh kedua anaknya4.
Sidik jari leten adalah jejak yang tertinggal akibat menempelnya alur jari. Sidik jari
laten harus dimunculkan sebelum dapat dilihat dengan kasat mata. Sidik jari mempunyai
beberapa jenis4, yaitu:
a. Sidik jari yang terlihat seperti debu, lumpur, darah, minyak atau permukaan yang
kontras dengan latar belakangnya;
b. Sidik jari laten, tersembunyi sebelum dimunculkan dengan serbuk atau alat pohy light;
c. Sidik jari cetak, pada permukaan yang lembut seperti lilin, purty;
d. Sidik jari etched, pada logam yang halus, disebabkan oleh asam yang ada dalam kulit.
Sidik jari banyak ditemukan dalam tempat kejadian perkara dan sangat amat mudah
rapuh jika tidak dijaga dan ditangani dengan baik. Untuk dapat memudahkan prosese
identifikasi sidik jari maka seringkali digunakan serbuk atau bahan kimia lain atau bahkan
fotografi pollilight4.

Sidik jari laten

Sidik jari tinta

Fotografer tipe ini membutuhkan keahlian khusus dalam menjalankan pekerjaannya.


Spesialisasi mereka termasuk melakukan pengambilan gambar bercak darah, cipratan
darah, tapak jari, tapak sepatu, atau ban yang ditemukan di TKP, menggunakan film dan
kamera khusus yang dapat memberikan detail gambar yang tinggi pada obyek berskala.
Waktu

mereka

dihabiskan

untuk

bekerja

dengan

proses

High-magnification

photomacrography, photomicrography, bergelut dengan gambar yang dihasilkan oleh

10

cahaya dengan panjang gelombang yang tidak tampak, dan memanipulasi gambar secara
digital untuk kepentingan penyelidikan4.
Film-film yang sensitif terhadap ultraviolet (UV) dan infrared sekarang telah
digunakan untuk mendemonstrasikan permukaan luka yang tidak dapat dilihat dengan
mata telanjang. Dikatakan bahwa memar yang tidak tampak, dapat diperlihatkan melalui
metode fotografi ultraviolet, misalnya pada kasus kekerasan pada anak. Metode ini
memerlukan telaah dan pengalaman lebih lanjut guna mengeliminasi false positive dari
artefak yang ditemukan4.
2.5 Fotografi Autopsi

Banyak penyelidikan kematian medicolegal mengandalkan informasi yang diperoleh


dari otopsi. Keberhasilan dari otopsi dalam menjawab pertanyaan (misalnya, identifikasi,
penyebab cedera) tergantung pada sistematis pendekatan oleh ahli patologi.

"otopsi

lengkap" adalah serangkaian langkah yang diperlukan diambil oleh ahli patologi, yang
menerima informasi latar belakang tentang almarhum, melakukan pemeriksaan luar dan
diseksi internal, dan mengumpulkan sampel yang sesuai tubuh untuk pengujian
tambahan.Perawatan dilakukan oleh ahli patologi dalam proses ini tercermin dalam
laporan otopsi yang akurat, yang membahas pertanyaan-yang paling penting penyebab
kematian. Ahli patologi harus menyadari potensi perangkap pada setiap langkah
penyelidikan postmortem, apapun yang dapat menimbulkan risiko ke final resolusi
penyelidikan medicolegal4.
Teknik Fotografi Autopsi
Setelah olah TKP selesai, tubuh korban dikirim ke instalasi kedokteran forensik
untuk dilakukan pemeriksaan kedokteran forensik oleh ahli patologi forensik. Proses
pemeriksaan ini harus didokumentasikan oleh seorang fotografer autopsi. Syarat utama
yang harus dimiliki seorang fotografer autopsi adalah memiliki dasar pengetahuan anatomi
11

tubuh manusia. Pengambilan gambar dilakukan sejak tubuh korban tiba, dimulai dari jarak
pengambilan terjauh dari tubuh korban dengan sudut pengambilan gambar pada bagian
depan dan belakang korban, dilanjutkan dengan proses serupa saat pemeriksaan dimulai,
yakni mulai dari pelepasan pakaian hingga pembersihan tubuh korban. Close-up dilakukan
pada pengambilan gambar perlukaan yang ditemukan pada tubuh korban, pada luka
tembak, patah tulang, atau terhadap jaringan parut, tattoo, dan lain sebagainya, berkaitan
dengan kepentingan foto untuk proses identifikasi pada mayat tak dikenal. Pada
pemeriksaan dalam, pengambilan gambar dilakukan dua kali. Pertama, in situ untuk
memperlihatkan lokasi dan beratnya penyakit atau kerusakan yang terjadi. Kedua, gambar
diambil setelah organ dikeluarkan dan dibersihkan5.

