Anda di halaman 1dari 6

GLOBALISASI TEORI PEMBANGUNAN

Dalam teori pembangunan dikenal adanya faktor eksogen dan endogen yang saling
berkaitann sebagai tesis dan antitesis. Meskipun dalam khasanah teori kedua faktor tersebut
dapat di pisahkan, dalam kenyataannya kedua faktor tersebut saling terkait antara satu dengan
lainnya. Dapat dikatakan bahwa tidak ada suatu negara di dunia ini yang sepenuhnya otonom dan
mandiri. Kesadaran adanya saling ketergantungan antara satu negara dengan negara lain inilah
yang mendasari pemikiran akan suatu konsep yang menjembatani berbagai kepentingan
khususnya dalam bidang ekonomi. Ada dua pendapat mengenai konsep interdependensi.
Pertama, ada pendapat yang menyatakan bahwwa konsep interdependensi merupakan
penyempurnaan dari teori ketergantungan (dependensia), yang pada dasarnya ingin menjelaskan
struktur ekonomi global yang semakin kompleks daripada sekedar dikotomi pusat-periferi.
Kompleksitas ini merupakan refleksi dari meningkatnya persaingan dan ketegangan di negaranegara pusat, adanya industrialisasi di negara periferi, deindustrialisasi di negara-negara pusat,
dan munculnya kekuatan-kekuatan regional.
Kedua, konsep interdependensi menyiratkan bahwa manusia di bumi ini berada dalam
satu perahu yang sama. kendati demikian pendapat ini mengabaikan fakta bahwa penumpang
dalam perahu yang sama tidak bepergian pada kelas yang sama, bahkan tidak punya akses yang
sama terhadap pelampung maupun kapal penyelamat.
1.

Dari Dependensi Menuju Interdependensi

Ada berapa dimensi yang mndasari lahirnya konsep interdependensi sebagai


perkembengan dari konsep ketergantungan. Dimensi tersebut meliputi dimensi fisik, dimensi
ekonomi dan dimensi politik.
Dimensi fisik pertama kali muncul pada tahun 1970 an , trutama setelah diadakannya
konfrensi lingungan oleh PBB pada thun 1972. Konprensi lingkungan memunculkan kesadaran
akan adanya suatu bumi, dimana kegiatan suatu negara akan menpengruhi keseimbangan
lingkungan secara global.
Dimensi ekonomi yang mendasari konsep interdepandensi ini pertama kali dikemukakan
dalam proposal yang diajukan oleh komisi brandt atau brandt commission report padatahun
1980. Dalam proposalnya tersebut,komisi ini menghendaki adanya hubungan ekonomi yang
saling menguntunkan. Dalam hubungan tersebut memungkinkan terciptanya kondisi win-win
position (posisi saling menguntungkan) dan bukan Lagi posisi zero sum game (yang satu
untung yang satu rugi) sebagai mana diterapkan dalam konsep ketergantungan.
Adanya keterkaitan antarnegara dalam dimensi fisik maupun ekonomi diharapkan
manciptakan adanya kerjasama yang mendorong adanya perdamayan dan pembagunan dunia.
Perkembangan konsep ketergantungan menuju konsep interdependensi ini mangakibatkan
adanya transisi dalam perekonomian dunia.

Perubahan dalam aliran dana tersebut diikuti dengan perubahan dalam pola investasi.
dalam negara-negara industri mulai melakukan relokasi ke negera-negara dunia ketiga. Relokasi
industri tersebut tidak lepes dari kemajuan yang pesat dalam bidang teknologi komunikasi dan
inpormasi yang memungkinkan bagi pengusaha untuk melakukan keputusan yang cepat untum
mengantisipasi perubahan pasar, teknologi transportasi yang semakin memperpendek jarak
antarnegara, maupun teknologi dalam organisasi tenaga kerja yang memungkinkan adanya
penyederhanaan dalam proses produksi.
2.

Penekatan Dalam Konsep Intredepensi

Pendekatan dalam konsep interdepandensi ini menyatakan bahwa kapitalisme dalam


perekonomian dunia sudah ada semenjak abat ke-16. Sistem kapitalisme ini berkaembang yang
pada akhirnya menyatukan wilayah-wilayah yang semula terisolasi maupun wilwyay-wilayah
yang telah mamapu mencukupi kebutuhan masarakatnya secara mandiri. Perkembangan sisteme
kapitalisme ini mengandung dua dimensi, yaitu: ekpansi secara geograpis dan ekpansi dalam
bidang sosial ekonomi. Adanya ekpansi in menumbuhkan adanya daerah-daerah semiperiferi di
samping daerah inti/pusat (core) dan daerah pingiran (periferi).polarisasi antara daerah inti,
periferi, dan semiferiteri ini berdampak pada adanya pembagian kerja,dimana daerah inti
marupakan produsan produk-produk industri dan daerah periferi sebagai daerah pertanian.
Sedangkan daerah semiperiferi merupakan daerah transisi antara pusat dan periferi, dimana
produknya lebih mengarah pada prodok-produk industri meskipun tetap menghasilkan produuproduk pertanian.
Meskipun pendekatan dalam konsep ketergantungan dan komsep interdependensi samasama bersifat kapitalis, komsep interdependensi tidak mempertrtentangkan kepentingan dari
daerah inti dengan daerah peroferi. Dalam pendekatan interdependensi justru lebih ditekankan
adanya kerjasama antara keduanya yang memungkinkan bagi daerah periferi untuk berkembang
menjadi daerah semiperiferi. Menurut pendekatan ini. Pembangunan pada dasarnya merupakan
suatu proses perubahan struktur ekonomi suatu daerah dari daerah periferi menjadi semiperiferi
atau dari daerah semiperiferi menjadi daerah inti.
3.

