Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena


berkat perlindunganNya kami di perkenankan untuk menyelesaikan tugas Seni
Musik ini dengan semaksimal mungkin. Makalah ini berisi informasi mengenai
musik dengan genre Dangdut. Di dalamnya terdapat, asal usul music
dangdut, sejarah musik dangdut itu muncul, tokoh music dangdut, cirri-ciri
music dangdut, hingga teknik vocal akan dibahas semua dalam makalah ini.
Tak lupa kami juga berterimakasih kepada guru pembimbing kami,
Bapak Hidayat, karena atas bimbingannya kami mampu menyelesaikan tugas
ini sebaik mungkin. Adapun makalah ini kami buat untuk melengkapi tugas
kami yang belum lengkap. Kami menyadari bahwa makalah ini tidak luput
dari kesalahan, oleh karena itu kami mohon kritik dan saran yang
membangun dari pembaca.
Semoga makalah ini bermanfaat. Selamat membaca.

Bekasi, 11 September 2013

Penulis

BAB II

Sebuah pertunjukan musik dangdut modern


Dangdut merupakan salah satu dari genre seni musik Indonesia yang mengandung
unsur-unsur musik Hindustan atau India klasik, Melayu, dan Arab. Bentuk musik ini
berakar awal dasar dari Qasidah yang terbawa oleh Agama Islam yang masuk
Nusantara tahun 635 - 1600 dan Gambus yang dibawa oleh migrasi orang Arab tahun
1870 - sesudah 1888, kemudian menjelma sebagai Musik Gambus tahun 1930 oleh
orang Arab-Indonesia bernama Syech Albar, selanjutnya menjelma sebagai Musik
Melayu Deli pada tahun 1940 oleh Husein Bawafie, dan tahun 1950 pengaruh
musikAmerika Latin serta tahun 1958 dipengaruhi Musik India melalui
film Bollywood olehEllya Khadam dengan lagu Boneka India, dan terakhir lahir sebagai
Dangdut tahun 1968 dengan tokoh utama Rhoma Irama. Dalam evolusi menuju bentuk
kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik India (terutama dari
penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan harmonisasi). Perubahan arus politik
Indonesia pada akhir tahun 1960-an membuka masuknya pengaruh musik barat yang
kuat dengan masuknya penggunaan gitar listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak
tahun 1970-an dangdut boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang
kontemporer. Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh

bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus, rock, pop,
bahkan house music.

Asal istilah
Penyebutan nama "dangdut" merupakan onomatope dari suara permainan tabla (dalam dunia
dangdut disebut gendang saja) musik India. Putu Wijaya awalnya menyebut dalam majalah
Tempo edisi 27 Mei 1972 bahwa lagu Boneka dari India adalah campuran lagu Melayu, irama
padang pasir, dan "dang-ding-dut" India. Sebutan ini selanjutnya diringkas menjadi "dangdut"
saja, dan oleh majalah tersebut digunakan untuk menyebut bentuk lagu Melayu yang
terpengaruh oleh lagu India.

Pengaruh dan perkembangan


Qasidah masuk ke Nusantara tahun 635 - 1600[sunting]
Qasidah masuk Nusantara sejak Agama Islam dibawa para saudagar Arab tahun 635,
kemudian juga saudagar Gujarat tahun 900 - 1200, saudagar Persia tahun 1300
1600. Nyanyian Qasidah biasanya berlangsung di masjid, pesantren dahwah agama
Islam.

Gambus dan migrasi orang Arab mulai tahun 1870


Gambus adalah salah satu alat musik Arab seperti gitar, namun mempunyai suara
rendah. Diperkirakan alat musik gambus masuk ke nusantara bersama migrasi Marga
Arab Hadramaut (sekarang Yaman) dan orang Mesir mulai tahun 1870 hingga setelah
1888, yaitu setelah Terusan Suez dibuka tahun 1870, pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta
Utara dibangun tahun 1877, dan Koninklijke Paketvaart Maatschappij berdiri tahun
1888. Para musisi Arab sering mendendangkan Musik Arab dengan iringan gambus.
Pada awal abad XX penduduk Arab-Indonesia senang mendengarkan lagu gambus,
dan sekitar tahun 1930, Syech Albar (ayah dariAhmad Albar) mendirikan orkes gambus
di Surabaya. Ia juga membuat rekaman piringan hitam dengan Columbia tahun 1930an, yang laku di pasaran Malaysia dan Singapura.

Musik Melayu Deli tahun 1940


Musik Melayu Deli lahir sekitar tahun 1940 di Sumatera Utara bersama Husein
Bawafie dan Muhammad Mashabi, kemudian menjalar ke Batavia dengan
berdirinya Orkes Melayu

Irama Amerika Latin tahun 1950


Pada tahun 1950, musik Amerika Latin masuk ke Indonesia oleh Xavier
Cugat dan Edmundo Ros serta Perez Prado, termasuk Trio Los Panchos atau Los
Paraguayos.[rujukan?] Irama latin ini kemudian lekat dengan orang Indonesia. Kemudian
berbagai lagu Minang juga muncul bersama Orkes Gumarang, dan Zainal Combo [6].
Dangdut kontemporer telah berbeda dari akarnya, musik Melayu, meskipun orang
masih dapat merasakan sentuhannya. Pada tahun 1950-an dan 1960-an banyak
berkembang orkes-orkes Melayu di Jakarta yang memainkan lagu-lagu Melayu Deli dari
Sumatera (sekitar Medan).

Dari musik Melayu Deli tahun 1940 ke Dangdut tahun 1968

Tabla, salah satu alat musik utama dangdut yang berasal dari India.

Orkes Melayu (biasa disingkat OM, sebutan yang masih sering dipakai untuk suatu grup
musik dangdut) yang asli menggunakan alat musik seperti gitar
akustik, akordeon, rebana,gambus, dan suling, bahkan gong. Musik Melayu Deli
awalnya tahun 1940-an lahir di daerah Deli Medan, kemudian musik melayu deli ini juga
berkembang di daerah lain, termasuk Jakarta. Pada masa ini mulai masuk eksperimen
masuknya unsur India dalam musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa

itu dan politik anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari
masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya), Said
Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung seperti penari India, sang
pencipta Boneka dari India), Husein Bawafie (salah seorang penulis lagu Ratapan Anak
Tiri), Munif Bahaswan (pencipta Beban Asmara), sertaM. Mashabi (pencipta skor film
"Ratapan Anak Tiri" yang sangat populer pada tahun 1970-an). Gaya bermusik masa ini
masih terus bertahan hingga 1970-an, walaupun pada saat itu juga terjadi perubahan
besar di kancah musik Melayu yang dimotori oleh Soneta Grouppimpinan Rhoma
Irama. Beberapa nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida
Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat dilihat dari
keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok musik pop Koes Plus di masa
jayanya.
Dangdut modern, yang berkembang pada awal tahun 1970-an sejalan dengan politik
Indonesia yang ramah terhadap budaya Barat, memasukkan alat-alat musik modern
Barat seperti gitar listrik, organ elektrik, perkusi, trompet, saksofon, obo, dan lain-lain
untuk meningkatkan variasi dan sebagai lahan kreativitas pemusikpemusiknya. Mandolin juga masuk sebagai unsur penting. Pengaruh rock (terutama
pada permainan gitar) sangat kental terasa pada musik dangdut. Tahun 1970-an
menjadi ajang 'pertempuran' bagi musik dangdut dan musik rock dalam merebut pasar
musik Indonesia, hingga pernah diadakan konser 'duel' antara Soneta Group dan God
Bless. Praktis sejak masa ini musik Melayu telah berubah, termasuk dalam pola bisnis
bermusiknya. Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut
humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes ini, yang
berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi dangdut di kalangan
mahasiswa. Subgenre ini diteruskan, misalnya, oleh OMPengantar Minum
Racun (PMR) dan, pada awal tahun 2000-an, oleh Orkes Pemuda Harapan
Bangsa (PHB).

Interaksi dengan musik lain


Dangdut sangat elastis dalam menghadapi dan memengaruhi bentuk musik yang lain.
Lagu-lagu barat populer pada tahun 1960-an dan 1970-an banyak yang didangdutkan.
Genre musik gambus dan kasidah perlahan-lahan hanyut dalam arus cara bermusik
dangdut. Hal yang sama terjadi pada musik tarling dari Cirebon sehingga yang masih
eksis pada saat ini adalah bentuk campurannya: tarlingdut. Musik rock, pop,
disko, house bersenyawa dengan baik dalam musik dangdut. Aliran campuran antara
musik dangdut & rock secara tidak resmi dinamakan Rockdut. Demikian pula yang

terjadi dengan musik-musik daerah


seperti jaipongan, degung, tarling, keroncong,langgam Jawa (dikenal sebagai suatu
bentuk musik campur sari yang dinamakan congdut, dengan tokohnya Didi Kempot),
atau zapin. Mudahnya dangdut menerima unsur 'asing' menjadikannya rentan terhadap
bentuk-bentuk pembajakan, seperti yang banyak terjadi terhadap lagu-lagu dari film
ala Bollywood dan lagu-lagu latin. Kopi Dangdut, misalnya, adalah "bajakan" lagu yang
populer dariVenezuela.

dangdut dengan birama 3/4, kecuali pada beberapa lagu masa 1960-an seperti Burung
Nuri dan Seroja.
Bentuk bangunan lagu dangdut secara umum adalah: A - A - B - A, namun dalam
aplikasi kebanyakan memiliki urutan menjadi seperti ini :

Intro - Eksposisi I - A - A - Eksposisi II - B - A - Eksposisi II - B - A (coda)

Bentuk bangunan lagu dangdut

Urutan
bangunan lagu

Keterangan

Dapat merupakan pembuka pendek sepanjang 2 - 4 birama berupa


permainan instrumental atau rangkaian akord pembuka, bisa juga sebagai
Intro

vokal resitatif (setengah deklamasi) yang mengungkapkan isi lagu dengan


iringan akord terurai (broken chord) atau tanpa iringan, atau bisa juga
berupa permainan seruling, kemudian masuk ke Eksposisi I atau Vokal.

Eksposisi Iatau

Adalah sajian instrumental yang berlangsung sepanjang 4 - 8 birama,

Tampilan I

dengan instrumen suling, organ, gitar, bahkan sitar atau mandolin secara
bergantian. Eksposisi adalah Tampilan kelompok band, berupa aransemen
kebolehan band yang disajikan secara khusus untuk memperlihatkan

kebolehan. Tampilan I bisa dihilangkan kalau dari Intro langsung masuk


Vokal.

Verse A

Biasanya berupa melodi dengan nada rendah dan datar sebagai ungkapan
pertama isi lagu atau proposta.

Berupa sajian yang kedua instrumental kebolehan band, dan Tampilan II


Eksposisi IIatau

harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung Verse A

Tampilan II

dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling, gitar,


atau sitar dan mandolin.

