Anda di halaman 1dari 25

Asuhan

Keperawatan
Trauma kepala
OLEH, KELOMPOK 7
1. Aljufrian Nalole
2. Lestari lapradja
3. Nurhidayah Suprihatin
4. Rendi Alwi Randi T.Bau
5. Rista A.Kartomi
6. Ririn I.U Tarif

POLTEKKES KEMENKES GORONTALO

KONSEP MEDIK

DEFINISI
Trauma kepala suatu gangguan traumatik
dari fungsi otak yang disertai atau tanpa
disertai perdarahan interstiil dalam
substansi otak tanpa diikuti terputusnya
kontinuitas otal (Bouma,2003).
Trauma kepala pada dasarnya dikenal
dua macam mekanisme trauma yang
mengenai kepala yakni benturan dan
goncangan (Gernardli and meany, 1996).

ETIOLOGI
Penyebab
trauma
kepala
adalah
kecelakaan lalu lintas, perkelahian,
jatuh, cedera olah raga, kecelakaan
kerja, cedera kepala terbuka sering
disebabkan oleh pisau atau peluru
(Corwin, 2000).

KLASIFIKASI
Berdasarkan Mekanisme
Trauma Tumpul

Trauma yang terjadi akibat


kecelakaan kendaraan
bermotor, kecelakaan saat
olahraga, kecelakaan saat
bekerja, jatuh, maupun
cedera akibat kekerasaan
(pukulan).

Trauma Tembus

Trauma yang terjadi karena


tembakan maupun tusukan
benda-benda tajam /runcing.

Berdasarkan Beratnya Trauma

Trauma Kepala Ringan/Minor


(Kelompok Risiko Rendah)
Trauma Kepala Sedang
(Kelompok Risiko Sedang)
Trauma Kepala Berat
(Kelompok Risiko Berat)

PATOFISIOLOGI

Edema otak barangkali merupakan


penyebab yang paling lazim dari
peningkatan intrakranial dan
memiliki daya penyebab antara lain
peningkatan cairan intra sel,
hipoksia, ketidakseimbangan cairan
dan elektrolit, iskemi serebral,
meningitis dan cedera.
Tekanan intrakranial (TIK) pada
umumnya meningkat secara
berangsur-angsur setelah cedera
kepala, timbulnya edema
memerlukan waktu 36 48 jam
untuk mencapai maksimum.
Peningkatan TIK sampai 33 mmHg
(450 mmH2O) mengurangi aliran
darah otak (ADO) secara bermakna,
iskemi yang timbul merangsang
vasomotor dan tekanan darah
sistemik meningkat. Rangsangan
pada pusat inhibisi jantung
mengakibatkan bradikardi dan
pernafasan menjadi lebih lambat.

MANIFESTASI KLINIK
Perubahan kesadaran adalah merupakan
indikator yang paling sensitive yang dapat
dilihat dengan penggunaan GCS ( Glascow
Coma Scale).
Peningkatan TIK yang mempunyai trias
Klasik seperti: nyeri kepala karena regangan
dura dan pembuluh darah; papil edema yang
disebabkan oleh tekanan dan pembengkakan
diskus optikus; muntah seringkali proyektil.

K
O
M
P
L
I
K
A
S
I

Perdarahan intra cranial

Kejang
Parese saraf cranial
Meningitis atau abses otak

Infeksi
Edema cerebri
Kebocoran cairan serobospinal

PEMERIKSAAN
PENUNJANG

Laboratorium Rutin
Foto polos kepala AP/Lateral
Foto servikal lateral
CT Scan/MRI kepala polos
Arteriografi bila perlu

PENCEGAHAN

PENCEGAHAN
PRIMER

Pencegahan primer
yaitu upaya pencegahan
sebelum peristiwa
terjadinya kecelakaan
lalu lintas seperti untuk
mencegah faktor-faktor
yang menunjang
terjadinya trauma
seperti pengatur lalu
lintas, memakai sabuk
pengaman, dan
memakai helm

lanjutan
PENCEGAHAN SEKUNDER

Memberikan jalan nafas yang lapang (Airway).


Memberi nafas/ nafas buatan (Breathing).
Menghentikan perdarahan (Circulations).

PENGOBATAN

Pengobatan konservatif
Bedrest total di RS
Antikonvulsan (anti kejang)
Diuretik
Corticosteroid (mengurangi edema)
Barbiturat (penenang)
Antibiotik (mencegah infeksi)
Analgetik (mengurangi rasa takut).

KONSEP
KEPERAWATAN

PENGKAJIAN
Riwayat Kesehatan : waktu kejadian, penyebab
trauma, posisi saat kejadian, status kesadaran
saat kejadian, pertolongan yang diberikan segera
setelah kejadian.
Pemeriksaan fisik

