Anda di halaman 1dari 52

Strategi Sanitasi Kota

Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

KERANGKA KERJA SEKTOR SANITASI KOTA

BAB II

Gambaran umum situasi sanitasi Kota Parepare saat ini, Visi dan Misi Sanitasi Kota yang
akan memberikan arahan tentang pembangunan sanitasi Kota Parepare lima tahun kedepan,
Kebijakan umum sanitasi Kota saat ini dan arah ke depan serta tujuan dan sasaran
pembangunan sektor sanitasi.
2.1. GAMBARANUMUM KOTAPAREPARE
2.1.1.

Kondisi Geografis dan Aspek Tata Ruang

Kota Parepare merupakan salah satu daerah di Sulawesi Selatan yang memiliki posisi strategis
karena terletak pada jalur perlintasan transportasi darat maupun laut, baik arah Utara Selatan
maupun Timur Barat, dengan luas 99,33 km 2 yang secara geografis terletak antara 3o 57 39 - 4o
04 49 Lintang Selatan dan 119 o 36 24 - 119o 43 40 Bujur Timur, terdiri atas 4 (empat) kecamatan
dan 22 (dua puluh dua). Klasifikasi Kota Parepare kurang lebih 80% luas daerahnya merupakan
daerah perbukitan dan sisanya daerah datar dengan ketinggian 25 500 meter diatas permukaan
laut (mdpl), dengan dataran tinggi bergelombang dan berbukit (88,96%) dengan fungsi dominan
untuk lahan perkebunan (18,56%), kehutanan (43,04%), dan daerah permukiman (1,57%), serta
sebagaian kecil merupakan dataran rendah yang rata hingga landai (11,04%) dengan fungsi
permukiman (2,80%), pertanian (9,40%) dan perikanan (0,24%).
Secara administrasi memiliki batas-batas wilayah sebagai berikut :
-

Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Pinrang;


Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Sidenreng Rappang;
Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Barru;
Sebelah Barat berbatasan dengan Selat Makassar.

Tabel 2. 1 Luas Wilayah Per-Kecamatan Kota Parepare Tahun 2010

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 1

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

No

Kecamatan
Kelurahan

POKJA AMPL Kota Parepare

Jumlah
RW

RT

II - 2

Area

Luas Wilayah
Terbangun
2010

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

10

(km2)
66,70
25,52

(km2)
8,54
0,5

%
0,13
0,02

29,75

6,69

0,22

21

5,27

0,95

0,18

4
42

9
108

22

6,16
11,30
0,36

0,4
3,54
0,36

0,06
0,31
1,00

12

0,22

0,24

1,09

18

0,36

0,46

1,28

Ujung Bulu

10

29

0,38

0,42

1,11

9
III.
10

Lapadde
Soreang
Kampung Pisang

9
50

27
148

18

9,98
8,33
0,12

2,06
4,47
0,13

0,21
0,54
1,08

11

Lakessi

15

0,15

0,18

1,20

12

Ujung Baru

23

0,48

0,49

1,02

13

Ujung Lare

15

0,18

0,21

1,17

14

Bukit Indah

11

31

1,19

0,92

0,77

15

Wattang Soreang

20

0,65

0,48

0,74

16
IV.
17

Bukit Harapan
Bacukiki Barat
Lumpue

9
32

26
99

19

5,65
13,00
4,99

2,06
3,56
1,1

0,36
0,27
0,22

18

Bumi Harapan

15

6,16

1,09

0,18

19

Sumpang Minangae

13

0,31

0,28

0,90

20

Cappak Galung

15

0,7

0,54

0,77

21

Tiro Sompe

21

0,38

0,31

0,82

22

Kampung Baru

4
147

16
404

0,46

0,24

0,52

99,33

20,11

0,20

I.
1

Bacukiki
Wattang Bacukiki

Lemoe

Lompoe

4
II.
5

Galung Maloang
Ujung
Labukkang

Mallusetasi

Ujung Sabbang

Parepare

22

49

Sumber :BPS Kota Parepare 2010

A. Tujuan, Kebijakan, Dan Strategi Penataan Ruang Kota Parepare Tahun 20112031

Tujuan Penataan ruang wilayah Kota Parepare untuk mewujudkan kondisi ruang kota
yang aman, nyaman, efisien dan produktif secara berkelanjutan, sesuai dengan fungsinya
sebagai kota pusat pelayanan kawasan Ajattappareng berbasis perdagangan dan jasa,
dengan tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan serta kelestaian sumber daya
alam.
Kebijakan penataan ruang adalah rangkaian konsep dan asas yang menjadi garis
besar dan dasar dalam pemanfaatan ruang darat, laut, dan udara termasuk ruang di dalam
bumi untuk mencapai tujuan penataan ruang. Kebijakan Penataan Ruang, meliputi:

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 3

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

a. kebijakan dan strategi pengembangan struktur ruang;


b. kebijakan dan strategi pengembangan pola ruang; daan
c. kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis kota.
Penjelasan mengenai ketiga yang dimaksud di atas:

Kebijakan pengembangan struktur ruang sebagaimana dimaksud:


a. peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi yang
merata dan berhirarki; dan
b. peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jarigan prasarana transportasi,
telekomunikasi, energi dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh

wilayah Kota Parepare.


Kebijakan dan strategi pengembambangan pola ruang yang dimaksud:
a. kebijakan pengembangan kawasan lindung; dan
b. kebijakan pengembangan kawasan budi daya.
Kebijakan pengembangan kawasan lindung sebagaimana dimaksud, meliputi:
a. pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan
b. pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan
kerusakan dan / atau pencemaran lingkungan hidup.
Kebijakan pengembangan kawasan budi daya yang dimaksud, meliputi:
a. perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antar kegiatan budi
daya;
b. pengendalian pengembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya

dukung dan daya tampung lingkungan; dan


c. peningkatan fungsi kawasan untuk pertahanan dan keamanan negara.
Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan strategis kota yang dimaksud, meliputi:
a. pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk
mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan
keanekaragaman hayati dan ekosistem, mempertahankan dan menigkatkan fungsi
perlindungan kawasan dan melestarikan keunikan bentang alam; dan
b. pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan
perekonornian nasional yang produktif, efisien, dan mampebesar daya saing dalam
perekonomian internasional.

Kawasan strategis adalah kawasan yang penataan ruangnya diprioritaskan karena


mempunyai pengaruh sangat penting terhadap ekonomi, sosial, budaya dan/atau lingkungan,
pendayagunaan sumberdaya alam serta teknologi. Kawasan strategis pada wilayah perkotaan
merupakan bagian dari wilayah kota yang memiliki nilai-nilai strategis, baik untuk mempertahankan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 4

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

ciri dan nilai-nilai wilayah kota, maupun untuk menunjang pembangunan dan pengembangan kota,
serta memiliki pengaruh kuat terhadap perkembangan kawasan sekitarnya.
Kawasan strategis di wilayah Kota Parepare meliputi :

kawasan strategis yang ditetapkan dalam RTRW Nasional yang disebut Kawasan Strategis
Nasional (KSN) dari sudut kepentingan ekonomi, dan pendayagunaan sumber daya alam
dan/atau teknologi;

kawasan strategis yang ditetapkan dalam RTRW Propinsi yang disebut Kawasan Strategis
Propinsi (KSP) dari sudut kepentingan ekonomi; dan

kawasan strategis Kota Parepare dari sudut kepentingan ekonomi, sosial budaya, dan fungsi
daya dukung dan lingkungan.

Kawasan Strategis Nasional (KSN)

KSN dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi yaitu Kawasan Pengembangan Ekonomi
Terpadu (KAPET) Parepare; dan

KSN dari sudut kepentingan pendayagunaan sumber daya alam dan/atau teknologi berupa
Stasiun Bumi Satelit Penginderaan Jauh (SBSPJ) Parepare di kompleks LAPAN Parepare.

Kawasan Strategis Propinsi (KSP)

KSP dari sudut kepentingan pertumbuhan ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 55 ayat
(1) huruf b berupa Kawasan Industri Parepare.
Strategi Penataan Ruang, meliputi: (i) Strategi peningkatan akses perkotaan dan
pusat pertumbuhan ekonomi wilayah yang merata dan berhirarki; (ii) Strategi peningkatan
kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana.

Tabel 2. 2 Kawasan Strategis Kota Parepare


No.
1.

ASPEK
Kawasan Strategis Kepentingan
Pertumbuhan Ekonomi

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

POKJA AMPL Kota Parepare

LOKASI
kawasan Perdagangan dan Jasa Lakessi dan sekitarnya;
kawasan Industri dan Pergudangan Lapadde Kecamatan
Ujung-Bukit Harapan Kecamatan Soreang;
kawasan Pengembangan Pertanian/Agribisnis;
kawasan peternakan di Kecamatan Bacukiki dan Kecamatan
Ujung;
kawasan perikanan di Kecamatan Soreang, Bacukiki Barat
dan Kecamatan Bacukiki;
kawasan Pelabuhan (Nusantara, Cappa Ujung, dan
Pertamina); dan
kawasan Pengembangan PKL (Mattirotasi Baru, Senggol
dan Cempae).

II - 5

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

No.

ASPEK

LOKASI
2.
Kawasan Strategis Kepentingan Sosial 1. kawasan Pusat Pemerintahan Kota terletak disepanjang jalur
jalan Jend. Sudirman (jalan lingkar bawah) dan pusat kota di
Budaya
Kecamatan Ujung;
kawasan Wisata Lumpue, Pasar Seni, dan Desa Wisata
Watang Bacukiki; dan
2. kawasan Pendidikan , Olahraga dan Keagamaan di
Kecamatan Soreang, Kecamatan Bacukiki, Kecamatan
Ujung dan Kecamatan Bacukiki Barat
1.
kawasan hutan lindung yang terletak di Kecamatan Bacukiki;
3.
Kawasan Strategis Kepentingan Fungsi
2.
kawasan pesisir pantai sepanjang pantai;
Daya dukung dan Lingkungan
3. kawasan sempadan sungai yang tersebar di seluruh
kecamatan;
4. kawasan Keanekaragaman Hayati yang terletak di Kelurahan
LemoE;
5. kawasan taman hutan penelitian dan wanawisata (kawasan
Hutan Raya Alitta) di kelurahan Bukit Harapan, Kecamatan
Soreang dan Kebun Raya JompiE yang terletak pada
kelurahan Bukit Harapan;
6. kawasan Terumbu Karang yang terletak di Kelurahan
LumpuE; kawasan Hutan Rakyat di Kelurahan Watang
Bacukiki dan Kelurahan Lumpue;
7. kawasan Taman Estuari Sungai Karajae di Kelurahan
Sumpang Minangae, Kelurahan Lumpue, Kelurahan Bumi
Harapan, dan Kelurahan Watang Bacukiki; dan
8. kawasan Agrowisata di Kelurahan Watang Bacukiki dan
Kelurahan Lemoe.
Sumber : Dokumen Perda RTRW Kota Parepare 2011-2031

A. Rencana Pola Ruang Wilayah Kota Parepare Tahun 2011 -2031

1) Kawasan Lindung
Tabel 2. 3 Rencana Pengelolaan Kawasan Lindung di Kota Parepare
Fungsi Kawasan
Kawasan yang
memberikan
perlindungan
kawasan
bawahannya

Peruntukan
Ruang

Rencana Pengelolaan

Hutan Lindung 1.
2.

Mempertahankan kawasan hutan lindung yang sudah ditetapkan


dan meningkatkan fungsi hidrologisnya, sehingga tidak boleh dikonversi
atau diubah untuk kepentingan lain yang mengubah fungsi hutan lindung.
Menjaga fungsi hutan lindung yang masih baik serta
mengembalikan kawasan yang beralih pemanfaatan lahannya dari non
hutan menjadi hutan lindung.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 6

Lokasi
Rencana alokasi bagi hutan
lindung sebesar 2.048Ha.
Lokasi
hutan
lindung
tersebar di Kecamatan
Bacukiki.

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Fungsi Kawasan

Peruntukan
Ruang

Rencana Pengelolaan
3.
4.
5.

6.
7.
8.

9.

10.
11.
12.
13.
14.
Kawasan
Perlindungan
Setempat

Sempadan
Sungai

1.
2.
3.
4.

Sempadan
Pantai

1.

2.
3.

