Anda di halaman 1dari 6

a.

Bentuk-Bentuk Kekerasan pada Wanita Saat Pacaran


Bentuk-bentuk dan akibat dari kekerasan yang dialami perempuan pada masa pacaran,
yakni:
1. Kekerasan Fisik
Kekerasan yang dilakukan dengan anggota badan si pelaku atau dengan bantuan alat
tertentu misalnya kayu, besi, batu dan lain-lain. Kekerasan fisik ini contohnya
menjambak, memukul, menyundut dengan rokok, mendorong, mencekik dan sebagainya.
Akibat dari kekerasan fisik adalah timbulnya luka atau bekas di tubuh korban, patah kaki,
retak tulang, rambut rontok, lecet sampai gegar otak.
2. Kekerasan Emosional
Kekerasan yang cenderung tidak terlalu nyata atau jelas seperti kekerasan fisik.
Kekerasan emosional lebih dirasakan atau berdampak pada perasaan sakit di hati,
tertekan, marah, perasaan terkekang, minder dan perasaan tidak enak lainnya. Contoh
kekerasan ini adalah pembatasan, yaitu seseorang membatasi aktivitas pasangannya tanpa
alasan yang masuk akal, cemburu yang berlebihan, punya kekasih gelap, cenderung tidak
mempedulikan, menghina dan sebagainya.
3. Kekerasan Seksual
Kekerasan yang berkaitan dengan penyerangan seksual atau agrisifitas seksual seperti
mencium, memeluk dengan paksa, memegang tangan atau meraba-raba kemaluan. Selain
itu, kekerasan seksual juga termasuk pemberian perhatian yang berkonotasi (nyerempetnyerempet) seksual, seperti memaksa pacar menonton film porno, menunjukkan gambar
porno padahal tidak disukai. Akibat kekerasan seksual, misalnya kehamilan yang tidak
dikenhendaki dan pemaksaan melakukan aborsi (pengguguran kandungan). Pada
kegagalan aborsi salah satu akibat yang timbul adalah kematian ibu dan bayi.
4. Kekerasan ekonomi
Kekerasan yang berhubungan dengan uang dan barang. Misalnya pacar suka meminta
uang, utang tidak pernah membayar atau kalau meminjam barang tidak pernah
mengembalikan dan lain-lain. Akibat dari kekerasan ini berhubungan dengan kehilangan
atau kekurangan barang dan uang juga.
b. Patriarki, Dominansi, dan Kontrol serta Pemahaman Tubuh Perempuan dalam
Melihat Akar Kekerasan

Secara umum budaya patriarki didefinisikan sebagai suatu sistem yang bercirikan
laki-laki. Pada sistem ini laki-laki yang memiliki kekuasaan untuk menentukan, kondisi
ini

dianggap

wajar

karena,

dikaitkan

dengan

pembagian

kerja

berdasarkan

seks.Keberadaan budaya ini telah memberikan keistimewaan pada jenis kelamin laki-laki.
Oleh karena itu budaya ini tidak mengakomodasi kesetaraan dan keseimbangan, dimana
dalam budaya ini jenis kelamin perempuan tidak diperhitungkan. Budaya inilah yang
kemudian yang mewujudkan garis keturunan berdasarkan garis lak-laki.Budaya patriarki
ini mempengaruhi kondisi hubungan perempuan dan laki-laki, yang pada umumnya
memperlihatkan hubungan subordinasi, hubungan atas-bawah dengan dominasi laki-laki.
Mengutip dari Mansour Fakih, gender adalah suatu sifat yang melekat pada kaum
perempuan dan laki-laki, yang dikonstruksikan secara sosial maupun kultural. Ini jelas
berbeda dengan konsep jenis kelamin yang lebih berkonsentrasi pada anatomi biologi
manusia dan memang telah ditentukan secara terberi (given). Konsep gender ini berkaitan
dengan 3 hal, yaitu femininitas dan maskulinitas. Perempuan selalu digambarkan dengan
kedamaian, keteduhan, lemah lembut, emosional, dan lebih mengandalkan insting.
Sedangkan laki-laki dikaitkan dengan citra kuat, jantan, bersifat sebagai pelindung, dan
rasional. Sekali lagi konsep gender ini merupakan hasil konstruksi sosial dan budaya, jadi
bukanlah harga mati yang kita dapat dari lahir sebagai manusia, sehingga tidak menutup
kemungkinan laki-laki dan perempuan saling bertukar peran gender.
Kita mungkin masih mengingat ketika mulai tumbuh remaja, anak perempuan
selalu dicekoki dengan berbagai macam nilai-nilai dan norma kesopanan, terutama dari
pihak ibu. Kita mungkin telah sangat mafhum bahwa masyarakat Jawa merupakan
masyarakat dengan adat dan budaya yang sangat patriarkis. Bagi anak perempuan,
diharamkan untuk tertawa lebar sampai terlihat seluruh giginya, apalagi berteriak-teriak.
Pamali!. Sebaliknya, ia harus duduk manis dan menuruti yang dikatakan ayah ibunya. Ini
pun belum cukup. Lingkungan lebih luas, seperti keluarga besar dan tetangga pun seolaholah juga merasa memiliki kewajiban untuk turut serta mendidik anak perempuan.
Budaya patriarki inilah yang berperan besar untuk terus menyudutkan perempuan dengan
peran gendernya yang nampaknya sudah ditentukan sepenuhnya oleh konstruksi sosial
dan kultural yang patriarkhal. Dalam masyarakat, mereka (perempuan) menjadi the

