Anda di halaman 1dari 20

BAB II

PEMBAHASAN
MODUL 3
BUKAN BENJOLAN BIASA

Scenario 4
Seorang laki laki usia 34 tahun dengan keluhan nyeri perut terus menerus,demam,nafsu
makan menurun,berat badab juga menurun kurang lebih sejak 3 bulan dan merasakan ada
benjolan di perut kiri atas. Pasien memiliki riwayat muntah darah 3 bulan yang lalu. Benjolan di
perut kadang hilang,kadang timbul,dada nyeri bila perut juga nyeri. Sebelumnta pasien tidak
pernah menderita penyakit serupa. Dari pemeriksaaan fisik didpatkan keadaan umum
baik,Compos Mentis,serta gizi cukup. Vital sign dengan tekanan darah 120/80 mmHg,nadi
96x/menit,respirasi 16/menit,suhu 360 CC. Pemeriksaan fisik lokalis abdomen pada infeksi
tampak dinding perut lebih tinggi dari dinding dada. Pada auskultasi terdengar suara peristaltic
usus meningkat,perkusi terdengar timpani. Pada palpasi ditemukan dinding abdomen
distensi,nyeri tekan di kuadran kiri atas dan teraba massa padat. Pemeriksaan dengan USG
abdomen ukuran dan echostruktur parenkim hepar normal,homogency,sudut lancip,tepi
lancip,tak tampak pelebaran sistema bilier et vaskuler intrahepatal.tampak nodul hipoechoic
multiple di kedua lobus hepar,batas tegas,tepi licin. Tampak multiple ndul hipoechoic para
aortic,lobulater. Didapatkan kesan limfa denopati para aortic suspect NHL dan multiple nodul
hepar sugestife hepatal metastase noduler tipe.
A. Klasifikasi Istilah Yang Tidak di Mengerti ?
1. Compos Mentis
Kesadaran normal, sadar sepenuhnya, dan dapat menjawab keadaan di sekelilingnya.
2. Lokalis Abdomen
Pemeriksaan fisik di daerah lokal.
3. Suara peristaltic
Gerakan yang terjadi pada otot-otot pada saluran pencernaan yang menimbulkan
gerakan semacam gelombang, sehingga menimbulkan efek menyedot atau menelan
makanan yang masuk ke saluran pencernaan.
4. Timpani
Bunyi yang disebabkan karena adanya gas pada lambung,usus halus dan kolon.
5. Abdomen distensi
Proses peningkatan tekanan abdominal yang menghasilkan peningkatan tekanan
dalam perut dan menekan dinding perut.
6. USG (Ultra Sonografi)
Sebuah teknik diagnostic penciptraan menggunakan suara ultra yang digunakan untuk
mencitrakan organ internal dan otot, ukuran mereka, struktur, dan luka patologi,

membuat teknologi ini berguna untuk memeriksa organ yang bersifat non invasive
(tidak menimbulkan rasa sakit).
7. Echostruktur parenkim hepar normal
Struktur bagian luar hati yang normal.
8. Homogeny
Keadaan suatu kumpulan misalnya jaringan atau larutan yang keadaan unsure-unsur
penyusunan yang serba sama.
9. Sistema bilier et Vaskuler intrahepatal
Sistema bilier Sistem empedu yang memproduksi terdiri dari hati, kandung
empedu, dan saluran terkait.
Intrahepatal Perawatan diruangan VIP.
Et Vaskuler Jaringan yang berfungsi sebagai alat transport.
10. Nodul hipoechoic
Kumpulan benjolan masa.
11. Multiple nodul
Kumpulan benjolan masa yang terlalu banyak.
12. Aortic
Arteri terbesar dalam badan manusia.
13. NHL
Limfoma Non Hodgkin (NHL) merupakan penyakit yang dijumpai pada usia diatas
40 tahun.
14. Limfadenopati
Setiap proses penyakit yang menyerang suatu atau beberapa kelenjar getah bening
seperti kelenjar limfe.
B. Menentukan Masalah
1. Apa yang menyebabkan benjolan di perut kadang hilang dan timbul? (Husna)
Jawaban :
Karena berkumpulnya sel-sel limfosit yang ganas atau sel limfoma yang dapat bersatu
menjadi kelenjer getah bening tunggal dan dapat menyebar diseluruh tubuh,bahkan ke
semua organ. Makah hal ini lah yang menyebabkan adanya benjolan tersebut.
2. Dari scenario yang kita bahas,kira-kira apa penyakit nya? (Leli)
Jawaban :
Kemungkinan limfosit Hodgkin (Leli)
3. Apakah riwayat muntah darah yang mengakibatkan menurunnya berat badan pasien
karena pada scenario disebutkan pasien mengalami hal tersebut pada waktu yang
sama? (Elum)
Jawaban :
Iya, karena apabila muntah, hal itu yang menyebabkan hilangnya nafsu makan, maka
hal inilah yang mengakibatkan turunnya berat badan pasien, apa lagi terjadinya
muntah darah. (Nadya)
4. Apa yang menyebabkan nyeri dada dan perut bisa bersamaan? (dila)
Jawaban :

