Anda di halaman 1dari 5

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN ACTIVE LEARNING

TERHADAP MOTIVASI DAN PRESTASI BELAJAR BIOLOGI SISWA


PADA KONSEP SISTEM GERAK PADA MANUSIA
SMA NEGERI 1 CIAWIGEBANG
Oleh:
WINNA MAULANI
2006021127
Abstrak
Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran
active learning terhadap motivasi dan prestasi belajar biologi siswa pada konsep
sistem gerak pada manusia di SMA Negeri 1 Ciawigebang. Adapun metode yang
digunakan adalah metode eksperimen. Populasi yang digunakan adalah siswasiswi SMA Negeri 1 Ciawigebang kelas XI dengan sampelnya siswa kelas XI.IPA
3 sebanyak 38 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor angket
motivasi belajar siswa sebesar 122 dan standar deviasi 7,88. Sedangkan nilai ratarata prestasi belajar siswa sebesar 69 dan standar deviasi sebesar 12,14. Adapun
pengujian hipotesis diperoleh nilai Whitung sebesar 260 sedangkan W daftar 199,76,
maka Whitung > Wdaftar sehingga terima hipotesis artinya pembelajaran active
learning memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar siswa. selanjutnya
adalah pengujian hipotesis terhadap prestasi belajar diperoleh nilai Z sebesar -1,69
sedangkan nilai Z1/2 sebesar 2,33 maka Zhitung > -Z1/2 sehingga terima hipotesis
artinya pengajaran active learning memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar.
Hasil uji Rank Spearman diperoleh nilai rs = 0,045 sehingga hubungan motivasi
dengan prestasi belajar siswa sangat rendah. Karena nilai r s mendekati angka nol
maka motivasi dengan prestasi belajar dapat dikatakan tidak memiliki hubungan.
Sedangkan nilai thitung = 0,27 < t(36;0,05) = 1,690 maka hipotesis ditolak artinya
motivasi belajar dan prestasi belajar tidak memiliki hubungan. Sedangkan hasil uji
derajat pengaruh diperoleh nilai KD = 0,2% artinya motivasi mempengaruhi
prestasi belajar sebesar 0,2% sedangkan sisanya dipengaruhi faktor lain yang tidak
diteliti.
Pendahuluan
Model pembelajaran active learning adalah salah satu contoh model
pembelajaran yang dapat menciptakan suasana kelas menjadi aktif. Maksudnya
adalah selama proses pembelajaran berlangsung terjadi interaksi antara siswa
dengan siswa maupun siswa dengan guru melalui kegiatan Tanya jawab, diskusi
maupun kerja kelompok. Interaksi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
kognitif, afektif maupun psikomotor siswa (Hartono, 2008:1).
Motivasi belajar yang meningkatkan akan terwujud dalam kegiatan
pembelajaran yang sungguh-sungguh. Sehingga siswa akan menemukan
permasalahan yang dianggap menarik bagi dirinya. Sehingga siswa merasa
1

tertarik untuk mengenal, merasakan dan memiliki kehendak dalam bentuk hasrat
dan kemauan untuk lebih mendalami suatu permasalahan.
Konsep yang digunakan dalam penelitian ini adalah sistem gerak
manusia. Pada pembelajaran sistem gerak manusia dibutuhkan pemahaman siswa
terdapat konsep-konsep tentang sistem gerak sehingga siswa dapat memahami
tentang bagaimana manusia dapat menggerakkan tubuh dan bagaimana kelainan
yang disebabkan oleh gangguan sistem gerak. Melalui pembelajaran active
learning diharapkan siswa lebih aktif menggali, mencari informasi dan
mempelajari tentang sistem gerak manusia sehingga dapat meningkatkan
pemahaman siswa terhadap konsep tersebut.
Dengan demikian, jelaslah bahwa pembelajaran active learning dapat
menciptakan pembelajaran yang aktif dan kondusif sehingga siswa akan
termotivasi untuk belajar lebih sungguh-sungguh. Motivasi belajar yang tinggi
pada siswa tentu akan mempengaruhi terhadap daya tangkap siswa terhadap
materi yang disampaikan oleh guru. Sehingga pemahaman siswa terhadap konsep
sistem gerak manusia akan meningkat yang ditandai dengan pencapaian prestasi
belajar siswa yang tinggi.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperiment.
Penelitian dilaksanakan pada tanggal 1 15 Oktobel 2010 di SMA Negeri 1
Ciawigebang. Dengan populasi siswa-siswi kelas XI SMU Negeri 1 Ciawigebang
sedangkan sampelnya diambil sebanyak 1 kelas yaitu kelas XI.IPA 3 sebanyak 38.
Instrument yang digunakan adalah angket dan soal pilihan ganda. Adapun
untuk menguji kemampuan instrument dilakukan uji validitas, reliabilitas, tingkat
kesukaran dan daya beda. Sedangkan untuk menganalisis data digunakan uji
normalitas, uji Z, uji median dan uji rank spearman.
Pembahasan
Berdasarkan hasil uji tingkat kesukaran dan daya beda diperoleh bahwa
dari 40 soal yang dibuat diambil 35 soal dan 5 soal dibuang. Hal ini karena 5 soal
yang dibuang memiliki tingkat kesukaran mudah dan daya beda rendah. Jika soal
memiliki tingkat kesukaran mudah dan daya beda rendah maka soal tidak
digunakan dalam penelitian. 5 soal yang tidak digunakan dalam penelitian tersebut
adalah nomor 2, 7, 11, 20, dan 25.
Tabel 1. Hasil Uji Daya Beda
Tingkat Daya Beda
Nomor
soal

