Anda di halaman 1dari 8

SOAL 2.

Teori klasik "Uses and Gratifications" dari Elihu Katz dkk (1973, 1974, 1983, 2002)
antara lain mempunyai 2 (dua) dasar pemikiran sebagai berikut; (1) khalayak pada
dasarnya bersifat "aktif", "selektif", dan "berorientasi pada tujuan", dan (2) media
berkompetisi satu sama lain untuk memenuhi kepuasan khalayak.
Pertanyaan:
(a) Berikan pandangan anda tentang kedua pemikiran tersebut dikaitkan dengan
perilaku penggunaan media di kalangan masyarakat Indonesia pada saat ini di mana di
samping media konvensional seperti radio, tv, surat kabar, dll juga telah hadir berbagai
ragam bentuk media baru. Penjelasan anda hendaknya diperkuat dengan ilustrasi
faktual.
(b) Berikan penjelasan konseptual disertai ilustrasi faktual mengenai faktor-faktor
kebutuhan "sosial" dan "psikogis" dari seseorang sebagai pendorong utama bagi dirinya
dalam memilih dan menggunakan suatu medium. Penjelasan anda hendaknya mencakup
faktor-faktor apa saja yang menurut anda masuk kategori faktor-faktor "sosial " dan
faktor-faktor "psikologis", dan berikan ilustrasi/contohnya.
(c) Jelaskan disertai ilustrasi kapan seseorang tergolong pengguna medium kategori
"instrumental" dan "ritual"? Jelaskan pula apakah seseorang dalam menggunakan suatu
medium akan selalu masuk satu kategori "instrumental" atau "ritual" atau kombinasi
dari keduanya?

JAWABAN2.
Aksi Korea Utara ditujukan untuk meyebabkan kerusakan terhadap entitas bisnis
AS dan meredam hak berekspresi dari warga negera AS, tulis FBI dalam
pernyataannya.1

KutipandiatasdiambildariartikelberitatentangkehebohanAShinggamenurunkan
satuan khusus FBI untuk menginvestigasi sumber serangan cyber terhadap studio
Hollywood Sony Pictures. Raksasa bisnis hiburan AS tersebut mengalami dampak
kerugianbesarakibatseranganyangberasaldaripihakyangmengklaimdiribernama
Guardianof Peace.Serangan ini disinyalir terkait dengan rencana Sonymerilis film
1 Dikutip dari Hidayat, Wicak (ed.), Minggu, 21 Desember 2014, FBI Resmi Sebut Korut Dalangi
Peretasan Sony Pictures, artikel berita mengutip dari NBCNews, dimuat di situs kanal berita
http://tekno.kompas.com/read/2014/12/21/07280147/FBI.Resmi.Sebut.Korut.Dalangi.Peretasan.Sony.Pictur
es

komedi berjudul The Interview, yang bercerita tentang upaya pembunuhan pemimpin
besarKorut,KimJongUn.
Beritainimembuktikantelahterjadinyaeskalasididalampenggunaanmediabaru
(baca:internet)dengantujuanpolitisideologisyangmenyangkuthubunganantarnegara.
Bahkan didalampengertian yanglebih ekstrim, media barutelahdigunakansebagai
senjata(cyberweapon)untukberperang(cyberwar)dengandampakkerugiannyayang
nyata.2Takpelak,situasiinikemudianmembuatpresidenBarrackObamaturuntangan
denganmengeluarkankecamankerasterhadapKoreaUtara.Disisilain,Obamajuga
menyesalkankenapapihakSonyurungmerilisfilmtersebut.3
Jika benar memang Korea Utara yang berada di balik serangan tersebut, maka
negara toriter itu bisa dianggap sebagai pengguna media, seperti yang menjadi dasar
pemikiran teori uses and gratifications, yang bersifat aktif, selektif, dan berorientasi
kepada tujuan (Katz, Blumler, and Gurevitch, 1974)4. Secara aktif, Korea Utara
diberitakan telah mempersiapkan serangan tersebut dengan membentuk pasukan cyber
untuk melakukan serangan-serangan dengan orientasi tujuan dan sasaran yang jelas5. Di
antara berbagai medium, secara selektif pasukan cyber tersebut memilih media internet
yang memang memiliki keunggulan tak terbatas di banding media-media lain, baik dalam
pandangan negatif maupun positif.
A. Uses and Gratifications: Khalayak Aktif, Selektif, dan Berorientasi kepada
Tujuan
MungkinulasantentangkasusperetasanSonyPicturesKoreaUtaradenganpijakanteori
usesandgratifications agakberlebihan.Karenapadadasarnyateoriiniberanjakdari
pengamatanterhadapperilakuindividusebagaikhalayakmediamassayangdianggap