Nyeri pada dada berhubungan dengan batas perut (diafragma) sehingga pada
abdomen juga terdapat nyeri, bisa jadi hal itu yang menyebabkan nyeri dada dan perut
bisa bersamaan. (Elum)
5. Kenapa dinding perut lebih tinggi dari dinding dada? (Vina)
Jawaban :
Karena adanya benjolan pada perut dan ditemukan abdominal distensi (Proses
peningkatan tekanan abdominal yang menghasilkan peningkatan tekanan dalam perut
dan menekan dinding perut). (dila)
6. Kenapa pada scenario ini disebutkan keadaan pasien terdapat benjolan di perut kiri
atas,apakah hanya dibagian itu saja yang terserang? (Amel)
Jawaban :
Iya , Karena benjolan yang terjadi terdapat pada hepar. (Nadya)
C. Skema LIMFOSIT HODGKIN
Nyeri Perut

Anoreksia

Muntah darah

Benjolan pada perut

Limfosit Hodgkin

ASPEK LEGAL & ETIS Tinjauan teoritis :


- Defenisi
- Etiologi

ASKEP :

- Pengkajian & Fungsi Advocat

- Analisa Data

- Patofisiologi
- Manifestasi
- Tanda & gejala
- Pemeriksaan
- Komplikasi
- Penanganan
- WOC

PENKES Limfosit Hodgkin

- NCP
- Evaluasi

D. Sharring
1. Defenisi LIMFOMA HODGKIN
a. Limfoma adalah suatu penyakit heterogen keganasan yang muncul dari sel
imunitas jaringan limfoid yang bersifat padat Bermanifestasi dalam sumsum
tulang belakang dan sistem periferal atau dalam jaringan lain dimana terdapat
agregat sel limfosit. (Amel)
b. Penyebaran penyakit melalui satu grup nodus limfa menuju lainnya dan
merupakan salah satu dari kanker pertama yang dapat disembuhkan dengan
kombinasi kemo terapi. (Elum)
c. Suatu kanker atau keganasan dari sistim limfatik atau getah bening. (Leli)
d. Keganasan dari sistem limfatik (kelenjer getah bening, limpa, kelenjer timus di
leher, dan sum-sum tulang). (dila)
e. Salah satu jenis kanker darah yang terjadi terjadi ketika limfosit B atau T yaitu sel
darah putih yang menjaga daya tahan tubuh menjadi abnormal dengan membelah
lebih cepat dari sel biasa atau hidup lebih lama dari biasanya. (Husna)
f. Salah satu jenis kanker dimana sel-sel getah bening memperbanyak diri dengan
tidak terkendali. (Vina)
Kesimpulan :
Suatu jenis kanker atau keganasan pada sistim limfatik yaitu sel-sel
limfosit B dan T. (Nadya)
2. Klasifikasi LIMFOMA HODGKIN
a. HODGKIN
Kelompok keganasan primer limfosit yg berasal dari sel Reed-Sternberg,
Cenderung Intranodal, Lebih pada Sel Limfosit B.
Diklasifikasikan menurut RYE ada dalam 4 kelompok sebagai berikut :
1. Tipe limfosit Predominan
Merupakan 3% sampai 5% dari kasus penyakit limfoma Hodgkin.Gambaran
mikroskopik dari tipe ini yaitu terdapat limfosit kecil yang banyak dan hanya
sedikit sel REED Steinberg yang dijumpai.
2. Tipe Sklerosis Noduler
Gambaran mikroskopik ditandai oleh Fibrosis dan sklerosis meluas.
3. Tipe Selularitas Campuran
Gambaran mikroskopik terdapat sel REED Steinberg dalam jumlah yang
sedang dan seimbang dengan jumlah limfosit.
4. Tipe Deplesi Limfosit
Gambaran mikrokopik ditemukan banyak sel Steinberg sedangkan sedikit sel
limfosit.
b. NON- HODGKIN
Kelompok keganasan primer limfosit yg berasal dari limfosit B dan limfosit T.
Cenderung ekstranodal, Pada Sel Limfosit B dan T.