Biasanya berupa melodi dengan nada tinggi dan berapi-api menjelaskan


Verse B

lebih lanjut isi lagu, atau juga riposta terhadap Verse A. Lirik bagian kedua
biasanya berisi konsekuensi dari situasi yang digambarkan bagian pertama
atau tindakan yang diambil si penyanyi untuk menjawab situasi itu.

Diulang lagi, berupa sajian yang ketiga instrumental kebolehan band, dan
Eksposisi IIatau

Tampilan II harus ada (tidak boleh ditiadakan) dan sebagai penghubung

Tampilan II

Verse A dengan Verse B, juga instrumental bergantian antara organ, suling,


gitar, atau sitar dan mandolin.

Verse B

Verse A

Mengulang dari Verse B sebelumnya, isinya sama persis dengan Verse B


sebelumnya.

Disajikan sekali lagi untuk menutup lagu, sama persis dengan Verse A
sebelumnya.

Coda(optional,

Di akhir lagu kadang-kadang terdapat koda sepanjang empat birama,

boleh

namun juga bisa ditiadakan langsung berhenti, atau diakhiri dengan fade

dihilangkan)

away (jarang terjadi).

Lagu dangdut umumnya juga miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni. Sebagai
musik pengiring tarian, dangdut sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.

Dangdut dalam budaya kontemporer

Penyanyi dangdut Yan Vellia di Pesta Kesenian Rakyat diPacitan.

Rhoma Irama menjadikan dangdut sebagai alat berdakwahnya, yang terlihat dari
lirik-lirik lagu ciptaannya serta dari pernyataan yang dikeluarkannya sendiri. Hal ini
menjadi salah satu pemicu polemik di Indonesia pada tahun 2003, akibat protesnya
terhadap gaya panggung para penyanyi dangdut, antara lain Inul Daratista,
yang goyang ngebor-nya yang dicap dekaden serta "merusak moral". Jauh
sebelumnya, dangdut juga telah mengundang perdebatan dan berakhir dengan
pelarangan panggung dangdut dalam perayaanSekaten di Yogyakarta. Perdebatan
muncul lagi-lagi akibat gaya panggung penyanyi (wanita)-nya yang dinilai terlalu
"terbuka" dan berselera rendah, sehingga tidak sesuai dengan misi Sekaten sebagai
suatu perayaan keagamaan. Dangdut memang disepakati banyak kalangan sebagai
musik yang membawa aspirasi kalangan masyarakat kelas bawah dengan segala
kesederhanaan dan kelugasannya. Ciri khas ini tercermin dari lirik serta bangunan
lagunya. Gaya pentas yang sensasional tidak terlepas dari napas ini.
Panggung kampanye partai politik juga tidak ketinggalan memanfaatkan
kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu dangdut sebagai alat politik juga
menyeruak ketika Basofi Sudirman, pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar,
menyanyi lagu dangdut. Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah
yang miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap acara
hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan situasi. Panggung dangdut
dapat dengan mudah dijumpai di berbagai tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang

khusus memutar lagu-lagu dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio
siaran yang menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di
berbagai kota.

Ciri-Ciri Musik Dangdut


Alat musiknya akustik, dengan standarisasi melayu,
seperti akordion, suling, gendang, madolin, dan dalam
perkembangan di era ini adalah organ mekanik serta
biola.
Lagunya, mudah dicerna sehingga tidak susah untuk
diterima masyarakat.
Iramanya terbagi dalam tiga bagian yaitu senandung
(sangat lambat), lagu dua (iramanya agak cepat) dan
makinang (lebih cepat).
Liriknya masih lekat pada pantun.

Irama musiknya sangat melankolik.


Bangunan sebagian besar lagu dangdut sangat
konservatif,
Sebagian besar tersusun dari satuan delapan birama 4/4
(jarang sekali ditemukan lagu dangdut dengan birama
3/4, kecuali pada lagu-lagu masa Melayu Deli (contoh:
Burung Nuri).
Miskin improvisasi, baik melodi maupun harmoni.
Sangat mengandalkan ketukan tabla dan sinkop.
Pada umumnya tidak memiliki refrain, namun memiliki
bagian kedua dengan bangunan melodi yang berbeda
dengan bagian pertama.

Tokoh Indonesia yang berpengaruh


terhadap musik dangdut

Rhoma Irama - Sang Raja Dangdut

Raden Oma Irama yang populer dengan


nama Rhoma Irama lahir di Tasikmalaya, 11 Desember 1946, Pria ningrat ini merupakan
putra kedua dari empat belas bersaudara, delapan laki-laki dan enam perempuan (delapan
saudara kandung, empat saudara seibu dan dua saudara bawaan dari ayah tirinya). Ayahnya,
Raden Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan Garuda Putih, memberinya nama
Irama karena bersimpati terhadap grup sandiwara Irama Baru asal Jakarta yang pernah
diundangnya untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya. Sebelum pindah ke Tasikmalaya,
keluarganya tinggal di Jakarta dan di kota inilah kakaknya, Haji Benny Muharam dilahirkan.

Sebelum pindah ke Tasikmalaya, keluarganya tinggal di Jakarta dan di kota inilah


kakaknya, Haji Benny Muharam dilahirkan. Setelah beberapa tahun tinggal di Tasikmalaya,
keluarganya termasuk kakaknya, Haji Benny Muharam, dan adik-adiknya, Handi dan Ance,
pindah lagi ke Jakarta lalu tinggal di Jalan Cicarawa, Bukit Duri, kemudian pindah ke Bukit Duri
Tanjakan. Di sinilah mereka menghabiskan masa remaja sampai tahun 1971 lalu pindah lagi ke
Tebet.

Semenjak kecil Rhoma sudah terlihat bakat seninya. Tangisannya terhenti setiap kali
ibundanya, Tuti Juariah menyenandungkan lagu-lagu. Masuk kelas nol, ia sudah mulai
menyukai lagu. Minatnya pada lagu semakin besar ketika masuk sekolah dasar. Menginjak
kelas 2 SD, ia sudah bisa membawakan lagu-lagu Barat dan India dengan baik. Ia suka
menyanyikan lagu No Other Love, kesayangan ibunya, dan lagu Mera Bilye Buchariajaya yang
dinyanyikan oleh Lata Maagiskar. Selain itu, ia juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah yang
dinyanyikan Umm Kaltsum.
Bakat musiknya mungkin berasal dari ayahnya yang fasih memainkan seruling dan
menyanyikan lagu-lagu Cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Selain itu, pamannya yang
bernama Arifin Ganda suka mengajarinya lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih kecil.

Pengalamannya menyanyikan lagu-lagu India sewaktu masih sekolah dasar, lagu-lagu pop dan
rock Barat hingga akhir 1960-an lalu beralih ke musik Melayu, menjadikan lagu dan musik yang
dibawakannya di atas panggung lebih dinamis, melodis dan menarik.
Karena usia Rhoma dengan kakaknya Benny tidak berbeda jauh, mereka selalu kompak dan
pergi berdua-duaan. Berbeda dengan kakaknya yang lebih sering malas ikut mengaji di surau
atau rumah kyai, Rhoma selalu mengikuti pengajian dengan tekun. Setiap kali ayah ibunya
bertanya apakah kakaknya ikut mengaji, Rhoma selalu menjawab ya. Ke sekolahpun mereka
berangkat bersama-sama. Dengan berboncengan sepeda, keduanya berangkat dan pulang ke
sekolah di SD Kibono, Manggarai.
Di bangku SD, bakat menyanyi Rhoma semakin kelihatan. Rhoma adalah murid yang paling
rajin bila disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Dan uniknya, Rhoma tidak sama
dengan murid-murid lain yang suka malu-malu di depan kelas. Rhoma menyanyi dengan suara
keras hingga terdengar sampai ke kelas-kelas lain. Perhatian murid-murid semakin besar
karena Rhoma tidak menyanyikan lagu anak-anak atau lagu kebangsaan, melainkan lagu-lagu
India.
Bakatnya sebagai penyanyi mendapat perhatian penyanyi senior, Bing Slamet karena melihat
penampilan Rhoma yang mengesankan ketika menyanyikan sebuah lagu Barat dalam acara
pesta di sekolahnya. Suatu hari ketika Rhoma masih duduk di kelas 4, Bing membawanya
tampil dalam sebuah show di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai. Ini
merupakan pengalaman yang membanggakan bagi Rhoma.
Sejak itu, meski belum berpikir untuk menjadi penyanyi, Rhoma sudah tidak terpisahkan lagi
dari musik. Dengan usaha sendiri, ia belajar memainkan gitar hingga mahir. Karena saking
tergila-gilanya dengan gitar, Rhoma sering membuat ibunya marah besar. Setiap kali ia pulang
sekolah, yang pertama dia cari adalah gitar. Begitu pula setiap kali ia keluar rumah, gitar hampir
selalu ia bawa.
Pernah suatu kali, ibunya menyuruh Rhoma menjaga adiknya, tetapi Rhoma lebih suka memilih
bermain gitar. Akibat ulahnya itu, ibunya merampas gitarnya lalu melemparkannya ke arah
pohon jambu hingga pecah. Kejadian itu membuat sedih Rhoma karena gitar adalah teman
nomor satu baginya.
Dalam perkembangannya dalam mendalami musik, Rhoma mulai menyadari bahwa meskipun
ayah dan ibunya pasangan berdarah ningrat adalah penggemar musik, mereka tetap
menganggap dunia musik bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau dijadikan sebuah
profesi. Ibunya sering meneriakkan berisik setiap kali ia menyanyi dan beranggapan bahwa
musik akan menghambat sekolahnya. Kenyataan ini membuat bakat musik Rhoma justru
semakin berkembang dari luar rumah karena di dalam rumah ia kurang mendapat dukungan.

Sewaktu Rhoma masih kelas 5 SD tahun 1958, ayahnya meninggal dunia. Sang ayah
meninggalkan delapan anak, yaitu, Benny, Rhoma, Handi, Ance, Dedi, Eni,
Herry, dan Yayang. Ketika kakaknya, Benny masih duduk di kelas 1 SMP, ibunya menikah lagi
dengan seorang perwira ABRI, Raden Soma Wijaya, yang masih ada hubungan famili dan juga
berdarah ningrat. Ayah tirinya ini membawa dua anak dari istrinya yang terdahulu dan setelah
menikah dengan Ibu Rhoma, sang ibu melahirkan dua anak lagi.

