Anda di halaman 1dari 29

LAPORAN MINGGUAN

KIMIA ANALITIK
ARGENTOMETRI

Oleh :
Nama
NRP
Meja
Kelompok
Asisten
Tgl. Percobaan

: Fahrunnisa
: 063020078
: 4 (empat)
: III (Tiga)
: Devita Indriani
: 6 November 2007

LABORATORIUM KIMIA ANIALITIK


JURUSAN TEKNOLOGI PANGAN
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS PASUNDAN
BANDUNG
2007

I PENDAHULUAN
Bab ini menguraikan mengenai : (1) Latar Belakang
Percobaan, (2) Tujuan Percobaan, (3) Prinsip Percobaan, dan
(4) Reaksi Percobaan.
1.1. Latar Belakang Percobaan
Reaksi pengendapan telah digunakan secara meluas
dalam kimia analisis, dalam titrasi-titrasi, dalam penetapan
gravimetri, dan dalam memisahkan suatu sampel menjadi
komponen-komponennya.

Titrasi

yang

melibatkan

reaksi

pengendapan hampir tak sebanyak titrasi yang melibatkan


reaksi asam basa dalam analisis titrimetri. Presipitimetri adalah
cara titrasi dimana terjadi endapan.
Contoh :
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
Makin kecil kelarutan garam yang terbentuk, makin
sempurna reaksinya. Argentometri merupakan titrasi-titrasi
yang menyangkut penggunaan larutan AgNO 3.. Argentometri
dimana terbentuk endapan (ada juga argentometri yang
tergolong pembentukan kompleks) dibedakan menjadi tiga
macam cara berdasarkan indikator yang digunakan untuk
penentuan titik akhir, yaitu cara atau metode Mohr, metode
Volhard, dan metode Fajans. Dalam tiga cara tersebut, titran
masing-masing tertentu, indikator dan pH pada metode Mohr
dan Volhard tertentu, sedangkan dalam cara Fajans indikator

tidak harus tertentu dan pH disesuaikan dengan indikator


(Underwood,1999).
1.2. Tujuan Percobaan
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk menentukan
konsentrasi

suatu

larutan

(mengandung

ion

Cl -

dan

menetapkan konsentrasi larutan standar AgNO 3 dengan cara


titrasi pengendapan.
1.3. Prinsip Percobaan
Berdasarkan

pembentukan

endapan

AgCl

yang

terbentuk pada pH (sesuana larutan) tertentu dengan indikator


yang berbeda (tertentu) tergantung pada metoda titrasi yang
digunakan.
Metoda Mohr, berdasarkan pembentukan senyawa
endapan berwarna dalam suasana netral sedikit basa terhadap
indikator K2CrO4 berwarna merah bata.
Metoda Fajans, berdasarkan pembentukan senyawa
endapan berwarna dalam sesuana netral sedikit basa terhadap
indikator adsorpsi Fl (flourescen). Pada titik akhir titrasi
terbentuk endapan (AgCl)AgFl berwarna merah muda (pink).
Metoda Volhard, Berdasarkan pembentukan senyawa
larutan berwarna Fe (SCN) 3 dalam sesuana asam terhadap
indicator Fe3+ .

1.4. Reaksi Percobaan


1. Reaksi Mohr
AgNO3 + NaCl AgCl putih + NaNO3
2 AgNO3 + K2CrO4 Ag2CrO4 + 2 K NO3 ( merah bata)
2. Reaksi Volhard
AgNO3 + NaCl AgCl putih + NaNO3
AgCl + H+ Fl- [AgCl] AgFl (merah muda) + H+
3. Reaksi Fajans
AgNO3 + NaCl AgCl + NaNO3
Ag NO3 + SCN AgSCN + NO3Fe3+ + SCN- Fe (SCN)3

II TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini menguraikan tentang (1) Titrasi pengendapan :
(2)

Pembentukan

endapan

berwarna,

(3)

Pembentukan

kompleks berwarna, (4) Titrasi pengendapan cara Fajans, dan


(5) Titrasi pengendapan cara Gay Lussac.
2.1. Titrasi Pengendapan
Titrasi

pengendapan

disebut

juga

sebagai

titrasi

argentometri. Argentometri merupakan system titrasi dengan


menggunakan

larutan

pengendapan

standar

karena

AgNO 3.