Rendah
2, 3, 5, 7, 8,
10, 11, 12,
13, 14, 15,
16, 17, 18,
19, 20, 21,
22, 23, 24,
25, 26, 27,
28, 29, 30,
31, 32, 33,
34, 35, 36,

Tingkat Kesukaran

Rendah
Tinggi
2, 7, 11,
6
20, dan
25

Sedang
Sedang
1, 3, 4, 5, 6, 1, 4, dan 9
8, 9, 10, 12,
13, 14, 15,
16, 17, 18,
21, 22, 23,
24, 26, 27,
28, 29, 30,
32, 33, 34,
35, 36, 37,
39, dan 40

37, 38, 39,


dan 40
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode active learning
memberikan pengaruh baik terhadap prestasi belajar siswa maupun terhadap
motivasi belajar. Nilai rata-rata prestasi belajar siswa sebesar 69 dengan nilai
terendah sebesar 40 dan tertinggi sebesar 89. Sedangkan nilai rata-rata motivasi
belajar siswa sebesar 123 berdasarkan hasil uji kriterium diperoleh nilai sebesar
82% maka motivasi berlajar termasuk dalam kategori tinggi.
Hasil uji z diperoleh bahwa z hitung > -ztabel, maka hipotesis diterima artinya
penerapan metode active learning memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar.
Peran serta siswa dalam proses pembelajaran sangat penting. Peran serta
siswa dapat berupa interaksi antara siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.
Oleh sebab itu, guru harus mampu meningkatkan interaksi belajar sehigga
pembelajaran akan lebih aktif dan efektif.
Pembelajaran active learning merupakan suatu strategi pembelajaran
sebagai upaya untuk meningkatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran
dengan cara mengoptimalkan segala potensi-potensi yang dimiliki oleh setiap
siswa. keaktifan siswa dalam pembelajaran tentu akan meningkatkan daya serap
siswa terhadap materi pelajaran sehingga prestasi belajar siswa akan meningkat.
Berdasarkan uraian tersebut, pembelajaran active learning diharapkan
dapat meningkatkan kemampuan kognitif yang dimiliki siswa. Peningkatan
kognitif siswa dilakukan dengan mengoptimalkan potensi-potensi yang dimiliki
siswa. Pengoptimalan potensi yang dimiliki siswa dilakukan dengan memberikan
kesempatan kepada siswa untuk lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan uji median, diperoleh nilai nilai Whitung > Wdaftar, maka terima
hipotesis. Artinya penerapan metode active learning memberikan pengaruh
terhadap motivasi belajar.
Pembelajaran active learning menciptakan pembelajaran yang aktif,
efektif dan kondusif. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap psikologis siswa.
Siswa akan merasa senang mengikuti pelajaran sehingga muncul suatu motivasi
untuk lebih aktif dalam belajar.
Materi pelajaran yang baru disediakan secara aktif dengan pengetahuan
yang sudah ada. Agar murid dapat belajar secara aktif guru perlu menciptakan
strategi yang tepat guna sedemikian rupa, sehingga peserta didik mempunyai
motivasi yang tinggi untuk belajar.
Pembelajaran active learning dapat menciptakan pembelajaran menjadi
aktif. Dalam pembelejaran tersebut terjadi suatu interaksi antara guru dengan
siswa maupun sesama siswa itu sendiri. Hal ini karena dalam pembelajaran zctive
learning seluruh siswa memperoleh kesempatan untuk mengeluarkan pendapat,
ide maupun masalah. Kemudian permasalahan tersebut dipecahkan secara
bersama sehingga menyebabkan siswa menjadi senang. Kondisi tersebut tentu
akan meningkatkan motivasi belajar siswa.
Hasil uji rank spearman diperoleh nilai rs = 0,045 maka menurut tafsiran
Guilford, hubungan antara motivasi belajar dan prestasi belajar adalah sangat
rendah. Karena nilai rs mendekati angka nol maka boleh dikatakan motivasi
dengan prestasi belajar tidak memiliki hubungan. Sedangkan hasil uji thitung = 0,27