Beberapa kawasan tertentu, terutama hutan produksi (terbatas dan


tetap) yang memenuhi kriteria hutan lindung agar diproses secara cermat
sesuai prosedur yang berlaku menjadi kawasan hutan lindung.
Mengukuhkan kawasan sebagai hutan lindung apabila kawasan
tersebut belum dikukuhkan.
Bagi kawasan non hutan (perkebunan) yang mempunyai kriteria
lindung agar dikaji dan dipertimbangkan fungsinya sebagai hutan lindung
atau kawasan resapan air atau dialih-fungsikan secara bertahap
(terutama bagi yang HGU-nya telah habis atau dihapuskan), secara
cermat dan tepat sehingga menjadi bagian dari kawasan yang berfungsi
lindung.
Kegiatan pada kawasan hutan lindung harus dibatasi secara ketat
dan tidak mengganggu fungsi lindung seperti ekosistem, penelitian, dan
pendidikan lingkungan.
Kegiatan budaya yang sudah berlangsung pada kawasan hutan
lindung dicegah perkembangannya, dan secara bertahap diarahkan
sesuai fungsi kawasan.
Wilayah-wilayahperkampungan/penduduk asli/setempat yang
berada di kawasan ini diupayakan mendapat perlakuan khusus, antara:
a.
Pemanfaatannya harus tetap mengacu pada fungsi lindung.
b.
Luasannya tidak boleh ditambah dan tidak boleh
diperjualbelikan.
c.
Tidak diperkenankan mengubah bentang alam, kecuali untuk
meningkatkan sistem konservasi tanah dan air.
Tidak diperkenankan mendirikan bangunan, kecuali bangunan
yang diperlukan untuk menunjang fungsi hutan lindung dan atau
bangunan yang merupakan bagian jaringan atau transmisi bagi
kepentingan
umum/ekowisata
sepanjang
tidak
mengganggu
keseimbangan ekosistemnya, misalnya pos pengamatan dan penjagaan,
jalan setapak untuk wisata, triangulasi, jaringan listrik/telekomunikasi, dan
patok.
Melakukan rehabilitasi dan reboisasi dengan tutupan vegetasi
tetap, terutama pada lahan-lahan kritis.
Menjaga dan melindungi flora dan fauna yang ada.
Monitoring secara kontinyu, khususnya pada kegiatan/pemanfaatan
lahan yang saat ini tidak sesuai dengan peruntukan fungsi hutan lindung.
Dilakukan pola-pola partisipasi masyarakat dalam pengelolaan
kawasan.
Dilakukan studi terhadap potensi ekonomi hutan lindung untuk
sumber daya non kayu.
Tidak mengeluarkan ijin bangunan atau kegiatan yang berdampak
mengganggu aliran sungai pada daerah sempadan sungai, kecuali
bangunan yang diperlukan untuk menunjang fungsi kawasan
Bangunan yang sudah berada pada kawasan sempadan sungai
ditata, baik secara rekayasa teknis maupun non teknis, sehingga tidak
mengganggu aliran sungai
Menata dan mengelola saluran-saluran pembuangan limbah yang
menuju badan sungai dan tertentu pada sempadan pantai
Melakukan konservasi lahan pada jalur kanan kiri sungai yang
potensial erosi dan longsor.
Pemanfaatan lahan pada kawasan ini baik melalui rekayasa teknis
maupun non teknis harus dilakukan melalui kajian AMDAL yang cermat
dan tidak diperkenankan memberi dampak negatif terhadap lingkungan
pantai
Penataan dan pengendalian terhadap bangunan atau aktivitas
yang mengganggu lingkungan pantai dan keindahannya
Menyusun pengelolaan terpadu kawasan pesisir, terutama untuk
pengembangan kegiatan budidaya

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 7

Lokasi

Sempadan sungai memiliki


luas 1.088 Ha. Kawasan
sempadan sungai tersebar
diseluruh wilayah Kota
Parepare.

Sempadan pantai memiliki


luas 61Ha. Lokasi
kawasan sempadan pantai
terdapat pada kawasan
yang memiliki bentuk dan
kondisi fisik pantai minimal
100 meter dari titik pasang
tertinggi ke arah darat, yaitu
tersebar diseluruh wilayah

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Fungsi Kawasan

Peruntukan
Ruang

Rencana Pengelolaan

Lokasi
Kota Parepare.

Sumber : Hasil Analisis, 2009

2) Kawasan Budidaya
Tabel 2. 4 Kriteria Kawasan Budidaya
No.

Jenis Kawasan
Budidaya

I. Hutan Produksi
Kawasan Hutan produksi
terbatas
Kawasan hutan produksi
Tetap
Kawasan hutan produksi
konversi
Kawasan Hutan Rakyat

Kriteria
Penetapan

Definisi
Kawasan yang diperun-tukkan bagi
hutan produksi terbatas dimana
eksploitasinya hanya dapat dengan
tebang pilih dan tanam
Kawasan yang diperuntukkan bagi
kawasan hutan produksi tetap dimana
eksploitasinya dapat dengan tebang pilih
atau tebang habis dan tanam
Kawasan hutan yang bilamana
diperlukan, dapat dialih gunakan
Kawasan hutan yang dibangun dan
dimiliki oleh masyarakat dan berada di
luar kaasan hutan milik negara

Skor 125 - 175 (berdasarkan hasil perkalian


bobot dari kelas lereng, tanah dan intensitas
hujan).
Skor < 125 (berdasarkan hasil perkalian
bobot dari kelas lereng, tanah dan intensitas
hujan).
Skor < 125 (berdasarkan hasil perkalian
bobot dari kelas lereng, tanah dan intensitas
hujan dengan volume tegakan hanya
mencapai 20 m3 per hektar)
Kawasan yang dapat diusahakan sebagai
hutan oleh perorangan atau kelompok di atas
tanah yang dibebani hak milik

II. Kawasan Pertanian


Kawasan tanaman
pangan lahan basah

Kawasan yang diperuntukkan bagi


tanaman pangan lahan basah dimana
pengairannya dapat diperoleh baik
secara almi maupun dengan tahnis

Kawasan tanaman
pangan lahan kering

Kawasan yang diperuntukkan bagi


tanaman pangan lahan kering untuk
tanaman palawija, hortikultura atau
tanaman pangan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 8

Kawasan yang sesuai untuk tanaman pangan


lahan basah, mempunyai sistem dan atau
potensi pengembangan dan pengairan yang
memiliki:
a. Ketinggian < 1000 m dpl
b. Kelerengan < 10 %
c. Kedalaman efektif lapisan tanah atas >
30 cm
Kawasan yang sesuai untuk tanaman
palawija, hortikultura atau tanaman pangan,
dengan mempertimbangkan faktor-faktor:
a. Ketinggian < 1000 m dpl
b. Kelerengan < 10 %
c. Kedalaman efektif lapisan tanah atas >
30 cm

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

No.

Jenis Kawasan
Budidaya

Kriteria
Penetapan

Definisi

Kawasan tanaman
tahunan/perkebunan

Kawasan yang diperuntukkan bagi


tanaman tahunan/ perkebunan yang
menghasilkan baik tanaman pangan
maupun bahan baku industri.

Kawasan peternakan

Kawasan yang diperuntukkan bagi


peternakan hewan besar dan
penggembalaan ternak

Kawasan perikanan

Kawasan yang diperuntukkan bagi


perikanan, baik berupa
pertambakan/kolam, maupun perairan
darat lainnya

III. Kawasan Pertambangan


Kawasan Pertambangan

IV. Kawasan Perindustrian


Kawasan Peruntukan
industry

V. Kawasan Pariwisata
Kawasan pariwisata

VI. Kawasan Pemukiman


Kawasan Permukiman

Kawasan yang sesuai untuk tanaman


tahunan/perkebunan
dengan mempertimbangkan faktor-faktor:
a. Ketinggian < 2000 m dpl
b. Kelerengan < 10 %
c. Kedalaman efektif lapisan tanah atas >
30 cm
Kawasan yang sesuai untuk peternakan dan
penggembalaan hewan besar, yang
ditentukan dengan mempertimbangkan
faktor-faktor:
a.
Ketinggian < 1000 m dpl
b.
Kelerengan < 10 %
c.
Luas tanah dan iklim yang normal untuk
padang rumput gembala
Kawasan yang sesuai untuk perikanan yang
ditentukan dengan mempertimbangkan
faktor-faktor:
Kelerengan < 8 %
Persediaan air yang cukup

Kawasan yang diperuntukkan bagi


pertambangan, baik wilayah yang
sedang maupun yang akan segera
dilakukan kegiatan pertambangan

Memiliki sumberdaya bahan tambang yang


berwujud padat, cair atau gas berdasarkan
peta geologi, dimanfaatkan untuk kegiatan
pertambangan yang dilaksanakan secara
berkelanjutan

Kawasan yang diperuntukkan bagi


industri, yakni berupa pemusatan industri

Wilayah yg dapat dimanfaatkan untuk industri


dengan tidak mengganggu kelestarian fungsi
lingkungan hidup, tersedia sumber daya air
baku yang cukup, memiliki sistem
pembuangan limbah yang ramah lingkungan,
serta tidak menimbulkan dampak sosial
negatif yang berat

Kawasan yang diperuntukkan bagi


kegiatan wisata

Memiliki obyek dan dayatarik wisata,


mendukung upaya pelestarian budaya,
keindahan alam, dan lingkungan.

Kawasan yang diperuntukkan bagi


pemukiman

Berada di luar kawasan yang ditetapkan


sebagai kawasan rawan bencana, memiliki
kelengkapan sarana dan prasarana dan
utilitas pendukung.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 9

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

2.1.2 . Demografi
A. Kependudukan

a. Persebaran dan Kepadatan Penduduk


Kota Parepare dengan luas 99,33 km2 didiami oleh penduduk yang secara kuantitas terus
mengalami peningkatan. Kondisi tahun terakhir menunjukkan adanya pertambahan jumlah
penduduk yang tidak kecil, dari 118.842 jiwa pada tahun 2009 menjadi 129.013 jiwa pada tahun
2010. Penyebarannya pun tidak merata pada setiap kacamatan maupun kelurahan, sehingga
kondisi demografi Kota Parepare memiliki tingkat kepadatan yang berbeda.
Jumlah dan Kepadatan Penduduk, serta Jumlah Rumah Tangga
Jumlah penduduk Kota Parepare pada Tahun 2010 sebanyak 129.013 jiwa yang tersebar pada 4
(empat) kecamatan dan 22 (dua puluh dua) kelurahan. Dari jumlah tersebut, Kecamatan Soreang
merupakan kecamatan yang paling banyak penduduknya, yakni 43.468 jiwa atau sekitar 33,69 %
dari total penduduk Kota Parepare. Kelurahan yang paling banyak penduduknya adalah Kelurahan
Lapadde yang merupakan bagian dari Kecamatan Ujung, yakni 12.675 jiwa.
Ditinjau dari tingkat kepadatan, penduduk terpadat berada di Kecamatan Soreang, yakni 5.218
jiwa/km2 dan yang paling rendah tingkat kepadatannya adalah Kecamatan Bacukiki, yakni hanya
217 jiwa/km2. Kepadatan penduduk didasarkan atas kondisi distribusi penduduk yang berkaitan
dengan jumlah penduduk yang menghuni suatu wilayah berdasarkan batasan wilayah administrasi
yang bersangkutan. Jumlah penduduk yang terdistribusi pada suatu wilayah akan mempengaruhi
tingkat konsentrasi pelayanan sarana dan prasarana yang dibutuhkan.
Tabel 2. 5 Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Kepadatan dan Klasifikasi Kelurahan
Di Kota Parepare pada tahun 2010
No.
1,1
1,2
1,3
1,4
2,1
2,2
2,3
2,4
2,5
3,1
3,2
3,3

Nama
Kecamatan
Bacukiki
Bacukiki
Bacukiki
Bacukiki
Ujung
Ujung
Ujung
Ujung
Ujung
Soreang
Soreang
Soreang

Nama Kelurahan
Wattang Bacukiki
Lemoe
Lompoe
Galung Maloang
Labukkang
Mallusetasi
Ujung Sabbang
Ujung Bulu
Lapadde
Kampung Pisang
Lakessi
Ujung Baru

POKJA AMPL Kota Parepare

Pnddk
2010
(jiwa)
1.599
2.456
7.369
3.053
7.239
2.172
3.607
6.340
12.675
3.434
3.577
5.420

Luas
(Ha)
2.552
2.975
527
616
36
22
36
38
998
12
15
48

II - 10

Kepadatan
2015
(jiwa/ha)
0,63
0,83
13,98
4,96
201,08
98,73
100,19
166,84
12,70
286,17
238,47
112,92

Classification
RURAL
RURAL
RURAL
RURAL
URBAN MEDIUM
PERI-URBAN
URBAN LOW
URBAN LOW
RURAL
URBAN HIGH
URBAN MEDIUM
URBAN LOW

Prosentase
Wil.
25,7
29,9
5,3
6,2
0,4
0,2
0,4
0,4
10,0
0,1
0,2
0,5

Pnddk
1,2
1,9
5,7
2,4
5,6
1,7
2,8
4,9
9,8
2,7
2,8
4,2

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

No.
3,4
3,5
3,6
3,7
4,1
4,2
4,3
4,4
4,5
4,6

Nama
Kecamatan

Pnddk
2010
(jiwa)
4.393
10.528
6.098
10.018
7.620
7.583
5.268
6.798
6.360
5.406

Nama Kelurahan

Soreang
Ujung Lare
Soreang
Bukit Indah
Soreang
Wattang Soreang
Soreang
Bukit Harapan
Bacukiki Barat Lumpue
Bacukiki Barat Bumi Harapan
Bacukiki Barat Sumpang Minangae
Bacukiki Barat Cappak Galung
Bacukiki Barat Tiro Sompe
Bacukiki Barat Kampung Baru
Total Jumlah Penduduk Kota
Parepare

129.013

Luas
(Ha)
18
119
65
565
499
616
31
70
38
46

Kepadatan
2015
(jiwa/ha)
244,06
88,47
93,82
17,73
15,27
12,31
169,94
97,11
167,37
117,52

