Anda di halaman 1dari 27

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di alam semesta ini, banyak fenomena-fenomena yang sangat
menakjubkan baik yang sudah dapat dikaji dengan ilmu pengetahuan maupun
yang belum dapat dikaji dengan ilmu pengetahuan.Misalnya saja fenomena
gelombang, ini merupakan fenomena yang sering kita temui di dalam kehidupan
kita sehari-hari.Seperti yang telah dipelajari pada Fisika Dasar 4, bahwa
berdasarkan sumber getarnya (tanpa disertai dengan medium perantaranya),
gelombang dapat diklasifikasikan dalam dua kategori, yaitu gelombang mekanik
dan gelombang elektromagnetik.Gelombang mekanik adalah sesuatu yang dapat
dibentuk dan dirambatkan dalam zat perantara bahan elastis.Sebagai contoh
khusus diantaranya adalah gelombang bunyi dalam gas, dalam zat cair dan dalam
zat padat. Gelombang Elektromagnetik perambatan secara transversal antara
medan listrik dan medan magnet ke segala arah. Dari penjelasan tersebut kita
mengetahui bahwa gelombang bunyi dapat merambat apabila ada suatu medium
sebagai penghantar.
Gelombang

bunyi

dapat

disebut

sebagai

gelombang

mekanik

longitudinal. Medium yang paling dekat dengan gelombang bunyi adalah udara,
dimana molekul-molekul udara bergerak mundur dan seterusnya dalam arah yang
sama dengan kecepatan bunyi. Molekul-molekul dalam batang juga melakukan
hal yang sama. Mereka mengalami pergeseran dalam arah yang sama dengan
kecepatan gelombang. Arah perambatan bunyi sejajar dengan arah getarnya
(gelombang longitudinal). Jika terjadi gangguan getaran pada titik tertentu dalam
media elastis, gangguan akan ditransmisikan dari satu lapisan ke berikutnya
melalui medium, karena elastis gaya pada lapisan yang berdekatan. Media itu
sendiri tidak bergerak secara keseluruhan. Dalam sebuah gelombang mekanik
energi juga ditransmisikan bentuk satu titik ke titik berikutnya, dengan gerak atau
propagasi dari gangguan, tanpa ada gerakan massal yang berkaitan dengan materi
itu sendiri. Sebuah medium material diperlukan untuk transmisi gelombang
mekanik.

Dinamika Gelombang

Dari penjelasan di atas, banyak ditemukan berbagai permasalahan


mengenai gelombang di dalam suatu medium elastis. Demi mengkaji lebih dalam
mengenai materi gelombang ini, maka penulis mengangkat makalah yang berjudul
Dinamika Gelombang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka penulis
mengangkat rumusan masalah sebagai berikut.
1.2.1

Bagaimanakah kecepatan fasa gelombang dalam berbagai medium

1.2.2
1.2.3

elastik?
Apa saja sifat-sifat dari gelombang bunyi?
Bagaimana kecepatan fasa gelombang bunyi yang ditinjau pada

1.2.4

berbagai medium?
Bagaimanakah analisis pada gelombang pemukaan air?

1.3 Tujuan Penulisan


Berdasarkan rumusan masalah yang dipaparkan di atas, maka tujuan
penulisan dari makalah ini sebagai berikut.
1.3.1

Untuk menganalisis kecepatan fasa gelombang dalam berbagai

1.3.2
1.3.3

medium elastis.
Untuk menjelaskan sifat-sifat gelombang bunyi.
Untuk menganalisis kecepatan fasa gelombang bunyi pada berbagai
medium.

1.3.4

Untuk menganalisis gelombang pada permukan air.

1.4 Manfaat Penulisan


Manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini, sebagai berikut.
1.4.1

Bagi Penulis

Dari pembuatan makalah ini, penulis dapat mengetahui secara rinci


mengenai dinamika gelombang.
1.4.2

Bagi Pembaca

Melalui makalah ini, pembaca dapat memperoleh pengetahuan lebih


mengenai dinamika gelombang. Selain itu, makalah ini juga dapat dijadikan
sebagai bahan pustaka tambahan.
1.5 Metode Penulisan

Dinamika Gelombang

Metode yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metode


kajian pustaka, dimana penulis mengumpulkan literatur-literatur yang dapat
mendukung penulisan ini. Literatur tersebut berasal dari buku dan artikel yang
tersedia di media internet.

