Anda di halaman 1dari 4

IKATAN ION

Ikatan ion adalah ikatan yang dihasilkan oleh daya tarik menarik elektrostatik
antara ion-ion yang muatannya berlawanan. Kekuatan tarik menarik akan makin
berkurang bila jarak antar ion makin jauh dan pengurangan tersebut berbanding
terbalik dengan jaraknya.
Energi relatif (E) ikatan ion dapat dihitung melalui persamaan Coulomb sebagai
berikut :
Ea dan eb : muatan ion 1 dan 2
D
: tetapan dielektrik medium
r
: jarak antar ion

Makromolekul dalam sistem biologis yang berfungsi sebagai komponen reseptor


mengandung gugus protein dan asam nukleat yang bervariasi, mempunyai gugus
kation dan anion potensial tetapi hanya beberapa saja yang dapat terionisasi pada
pH fisiologis. Obat yang mengandung gugus kation potensial, seperti R3NH+,
R4N+ dan R2C=NH2+, maupun anion potensial, seperti RCOO-, RSO3- dan RCOS-,
dapat membentuk ikatan ion dengan gugus-gugus reseptor atau protein yang
bermuatan berlawanan. Kemampuan interaksi gugus-gugus yang muatannya
berlawanan tersebut tergantung pada susunan makromolekul reseptor.
Pada pH 7,3 dan suhu 37C, akridin terdapat dalam bentuk terionisasi lebih
kurang 60%, dan aktif sebagai antibakteri. Disini bentuk kation akridin dianggap
bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakterinya. Bentuk tak terionisasi,
bentuk anion dan bentuk ion Zwitter, mempunyai aktivitas antibakteri rendah.
Penambahan substituen amin pada struktur molekul akridin, dapat mempengaruhi
sifat kebasaan dan aktivitas antibakteri. Bila posisi gugus amin pada atom C 3, C6
atau C9 (aminakrin), terjadi stabilisasi resonansi, delokalisasi muatan positif
kation meningkat sehingga sifat kebasaan senyawa meningkat. Hal ini
menyebabkan peningkatan kadar kation obat, sehingga meningkatkan aktivitas
antibakterinya. Substitusi pada posisi C1 dan C2, tidak menyebabkan stabilisasi

resonansi sehingga sifat kebasaan rendah dan aktivitas antibakterinya juga rendah.
Bila posisi gugus amin pada atom C4 akan terbentuk ikatan H intramolekul yang
menurunkan sifat kebasaan senyawa sehingga aktivitas antibakterinya rendah.

Senyawa diaminoakridin, seperti proflavin (3,6-diaminoakridin), sifat ionisasi


lebih besar dibanding senyawa monoamin, seperti 3-aminoakridin atau 6aminoakridin, sehingga bentuk kation aktif lebih besar dan aktivitas
antibakterinya juga lebih besar.
Total luas permukaan bidang datar senyawa juga berpengaruh terhadap aktivitas
antibakteri turunan akridin. Bila total luas permukaan bidang datar senyawa lebih
kecil dari 38 kuadrat maka sebagian besar aktivitas antibakterinya akan hilang.
Hal ini disebabkan diperlukan luas permukaan bidang datar tertentu, dengan
kekuatan van der Waals tertentu, untuk menunjang ikatan ion antara kation obat
dengan anion reseptor.
Dibawah ini tabel pengaruh ionisasi terhadap efek bakteriostatik turunan
aminoakridin tergadap Streptococcus pyogenes, pada pH 7,3 dan suhu 37C
Turunan Akridin
Tidak tersubtsitusi
3-NH2
9-NH2
3,6 di NH2
3,9 di NH2
3,7 di NH2
2,7 di NH2
1- NH2
2- NH2

Kadar Bakteriostatis
Minimal
1/5.000
1/80.000
1/160.000
1/160.000
1/160.000
1/160.000
1/20.000
1/10.000
1/10.000

Persen Ionisasi sebagai


Kation
1
73
99
99
100
76
4
2
2

4- NH2
4,5 di NH2
Contoh :

1/5.000
1/5.000

<1
<1

9-aminotetrahidroakridin mempunyai total luas permukaan bidang datar lebih


besar dari 38 kuadrat dan kadar antibakterinya 1:5000, sedang 4-aminokuinolin
mempunyai total luas permukaan bidang datar lebih kecil dari 38 kuadrat
sehingga kadar antibakterinya turun, lebih rendah dari 1:5000.

Protein sel bakteri pada umumnya mempunyai titik isoelekterik lebih kurang 4,
sehingga pada pH fisiologis (7,4) akan bersifat sebagai anion. Oleh karena itu
hanya bentuk kation obat yang efektif sebagai antibakteri. Beberapa zat warna
basa turunan trifenilmetan, seperti malachite green dan gentian violet, serta
turunan akridin, seperti akriflavin, aminakrin dan proflavin, mempunyai aktivitas
antibakteri dengan gugus anion esensial sel bakteri, misal gugus karboksilat,
membentuk garam sukar terdisoisasi dan mempunyai tetapan stabilitas yang relatif
tinggi.
Mekanisme interaksi bentuk kation obat dengan gugus anion sel bakteri dijelaskan
sebagai berikut :

Makin tiggi tetapan stbilitas garam semakin lebih baik kation tersebut
berkompetisi dengan ion-ion hidrogen dalam berinteraksi dengan gugus anion
penting sel bakteri. Akibatnya terjadi pemblokiran gugus fungsional sel,
metabolisme sel dihambat sehingga sel bakteri mengalami kematian (efek
bakteriostatik).

Senyawa

turunan

amonium

kuartener

(N+R3)Cl-,

seperti

dekualinium

klirida,

benzalkonium

klorida

dan

setilpiridinium

klorida,

menunjukkan aktivitas antibakteri dengan cara kerja seperti zat warna di atas.