Ketika ayah kandungnya masih hidup, suasana di rumahnya feodal. Sehari-hari ayah dan
ibunya berbicara dengan bahasa Belanda. Segalanya harus serba teratur dan menggunakan
tata krama tertentu. Para pembantu harus memanggil anak-anak dengan sebutan Den (raden).
Anak-anak harus tidur siang dan makan bersama-sama. Ayahnya juga tak segan-segan

menghukum mereka dengan pukulan jika dianggap melakukan kesalahan, misalnya bermain
hujan atau membolos sekolah.
Keadaan keluarga Rhoma di Tebet waktu itu memang tergolong cukup kaya bila dibandingkan
dengan masyarakat sekitar. Rumahnya mentereng dan mereka memiliki beberapa mobil seperti
Impala, mobil yang tergolong mewah di zaman itu. Rhoma juga selalu berpakaian bagus dan
mahal.
Namun, suasana feodal itu tidak lagi kental setelah ayah tiri-nya hadir di tengah-tengah
keluarga mereka. Bahkan dari ayah tiri inilah, di samping pamannya, Rhoma mendapat angin
untuk menyalurkan bakat musiknya. Secara bertahap ayah tirinya membelikan alat-alat musik
akustik berupa gitar, bongo, dan sebagainya.
Dunia Rhoma di masa kanak-kanak rupanya bukan hanya dunia musik. Rhoma juga suka adu
jotos dengan anak-anak lain. Lingkungan pergaulannya ketika itu tergolong keras. Anak-anak
saat itu cenderung mengelompok dalam geng, dan satu geng dengan geng lainnya saling
bermusuhan, atau setidaknya saling bersaing. Dengan demikian, perkelahian antar geng sering
tak terhindarkan.
Di Bukitduri tempat tinggalnya, hampir setiap kampung di daerah itu terdapat geng (kelompok
anak muda). Di Bukitduri ada BBC (Bukit Duri Boys Club), di Kenari ada Kenari Boys, Cobra
Boys, dan sebagainya. Dari Bukitduri Puteran, dan dari Manggarai banyak anak muda yang
bergabung dengan Geng Cobra. Geng-geng ini saling bermusuhan sehingga keributan selalu
hampir terjadi setiap kali mereka bertemu.
Satu hal yang cukup menonjol pada diri Rhoma adalah teman-temannya hampir selalu
menjadikan Rhoma sebagai pemimpin. Tentu saja, bila gengnya bentrok dengan geng lain,
Rhomalah yang diharapkan tampil paling depan, untuk berkelahi. Meskipun pernah menang
beberapa kali, Rhoma juga sering mengalami babak belur, bahkan pernah luka cukup parah
karena dikeroyok 15 anak di daerah Megaria.
Ketika ia masuk SMP, tempat-tempat berlatih silat semakin marak. Tetapi, bagi Rhoma, ilmu
bela diri nasional ini tidaklah asing, karena sejak kecil ia sudah mendapat latihan dari ayahnya
dan beberapa guru silat lainnya. Rhoma pernah belajar silat Cingkrik (paduan silat Betawi dan
Cimande) pada Pak Rohimin di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Rhoma juga pernah belajar silat
Sigundel di Jalan talang, selain beberapa ilmu silat yang lain. Bila terjadi perkelahian antar
geng, para anggota geng saling menjajal ilmu silat yang telah mereka pelajari.
Karena kebandelannya itulah maka Rhoma beberapa kali harus tinggal kelas, sehingga karena
malu maka ia acapkali berpindah sekolah. Kelas Tiga SMP dijalaninya di Medan. Ketika itu ia
dititipkan di rumah pamannya. Tapi, tak berapa lama kemudian ia sudah pindah lagi ke SMP
Negeri XV Jakarta.

Kenakalan Rhoma terus berlanjut hingga bangku SMA. Sewaktu bersekolah di SMA Negeri VIII
Jakarta, ia pernah kabur dari kelas lewat jendela karena ingin bermain musik dengan temantemannya yang sudah menunggunya di luar. Kegandrungannya pada musik dan berkelahi di
luar dan dalam sekolah membuatnya acapkali keluar masuk sekolah SMA. Selain di SMA
Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, St Joseph di
Solo, dan akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta, tak jauh dari rumahnya.
Di masa SMA lah Rhoma sempat melewati masa-masa sangat pahit. Ia terpaksa menjadi
pengamen di jalanan Kota Solo. Di sana dia ditampung di rumah seorang pengamen bernama
Mas Gito. Sebenarnya, sebelum terdampar di Solo, ia berniat hendak belajar agama di
Pesantren Tebuireng Jombang. Namun, karena tidak membeli karcis, Rhoma, Benny kakaknya,
dan tiga orang temannya, Daeng, Umar, dan Haris harus main kucing-kucingan dengan
kondektur selama dalam perjalanan. Daripada terus gelisah karena takut ketahuan lalu
diturunkan di tempat sepi, mereka akhirnya memilih turun di Stasiun Tugu Jogja. Dari Jogja,
mereka naik kereta lagi menuju Solo.
Di Solo, Rhoma melanjutkan sekolahnya di SMA St. Joseph. Biaya sekolah diperolehnya dari
mengamen dan menjual beberapa potong pakaian yang dibawanya dari Jakarta. Namun,
karena di Solo sekolahnya tidak lulus, Rhoma harus pulang ke Jakarta dan melanjutkan sekolah
di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus tahun 1964. Ia kemudian melanjutkan kuliah di
Fakultas Sosial Politik Universitas 17 Agustus, tapi hanya bertahan satu tahun karena
ketertarikan Rhoma kepada dunia musik sudah terlampau besar.

Pada tahun tujuh puluhan, Rhoma sudah menjadi penyanyi dan musisi ternama setelah jatuh
bangun dalam mendirikan band musik, mulai dari band Gayhand tahun 1963. Tak lama
kemudian, ia pindah masuk Orkes Chandra Leka, sampai akhirnya membentuk band sendiri
bernama Soneta yang sejak 13 Oktober 1973 mulai berkibar. Bersama grup Soneta yang
dipimpinnya, Rhoma tercatat pernah memperoleh 11 Golden Record dari kaset-kasetnya.
Tahun 1972, ia menikahi Veronica yang kemudian memberinya tiga orang anak, Debby (31),
Fikri (27) dan Romy (26). Tetapi sayang, Rhoma akhirnya bercerai dengan Veronica bulan Mei
1985 setelah sekitar setahun sebelumnya Rhoma menikahi Ricca Rachim partner-nya dalam

beberapa film seperti Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia, Camellia, Cinta Segitiga, Melodi
Cinta, Pengabdian, Pengorbanan, dan Satria Bergitar. Hingga sekarang, Ricca tetap
mendampingi Rhoma sebagai istri.
Kesuksesannya di dunia musik dan dunia seni peran membuat Rhoma sempat mendirikan
perusahaan film Rhoma Irama Film Production yang berhasil memproduksi film, di antaranya
Perjuangan dan Doa (1980) serta Cinta Kembar (1984).
Kini, Rhoma yang biasa dipanggil Pak Haji ini, banyak mengisi waktunya dengan berdakwah
baik lewat musik maupun ceramah-ceramah di televisi hingga ke penjuru nusantara. Dengan
semangat dan gaya khasnya, Rhoma yang menjadikan grup Soneta sebagai Sound of Moslem
terus giat meluaskan syiar agama.

Tokoh-tokoh
Berikut adalah nama-nama beberapa tokoh penyanyi dan pencipta lagu dangdut populer yang
dibagi dalam tiga kelompok kronologis, sesuai dengan perkembangan musik dangdut

Setelah 1970-an

Inul
Daratista

Ayu Ting Ting

Cici Paramida

Ira Swara

Dewi Persik

Itje
Trisnawati

Erie Suzan

Kristina

Melinda

Ridho
Rhoma

Era 1970an

A. Rafiq

A. Harris

Camelia
Malik

Ellya

Hasnah
Tahar

Husein
Bawafie

Johana
Satar

Elvy
Sukaesih

Herlina
Effendi

Evie Tamala
Iis Dahlia

Ikke Nurjanah

Ine Sinthya

Saiful Jamil

Trio Macan

Vetty Vera

Pra-1970an

Ida Laila

Meggy Z

M. Mashabi

Reynold
Panggabea
n

Munif
Bahaswan

Said Effendi

Rhoma
Irama

Rita
Sugiarto

Sejarah Awal Berdiri Adanya Musik Dangdut

Posted by alf

Sejarah
Awal
Berdiri
Adanya
Musik
Dangdut - Musik
Dangdut adalah aliran musik yang sudah tidak asing bagi masyarakat
Indonesia, Dangdut kita ketahui merupakan musik yang sangat
Merakyat bagi bangsa Indonesia sejak jaman berdirinya negara
Indonesia.
Musik Dangdut ada berawal dari periode kolonial Belanda, waktu itu
ada perpaduan alat musik Indonesia, Arab dan Belanda yang
dinamakan bersama-sama dalam Tanjidor. Musik ini merupakan
orkestra mini yang khas dan dipertunjukkan sambil berjalan oleh para
budak peliharaan tuan-tuan kulit putih penguasa pekebunan di sekitar
Batavia. Sepanjang abad 19, banyak pengaruh dari luar diserap oleh
masyarakat Indonesia. Misalnya pengaruh dari Cina yaitu ansambel
Cina-Betawi yang disebut gambang kromong dan juga keroncong.
Pada dasarnya, bentuk musik dangdut berakar dari musik melayu pada
tahun 1940-an. Irama melayu sangat kental dengan unsur aliran musik
dari India dan gabungan dengan irama musik dari arab. Unsur Tabuhan
Gendang yang merupakan bagian unsur dari Musik India digabungkan
dengan Unsur Cengkok Penyanyi dan harmonisasi dengan irama
musiknya merupakan suatu ciri khas dari Irama Melayu merupakan
awal dari mutasi dari Irama Melayu ke Dangdut. Dalam evolusi menuju
bentuk kontemporer sekarang masuk pengaruh unsur-unsur musik
India (terutama dari penggunaan tabla) dan Arab (pada cengkok dan
harmonisasi).