Disebut

pada

titrasi

reaksinya

membentuk/menghasilkan endapan (berdasarkan sifat Ksp-nya


dan

garam-garam

yang

mengendap

tersebut).

Garam

-garam yang dapat mengendap dengan AgNO 3 diantaranya :


unsur golongan halogenida, tiosianat, dan sianida.
Titrasi argentometri, seperti yang umum pada titrasi
lainya, juga memerlukan indikator . Indikator yang umum
digunakan dalam titrasinya adalah larutan K 2CrO4 5%, larutan
Fe3+ dibuat dari tawas besi, flouroscein, dan eoscein.

(SyafeI,

1998).
2.2. Pembentukan Endapan Berwarna
Seperti halnya suatu sistem asam-basa dapat digunakan
sebagai suatu indikator untuk titrasi asam-basa, maka
pembentukan endapan yang lain dapat digunakan untuk
menunjukan kesempurnaan suatu titrasi pengendapan. Contoh
dari keadaan demikian adalah disebut titrtasi Mohr dari klorida

dengan ion perak, yang dalam hal ini ion kromat digunakan
sebagai indikator. Penampilan pertama yang tetap dari
endapan perak kromat yang kemerah-merahan dianggap
sebagai titik akhir titrasi.
Pengendapan indikator terjadi pada atau dekat dengan
titik akhir titrasi dan bahkan titik ekivalen titrasi, perak kromat
lebih larut daripada klorida. Jika ion perak ditambahkan ke
larutan yang mengandung kosentrasi ion klorida yang tinggi
dan konsentrasi ion kromat yang kecil maka perak klorida akan
mengendap pertama, perak kromat baru akan terbentuk
setelah konsentrasi ion perak meningkat sampai suatu harga
cukup besar yang melampaui KKCl perak kromat.
Biasanya konsentrasi kromat yang digunakan sebesar
0,0050,01 M. Kesalahan yang disebabkan oleh penggunaan
konsentrasi yang tinggi akan kecil. Namun dapat juga dilakukan
koreksi dengan melakukan standarisasi perak nitrat terhadap
garam klorida murni pada keadaan-keadaan yang identik
dengan yang digunakan pada analisa.
Cara mohr dapat juga digunakan untuk titrasiion bromida
dengan perak dan juga ion sianida dalam larutan sedikit alkalis.
Akibat adsorpsi membuat titrasi ion iodide dan tiosianat tidak
dapat dilaksanakan. Perak tidak dapat dititrasi langsung
dengan

klorida

dengan

menggunakan

indikator

kromat.

Endapan perak kromat yang semula ada, larut kembali hanya


perlahan-lahan dekat titik ekivalen. Tetapi larutan klorida
standar dalam jumlah berlebih dapat ditambahkan dan

kemudian dititrasi kembali dengan menggunakan indicator


kromat. (Underwood, 1994).
2.3. Pembentukan Kompleks Berwarna
Pembentukan

kompleks

berwarna

dalam

titrasi

pengendapan ini merupakan cara Volhard. Cara Volhard


didasarkan pada pengendapan perak tiosianat dalam larutan
asam nitrat, dengan menggunakan ion besi (III) untuk meneliti
ion tiosianat berlebih.
Cara ini dapat digunakan untuk titrasi langsung dari ion
perak dengan larutan tiosianat standar atau untuk titrasi tak
langsung dari ion klorida. Pada keadaan terakhir ini perak nitrat
berlebih ditambahkan dan kelebihannya dititrasi dengan
tiosianat standar. Anion-anion asam lemah seperti bromida dan
iodida dapat ditentukan dengan prosedur sama. Anion
-anion asam lemah seperti oksalat, karbonat, dan arsenat,
dengan garam-garam peraknya yang larut dalam asam, dapat
ditentukan dengan pengendapan pada pH lebih tinggi dan
penyaringan garam peraknya. Endapan kemudian dilarutkan
dalam asam nitrat dan perak dititrasi langsung dengan
tiosianat.
Cara Volhard secara luas digunakan untuk perak dan Cl karena kenyataan bahwa titrasi dapat dilakukan dalam larutan
asam. Sebenarnya

adalah layak untuk menggunakan suatu

medium asam untuk mencegah hidrolisa indikator ion Fe (III).