E. Peralatan Fotografi Forensik


Kamera
Kamera yang lazim digunakan dan dapat diterima sebagai kamera yang mampu
berbicara banyak di lapangan pekerjaan forensik adalah kamera tipe single-lens reflex
35mm. Kamera ini menggunakan sebuah lensa dengan sistem cermin yang bergerak secara
automatis, menerima cahaya yang datang untuk dipantulkan ke sebuah pentaprism yang
ditempatkan di atas jalur optik cahaya yang berjalan di bagian dalam lensa, yang
memungkinkan fotografer untuk melihat dimensi obyek sesungguhnya yang akan
ditangkap oleh film tersebut5.
Format film
35 mm adalah jenis format film yang digunakan pada kamera ini dan lazim
digunakan untuk kepentingan pemeriksaan forensik. Format film ini menawarkan berbagai
kecepatan sensitifitas dan emulsi film, kualitas gambar yang baik, nilai panjang eksposur
yang variatif, dan harga yang murah.(6)(7) Hasil foto pada format film 35 mm akan
memberikan gambaran full frame yang tajam di mana, dimensi obyek yang dilihat oleh
fotografer melalui cermin pentaprism akan sama dengan dimensi obyek yang ditangkap
oleh film ini. Ketajaman gambar dan prinsip what you see is what you get inilah yang
dipegang untuk setiap hasil foto yang dapat digunakan kepentingannya di dunia forensik.
Pemilihan film tergantung dari efek pencahayaan yang dipilih. Pemilihan kecepatan
sensitifitas film 100 atau 200 ASA (American Standard Association), telah lebih dari cukup
untuk mengimbangi kerja lampu kilat. Dan 400 ASA pun kini banyak digunakan. Beberapa

12

fotografer medis bahkan membawa kamera yang terpisah yang telah terisi film
berkecepatan 1000 ASA untuk beberapa sesi pemotretan khusus5.
Lensa
Tipe lensa yang digunakan tergantung pilihan dari fotografer itu sendiri. Sebagian
orang lebih memilih lensa tunggal yang interchangeable dengan variasi daya akomodasi
lensa (focal length). Lensa standar 50 mm atau biasa disebut fixed lens 50 mm (daya
akomodasi lensanya terfiksasi pada satu nilai) adalah yang paling sering digunakan,
kaitannya dengan kesetaraan daya akomodasinya dengan mata pengguna. Namun pada
TKP, atau pada jarak pengambilan gambar terjauh dari tubuh korban pada kondisi TKP
yang sulit, lensa sudut lebar (wide angle) 28 mm atau 30 mm lebih diperlukan. Nilai focal
length yang sedikit lebih panjang seperti 80 mm dapat berguna untuk gambar-gambar jarak
dekat dari perlukaan. Tidak disarankan penggunaan lensa telefoto dengan focal length 100
mm 200 mm karena sebagian fungsinya telah digantikan oleh lensa tambahan untuk
kegiatan macrophotography5.
Banyak ahli patologi forensik lebih memilih untuk mengkombinasikan lensa-lensa
tersebut menjadi satu lensa yang memiliki variable-focus zoom lens antara 28 mm 80
mm. Langkah ini diambil untuk lebih mempersingkat waktu pengambilan gambar dan
gambar yang dihasilkan tidak jauh berbeda dengan hasil gambar menggunakan lensa
dengan daya akomodasi terfiksasi.
Pemilihan focal length lensa memegang peranan penting dalam rangka pengambilan
gambar. Wide angle akan membuat luas perspektif, sebaliknya tele lens akan
mempersempitnya. Saat berurusan dengan komposisi, ada plus-minus di kedua jenis
lensa5.