2 Sony mengklaim kerugian yang timbul di antaranya bocornya dokumen paspor para artis, kumpulan email, laporan keuangan, film-film, dan koleksi password server bocor. Lihat Hidayat, Wicak (ed.), Jumat,
19 Desember 2014, Pasca Diretas, Kantor Sony Mundur 12 Tahun, artikel, dimuat di situs kanal berita
http://tekno.kompas.com/read/2014/12/19/12063117/pasca.diretas.kantor.sony.mundur.12.tahun

3 lihat Sari, Amanda Puspita (ed.), Sabtu, 20/12/2014 03:37 WIB, Obama Sesalkan Sony Batal Rilis The
Interview, artikel berita, CNN Indonesia, http://www.cnnindonesia.com/internasional/20141220033754134-19453/obama-sesalkan-sony-batal-rilis-the-interview/

4 lihat West, R. & L. H. Turner, 2004, Introducing Communication Theory: Analysis and Application, 2nd.
Ed., NY: McGraw-Hill, NY

5 lihat Jati, Anggoro Suryo (ed.), Sabtu, 06/12/2014 08:56 WIB, Korut Punya Pasukan Elite Khusus
Cyber, artikel berita dimuat di kanal berita
http://inet.detik.com/read/2014/12/06/085031/2769419/323/korut-punya-pasukan-elite-khusus-cyber

memiliki tiga karakteristik tersebut6. Elihu Katz pertama kali memperkenalkan


pendekatan uses and gratification pada awal tahun 70-an dengan gagasan bahwa
seseorang menggunakan media adalah demi keuntungannya. Bersama dua koleganya, Jay
Blumler dan Michael Gurevitch, Katz mengembangkan gagasan ini hingga terciptalah
teori uses and gratification yang berpengaruh besar terhadap studi-studi mengenai
perilaku khalayak dan dampak media massa hingga saat ini. Pengembangan teori ini tetap
tidak meninggalkan gagasan dasarnya yakni, khalayak bersifat aktif. Pada masa itu,
gagasan ini berkebalikan dengan pemahaman kebanyakan ahli yang menganggap audiens
adalah kelompok yang pasif. Uses and gratification mempercayai bahwa khalayak secara
aktif menentukan media dan isi (selektif) yang digunakan dengan tujuan yang jelas, yakni
memenuhi kebutuhannya.7
Terkait hal ini, mari kita amati beberapa temuan di Indonesia. Laporan yang
dikeluarkan perusahaan riset Nielsen pada pertengah 2014 menunjukkan bahwa secara
keseluruhan, konsumsi media di kota-kota di Indonesia, baik di Jawa maupun Luar Jawa,
menunjukkan bahwa televisi masih menjadi medium utama yang dikonsumsi masyarakat
Indonesia (95 persen), disusul oleh Internet (33 persen), Radio (20 persen), Suratkabar
(12 persen), Tabloid (6 persen) dan Majalah (5 persen).8
Tren yang sama juga terjadi pada konsumsi media untuk mendapatkan berita.
Berdasarkan laporan organisasi Broadcasting Board of Governors (BBG) dan Gallup
yang melakukan survey face-to-face pada 1 Juli hingga 1 Agustus 2012 terhadap 3000
responden yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, ditemukan data bahwa media
televisi masih dominan (95 persen) digunakan khalayak dewasa untuk mendapatkan
berita. Separuh dari para responden (49,8 persen) juga menjawab telepon seluler sebagai
media yang mereka pakai untuk mendapatkan berita. Hasil survey ini juga menyimpulkan
bahwa lebih dari delapan tiap sepuluh penduduk Indonesia (81 persen) memiliki telepon
seluler. Data ini meningkat hampir 20 persen dari tahun 2011 yang menunjukkan
kepemilikan telepon seluler di Indonesia mencapai 67 persen penduduk. Peningkatan di
dalam kepemilikan telepon seluler ini seiring dengan tumbuhnya tingkat penggunaan
internet yang mencapai 20,6 persen penduduk pada tahun tersebut. Penggunaan internet
6 lihat Rossi, E, 2002, Uses & Gratifications/ Dependency Theory, artikel ilmiah dimuat di
http://zimmer.csufresno.edu/~johnca/spch100/7-4-uses.htm