Diklasifikasikan sebagai berikut :


1. Limfositik diferensiasi baik
2. Limfositik diferensiasi buruk
3. Campuran limfositik histiositik
4. Histiositik
3. Etiologi
Kemungkinan penyebab yaitu :
a. Faktor keturunan
b. Kelainan sistem kekebalan
c. Infeksi virus / bakteri (HIV,kuman Human T-Cell, Leukimia / limfoma (HTLV),
Epstein-Barr virus (EBV), helicobacter (Sp) dan toksin lingkungan
(herbisida,pengawet dan pewarna kimia).
4. Patofisologi
Limfoma maligna ini berasal dari sel limfosit. Tumor ini biasanya bermula dari
nodus limfe, tetapi dapat melibatkan jaringan limfoit dalam limpa, traktus
gastrointestinal (mis : dinding lambung), hati atau ssum-sum tulang. Sel limfosit
dalam kelenjer limfe juga berasal dari sel-sel induk multi potensial di dalam sum-sum
tulang.Sel induk multi potensial pada tahap awal bertransformasi menjadi sel
progenitor limfosit yang kemudian berdiferensiasi melalui dua jalur. Sebagian
mengalami pematangan dalam kelenjar timus untuk menjadi limfosit T, dan sebagian
lagi menuju kelenjer limfe atau tetap berada dalam sum-sum tulang dan
berdiferensiasi menjadi sel limfosit B. apabila ada rangasangan oleh antigen yang
sesuai, maka limfosit T maupaun B akan bertransformasi menjadi bentuk aktif dan
berpoliferasi. Limfosit T aktif menjalankan fungsi respon imunitas seluler.Sedangkan
limfosit B aktif imuno plass yang kemudian menjadi sel plasma yang membentuk
imuno globulin. Perubahan limfosit normal menjadi sel limfoma merupakan akibat
terjadinya mutasigen pada salah satu sel dari sekelompok sel limfosit tua yang tengah
berada dalam proses transformasi menjadi imuno plass (terjadi akibat adanya
rangsangan imunogen) hal ini terjadi di dalam kelenjer getah bening dimana sel
limfosit tua berada di luar centrum germinatifum. Sedangkan imuno plass berada di
bagian paling sentral centrum germinatifum apabila membesar maka dapat
menimbulkan tumor dan apabila tidak ditangani secara dini maka menyebabkan
limfoma maligna.
5. Manifestasi Klinis
A. Gejala dari Penyakit Hodgkin
Gejala

Penyebab

Berkurangnya jumlah sel darah merah Limfoma sedang menyebar ke


(menyebabkan anemia, sel darah sumsum tulang

putih
&
trombosit
kemungkinan nyeri tulang
Hilangnya
suara serak

kekuatan

otot

Pembesaran kelenjar getah


bening menekan saraf di
tulang belakang atau saraf
pita suara
Limfoma menyumbat aliran
empedu dari hati

Sakit kuning (jaundice)

Pembengkakan wajah, leher & alat Pembesaran kelenjar getah


gerak
atas
bening menyumbat aliran
(sindroma vena kava superior)
darah dari kepala ke jantung
Pembengkakan tungkai dan kaki

Limfoma menyumbat aliran


getah bening dari tungkai

Keadaan yang menyerupai pneumonia

Limfoma menyebar ke paruparu

Berkurangnya kemampuan untuk


melawan infeksi & meningkatnya
Penyakit sedang menyebar
kecenderungan mengalami infeksi
karena jamur & virus

B. Gejala Limfoma Non-Hodgkin


Kemungkinan
timbulnya
gejala

Gejala

Penyebab

Gangguan pernafasan
Pembengkakan wajah

Pembesaran kelenjar getah


20-30%
bening di dada

Hilang nafsu makan


Sembelit
berat
Pembesaran kelenjar getah
30-40%
Nyeri perut atau perut bening di perut
kembung
Pembengkakan tungkai Penyumbatan
pembuluh 10%
getah
bening
di

selangkangan atau perut


Penurunan berat badan
Penyebaran
Diare
usus halus
Malabsorbsi

limfoma

ke

10%

Pengumpulan cairan di
Penyumbatan
pembuluh
sekitar
paru-paru
20-30%
getah bening di dalam dada
(efusi pleura)
Daerah kehitaman dan
Penyebaran
menebal di kulit yang
kulit
terasa gatal

limfoma

Penurunan berat badan


Penyebaran limfoma
Demam
seluruh tubuh
Keringat di malam hari

ke

ke

-Perdarahan
ke
dalam
saluran
pencernaan
-Penghancuran sel darah
merah oleh limpa yang
membesar & terlalu aktif
-Penghancuran sel darah
merah
oleh
antibodi
Anemia
abnormal
(anemia
(berkurangnya jumlah hemolitik)
sel darah merah)
-Penghancuran
sumsum
tulang karena penyebaran
limfoma
-Ketidakmampuan sumsum
tulang untuk menghasilkan
sejumlah sel darah merah
karena obat atau terapi
penyinaran