BAB II

Dinamika Gelombang

PEMBAHASAN
2.1

Gelombang Dalam Medium Elastis


Gelombang mekanik merambat karena pergeseran suatu bagian medium

elastic dari kedudukan setimbangnya. Medium sendiri tidak ikut bergerak bersama
gerak gelombang, tetapi hanya berosilasi dalam ruang atau lintasan yang terbatas.
Gelombang ini seperti gelombang bunyi di dalam gas, di dalam zat cair dan zat
padat; gelombang pada tali, gelombang pada pegas, gelombang permukaan air,
dan gelombang seismic pada zat padat, semuanya dapat dibahas melalui hukum
Newton, dengan mengidentifikasi gaya-gaya pada medium, sehingga karakteristik
atau sifat-sifat perambatan gelombang dapat diselidiki.
Gelombang mekanik dapat merambat melalui medium, bila mediumnnya
bersifat elastik. Elastik dalam pengertian bahwa bila ada gaya luar, medium
tersebut mampu mengembang atau memampat, dan setelah gaya luar dihilangkan,
medium mampu mengembalikan atau memulihkan keadaanya seperti semula.
Selain melalui turunan fungsi (x,t) = f(x vt) dan hukum kekekalan
energy, persamaan gelombang dapat pula dijabarkan melalui penerapan hukum II
Newton yang ditunjang dengan hukum kekekalan masa dan hukum Hooke.
Dengan cara ini, gelombang dipandang sebagai suatu system osilasi dengan
derajat kebebasan N, dengan N menuju tak hingga.
2.1.1

Gelombang Pada Pegas

Kita perhatikan satu elemen masa pegas yang terletak pada jarak x dari
suatu titik acuan. Ketika gelombang merambat setiap unit masa posisinya berubah
dari titik kesetimbangannya. Kita nyatakan perpindahan elemen masa di x dengan
(x), perpindahan elemen di x-x dengan (x- x), seperti yang ditunjukkan pada
gambar 1.

Dinamika Gelombang

Gambar 1. a)Keadaan setimbang (tanpa gelombang)


b) ada gangguan (ada gelombang)

Dari gambar ini dapat kita tuliskan:


FL = k [ (x) (x-x)]
FR = k[(x+x) - (x)]
Melalui hukum II Newton, persamaan geraknya dapat dinyatakan dengan:
m

d 2 ( x)
= F - F
R
L
dt 2

d
= k[(x+x) + (x-x) - 2(x)]
2
dt

2 ( x)

(Persamaan 1)

suku pertama dan kedua ruas kanan persamaan (1) diekspansikan kedalam deret
Taylor sekitar x dengan x 0
(x)

d
(x+x) = (x) + dx

1
x + 2

1
d ( x)
(x-x) = (x)
x + 2
dx

2 ( x)

d
2
dx

( x)2

d 2 ( x)
dx 2

(x )2

(Persamaan 2)

sehingga persamaan (2) menjadi :


d 2 ( x)
dt 2

k
(x )2
m

Dinamika Gelombang

d 2 ( x)
dx 2

(Persamaan 3)

Dengan mengingat persamaan umum gelombang, yakni

2
x v t2

= 0,

maka cepat rambat gelombang adalah:


v=

k
m

(Persamaan 4)

persamaan (4) dapat dituliskan dalam bentuk:


v=

v=

kx
m/ x

dengan K : modulus elastisitas pegas.


: rapat massa pegas
Modulus elastisitas K ini merupakan konstanta pegas yang ternormalisasi.
Misalnya kita mempunyai pegas dengan panjang dan konstanta pegas k. Pegas
mengalami perubahan panjang sebesar , maka:
F=k

F=k

F=K

Tampak bahwa regangan (strain)

merupakan besaran yang

ternormalisasi. Modulus elastisitas K merupakan konstanta yang bergantung pada


bahan dan bentuk pegas, bukan bergantung pada panjang pegas.
2.1.2

Gelombang Pada Tali

Sebuah tali dengan tegangan T, salah satu ujungnya digerakkan naik turun
sehingga pada tali merambat gelombang.Bila diperhatikan satu bagian tali
sepanjang

yang berada pada jarak x, dan menyimpang sejauh

keadaan setimbangnya, seperti gambar di bawah ini.