Pada masa ini mulai masuk eksperimen masuknya unsur India dalam
musik Melayu. Perkembangan dunia sinema pada masa itu dan politik
anti-Barat dari Presiden Sukarno menjadi pupuk bagi grup-grup ini. Dari
masa ini dapat dicatat nama-nama seperti P. Ramlee (dari Malaya),

Said Effendi (dengan lagu Seroja), Ellya (dengan gaya panggung


seperti penari India), Husein Bawafie sang pencipta Boneka dari India,
Munif Bahaswan, serta M. Mashabi (pencipta skor film "Ratapan Anak
Tiri"
yang
sangat
populer
di
tahun
1970-an).
Perubahan arus politik Indonesia di akhir tahun 1960-an membuka
masuknya pengaruh musik barat yang kuat dengan masuknya gitar
listrik dan juga bentuk pemasarannya. Sejak tahun 1970-an dangdut
boleh dikatakan telah matang dalam bentuknya yang kontemporer.
Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka terhadap pengaruh
bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam, degung, gambus,
pop, rock, bahkan house music. Irama melayu menjadi suatu aliran
musik kontemporer, yaitu suatu cabang seni yang terpengaruh
dampak
modernisasi.
Pada tahun 1960 an Musik melayu mulai dipengaruhi oleh banyak
unsur mulai dari gambus, degung, keroncong, langgam. Dan mulai
jaman ini lah sebutan untuk Irama Melayu mulai berubah menjadi
terkenal dengan Sebutan Musik Dangdut. Sebutan Dangdut ini
merupakan Onomatope atau sebutan yang sesuai dengan bunyi suara
bunyi, yaitu bunyi dari Bunyi alat musik Tabla atau yang biasa disebut
Gendang. Dan karena bunyi gendang tersebut lebih didominasi dengan
Bunyi Dang dan Dut, maka sejak itulah Irama Melayu berubah
sebutanya menjadi suatu aliran Musik baru yang lebih terkenal dengan
Irama
Musik
Dangdut.
Pada jaman era Pra 1970 an ini seniman dangdut yang terkenal antara
lain : M. Mashabi, Husein Bawafie, Hasnah Tahar, Munif Bahaswan,
Johana
Satar,
Ellya
Kadam
Menjelang 1970, Rhoma Irama mulai menunjukkan kemampuan
bermusiknya di irama dangdut. Rasa tidak puas dan keinginan terkenal
mendorong Rhoma Irama menciptakan irama musik baru. Irama musik
Melayu dikombinasikan dengan aliran musik rock, pop, dan irama lain.
Hasil yang diciptakan adalah irama dangdut. Semenjak masa itu,
istilah dangdut semakin populer di Indonesia. Lagu-lagu yang
diciptakan Rhoma Irama tidak sekedar menampilkan keindahan. Liriklirik yang bermakna dakwah merupakan isi lagu-lagunya. Beberapa
nama dari masa 1970-an yang dapat disebut adalah Mansyur S., Ida
Laila, A. Rafiq, serta Muchsin Alatas. Populernya musik Melayu dapat
dilihat dari keluarnya beberapa album pop Melayu oleh kelompok
musik
pop
Koes
Plus
di
masa
jayanya.

Era Musik Dangdut Setelah 1970-an mulai banyak sekali Musisi dan
seniman dangdut ini, dan musik ini mulai memasyarakat di semua
kalangan Rakyat Indonesia antara lain Hamdan ATT, Meggy
Zakaria,Vetty Vera, Nur Halimah, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Itje
Trisnawati, Evi Tamala, Dewi Persik, Kristina, Cici Paramida, Inul
Daratista
dan
banyak
Insan
Musik
dangdut
lainnya.
Aliran Musik Dangdut yang merupakan seni kontemporer terus
berkembang dan berkembang, pada awal mulanya Irama Dangdut
Identik dengan Seni Musik kalangan Kelas Bawah dan memang aliran
seni Musik Dangdut ini merupakan cerminan dari aspirasi dari kalangan
Masyarakat kelas bawah yang mempunyai ciri khas kelugasan dan
Kesederhaan
nya.
Karena sifat kontemporernya maka di awal tahun 1980 an Musik
dangdut berintaraksi dengan aliran Seni musik lainnya, yaitu dengan
masuknya aliran Musik Pop, Rock dan Disco atau House Musik. Selain
masuknya unsur seni Musik Modern Musik dangdut juga mulai
bersenyawa dengan irama musik tradisional seperti gamelan, Jaranan,
Jaipongan
dan
musik
tradisional
lainnya.
Pada paruh akhir dekade 1970-an juga berkembang variasi "dangdut
humor" yang dimotori oleh OM Pancaran Sinar Petromaks (PSP). Orkes
ini, yang berangkat dari gaya musik melayu deli, membantu diseminasi
dangdut di kalangan mahasiswa. Sub genre ini diteruskan, misalnya,
oleh OM Pengantar Minum Racun (PMR) dan oleh Orkes Pemuda
Harapan
Bangsa
(PHB).
Ketenaran musik dangdut semakin meningkat dengan terbentuknya
Grup Soneta di tahun 1973. Soneta merupakan grup atau orkes melayu
yang dipelopori oleh Rhoma Irama. Sound of Moslem dan Raja Dangdut
merupakan julukan yang diberikan masyarakat kepada Rhoma Irama
dan
grupnya.
Maka pada jaman 1990 mulailah era baru lagi yaitu Musik Dangdut
yang banyak dipengaruhi musik Tradisional yaitu Irama Gamelan yaitu
Kesenian Musik asli budaya jawa maka pada masa ini Musik Dangdut
mulai berasimilasi dengan Seni Gamelan, dan terbentuklah suatu
aliran musik baru yaitu Musik Dangdut Camputsari atau Dangdut
Campursari. Meski Musik dangdut yang lebih Original juga masih exist
pada
masa
tersebut.

Popularitas musik dangdut memicu tanggapan negatif dari pemusik


irama non dangdut. Musik dangdut dianggap sebagai musik
kampungan. Pemusik irama non dangdut memandang dangdut
sebagai musiknya kalangan bawah. Pandangan negatif tersebut tidak
menghentikan kreatifitas dan keinginan bermusik para musisi dangut.
Pada masa 1980-1990, bermunculan penyanyi-penyanyi dan musisi
dangdut yang berbakat dan mendapatkan penggemar sangat banyak.
Pada masa ini mulai terdapat upaya dari musisi dangdut untuk
membawa dangdut ke arah yang lebih terhormat. Evie Tamala
mendendangkan musik dangdut di Amerika Serikat. Ia membuat video
klip lagunya di negara tersebut. Stasiun televisi di Indonesia mulai
menampilkan
dangdut
sebagai
tayangannya.
Pada era tahun 2000 an seiring dengan kejenuhan Musik Dangdut yang
original maka diawal era ini Para musisi di wilayah Jawa Timur di
daerah pesisir Pantura mulai mengembangkan jenis Musik Dangdut
baru yaitu seni Musik Dangdut Koplo. Dangdut Koplo ini merupakan
mutasi dari Musik Dangdut setelah Era Dangdut Campursari yang
bertambah kental irama tradisionalnya dan dengan ditambah dengan
masuknya Unsur Seni Musik Kendang Kempul yang merupakan Seni
Musik dari daerah Banyuwangi Jawa Timur dan irama tradisional lainya
seperti Jaranan dan Gamelan. Dan berkat kreatifitas para Musisi
Dangdut Jawa Timuran inilah sampai saat ini Musik Dangduk Koplo
yang Identik dengan Gaya Jingkrak pada Goyangan Penyanyi dan
Musiknya ini saat ini sangat kondang dan banyak digandrungi segala
kalangan
masyarakat
Indonesia.
Pada era Musik Dangdut Koplo inilah mulai memacu tumbuhnya Group
Musik Dangdut yang lebih terkenal dengan sebutan OM atau Orkes
Melayu antara lain OM. Sera, OM. Monata, OM Palapa, OM New Palapa,
OM RGS dan OM yang lebih kecil lainya yang mengibarkan aliran Musik
Dangdut
Koplo
di
Nusantara
ini.
Musik dangdut terus mengalami perkembangan. Menjelang tahun
2000, muncul penyanyi dangdut yang sangat mendapatkan perhatian
masyarakat. Hal itu dikarenakan gerakan goyangnya melebihi gerakan
penyanyi lain, bahkan manusia normal. Gerakan berputar-putar dari
atas ke bawah merupakan ciri khas penyanyi tersebut. Inul Daratista
merupakan
pemilik
goyangan
maut
itu.
Kemunculan Inul Daratista sangat dikecam oleh kalangan agama.

Faktor moral dan norma merupakan alasannya. Tanggapan positif


diberikan oleh sebagian kalangan yanga memandangnya sebagai
suatu seni dan ekspresi diri. Perbedaan pendapat itu memicu
kontroversi dan semakin mempopulerkan nama Inul Daratista. Berawal
dari peristiwa itu, masyarakat kalangan atas mulai memperhatikan
musik
dangdut.
Pada masa 2000 an juga, musik dangdut tidak dapat dipandang lagi
sebagai musik kampungan. Berbagai peristiwa dan acara terhormat
mulai menampilkan musik dangdut. Tayangan utama di stasiun televisi
menampilkan musik dangdut. Kafe-kafe terkenal tidak segan
menampilkan
musik
dangdut.
Panggung
kampanye
partai
politik
juga
tidak
ketinggalan
memanfaatkan kepopuleran dangdut untuk menarik massa. Isu
dangdut sebagai alat politik juga menyeruak ketika Basofi Sudirman,
pada saat itu sebagai fungsionaris Golkar, menyanyi lagu dangdut.
Walaupun dangdut diasosiasikan dengan masyarakat bawah yang
miskin, bukan berarti dangdut hanya digemari kelas bawah. Di setiap
acara hiburan, dangdut dapat dipastikan turut serta meramaikan
situasi. Panggung dangdut dapat dengan mudah dijumpai di berbagai
tempat. Tempat hiburan dan diskotek yang khusus memutar lagu-lagu
dangdut banyak dijumpai di kota-kota besar. Stasiun radio siaran yang
menyatakan dirinya sebagai "radio dangdut" juga mudah ditemui di
berbagai
kota.
Dan saat ini Musik dangdut sudah menjangkau segala kalangan
Masyarakat dari kalangan kelas bawah samapai kalangan menengah
dan kelas ataspun sudah mulai ketagihan dengan Seni Musik Dangdut
ini. Hingga Musik dangdut pun sudah merambah di dunia Diskotik yang
sudah memutar Musik Dangdut sebagai Musik wajibnya, Dan sudah tak
asing lagi saat ini Banyak Stasiun Radio yang menamakan dirinya
sebagai Stasiun Radio Dangdut bahkan Stasiun Telivisi Dangdut
Indonesia, karena kecintaan masyarakat dengan Irama Musik dangdut
ini.
Maka tidak bisa dipungkiri Irama Musik dangdut ini bisa dibanggakan
menjadi Musik Asli Indonesia. Dan akhirnya Musik Asli Dangdut
Indoensia sudah merambah ke Dunia Internasional antara lain Musik
dangdut ini sudah masuk ke negara Jepang yang mulai gandrung
dengan Musik Dangdut ini yang menwa kebanggaan kita akan Musik

Dangdut

Musik

Rhoma

Irama

Asli

Indonesia

Revolusi

kita
Si

Raja

tercinta

ini.