10-20%

50-60%

30%,
pada
akhirnya bisa
mencapai
100%

Penyebaran ke sumsum
tulang dan kelenjar getah
Mudah terinfeksi oleh
bening,
menyebabkan 20-30%
bakteri
berkurangnya pembentukan
antibody

6. Pemeriksaan Diagnostik
a. Perlu dilakukan pengkajian untuk mengidentifikasi setiap lesi tumor di dalam dan
di luar sistem limfatik dan keterlibatan keseluruhan tumor.
b. Uji laboratorium meliputi hitung darah lengkap, hitung trombosit, laju endap
darah, pemeriksaan fungsi hati dan ginjal.
c. Biopsi sumsum tulang dan scan hati dan limfa dilakukan untuk menentukan
apakah organ tersebut terlibat.
d. Rontgen dada dan scan tulang pelvis vertebra dan tulang panjang. Dilakukan
untuk mengidentifikasi keterlibatannya. (Brunner and Suddarth, 2001)
7. Penatalaksanaan
a. Penatalaksanaan Medis Menurut Brunner and Suddarth (2001)
1. Kemoterapi oral seperti klorambusil (leukeran) dengan atau tanpa prednison.
Karena penyakit ini menjadi progresif lalu direkomendasikan pendekatan
yang agresif, dengan menggunakan kemoterapi kombinasi yang meliputi
siklofosfamid, vinkristin, vinblastin, bleomisin dan doksorubisin. Efek jangka
panjang dari kemoterapi meliputi kemandulan, kardiotoksik, dan fibrosis
pulmonal.
2. Terapi radiasi dilakukan hanya jika penyakit ini terlokalisasi pada daerahdaerah tertentu. Tujuan terapi radiasi adalah menghancurkan sel-sel tumor.
Efek samping terapi radiasi bila pada area nodus limfa servikal atau
tenggorokan, maka akan terjadi mulut kering, disfagia, mual, muntah, rambut
rontok, dan penurunan produksi salifa serta peningkatan karies gigi,
sedangkan bila pada area nodus limfa abdomen, maka akan terjadi muntah,
diare keletihan, anoreksia dan supresi sumsum tulang.
3. CT scan hati dan limpa dilakukan untuk mengidentifikasi keterlibatan organ
tersebut terhadap tumor.
4. Thorax foto tulang pelvis vertebra, dan tulang panjang, dilakukan untuk
mengidentifikasi keterlibatan organ tersebut terhadap tumor.
5. Biopsi sumsum tulang untuk menentukan keterlibatan sumsum tulang, invasi
sumsum tulang terlihat pada tahap luas.
6. Biopsi nodus limfa untuk membuktikan keterlibatan nodus mediastinal.
7. Skintigrafi Gallium-67 berguna untuk membuktikan deteksi berulangnya
penyakit nodus, khususnya diatas diafragma.
8. Ultrasound abdominal untuk mengevaluasi luasnya keterlibatan nodus limfa
retroperitoneal.
9. Tomografi paru keseluruhan atau skan CT dada dilakukan bila adenopati hilus
terjadi.
Menyatakan
kemungkinan
keterlibatan
nodus
limfa
mediastinum.Tindakan pembedahan laparatomy dilakukan bila penyakit ini
diduga berada di bawah diafragma tetapi berisiko terjadi perdarahan atau
poliferasi.
b. Penatalaksanaan Keperawatan, menurut Brunner and Suddarth (2000)