second sex (suatu konsep subordinasi yang terus-menerus dibangun oleh masyarakat
patriarki, padahal Tuhan sendiri tidak pernah menjadikan perempuan sebagai makhluknya
yang memiliki kelas kedua dan kehadirannya pun bukan semata-mata sebagai pelengkap
laki-laki), sehingga pada akhirnya perempuan kurang memiliki akses untuk peningkatan
kualitas hidupnya, seperti akses untuk pendidikan, ekonomi, sosial, politik, dan bidangbidang lainnya. Melihat dari sini mungkin wajar jika kemudian banyak data yang
menyebutkan bahwa tingkat buta huruf kaum perempuan di negara dunia ketiga masih
terbilang cukup tinggi, dan kita pun menjadi maklum pula ketika PBB mengatakan
bahwa potret kemiskinan semakin menampakkan wajah perempuan (poverty has a
women face).
Hingga saat ini, anggapan bahwa anak perempuan kurang berhak atas pendidikan
tinggi juga masih kental dalam masyarakat, terutama bagi anak perempuan
yang kebetulanterlahir dari keluarga menengah ke bawah. Bila dalam satu keluarga ini
terdapat anak laki-laki dan anak perempuan, maka prioritas untuk pendidikan tinggi akan
diberikan kepada anak laki-laki, sedangkan untuk perempuan, pendidikan tinggi
merupakan sesuatu yang kondisional, melihat dulu bagaimana kondisi kemampuan
keluarga. Mereka mengatakan, Anak perempuan tidak perlu sekolah tinggitinggi, toh ujung-ujungnya akan kembali ke dapur juga. Mungkin juga kita akrab dengan
ungkapan-ungkapan misoginis tradisional Jawa, seperti dapur, sumur, kasur, serta
macak(berdandan), manak (melahirkan), dan masak. Kaum perempuan masih dicitrakan
sebagai konco wingking, sama sekali tidak berhak mengurusi masalah-masalah publik,
yang (katanya) hanya wilayah laki-laki. Ini jelas bertentangan dengan semangat yang
dibangun oleh Caroline Mosser, bahwa persoalan perempuan adalah menyangkut 3
peran (the triple role), yaitu domestik, publik, dan sosial. Bahwa perempuan memiliki
hak untuk berperan di ketiga wilayah tersebut. Ataupun adagium Jawa yang berujar
suwargo nunut neroko katut (masuk atau tidaknya seorang istri ke surga adalah
bergantung pada si suami). Suatu ungkapan yang menegaskan ketidakberpihakan
masyarakat akan kebebasan kaum perempuan untuk merdeka dan menentukan nasibnya
sendiri.

Lebih jauh lagi, perbedaan gender dan konsep patriarki sering membawa
perempuan ke arah konflik dengan laki-laki, konflik yang semata-mata menempatkan
perempuan ke dalam posisi sebagai korban (victim). Misalnya dalam masalah kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT), atau yang sekarang ini telah banyak terjadi, kekerasan
dalam pacaran (KDP). Posisi yang (dianggap) tidak setara, menjadikan perempuan tidak
memahami akan hak-haknya dan menganggap bahwa kekerasan dan pelecehan yang
mereka alami merupakan suatu hal yang wajar, dan bila kekerasan yang mereka alami
mengakibatkan luka fisik dan psikologis yang serius, perempuan cenderung masih
memilih untuk bungkam. Bagi mereka, mengungkapkan peristiwa kekerasan dan
pelecehan merupakan sesuatu yang memalukan dirinya dan (terutama) keluarganya.
Tidak mengherankan jika perempuan memikul beban ganda yang begitu berat, selain
harus memikul kehormatan dirinya, ia juga harus menanggung kehormatan keluarganya.
Terkait dengan kekerasan, setiap laki-laki berpotensi untuk menggunakan
kekerasan sebagai sebuah metode penuh kekuasaan untuk merendahkan perempuan.
Kekerasan yang terjadi pada perempuan ini selalu terjadi dalam posisi hierarki, di mana
menggambarkan situasi di dalam masyarakat yag telah tersturktur bahwa hubungan
antara ekduanya bersifat atas (laki-laki) dan bawah (perempuan). Di dalam posisi inilah
muncul ketidakadilan gender. Kekerasan dianggap sebagai sebuah perilaku yang
dipelajari dan sering digunakan oleh laki-laki sebagai sebuah cara untuk menyelesaikan
konflik. Kekeasan yang dilakukan oleh laki-laki dilihat sebagai perilaku yang dirancang
untuk mengintimidasi dan mengkontrol kaum perempuan. Perilaku agresif bahkan
kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki seringkali mendapat pembenaran dari
masyarakat sebagai sebuah perilaku dan karakteristik yang merupakan hasil dari
kebutuhan biologis yang tidak dapat dikontrol. Argumen ini merupakan salah satu
pembenaran atas perilaku dominasi laki-laki. Laki-laki yang melakukan kekerasan
terhadap pasangannya dianggap melakukan perannya. Budaya pun mendefinisikan
kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki sebagai bentuk kekerasan dan otoritas laki-laki.
Dan penggunaan kekerasan tersebut merupakan sebuah bentuk untuk mengontrol dan
menghukum pasangannya (menghukum perempuan.