Dangdut

Rhoma Irama adalah seorang revolusioner


dalam dunia musik Indonesia. Demikianlah komentar seorang sosiolog
AS dalam tesisnya berjudul Rhoma Irama and the Dangdut Style:
Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture, 1985. Komentar ini
tidaklah berlebihan mengingat "Raja Dangdut" yang mencanangkan
semboyan Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973 ini menjadi agen
pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam
musik melayu serta melakukan improvisasi atas syair, lirik, kostum dan
penampilan
di
atas
panggung.
Pengalamannya menyanyikan lagu-lagu India sewaktu masih sekolah
dasar, lagu-lagu pop dan rock Barat hingga akhir 1960-an lalu beralih
ke musik Melayu, menjadikan lagu dan musik yang dibawakannya di
atas
panggung
lebih
dinamis,
melodis
dan
menarik.
Kehidupannya tidak jauh dari terpaan gosip dan komentar pro dan
kontra terhadap berbagai sikap yang diambilnya. Katakan saja,
fenomena goyangan Inul yang dikecamnya dan dianggap tidak sesuai
dengan nilai-nilai agama. Bahkan belum lama ini, sekitar bulan Mei
2003 lalu, ia digosipkan menjalin hubungan "istimewa" dengan artis
dangdut, Lely Angraeni (Angel). Menanggapi hal itu, Sang Raja
Dangdut yang sudah puluhan tahun merajai belantara dunia artis tetap
tenang memberikan penjelasan kepada masyarakat perihal gosip
tersebut.
Pria "ningrat" kelahiran Tasikmalaya, 11 Desember 1946 ini merupakan

putra kedua dari empat belas bersaudara, delapan laki-laki dan enam
perempuan (delapan saudara kandung, empat saudara seibu dan dua
saudara
bawaan
dari
ayah
tirinya).
Ayahnya, Raden Burdah Anggawirya, seorang komandan gerilyawan
Garuda Putih, memberinya nama "Irama" karena bersimpati terhadap
grup sandiwara Irama Baru asal Jakarta yang pernah diundangnya
untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya. Sebelum pindah ke
Tasikmalaya, keluarganya tinggal di Jakarta dan di kota inilah
kakaknya,
Haji
Benny
Muharam
dilahirkan.
Setelah beberapa tahun tinggal di Tasikmalaya, keluarganya termasuk
kakaknya, Haji Benny Muharam, dan adik-adiknya, Handi dan Ance,
pindah lagi ke Jakarta lalu tinggal di Jalan Cicarawa, Bukit Duri,
kemudian pindah ke Bukit Duri Tanjakan. Di sinilah mereka
menghabiskan masa remaja sampai tahun 1971 lalu pindah lagi ke
Tebet.
Semenjak kecil Rhoma sudah terlihat bakat seninya. Tangisannya
terhenti setiap kali ibundanya, Tuti Juariah menyenandungkan lagulagu. Masuk kelas nol, ia sudah mulai menyukai lagu. Minatnya pada
lagu semakin besar ketika masuk sekolah dasar. Menginjak kelas 2 SD,
ia sudah bisa membawakan lagu-lagu Barat dan India dengan baik. Ia
suka menyanyikan lagu No Other Love, kesayangan ibunya, dan lagu
Mera Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Lata Maagiskar. Selain
itu, ia juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah yang dinyanyikan Umm
Kaltsum.
Bakat musiknya mungkin berasal dari ayahnya yang fasih memainkan
seruling dan menyanyikan lagu-lagu Cianjuran, sebuah kesenian khas
Sunda. Selain itu, pamannya yang bernama Arifin Ganda suka
mengajarinya lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih kecil.
Karena usia Rhoma dengan kakaknya Benny tidak berbeda jauh,
mereka selalu kompak dan pergi berdua-duaan. Berbeda dengan
kakaknya yang lebih sering malas ikut mengaji di surau atau rumah
kyai, Rhoma selalu mengikuti pengajian dengan tekun. Setiap kali ayah
ibunya bertanya apakah kakaknya ikut mengaji, Rhoma selalu
menjawab ya. Ke sekolahpun mereka berangkat bersama-sama.
Dengan berboncengan sepeda, keduanya berangkat dan pulang ke
sekolah
di
SD
Kibono,
Manggarai.

Di bangku SD, bakat menyanyi Rhoma semakin kelihatan. Rhoma


adalah murid yang paling rajin bila disuruh maju ke depan kelas untuk
menyanyi. Dan uniknya, Rhoma tidak sama dengan murid-murid lain
yang suka malu-malu di depan kelas. Rhoma menyanyi dengan suara
keras hingga terdengar sampai ke kelas-kelas lain. Perhatian muridmurid semakin besar karena Rhoma tidak menyanyikan lagu anakanak
atau
lagu
kebangsaan,
melainkan
lagu-lagu
India.
Bakatnya sebagai penyanyi mendapat perhatian penyanyi senior, Bing
Slamet karena melihat penampilan Rhoma yang mengesankan ketika
menyanyikan sebuah lagu Barat dalam acara pesta di sekolahnya.
Suatu hari ketika Rhoma masih duduk di kelas 4, Bing membawanya
tampil dalam sebuah show di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api)
di Manggarai. Ini merupakan pengalaman yang membanggakan bagi
Rhoma.
Sejak itu, meski belum berpikir untuk menjadi penyanyi, Rhoma sudah
tidak terpisahkan lagi dari musik. Dengan usaha sendiri, ia belajar
memainkan gitar hingga mahir. Karena saking tergila-gilanya dengan
gitar, Rhoma sering membuat ibunya marah besar. Setiap kali ia
pulang sekolah, yang pertama dia cari adalah gitar. Begitu pula setiap
kali
ia
keluar
rumah,
gitar
hampir
selalu
ia
bawa.
Pernah suatu kali, ibunya menyuruh Rhoma menjaga adiknya, tetapi
Rhoma lebih suka memilih bermain gitar. Akibat ulahnya itu, ibunya
merampas gitarnya lalu melemparkannya ke arah pohon jambu hingga
pecah. Kejadian itu membuat sedih Rhoma karena gitar adalah teman
nomor
satu
baginya.
Dalam perkembangannya dalam mendalami musik, Rhoma mulai
menyadari bahwa meskipun ayah dan ibunya - pasangan berdarah
ningrat - adalah penggemar musik, mereka tetap menganggap dunia
musik bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau dijadikan
sebuah profesi. Ibunya sering meneriakkan "berisik" setiap kali ia
menyanyi dan beranggapan bahwa musik akan menghambat
sekolahnya. Kenyataan ini membuat bakat musik Rhoma justru
semakin berkembang dari luar rumah karena di dalam rumah ia kurang
mendapat
dukungan.
Sewaktu Rhoma masih kelas 5 SD tahun 1958, ayahnya meninggal
dunia. Sang ayah meninggalkan delapan anak, yaitu, Benny, Rhoma,
Handi, Ance, Dedi, Eni, Herry, dan Yayang. Ketika kakaknya, Benny

masih duduk di kelas 1 SMP, ibunya menikah lagi dengan seorang


perwira ABRI, Raden Soma Wijaya, yang masih ada hubungan famili
dan juga berdarah ningrat. Ayah tirinya ini membawa dua anak dari
istrinya yang terdahulu dan setelah menikah dengan Ibu Rhoma, sang
ibu
melahirkan
dua
anak
lagi.
Ketika ayah kandungnya masih hidup, suasana di rumahnya feodal.
Sehari-hari ayah dan ibunya berbicara dengan bahasa Belanda.
Segalanya harus serba teratur dan menggunakan tata krama tertentu.
Para pembantu harus memanggil anak-anak dengan sebutan Den
(raden). Anak-anak harus tidur siang dan makan bersama-sama.
Ayahnya juga tak segan-segan menghukum mereka dengan pukulan
jika dianggap melakukan kesalahan, misalnya bermain hujan atau
membolos
sekolah.
Keadaan keluarga Rhoma di Tebet waktu itu memang tergolong cukup
kaya bila dibandingkan dengan masyarakat sekitar. Rumahnya
mentereng dan mereka memiliki beberapa mobil seperti Impala, mobil
yang tergolong mewah di zaman itu. Rhoma juga selalu berpakaian
bagus
dan
mahal.
Namun, suasana feodal itu tidak lagi kental setelah ayah tiri-nya hadir
di tengah-tengah keluarga mereka. Bahkan dari ayah tiri inilah, di
samping pamannya, Rhoma mendapat 'angin' untuk menyalurkan
bakat musiknya. Secara bertahap ayah tirinya membelikan alat-alat
musik
akustik
berupa
gitar,
bongo,
dan
sebagainya.
Dunia Rhoma di masa kanak-kanak rupanya bukan hanya dunia musik.
Rhoma juga suka adu jotos dengan anak-anak lain. Lingkungan
pergaulannya ketika itu tergolong keras. Anak-anak saat itu cenderung
mengelompok dalam geng, dan satu geng dengan geng lainnya saling
bermusuhan, atau setidaknya saling bersaing. Dengan demikian,
perkelahian
antar
geng
sering
tak
terhindarkan.
Di Bukitduri tempat tinggalnya, hampir setiap kampung di daerah itu
terdapat geng (kelompok anak muda). Di Bukitduri ada BBC (Bukit Duri
Boys Club), di Kenari ada Kenari Boys, Cobra Boys, dan sebagainya.
Dari Bukitduri Puteran, dan dari Manggarai banyak anak muda yang
bergabung dengan Geng Cobra. Geng-geng ini saling bermusuhan
sehingga keributan selalu hampir terjadi setiap kali mereka bertemu.
Satu hal yang cukup menonjol pada diri Rhoma adalah teman-

temannya hampir selalu menjadikan Rhoma sebagai pemimpin. Tentu


saja, bila gengnya bentrok dengan geng lain, Rhomalah yang
diharapkan tampil paling depan, untuk berkelahi. Meskipun pernah
menang beberapa kali, Rhoma juga sering mengalami babak belur,
bahkan pernah luka cukup parah karena dikeroyok 15 anak di daerah
Megaria.
Ketika ia masuk SMP, tempat-tempat berlatih silat semakin marak.
Tetapi, bagi Rhoma, ilmu bela diri nasional ini tidaklah asing, karena
sejak kecil ia sudah mendapat latihan dari ayahnya dan beberapa guru
silat lainnya. Rhoma pernah belajar silat Cingkrik (paduan silat Betawi
dan Cimande) pada Pak Rohimin di Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Rhoma
juga pernah belajar silat Sigundel di Jalan talang, selain beberapa ilmu
silat yang lain. Bila terjadi perkelahian antar geng, para anggota geng
saling
menjajal
ilmu
silat
yang
telah
mereka
pelajari.
Karena kebandelannya itulah maka Rhoma beberapa kali harus tinggal
kelas, sehingga karena malu maka ia acapkali berpindah sekolah. Kelas
Tiga SMP dijalaninya di Medan. Ketika itu ia dititipkan di rumah
pamannya. Tapi, tak berapa lama kemudian ia sudah pindah lagi ke
SMP
Negeri
XV
Jakarta.
Kenakalan Rhoma terus berlanjut hingga bangku SMA. Sewaktu
bersekolah di SMA Negeri VIII Jakarta, ia pernah kabur dari kelas lewat
jendela karena ingin bermain musik dengan teman-temannya yang
sudah menunggunya di luar. Kegandrungannya pada musik dan
berkelahi di luar dan dalam sekolah membuatnya acapkali keluar
masuk sekolah SMA. Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah
tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, St Joseph di Solo, dan
akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta, tak jauh dari
rumahnya.
Di masa SMA lah Rhoma sempat melewati masa-masa sangat pahit. Ia
terpaksa menjadi pengamen di jalanan Kota Solo. Di sana dia
ditampung di rumah seorang pengamen bernama Mas Gito.
Sebenarnya, sebelum "terdampar" di Solo, ia berniat hendak belajar
agama di Pesantren Tebuireng Jombang. Namun, karena tidak membeli
karcis, Rhoma, Benny kakaknya, dan tiga orang temannya, Daeng,
Umar, dan Haris harus main kucing-kucingan dengan kondektur selama
dalam perjalanan. Daripada terus gelisah karena takut ketahuan lalu
diturunkan di tempat sepi, mereka akhirnya memilih turun di Stasiun
Tugu Jogja. Dari Jogja, mereka naik kereta lagi menuju Solo.