Ketajaman Gambar
Salah satu unsur yang menentukan ketajaman sebuah gambar adalah kedalaman
gambar (depth of field). Untuk membuat sebuah gambar dua dimensi menjadi lebih hidup,
dibutuhkan penciptaan rasa akan adanya kedalaman dari gambar. Kondisi ini
dimungkinkan dengan memanipulasi elemen-elemen yang terdapat di latar depan, tengah,
dan belakang. Garis sederhana yang membawa pandangan ke area-area dalam gambar
menuju center of interest bisa lebih efektif. Di sini, pemilihan lensa dan bukaan diafragma
13

(aperture) menjadi unsur vital untuk menciptakan kedalaman. Pada pemotretan organ
dalam (viscera), dapat dilakukan penggunaan gelas yang diletakkan secara terbalik dan di
cat sesuai warna latar belakang yang digunakan (biasanya hijau) yang terletak agak jauh di
bawah gelas untuk menghindari fokus serta penggunaan lampu tungsten sebagai
pencahayaan5.
Komposisi gambar
Pada kegiatan fotografi yang dilakukan di TKP, gambar diambil secara serial dan
panoramik menggunakan lensa-lensa sudut lebar agar seluruh obyek pada TKP dapat
terekam dalam bingkai pemotretan sekaligus. Diperlukan komposisi obyek yang baik dan
kuat agar pesan yang tersirat dalam setiap bingkai pemotretan dapat disampaikan ke
penyelidik maupun penyidik. Hal ini perlu diperhatikan untuk kepentingan rekonstruksi
kejadian5.
Dikenal rumus pertigaan pada teknik komposisi fotografi, yakni membagi bingkai
gambar menjadi sembilan bagian yang sama. Pembaginya adalah dua garis horizontal dan
dua garis vertikal. Rumus ini dapat diterapkan pada segala format: bujur sangkar, persegi
panjang, atau panorama. Komposisi yang dibangun akan seimbang saat menempatkan
obyek tepat di atau dekat titik pertemuan garis (point of power). Dalam seni fotografi
murni, rumus ini juga dapat dipergunakan untuk pengambilan gambar jarak dekat (closeup). Namun aplikasinya tidak disarankan pada close-up fotografi autopsi, karena dalam hal
ini, lebih ditekankan proses representasi dari realita, misalnya pada pengambilan foto
organ dalam5.
Dengan memenuhi ruang dengan obyek, kecil kemungkinan terjadi kesalahan
mengenai pusat perhatian. Namun, tidak

berarti mengabaikan teknik komposisi.

Meletakkan elemen utama pada point of power tetap wajib diperhatikan. Jika tidak
mendapatkan kemantapan suatu obyekpe, perlu dipikirkan tentang sesuatu yang besar,
kuat, dan memenuhi bingkai pemotretan5.
Sebelum menekan tombol rana (shutter), sebaiknya sudah ditentukan bagian mana
yang menjadi pusat perhatian. Salah satu masalah yang sering

ditemui adalah latar

belakang yang mengganggu kekuatan obyek utama. Gangguan itu bisa berupa sesuatu
yang cerah, warna atau bentuk, atau pemilihan diafragma lensa (aperture) yang kurang
baik. Akibatnya, gambar yang dihasilkan akan membingungkan, tidak jelas bagian mana
yang menjadi pusat perhatian. Dengan mengubah posisi memotret, melakukan zooming
pada bagian terpenting dari sasaran bidik, dan mengunakan format portrait, masalah di atas
akan dapat diatasi. Namun perlu diperhatikan mengenai adanya perubahan perspektif
14