Dinamika Gelombang

(x)

dari

Gambar 2. Gelombang pada tali

Bila rapat massa tali, yakni massa per satuan panjang dinyatakan dengan
, maka melalui Hukum II Newton persamaan gerak elemen tali dapat

dinyatakan dengan:
T ( x)
T ( x + x )

d
dx

(Persamaan 5)

d2
x 2 =
dt
x

d2
dT
d
= T ( x )+
xT ( x )
2
dx
dx
dt

(Persamaan 6)

d2 d d
x 2 =
T x
dx dx
dt

(Persamaan 7)

d2
d2
=T
dt 2
dt 2

(Persamaan 8)

Dari persamaan (8) dapat disimpulkan bahwa:


v=

2.1.3

(Persamaan 9)

Gelombang Pada Batang Logam

Dinamika Gelombang

Sebuah batang logam uniform, dengan luas penampang A, modulus Young


Y, dan rapat massanya
batang setebal

. Dari gambar di bawah ini dapat diperhatikan bagian

x , berjarak x dari suatu titik acuan.

Gambar 3.a. Batang logam dalam keadaan setimbang

Ketika gelombang merambat di dalam logam, bagian batang ini


mengalami deformasi. Perpindahan pada sisi kiri dan sisi kanan masing-masing
dinyatakan dengan ( x ) dan ( x + x ) seperti pada gambar 3.b.

Gambar 3.b. Batang logam dengan gelombang

Persamaan gerak elemen batang logam dapat dinyatakan dengan:


F(x )
F ( x + x )
2

x A 2 =
t

(Persamaan 10)

Suku pertama di ruas kiri, diekspansikan ke dalam deret Taylor untuk

x=0

x A


F
=x
2
x
t

Dinamika Gelombang

(Persamaan 11)

Sedangkan dari Hukum Hooke:


F

=Y A
A
x

(Persamaan

12)
dengan Y: modulus elastisitas logam atau modulus Young
Persamaan (12) disubstitusikan kedalam persamaan (11) diperoleh:
2 Y 2

=0
t2 t2

(Persamaan 13)

Dari persamaan (13) ini, maka cepat rambat gelombang didalam batang logam
adalah:
v=

(Persamaan 14)

Dari Hukum Hooke, dapat diperoleh pula ungkapan gelombang tekanan:


p( x ,t)=Y

Untuk

gelombang

(Persamaan 15)
( x , t )= 0 cos ( kxt ) ,maka

berbentuk

gelombang

tekanan:
p ( x , t ) = 0 k Y sin ( kxt)

(Persamaan 16)

Dan gayanya:
F ( x ,t )= 0 Y A sin ( kx t)

(Persamaan 17)
p (x , t)

Tampak dari persamaan (16) dan (17), bahwa

( x , t)

2.1.4

berbeda fase sebesar

atau

F ( x ,t )

dengan

Gelombang Pada Zat Cair

Gelombang bunyi memerlukan medium yang kompresif. Gelombang ini


dapat merambat di dalam logam, karena logam kompresif secara elastis. Zat cair
bersifat kompresif pula, hubungan antara gaya F dengan perubahan volume,

Dinamika Gelombang

seperti Hukum Hooke pada logam. Elemen zat cair setebal

x , yang berada

pada suatu silinder dengan luas penampang A. Elemen zat cair ini berjarak x dari
suatu titik acuan, dan rapat massanya

. Ketika gelombang merambat, elemen

zat cair ini mengalami deformasi. Perpindahan pada sisi kiri dan sisi kanan elemen
tersebut masing masing dapat dinyatakan dengan

( x ) dan

( x+ x) ,

seperti pada gambar 4.

Gambar 4. Silinder zat cair yang dilalui gelombang

Hubungan antara tegangan dengan regangan dinyatakan dengan:


F
V
=M
A
V

(Persamaan 18)

Persamaan gerak elemen volume zat cair adalah:


F(x )F ( x + x )

2
x A 2 =
t
x A

2
F
= x
2
x
t

(Persamaan 19)

Kemudian persamaan (19) dapat dituliskan dalam bentuk:


A [ x + ( x+ x ) (x) ] A x
F
=M
A
Ax

Dinamika Gelombang

10

F
=M
A

x
x

=M
A x
x

(Persamaan 20)

F
2
=A M
2
x
x

(Persamaan 21)

Substitusi persamaan (21) kedalam persamaan (19), maka diperoleh


persamaan gelombang di dalam zat cair:
2

=0
t 2 x2

(Persamaan 22)