Di Solo, Rhoma melanjutkan sekolahnya di SMA St. Joseph. Biaya


sekolah diperolehnya dari mengamen dan menjual beberapa potong
pakaian yang dibawanya dari Jakarta. Namun, karena di Solo
sekolahnya tidak lulus, Rhoma harus pulang ke Jakarta dan
melanjutkan sekolah di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus tahun
1964. Ia kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Sosial Politik
Universitas 17 Agustus, tapi hanya bertahan satu tahun karena
ketertarikan Rhoma kepada dunia musik sudah terlampau besar.
Pada tahun tujuh puluhan, Rhoma sudah menjadi penyanyi dan musisi
ternama setelah jatuh bangun dalam mendirikan band musik, mulai
dari band Gayhand tahun 1963. Tak lama kemudian, ia pindah masuk
Orkes Chandra Leka, sampai akhirnya membentuk band sendiri
bernama Soneta yang sejak 13 Oktober 1973 mulai berkibar. Bersama
grup Soneta yang dipimpinnya, Rhoma tercatat pernah memperoleh 11
Golden
Record
dari
kaset-kasetnya.
Tahun 1972, ia menikahi Veronica yang kemudian memberinya tiga
orang anak, Debby (31), Fikri (27) dan Romy (26). Tetapi sayang,
Rhoma akhirnya bercerai dengan Veronica bulan Mei 1985 setelah
sekitar setahun sebelumnya Rhoma menikahi Ricca Rachim - partnernya dalam beberapa film seperti Melodi Cinta, Badai di Awal Bahagia,
Camellia, Cinta Segitiga, Melodi Cinta, Pengabdian, Pengorbanan, dan
Satria Bergitar. Hingga sekarang, Ricca tetap mendampingi Rhoma
sebagai
istri.
Kesuksesannya di dunia musik dan dunia seni peran membuat Rhoma
sempat mendirikan perusahaan film Rhoma Irama Film Production yang
berhasil memproduksi film, di antaranya Perjuangan dan Doa (1980)
serta
Cinta
Kembar
(1984).
Kini, Rhoma yang biasa dipanggil Pak Haji ini, banyak mengisi
waktunya dengan berdakwah baik lewat musik maupun ceramahceramah di televisi hingga ke penjuru nusantara. Dengan semangat
dan gaya khasnya, Rhoma yang menjadikan grup Soneta sebagai
Sound
of
Moslem
terus
giat
meluaskan
syiar
agama.
Fenomena

"

Musik

Dangdut

"

Penyebutan nama "dangdut" diambil dari suara permainan tabla (lebih


dikenal sebagai gendang) yang didominasi oleh bunyi "dang" dan

"ndut". Sebuah artikel majalah pada awal 1970-an menyebut kata ini
terhadap bentuk suatu musik melayu yang sangat populer di kalangan
masyarakat
kelas
pekerja
saat
itu.
Makanya, musik dangdut dikenal sebagai musik kelas bawah. Musik
dangdut sendiri mulai dikenal pada tahun 1940-an. Selayaknya budaya
masyarakat Indonesia yang menerima pengaruh-pengaruh asing untuk
mempertinggi khasanah peradabannya, begitu juga dengan musik
dangdut. Berturut-turut unsur musik India (alunan penggunaan tabla),
unsur musik arab (cengkok dan harmonisasi), dan unsur musik barat
(penggunaan gitar listrik), menjadikan musik dangdut matang sejak
awal tahun 1970-an.Sebagai musik populer, dangdut sangat terbuka
terhadap pengaruh bentuk musik lain, mulai dari keroncong, langgam,
degung,
gambus,
rock,
pop,
bahkan
house
music.
Pada akhirnya, adalah kenyataan bahwa musik dangdut bisa dihasilkan
dari musik apapun. Ini merupakan kelebihan karena dangdut bisa
dimainkan dimanapun dan kapanpun. Misalnya lagu Aku Tak Biasa
yang dipopulerkan oleh Alda dengan genre pop, dapat diolah kembali
menjadi musik dengan genre dangdut yang tidak kalah asyik. Bahkan
Leaving On A Jet Plane milik John Denver-pun akan menjadi empuk di
telinga
bila
diramu
kembali
melalui
genre
dangdut.
Namun kelebihan ini sekaligus adalah kerugian besar untuk musik
dangdut, karena musik dangdut akan dicitrakan bukan sebagai musik
kreatif dan original karena cukup dengan mengganti aransemennya
saja sebuah lagu bisa diubah menjadi lagu dangdut. Dengan kenyataan
ini maka tak ayal lagi musik dangdut hanya akan dilirik sebelah mata
oleh
kalangan
seniman
musik.
Posisi dilematis di atas dirobohkan oleh pretensi bahwa konser dangdut
tidaklah sah bila tidak diiringi oleh tarian seronok para penyanyinya.
Seronok berasal dari kata onok yang diberi imbuhan ser- (alah gak
penting). Sebagai salah satu genre "MUSIK", dangdut lebih
mengutamakan tontonan visual daripada sajian audio. Misalnya Aura
Kasih dengan video klip yang kelewat vulgar sampai-sampai dicekal
dan terpaksa membuat ulang video klip untuk lagu yang sama (ini pun
masih
vulgar).
Untuk itu menjadi penyanyi dangdut tidak cukup hanya dengan suara
merdu, tapi juga harus memiliki tubuh yang erotis. Sebenarnya hal ini
bisa menjadi kelebihan musik dangdut dibandingkan genre musik

lainnya, karena seorang penyanyi musik dangdut dituntut menjaga


kondisi
fisiknya.
Tetapi sayang beberapa selebritis nasional merusak peluang ini dengan
memaksakan diri menjadi penyanyi dangdut padahal kualitas suaranya
pas-pasan, padahal sense of dut-nya masih kurang. Jadinya malah
memperkuat anggapan bahwa "musik" dangdut lebih memanjakan
mata
penontonnya
daripada
telinga.
Anggapan bahwa dangdut adalah musik kelas bawah juga dikuatkan
oleh
kenyataan
bahwa
musik
dangdut
lambat
dalam
perkembangannya. Lagu-lagu yang digunakan dalam konser dangdut
adalah lagu yang itu-itu saja. Didominasi oleh lagu-lagu ciptaan
seniman dangdut generasi tua, atau lagu-lagu popular dari genre
lainnya yang di-"dangdut"-kan. Hanya sedikit lagu-lagu baru yang
sejak awal populer dari genre dangdut. Gejala ini jika tidak segera
diantisipasi oleh musisi dangdut, selamanya musik dangdut akan
menjadi musik kelas bawah, atau akan melayang tinggi menjadi
tembang
kenangan,
hilang.
Inul

"

Titik

Balik

Musik

Dangdut

Modern

"

Dangdut sebagai salah satu jenis


musik memiliki keunikan tersendiri. Iramanya sanggup membuat
semua orang berjoget tanpa perlu aturan tertentu untuk
menikmatinya. Lirik-lirik dangdut penuh dengan nada ratapan nasib,
kekecewaan, kekesalan, kebencian, harapan, tangisan dan cinta
terhadap sesuatu. Karena itu dangdut identik dengan musik yang
cengeng, norak dan kampungan. Musik dangdut juga milik mereka
yang kampungan dan yang kampungan itu adalah kaum pinggir/rakyat
miskin.
Adalah Televisi Pendidikan Indonesia atau disingkat dengan TPI yang
pertama kali menyiarkan acara musik dangdut. Acara yang

ditayangkan pada siang hari, berdurasi satu jam merupakan acara


khusus musik dangdut. Target penonton adalah para pecinta musik
dangdut yang tersebar di pelosok-pelosok desa. Tahun 1995-an
Indosiar salah satu tv swasta membuat program musik "Dangdut on
The Campus" yang diputar pada hari Minggu pukul 10 pagi. Tayangan
ini mengupas tentang pendapat para mahasiswa (dapat dibaca "jajak
pendapat") tentang musik dangdut dan mahasiswa diminta untuk ikut
bergoyang dangdut. Acara ini nampaknya cukup sukses dan diikuti
terus oleh kalangan mahasiswa sekaligus membuktikan bahwa tidak
semua
mahasiswa
alergi
terhadap
musik
dangdut.
Tidak mau ketinggalan dengan televisi yang lain, SCTV membuat
program "Sik, Asyik.." acara khusus musik dangdut. RCTI dengan
"JOGED"-nya dan LATIVI pendatang baru dipertelevisian menggelar
langsung musik dangdut yang dikemas dalam "Kawasan Dangdut".
Demikian juga dengan tv-tv lain berlomba-lomba menyajikan musik
dangdut.
Musik dangdut di tv dikemas begitu rupa, dari penampilan
penyanyinya dengaan baju "sopan" dan tertutup, goyangan yang
dibatasi, dan membuang syair-syair yang erotis. Semua ini dilakukan
untuk menghilangkan kesan, kalau dangdut itu musik erotis dan
merusak moral. Secara tidak langsung ini adalah usaha agar dangdut
bisa
diterima
oleh
semua
lapisan
masyarakat.
Sosialisasi musik dangdut lewat layar kaca nampaknya cukup berhasil,
buktinya musik dangdut diterima oleh mahasiswa, musik dangdut
diputar di kafe-kafe milik kaum elit, para pecinta musik klasik, jazz,
rock dan lagu-lagu pop lainnya mau mendengar lirik-lirik dangdut.
Sebagian dari artis (semula artis pop) bersedia menyanyikan lagu-lagu
dangdut. Bahkan gubernur Jatim Basofi Sudirman kala itu, dikenal
sebagai "penyanyi dangdut" dengan lagu hit-nya "Tidak Semua LakiLaki". Contoh kongkrit lain adalah Obbie Mesakh pencipta lagu-lagu
pop berputar haluan mencipta lagu dangdut. Dengan demikian usaha
"menjadikan dangdut sebagai musik semua lapisan masyarakat" lewat
televisi
terbukti
sangat
ampuh.
Goyang

"Ngebor"

Inul

Bagian

Dari

Dangdut

Pinggiran

Rileks.Com adalah portal hiburan yang pertama kali menulis tentang


goyang "ngebor" Inul. dalam kupasannya diperoleh informasi bahwa
Inul sudah lama berkarir didunia hiburan, selama itu ia menghibur

masyarakat pada banyak acara seperti perkawinan dan sebagainya.


