Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN MATAKULIAH MANAJEMEN AGROEKOSISTEM

POTRET LOKASI AGROEKOSISTEM

Disusun oleh :
Nama

: Herdiansyah Alfides

NIM

: 135040201111420

\Kelas

:M

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

1. Latar Belakang
Tegalan atau lahan kering tanah atau daerah pertanian yang tergantung pada
musim hujan. Lahan tegalan tersebut ada pada daerah yang luas yaitu dari
pegunungan sampai dataran rendah. Dilihat dari segi luas maupun potensinya lahan
tegalan mempunyai peranan penting, bila dikelola dengan baik dan benar. Selain
dapat memenuhi kebutuhan pangan penduduk indonesia, juga berfungsi untuk tata
guna air yang mempengaruhi daerah sekitarnya.
Pengamatan dilakukan pada lahan tegalan yang kami kunjungi berlokasi di
Desa Selorejo, Dau-Malang. keadaan di sana terlihat tanahnya subur, hal ini terlihat
dari rerumputan yang tumbuh dan biodiversitasnya yang beragam. di sana kami
melakukan pengukuran dengan ukuran lahan 20 m x 20 m yang kemudian dibagi
menjadi empat kuadran. tetapi, yang dijadikan tempat pengamatan hanya pada
kuadran 1 dan 3. pada kedua kuadran tersebut dibuat F1 dan F2 dengan ukuran 20 cm
x 20 cm. setelah itu amati kedalaman efektif perakaran, tebal seresah,
keaanekaragaman biodiversitas dan understorynya.
2. Tujuan
Memahami pengelolaan agroekosistem sesuai kondisi yang sehat dan
berkelanjutan melalui upaya perbaikan sifat biologi tanah.
Indikator :
-

3.

Kedalaman efektif perakaran


Understory
Ketebalan seresah
Keanekaragaman biodiversitas
Berat basah sampel

Manfaat
Memahami indikator tanah yang sehat dan tidak sehat menjadi kunci utama
dalam manajemen agroekosistem.

4. Hasil dan pembahasan


Sampel

Kedalaman

Under story Ketebalan

Keanekaragaman

Berat basah

Tanah

efektif

(rumput)

seresah

biodiversitas

sampel

KW 1 F1
KW 1 F2
KW 2 F1
KW2 F2

perakaran
13 cm
13 cm
14 cm
14 cm

Sedang
Sedang
Sedang
Sedang

0,2 cm
0,2 cm
0,1 cm
0,1 cm

Sedang
Sedang
Sedang
sedang

207.9
126.5
208
127

Tabel diatas merupakan data hasil pengamatan kami dilapang yakni di Desa
Selorejo, Dau-Malang. Hal pertama yg perlu dilakukan adalah persiapan alat dan
bahan. Seperti cetok, gunting, tali rafia, plastik, penggaris, dan alat tulis. Selanjutnya
membuat petakan seluas 20 m x 20 m yang didalamnya akan dijadikan tempat
pengamatan. Kemudian dibagi lagi menjadi empat kuadran. Kuadran 1,2,3,4. Tetapi
yang akan diamati hanya pada kuadran 1 dan 3 yang pada masing-masing kuadran
dibuat F1 dan F2 dengan ukuran 20cm x 20cm. Lalu amati sesuai indikator yang telah
ditentukan.
Indikator yang diamati pertama adalah kedalaman efektif perakaran.
Kedalaman efektif perakaran adalah kedalaman tanah yang masih dapat ditembus
oleh akar tanaman. Pengamatan kedalaman efektif dilakukan dengan mengamati
penyebaran akar tanaman. Banyaknya perakaran, baik akar halus maupun akar kasar.
Karena lahan yang akan kami amati adalah lahan kosong bekas komoditi tanaman
jagung. Kami mengamati dengan cara membuat lubang disekitaran pangkal tanaman
jagung lalu mengukur panjang akar yang masih dapat menembus tanah tersebut. Pada
kuadran 1 F1 didapatkan kedalaman efektif 13 cm. Sama halnya dengan kuadran 2 F2
juga memiliki kedalam efektif 13 cm. Sedangkan pada kuadran 2 F1 memiliki
kedalaman efektif 14 cm dan kuadran 2 F2 juga 14 cm. Hal ini dapat dipengaruhi
oleh tipe perkecambahan dan kandungan air serta oksigen pada media tanam.
Umumnya benih dengan kotiledon yang muncul ke atas permukaan tanah, biasanya

memerlukan penanaman dangkal daripada benih yang kotildon bijinya tertinggal


dibawah permukaan tanah.
Indikator kedua adalah understory. Understory adalah istilah untuk kawasan
hutan yang tumbuh pada tingkat ketinggian terendah dibawah kanopi hutan. Jadi pada
lahan yang kami amati kami hanya menemukan rumput sebagai understory dengan
jumlah rata-rata pada masing-masing kuadran adalah sedang.
Indikator ketiga yang kami amati adalah ketebalan seresah. Pada pengamatan
pertama dikuadran 1 F1 memiliki ketebalan 0,2 cm dan pada kuadran 1 F2 memiliki
ketebalan seresah 0,2 cm. Sedangkan pada kuadran 2 F1 memiliki ketebalan seresah
0,1 cm dan pada kuadran 2 F2 juga memiliki ketebalan seresah 0,1 cm.
Indikator selanjutnya adalah keanekaragaman biodiversitas. Keanekaragaman
Hayati (Biodiversitas) merupakan keseluruhan variasi makhluk hidup yang dilihat secara
bentuk, penampilan, jumlah dan sifat. Keanekaragaman yang kami jumpai dilahan
adalah cacing, kascing, capung dan semut. Banyaknya cacing yang ditemukan
mengindikasikan tanah itu sehat, cacing berfungsi untuk memperbaiki porositas dan
kascing berfungsi sebagai pupuk alami. Dilahan kami juga menemukan capung dan
semut yang menandakan masih adanya musuh alami pada lahan tersebut.
Kesimpulan
Solusi pengelolaan lahan dari aspek biologi tanah yaitu dengan ditemukan nya
seresah, cacing tanah dan kascing yang menandakan bahwa pada tanah lahan tersebut
tanahnya sehat. Cacing tanah merupakan salah satu biota tanah yang memegang
peranan penting dalam siklus hara dalam tanah, sehingga dalam jangka panjang
sangat mempengaruhi keberlanjutan produktivitas lahan.
Dokumentasi