7 Lihat Rossi, ibid


8 - dikutip dari Nielsen, 21 Mei 2014, Nielsen: Konsumsi Media Lebih Tinggi di Luar Jawa, publikasi hasil
survey dimuat di http://www.nielsen.com/id/en/press-room/2014/nielsen-konsumsi-media-lebih-tinggi-diluar-jawa.html

di Indonesia lebih dominan (96,2 persen) untuk mengakses media sosial.9

Berdasarkan pendekatan uses and gratifications, dari data-data ini bisa ditarik gambaran
bahwa khalayak media di Indonesia secara aktif lebih memilh mengkonsumsi televisi
untuk mendapatkan berita. Besarnya pilihan ini, bisa jadi terkait dengan rendahnya
budaya baca di Indonesia. Dari data yang dirilis Unesco pada tahun 2012, indeks minat
baca hanya mencapai 0,001, artinya dari seribu orang Indonesia, hanya satu yang
memiliki minat baca.10
Jadi bisa dimengerti bahwa dengan latar belakang budaya membaca yang rendah,
khalayak Indonesia lebih memilih mengonsumsi televisi yang mengutamakan pesan
audio visual untuk mendapatkan berita. Di samping itu, dilihat dari sisi geografis
Indonesia, kelebihan televisi adalah jangkauannya yang luas dan hampir merata meliputi
seluruh wilayah Indonesia. Hal ini karena pesan televisi ditransmisikan hampir tanpa
hambatan melalui satelit sehingga bisa diterima langsung di rumah dengan antena
parabola berharga relatif murah.
Bandingkan dengan penggunaan surat kabar di Indonesia yang menurut laporan
Serikat Penerbitan Surat Kabar (SPS), terus mengalami penurunan, yakni dari 25 persen
pada 2006, menyusut hingga 15 persen pada 2011. Hal yang sama juga terjadi pada
majalah dan tabloid yang anjlok hingga 8 dan 9 persen pada 2011.

11

Sementara itu, dari

sumber data yang sama, dalam hal penggunaan radio, kendati terjadi penyusutan, namun
tidak sebesar media cetak, yaitu sebesar 43,7 persen pada 2007 turun menjadi 30,6 persen
pada 2011. Televisi unggul jauh dengan mencapai 93,4 persen.
Perilaku memilih dan menggunakan media khalayak di Indonesia khususnya
dalam hal kebutuhan berita, tampaknya sudah sesuai dengan karakteristik umum
masyarakat kita yang rendah minat bacanya. Sehingga media yang cocok dengan
karakteristik ini yakni televisi, unggul di dalam persaingan memperebutkan khalayak,
9 lihat BBG, October 16, 2012, In Indonesia, TV Still Rules, But Mobile, Internet Are On the Rise (Video),
publikasi hasil survey dimuat di situs http://www.bbg.gov/blog/2012/10/16/in-indonesia-tv-still-rules-butmobile-internet-are-on-the-rise/