Cara-cara umum lain untuk perak dan klorida memerlukan
larutan hamper netral agar titrasi berhasil baik. Banyak kation

mengendap

dalam

keadaan

demikian,

dan

karenanya

mengganggu pada cara ini.


Merkuri adalah satu-satunya yang mengganggu pada
cara ini. Sesungguhnya merkuri dapat ditentukan secara titrasi
dengan tiosianat. Kation lain yang mengganggu adalah
konsentrasi tinggi dari ion berwarna, seperti Kobal (II), Nikel
(II), dan Cu (II), menyebabkan kesukaran pada pengamatan
TA.
Pada titrasi langsung dari perak dengan tiosianat ada
dua sumber kesalahan yang keduanya kurang penting. Pada
tempat pertama, perak tiosianat menyerap perak pada
permukaanya, menyebabkan TA terjadi terlalu dini. Kesulitan ini
dapat diatasi sebagian besar dengan pengadukan kuat
campuran dekat titik akhir titrasi. Kedua, perubahan warna
yang menandai titik akhir terjadi pada suatu konsentrasi
tiosianat sedikit berlebih dari konsentrasi pada titik ekivalen.
(Underwood, 1994).
2.4. Titrasi Pengendapan Cara Fajans
Suspensi

perak

halogenida

pada

larutan

yang

mengandung ion halide akan bermuatan negatif karena


mengadsorpsi ion halide tersebut, dan kemudian akan
bermuatan positif apabila terdapat kelebihan ion perak.
Suatu endapan cenderung mengadsopsi ion-ionnya
sendiri. Karena itu suspensi perak klorida pada media yang
mengandung klorida dan ion-ion lain cenderung mengadsorpsi
Cl-. Jika titik ekivalen tercapai, kelebihan ion perak akan

diadsorpsi oleh perak klorida. Ion nitrat teradsorpsi dengan


kuat, sehingga jika ada anion lain yang teradsorpsi lebih kuat
maka anion itu akan mengganti kedudukan.
2.5. Titrasi Pengendapan Cara Gay Lussac
Menjelang kesetaraan akan terjadi koagulasi dari larutan
koloid tersebut, karena muatan ion pelindung tidak kuat lagi
untuk menambah penggumpalan. Dalam keadaan ini didapat
endapan AgX yang berupa endapan kurdi dengan larutan
induknya yang jernih. Titik akhir titrasi diperoleh jika satu tetes
penitrasi yang ditambahkan tidak lagi memberikan kekeruhan
dengan volume peniter yang diketahui pada saat terjadinya
penggumpalan yang mencapai kesetaraan, maka penambahan
selanjutnya dapat diperkirakan dan umumnya ditambahkan
tetes demi tetes. (Underwood, 1990)