Sistem respirasi : suara nafas, pola nafas


(kusmaull, cheyene stokes, biot,
hiperventilasi, ataksik)
Kardiovaskuler : pengaruh perdarahan
organ atau pengaruh PTIK

lanjutan
Sistem pencernaan : Bagaimana sensori adanya makanan di
mulut, refleks menelan, kemampuan mengunyah, adanya
refleks batuk, mudah tersedak. Jika pasien sadar tanyakan
pola makan?. Waspadai fungsi ADH, aldosteron : retensi
natrium dan cairan. Retensi urine, konstipasi, inkontinensia.
Kemampuan bergerak : kerusakan area
motorik hemiparesis/plegia, gangguan gerak volunter, ROM,
kekuatan otot.
Kemampuan komunikasi : kerusakan pada hemisfer
dominan disfagia atau afasia akibat kerusakan saraf
hipoglosus dan saraf fasialis.
Psikososial : data ini penting untuk mengetahui dukungan
yang didapat pasien dari keluarga.
Reflek tendon

lanjutan

Pemeriksaan Diagnostik
CT Scan: tanpa/dengan kontras) mengidentifikasi adanya
hemoragik, menentukan ukuran ventrikuler, pergeseran
jaringan otak.
Angiografi serebral: menunjukkan kelainan sirkulasi serebral,
seperti pergeseran jaringan otak akibat edema, perdarahan,
trauma.
X-Ray: mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur),
perubahan struktur garis (perdarahan / edema), fragmen tulang.
Analisa Gas Darah: medeteksi ventilasi atau masalah
pernapasan (oksigenasi) jika terjadi peningkatan tekanan
intrakranial.
Elektrolit: untuk mengkoreksi keseimbangan elektrolit sebagai
akibat peningkatan tekanan intrakranial.

DIAGNOSA
KEPERAWATAN
1.Ketidak
efektifan
pola nafas
b/d
Kerusakan
pola
pernafasan
dimedula
oblongata,
cedera
cidera
otak.
2.Ketidak
efektifan
perfusi
jaringan cerebral b/d Edema
serebral, peningkatan TIK,
penurunan O2 ke serebral
3.Defisit
self
care
b/d
Penurunan
kesadaran,

No

1.

Diagnosa

NOC

NIC

Ketidak efektifan perfusi


jaringan cerebral b.d edema
serebral, peningkatan TIK

Setelah dilakukan
asuhan keperawatan ...x
24 jam klien
menunjukan status
sirkulasi dan tissue
perfusion cerebral
membaik
dengan indicator:
TD dalam rentang
normal (120/80 mmHg)
Tidak ada tanda
peningkatan TIK
Klien mampu bicara
dengan jelas,
menunjukkan
konsentrasi, perhatian
dan orientasi baik
Fungsi sensori motorik
cranial utuh : kesadaran
membaik (GCS 15, tidak
ada gerakan involunter)

1. Kaji, observasi, evaluasi


tanda-tanda penurunan
perfusi serebral:
gangguan mental,
pingsan, reaksi pupil,
penglihatan kabur, nyeri
kepala, gerakan bola
mata.
2. Hindari tindakan
valsava manufer
(suction lama,
mengedan, batuk terus
menerus).
3. Berikan oksigen sesuai
instruksi dokter
4. Lakukan tindakan
bedrest total
5. Posisikan pasien kepala
lebih tinggi dari badan
(30-40 derajat)
6. Minimalkan stimulasi

7. Monitor Vital Sign serta


tingkat kesadaran
8. Monitor tanda-tanda
TIK
9. Batasi gerakan leher dan
kepala
10. Kolaborasi pemberian
obat-obatan untuk
meningkatkan volume
intravaskuler sesuai
perintah dokter.

No

2.

Diagnosa

Pola nafas tidak efektif b.d


gangguan/kerusakan pusat
pernafasan di medula
oblongata/cedera jaringan
otak

NOC

Setelah dilakukan asuhan


keperawatan ....x 24 jam
klien menunjukan pola
nafas yang efektif
Dengan indicator:
Pernafasan 1620x/menit, teratur
suara nafas bersih
pernafasan vesikuler
saturasi O2: 95%

NIC

1. Kaji status
pernafasan klien
2. Kaji penyebab
ketidakefektifan pola
nafas
3. Beri posisi head up
35-45 derajat
4. Monitor perubahan
tingkat kesadaran,
status mental, dan
peningkatan TIK
5. Beri oksigen sesuai
anjuran medic
6. Melakukan suction
jika diperlukan.
7. Kolaborasi dokter
untuk terapi,
tindakan dan
pemeriksaan

No

3.

Diagnosa

Defisit self care b/d


kelemahan fisik, penurunan
kesadaran.

NOC

Setelah dilakukan
askep ......x 24 jam klien
dan keluarga dapat
merawat diri.
dengan indicator :
Kebutuhan klien seharihari terpenuhi (makan,
berpakaian, toileting,
berhias, hygiene, oral
higiene)
Klien bersih dan tidak
bau.

NIC

1. Monitor kemampuan
pasien terhadap
perawatan diri yang
mandiri
2. Monitor kebutuhan
akan personal
hygiene, berpakaian,
toileting dan makan,
berhias
3. Beri bantuan sampai
klien mempunyai
kemapuan untuk
merawat diri
4. Bantu klien dalam
memenuhi
kebutuhannya seharihari.
5. Anjurkan klien untuk
melakukan aktivitas
sehari-hari sesuai
kemampuannya

7. Pertahankan aktivitas
perawatan diri secara
rutin
8. Dorong untuk
melakukan secara
mandiri tapi beri
bantuan ketika klien
tidak mampu
melakukannya.
9. Anjurkan keluarga untuk
ikut serta dalam
memenuhi ADL klien

EVALUASI
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi
proses keperawatan yang menandakan seberapa jauh
diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan
pelaksanaannya sudah berhasil dicapai. (Evaluasi yang
diharapkan pada klien cedera kepala adalah :
Peningkatan tekanan intrakranial stabil
Respirasi 24 kali per menit, teratur
Makanan dapat dihabiskan tanpa sisa
Orientasi orang, tempat dan waktu
Berkurangnya agitasi