Classification
URBAN MEDIUM
PERI-URBAN
PERI-URBAN
RURAL
RURAL
RURAL
URBAN LOW
PERI-URBAN
URBAN LOW
URBAN LOW

Prosentase
Wil.
0,2
1,2
0,7
5,7
5,0
6,2
0,3
0,7
0,4
0,5

Pnddk
3,4
8,2
4,7
7,8
5,9
5,9
4,1
5,3
4,9
4,2

9.942,0

b. Proyeksi pertumbuhan Penduduk Kota Parepare pada tahun 2011 - 2015


Data pertumbuhan jumlah penduduk 5 (lima) tahun terakhir dapat menjadi acuan kecenderungan
pertumbuhan penduduk pada masa yang akan datang, setidaknya jika diasumsikan tidak terjadi
kondisi insidentil yang mungkin akan sangat mempengaruhi kuantitas penduduk secara
signifikan. Kecenderungan pertumbuhan penduduk selama 5 (lima) tahun terakhir menunjukkan
trend linier sehingga dengan menggunakan perangkat matematis, maka jumlah dan kepadatan
penduduk dapat diproyeksikan. Hasil proyeksi disajikan dalam tabel berikut ini :
Tabel 2. 6 Proyeksi pertumbuhan Penduduk Kota Parepare pada tahun 2011 sampai 2015
No

Kecamatan

Jumlah Penduduk (Jiwa)


2011

2012

2013

2014

2015

Bacukiki

14.696

14.918

15.144

15.373

15.606

Bacukiki Barat

39.701

40.378

41.066

41.767

42.479

Ujung

32.676

33.333

34.002

34.685

35.381

Soreang

44.012

44.562

45.119

45.683

46.255

Jumlah

131.085

133.191

135.332

137.508

139.721

Sumber : Kota Parepare Dalam Angka 2010 dan Hasil Estimasi Poja AMPL Tahun 2011

2.1.3. Gambaran Umum Situasi Sanitasi Kota Parepare


A. Kondisi Kesehatan Lingkungan Kota
Salah satu sasaran dari lingkungan sehat adalah tercapainya permukiman dan lingkungan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 11

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

perumahan yang memenuhi syarat kesehatan baik di pedesaan maupun di perkotaan, termasuk
penanganan daerah kumuh serta terpenuhinya persyaratan kesehatan di tempat-tempat umum
termasuk sarana dan cara pengelolaannya.
Indikator-indikator Lingkungan sehat adalah jumlah jamban, persentase rumah sehat dan
persentase tempat-tempat umum juga persentase penduduk dengan akses air minum.
1. Jumlah dan kondisi jamban, dan Sanitasi Sanimas (MCK Plus)
Dari tahun 2007 sampai tahun 2009 terdapat kecedrungan bahwa kuantitas dan kualitas
jamban fasilitas Buang Air Besar menurut jenis kepemilikan sendiri terjadi penurunan dari
75.94 menjadi 69.15%%, fasilitas Buang Air Besar bersama terjadi peningkatan sebesar
14.64% menjadi 22.16%. Pada Tahun 2010, persentase penduduk Kota Parepare memiliki
Jamban yaitu 83,18 % atau 23.548 unit dari jumlah 28.352 KK.
Menurut pengamatan hasil EHRA, dari grafik diatas kondisi tangki septic di Kota Parepare
bahwa 71,4 % memiliki tangki septic dan 28,6% belum memiliki tangki septic. Dari 71,4 %
tangki septic kondisinya digunakan oleh masyarakat, dibangun sejak 10 tahun yang lalu atau
sebanyak 43.7 %.
2. Rumah Sehat
Data yang diperoleh dari Subdin P2PL Dinas Kesehatan Kota Parepare tahun 2006 dari
1.893 rumah yang diperiksa sebesar 53,4% rumah sehat, Tahun 2007 persentase rumah
sehat meningkat sebesar 56,4% (jumlah rumah yang diperiksa sebesar 2.780 rumah).
Sedangkan tahun 2009 jumlah meningkat sebesar 85,27% (diperiksa 7,764 atau 16,50
rumah).
3. Tempat-tempat Umum dan Tempat Pengeloalan Makanan (TUPM)
Berdasarkan data yang diperoleh dari Subdin P2PL Dinas Kesehatan Kota Parepare
tahun 2006 persentase TUPM yang diperiksa 640 TUPM (81,9%) dan yang sehat
sebanyak 99,8 %, sedangkan untuk tahun 2007 persentase TUPM yang diperiksa 644
TUPM (82,5%) dan yang sehat menurun menjadi sebanyak 92,9 % (lihat lampiran tabel II
10). Penurunan ini menurun disebabkan TPUM yang sehat sama antara tahun 2006 dan
2007 akan tetapi jumlah yang diperiksa tahun 2007 lebih tinggi dari tahun 2006.
Untuk tahun 2009 jumlah TPUM yang diperksa sebanyak 651 dan yang sehat, relatif
meningkat mnjadi 618 atau 94.93%.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 12

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

4. Akses Terhadap Air Minum


Akses air bersih pada tahun 2009 menurut data dari Subdin P2PL menunjukkan jumlah
keluarga yang diperiksa adalah 86,89 % (21.419 KK) seluruhnya sebesar 24.650 KK.
Jumlah KK yang diperiksa tersebut, sebanyak 100% KK yang memilki air bersih dan
sebanyak 79.17% dari memiliki air bersih adalah pengguna air PDAM, sisanya
mnggunakan SPT, SGL dan lainnya.
B. Kesehatan dan Pola Hidup Masyarakat
a. Kesehatan
Derajat kesehatan dapat dilihat dari Umur Harapan Hidup, Angka Kematian Bayi pada
tahun 2009 sebesar 6,66/1.000 kelahiran hidup, Angka Kematian Balita pada tahun 2008
sebesar 1,9/1.000 anak (tahun 2009 tidak ada data) , Angka Kematian Ibu melahirkan pada
tahun 2009 dilaporkan AKI dikota parepare sebanyak 1 orang ibu hamil (47,57/100.000
kelahiran hidup), dan Angka Kesakitan / Kematian karena penyakit tertentu serta status Gizi
Masyarakat (pada tahun 2009 yakni Diare: 2.076 angka kesakita, Typoid: 1.154 angka
kesakitan, DBD: 234 angka ksakita dan Malaria: 18 angka kesakita.
b. Pola Hidup Masyarakat
Keadaan prilaku masyarakat yang berpengaruh terhadap derajat kesehatan digambarkan
melalui indikator-indikator persentase rumah tangga berprilaku hidup bersih dan sehat ,
persentase Posyandu Purnama dan Mandiri.
1) Rumah Tangga Ber-PHBS
Perilaku yang menunjang kesehatan adalah rumah tangga yang menerapkan
perilaku hidup bersih dan sehat. Di Kota Parepare berdasarkan hasil pengumpulan data
bidang Kesehatan Masyarakat tahun 2009 diperoleh 5.532 RT (69,54%) dari 7.955 RT
yang dipantau.
2) Posyandu Purnama dan Mandiri
Peran serta masyarakat di bidang kesehatan sangat besar, wujud nyata bentuk
keperansertaan masyarakat antara lain muncul dan berkembangnya upaya kesehatan
bersumberdaya kesehatan (UKBM), misalnya Posyandu.
Sebagai indikator peran aktif masyarakat melalui pengembangan UKBM digunakan
persentase desa yang memilki Posyandu. Posyandu merupakan wahana kesehatan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 13

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

bersumberdaya masayarakat yang memberikan layanan 5 (lima) kegiatan utama yaitu


KIA, KB, Gizi, Imunisasi dan P2 Diare yang dilakukan dari, oleh dan untuk masyarakat.
C. Kuantitas dan Kualitas Air Yang Dapat Diakses Masyarakat
Dalam pemenuhan kebutuhan air Kota Parepare yang berpenduduk 129.013 jiwa maka Kota
Parepare dalam pemenuhan cakupan layanan pengelolaan air minum melalui PDAM dan
pemenuhan mandiri oleh masyarakat melalui sumur gali, sumur pompa dan sumur bor dan Hidran
Umum. Cakupan pelayanan air minum Kota Parepare menurut data Kelurahan 2010 yaitu 64,94 %
PDAM, jika dibandingkan dengan data PDAM bahwa penduduk Kota Parepare memiliki 76,95%
PDAM. Pelayanan non PDAM seperti Sumur Pompa tangan dan 8,75 % dan Sumur Gali 11.90%.
D. Pembuangan Limbah Cair Rumah Tangga
Cakupan pengelolaan limbah cair di Kota Parepare sampai dengan tahun 2010 di Kota
Parepare telah memiliki jamban keluarga sebanyak 23.584 unit atau 86.18%, namun Prosentase
jumlah keluarga yang memiliki jamban sehat (seperti memiliki tangki septic) sebanyak 71,4% dan
terdapat SPAL 22,775 unit atau 80.26% yang dibangun oleh masyarakat sendiri ataupun dari
bantuan Pemerintah Daerah Kota Parepare melalui Dinas Kesehatan dan Dinas Tata Ruang dan
Pengawasan Bangunan Kota Parepare.
Dalam pengelolaan tinja terpusat, Kota Parepare memiliki IPLT di kelurahan Lapadde, lokasi IPLT
seluas 0,30 Ha (profil tata praja lingkungan), dengan dilengkapai sarana truk penyedot tinja
sebanyak 1 unit. Tenaga Harian berjumlah 3 orang dengan perbandingan pelayanan 129.013 jiwa
penduduk Kota Parepare. Menurut DKP Kapasitas mobil tinja 2 m 3 dan melakukan penyedotan tinja
rata-rata perbulan 15 m3, yang berarti dalam sehari mampu melakukan penyedotan tinja sebanyak 1
m3. System pengolahan tinja di IPLT Lapadde belum beroperasi secara maksimal dikarenakan
beberapa komponen IPLT mengalami kerusakan.
Tabel 2. 7 Data Pengelolaan Sanitasi/Limbah Cair Di Kota Parepare
N
URAIAN
o
I. Limbah Cair Domestik
Jumlah penduduk
Kebutuhan Air (Data Master Plan PDAM)
Hal. 110

Asumsi produksi limbah cair (kota)


Asumsi produksi limbah cair

POKJA AMPL Kota Parepare

SATUAN
Jiwa

BESARAN
129,013

lt/org/hr

123

m3/hr
lt/org/hr

12.694,88
98.4

II - 14

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

N
o

URAIAN

SATUAN
m3/org/hr
3

Asumsi produksi limbah cair


II.

BESARAN
0.10

m /org/thn

35,196

Unit

8,460

83.18

Tarif penyedotan

Rp.

175,000

Dasar penyedotan

Rp.

125,000

Pedapatan tahun 2010

Rp.

14.175.000

Jumlah truk tinja

Unit

Petugas TPLT

Org

m3/bln

30

Jamban Keluarga
Jumlah Jamban
Persentase Jamban

III. Data IPLT


a. Data Tarif Pelayanan Sanitasi

b. Data Alat dan tanga Pengolahan di IPLT

Kondisi truk tinja : baik


c. Data Lalinnya
Nama IPLT : IPLT Lappade
Kapasitas IPLT
Asumsi produksi tinja (kota)
Asumsi produksi tinja

m /hr
ltr/org/hr
3

77.408
0.20

Asumsi produksi tinja

m /org/hr

0.0002

Asumsi produksi tinja

m3/org/thn

0.073

d. Pengelolaan
Peyedotan

m3/bln

15

Pengelolaan di IPLT: Dinas Kebersihan dan Pertamanan


Sumber : kompilasi data

a.

Aspek Institusional
Instansi Pemerintah Kota Parepare yang menangani dan terkait dalam pengelolaan limbah
cair menurut Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas Peraturan walikota Parepare antara
lain:
(1) Peraturan Walikota Parepare Nomor 29 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan
Rincian Tugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan
(2) Peraturan Walikota Parepare Nomor 11 Tahun 2011 tentang Tugas Pokok Fungsi dan
Rincian Tugas Dinas Tata Ruang dan Pengawasan Bangunan.
(3) Peraturan Walikota Parepare Nomor 18 Tahun 2011 tentang Tugas Pokok, Fungsi
dan Rincian Tugas Badan Lingkungan Hidup Daerah

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 15

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

(4) Dinas Pekerjaan Umum Peraturan Walikota Parepare Nomor 14 Tahun 2011
(5) Peraturan Walikota Nomor 34 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian
Tugas Dinas Kesehatan Kota Parepare tanggal 20 Agustus 2008.
Aspek Tehnis dan Teknologi
Kondisi sistem pembuangan air limbah belum dipisahkan dengan sistem pembuangan air

b.

hujan, tapi masih sering dijumpai limbah dari rumah tangga dibuang kedalam sistem
pembuangan air hujan (drainase) yang dapat mengakibatkan polusi/pencemaran
lingkungan. Untuk prasarana pembuangan air limbah yang ada di Kota Parepare dapat
dibedakan menjadi 2 (dua) Sistem yaitu:
1. Sisitem Terpusat / Off Site System

Sistem terpusat pengelolaan limbah cair untuk Kota Parepare yaitu : Sistem Drainase
Kota (Limbah Cair) dan IPLT Lapadde (Tinja)
Bagan 2. 1 Alur Sanitasi Air Limbah Kota Parepare (Terpusat/Off-Site)
PRODUK
INFUT

A
B
C
D
E
Pengumpulan
User Interface
& Penampungan
Pengangkutan
( Semi
/ Pengolahan
) Daur
Pengolahan
/ Pengaliran
UlangAwal
Dan
Akhir
/ Pembuangan
Terpust
Akhir
GREY WATER
Air Cucian Dari Dapur
Air Bekas Mandi
Air Cucian Pakaian
IPAL Komunal

BLACK WATER
IPLT Lapadde

Tinja
Urine

Truk Tinja

Air Pembersih
Air Penggelontor

Tangki Septik

Kertas Pembersih

2.