Jelas dari persamaan (22) ini bahwa cepat rambat gelombang di dalam zat
cair adalah:
v=

(Persamaan 23)

2.2 Sifat-sifat Umum Gelombang Bunyi


Dalam membicarakan topik akan gelombang bunyi, terlebih dahulu harus
diketahui sifat-sifat umum dari gelombang bunyi tersebut diantaranya.
a. Gelombang bunyi memerlukan medium dalam perambatannya
Karena gelombang bunyi merupakan gelombang mekanik, maka dalam
perambatannya bunyi memerlukan medium. Hal ini dapat dibuktikan saat dua
orang astronout berada jauh dari bumi dan keadaan dalam pesawat dibuat hampa
udara,

astronout

tersebut tidak

dapat

bercakap-cakap

langsung

tetapi

menggunakan alat komunikasi seperti telepon. Meskipun dua orang astronout


tersebut berada dalam satu pesawat.
b. Gelombang bunyi mengalami pemantulan (refleksi)
Salah satu sifat gelombang adalah dapat dipantulkan sehingga gelombang
bunyi juga dapat mengalami pemantulan. Hukum pemantulan gelombang: sudut
datang = sudut pantul juga berlaku pada gelombang bunyi. Hal ini dapat
dibuktikan bahwa pemantulan bunyi dalam ruang tertutup dapat menimbulkan
gaung. Yaitu sebagian bunyi pantul bersamaan dengan bunyi asli sehingga bunyi
asli terdengar tidak jelas. Untuk menghindari terjadinya gaung maka dalam
bioskop, studio radio dan televisi, dan gedung konser musik dindingnya dilapisi

Dinamika Gelombang

11

zat peredam suara yang biasanya terbuat dari kain wol, kapas, gelas, karet, atau
besi.
c. Gelombang bunyi mengalami pembiasan (refraksi)
Salah satu sifat gelombang adalah mengalami pembiasan. Peristiwa
pembiasan dalam kehidupan sehari-hari misalnya, pada malam hari bunyi petir
terdengar lebih keras daripada siang hari. Hal ini disebabkan karena pada siang
hari lapisan udara atas lebih dingin daripada dilapisan bawah. Karena cepat
rambat bunyi pada suhu dingin lebih kecil daripada suhu panas maka kecepatan
bunyi dilapisan udara atas lebih kecil daripada dilapisan bawah, yang berakibat
medium lapisan atas lebih rapat dari medium lapisan bawah. Hal yang sebaliknya
terjadi pada malam hari. Jadi pada siang hari bunyi petir merambat dari lapisan
udara atas kelapisan udara bawah.

d. Gelombang bunyi mengalami pelenturan (difraksi)


Gelombang bunyi sangat mudah mengalami difraksi karena gelombang
bunyi diudara memiliki panjang gelombang dalam rentang sentimeter sampai
beberapa meter. Seperti yang kita ketahui, bahwa gelombang yang lebih panjang
akan lebih mudah didifraksikan. Peristiwa difraksi terjadi misalnya saat kita dapat
mendengar suara mesin mobil ditikungan jalan walaupun kita belum melihat
mobil tersebut karena terhalang oleh bangunan tinggi dipinggir tikungan.
e.

Gelombang bunyi mengalami perpaduan (interferensi)


Gelombang

bunyi

mengalami

gejala

perpaduan

gelombang

atau

interferensi, yang dibedakan menjadi dua yaitu, interferensi konstruktif atau


penguatan bunyi dan interferensi destruktif atau pelemahan bunyi. Misalnya
waktu kita berada diantara dua buah loud-speaker dengan frekuensi dan amplitudo
yang sama atau hampir sama maka kita akan mendengar bunyi yang keras dan
lemah secara bergantian.
2.3 Gelombang Bunyi dalam Medium Gas/Udara
Kita dapat mendengar bunyi karena adanya gangguan yang menjalar ke
telinga kita. Karena gangguan ini, selaput gendang telinga kita bergetar dan