< t(36;0,05) = 1,690 maka hipotesis ditolak artinya motivasi belajar tidak memiliki
hubungan dengan prestasi belajar. Hal ini sesuai dengan hasil uji derajat hubungan
diperoleh nilai KD hanya sebesar 0,2% artinya motivasi belajar mempengaruhi
prestasi belajar sebesar 0,2% sedangkan sisanya dipengaruhi oleh faktor lain yang
tidak diteliti. Nilai ini sangat kecil mendekati angka nol sehingga boleh dikatakan
motivasi belajar tidak memberikan pengaruh terhadap prestasi belajar.
Motivasi belajar bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi prestasi
belajar. Masih banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Faktor-faktor tersebut
adalah faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal diantaranya minat,
bakat, cita-cita dll. Sedangkan faktor eksternal misalnya guru, siswa, lingkungan,
sarana dan prasarana.
Berdasarkan hal tersebut, maka motivasi belajar hanya bagian kecil dari
faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar. Masih banyak faktor lain-yang
mempengaruhinya. Sehingga pengaruh motivasi terhadap prestasi belajar pada
pembelajaran acttive learning sangat rendah.
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari pembehasan adalah
1. Nilai rata-rata prestasi belajar siswa sebesar 69 dengan nilai terendah sebesar
40 dan tertinggi sebesar 89. Sedangkan nilai rata-rata motivasi belajar siswa
sebesar 123 berdasarkan hasil uji kriterium diperoleh nilai sebesar 82% maka
motivasi berlajar termasuk dalam kategori tinggi. Hasil uji diperoleh nilai z =
-1,69 dan nilai z tabel sebesar 2,33 sehingga zhitung > -ztabel, maka terima
hipotesis artinya penerapan metode active learning memberikan pengaruh
terhadap prestasi belajar. Hasil uji hipotesis terhadap motivasi belajar siswa
diperoleh nilai W = 260 dan nilai W daftar sebesar 199,8 sehingga Whitung >
Wdaftar, maka terima hipotesis. Artinya penerapan metode active learning
memberikan pengaruh terhadap motivasi belajar.
2. Uji hubungan motivasi dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan rumus
Rank Spearman diperoleh nilai rs = 0,045 maka hubungan motivasi belajar
dengan prestasi belajar sangat rendah. Karena nilai rs sangat rendah mendekati
angka nol maka boleh dikatakan motivasi belajar tidak memiliki hubungan
dengan prestasi belajar. Sedangkan nilai t(36;0,05) = 0,27 < t(36;0,05) = 1,690 maka
hipotesis ditolak artinya motivasi tidak memiliki hubungan dengan prestasi
belajar. Hasil uji derajat pengaruh diperoleh nilai KD = 0,2% artinya motivasi
belajar mempengaruhi prestasi belajar sebesar 0,2% sedangkan sisanya
dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti.
Daftar Pustaka
Abu Ahmadi dan Joko Tri Prasetya, 2005. Strategi Belajar Mengajar. Pustaka
Setia. Bandung.

D.A.Pertiwi DKK, 2007. Biologi SMA Kelas XI. Erlangga. Hal 53-66
Dimyati dan Mujiono, 2006. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Endi Nurgana 1986. Statistik Untuk penelitian. CV Permadi. Bandung.
Hamzah, 2009. Model Pembelajaran Menciptakan Proses Belajar Mengajar
yang Kreatif dan Efektif. Bumi Aksara. Jakarta.
Hartono, 2008. Strategi Pembelajaran Active Learning. Update 10 April 2010.
Ngalim Purwanto, 1998. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis Edisi Kedua.
Remaja Rosda Karya. Bandung.
Oemar Hamalik, 2008. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
Proses. Bumi Aksara. Jakarta.
Oemar Hamalik, 2009. Proses Belajar Mengajar. Bumi Aksara. Jakarta.
Silberman Melvin L., 2009. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif. Nusa
Media. Bandung.
Syaiful Bahri Djamarah dan Aswan Zain, 2006. Strategi Belajar Mengajar.
Rineka Cipta. Jakarta.