Sistem Setempat / On Site System


Telah dijelaskan sebelumnya bahwa di Kota Parepare belum mempunyai
pengolahan limbah cair secara terpusat skala kota akan tetapi pengelolaannya masih
secara Individual atau secara sendiri-sendiri pada masing-masing rumah, terhadap

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 16

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

limbah domestic yang di hasilkan seperti air cucian dari dapur, air bekas mandi, air bekas
cucian (gray water) dan tinja, air pembersih, air penggelontor dan kertas pembersih
(black water). Berikut di bawah ini skema pengelolaan individu pada lingkungan terbatas,
seperti hotel rumah sakit, pelabuhan, terminal, pasar di kota Parepare:
a) Pengelolaan air cucian dari dapur, air bekas mandi, air bekas cucian (gray
water), dari pengguna lalu di alirkan ke drainase kota yang berakhir di laut
b) Tinja, air pembersih, air penggelontor dan Kertas Pembersih (Black water),
terdiri dari 2 macam, yaitu: khusus pada tinja langsung ke tangki septic lalu mengalir
ke drainase kota yang berakhir di laut dan ada juga yang Buang Air Besar
sembarangan (BABs) baisnya ke luat sungai dan lainnya
Bagan 2. 2 Alur Sanitasi Air Limbah Kota Parepare (Terpusat/on-site)

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 17

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

PRODUK
INFUT

A
B
C
D
E
Pengumpulan
User Interface
& Penampungan
Pengangkutan
( Semi/ Pengolahan
)Daur
Pengolahan
/ Pengaliran
Ulang Awal
Dan
Akhir
/ Pemb
Terp
GREY WATER
Air Cucian Dari Dapur
Air Bekas Mandi
Air Cucian Pakaian

Drainase Kota
Sungai/
Laut

BLACK WATER
Tinja
Urine
Air Pembersih
Air Penggelontor

Tangki Septik

Kertas Pembersih

c.

Peran Serta Masyarakat dan Jender dalam Penanganan


Limbah Cair
Peran Serta Masyarakat dan Jender dalam Penanganan Limbah Cair dapat dijelaskan
melalui studi EHRA dengan cara pengamatan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa (adapun
detail pengamatan dapat dilihat di bawah ini):
1.
Pengamatan pengelolaan WC/Jamban secara sehat: 74,01%

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 18

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

2.

Pengamatan Pembuangan Tinja Manusia dan Lumpur Tinja: 71,4

% dengan Tangki Septik


3.
Pengelolaan air limbah mencuci pakaian dibuang : 46,5% dengan
saluran terbuka
4.

Pengeolaan air limbah cuci piring di buang : 37,1% sungai, kanal,

kolam, halaman, kebun, parit dan sungai


5.
Pengelolaan air limbah cuci tangan dari wastafel dibuang : 46,5%
6.

dengan saluran terbuka


Pengelolaan air limbah mandi di buang : 37,6% sungai, kanal,
kolam, halaman, kebun, parit dan sungai dan 37,9% sungai, kanal, kolam, halaman,
kebun, parit dan sungai.

d.
1.

2.

3.

4.
5.

Permasalahan
Kondisi Tingkat pelayanan pengelolaan air limbah pada sistem pembuangan air
limbah permukiman belum dipisahkan dengan sistem pembuangan air hujan (belum ada
pemiihan antara system air limbah domestic dan non domestik
Kota Parepare melalui sistem setempat (on site) masih minim baik pengelolaan
masyarakat seperti SLBM (hanya 2 unit IPAL dan MCK++) dan beum adanya sistem
terpusat (off site)
Kota Parepare belum memiliki prasarana IPLT yang memadai dalam mendukung
pengelolaan Limbah. Kondisi permasalahan yaitu Kota Parepare hanya memiliki 1
armada penyedotan tinja dengan cakupan jumalah penduduk 129.013 jiwa kondisi IPLT
di Lappadde dalam kondisi kurang layak operasional dalam proses penaganan limbah
tinja maupun limbah cair lainnya (B3 dan K3) yang perlu dilakukan perbaikan
Masih Rumah warga yang belum memiliki SPAL (tingkat pemilikan SPAL 80.26%)
Masih adanya unsur masyarakat yang belum mempunyai jamban (Tahun 2010 tingkat

pemilikan jamban 83,18 % sumber data dinas Kesehatan)


6. Perilaku Buang Air Besar sembarang (BABs) khususnya di kebun, halaman, sungai,
pantai, laut, selokan/got saluran irigasi yaitu sekitar 24.6% (data EHRA 2010)
7. Belum adanya Master Plan Limbah Cair sehingga dalam pengelolaannya kondisi sistem
pembuangan air limbah belum dipisahkan dengan sistem pembuangan air hujan
8. Lemahnya fungsi lembaga daerah yang melakukan pengelolaan air limbah permukiman
9. Belum terpisahnya fungsi regulator dan operator dalam pengelolaan air limbah
permukiman
10. Kapasitas sumber daya manusia yang melaksanakan pengelolaan air limbah
permukiman masih rendah
11. Perlu ditingkatkannya koordinasi antar instansi terkait dalam penetapan kebijakan di
bidang air limbah permukiman
12. Rendahnya tingkat kesadaran masyarakat melakukan penyedotan secara rutin terhadap
septic tank 1-5 tahun sekali (10,2%, menurut data EHRA)

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 19

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

13. Terbatasnya sumber pendanaan pemerintah, sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan
tingginya biaya investasi awal pembangunan sistem pengelolaan air limbah terpusat
14. Kurang tertariknya sektor swasta untuk melakukan investasi di bidang air limbah;
15. Terbatasnya lahan dalam pada pmebangunan prasarana air limbah
16. Belum optimalnya penggalian potensi pendanaan dari masyarakat dan dunia
usaha/swasta/koperasi;
17. Potensi yang ada dalam masyarakat dan dunia usaha terkait sistem pengelolaan air
limbah permukiman belum sepenuhnya diberdayakan oleh pemerintah.
E. Pembuangan Limbah Padat/Sampah,
Berdasarkan data kesehatan yang diperiksa bahwa 20.57 % Kota Parepare memiliki Tempat
sampah dan sebanyak 49,70% tidak memiliki tempat. Sedangkan 29.72% KK belum diperiksa.
Sementara dari data Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) menunjukkan bahwa timbulan
sampah Kota Parepare rata-rata perhari adalah 499 m 3, dengan sampah terangkut 466 m 3/hari atau
93, 39 % sampah terangkut perhari. Sedangkan pengolahan sampah melalui kompos, daur ulang
(diambil oleh pemulung) dan pemanfaatan lain yaitu 26.63 m3/hari atau pengolahan sampah di TPA
sebesar 5,71% dari sampah yang terangkut. Lokasi TPA Lapadde seluas 12 Ha dan saat ini
kapasitasnya sebanyak 2 Ha sejak tahun beroperasinya.
Hasil EHRA menunjukkan bahwa pengelolaan sampah rumah tangga dengan cara pemisahan
sebelum dibuang adalah sebanyak 80.7% dan pada umunya di buang ke TPS yaitu sekitar 73,3%.
Dapat dijelaskan juga bahwa masyarakat belum mampu mendaur ulang sampah domestic, hal ini
hasil Ehra menunjukkan 90,8% responden menjawab tidak mampu mendaur ulang.
a.

Aspek Institusional
Instansi Pemerintah Kota Parepare yang menangani dan terkait dalam pengelolaan limbah
padat menurut Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian Tugas Peraturan Walikota Parepare
antara lain:
(1) Peraturan Walikota Parepare Nomor 29 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan
Rincian Tugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan
(2) Peraturan Walikota Parepare Nomor 18 Tahun 2011 tentang Tugas Pokok, Fungsi
dan Rincian Tugas Badan Lingkungan Hidup Daerah
(3) Peraturan Walikota Nomor 34 Tahun 2008 tentang Tugas Pokok, Fungsi dan Rincian
Tugas Dinas Kesehatan Kota Parepare tanggal 20 Agustus 2008,

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 20

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

(4) Peraturan Walikota Parepare Nomor 11 Tahun 2011 tentang Tugas Pokok Fungsi dan
Rincian Tugas Dinas Tata Ruang dan Pengawasan Bangunan.
b.
Aspek Tehnis dan Teknologi
Teknik operasional pengelolaan sampah di Kota Parepare terdiri dari : Pewadahan,
Pengumpulan, Pemindahan, Pengangkutan, Pengolahan / Pemrosesan, Tempat
Pemrosesan Akhir.
Pola Pewadahan, dibedakan atas 2 (dua) jenis yaitu individual dan komunal.
Pewadahan Individual : hanya menerima sampah dari sebuah rumah, atau sebuah

bangunan.
Pewadahan Komunal : memungkinkan sampah yang ditampung berasal dari beberapa
rumah atau dari beberapa bangunan. Umumnya pola pewadahan komunal, bentuknya

cenderung ditentukan oleh instansi pengelola karena sifat penggunaannya umum.


Operasional pengumpulan dan pengangkutan sampah mulai dari sumber sampah hingga ke
lokasi pemrosesan akhir, dilakukan dengan cara, yaitu :
Secara Langsung (door to door)
Pengangkutan sampah dilakukan secara bersamaan dari setiap sumber sampah (rumah
ke rumah atau dari satu bangunan ke bangunan yang lain), langsung diangkut ke TPA.

Berikut adalah skema Pola Pengumpulan Sampah Secara Langsung


Secara Tidak Langsung (communal)
Sampah dari masing-masing sumber dikumpulkan dahulu oleh sarana pengumpul
seperti dalam gerobak tangan (hand cart) dan diangkut ke TPS. Namun untuk Kota
Parepare, gerobak tangan relatif sudah tidak digunakan lagi, melainkan dari sumber
kemudian dikumpulkan ke TPS. Hal ini karena pengoperasian gerobak tangan tidak

begitu sesuai dengan karakteristik topografi Kota Parepare yang cenderung bervariasi
Tempat Pembuangan Akhir (TPA) merupakan tempat dimana sampah mencapai tahap akhir
dalam pengelolaannya sejak timbul di sumber, pengumpulan, pengangkutan, pengolahan
dan pembuangan. Lokasi TPA di Kota Parepare berada di Lapadde dengan luas 12 Ha
(Profil DKP 2010).
Tabel 2. 8 Pengelolaan Sampah di Parepare
No

Uraian

Satuan

I. DataPengumpulan Sampah
Nama Pengelolah : DKP Kota Parepare
Sistem:Pengolahan Terpusat
Jumlah Penduduk
Asumsi Sampah
Jumlah Pelayanan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 21

Jiwa
m3/hari
m3/hari

Besaran

129.013
499
466

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

No

Uraian

Satuan

Besaran

ha
Cakupan Layanan Geografis
jiwa
Cakupan Layanan Penduduk
II. Data TPA
Jumlah Pelayanan TPA
m3/hari
Nama TPA: TPA Lapadde
Status TPA
Luas TPA
ha
Kapasitas Hamparan (saat ini)
ha
Umur
Tahun
Sistem : sanitary landfill
Jarak Permukiman
Incenerator
Nama pengelolah :
III.
Data Peralatan TPA
a. Pengangkutan Sampah :
Dump Truck
unit
Arm Roll
unit
Mobil Pick Up
unit
Motor Gerobak Sampah.
unit
b. Sarana Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sistem Sanitasi Land Fill
Buldozer
Excapator
c. Fasilitas lainnya berupa :
Kantor
unit
Workshop
unit
Pos Jaga
unit
Rumah Jaga
unit
Pengomposan
unit
Tempat Parkir Kendaraan Operasional
unit
Kebersihan.
IV.
Pengolahan lindi di TPA: Tidak ada hasil analisis laboratorium inlet dan outlet.

c.

Peran

2.457
95.879

26,63
12
2
11

18
6
8
3
2
1
1
1
1
1
1
1

Serta Masyarakat dan

Jender
Model pengelolaan sampah yang ideal di Kota Parepare adalah pengelolaan sampah dengan
pola 3R + 1P, yaitu reduce, reuse dan recycle yang dilakukan secara partisipatif berbasis pada
pemberdayaan masyarakat. Karakteristik 3R + 1P yakni reduce dengan melakukan
pengurangan jumlah sampah dengan menghindari penggunaan bungkus yang berlebihan,
reuse dengan melakukan pemakaian kembali barang berdasarkan ide dan penemuannya,
recycle dengan melakukan daur ulang barang bekas sehingga menjadi barang yang
bermanfaat. Selain itu menurut data EHRA 19,3% sudah melakukan pemilahan sampah atau
80,7% masyarakat belum melakukan pemilahan antara sampah organik dan sampah anorganik
meskipun telah disiapkan tong sampah khusus sampah organik dan sampah anorganik.
d.