Karena goyang "ngebor"-nya yang terkenal, Inul sudah sampai ke luar
negeri. Kemudian dalam waktu yang relatif singkat, berita tentang
goyang "ngebor" Inul menghiasi media-media yang ada di negeri ini.
Hampir di setiap warung makan, di perkantoran, kampus dan tempat
umum lainnya membicarakan tentang Inul. Di kalangan artis sendiri,
muncul pendapat yang pro-kontra tentang artis "baru" Inul Daratista.
Kritikan Rhoma senada dengan beberapa tokoh agama yang
mengkritik goyang Inul adalah goyang ranjang pengundang nafsu
birahi. Nada-nada minor terhadap Inul datang secara beruntun, sikap
pro dan kontra ditunjukan secara terbuka. Semua memperlihatkan
adanya rasa iri,cemburu dan takut tersaingi. Inul dilihat sebagai
"ancaman" dalam meraih keuntungan di bisnis hiburan. Karena Inul
sanggup menurunkan popularitas artis-artis papan atas, dalam waktu
yang
pendek.
Gaya Inul yang norak, goyangan yang hot, suara yang pas-pasan
ternyata sanggup menyedot perhatian masyarakat. Sebagian besar
masyarakat antusias menyambut kehadiran Inul dan goyang Inul
dinantikan oleh kita semua. Diakui atau tidak dan disadari atau tidak,
kita menerima musik dangdut yang kampungan itu lewat kehadiran
Inul. Karena musik dan goyangan yang ditawarkan Inul adalah bagian
dari
musik
dangdut
pinggiran.
Pada hakekatnya dangdut adalah milik mereka yang termarjinalkan.
Meminjam istilah Rhoma dangdut adalah milik kaum comberan.
Sebagai haji dan seniman dangdut, Rhoma sangat meremehkan
penggemarnyaa dengan label comberan. Seperti dikutip oleh PK edisi
Minggu 27 April, "citra dangdut yang dibangun oleh seniman kembali
terperosok masuk comberan". Inul dituding telah merusak citra
dangdut yang susah payah dibangun agar masuk kalangan elit. Rhoma
begitu emosi karena ia dan kelompoknya merasa berjasa dalam
memboyong
dangdut
comberan
ke
papan
atas.
Fenomena Inul adalah titik balik dangdut yang "disopankan"Apa yang
dilakukan Rhoma dan seniman dangdut lain untuk mengangkat derajat
dan citra dangdut tidaklah salah. Tapi jangan lupa bahwa dangdut juga
milik mereka yang comberan. Ketika dangdut "disopankan" oleh
sebagian seniman, pada saat yang sama dangdut comberan tetap
berlangsung dalam masyarakat. Nampaknya kesenian "comberan"
(penulis tidak cocok dengan kata ini karena terlalu merendahkan dan

kasar) ini tidak akan mati bahkan sebaliknya ia akan tetap hidup. Inul
hanyalah satu contoh wajah dangdut pinggiran yang muncul
kepermukaan, disaat musik dangdut terhanyut dalam keelitannya.
Masih banyak seniman dangdut yang lebih parah dari Inul, hanya saja
keberuntungan
sedang
berpihak
pada
Inul.
Goyang "bor" Inul sedang "mengingatkan" musik dangdut yang terlena
dengan "kemodernannya", untuk kembali pada ciri khas dangdut
pinggiran. Fenomena Inul hendak mengatakan inilah musik dangdut
asli, yang cengeng, norak dan kampung. Musik dangdut adalah selera
dan milik kaum marjinal, musik yang sanggup menghibur wong cilik,
masyarakat lapisan paling bawah dan paling banyak penghuninya.
Mungkin sudah saatnya dangdut harus kembali keselera asal, Inul
hendak mengajak kita semua untuk menengok kembali asal muasal
"negeri
musik
dangdut".
Orang bijak mengatakan bahwa roda selalu berputar, ada kalanya
manusia atau sesuatu duduk diposisi puncak, satu saat nanti berada
dibawah. Demikian halnya dengan musik, rambut dan mode atau baju.
Tidak ada sesuatu yang baru, karena yang baru sebenarnya adalah
yang lama diputar kembali. Begitu juga dengan fenomena Inul, ia
adalah titik balik dari dangdut yang dimodernkan. Jadi mengapa
dicerca dan dimaki? Marilah kita jujur ketika mencaci kita juga
sebenarnya
menikmati.

Fenomena

Saweran

Dalam

Musik

Dangdut

Perkembangan kesenian dewasa ini sangat pesat apalagi pada seni


musik. Mungkin karena orang-orang sudah lelah di "cekoki" oleh beritaberita politik negeri ini yang tidak menentu dan membuat sakit kepala.
Untuk itu mereka mengalihkan perhatiannya pada bidang lain yaitu
bidang seni. Seperti kita ketahui seni itu merupakan jiwa dari manusia
karena pada dasarnya setiap manusia mempunyai rasa keindahan.
Oleh sebab itu manusia selalu ingin tahu tentang seni dan selalu ingin
menikmatinya.
Kesenian itu sendiri merupakan hasil dari rasa dan karsa dan cipta
manusia yang memiliki estetika, bahkan kadang-kadang seni bisa
mengubah identitas manusia dan membuat perubahan-perubahan

yang sangat besar dalam suatu peradaban manusia. Suatu kesenian


merupakan bagian dari kebudayaan oleh karena itu manusia yang
berkesenian
tentu
saja
manusia
yang
berbudaya.
Pada saat sekarang ini banyak kesenian-kesenian yang berkembang
seiring perubahan waktu. Saat ini terbilang kesenian itu bisa berupa
seni musik, seni tari, seni drama dan seni rupa. Karena bilangan seni
yang ada itu tentu saja kita tidak melihat seni keseluruhannya hanya
membatasi pada seni musik. Seni musik ini pun ada berbagai macam
yaitu: seni musik tradisional, seni musik pop, rock, R & BN, dan musik
dangdut.
Tidak ada yang tahu asal mulanya musik dangdut, ada sebagian
kalangan bilang bahwa musik dangdut berasal dari India, tetapi ada
sebagian juga bilang bahwa musik dangdut itu musik asli Indonesia
yaitu berasal dari musik Melayu Deli. Dalam musik dangdut itu ada
suatu budaya yang sangat identik dengan dangdut yaitu "saweran".
Saweran berasal dari bahasa Sunda yaitu "sawer" yang artinya
melempar uang biasanya dilakukan pada saat upacara kebesaran
tradisional seperti, sunatan, kawinan dan sebagainya. Di dalam musik
dangdut dari pendengar musik dangdut atau pengunjung dari
pergelaran dangdut itu. Di sini dapat dilihat mengapa saweran dalam
musik dangdut cukup menarik? Karena kita tahu bahwa untuk jenis
musik lain tidak ada istilah saweran apalagi uang tip yang kadang bisa
melebihi bayaran dari biduanita itu sendiri dan Indonesia banyak
group-group dangdut yang selalu mengandalkan saweran dalam setiap
pertunjukan
panggung
grup-grup
tersebut.
Kita ketahui bahwa grup-grup musik khususnya musik dangdut itu
identik dengan saweran karena mereka harus menjalani suatu
kesinambungan untuk kelangsungan hidup para anggota grup itu
sendiri. Sebenarnya kondisi saweran itu yang menyebabkan seniman
musik dangdut itu merupakan musiknya orang pinggiran atau suatu
seni musik yang indah dan lebih terbuka lagi bagi masyarakat
kalangan
manapun.
Sebenarnya saweran itu sudah merupakan suatu pelanggaran dari
estetika kesenian, karena dengan saweran di dalam musik dangdut
dapat terjadi perubahan dari keaslian/originalitas (pure art) musik
dangdut sendiri, dengan mengganti lirik lagu dangdut dengan lirik
yang dibuat sendiri oleh biduantita dangdut itu dan biasanya lagu

dangdut itu sudah jauh dari aslinya kalau sudah menghadapi para
penyawer yang notabenenya ingin "kesohor" atau populer. Ada
pepatah mengatakan biar tekor asal kesohor. Mungkin ini banyak yang
menjadi alasan para penyawer di panggung-panggung dangdut
hiburan kita. Ada yang beralasan rela menghamburkan uang untuk
sekedar menyawer bukan hanya ingin kesohor, melainkan mencari
kepuasan batin semata. Memang sungguh fenomenal "saweran" dalam
musik
dangdut
kita.
Tapi disatu pihak saweran tersebut sangat berarti bagi kelangsungan
hidup grup-grup musik dangdut. Karena grup-grup musik dangdut
papan bawah yang bayarannya per grup masih jauh di bawah standar
tentu memerlukan tambahan karena itu saweran di sini sangatlah
diperlukan walaupun saweran itu merusak dari keindahan suatu
kesenian
musik
itu.
Untuk grup-grup musik dangdut papan atas dan penyanyi dangdut
papan atas, saweran memang tidak diperlukan untuk mereka karena
biasanya bayaran per grup mereka sudah melebihi standar hidup
mereka. Karena itulah saweran diperlukan oleh pemusik dan penyanyi
sebagai
tambahan
penghasilan
mereka.
Seorang biduantita biasanya lebih banyak mendapat hasil dari saweran
itu daripada bayarannya di panggung musik dangdut, karena itu
menurut beberapa biduanita saweran itu merupakan seni dari musik
dangdut itu sendiri. Tanpa saweran, itu bukan musik dangdut.
Sebenarnya kalau kita membanding dari sudut etika, benar atau salah
saweran itu sudah melanggar suatu etika kesenian karena kesenian itu
harus benar-benar murni tanpa ada tambahan atau embel-embel
apapun, tapi seperti yang sudah diuraikan di atas bahwa saweran itu
perlu untuk kelangsungan hidup para pemusik dan penyanyi dangdut,
karena itu disini etika dikesampingkan walaupun sebenarnya saweran
itu
melanggar
etika.
Kalau dilihat dari sudut estetika sebenarnya saweran itu sudah
merubah suatu keindahan seni itu. Suatu keindahan itu sudah keluar
dari jalur yang ditetapkan oleh perasaan bahwa seni bisa dilihat
keindahannya kalau seni itu suatu seni yang murni/pure art.
Dapat disimpulkan bahwa suatu estetika seni bersifat relatif
tergantung dari sudut mana si penikmat seni melihatnya. Jadi
pelanggaran suatu etika dalam kesenian khusunya estetika dari seni