akibat usaha di atas yang barangkali dapat memberikan interpretasi salah saat foto
digunakan untuk kepentingan penyelidikan dan penyidikan5.
Eksposur
Eksposur perlu diperhatikan untuk mendapatkan hasil foto yang baik. Untuk
menciptakan serangkaian warna pada gambar, kamera harus memastikan bahwa jumlah
cahaya yang optimal sampai ke sensor atau film. Hal tersebut bisa diperoleh dengan
mengatur lama eksposur (kecepatan rana/shutter speed) dan intensitas cahaya (bukaan
diafragma/aperture) pada lensa. Gambar dibentuk melalui akumulasi cahaya di film atau
sensor selama eksposur. Kamera senantiasa berupaya mengarahkan obyek secara
keseluruhan ke arah grey tone 18% (area mid-tone/kontras netral kamera). Maka metering
atau pengukuran eksposur diperlukan di sini. Kurangi eksposur antara 0.7 EV sampai 1 EV
untuk menjaga kedalaman warna dan detail pencahayaan. Saat pemotretan organ dalam
(viscera), organ ditempatkan pada suatu area dengan latar belakang warna biru atau hijau.
Warna putih dapat digunakan meskipun barangkali hal ini dapat mempengaruhi ukuran
eksposur jika latar belakang terlalu terlihat pada bagian tepi gambar. Walaupun obyek yang
diambil terbilang mid-tone, latar belakang ber-tone terang atau gelap yang tak normal
bisa menimbulkan kesalahan eksposur. Seperti yang telah dikatakan sebelumnya, tingkat
kesalahan eksposur tergantung pada seberapa besar area dalam bingkai yang terpakai oleh
latar belakang. Semakin banyak area yang terpakai, semakin besar pengaruhnya terhadap
nilai eksposur. Organ yang akan difoto pun sebaiknya dilakukan dabb (penekanan dengan
kain atau busa) terlebih dahulu agar terbebas dari darah pada bagian permukaan dan latar
belakang untuk menghindari terjadinya efek penyinaran kuat (highlight). Efek highlight
dapat mengganggu metering exposure yang telah dilakukan sebelumnya. Pengaturan
eksposur dikembalikan kepada sang fotografer, tergantung kondisi lingkungan yang
dihadapi saat pemotretan. Pada fotografi forensik, yang paling utama adalah ketajaman
obyek dan menjaga agar warna obyek tetap natural5.
Warna
Pilihan auto white balance pada kamera digital dirancang untuk secara automatis
menyesuaikan dengan warna-warna, atau temperatur cahaya yang berbeda untuk
mendapatkan hasil yang mendekati normal. Namun terkadang hal semacam itu malah
bukan yang diinginkan. Disarankan untuk tidak senantiasa memilih pengaturan auto white
balance pada kamera, karena pilihan itu tidak selalu tepat. Kamera akan berupaya
15

menganalisa warna-warna yang ada pada obyek foto dan menormalkannya, tapi
seringkali gagal membedakan antara warna cahaya dan warna bawaan obyek itu sendiri.
Kamera juga akan berusaha mengompensasi kondisi pencahayaan sekitar yang akan
menjadi bagian dari bingkai pemotretan. Akibatnya, warna yang hendak dinormalisasikan
malah tidak tercapai. Aturlah white balance secara manual sesuai pilihan. Dibutuhkan
beberapa eksperimen memotret agar pengaturan white balance sesuai kebutuhan dan
didapat warna yang lebih natural5.
Pencahayaan
Untuk pencahayaan, biasanya menggunakan lampu kilat elektronik yang sekarang
menjadi bagian dari kamera, dan penggunaan thyristor (semikonduktor pengukur keluaran
cahaya) pada lampu kilat yang dikontrol secara automatis, menjadi solusi dari
penghitungan jarak pengambilan yang rumit. Tentu pada jarak pengambilan gambar yang
dekat, penggunaan lampu kilat yang melekat pada kamera akan menghasilkan gambar
yang kurang memuaskan. Alternatifnya, digunakan lampu kilat terpisah yang terjaga
jaraknya dengan kamera, penggunaan diffuse untuk mengurangi kekuatan cahaya atau
menggunakan teknik memantulkan cahaya (bounching) ke arah langit-langit ruang autopsi
atau mungkin ring flash yang dipasang pada bagian depan lensa untuk menghindari
bayangan kamera5.
Pada fotografi jarak dekat (close-up), dikenal adanya kesalahan paralaks. Paralaks
adalah suatu kondisi kesalahan penampakkan atau perbedaan orientasi dari obyek yang
dilihat dari dua arah yang berbeda, akibat perbedaan sudut pandang dari dua arah tersebut.
(10) Maksudnya, yang dilihat melalui jendela bidik (viewfinder) tidak selaras dengan yang
direkam oleh sensor atau film. Hal semacam ini bisa terjadi pada kamera SLR maupun
compact ketika membidik obyek melalui LCD-nya. Saat menggunakan lampu kilat pada
pemotretan jarak dekat, ada perbedaan antara yang dilihat dengan kamera dan yang
disinari oleh lampu kilat. Sebaiknya berpikirlah untuk mengubah sudut lampu kilat ke
pengaturan sudut lebar agar dapat menyinari obyek secara penuh5.
Ada empat elemen cahaya yang perlu dipahami yaitu kualitas, warna, intensitas, dan
arah. Pada tahap tertentu, perlu