III ALAT,BAHAN DAN METODE PERCOBAAN


Bab ini menguraikan mengenai : (1) Alat yang
Digunakan, (2) Bahan yang Digunakan, dan (3) Metode
Percobaan.
3.1. Alat yang Digunakan
Alat-alat yang digunakan pada percobaan argentometri
adalah labu ukur, labu erlenmeyer, pipet gondok, botol semprot,
gelas kimia dan buret.
3.2. Bahan yang Digunakan
Bahan-bahan yang digunakan adalah sampel S, NaCl,
indiKator K2CrO4, , pentiter AgNO3 dan aquadest.
3.3. Metode Percobaan
Metode percobaan yang dilakukan pada percobaan ini
adalah Metode fajans. Hal yang pertama kali dilakukan adalah
menimbang NaCl padat sebanyak 0,44 gram. Masukkan NaCl
tersebut ke dalam labu ukur, kemudian larutkan NaCl dengan
aquadest sampai volumenya 100 ml, atau sampai tanda batas
yang tertera pada labu ukur. Kocok sampai larutan tersebut
tercampur. Pipet AgNO3 sebanyak 25 ml, masukkan kedalam
gelas kimia dan tambahkan aquadest kedalamnya sampai
volumenya menjadi 135 ml, setelah itu masukkan ke dalam
buret. Ambil 25 ml larutan NaCl 0,038N dengan menggunakan
pipet gondok, masukkan kedalam erlenmeyer, lalu tambahkan
1 ml K2CrO4 ke dalamnya. Titrasi larutan tersebut dengan

AgNO3 sampai terbentuk warna merah bata. Lakukan prosedur


percobaan tersebut sebanyak dua kali (duplo). Penentuan
konsentrasi sampel dilakukan dengan metode yang sama
seperi diatas.

IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Bab ini menguraikan mengenai: (1) Hasil Pengamatan,
dan (2) Pembahasan.
4.1 Hasil Pengamatan
Hasil

dari

percobaan

argentometri

menggunakan

metode Fajans adalah sebagai berikut :


Berat zat baku primer NaCl = 0,44gram
BE zat baku primer NaCl = 58,5
Volume pengenceran

= 25 ml larutan standar 0,03 N

dilarutkan dengan aquadest sampai dengan 135 ml sehingga


diperoleh konsentrasi larutan standar N.
Normalitas larutan standar AgNO3 = 0,038N
Normalitas sampel (S)

= 0,0078N

Normalitas sample (SH)

= 0,00605 N

Faktor kesalahan

= 11 %

TAT (Titik Akhir Titrasi)

= Endapan merah bata

4.2 Pembahasan
Percobaan argentometri dilakukan dengan cara Fajans
dimana dalam titrasinya digunakan indikator adsorpsi. Indikator
adsorpsi adalah zat yang dapat diserap pada permukaan
endapan

dan

menyebabkan

timbulnya

warna.

Indikator

adsorpsi tersebut diantaranya FI (fluorescein), yang merupakan


sebuah asam organik lemah yang dinyatakan sebagai HFI. Jika
fluorescein ditambahkan anion, FI- tidak diserap oleh perak
klorida koloidal selama ion klorida ada berlebih. Akan tetapi

apabila ion perak dalam keadaan berlebih, ion FI - dapat ditarik


ke

permukaan

partikel

bermuatan

positif

tersebut

(Khopkar, 2002).
Kelarutan suatu endapan menurut definisi adalah sama
dengan konsentrasi molar dari larutan jenuhnya, kelarutan
bergantung pada berbagai kondisi, seperti suhu, tekanan,
kosentrasi bahan-bahan lain dalam larutan itu dan pada
komposisi pelarutnya (Svehla, 1985).
Perubahan kelarutan dengan tekanan tak mempunyai
arti penting yang praktis dalam analisis anorganik kualitatif,
karena semua perubahan yang sedikit dari tekanan atmosfer
tak mempunyai pengaruh yang berarti atas kelarutan. Terlebih
penting adalah perubahan kelarutan dengan suhu. Umumnya
dapat dikatakan, bahwa kelarutan bertambah besar dengan
kenaikan suhu, meskipun dalam beberapa hal yang istimewa
terjadi yang sebaliknya. Laju kelarutan kenaikan dengan suhusuhu berbeda-beda dalam beberapa hal sangat kecil sekali
pada beberapa kali perubahan kelarutan dengan berubahnya
suhu dapat menjadi dasar untuk pemisahan (Svehla, 1985).
Kesalahan atau tidak sesuainya konsentrasi sampel
tersebut

diantaranya

melakukan

titrasi

diakibatkan

atau

oleh

kelebihan

kesalahan

titran.