Dalam memberikan perawatan dan pendidikan klien.Klien sering merasa


takut terhadap obat-obatan yang bersifat radioaktif dan memerlukan tindakan
penjagaan serta pengawasan tindak lanjut yang khusus karena itu perawat harus
menyampaikan informasi tentang terapi ini dan menenangkan perasaan klien dan
keluarga. Untuk klien post operasi laparatomy, klien dianjurkan untuk istirahat
serta menghindari regangan pada jahitan luka. Kassa penutup luka operasi harus
dikaji secara periodik untuk mengetahui adanya peradahan atau tidak dan lakukan
perawatan luka setiap hari sesuai program, untuk mengobservasi tanda-tanda
infeksi.
8. Komplikasi
Sebagian kasus berkembang menjadi leukemia mieloblastik akut (suatu penyakit
yang ditandai dengan transformasi neoplastik dan gangguan diferensiasi sel-sel
progenitor dari serimieloid).
(Elizabeth J. Corwin, 2000)
A. Akibat Langsung Penyakitnya
1. Penekanan organ kususnya jalan nafas, usus dan saraf.
2. Mudah terjadi infeksi, bisa fatal
B. Akibat Efek Samping Pengobatan
1. Aplasia sum-sum tulang
2. Gagal jantung oleh obat gol. Antrasiklin
3. Gagal ginjal oleh obat sisplatinum
4. Neuritis oleh obat Vinkristin

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. identitas klien
nama:
umur:
jenis kelamin:
no MR:
2. Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan dahulu
Riwayat Hypertensi dan Diabetes mielitus perlu dikaji dan riwayat pernah masuk
RS dan penyakit yang pernah diderita oleh pasien
b) riwayat kesehatan sekarang
Keluhan terbanyak pada penderita adalah pembesaran kelenjar getah bening di
leher, aksila, ataupun lipat paha.Berat badan semakin menurun, dan terkadang
disertai dengan demam, sering berkeringat dan gatal-gatal.

c) Riwayat kesehatan keluarga


Terdapat riwayat pada keluarga dengan penyekit vaskuler : HT, penyakit
metabolik :DM atau penyakit lain yang pernah diderita oleh keluarga pasien
3. pemeriksaan fisik
a) Pemeriksaan fisik pada daerah leher, ketiak dan pangkal paha Pada Limfoma
secara fisik dapat timbul benjolan yang kenyal, tidak terasa nyeri, mudah
digerakkan (pada leher, ketiak atau pangkal paha.
b) Pembesaran kelenjar tadi dapat dimulai dengan gejala penurunan berat badan,
demam, keringat malam. Hal ini dapat segera dicurigai sebagai Limfoma. Namun
tidak semua benjolan yang terjadi di sistem limfatik merupakan Limfoma. Bisa
saja benjolan tersebut hasil perlawanan kelenjar limfe dengan sejenis virus atau
mungkin tuberculosis limfa.
c) Inspeksi , tampak warna kencing campur darah, pembesaran suprapubic bila
tumor sudah besar.
d) Palpasi, teraba tumor masa suprapubic, pemeriksaan bimanual teraba tumor pada
dasar buli-buli dengan bantuan general anestesi baik waktu VT atau RT
e) Pernapasan
Gejala : dipnea pada saat aktivitas, nyeri dada
Tanda :
Dipnea, takipnea
Batuk non produktif
Tanda-tanda distress pernapasan (frekuensi dan kedalaman pernapasan meningkat,
penggunaan otot bantu pernapasan, stridor, sianosis)
Parau (paralisis paringeal akibat tekanan pembesaran kelenjar limfe terhadap saraf
laringeal)
f) Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri dada
Tanda :
Takikardia, disritmia
Sianosis wajah akibat obstruksi drainase vena karena pembesaran kelenjar
limfe (jarang terjadi)
Ikterus sclera/umum akibat kerusakan hati dan obstruksi duktus empedu
(tanda lanjut)
Pucat (anemia), diaphoresis, dan keringat malam
g) Neurosensori
Gejala :
Nyeri saraf (neuralgia) yang menunjukkan terjadinya kompresi akar saraf
oleh pembesaran kelenjar limfe pada brakial, lumbal dan pleksus sacral
Kelemahan otot, parastesi
Tanda :

i)

j)

Status mental letargi, menarik diri, kurang minat/perhatian terhadap


keadaan sekitar
Paraplegia (kompresi batang spinal, keterlibatan diskus intervertebralis,
kompresi suplai darah terhadap batang spinal)