POKJA AMPL Kota Parepare

Permasalahan Sampah

II - 22

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Peran serta masyarakat dalam hal pengembangan masyarakat yang dilakukan selama
ini masih relatif belum optimal sesuai yang diharapkan, untuk itu masih perlu ditingkatkan secara
terus menerus melalui pendekatan secara terintegrasi dan holistic dengan upaya menjadikan
masalah kebersihan sebagai kebutuhan melalui sosialisasi hidup bersih dan sehat. Wujud dari
peran serta masyarakat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Ikut serta menerapkan perwadahan persampahan sekaligus menata dan membersihkan

pekarangan serta lingkungan sekitar


Melakukan pemilahan sebelum pembuangan sampah (80,7% masyarakat belum melakukan

pemilahan)
Terlibat aktif dalam program-program kebersihan dan penghijauan lingkungan seperti
pemeliharaan dan penanaman pohon penghijauan dan tanaman hias, gerakan-gerakan

bersih pantai, program Jum'at Bersih, serta gerakan kebersihan lain yang insedentil
Mengikuti prosedur/tata cara yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota baik yang berkaitan
dengan hal-hal kebersihan, pertanaman Kota Parepare, seperti pemasangan relkame

dengan himbauan kebersihan dan lainlain untuk menunjang terwujudnya visi tersebut
Membayar Retribusi Kebersihan dan Pemakaman belum secara kontinyu, (secara kuntinyu

baru sekitar sebesar 92,3%)


Mekanisme kerja pengelolaan sampah Kota Parepare saat ini adalah sangat sederhana
jauh dengan cara memindahkan sampah yang tersebar pada TPS dan diangkut ke

lokasi

TPA tanpa diolah (hanya menimbun). Mekanisme pengelolaan sampah tersebut belum

menyelesaikan permasalahan pengelolaan sampah yang zero waste


Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah masih rendah, hal ini dibuktikan
dengan masih terdapatnya sebagian anggota masyarakat yang membuang sampah bukan
pada tempatnya, dimana masyarakat belum melakukan melakukan pengolahan

sampah

dengan 3 R (reduce, reuse dan recycle).


Permasalahan lainnya adalah:
a. Kemampuan kelembagaan, belum adanya Master Plan Pengelolaan Persampahan
b. Sumber Daya Manusia (SDM), Kuantitas dan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Tenaga Operasional Lapangan belum memadai.
c. Kapasitas / jumlah sarana masih kurang, Armada pengangkutan sebagaian dalam kondisi
yang tidak layak operasi, belum adanya system pembakaran sampah incenarator yang
memadai, dan kondisi sarana lainnya (contener sampah 5 rusak berat dan 10 rusak ringan,
jumlah tong sampah masih perlu ditingkakan)

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 23

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

d. Kurangnya dukungan operasional: Kondisi sarana dan prasarana pendukung juga menjadi
kendala tersendiri dalam menunjang kelancaran operasional kegiatan. Keterbatasan jumlah
peralatan yang tersedia, beban kerja yang harus diselesaikan mengakibatkan umur teknis
peralatan menjadi pendek termasuk kendaraan/alat angkut, sehingga menyerap biaya
pemeliharaan yang cukup tinggi. Kuantitas dan Kualitas Sumber Daya Manusia (SDM)
Tenaga Operasional Lapangan belum memadai
e. Perundang-undangan, Penegakan Hukum (Low Inforcement) belum dilaksanakan dengan
f.

efektif
Kerjsasama, Belum

adanya secara kongkrit kerjasama dengan pihak swasta dalam

pengolahan sampah, meskipun telah di gagas akan tetapi sampai saat ini belum ada yang
realistik (seperti PT. Lumsipa, meskipun telah ada MoU).
g. Komunikasi, belum optimalnya peran media dalam mmberikan informasi dan sosialisasi
tentang pegelolaan persampahan yang ideal dan belum adanya pengorganisasan unit
pengelolaan pengaduan masyarakat
F. Saluran Drainase Lingkungan
Kondisi topografi Kota Parepare yang unik, yaitu bagian timur merupakan daerah perbukitan
dan bagian barat merupakan daerah pantai yang sangat iandai menyebabkan sistem pembuangan
air hujan terpusat di bagian barat Hal ini menyebabkan daerah barat yang merupakan daerah pusat
kegiatan perdagangan dan keramaian pada saat musim hujan sering terjadi genangan sesaat,
terutama pada saat air laut dalam kondisi pasang sehingga air buangan yang berasal dari darat
tidak bisa mengalir ke laut.
Sedangkan alur jaringan drainase Kota Parepare mengikuti ketinggian (kontur) dan
mengikuti pola jaringan jalan Kota yang ada. Saluran drainase di Kota Parepare selain berfungsi
untuk menerima buangan air hujan juga berfungsi menerima buangan air limbah rumah tangga.
Sistem drainase campur ini, terlihat kurang menguntungkan untuk daerah yang landai, sehingga
terjadi pengendapan dan penggenangan di dalam saluran yang menyebabkan bau dan
pemandangan yang tidak sedap dipandang mata. Pada bagian lain, kondisi jalan yang relatif tinggi
terhadap permukiman penduduk menjadikan saluran jalan hanya dapat dimanfaatkan sebagai
saluran penampung limpasan air hujan dari badan jalan dan sebagai saluran pembawa, sedangkan
saluran pembuangan dari permukiman melalui saluran yang dibuat sendiri dan dialirkan ke saluran
drainase yang ada.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 24

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Sistem drainase di Kota Parepare sangat dipengaruhi oleh pengaruh pasang surut, karena semua
saluran drainase perkotaan bermuara di pantai sebelah barat sehingga menyebakan terjadi genagan
di beberapa darah dengan ketinggian antara 20-40 cm, lama genagan 20-40 dan luas geangan
20.000 m2 - - 15.000 m2. Hal ini sangat dirasakan pengaruhnya apabila pada saat bersamaan terjadi
hujan lebat dan air pasang.
Sehingga secara umum bahan pertimbangan dalam prioritas program penanganan bidang drainase
di Kota Parepare khususnya penyebab masalah genangan yang masih sering terjadi di Kota
Parepare adalah diakibatkan antara lain meliputi :

Pengaruh pasang surut air laut;


Merupakan daerah relatif rendah terhadap muka air laut;
Kurangnya pemeIiharaan (penyempitan penampang saluran atau gorong-gorong) terhadap

endapan tanah/sampah.
Hambatan hidrolis (kemiringan atau hambatan di dalam penampang saluran, banyaknya

belokan, duicker terlalu rendah, dll. );


Kurangnya berfungsinya sistem street inlet, sehingga sering terlihat genangan di atas badan

jalan;
Beban saluran terlalu besar, sehingga penampang saluran yang ada tidak muat menampung
beban yang ada.

Berdasarkan hasil pengamatan studi EHRA menjukkan bahwa kondisi genangan air berjarak dengan
jarak 10 meter dari rumah 18.7% sedangkan kondisi tingkat kebersihan drainase dari benda yang
dapat menyebabkan air tergenang ( seperti ban bekas, kaleng, panci, ember dan benda lainnya)
adalah 81.9% atau terdapat banyak sampah disaluran draenase.
Saluran drainase yang ada di Kota Parepare adalah sebagai berikut : Saluran Primer : 23 km,
Saluran Sekunder : 67 km , Saluran tersier : 62 km
Tabel 2. 9 Data Drainase Di Kota Parepare
No

Uraian

Satuan

I. Data Pengelolaan Drainase


Nama Pengelola : Sub Kota Pare-Pare
Cakupan pelayanan
Cakupan penduduk
Peresapan air hujan : Stasiun pompa air
Kolam retensi

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 25

Besaran

%
Jiwa

70
129.013

Unit
Unit

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

No

Uraian

Satuan

II. Data Saluran Drainase


Curah hujan
Total panjang saluran
Panjang saluran primer
Panjang saluran sekunder
Panjang saluran tersier
Kondisi saluran baik
Kondisi saluran sedang
Kondisi saluran rusak/buntu

mm/th
Km
Km
Km
Km
%
%
%

Besaran
1.796
152
62
67
62
65
20
15

Sumber : Sub Din. Perencanaan Dinas PU Kota Parepare

a. Aspek Insititusional
Instansi Pemerintah Kota Parepare yang menangani dan terkait dalam pengelolaan
drainase antara lain :
1. Dinas Pekerjaan Umum ( Bidang Pengairan dan Bidang Cipta Karya) Kota Parepare,
2. Dinas Permukiman Dan Tata Ruang Kota Parepare.
b. Aspek Tehnis dan Teknologi
Kota Parepare merupakan daerah perkotaan dengan pengolahan drainase
meliputi saluran saluran air, baik alur alam maupun alur buatan yang hulunya terletak di
kota dan bermuara di sungai KarajaE yang melewati pinggiran kota Parepare bermuara
ke laut. Drainase ini melayani pembuangan kelebihan air kota parepare dengan cara
mengalirkan melalui permukaan tanah (surface draenage). System pengaliran di bawah
tanah (sub surface drainage) belum dilakukan secara baik.
Kelibahan air yang dimaksud adalah air hujan, air limbah domestic maupun air
limbah industry. Tapi sayangnya pengeolaan drainase belum terpadu dengan sanitasi,
sampah dan pengendalian banjir kota, salah satu alasannya adalah belum adanya
master plan drainase dan secara kelembagaan adanya ketidakjelasan tupoksi antar
SKPD siapa regulator, dan siapa operator.
Secara umum sumber sumber air buangan Kota Parepare dalam kelompokkelompok (disesuaikan dengan perencanaan air minum yang ada), antara lain: sumber
rumah tangga, dari perdagangan (seperti usaha cuci mobil, motor), dari indstri sedang
dan ringan, dari pendidikan, dari kesehatan, dari tempat peribadatan dan sarana
rekreasi.
Dalam menjamin berfungsinya salauran air drainase secara baik, di kota
Parepare telah dibangun pelengkap-pelengkap di tempat tertentu, jenis bangunan
pelengkap yang dimaksud meliputi:

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 26

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

1. Bangunan silang, misalnya Gorong-gorong


2. Kantong-kantong pasir/sedimentasi
Sedangkan ukuran drainase untuk masing-masing saluran di kota Parepare
bervariasi. Pada ruas jalan utama

dan drainase yang bermuara ke laut relative

ukurannya besar yaitu memiliki lebar antara 2-3 meter, sedangkan lebar pada ruas jalan
biasa ukurannya antara 50-40 centimeter, serta ukuran drenase pada lorong-lorong
jalan atau gang sempit memiliki ukuran 20-30 meter
Bagan 2. 3 System sanitasi pengelolaan drainase Kota Parepare

c.

Peran
Serta

Masyarakat dan Jender dalam Penanggulangan Pengelolan Drainase Lingkungan


Pentingnya penggunaan drainase oleh masyarakat sehingga masyarakat sangat
perlu keterlibatan dalam proses pembangunan drainase di Kota Parepare. Kegiatan
yang menunjang pada kontribusi masyarakat dalam penggulangan pengelolaan
darainase adalah jumat bersih atau gotong-royong pada setiap hari jumat dan hari libur
lainnya. Aktivitas pelaksaaan kegiatan ini terkoordinasi di tingkat RT/RW. Kegiatan yang
dilakukan biasanya melibatkan perempuan dan laki-laki di tempat strategis di
wilayahnya, misalnya drainase pasar, tempat ibadah. Kegiatan Laki-laki kecenderungan
membersihkan sampah yang menyumbat drainase dan perempuan mengangkut
sampah ke pembuangan yang telah disiapkan. Waktu pelaksanaanya biasanya
menjelang musim hujan untuk mencegah terjadinya banjir dan persiapan Adipura.
Selain itu salah satu aspek penting yang dapat dilihat peran serta masyarakat
dalam pembangunan dan pemanfaatan drainase adalah melalui program PNPM Mandiri
Perkotaan. Hingga saat ini kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat melalui PNPM
Mandiri Perkotaan adalah manyoritas di setiap kelurahan dalam setiap tahunnya dalam

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 27

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

pemanfaatan Dana Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebagai dana stimulasi


pembangunan system drainase maupun merehabilitasi drainase yang sudah rusak.
d. Permasalahan
Permasalahan yang terjadi dalam perencanaan, pembangunan dan pemelihraan drainase
di Kota Parepare sesuai fungsi drainase sebagai saluran air antara lain:

1) Kota Parepare belum memiliki master plan drainase sehingga kesulitan dalam
proses pengintegrasian sistem drainase antara wilayah pengunungan (daerah
atas) dan wilayah bawah (dataran)
2) Terjadinya pendangkalan dan penyempitan jaringan drainase makro akibat laju
erosi permukaan dan sedimentasi yang berakibat penyusutan penampungan air di
3)

saluran drainase.
Adanya komponen sampah padat akibat perilaku masyarakat membuang sampah
dan limbah lainnya sehingga mengurangi daya alir air sesuai kapasitas normal

saluran drainase jika terjadi hujan maka drainase menjadi tersumbat


4) Kondisi Kostruksi drainase merupakan kontruksi bangunan lama sehingga ada
beberapa bangunan drainase ada yang rusak dan pendukung drainase yang
lainnya seperti gorong-gorong (akibat beban kendaraan yang bermuatan melibihi
kapasitas menambah kerusakan drainase), dan
5) Kurang terpeliharanya drainase khususnya peran serta masyarakat dalam
pengelolaan drainase.
G. Pencemaran Udara
Berdasarkan Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 Tentang Baku Mutu
dan Kriteria Kerusakan Lingkungan Hidup,

Badan Lingkungan Hidup Kota Parepare dalam

melakukan pengukuran kualitas udara di beberapa lokasi seperti di wilayah:


a
.
b
.
c.
d
.
e
.