Faktor

dalam
yang

menyebabkan kelebihan titran berpengaruh kecil, tetapi untuk


larutan encer, masalahnya menjadi serius. Maka diperlukan
faktor

koreksi,

yang

dicapai

dengan

titrasi

blanko

(blank titration), yaitu diambil suspensi CaCO3 yang bebas ion

Cl- dengan volume dan indikator sebanyak yang digunakan


dalam titrasi sebenarnya, lalu ditambah AgNO 3 sampai tercapai
warna tertentu; jumlah AgNO3 dikurangkan dari hasil titrasi
sebenarnya, yang dilakukan sampai mencapai warna seperti
blanko tersebut (Harjadi, 1990).
Selama titrasi fajans, larutan harus diaduk dengan
baik. Bila tidak, maka secara lokal terjadi kelebihan titrant yang
menyebabkan indikator mengendap sebelum titik ekivalen
tercapai, dan dioklusi oleh endapan AgCl yang terbentuk
kemudian; akibatnya ialah, bahwa titik akhir menjadi tidak
sharp (Harjadi, 1990).
Faktor-faktor

yang

mempengaruhi

kelarutan.

Parameter-parameter yang penting adalah:


a.

Temperatur.

Kelarutan

bertambah

dengan

naiknya

temperatur. Kadangkala endapan yang baik terbentuk pada


larutan panas, tetapi jangan dilakukan penyaringan terhadap
larutan panas karena pengendapan dipengaruhi oleh faktor
temperatur.
b. Sifat pelarut. Garam-garam anorganik lebih larut dalam air.
berkurangnya kelarutan di dalam pelarut organik dapat
digunakan sebagai dasar pemisahan dua zat.
c. Efek ion sejenis. Kelarutan endapan dalam air berkurang jika
larutan tersebut mengandung satu ion-ion penyusun endapan,
sebab pembatasan Ksp. Baik kation maupun anion yang
ditambahkan, mengurangi konsentrasi ion penyusun endapan
sehingga

endapan

garam

bertambah.

Suatu

endapan

umumnya lebih dapat larut dalam air murni daripada dalam


suatu larutan yang mengandung salah satu ion endapan.
Pentingnya efek ion sejenis dalam mengendapkan secara
lengkap dalam analisis kuantitatif akan tampak dengan mudah.
d.

Efek

ion-ion

lain.

Beberapa

endapan

bertambah

kelarutannya bila dalam larutan terdapat garam-garam yang


berbeda dengan endapan. Hal ini disebut sebagai efek garam
netral atau efek aktivitas. Semakin kecil koefisien aktivitas dari
dua buah ion, semakin besar hasil kali konsentrasi molar ion
-ion yang dihasilkan.
e. Pengaruh hidrolisis. Jika garam dari asam lemah dilarutkan
dalam air, akan menghasilkan perubahan (H +). Kation dari
spesies garam mengalami hidrolisis sehingga menambah
kelarutannya.
f. Pengaruh kompleks. Kelarutan garam yang sedikit larut
merupakan fungsi konsentrasi zat lain yang membentuk
kompleks dengan kation garam tersebut.
Reaksi

yang

menghasilkan

endapan

dapat

dimanfaatkan untuk analisis secara titrasi jika reaksinya


berlangsung cepat, dan kuantitatif serta titik akhir dapat
dideteksi. Beberapa reaksi pengendapan berlangsung lambat
dan mengalami keadaan lewat jenuh. Reaksi samping tidak
boleh terjadi, demikian pula kopresipitasi (Khopkar, 2002).

V KESIMPULAN DAN SARAN


Bab ini menguraikan mengenai : (1) Kesimpulan dan
(2) Saran.
5.1. Kesimpualan
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa
konsentrasi larutan standar adalah 0,038 N, dan konsentrasi
sampel S adalah 0,00605 N dengan faktor kesalahan sebesar
11 %.
5.2. Saran
Sebaiknya pada saat melakukan percobaan, para
praktikan harus lebih teliti dalam mengamati perubahan warna
yang terjadi agar didapat hasil yang akurat.