musik dangdut itu ada tapi pelanggaran itu juga merupakan suatu
keindahan dan seni musik dangdut itu sendiri. Bahwa saweran itu tidak
melanggar suatu estetika seni melainkan saweran itu menambah
keindahan dari seni itu sendiri, apalagi seni musik dangdut yang
merupakan seni musik asli Indonesia. Untuk itu kita harus selalu
menjaga keindahan budaya khususnya seni musik untuk memperkaya
rasa
keindahan
di
dalam
hati
kita.
Dangdut merupakan salah satu jenis musik yang populer di Indonesia.
Banyak pedangdut yang bersuara emas dan membawakan lagu secara
santun. Namun, banyak pula pedangdut yang sebaliknya. Mereka
menyanyi dangdut dengan goyangan erotis. Berikut ini beberapa
contoh fenomena dangdut erotis yang menghebohkan sekaligus
memalukan.
Dangdut akhir zaman merupakan sebuah pagelaran musik dandut
yang didalamnya menyajikan tarian erotis. Tarian erotis itu dibawakan
oleh sang penyanyi wanita cantik sambil menyanyikan lagu-lagu
dangdut yang biasa kita lihat di televisi. Padahal yang menonton
dangdut erotis ini tidak hanya dari kalangan dewasa saja akan tetapi
anak-anak dibawah umur pun ada disana menonton dangdut erotis ini.
Bisa dibayangkan jika goyangan dangdut erotis ini dibiarkan begitu
saja ada dikalangan masyarakat kita, bisa jadi 10 tahun yang akan
datang bangsa ini tidak lagi memiliki moral yang baik. Buktinya, dulu
kita tidak mengenal yang namanya dangdut erotis dan goyangan
dangdut erotis yang lainnya. Tapi, setelah goyang ngebor yang
diciptakan pertama kali oleh Inul Dratista, maka bermunculanlah
berbagai macam goyangan dangdut erotis yang lainnya. Sampai yang
sekarang
disebut
dengan
Dangdut
Akhir
Zaman.

Dangdut adalah aliran musik yang sudah tidak asing bagi masyarakat
Indonesia, Dangdut adalah musik yang sangat Merakyat bagi bangsa
Indonesia sejak jaman berdirinya negara Indonesia. Musik Dangdut berakar
dari Musik Melayu yang mulai berkembang pada tahun 1940 an. Irama
melayu sangat kental dengan unsur aliran musik dari India dan gabungan
dengan irama musik dari arab. Unsur Tabuhan Gendang yang merupakan
bagian unsur dari Musik India digabungkan dengan Unsur Cengkok Penyanyi
dan harmonisasi dengan irama musiknya merupakan suatu ciri khas dari
Irama Melayu merupakan awal dari mutasi dari Irama Melayu ke Dangdut.

Seiring dengan perkembangan Politik dan Budaya Bangsa Indonesia Musik


Melayu juga ikut berkembang seiring dengan perkembangan Jaman, Irama
melayu menjadi suatu aliran musik kontemporer, yaitu suatu cabang seni
yang
terpengaruh
dampak
modernisasi.
Pada tahun 1960 an Musik melayu mulai dipengaruhi oleh banyak unsur
mulai dari gambus, degung, keroncong, langgam. Dan mulai jaman ini lah
sebutan untuk Irama Melayu mulai berubah menjadi terkenal dengan
Sebutan Musik Dangdut. Sebutan Dangdut ini merupakan Onomatope atau
sebutan yang sesuai dengan bunyi suara bunyi, yaitu bunyi dari Bunyi alat
musik Tabla atau yang biasa disebut Gendang. Dan karena bunyi gendang
tersebut lebih didominasi dengan Bunyi Dang dan Dut, maka sejak itulah
Irama Melayu berubah sebutanya menjadi suatu aliran Musik baru yang lebih
terkenal dengan Irama Musik Dangdut.
Pada jaman era Pra 1970 an ini seniman dangdut yang terkenal antara
lain : M. Mashabi, Husein Bawafie, Hasnah Tahar, Munif Bahaswan,
Johana Satar, Ellya Kadam
Pada era 1970 merupakan jaman seniman dangdut dengan tokoh musisi
dangdut antara lain A. Rafiq, Reynold Panggabean, Rhoma Irama, Elvy
Sukaesih, Herlina Effendi, Mansyur S., Ida Laila, Mukhsin Alatas,
Camelia Malik.
Era Musik Dangdut Setelah 1970-an mulai banyak sekali Musisi dan
seniman danggdut ini , dan musik ini mulai memasyarakat di semua
kalangan Rakyat Indonesiaantara lain Hamdan ATT, Meggy Zakaria,Vetty

Vera, Nur Halimah, Iis Dahlia, Ikke Nurjanah, Itje Trisnawati, Evi
Tamala, Dewi Persik, Kristina, Cici Paramida, Inul Daratista dan
banyak Insan Musik dangdut lainnya.
Aliran Musik
Dangdut yang
merupakan
seni
kontemporer
terus
berkembang dan berkembang, pada awal mulanya Irama Dangdut Identik
dengan Seni Musik kalangan Kelas Bawah dan memang aliran seni Musik
Dangdut ini merupakan cerminan dari aspirasi dari kalangan Masyarakat
kelas bawah yang mempunyai ciri khas kelugasan dan Kesederhaan nya.
Karena sifat kontemporernya maka di awal tahun 1980 an Musik dangdut
berintaraksi dengan aliran Seni musik lainnya, yaitu dengan masuknya aliran
Musik Pop, Rock dan Disco atau House Musik. Selain masuknya unsur seni
Musik Modern Musik dangdut juga mulai bersenyawa dengan irama Musik
tradisional seperti gamelan, Jaranan, Jaipongan dan musik tradisional
lainnya.
Maka pada jaman 1990 mulailah era baru lagi yaitu Musik Dangdut yang
banyak
dipengaruhi
musik Tradisional yaitu Irama
Gamelan yaitu
Kesenian Musik asli budaya jawa maka pada masa ini Musik Dangdut mulai
berasimilasi dengan Seni Gamelan, dan terbentuklah suatu aliran musik
baru yaitu Musik Dangdut Camputsari atau Dangdut Campursari. Meski
Musik dangdut yang lebih Original juga masih exist pada masa tersebut.
Pada era tahun 2000 an seiring dengan kejenuhan Musik Dangdut yang
original maka diawal era ini Para musisi di wilayah Jawa Timur di daerah
pesisir Pantura mulai mengembangkan jenis Musik Dangdut baru yaitu
seni Musik Dangdut Koplo. Dangdut Koplo ini merupakan mutasi dari
Musik Dangdut setelah Era Dangdut Campursari yang bertambah
kental irama
tradisionalnya
dan
dengan
ditambah
dengan
masuknya Unsur Seni Musik Kendang Kempul yang merupakan Seni
Musik dari daerah Banyuwangi Jawa Timur dan irama tradisional lainya
seperti Jaranan dan Gamelan. Dan berkat kreatifitas para Musisi Dangdut
Jawa Timuran inilah sampai saat ini Musik Dangduk Koplo yang Identik
dengan Gaya Jingkrak pada Goyangan Penyanyi dan Musiknya ini saat
ini sangat kondang dan banyak digandrungi segala kalangan masyarakat
Indonesia.
Pada era Musik Dangdut Koplo inilah mulai memacu tumbuhnya Group
Musik Dangdut yang lebih terkenal dengan sebutan OM atau Orkes Melayu
antara lain OM. Sera , OM. Monata, OM Palapa , OM New Palapa, OM RGS
dan OM yang lebih kecil lainya yang mengibarkan aliran Musik Dangdut
Koplo di Nusantara ini.

Dan saat ini Musik dangdut sudah menjangkau segala kalangan Masyarakat
dari kalangan kelas bawah samapai kalangan menengah dan kelas ataspun
sudah mulai ketagihan dengan Seni Musik Dangdut ini. Hingga Musik
dangdut pun sudah merambah di dunia Diskotik yang sudah memutar Musik
Dangdut sebagai Musik wajibnya, Dan sudah tak asing lagi saat ini Banyak
Stasiun Radio yang menamakan dirinya sebagai Stasiun Radio
Dangdut bahkan Stasiun Telivisi Dangdut Indonesia, karena kecintaan
masayrakat dengan Irama Musik dangdut ini.
Maka tidak bisa dipungkiri Irama Musik dangdut ini bisa dibanggakan
menjadi Musik Asli Indonesia. Dan akhirnya Musik Asli Dangdut Indoensia
sudah merambah ke Dunia Internasional antara lain Musik dangdut ini sudah
masuk ke negara Jepang yang mulai gandrung dengan Musik Dangdut ini
yang menwa kebanggaan kita akan Musik DangdutMusik Asli
Indonesia kita tercinta ini.

Teknik Vokal
Teknik vokal adl cara memproduksi suara agar terdengar jelas, indah, merdu,
dan nyaring.
Hal2 yg perlu diperhartiin adl :
1. Artikulasi
Pengucapan setiap huruf hrs jelas dan benar.
Pengucapan huruf hidup A I U E O hrs dilakukan dengan membuka mulut lebar2
shg bunyi yg keluar tepat. Misal huruf A hrs benar2 berbunyi A, bukan HA atau

AH, huruf I bukan IH, huruf E bukan EK, dsb.


Sedang untuk pengucapan huruf mati / konsonan, harap diperhatikan
pengucapan hurup B, P, dan T. Jgn
melakukan penekanan berlebihan pada saat pengucapannya.
2. Solfegio / latihan sol-mi-fa-sol
Agar nada kita bisa pas dengan not yg dikehendaki maka hrs berlatih solfegio.
Hal ini dpt dilakukan dengan bantuan misalnya gitar. Petiklah not2 do re mi fa
sol dst, lalu tirukanlah nada tsb dgn suara km. Lalu balik ke do si la sol, dst,
tirukan jg. Lalu petik nada2 lain yg gak berurutan mis. do mi sol do, re fa la si,
dst. Lakukan ini dengan terus menerus dan dengan variasi pola nada yg
berganti2.
Latihan ini berguna untuk melatih kepekaan thd nada dan akurasi nada yg kamu
nyanyikan.
3.Pernafasan
Ada 3 macam pernafasan yakni :
Pernafasan dada, cirinya pada saat bernyanyi/ ambil nafas, dada terlihat
mengembang, cocok untuk nada2
rendah, penyanyi mudah lelah.
Pernafasan perut, tarik nafas, masukkan ke rongga perut hingga perut
mengembang. Kelemahan: nafas cepat
habis, shg jika kalimat dlm lagunya panjang maka pemenggalan kalimatnya
menjadi kurang pas.
Pernafasan Diafragma yakni pernafasan yang paling cocok digunakan untuk
menyanyi, karena udara yang
digunakan akan mudah diatur pemakaiannya, mempunyai power dan stabilitas
vocal yang baik.
Penyanyi dangdut harus dapat membuat cengkok suara masing-masing