10 lihat Hazliansyah, 02 November 2013 22:20 WIB, Perpusnas: Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih
Rendah, artikel berita dimuat di http://m.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/11/02/mvmvq4perpusnas-minat-baca-masyarakat-indonesia-masih-rendah

11 lihat Rachman, Taufik, 21 October 2011 20:07 WIB, SPS:Pembaca Koran Tinggal 15 Persen, artikel
berita dimuat di http://m.republika.co.id/berita/nasional/umum/11/10/21/ltf33z-spspembaca-koran-tinggal15-persen

diikuti radio yang mengandalkan pesan audio dan terakhir media cetak.
Khusus di dalam penggunaan media baru, meskipun tumbuh cukup pesat, namun
sangat dominan digunakan untuk mengakses media sosial. Peran media sosial tampaknya
sangat signifikan mendorong pesatnya penggunaan internet di Indonesia di samping
semakin terjangkaunya harga perangkat smartphone.
Namun pendekatan uses and gratifications yang menekankan kepada motivasi
khalayak di dalam memilih dan menggunakan media tidak cukup ampuh untuk
membedah lebih jauh terkait dampaknya terhadap khalayak. Beranjak dari data-data yang
tersaji di atas, uses and gratifications hanya bisa menjelaskan mengapa media televisi
paling dipilih khalayak Indonesia, namun teori ini akan tumpul untuk memprediksi
dampak psikologis, sosial, dan kultural terhadap khalayak kaitannya dengan
meningkatnya penggunaan media elektronik atau dengan menurunnya minat membaca
surat kabar. Hal ini bisa dianalogikan seperti melihat seorang perokok aktif hanya dari
sisi latar belakang dan motivasinya. Padangan ini kurang mampu mempertimbangkan dan
memprediksi akibat yang ditimbulkan dari rokok terhadap orang tersebut maupun
lingkungan sosialnya, selain bahwa si perokok telah terpenuhi atau terpuaskan dari
tindakan mengisap rokok yang dipilihnya.
B. Faktor-Faktor Kebutuhan Menurut Uses and Gratifications
Hubungan antara kebutuhan khalayak dan media adalah salah satu subyek utama
di dalam kajian teori uses and gratifications. Kebutuhan adalah faktor utama yang
mendorong seseorang untuk menggunakan media. Dengan kata lain orang menggunakan
media tidak lain hanya untuk memenuhi kebutuhannya. Onong Uchjana mengutip Katz
dkk menguraikan bahwa kebutuhan manusia dipengaruhi oleh lingkungan sosial, afiliasi
kelompok, dan ciri-ciri kepribadian sehingga terciptalah kebutuhan manusia yang
berkaitan dengan media meliputi kebutuhan kognitif, kebutuhan afektif, kepribadian
secara integratif, kebutuhan sosial secara integratif dan kebutuhan pelepasan
ketegangan.12
Kebutuhan yang bersifat psikologis adalah kebutuhan kognitif, kebutuhan afektif,
dan kebutuhan pelepasan ketegangan. Ketiganya kita uraikan sebagai berikut:
1. Kebutuhan kognitif.
Kebutuhan ini berkaitan dengan peneguhan informasi mengenai pemahaman dan
lingkungan. Kebutuhan ini didasarkan dengan hasrat untuk memahami dan menguasai
12 lihat Uchjana, Onong, 2003, Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi, Bandung: PT Citra Aditya Bakti.