DAFTAR PUSTAKA
Harijadi, W. (1990). Kimia Analitik Dasar. PT Gramedia
Pustaka; Jakarta.
Khopkar, (2002), Konsep Dasar Kimia Analitik, UI-Press,
Jakarta.
Svehla, G, (1985), Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semi mikro, PT Kalman Media Pustaka, Jakarta.
SyafeI, (1998), Kimia Analitik Kuantitatif, SMT Kimia
Analisis, Bandung.

Underwood,

(1990),

Erlangga, Jakarta.

Analisa

Kimia

Kuantitatif,

LAMPIRAN
Perhitungan Hasil Percobaan Argentometri
1. Membuat larutan Baku Primer NaCl 0,03 N
N

= g
BE

0,03 N =

g x
58,5

1000
V
1000
250

g NaCl = 0,03 N x 58,5 x 250 ml


1000
g NaCl = 0,44 gram
2. Pengenceran AgNO3 0,3 N 0,03 N
V1 N1 = V2 N2
V1

V2 N2
N1

= 250 ml x 0,03 N
0,3 N
= 25 ml

3. Pembakuan AgNO3

V = 23,75 ml
(VN) NaCl = (VN) AgNO3
N AgNO3 = (VN) NaCl
V AgNO3
= 25 ml x 0,03 N
9,25
= 0,038N
4.Penentuan Kosentrasi Sampel (Q)
V = 6,5 ml
(VN) sampel = (VN) AgNO3
V sampel
= 4,9 ml x 0,038 N
25 ml

= 0,0074 N

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas


berbahasa Indonesia.
Langsung ke: navigasi, cari

Kromatografi
Kromatografi

adalah

teknik

pemisahan

campuran

berdasarkan perbedaan kecepatan perambatan komponen


dalam medium tertentu. Pada kromatografi, komponenkomponennya akan dipisahkan antara dua buah fase yaitu
fase diam dan fase gerak. Fase diam akan menahan
komponen

campuran

sedangkan

fase

gerak

akan

melarutkan zat komponen campuran. Komponen yang


mudah

tertahan

pada

fase

diam

akan

tertinggal.

Sedangkan komponen yang mudah larut dalam fase gerak


akan bergerak lebih cepat. Kromatografi terbentuk apabila

terdapat satu fasa pegun dan satu fasa bergerak. Fasa pegun
biasanya ialah pepejal atau cecair manakala fasa bergerak
biasanya ialah cecair atau gas. Setiap molekul yang berbeza
akan terjerap kepada fasa pegun dengan kekuatan yang
berbeza. Pada masa yang sama, dua molekul yang berlainan
juga mempunyai keterlarutan yang berbeza dalam fasa
bergerak. Katakan kita mempunyai campuran dua bahan A dan
B. A akan terjerap kepada fasa pegun dengan kuat manakala B
tidak. A juga mempunyai keterlarutan dalam fasa bergerak
yang lebih rendah berbanding dengan B. Jesteru, apabila
campuran A dan B dibiarkan melalui satu lajur kromatografi, B
dapat bergerak dengan lebih cepat berbanding dengan A
kerana A mengalami rintangan yang kuat dalam perjalanannya.
Jenis kromatografi
Terdapat beberapa jenis kromatografi. Antaranya ialah:

Kromatografi kertas
Kromatografi lajur
Kromatografi gas
Kromatografi lapisan nipis

Kromatografi Kertas
Bagian ini mengantarkan penjelasan tentang kromatografi
kertas,

termasuk

Pelaksanaan
Latarbelakang

didalamnya

kromatografi

kromatografi

dua

arah.
kertas

Kromatografi digunakan untuk memisahkan campuran dari


substansinya

menjadi

komponen-komponennya.

Seluruh

bentuk kromatografi bekerja berdasarkan prinsip yang sama.