Dinamika Gelombang

12

getaran ini yang diubah menjadi denyut listrik yang dilaporkan ke otak kita lewat
urat syaraf pendengaran. Bunyi dijalarkan sebagai gelombang mekanik
longitudinal yang dapat menjalar dalam padat, cair, ataupun gas, namun dalam hal
ini khusus dibahas gelombang bunyi dalam medium gas atau udara.
Sumber dari gelombang bunyi atau gelombang sonik adalah benda yang
bergetar pada frekuensi di dalam daerah pendengaran. Gelombang bunyi ini dapat
dihasilkan oleh getaran tali atau semacamnya, oleh kolom udara yang bergetar,
atau oleh pelat atau membran yang bergetar. Dalam keadaan bergetar, benda ini
berganti-ganti merapatkan udara di sekitarnya pada waktu molekul udara bergerak
ke depan, dan merenggangkan udara pada gerak ke arah belakang. Tumbukan
antara molekul udara merupakan interaksi yang menjalarkan gangguan ini keluar
dari sumber. Setelah masuk telinga, gelombang ini terdengar sebagai bunyi.
Udara atau gas pada umumnya tidak dapat melawan perubahan bentuk.
Karena itu di dalam medium gas ini tidak mungkin terjadi gelombang geser, shear
waves, atau gelombang transversal. Namun demikian, medium ini memiliki
respons terhadap kompresi volume. Untuk tekanan p tertentu, besarnya respons ini
ditentukan oleh modulus elastis bulk, B, yang didefinisikan sebagai:
B=

dp
d

(Persamaan 24)

Atau dapat pula diungkapkan dalam bentuk :


B=V

Karena

dp
dV

(Persamaan 25)

dp
<0
, sehingga dari persamaan (25) diatas jelas bahwa B 0.
dV

2.3.1 Cepat Rambat Gelombang Bunyi


Kita perhatikan elemen volum udara pada posisi x dan tebalnya x dari
kolom udara berbentuk silinder seperti gambar 5. Dalam keadaan setimbang
(gambar 5a) tekanan pada kedua sisi elemen volum udara sama besarnya. Setelah
ada gangguan, tekanan pada kedua sisi berubah (gambar 5b).

Dinamika Gelombang

13

Gambar 5.a
Udara didalam silinder dalam keadaan setimbang

Gambar 5.b
Udara didalam silinder dilalui gelombang

Dari gambar 5.b melalui hukum II Newton dapat dituliskan persamaan gerak
elemen gas adalah:
x + x
p ( x ) p
2
A x 2 = A
t
2 p
2=
x
t

(Persamaan 26)

Gerak gelombang didalam gas bersifat adiabatik, sehingga:


pV =konstan

p =konstan
Untuk mengetahui perubahan tekanan terhadap rapat massa, persamaan akhir ini
didefernsialkan, diperoleh:

Dinamika Gelombang

14

dp d

dp=0
dp p
=
d

(Persamaan 27)

Maka dari persamaan (24) dan (27), diperoleh hubungan


B= p

(Persamaan 28)

Dalam perambatannya, berlaku kekekalam massa:


A [ x + ( x+ x ) ( x ) ]=konstanta

1+

=konstanta
x

Dengan menguraikan ruas kanan kedalam deret Taylor untuk

0
, maka
x

persamaan terakhir menjadi:

=konstanta 1

Kemudian kita differensialkan terhadap x, dan dengan menerapkan sarat batas


awal, diperoleh:
d
2
+ 2 =0
dx
x

(Persamaan 29)

Dengan memperhatikan hubungan pada persamaan (28), persamaan (29)


disubstitusikan ke dalam persamaan (27)
2

dp

=B 2
dx
x

(Persamaan 30)

2 B 2

=0
2
x2
t

(Persamaan 31)

Maka persamaan (26) menjadi:

Dari persamaan (31) jelas bahwa cepat rambat gelombang bunyi dalam gelas
adalah

Dinamika Gelombang

15

(Persamaan 32)

Melalui persamaan (28) cepat rambat gelombang ini dapat pula dinyatakan
sebagai fungsi tekanan.
=

(Persamaan 33)

Atau : v = p , dengan =
Untuk gas encer (dilute) berlaku hukum Gay-Lussac :

p=

RT
M , sehingga

cepat rambat gelombang dapat dinyatakan sebagai fungsi temperatur sebagai


berikut.
=

Atau : v = T , dengan

(Persamaan 34)

R
M
=

Dengan memperhatikan persamaan

RT
M

T
,

Y
,

M
, dan

B
, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa:
cepat rambat gelombang=

modulus elastisitas
rapat massa

(Persamaan 35)