h) Nyeri dan kenyamanan


Gejala :
Nyeri tekan pada nodus yang terkena, misalnya: pada sekitar mediastinum,
nyeri dada, nyeri punggung (kompresi vertebral), nyeri tulang
(keterlibatan tulang limfomatus)
Tanda :
focus pada diri sendiri, perilaku hati-hati
Integritas ego
Gejala :
Gejala-gejala stress yang berhubungan dengan ancaman kehilangan
pekerjaan, perubahan peran dalam keluarga, prosedur diagnostic dan
terapi, serta masalah financial (biaya pemeriksaan dan pengobatan,
kehilangan pekerjaan)
Tanda :
perilaku menarik diri, marah dan pasif agresif
Keamanan
Gejala :
Riwayat infeksi (sering terjadi) karena abnormalitas system imun seperti
infeksi herpes sistemik, TB, toksoplasmosis, atau infeksi bacterial.
Riwayat ulkus/perforasi/perdarahan gaster
Demam pel ebstein (peningkatan suhu malam hari sampai beberapa
minggu), diikuti demam menetap dan keringat malam tanpa menggigil
Integritas kulit: kemerahan, pruritus umum, vitiligo (hipopigmentasi)
Tanda :
Demam (suhu tubuh > 3800C) menetap dengan etiologi yang tidak dapat
dijelaskan, tanpa gejala infeksi
Kelenjar limfe asimetris, tidak ada nyeri, membengkak/membesar
terutama kelenjar limfe servikal (kiri>kanan), nodus aksila dan
mediastinum
Pembesaran tonsil
Pruritus umum
Sebagian area kehilangan melanin (vitiligo)
k) Eliminasi
Gejala :
Perubahan karakteristik urine dan/atau feses

Riwayat obstruksi usus, sindrom malabsopsi (infiltrasi kelenjar limfe


retroperitoneal)
Tanda :
Nyeri tekan kuadran kanan atas, hepatomegaly
Nyeri tekan kuadran kiri atas, splenomegaly
Penurunan keluaran urin, warna lebih gelap/pekat, anuria (obstruksi
uretral, gagal ginjal)
Disfungsi usus dan kandung kemih (kompresi spinal cord pada gejala
lanjut)
l) Makanan dan cairan
Gejala :
Anoreksia
Disfagia (tekanan pada esophagus)
Penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan 10% dalam 6 bulan
tanpa upaya diet pembatasan
Tanda :
Pembengkakan pada wajah, leher, rahang, atau ekstremitas atas (kompresi
vena cava superior)
Edema ekstremitas bawah, asites(kompresi vena cava inferior oleh
pembesaran kelenjar limfe intradominal)
m) Aktivitas/istirahat
Gejala :
Kelelahan, kelemahan, atau malaise umum
Kehilangan produktivitas dan penurunan toleransi aktivitas
Kebutuhan tidur dan istirahat lebih banyak
Tanda :
Penurunan kekuatan, bahu merosot, jalan lamban, dan tanda-tanda lain yang menunjukkan
kelelahan.
4. Analisa data
No
1

Analisa data
Etiologi
Do:
Demam
Masuknya virus dan bakteri

berkepanjangan dengan
Pertahanan
tubuh
suhu lebih dari 37,5 C,

Ds: klien mengeluh wajah


Infeksi
panas, Demam pel ebstein

(peningkatan suhu malam


Proses inflamasi
hari sampai beberapa
minggu), diikuti demam
menetap dan keringat

MK
Hipertermia

malam tanpa menggigil

Do: Timbul benjolan yang


kenyal,mudah digerakkan
pada leher,ketiak atau
pangkal paha. Nyeri tekan
pada nodus yang terkena,
misalnya: pada sekitar
mediastinum, nyeri dada,
nyeri punggung (kompresi
vertebral), nyeri tulang
(keterlibatan
tulang
limfomatus). Nyeri tekan
kuadran
kanan
atas,
hepatomegaly
Nyeri tekan kuadran kiri
atas, splenomegaly

Mengenai nodus limfe

Infeksi

Terasa nyeri

Gangguan
rasa
nyaman : Nyeri

Ds:Mengeluh nyeri pada


benjolan
3

Do: Wajah pucat,porsi


Mual muntah
Gangguan
makan yang diberikan

pemenuhan nutrisi
tidak
habis,Disfagia
Tdak mampu
(tekanan pada esophagus) memasukkan,mencerna,menabsorbsi
Makanan
Ds:klien
mengatakan

badanCepat merasa lelah


Kurang nafsu makan
danBadan Lemah,Nafsu

makan
berkurang
Intake makan kurang
Anoreksia,Penurunan
BB
berat badan yang tidak
dapat dijelaskan 10%
dalam 6 bulan tanpa
upaya diet pembatasan