Seluruh bentuk kromatografi memiliki fase diam (berupa
padatan atau cairan yang didukung pada padatan) dan fase
gerak (cairan atau gas). Fase gerak mengalir melalui fase diam
dan membawa komponen-komponen dari campuran bersamasama. Komponen-komponen yang berbeda akan bergerak
pada laju yang berbeda pula. Kita akan melihat alasannya pada
halaman

selanjutnya.

Dalam kromatografi kertas, fase diam adalah kertas serap yang


sangat seragam. Fase gerak adalah pelarut atau campuran
pelarut yang sesuai.

Bagaimana halnya jika substansi yang ingin anda analisis tidak


berwarna?
Ada

dua

cara

untuk

menyelesaikan

analisis

sampel

yang

tidak@berwarna.
Menggunakan

pendarflour

Mungkin anda masih ingat apa yang telah saya sebutkan bahwa fase
diam pada sebuah lempengan lapis tipis seringkali memiliki substansi
yang ditambahkan kedalamnya, supaya menghasilkan pendaran flour
ketika

diberikan

menyinarkannya

sinar

ultraviolet

dengan

sinar

(UV).
UV,

Itu

berarti

jika

anda

akan

berpendar.

Pendaran ini ditutupi pada posisi dimana bercak pada kromatogram


berada, meskipun bercak-bercak itu tidak tampak berwarna jika dilihat
dengan mata. Itu berarti bahwa jika anda menyinarkan sinar UV pada
lempengan, akan timbul pendaran dari posisi yang berbeda dengan
posisi bercak-bercak. Bercak tampak sebagai bidang kecil yang gelap.

Sementara UV tetap disinarkan pada lempengan, anda harus menandai

Jadi, pada permukaan jel silika terdapat ikatan Si-O-H selain Si-O-Si.
Gambar ini menunjukkan bagian kecil dari permukaan silika.

Permukaan jel silika sangat polar dan karenanya gugus -OH dapat
membentuk ikatan hidrogen dengan senyawa-senyawa yang sesuai
disekitarnya, sebagaimana halnya gaya van der Waals dan atraksi dipoldipol..
Fase diam lainnya yang biasa digunakan adalah alumina-aluminium
oksida. Atom aluminium pada permukaan juga memiliki gugus -OH. Apa
yang kita sebutkan tentang jel silika kemudian digunakan serupa untuk
alumina.
Apa yang memisahkan senyawa-senyawa dalam kromatogram?
Ketika pelarut mulai membasahi lempengan, pelarut pertama akan
melarutkan senyawa-senyawa dalam bercak yang telah ditempatkan
pada garis dasar. Senyawa-senyawa akan cenderung bergerak pada
lempengan kromatografi sebagaimana halnya pergerakan pelarut.
Bagaimana cepatnya senyawa-senyawa dibawa bergerak ke atas pada
lempengan, tergantung pada:

Bagaimana kelarutan senyawa dalam pelarut. Hal ini bergantung


pada bagaimana besar atraksi antara molekul-molekul senyawa
dengan pelarut.
Bagaimana senyawa melekat pada fase diam, misalnya jel silika.
Hal ini tergantung pada bagaimana besar atraksi antara senyawa

dengan jel silika.