Terminal Lumpue
Terminal Lapadde
Terminal Soreang
Pasar Lakessi
Cahaya Ujung

Dilakukan pada setiap bulan mulai bulan Agustus 2010 sampai dengan bulan Desember 2010
kecenderungannya kualitas udara di kota Parepare sebagaimana grafik di bawah ini berdasarkan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 28

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

bulan pengukuran, sebagai berikut :


Grafik 2. 1 Pencemaran Udara Kota Parepare
80
70
60
50

O2 (%)

40

NO2 (ppm)

30

LEL (%)

20

SO2 (ppm)

10

CO (ppm)

H2S(ppm)

Dari grafik di atas maka dapat dijelaskan bahwa kecenderungannya masih sesuai dengan
Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 69 Tahun 2010 yaitu pada kondisi baik pada kualitas
Ambien.
H. Pembuangan Limbah Industri Dan Limbah Medis.
a. Pembuangan Limbah Industri.
Kota Parepare merupakan kota non industri sehingga kondisi limbah industry belum
berdampak padapencemaran lingkungan. Baik pencemaran air udara mapun lngkungan sekitar,
di bandingkan dengan Kota Makssar yang ada d Sulawesi selatan juga dapat dijelaskan potensi
sumber cemaran dari aktivitas manusia (antropogenik) seperti cemaran kendaraan bermotor,
belum nyata karena Kota Parepare masih kurang padat kendaraan untuk mencemari lapisan
atmosfir bumi.
b. Limbah Medis.
Limbah medis sangat penting untuk dikelola secara benar, hal ini mengingat limbah
medis termasuk kedalam kategori limbah berbahaya dan beracun. Sebagian limbah medis
termasuk kedalam kategori limbah berbahaya dan sebagian lagi termasuk kategori infeksius.
Limbah medis berbahaya yang berupa limbah kimiawi, limbah farmasi, logam berat, limbah

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 29

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

genotoxic dan wadah bertekanan masih banyak yang belum dikelola dengan baik. Sedangkan
limbah infeksius merupakan limbah yang bisa menjadi sumber penyebaran penyakit baik kepada
petugas, pasien, pengunjung ataupun masyarakat di sekitar lingkungan rumah sakit. Limbah
infeksius biasanya berupa jaringan tubuh pasien, jarum suntik, darah, perban, biakan kultur,
bahan atau perlengkapan yang bersentuhan dengan penyakit menular atau media lainnya yang
diperkirakan tercemari oleh penyakit pasien. Pengelolaan lingkungan yang tidak tepat akan
beresiko terhadap penularan penyakit. Beberapa resiko kesehatan yang mungkin ditimbulkan
akibat keberadaan rumah sakit antara lain: penyakit menular (hepatitis,diare, campak, AIDS,
influenza), bahaya radiasi (kanker, kelainan organ genetik) dan resiko bahaya kimia.
Limbah medis termasuk dalam kategori limbah berbahaya dan beracun (LB3) sesuai
dengan PP 18 thn 1999 jo PP 85 thn 1999 lampiran I daftar limbah spesifik dengan kode limbah
D 227. Dalam kode limbah D227 tersebut disebutkan bahwa limbah rumah sakit dan limbah
klinis yang termasuk limbah B3 adalah limbah klinis, produk farmasi kadaluarsa, peralatan
laboratorium terkontaminasi, kemasan produk farmasi, limbah laboratorium, dan residu dari
proses insinerasi.
Dalam pengelolaan limbah padatnya, rumah sakit diwajibkan melakukan pemilahan
limbah dan menyimpannya dalam kantong plastik yang berbeda beda berdasarkan karakteristik
limbahnya. Limbah domestik di masukkan kedalam plastik berwarna hitam, limbah infeksius
kedalam kantong plastik berwarna kuning, limbah sitotoksic kedalam warna kuning, limbah
kimia/farmasi kedalam kantong plastik berwarna coklat dan limbah radio aktif kedalam kantong
warna merah. Disamping itu rumah sakit diwajibkan memiliki tempat penyimpanan sementara
limbahnya sesuai persyaratan yang ditetapkan dalam Kepdal 01 tahun 1995. Pengelolaan limbah
infeksius dengan menggunakan incinerator harus memenuhi beberapa persyaratan seperti yang
tercantum dalam Keputusan Bapedal No 03 tahun 1995. Peraturan tersebut mengatur tentang
kualitas incinerator dan emisi yang dikeluarkannya. Incinerator yang diperbolehkan untuk
digunakan sebagai penghancur limbah B3 harus memiliki efisiensi pembakaran dan efisiensi
penghancuran / penghilangan (Destruction Reduction Efisience) yang tinggi.
Dari hasil pengawasan dinas Keshatan Kota Parepare bahwa 7 rumah sakit perlu
memaksimalkan penggunaan incenerator karena belum dapat mengolah limbah medis sesuai
dengan ketentuan. Hal ini terjadi karena Sumber daya masih perlu di tingkatkan tehnis
operasionalnya terkhusus pada instruktur dibidang pngelolaan limbah medis.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 30

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

2.2. VISI DAN MISI SANITASI KOTA


2.2.1. Visi
Visi Sanitasi Kota Parepare dapat dirumuskan sebagai berikut :
Terwujudnya Mayarakat Sehat Melalui Sistem Air Minum dan Sanitasi Berkelanjutan dalam
Mendukung Penguatan Ekonomi Kota Parepare dalabasan)
2.2.2. Misi
Misi pembangunan AMPL di Kota Parepare Tahun 2012 2016 adalah
1. Meningkatkan kualitas, kuantitas, kontiniutas Air Minum
2. Menurunkan jumlah volume sampah sampai ke TPA Lapdde dan Meningkatkan cakupan
kualitas pelayanan sistem pengelolaan persampahan
3. Meningkatkan pengelolaan air limbah
4. Mengembangkan pengelolaan sanitasi berorientsi kebutuhan ekonomi masyarakat
5. Meningkatkan perilaku masyarakat menuju Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
6. Menata sitem sanitasi yang berkelanjutan.

2.3. KEBIJAKAN UMUM DAN STRATEGI SEKTOR SANITASI KOTA PAREPARE 2008-2013
Pada bagian ini dijelaskan kebijakan dan Strategi Sektor Sanitasi Kota periode tahun
2008-2013 secara keseluruhan mencakup limbah cair, sampah dan drainase.
Sebelumnya, beberapa rujukan yang perlu diperhatikan dalam Kerangka Sasaran Umum Sanitasi
di Tingkat Nasional dari Kementerian Pekerjaan Umum terkait pengembangan Air Minum dan
Sanitasi

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi

Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan


Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi

Nasional Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman


Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No: 20/PRT/M/2006 Kebijakan Dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum:

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 31

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

a.

Arah

kebijakan

Peraturan

Menteri Pekerjaan Umum No. 21/PRT/M/2006 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional

b.

Pengembangan Sistem Pengelolaan Persampahan:


Pengurangan timbulan sampah semaksimal mungkin dimulai dari sumbernya
Peningkatan peran aktif masyarakat dan dunia usaha/swasta sebagai mitra pengelolaan
Peningkatan cakupan pelayanan dan kualitas sistem pengelolaan persampahan
Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan
Pengembangan alternatif sumber pembiayaan.
Arah Kebijaka Peraturan
Menteri Pekerjaan Umum No. 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional
Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman, antara lain:
Peningkatan akses prasarana dan sarana air limbah baik sistem on site maupun

off site di perkotaan dan perdesaan untuk perbaikan kesehatan masyarakat;


Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan

pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman;


Peningkatan peran masyarakat dan dunia usaha/swasta dalam penyelenggaraan

pengembangan sistem pengelolaan air limbah permukiman;


Pengembangan perangkat peraturan perundangan penyelenggaraan pengelolaan air

limbah permukiman;
Penguatan kelembagaan serta peningkatan kapasitas personil pengelola air limbah

c.

permukiman;
Peningkatan pembiayaan pembangunan prasarana dan sarana air limbah permukiman.
Arah Kebijakan Peraturan

Menteri Pekerjaan Umum No: 20/PRT/M/2006 Kebijakan Dan Strategi Nasional Pengembangan
Sistem Penyediaan Air Minum:
Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan air minum
Peningkatan pendanaan untuk penyelenggaraan SPAM dari berbagai sumber secara

optimal
Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundang-undangan
Peningkatan penyediaan Air Baku secara berkelanjutan
Peningkatan peran dan kemitraan dunia usaha, swasta dan masyarakat
Sedangkan, kebijakan umum, strategi, dan sasaran dalam RPJMD tahun 2008-2013 yang

mengarah pada kebijakan dan strategi sanitasi antara lain:


1. Peningkatan Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan
Arah Kebijakan :

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 32

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Peningkatan akses dan kualitas layanan kesehatan


Sasaran :

Mutu rumah sehat 75%, penggunaan air bersih 95%, penggunaan jamban 95, TTU/TPM
yang memenuhi syarat 95%, dan institusi yang dibina kesehatan lingkungannya mencapai
80%, cakupan kesehatan kerja 80%, dan ketersediaan sarana, alat dan bahan
penyelenggaraan lingkungan sehat 100%;

Individu, keluarga dan masyarakat menumbuhkan perilaku hidup bersih dan sehat serta
terselenggaranya promosi kesehatan (P2, Kesling, KIA, Nafsa), cakupan pemeriksaan
kesehatan siswa 100%, cakupan pelayanan kesehatan remaja diatas 80%, cakupan
Posyandu aktif diatas 90%, posyandu mandiri mencapai 50%.

2. Pemeliharaan dan Pengembangan Tata Air Kota dan Permukiman


Arah Kebijakan
Pemeliharaan dan pengembangan tata air kota dan pemukiman diarahkan pada upaya
penciptaan lingkungan permukiman dan kota yang bebas banjir secara berkelanjutan melalui
kerjasama pemerintah dan masyarakat.
Sasaran

Saluran drainase/gorong-gorong terpenuhi sesuai perkembangan kota, ditandai dengan


berfungsinya saluran drainase 50.000 meter, gorong-gorong 150 buah, duiker 40 unit, plat
penutup selokan 5.000 meter, serta perencanaan drainase Jl. H. Agussalim;

Kebutuhan
turap/talud/bronjong
terpenuhi,
ditandai
dengan
turap/talud/bronjong 1.500 m bujur sangkar tersebar dalam kota;

Sarana dan prasarana pengelolaan air minum dan air limbah terpenuhi, ditandai dengan
tersedianya saluran sanitasi 5.500 meter, sarana reservoir kapasitas 1.000 meter kubik dan
pompa distribusi kapasitas 20 liter/detik dua unit;

Jaringan irigasi terpelihara dan berkembang sesuai kebutuhan, ditandai dengan tersedianya
jaringan irigasi/hasil rehabilitasi 3.000 meter, bendung yang efektif sesuai kedalamannya
3.000 m3, bendung Salobulo 150 m2, proteksi saluran irigasi Ladoma 130 m3, saluran
sekunder irigasi Ladoma 250 m, saluran tambak Bacukiki 2.000 m;

Drainase lingkungan pemukiman terpelihara dan berkembang sepanjang 16.000 meter,


tersebar pada semua kecamatan.

3. Penataan Lingkungan Hidup Berkelanjutan


Arah Kebijakan

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 33

terbangunnya

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Pemeliharaan dan pengembangan tata air kota dan pemukiman


Sasaran

Prakarsa dan partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan lain dalam memelihara
lingkungan hidup meningkat

Upaya rehabilitasi dan pemeliharaan fungsi lingkungan hidup

Kebersihan dan keindahan kota tertata efektif, terpadu dan berkelanjutan.