dikendalikan masing-masing elemen, entah melalui

pergeseran dalam posisi kamera, penggunaan peranti modifikasi cahaya, atau selama
pemrosesan gambar5.
Kualitas cahaya ditentukan dari bayangan yang diciptakannya. Pencahayaan keras
akan menciptakan bayangan yang tajam dan penyinaran yang kuat. Sebaliknya,
16

pencahayaan yang lembut akan memunculkan bayangan lembut yang detailnya masih
terlihat. Kondisi terakhir merupakan kondisi yang ideal untuk pemotretan wajah (portrait)
dan close-up5.
Kendati tidak sepenting elemen lain, intensitas, atau kecerahan/brightness memiliki
peran krusial dalam hal eksposur. Semakin banyak cahaya yang tersedia, kian kecil bukaan
diafragmanya, sementara masih memungkinkan pula kecepatan rana (shutter speed) yang
tinggi. Di sini ASA atau ISO (International Organization for Standardization) bisa diubah
lebih rendah sehingga bisa didapat kualitas gambar yang lebih bagus. Bila cahaya semakin
intens dan keras maka semakin besar pula adanya peluang terang yang berlebihan. Untuk
itu, lihatlah data histogram gambar yang tertera di kamera karena gambar pada LCD
kamera bisa saja lebih gelap atau lebih terang dari yang sebenarnya. Histogram merupakan
sebuah bar chart (kumpulan diagram batang yang menyatu membentuk kurva) yang
menunjukkan banyaknya pixel untuk masing-masing nilai kecerahan di keseluruhan skala
tonal gambar, dari hitam pekat hingga putih total. Histogram menunjukkan apakah gambar
yang diambil cenderung memutih atau menghitam, apakah cakupan tone-nya masih
lengkap, dan secara keseluruhan seberapa terang dan gelapnya gambar yang diambil.
Sebaran tone yang sempurna adalah tatkala histogram menunjukkan puncak kurva nol,
baik pada ujung kiri skala maupun ujung kanan5.
Cahaya bisa menerangi obyek sedikitnya dari tiga arah, yakni depan, samping, dan
belakang. Masing-masing memberikan efek yang berbeda pada hasil foto. Backlighting,
atau penyinaran dari arah belakang obyek, dapat memberikan semacam efek halo di
sekitar obyek. Yang perlu diperhatikan di sini adalah cahaya yang langsung menerpa depan
lensa, karena dapat memunculkan flare (kobaran/jilatan cahaya) yang mengurangi kontras.
Untuk mengatasi hal ini, gunakan selembar kertas atau tangan anda untuk menutupi sinar
yang mengarah langsung ke lensa di luar bingkai pemotretan. Sidelighting, atau
pencahayaan dari samping, sangat baik untuk memunculkan tekstur pada obyek, juga
memberi kesan kedalaman. Frontlighting, pencahayaan dari depan, baik untuk pemotretan
wajah close-up5.
Pada kondisi-kondisi kurang cahaya, sebaiknya tidak terburu-buru menggunakan
flash sebagai solusinya. Bereksperimenlah dengan meningkatkan eksposur untuk
memulihkan kecerahan atau mengkombinasikan shutter speed yang lambat dengan sinar
flash untuk hasil yang lebih baik dan senantiasa melihat ulang hasil gambar yang diambil
melalui data histogram di kamera. Hati-hati dengan pemilihan shutter speed yang lambat,

17

karena dapat menyebabkan efek kabur (blur) pada obyek yang sudah barang tentu
menghilangkan ketajaman gambar sebagai salah satu syarat untuk fotografi forensik5.

DAFTAR PUSTAKA
1. Fotografi Forensik. Diunduh dari: http://www.pdfi-indonesia.org/news/fotografiforensik/, diakses tanggal 9 November 2014.
2. M Stark,Margaret.Clinical Forensic Medicine A Physicians Guide.2005.Humana
Press:New Jersey.
3. FBI.Handbook of Forensic Service.2007.US Departement of Justice FBI
Laboratory Division Publication:Virginia
4. Shkrum,Michael J.A Ramsey,David.Forensik Pathology of Trauma common
problems for the patologist.2007.Humana Press.New Jersey.
5. Sidik Jari Dalam Pembuktian. Diunduh dari: www.library.upnvj.ac.id di akses
tanggal 9 November 2014.

18