Perilaku diskriminatif dan budaya patriarki di dalam masyarakat secara nyata


telah memarginalkan perempuan hampir dalam segala segmen-segmen kehidupan.
Budaya patriarki menempatkan laki-laki sebagai fokus utama sehingga menimbulkan
relasi kuasa yang tidak seimbang antara laki-laki dan perempuan. Di dalam relasi itu,
laki-laki sebagai pihak yang dianggap lebih kuat belajar mengendalikan dan mengontrol
perempuan. Sehingga perempuan dilihat sebagai objek kepunyaan dari laki-laki serta
akhirnya membuat perempuan dianggap sebagai makhluk yang lemah, dan perempuan
sebagai warga negara kelas dua. Lebih lanjut dapat dikatakan kasus-kasus kekerasan
terhadap perempuan bersumber pada ketimpangan kekuasaan antara perempuan dan lakilaki yang dianut secara luas. Laki-laki disosialisasikan untuk melihat perempuan sekadar
objek pelengkap, tidak penting dan dapat diperlakukan seenaknya. Kenyataan ini
dilengkapi oleh sosialisasi tentang ciri-ciri yang dianggap positif pada perempuan
(feminitas) yang menekankan pada perempuan untuk bersikap pasrah, selalu
mendahulukan kepentingan orang lain, mempertahankan ketergantungannya pada lakilaki, serta menuntutnya untuk mengutamakan peran sebagai pendamping suami dan
pengasuh anak-anaknya.
Dengan posisi perempuan yang berada subordinat di bawah laki-laki, pada
akhirnya membenarkan dominasi laki-laki di masyarakat dan bahwa perempuan
merupakan pihak yang harus selalu tunduk pada laki-laki. Termasuk di dalam hubungan
pacaran di mana perempuan selalu diharapkan tetap pasif (penuh kasih sayang, penurut,
sabar, simpatik, selalu patuh, ceria, baik, dan ramah) dan laki-laki tetap aktif (kuat,
agresif, penuh rasa ingin tahu, ambisius, penuh rencana, bertanggung jawab, kompetitif).
Perempuan pun pada kahirnya kesulitan untuk menghindar dari kekerasan yang
menimpanya dikarenakan unsur dominan yang menjadi penyumbang utama terjadinya
kekerasan terhadap perempuan ini ada pada kultur, di mana kultur tersebut
dinternalisasikan ke dalam diri individu secara kontinum, menembus ruang dan waktu.

Referensi:

1. Tisyah, Dewi dan Rochana, Erna. 2010. Analisis Kekerasan Pada Masa Pacaran (Dating
Violence). Jurnal Sociologie, Vol. 1, No. 1: 1-9. Unduh. (Diakses pada Rabu, 18 Maret
2015 pukul 03.45 WIB)
Sumber: http://pshi.fisip.unila.ac.id/jurnal/files/journals/5/articles/199/public/199-618-1PB.pdf
2. Macdonald, Mandy dkk. 1999. Gender dan Perubahan Organisasi. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar
3. Guamarawati, Nandika. 2009. Suatu Kajian Kriminologis Mengenai Kekerasan Terhadap
Perempuan Dalam Relasi Pacaran Heteroseksual. Jurnal Kriminologis Indonesia Vol. 5
No. I Februari 2009: 43-55. Unduh. (Diakses pada Rabu, 18 Maret 2015 pukul 03.50
WIB)
Sumber: http://journal.ui.ac.id/index.php/jki/article/viewFile/1255/1160