4. Pemantapan Kesadaran dan Etika Lingkungan Masyarakat


Arah Kebijakan
Pemantapan kesadaran dan etika lingkungan masyarakat
Sasaran

Masyarakat mengakses informasi lingkungan hidup dengan efektif dalam menggerakkan


masyarakat berprakarsa dan berpartisipasi dalam pengelolaan lingkungan hidup;

Masyarakat memiliki wadah kelembagaan dalam pengelolaan lingkungan hidup;

5. Penataan Kebersihan dan Keindahan Kota


Arah Kebijakan
Penataan kebersihan dan keindahan kota diarahkan pada terwujudnya sistem pengelolaan
sampah secara terpadu
Sasaran

Sampah terkelola efektif dan terpadu,

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan meningkat,

Keindahan kota semakin tertata dan semarak

2.4. TUJUAN DAN SASARAN SANITASI DAN ARAHAN PENTAHAPAN PENCAPAIAN SANITASI
Tujuan umum pembangunan sektor sanitasi Kota Parepare tahun 20122016 adalah untuk
mendukung pencapaian Visi dan Misi Sanitasi Kota. Selanjutnya, tujuan umum pembangunan
sanitasi memberi arahan serta koridor untuk penetapan sistem dan zona sanitasi, termasuk
tingkat layanan sanitasi:

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 34

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

2.4.1. Tujuan dan Sasaran sektor Sanitasi:


2.4.1.1 Meningkatkan Kualitas, Kuantitas, Kontiniutas Air Minum
a.
Tujuan:
(1) Meningkatkan akses layanan air bersih
(2) Memperbaiki system layanan air bersih
(3) Menjaga ketersediaan air baku
(4) Menjalin kemitraan PDAM dalam pelayanan air bersih
b.
Sasaran

yang

hendak

dicapai adalah:
(1) Meningkatkan kualitas, kuantitas dan kotinuitas air baku dari 76,96% menjadi
85% pada akhir tahun 2016 melalui PDAM (dari 20% menjadi 40%) maupun
layanan lainnya
(2) Perbaikan dan penambahan jaringan pipa transmisi dalam mendukung kuntiniutas
dan meningkatkan cakupan pelayanan
(3) Perbaikan dan penambahan jaringan kapasitas produksi agar dapat meningkatkan
pelayanan ke pelanggan
(4) Berkurangnya tingkat kehilangan air dari 24,37 % menjadi 15%
(5) Perbaikan pelayanan kepada masyarakat dan membantu masyarakat untuk
menjadi pelanggan PDAM khususnya yang berpenghasilan menengah ke bawah
(6) Terjaganya supply air secara kualitas dan kuantitas dari sumber secara terus
menerus
(7) Peningkatan peran dan kemitraan dunia usaha, swasta

2.4.1.2. Menurunkan Jumlah Volume Sampah Sampai Ke TPA Lapadde dan Meningkatkan
Cakupan Kualitas Pelayanan Sistem Pengelolaan Persampahan
a.
Tujuan:
(1) Meningkatkan pelayanan pada masyarakat dalam bidang kebersihan, pertamanan
dan penataan ruang terbuka hijau demi tercipunya:
a. Kebersihan dan Keindahan lingkungan secara berkelanjutan.
b. Kesehatan masyarakat lingkungan utamanya pada pemukiman kumuh.
c. Sistem pengelolaan persampahan, pertamanan, sarana prasarana yang efisien
dan efektif.
(2) Meningkatkan peran masyarakat dan dunia usaha serta berkaitan dengan program
kerja/proyek Kota Parepare Bersahaja menuju Kota Bandar Madani.
(3) Meningkatkan kesadaran dan ketaatan masyarakat berkaitan dengan hak dan
kewajiban selaku warga negara yaitu dalam hal pelunasan membayar retribusi
kebersihan.
(4) Meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengolahan sampah, yang
telah di gagas maupun yang direncanakan secara realistik

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 35

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

b.

Sasaran yang hendak dicapai


adalah:
(1) Meningkatnya efisiensi dan efektifitas pengelolaan persampahan di tingkat
masyarakat perkotaan dari 5,34% menjadi 50%
(2) Meningkatnya efisiensi dan efektifitas pengelolaan persampahan di TPA Lapadde
dari 5,34% menjadi 50%
(3) Meningkatnya koordinasi intemal dan ektenal antar SKPD, sekertaris/bidang/seksi
dalam menata Pengembangan kelembagaan, peraturan dan perundangan
(4) Meningkatkan kewajiban masyarakat membayar retribusi sampah secara kontinyu
dari 92,3% menjadi 100%
(5) Pengembangan alternatif sumber pembiayaan baik pendanaan pemerintah pusat
mapun pendanaan pemerintah propinsi
(6) Meningkatkan Potensi Investasi Dunia Usaha/Swasta
(7) Meningkatkan peran masyarakat melakukan pemilahan sampah dari 19,3%
menjadi 50%

2.4.1.3. Meningkatkan Pengelolaan Air Limbah


a.
Tujuan:
(1) Meningkatkan pelayanan pada masyarakat dalam bentuk perluasan informasi dan
akses layanan sistem setempat (on-site) dan terpusat (off-site)
(2) Meningkatkan Kualitas Lingkungan, derajat kesehatan Masyarakat, dan PHBS
(3) Menata pengembangan perencanaan, peraturan perundang-udangan,
kelembagaan dan keuangan pengelolaan air limbah
(4) Meningkatkan kerjasama dengan pihak swasta dalam pengolahan sampah, yang
b.

telah di gagas maupun yang direncanakan secara realistik


Sasaran yang hendak dicapai
adalah:
(1) Peningkatan pengelolaan air limbah melalui akses masyarakat terhadap informasi
dan pelayanan Pengelolaan Air Limbah Permukiman sistem setempat (on-site)
dan terpusat (off-site) padat penduduk
(2) Peningkatan Kualitas Lingkungan dan derajat kesehatan Masyarakat menjadi
50% diakhir Tahun 2016
(3) Meningkatkan PHBS melalui peran masyarakat (Rumah Tangga dan Sekolah)
pengelolaan air limbah dari 41,9% menjadi 80%
(4) Pengembangan Perencanaan dan Penataan Peraturan Perundang-undangan air
Limbah

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 36

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

(5) Peningkatan tata kelola Kelembagaan Pemerintah dalam pengelolaan air limbah
yang baik
(6) Peningkatan pengelolaan air limah melalui pemanfatan sumber daya Pendanaan
pembangunan dalam penguatan ekonomi masyarakat.
2.4.1.4. Mengembangkan Pengelolaan Sanitasi Berorientasi Kebutuhan Ekonomi Masyarakat
a. Tujuan:
(2) Kerjasama dengan lembaga donor berkembang;
(3) Meningkatkan kemandirian masyarakat sebagai sebuah tatanan yang mampu
membangun diri dan lingkungannya berdasarkan potensi, kebutuhan, dan aspirasi
yang berkembang dengan difasilitasi oleh pemerintah dan pemangku kepentingan
lainnya;
b.

Sasaran yang hendak dicapai adalah:

(1) Peningkatan kerjasama dalam pembiayaan sanitasi


(2) Peningkatan keterlibatan palaku bisnis dalam pengelolaan sanitasi
(3) Peningkatan pemasaran kompos
2.4.1.5. Meningkatkan Perilaku Masyarakat Menuju Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
a. Tujuan:
(1) Menyelenggarakan upaya penyebarluasan informasi kesehatan guna
memberdayakan masyarakat ke arah Prilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS);
(2) Melaksanakan pembinaan peningkatan peran serta masyarakat dalam
pembangunan kesehatan;
(3) Melaksanakan bimbingan/latihan tentang pengetahuan dan keterampilan petugas
penyuluh kesehatan;
b. Sasaran yang hendak dicapai adalah:
(1) Peningkatan kasadaran melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah
sejak usia dini sampai sekolah tingkat menengah
(2) Peningkatan kasadaran melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di
lingkungan Rumah Tangga
(3) Peingkatan kasadaran melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat
Umum Dan Pengelolaan Makanan (TUPM)
(4) peningkatan kasadaran melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat
Kerja
(5) Pegembangan kasadaran masyarakat kota melalui peningkatan kualitas
lingkungan sehat.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 37

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

2.4.1.6. Menata Sistem Sanitasi Yang Berkelanjutan


a. Tujuan:
(1) Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat

melalui

pengelolaan

dan

pengembangan drainase yang berkelanjutan


(2) Menigkatkan kualitas lingkungan dengan pola pemberdayaan masyarakat
(3) Meningkatkan kualitas tehnis kebijakan hukum dan kelembagaan pemerintah
(4) Meningkatkan investasi dan pembiayaan sektor sanitasi melalui kerjasama pihak
swasta dan lembaga lainnya
b. Sasaran yang hendak dicapai adalah:

(1) Tercapainya kondisi kota dan lingkungan yang bersih termasuk saluran drainase
(2)
(3)
(4)
(5)

perkotaan
Peningkatan keterlibatan perempuan pengelolaan sanitasi
Peningkatan pemerataan layanan bagi masyarakat miskin
Peningkatan peran lembaga kelurahan dalam pembangunan sanitasi
Peningkatan kualitas kebijakan manajemen tehnis Dinas Kebersihan dan

Pertamanan (DKP)
(6) Peningkatan kualitas kebijakan manajemen tehnis PDAM
(7) Peningkatan kualitas kebijakan manajemen tehnis di lingkungan Dinas PU
(8) Peningkatan kualitas kebijakan manajemen tehnis di lingkungan Badan
Lingkungan Hidup
(9) Peningkatan kualitas Kebijakan O & M di Lingkungan PDAM
(10)Peningkatan kualitas Kebijakan O & M di Lingkungan PU
(11) Peningkatan kajian studi Kebijakan Retribusi
(12)Integrasi SSK ke dalam Dokumen Perencanaan Daerah
(13)Peningkatan keterlibatan palaku bisnis dalam pengelolaan TPA dan IPLT di
Lapadde dengan pola kemitraan

2.4.2.

Arahan Pentahapan Pencapaian Sektor Sanitasi

Arahan pentahapan pencapaian pembangunan sektor sanitasi disusun berdasarkan pilihan


sistem dan penetapan zona sanitasi dengan mempertimbangkan:
I.

Kepadatan penduduk

II.

Fungsi-fungsi wilayah saat ini dan masa yang akan datang Arah Pengembangan Kota

III.

Fungsi kota/kabupaten terhadap wilayah sekitar

IV.

Kondisi fisik wilayah (topografi, kondisi tanah, kondisi sub-soil)

V.

Area beresiko sanitasi

A. Sub Sektor Air Limbah Domestik

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 38

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Sebagai salah satu rujukan dalam menyusun rencana Strategis Sanitasi Kota (SSK) adalah
peraturan Menteri Pekerjaan Umum no. 16/PRT/M/2008 tentang Kebijakan dan Strategi
Nasional

Pengembangan Sistem Pengelolaan Air Limbah Permukiman dalam rangka

kesesuaian percepatan pembangunan strategi sanitasi nasional. Di dalam Strategi Sanitasi


Kota (SSK) ini telah ditentukan wilayah prioritas pengembangan sistem pengelolaan air
limbah secara umum dengan sistem on site maupun sistem off site.

Kriteria yang

dipergunakan antara lain dalam penentuan prioritas pengembangan tersebut antara lain :
Kepadatan penduduk, klasifikasi wilayah (urban high, urban medium, urban low, peri urban,
dan rural), karakteristik tata guna lahan/ Central of Business Development (CBD) serta Resiko
Kesehatan Lingkungan.
Selanjutnya dari kriteria tersebut di atas kemudian dibuat suatu peta layanan yang
menggambarkan kebutuhan pilihan sistem pengelolaan air limbah. Peta tersebut terbagi ke
dalam beberapa zona, sekaligus sebagai dasar pengembangan perencanan jangka panjang
pengelolaan air limbah Kota Parepare.
Sistem zana yang dimaksud dapat digambarkan sebagai berikut: .

Zona 1: Pengelolaan limbah domestik menggunakan sistem setempat individual (ct.


tangki septik SNI)
Zona 2: Pengelolaan limbah menggunakan Sistem Komunal (Stop - Clts-Stops-Mck+)
Zona 3: Pengelolaan limbah menggunakan Offsite Sistem Jangka Menengah
Zona 4: Pengelolaan limbah menggunakan Sistem Komunal - Offsite Sistem Jangka
Menengah
Memperhatikan pentahapan pembangunan pengelolaan air limbah domestic Kota

Parepare menurut kepadatan penduduk, tingkat resiko kesehatan dan kebijakan yang
tertuang dalam RTRW maka Kelurahan Kampung Pisang, Kelurahan Lakessi dan Kelurahan
Ujung Lare adalah wilayah yang prioritas menjadi area pembangunan sanitasi. Beberapa
permasalahan yang kemudian dihadapi adalah sempitnya lahan pembangunan, tingkat
pemahaman masyarakat tentang pengelolaan air limbah yang masih rendah. Hal ini akan di
bahas pada Bab selanjutnya secara setail.