2.3.2 Energi Dan Intensitas Gelombang Bunyi


Dari persamaan (28) kita peroleh hubungan antara gelombang tekanan dan
gelombang pergeseran sebagai berikut:

Dinamika Gelombang

16

p=B

(Persamaan 36)

Daya atau arus energi gelombang bunyi:


P= p A

P=B

A
x
t

P=B A v

(Persamaan 37.a)

(Persamaan 37.b)

( )

(Persamaan 37.c)

Sehingga rapat arus energi atau intensitas gelombang bunyi:


I =B v

( )

(Persamaan 38)

Kita juga dapat mencari hubungan antara intensitas sebagai fungsi gelombang
tekanan, melalui ungkapan impedansi gelombang sebagai berikut:
B
Z=

Z=

B
v

(Persamaan 39)

Substitusi persamaan (36) ke dalam persamaan (38) dan dengan menggunakan


hubungan pada persamaan (39), maka persamaan (38) menjadi:
I =B v

p
B

( )

1 2
I= p
Z

Dinamika Gelombang

(Persamaan 40)

(Persamaan 41)

17

, yang

Intensitas gelombang bunyi sering dinyatakan dalam decibel (dB):


menyatakan tingkat relatif dan didefinisikan sebagai berikut:
=log

I
Bel
I0

=10 log

Dengan

I 0 =1012

W
m2

(Persamaan 42)

I
dB
I0

(Persamaan 43)

menyatakan intensitas acuan. Intensitas bunyi yang dapat

didengar manusia berkisar antara 30 dB

( 103 I 0)

sampai -100 dB

( 1010 I 0 )

2.4 Gelombang Permukaan Air


Dalam pembahasan gelombang pada permukaan air ini, kita batasi dengan
menganggap didalam air berlaku sifat-sifat sebagai berikut:
a. Non viskos
Viskositas, yang disebabkan oleh gesekan internal, diabaikan.
b. Amplitudo gelombang relatif lebih kecil dibandingkan

panjang

gelombangnya.
c. Gaya-gaya yang bekerja hanyalah gaya gravitasi dan tegangan permukaan.
d. Inkompresibel
Volume tidak berubah karena perubahan tekanan, jadi rapat massanya
konstan.
Selain itu dipandang sebagai air ideal, dengan sifat-sifat:
a. Berlaku hukum kekekalan massa:
p
( )=
t

(Persamaan 44)

Persamaan (44) mengungkapkan bahwa perubahan rapat massa (dalam


volume terbatas) terhadap waktu, sama dengan arus v yang mengalir dari
permukaan volume tersebut.

Dinamika Gelombang

18

Kemudian dari anggapan inkompresibel :

=0
, maka persamaan 1
t

menjadi: ( )=0

=0
t

(Persamaan 45)

Untuk memperoleh persamaan ini, kita subtitusikan hubungan:

v=
t
Yang mengandung pengertian bahwa menyatakan perpindahan sebuah titik
pada fluida dari kedudukan setimbangnya.
Dari persamaan 2 tersebut, maka:
= konstan

(Persamaan 46)

b. Tidak ada gelembung


n^ dA=0

(Persamaan 47)

Dengan menerapkan teorema Gauss (divergensi) persamaan (47) dapat kita


tuliskan menjadi:
dV =0
=0
x y
+
x
y

(Persamaan 48)

c. Tidak ada pusaran


d=0

(Persamaan 49)

Dengan menerapkan teorema Stokes (rotasi) persamaan (49) dapat kita


tuliskan menjadi:
n^ dA=0

(Persamaan 50)

=0
t

( )=0
t

Dinamika Gelombang

19

( ) =0
x y
k^

=0
x
y

(Persamaan 51)

2.4.1 Penerapan Syarat Batas


Sekarang kita akan membahas kasus pada gelombang berdiri, untuk itu
kita perhatikan bentuk gelombang berdiri sederhana seperti gambar 6. Gambar ini
memperlihatkan penampang suatu tempat dengan panjang tak hingga, lebarnya L,
dan berisi air dengan kedalaman h. Untuh mudahnya, kia ambil pusat sumbu x
tepat dipermukaan air dalam keadaan setimbang, dan sumbu y tepat ditengahtengah wadah.