lingkungan dan memuaskan rasa keingintahuan kita. Bisa kita amati pada tiap pemilu,
pilpres, maupun pilkada, khalayak Indonesia yang hendak menggunakan hak pilihnya
sangat membutuhkan berita-berita tentang kedua kandidat presiden. Berita-berita politik
tersebut dikonsumsi untuk memenuhi kebutuhan kognitif, yakni informasi dan
pengetahuan sebagai referensi atas sikap yang mereka ambil. Kondisi ini tentu
menyebabkan kenaikan jumlah penggunaan media sebagai pemenuhan kebutuhan
kognitif khalayak.
Data yang dirilis perusahaan riset media AGB Nielsen (saat ini Nielsen) pada
2009 bisa menjadi rujukan. Dari survey mereka di 10 kota di Indonesia menunjukkan
bahwa jumlah pemirsa televisi berita (Metro TV dan TV One) pada kelompok pria 40
tahun ke atas meningkat sebesar 28 persen pada masa pemilu dan pilpres, April hingga
Juni 2009. Sementara jumlah kepemirsaan di televisi-televisi non berita relatif tetap. 13 Hal
yang sama juga terjadi pada surat kabar. Pengalaman selama ini, pemilu selalu membuat
oplah media cetak naik 10 sampai 20 persen. 14
2. Kebutuhan afektif.
Kebutuhan ini berkaitan dengan peneguhan pengalaman-pengalaman yang
menyenangkan secara emosional. Kebutuhan ini bisa dipenuhi dengan menonton
program-program hiburan seperti musik, sinetron, atau program jenis lain yang
menghibur.
Televisi tentu menjadi media yang paling dominan di dalam pemenuhan ini
karena keunggulannya pada pesan audio-visual yang lebih bisa menghibur dibanding
media lainnya. Dominannya televisi sebagai media yang digunakan khalayak di
Indonesia membuat kita bisa memprediksi bahwa kebanyakan khalayak Indonesia
menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan afektifnya alias huburan. Hal ini juga
tergambar dari urutan peringkat televisi-televisi nasional berdasarkan jumlah pemirsanya
di mana peringkat teratas selalui diduduki stasiun televisi yang dominan menayangkan
hiburan. Rilis hasil survey Nielsen pada 2013 menunjukkan bahwa penonton Indonesia
menghabiskan 24 persen (197 jam) dari total jam menonton mereka, selama setahun,
untuk menyaksikan tayangan hiburan sinetron. Tayangan hiburan lain seperti acara
pencarian bakat, komedi, musik, atau permainan, memperoleh porsi jam menonton
13lihat Nielsen, 2014, publikasi hasil survey yang diunduh dari situs
http://www.agbnielsen.com/Uploads/Indonesia/AGBNielsenNewsletterJunInd09.pdf

14 pernyataan ini dikutip dari tulisan seorang praktisi media cetak, Lantoni, Syahrir, 21 December 2007,
Pertama Bikin Politik Lokal Jakarta, dimuat di blognya
http://syahrirlantoni.blogspot.com/2007_12_01_archive.html?m=1