Do: Penurunan keluaran


urin,
warna
lebih
gelap/pekat,
anuria
(obstruksi uretral, gagal
ginjal)
Disfungsi
usus
dan
kandung kemih (kompresi
spinal cord pada gejala
lanjut). Pucat (anemia),
diaphoresis, dan keringat
malam
Ds:klien
mengatakn
sering keringat malam
Do:kemerahan, pruritus
umum,
vitiligo
(hipopigmentasi)
Ds:klien
mengeluhkan
gatal gatal
Do:Kelelahan,
kelemahan, atau malaise
umum
Kehilangan produktivitas
dan penurunan toleransi
aktivitas.
Penurunan
kekuatan, bahu merosot,
jalan lamban, dan tandatanda
lain
yang
menunjukkan kelelahan.
Ds:klien mengeluh cepat
merasa lelah

Hipertabolik

metabolik

Keringat malam

Mengenai kulit

Penebalan beberapa tempat di


kulit
Anemia perdarahan infeksi

Kelemahan keletihan

Ketidakseimbangan antara
suplai o2 dan kebutuhan

Resiko
ketidakseimbanga
n elektrolit

Kerusakan
integritas kulit

Intoleransi
aktifitas

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Hipertemia b/d Penyakit
Gangguan rasa nyaman b.d gejala terkait penyakit
Ketidakseimbangan nutrisi ; kurang dari kebutuhan tubuh b.d ketidakmampuan untuk
mencerna makanan
Resiko ketidakseimbangan elektrolit b.d malaise (keringat malam)

Kerusakan integritas kulit b.d perubahan status cairan


Intoleransi aktivitas b.d kelemahan dan keletihan

C. INTERVENSI
No
1

Diagnosa
Tujuan (NOC)
Gangguan rasa nyaman b/d Noc
Ansiety
gejala terkait penyakit
Fear leavel
Sleep deprivation
Comfort,readiness
for
enchanced
KH
Mengontrol nyeri
Kontol gejala
Status
kenyamanan
meningkat

Intervensi (NIC)
Anxiety
reduction
( penurunan kecemasan )
Gunakan
pendekatan
yang menenangkan
Jelaskan semua prosedur
dan apa yang di rasakan
selama prosedur
Temani pasien untuk
memberikan keamanan
dan
mengurangi
ketakutan
Identifikasi
tingkat
kecemasan
Intruksikan
pasien
menggunakan
teknik
relaksasi

Hipertemia b/d penyakit

Fever treatment
Berikan anti peretik
Berikan pengobatan
untuk
mengatasi
penyebab demam
Kolaborasi
pemberian
cairan
intravena
Temperaturegulation
Monitor suhu tiap 2
jam
Tingkatkan
intake
cairan dan nutrisi
Ajarkan pada pasien
cara
mencegah
keletihan
akibat
panas

Noc

Themoregulation

KH

Suhu
tubuh
dalam
rentang normal
Nadi dan RR dalam
rentang normal
Tidak ada perubahan
dalam kulit dan tidak ada
pusing

Vital sign monitorik


Monitor
TD,nadi
suhu dan RR
Monitor
frekuensi
dan
irama
pernafasan
3

Ketidakseimbangan Noc

nutrisi ; kurang dari

kebutuhan tubuh b.d


ketidakmampuan

untuk
mencerna
makanan

KH

Manajemen nutrisi
Nutritional status
Kaji adanya alergi
Nutritional status : food
makanan
and fluid intake
Kolaborasi dengan
Nutritional
status
:
ahli
gizi
untuk
nutrient intake
menentukan jumlah
Weight control
kalori
yang
dibutuhkan pasien
Adanya
penungkatan

Anjurkan
pasien
berat
badan
sesuai
untuk meningkatkan
dengan tujuan
intake Fe
Berat bdan ideal sesuai

Anjurkan
pasien
dengan tinggi badan
untuk meningkatkan
Mampu mengidentifikasi
protein dan vitamin
kebutuhan nutrisi
C
Tidak ada tanda tanda
Yakinkan diet yang
malnutrisi
di
makan
Menunjukan peningkatan
mengandung tingg
fungsi pengecapan dari
serat
untuk
menelan
mencegah kontipasi
Tidak terjadi penurunan
berat badan yang berarti Nutrient monitoring
BB pasien dalam
batas normal
Monitor turgor kulit
Monitor mual dan
muntah
Monitor
kadar
albumin,total protein
,HB dan kadar Ht
Monitor
pertumbuhan
dan
perkembangan
Monitor kalori dan

Resiko ketidakseimbanagn
elektrolit b.d malaise
(keringat malam)

Noc:

KH:

Kerusakan integritas kulit b.d Noc:


perubahan status cairan

KH:

Fluid balance
Hydration
Nutritional status:food
and fluid intake
Mempertahankan urine
output sesuai dengan
usia,BB,BJ
urine
normal,HT normal
Takanan darah,nadi,suhu
tubuh
dalam
batas
normal
Tidak ada tanda-tanda
dehidrasi,elastisitas
turgor
kulit
baik,membrane mukosa
lembab,tidak ada rasa
aus yang berlebihan