Gambar 6. Penampang gelombang berdiri pada permukaan air

Syarat batas di x = 0 :
y = 0, maka y mengandung faktor sin (kx).
y = cos (t) sin (kx) f(y)
L
Syarat batas di x = 2 :
x= 0, maka y mengandung faktor cos (kx).
x= cos (t) cos (kx) g(y)

(Persamaan 52)

(Persamaan 53)

dengan f(y) dan g(y) masing-masing menyatakan amplitudo gelombang berdiri


sebagai fungsi dari y.

Dinamika Gelombang

20

Substitusi persamaan

kedalam persamaan

k g ( y ) +

=log

I =B . v

I
Bel
I0

dan persamaan

=10. log

I
dB
I0

( )

menghasilkan:

df ( y )
=0
dy

(Persamaan 54)

Substitusi persamaan (52) dan persamaan (53) kedalam persamaan (51)


menghasilkan:
dg ( y )
k f ( y )
=0
dy

(Persamaan 55)

Dari kedua persamaan (54) dan (55) ini, kita dapat menentukan fungsi-fungsi f(y)
dan g(y), untuk maksud terlebih dahulu persamaan (54) kita diferensialkan
terhadap y.
k

dg ( y ) d 2 f ( y )
+
=0
dy
dy 2

2
dg ( y ) 1 d f ( y )
=
dy
k dy 2

(Persamaan 56)

Kemudian persamaan (56) kita subtitusikan ke dalam persamaan (55):


1
k f ( y )
k

d2 f ( y )
=0
dy 2

d2 f ( y )
k 2 f ( y )=0
2
dy

(Persamaan 57)

Solusi dari persamaan (57) ini adalah:


f ( y )= Ae ky + Beky

(Persamaan 58)

Syarat batas di y = - h : y = 0, maka f(-h) = 0


Ae ky + Beky=0
B=Aeky

Dinamika Gelombang

(Persamaan 59)

21

Maka persamaan gelombang dalam arah x dan y pada persamaan (52) dan
persamaan (53) menjadi:
ky
k (2h + y)
}
y = cos (t) sin (kx) f(y) { e e

(Persamaan 60)

ky
k (2h + y)
}
x = cos (t) cos (kx) g(y) { e e

(Persamaan 61)

Sekarang kita tinjau kasus khusus sebagai berikut:


a. Bila h>>, maka
y = A ekycos (t) sin (kx)

(Persamaan 62)

x= A eky cos (t) cos (kx)

(Persamaan 63)

Pada keadaan ini disebut gelombang air yang dalam.


b. Bila h>>, maka
y = 2Ak (y + h) cos (t) sin (kx)
(Persamaan 64)
x = 2A cos (t) cos (kx)
(Persamaan 65)
Persamaan (65) dan (64) ini diperoleh dengan mengekspansi suku-suku
didalam tanda kurung kurawal pada persamaan (60) dan (61), ke dalam
deret Taylor.
2.4.2 Hubungan Dispersi Gelombang Permukaan Air
Sekarang kita akan mencari hubungan dispersi pada gelombang
permukaan air, yakni hubungan antara frekuensi sudut

dengan bilangan

gelombang k. Untuk maksud tersebut, tinjau elemen permukaan air seperti


ditunjukkan pada gambar 7.
Melalui hukum Newton, dari gambar ini kita dapat tuliskan persamaan gerak
elemen air ini sebagai berikut:
x+ x
p ( x ) p
2 x
m
=L y
t2

Dinamika Gelombang

22

Dari hukum hidrostatika, kita mempunyai hubungan:


p ( x )= g y (x)
Sehingga kita dapat menuliskan:
x+ x
y (x ) y
2 x
m
=L y
t2
2

x
t

=L y x g

y
x

2 x
y
=g
2
x
t

(Persamaan 66)

Gambar 7. Elemen air dengan gelombang di permukaannya

Kemudian persamaan (60) dan (61) kita substitusikan ke dalam persamaan (62),
kita peroleh:
2 { e ky +ek (2 h+ y) }=g k { eky ek(2 h+ y) }
Syarat batas di y = 0, maka:

Dinamika Gelombang

23

2 { 1+e2 kh }=g k {1e2 kh }

Dari persamaan terakhir, diperoleh hubungan dispersi:


2

=g k

1e2 kh
1+e2 kh

(Persamaan 63)

2.4.3 Gelombang Gravitasi dan Gelombang Riak


Dari persamaan (3.66) diatas, dapat ditinjau beberapa kasus khusus sebagai
berikut:
2 kh

a. Bila h >>, maka e

= 0, sehingga persamaan (63) menjadi:

=g k
atau:
v=

g
2

(Persamaan 64)

Gelombang ini disebut dengan gelombang gravitasi.