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 39

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Peta 2.1 Zonasi Air Limbah Kota Parepare

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 40

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

RENCANA PROGRAM INSVESTASI JANGKA MENENGAH ( RPIJM )


BIDANG PU/CIPTA KARYA TAHUN ANGGARAN 2012
PROPINSI
: SULAWESI SELATAN
KAB/KOTA
: PAREPARE
SUB BIDANG
: AIRLIMBAH

NO
01
1
2
3
4
5
6
7
8

PROGRAM/KEGIATAN
02
Study Pencegahan Intrusi Air Laut Kota
Parepare
Pembangunan IPAL Kawasan Industri
Parepare
Pemb. Sanitasi Lingkungan Berbasis
Masyarakat (SLBM)
Sanitasi Untuk Masyarakat (SANIMAS)
Master Plan Air Limbah Kota
Parepare
Fisibilyty Studi (FS) IPAL Komunal Skala
Kota
Rehabilitasi IPLT dan Pendukungnya
Ramperda Pengelolaan Air Limbah Kota
Parepare

LOKASI
(KEC/KEL)
03
Parepare

SASARAN
VOLUME

SATUAN (Rp)

USULAN TA. 201


JUMLAH

04
Paket

05
100.000.000

06
100.000.000

Lapadde

Paket

2.500.000.000

2.500.000.000

Parepare

Paket

350.000

1.400.000

1
1

Paket
Paket

400.000
300.000

400.000
300.000

Paket

250.000

250.000

1
1

Paket
Paket

26.500.000
250.000

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 41

BLN/PLN

AP

07

10

2.50

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

9
10

Penyedotan Limbah Tinja Masyarakat


Daerah Miskin/Kumuh
Pembangunan Sarana Sanimas
( Berbasis Masyarakat )
TOTAL

Paket

45.000

Paket

428.000.000
3.292.095.000

RENCANA PROGRAM INSVESTASI JANGKA MENENGAH ( RPIJM )


BIDANG PU/CIPTA KARYA TAHUN ANGGARAN 2013
PROPINSI
: SULAWESI SELATAN
KAB/KOTA
: PAREPARE
SUB BIDANG
: AIR LIMBAH
LOKASI
NO
PROGRAM/KEGIATAN
(KEC/KEL)
01
02
03
1
Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat
2
SANIMAS
3
Pengadaan Mobil Tinja
4
PERDA Air Limbah
5
Sosialisasi dan Perda Air Limbah
TOTAL

SASARAN
SATUAN (Rp)
05
350.000
400.000
350.000
150.000
150.000
1.400.000

VOLUME
04
4 Paket
2 Paket
1 Paket
1 Paket
1 Paket

2.602.350.000

JUMLAH
06
1.400.000
800.000

2.60

USULAN TA. 201


BLN/PLN
AP
07

2.200.000

RENCANA PROGRAM INSVESTASI JANGKA MENENGAH ( RPIJM )


BIDANG PU/CIPTA KARYA TAHUN ANGGARAN 2014
PROPINSI
: SULAWESI SELATAN
KAB/KOTA
: PAREPARE
SUB BIDANG
: AIR LIMBAH
NO

PROGRAM/KEGIATAN

LOKASI

POKJA AMPL Kota Parepare

SASARAN
SATUAN (Rp)

VOLUME

II - 42

JUMLAH

USULAN TA. 20
BLN/PLN
AP

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

01

02

(KEC/KEL)
03

04

05

06

07

Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat

Paket

350.000

700.000

2
3
4

SANIMAS
DED IPAL Komunal Skala Kota
Pembebasan Lahan IPAL Komunal Skala
Kota

2
1
4

Paket
Paket
Paket

400.000
400.000
2.000.000

800.000
400.000

Penyedotan Limbah Tinja Masyarakat


Daerah Miskin/Kumuh
TOTAL

Paket

45.000

45.000

3.195.000

1.945.000

RENCANA PROGRAM INSVESTASI JANGKA MENENGAH ( RPIJM )


BIDANG PU/CIPTA KARYA TAHUN ANGGARAN 2014
PROPINSI
: SULAWESI SELATAN
KAB/KOTA
: PAREPARE
SUB BIDANG
: AIR LIMBAH
NO
01
1
2
3
4
5

PROGRAM/KEGIATAN
02
Sanitasi Lingkungan Berbasis Masyarakat
SANIMAS
DED IPAL Komunal Skala Kota
Pembebasan Lahan IPAL Komunal Skala
Kota
Penyedotan Limbah Tinja Masyarakat
Daerah Miskin/Kumuh
TOTAL

LOKASI
03

POKJA AMPL Kota Parepare

VOLUME
04
2 Paket
2 Paket
1 Paket
4 Paket
1

Paket

II - 43

SASARAN
SATUAN
05
350.000
400.000
400.000
2.000.000

JUMLAH
06
700.000
800.000
400.000

45.000

45.000

3.195.000

1.945.000

USULAN TA. 201


BLN/PLN
A
07

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 44

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

B. Sub Sektor Persampahan


Berdasarkan kriteria yang ada dalam Standar Pelayanan Minimum (SPM), wilayah
pengembangan pelayanan persampahan dapat diidentifikasikan. Ada 2 (dua) kriteria utama
dalam penetapan prioritas penanganan persampahan saat ini yaitu; 1). Tata guna
lahan/klasifikasi wilayah : komersial/ Central of Business Development (CBD), pemukiman,
fasilitas umum, terminal, dsb; 2). Kepadatan penduduk. Berdasarkan kriteria penentuan
wilayah dan kebutuhan pelayanan persampahan Kota Parepare tedapat 4 zona yang dapat
diiustrasikan sebagai berikut:
1.
2.
3.

Tempat publik CBD, pasar, dll


Kepadatan Penduduk > 25 p/ha
Kepadatan Penduduk > 100 p/ha

Zona 1: peningkatan cakupan layanan hingga 100% (RT-TPS-TPA) + penyapuan jalan


(jangka pendek ke menengah 2012 2015)
Zona 2: peningkatan cakupan layanan hingga min. 70% (TPS-TPA) + pemilahan sampah
berbasis RT (jangka menengah)
Zona 3: pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat + pemilahan dan
pengolahan sampah berbasis RT, pengakutan secukupnya TPS/TPA (jangka menegah ke
panjang).

Peta 2. 2 Zonasi Persampahan Kota Parepare


POKJA AMPL Kota Parepare

II - 45

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

TPA Lapadde: perencanaan Sanitary Landfiil

2
1

1
3

2
1

BIDANG PU/CIPTA KARYA TAHUN ANGGARAN 2012


PROPINS
: SULAWESI SELATAN
POKJA AMPL Kota Parepare

II - 46

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

I
KAB/KOTA
SUB BIDANG
NO
01
I

:
:

PAREPARE
PERSAMPAHAN

PROGRAM/KEGIATAN
02
Pembangunan Sarana Persampahan

LOKASI
03

VOLUME
04

SASARAN
SATUAN
05

JUMLAH
06

25.000.00

USULAN TA. 2012


BLN/PLN
APBN
07
08

250.00

Pengadaan dan Pemasangan Konteiner

Ujung/Lapadde

10

unit

0.000

Pembangunan Bak sampah

Ujung/Lapadde

50

unit

5.000.00
0
400.000.00
0
25.000.00
0
300.000.00
0
600.000.00
0
375.000.00
0
200.000.00
0

250.00
0.000
2.000.00
0.000
375.00
0.000
900.00
0.000
600.00
0.000
2.625.00
0.000
1.000.00
0.000
642.00
0.000
321.00
0.000

Pengadaan Arm Roll Truck

Ujung/Lapadde

unit

Pengadaan Motor Sampah

Ujung/Lapadde

15

unit

Pengadaan Mobil Tangki Penyiram Tanaman

Ujung/Lapadde

unit

Pengadaa n Mobil Hidrolik Pemangkas Pohon

Ujung/Lapadde

unit

Pengadaan Mobil Truck

Ujung/Lapadde

unit

Pengadaan Mobil Pick Up

Ujung/Lapadde

unit

Pagar Pengaman TPA

10

Pembangunan TPST Pola 3 R Berbasis


Masyarakat

11

Pembangunan Hanggar 3 R

0.000

12

Pembangunan Jembatan Timbang

0.000

2.625.000

350.00
321.00
T O TAL

POKJA AMPL Kota Parepare

9.634.000.000

II - 47

2.625.000

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

C. Sub Sektor Drainase Lingkungan


Lingkup area perencanaan saluran drainase merupakan wewenang dan tanggung jawab kota.
Tetapi, keterkaitannya dengan sistem yang lebih luas di atasnya maka dipandang perlu
dintegrasikan dengan Pemerintah Provinsi, Pusat, atau institusi yang bertanggung jawab atas
daerah aliran sungai (DAS) terkait.
SSK Kota Parepare dalam penyusunannya mengikuti rencana tata ruang kota sesuai
Peraturan Daerah Kota Parepare Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang
Wilayah Kota Parepare Tahun 2011-20331,
Adapun system, rencana pengembangan peraturan dan ketentuan umum zonasi sistem
drainase di Kota Parepare terdiri dari sistem saluran primer, saluran sekunder, dan saluran
tersier dengan rincian sebagai berikut:
Sistem drainase sebagaimana dimaksud, yaitu
a. saluran primer yaitu sistem saluran yang berhubungan langsung dan bermuara ke laut dan

I.

sungai Kota Parepare, yaitu saluran primer yang melewati Jalan Bau Massepe Kelurahan
Lumpue, Jalan Bau Massepe Kelurahan Sumpang Minangae, Jalan Mattirotasi Kelurahan
Cappa Galung, Jalan Mattirotasi Kelurahan Kampung Baru, Jalan Mattirotasi Labukkang,
Jalan Andi Cammi Kelurahan Labukkang, Jalan Andi Cammi Kelurahan Mallusetasi, Jalan
Alwi Habibie Kelurahan Mallusetasi, Jalan Sultan Hasanuddin Kelurahan Ujung Sabbang,
Jalan Kalimantan Kelurahan Ujung Sabbang, Jalan Lasinrang Kelurahan Lakessi, Jalan
H.M. Arsyad Keluarahan Watang Soreang.
b. saluran sekunder yaitu sistem saluran berupa selokan yang dikembangkan mengikuti
sistem jaringan jalan.
c. saluran tersier yaitu sistem saluran drainase pada jalan-jalan lingkungan
II.

Rencana pengembangan sistem drainase, yaitu:


(1) mengembangkan sistem drainase kota sesuai dengan Rencana Induk Drainase Daerah;
(2) Meningkatkan kualitas jaringan drainase primer dan sekunder yang berada ditengah kota
dan sepanjang jalan utama;
(3) membuat dan meningkatkan saluran drainase tersier di sisi kiri kanan ruas jalan
lingkungan dipadukan dengan drainase sekunder dan utama;
(4) membuat saluran drainase pada tempat-tempat yang belum terlayani yaitu wilayah
Selatan dan Timur Kota Parepare;
(5) memperbaiki sistem drainase pada kawasan rawan banjir dan genangan, yaitu di sekitar

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 48

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

Kelurahan Ujung Lare, Labukkang, Lumpue, Mallusetasi dengan sistem berjenjang


terpadu;
(6) melaksanakan penertiban jaringan utilitas lain yang menghambat fungsi drainase; dan
(7) membangun kolam-kolam retensi air/kolam penampungan air hujan dan meningkatkan
sistem drainase baik drainase primer maupun sekunder.
III.

Ketentuan umum peraturan zonasi untuk sistem jaringan drainase:


a. zona jaringan drainase terdiri atas:
zona manfaat difungsikan untuk penyaluran air dan dapat diletakkan pada zona

manfaat jalan; dan


zona bebas di sekitar jaingan drainase dibebaskan dari kegiatan yang dapat
mengganggu kelancaran penyaluran air dengan jaruk 3 (tiga) meter pada saluran

primer yang lebarnya minimal 2 (dua) meter.


b. pemeliharan dan pengembangan jaringan drainase dilakukan selaras dengan
pemeliharaan dan pengembangan atas ruang milik jalan.

Berdasarkan arahan tersebut diatas maka dalam SSK Kota Parepare selanjutnya
merumuskan arah pentahapan pencapaian pengelolaan system drainase, antara lain:
Zona 1 : penanganan jangka menengah terhadap genangan
Zona 2 : penanganan jangka menengah ke panjang terhadap genangan
Zona 3 : penanganan jangka panjang terhadap genangan berbasis
masyarakat (genangan ditangani secara parsial)

Peta 2. 3 Zonasi Drainase Lingkungan Kota Parepare

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 49

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

3
1

2
1

RENCANA PROGRAM INSVESTASI JANGKA MENENGAH ( RPIJM )

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 50

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

BIDANG PU/CIPTA KARYA TAHUN ANGGARAN 2012


PROPINSI
: SULAWESI SELATAN
KAB/KOTA
: PAREPARE
SUB BIDANG
: DRAINASE
NO
01

PROGRAM/KEGIATAN
02

LOKASI
03

VOLUME
04

SASARAN
SATUAN
05

Pembangunan Drainase Induk ( Primer )


Jl. Mattirotasi

-Kel. Cappa'
Galung

1500

1.000.000

Pembangunan Drainase Sekunder

-Kec. Ujung

2000

500.000

-Kec.Bacukiki
Barat

2000

500.000

-Kec.Soreang

2000

500.000
268.750.000

Pembangunan Sumur Resapan


TOTAL

POKJA AMPL Kota Parepare

JUMLAH
06
1.500.000.0
00
1.000.000.0
00
1.000.000.0
00
1.000.000.0
00
4.500.000.000

II - 51

USULAN TA. 2012


BLN/PLN
APB
07
08
-

1.500

1.500

Strategi Sanitasi Kota


Kerangka Kerja Sektor Sanitasi

POKJA AMPL Kota Parepare

II - 52