Tissue integrity:skin and


mucous membrans
Hemodyalis akses

Menunjukan pemahaman
dalam proses perbaikan
kulit dan mencegah
terjadinya cedera
berulang
Tidak ada luka atau lesi
pada kulit

intake nutrisi
Fluid management
Pertahankan catatan
intake dan output
yang akurat
Monitor
status
dehidrasi
(kelembaban
membrane
mukosa,nadi
adekuat,tekanan
darah ortostik)
Kolaborasi
pemeberian cairan
IV
Berikan cairan IV
pada suhu ruanagan
Tur
kemunkinan
transfuse
Hypovolemia management
Pelihara IV line
Monitor tingkat Hb
dan hematokrit
Monitor
respon
pasien
terhadap
penambahan cairan
Monitor
adanya
tanda gagal ginjal
Pressure management
Anjurkan pasien
untuk menggunakan
pakaian yang
longgar
Jaga kebersihan kulit
agar bersih dan
kering
Monitor status
nutrisi pasien
Monitor kulit yang
akan adanya
kemerahan

Intoleransi aktifitas b.d


kelemhan dan keletihan

Noc:

KH:

Perfusi jaringan baik

Energy conservation
Activity tolerance
Self care:ADls
Mampu melakukan
aktifitas sehari-hari
(ADLs) secara mandiri
Tanda-tanda vital normal
Mampu
berpindah:dengan atau
tanpa bantuan
Sirkulasi status baik

BAB IV
PENUTUP
A.

Kesimpulan

Activity terapy
Bantu klien untuk
mengidentifikasi
aktifitas yang
mampu dilakukan
Bantu untuk memilih
aktifitas
Konsisten yang
sesuai dengan
kemampuan fisik
psikologi dan social
Bantu untuk
mendapatkan alat
bantuan aktifitas
seperti kursi roda
Bantu pasien untuk
mengembangkan
motifasi diri dan
penguatan
Monitor respon
fisik,emosi social
dan spritual

B.

Limfosit yang ganas (sel limfoma) dapat bersatu menjadi kelenjar getah bening
tunggal atau dapat menyebar di seluruh tubuh, bahkan hampir di semua organ.Penyakit
Hodgkin adalah suatu tumor yang menyerang kelenjar limpa.Belum diketahui jelas
tentang penyebab penyakit ini namun dicurigai disebabkan oleh virus. Gejala utama dari
penyakit ini adalah adanya pembesaran kelenjar limfe.Diagnosa yang sering
muncul pertama kali adalah tidak efektifnya pola nafas sehingga intervensi yang bisa
dilakukan adalah mengatur posisi dan pemberian O2. Diagnosa lain yang sering
muncul, Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk
mencerna sehingga intervensinya adalah pemberian makan sedikit tapi sering. Selain itu
diagnosa nyeri juga sering muncul sehingga intervensinya adalah dengan memberikan
obat jenis analgetik tergantung stadium penyakitnya.
Berdasarkan penelitian yang ada penyakit Hodgkin ini biasanya lebih banyak
menyerang pria dibandingkan wanita.Penyakit ini memiliki cirri-ciri histopatologi yang
dianggap khas, yaitu karena adanya sel-sel Reed Steinburg atau variannya yang disebut
sel Hodgkin.
Saran
Mengingat begitu kompleksnya masalah yang ditemukan akibat dari penyakit
Hodgkin, maka diharapkan kepada seluruh pihak-pihak medis terkait dapat
memperhatikan kondisi atau gejala-gejala penyakit Hodgkin itu sendiri serta dapat segera
melakukan pembangunan yang tepat dalam memberikan terapi dan pengobatan yang
sesuai bagi pasien yang terserang penyakit tersebut.Kepada pihak rumah sakit diharapkan
untuk lebih meningkatkan mutu dan kualitas dari pelayanan kesehatan yang telah ada
untuk memudahkan dalam penanganan kasus tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
Abdoerrachman MH, dkk, 1998, Ilmu Kesehatan Anak, Buku I, penerbit Fakultas Kedokteran
UI, Jakarta.
Anna Budi Keliat, SKp, MSc., 1994, Proses Keperawatan, EGC.

Marilynn E. Doenges, Mary Prances Moorhouse, Alice C. Beissler, 1993, Rencana Asuhan
Keperawatan, EGC.
Keperawatan Medikal Bedah 2, 2002 : hlm.957