Dari persamaan (64) ini tampak bahwa cepat rambat gelombang bergantung
pada panjang gelombang

, jadi gelombang gravitasi bersifat dispersif.

b. Bila h <<, ruas kanan persamaan (63) diuraikan ke dalam deret Taylor,
diperoleh:
2 =g k 2 h
atau:
v = gh

(Persamaan 65)

Gelombang ini disebut dengan gelombang riak.


Dari persamaan (65), tampak bahwa cepat rambat gelombang bergantung
pada panjang gelombang

Dinamika Gelombang

, jadi gelombang riak bersifat nondispersif.

24

Apabila efek tegangan permukaan

diperhitungkan, maka besarnya

tekanan pada elemen massa mendapat penambahan sebesar

k 2 , sehingga

persamaan (3.65) berubah bentuk menjadi:


2

x
y
y

=g
k 2
2
x
x
t
2

y k 2 y
=g

2
x
x
t

Kemudian

dan

(Persamaan 66)

dari persamaan (3.59) dan (3.60),

disubstitusikan ke dalam persamaan (3.69) dengan syarat batas di y = 0, maka


diperoleh:
k 3 1e2 kh
= gk +
1+ e2 kh
2

(Persamaan 67)

Untuk kasus h >> dan efek tegangan permukaan tidak diabaikan, maka
2 kh

=0 , sehingga persamaan (67) menjadi

2 = gk +

k3

atau
v=

g 2
+
2

Dinamika Gelombang

(Persamaan 68)

25

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut.
3.1.1

Gelombang dalam medium elastik dalam pengertian bahwa bila ada


gaya luar, medium tersebut mampu mengembang atau memampat, dan
setelah gaya luar dihilangkan, medium mampu mengembalikan atau
memulihkan keadaanya seperti semula. Hal ini dapat ditemui dalam
gelombang pada pegas, gelombang pada tali, gelombang pada batang

3.1.2

logam, gelombang pada zat cair.


Sifat-sifat umum dari gelombang bunyi tersebut diantaranya :
Gelombang bunyi memerlukan medium dalam perambatannya, 2.
Gelombang bunyi mengalami pemantulan (refleksi), 3. Gelombang
bunyi mengalami pembiasan (refraksi), 4. Gelombang bunyi mengalami
pelenturan (difraksi), 5. Gelombang bunyi mengalami perpaduan
(interferensi).

Dinamika Gelombang

26

3.1.3

Bunyi dapat merambat dalam berbagai medium, khususnya udara.


Sumber dari gelombang bunyi atau gelombang sonik adalah benda yang

3.1.4

bergetar pada frekuensi di dalam daerah pendengaran.


Gelombang pada permukaan air berlaku sifat-sifat sebagai berikut: 1.
Non viskos, Viskositas yang disebabkan oleh gesekan internal,
diabaikan. 2. Amplitudo gelombang relatif lebih kecil dibandingkan
panjang gelombangnya. 3. Gaya-gaya yang bekerja hanyalah gaya
gravitasi dan tegangan permukaan. Dan 4. Inkompresibel, Volume tidak

berubah karena perubahan tekanan, jadi rapat massanya konstan.


3.2 Saran
Melalui penulisan makalah ini, adapun saran yang dapat diberikan adalah
sebagai mahasiswa yang merupakan calon pendidik nantinya diharapkan dapat
memahami materi terkait dengan konsep dinamika gelombang sehingga dapat
membantu dalam menerapakkannya dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.

2011.

Sifat-Sifat

Umum

Gelombang

Bunyi.

Tersedia

pada

http://kuliahitukeren.blogspot.com/2011/06/sifat-sifat-umum-darigelombang-bunyi.html. Diunduh tanggal 24 Maret 2015.


Anonim.2011.Gelombang

Bunyi.

Tersedia

pada

http://vickygelombang-

bunyi.blogspot.com/. Diunduh tanggal 24 Maret 2015.


Suardana, I Kade. 2002. Gelombang dan Optik (Bagian Gelombang Mekanik).
IKIPN Singaraja (Buku Ajar).
Sutrisno. 1979. Fisika Dasar Gelombang dan Optik. Bandung : ITB.

Dinamika Gelombang

27