Anggaplah bercak awal mengandung dua senyawa, yang satu dapat
membentuk ikatan hidrogen, dan yang lainnya hanya dapat
mengambil@bagian interaksi van der Waals yang lemah.
Senyawa yang dapat membentuk ikatan hidrogen akan melekat pada jel
silika lebih kuat dibanding senyawa lainnya. Kita mengatakan bahwa
senyawa ini terjerap lebih kuat dari senyawa yang lainnya. Penjerapan
merupakan pembentukan suatu ikatan dari satu substansi pada
permukaan.
Penjerapan bersifat tidak permanen, terdapat pergerakan yang tetap
dari molekul antara yang terjerap pada permukaan jel silika dan yang
kembali pada larutan dalam pelarut.
Dengan jelas senyawa hanya dapat bergerak ke atas pada lempengan
selama waktu terlarut dalam pelarut. Ketika senyawa dijerap pada jel
silika-untuk sementara waktu proses penjerapan berhenti-dimana
pelarut bergerak tanpa senyawa. Itu berarti bahwa semakin kuat
senyawa dijerap, semakin kurang jarak yang ditempuh ke atas
lempengan.
Dalam contoh yang sudah kita bahas, senyawa yang dapat membentuk
ikatan hidrogen akan menjerap lebih kuat daripada yang tergantung
hanya pada interaksi van der Waals, dan karenanya bergerak lebih jauh
pada lempengan.
Bagaimana jika komponen-komponen dalam campuran dapat
membentuk ikatan-ikatan hidrogen?
Terdapat perbedaan bahwa ikatan hidrogen pada tingkatan yang sama
dan dapat larut dalam pelarut pada tingkatan yang sama pula. Ini tidak
hanya merupakan atraksi antara senyawa dengan jel silika. Atraksi
antara senyawa dan pelarut juga merupakan hal yang penting-hal ini
akan mempengaruhi bagaimana mudahnya senyawa ditarik pada larutan
keluar dari permukaan silika.
Bagaimanapun, hal ini memungkinkan senyawa-senyawa tidak
terpisahkan dengan baik ketika anda membuat kromatogram. Dalam
kasus itu, perubahan pelarut dapat membantu dengan baik-

termasuk@memungkinkan perubahan pH pelarut.


Ini merupakan tingkatan uji coba ? jika satu pelarut atau campuran
pelarut tidak berkerja dengan baik, anda mencoba pelarut lainnya.
(Berikan tingkatan dimana anda dapat berkerja, seseorang telah
berkerja keras untuk anda dan anda hanya menggunakan campuran
pelarut yang telah anda berikan dan segala sesuatunya akan berkerja
dengan sempurna!)

QUIZ

1. Apa yang dimaksud dengan argentometri ?


Jawab :
Argentometri adalah suatu metode analisis kuantitatif untuk
menentukan kadar atau konsentrasi larutan suatu zat dalam
larutan yang didasarkan pada reaksi pengendapan dengan
menggunakan larutan standar AgNO3
2. Apa yang dimaksud dengan kromatografi ? Sebutkan
macam-macamnya?
Jawab :
Kromatografi adalah suatu metode fisika untuk memisahkan
suatu campuran yang komponennya terdistribusi pada dua
fase, dan teknik pemisahannya didasarkan pada perbedaan
kecepatan gerak komponen yang terpartisi pada kedua fase di
bawah pengaruh pelarut yang bergerak.
3. Apa yang dimaksud dengan Rate of Flow (Rf) ?
Jawab :
Rf adalah perbandingan kecepatan pergeseran zat terlarut
terhadap senyawa standar ideal yang tidak terlarutkan ataupun
yang tidak teradsorpsi oleh fase diam.
4. Sebutkan fase-fase yang ada pada kromatografi lapis tipis !
Jawab :
Fase diam (silika gel) dan fase gerak (eluen)

5. 0,3016 gram NaCl murni ditimbang dan dilarutkan ke dalam


labu takar 100 ml. Kemudian larutan tersebut dipipet 10 ml dan
dititrasi dengan larutan standar AgNO3 terhadap indikator
K2CrO4. TAT = 10,05 ml.
a. Sebutkan perubahan warnanya ?
a.

Tuliskan reaksinya ?

b.

Hitung konsentrasi AgNo3 ?

Jawab :
a. Perubahan warna menjadi merah bata
b. Reaksi:
AgNO3 + NaCl AgCl (putih) + NaNO3
2 AgNO3+K2CrO4 Ag2CrO4 (merah bata) + 2 KNO3
c. N = g x L

N =

BE
N =

g
BM/mol

0,3016
58,44

1000
100

= 0, 0516 N
V 1 . N 1 = V 2 . N2
10. 0, 0516 N= 10,05. N2
N2 = 10 x 0,0516 = 0, 0513 N
10,05

1000
vol (ml)