terbesar kedua dari pemirsa, yakni sekitar 20 persen atau 168 jam selama setahun.15
3. Kebutuhan pelepasan ketegangan.
Kebutuhan ini berkaitan dengan upaya mengurangi tekanan psikologis atau stress
dan juga hasrat untuk mencari pengalihan dari stress tersebut. Bermain game online,
menonton siaran olah raga, adalah dua di antara beberapa cara pemenuhan kebutuhan ini.
Terkait dengan penggunaan game online, menarik untuk membaca analisis yang
dimuat di kanal berita Business Weekly Indonesia tanggal 3 November 2014 lalu. Analisis
tersebut memperkirakan 20 persen pengguna internet di Indonesia juga memainkan game
online. Mengingat jumlah pengguna internet di Indonesia saat ini telah mencapai kurang
lebih 82 juta orangmaka pemain game online saat ini diperkirakan telah mencapai 16,4
juta orang, tumbuh pesat hampir 50 persen dari tahun 2010.16
Kebutuhan akan acara olah raga untuk khlayak pengguna televisi Indonesia juga
termasuk dominan. Data yang dirilis Nielsen menunjukkan bahwa program terpopuler di
tahun 2012 adalah pertandingan sepak bola. Siaran langsung pertandingan sepak bola
AFF Suzuki Cup Malaysia vs Indonesia yang lebih dari 5,8 juta orang, dengan poin rating
10,9; Hassanal Bokiah Trophy Indonesia vs Brunei, ditonton 5,1 juta orang dengan rating
9,6; dan Pertandingan Persahabatan Indonesia vs Inter Milan yang ditonton lebih dari 4,6
juta pemirsa dengan rating 8,8.17
Kebutuhan-kebutuhan yang dikategorikan sebagai kebutuhan sosial adalah
kebutuhan pribadi secara integratif dan kebutuhan sosial secara integratif. Keduanya akan
kita uraikan berikut ini.
1. Kebutuhan pribadi secara integratif.
Kebutuhan ini berkaitan dengan kredibilitas, kepercayaan, stabilitas, dan status
individual yang diperoleh dari pemenuhan hasrat dan harga diri. Pengunggahan status dan
foto-foto pribadi oleh kebanyakan para pengguna media sosial di Indonesia patut diduga
sebagai upaya pemenuhan kebutuhan ini. Demikian juga dengan penggunaan situs
pribadi atau blog. Di sisi lain, penggunaan jenis media berdasarkan merk tertentu di
Indonesia, juga cenderung lebih dilandasi kebutuhan pribadi akan status dan kredibilitas.
15 lihat Pingit, Aria, Rabu, 6 Maret 2013, 17:37 WIB, Acara TV Ini Paling Digemari Penonton Indonesia,
artikel berita dimuat di situs http://m.tempo.co/read/news/2013/03/06/090465467/Acara-TV-Ini-PalingDigemari-Penonton-Indonesia

16 lihat Kusnandar, Viva, 3 November 2013, Perkembangan Pesat Industri Game Online, dimuat di situs
http://m.businessweekindonesia.com/article/read/7434/perkembangan-pesat-industri-game-online

17 lihat Pingit, Aria, op. cit.

Banyak ditemui di kalangan pengguna yang memilki perangkat media seluler terbaru
dengan harga yang mahal, namun rupanya mereka kurang memahami kelebihan fitur-fitur
perangkat tersebut. Bisa dicurigai, penggunaan perangkat ini lebih dimotivasi oleh faktor
non-teknis.
2. Kebutuhan sosial secara integratif.
Kebutuhan ini berkaitan dengan peneguhan kontak bersama keluarga, teman dan
dunia. Penggunaan berbagai jenis media sosial seperti Facebook, Twitter, Path, dan lainlain adalah salah satu upaya pemenuhan kebutuhan jenis ini. Kebutuhan sosial khalayak
pengguna internet di Indonesia sangat tinggi. Hal ini bisa dilihat dari data yang sudah
ditulis di atas, yaitu 96,2 persen khalayak cenderung menggunakan internet untuk
mengakses media sosial. Jika mengacu kepada perkiraan jumlah pengguna internet di
Indonesia sebesar 83 juta orang, maka jumlah pengguna media sosial di Indonesia saat ini
hampir 79 juta orang. Facebook Indonesia sendiri mengklaim bahwa saat ini, ada lebih
dari 69 juta pengguna Facebook di Indonesia yang aktif tiap bulannya, 61 juta di
antaranya berasal dari perangkat seluler.18

18 lihat Wahyudi, Reza, Senin, 22 September 2014 15:20 WIB, Facebook Ungkap Jumlah Penggunanya
di Indonesia, artikel berita dimuat di situs
http://tekno.kompas.com/read/2014/09/22/15205237/Facebook.Ungkap.Jumlah.Penggunanya.di.Indonesia