Strategi Pembangunan dan Sistem Dunia

Teori pembangunan modern terdiri atas dua komponen.yaitu;komponen pertama adalah


tujuan akhir dari pembangunan. Dan komponen ke dua adalah alat yang di gunakan untuk
mencapai tujuan pembangunan [Hettne.1991;135] pada komponen pertama biasanya bersifat
normatif karena di pengaruhi oleh ideologi yang di anut oleh negara tersebut. Sedangkan
komponen ke dua di jabarkan dalam strategi pembangunan yang hendak diterapkan. Hal ini
dapat dilihat secara eksplisit dalam perencanaan suatu negara.
Strategi pembangunan suatu negara merupakan cerminan dari kemampuan suatu negara
untuk bertindak.sehingga krisis yang terjadidi suatu negara dapat dikatakan merupakan krisis
dari strategi pembangunan yang di terapkan oleh negara tersebut. Dengan demikian, strategi

pembangunan pada dasarnya merupakan konsep enpiris yang langsung berkaitan dengan prilaku
negara ( Hettne,1991;136).diterapkan suatu negara terhadap masalah peningkatan kesehjahtraan
rakyatnya dalam arti materill, yang dikaitkan dengan sumberdaya dan alam yang di punyainya,
serta berkaitan dengan dunia internasional.
a.

Upaya Repormasi Global

Interpretasi teoritis terhadap pembangunan global tergantung bagai mana kita memahami
penomena interdependensi. Baik Tata Ekonomi Dunia Baru maupun usulan Komisi Brandt
merupakan gerakan reformasi global, karena keduanya memandang dunia sebagai suatu sisitem
secara keseluruhan. Problem utama dari strategi reformasi semacam ini adalah: siapakah yang
dinamakan agen perubahan? Ini berkaitan dengan kedua konsep ini menghendaki intervensi,
yang dinyatakan dalam strategi pembangunan, sehingga amat sering dikaitkan dengan negara
sebagai aktor yang dominan.
Tata Ekonomi Dunia Baru (NIEO atau New International Economic Order) lebih
merupakan starategi politik dibanding stratigi ekonomi. NIEO merupakan ekpresi dari solideritas
Negara-negara Dunia Ketiga yang menghendaki gerakan swadaya secara kolektif. Usulan
utamanya adalah suatu jalur pembagunan yang dilakukan perdagangan negara-negara industri
dan akses terhadap tenologinya kendati demikian, masalah utama yang menghadang NIEO, yaitu
dihadapi oleh strategi global lainya, adalah bahwa strategi ini tidak diikutidengan penjelasan
yang gamblang mengenai siapa pelaku yang akan meleaksanakannya.
Laporan komisi Brandt(1990) yang berjudul North-South: A programme for Survival
mengenai dialog Utura-Selatan menghadapi masalah yang sama.Usalan Brandt ini mendasarkan
pada konsep interdependensi. Dialag Utara Selatan,sebagaimana dirintis dalam deklarasi
NIEO,segera mengalami kemacetan.penyebabnya,negara kaya tidak dapat memenuhi permintaan
yang dinyatakan dalam dokumen NIEO.laporan komisi Brandt boleh dikata identik deng global
keynesianism.solusi keynes terhadap kemiskinan global adalah melakukan apa yang disebut
massive resource transfer. Maksudnya,penduduk miskin global merupakan fungsi dari sistem
keynes yang menganggur sehingga bila mereka menggunakan sumber-sumber produksi negara
maju,maka masalah ekonomi dengan sendirinya terpecahka.
Dapat diduga tangapan terhadap usulan ini amat bervariasi tertanggung idiologi
pembangunan yang dianut.Liberalisme yang radikal tentu tidak dapat diterima oleh penganut
aliran kanan baru kerena menghendaki agar NSB menyeibangkan agar negaranya,
meliberalkan perekonomian, dan mengidentifikasi keunggulan komparatif yang dimilikinya.Di
sisi lain, kritik dari penganut aliran kiri mempertanyakan kepentingan yang saling
menguntungkan antara negara-negara Utara dan Selatan sebagaimana tesis interdependensi.
Menurut pandangan mereka,intergrasi Dunia ketiga kedalam sistem interdependensi global justru
akan meningkatkn konflik dibandingkan mendatang stabilitas.
b.

Percobaan untuk Memisahkan Diri

Strategi pembangunan mandiri (self-reliant) telah dicoba di Tanzania, Ghana, Jamaica,


Nicaragua, dan Burma. Strategi ini menghendaki mobilisasi sumber-sumber domestik disbanding
mengundang sumber dari luar negeri. Dalam praktek, percobaan strategi pembangunan mandiri
Tanzania dan Ghana mengalami krisis dan berakhir dengan menundang IMF membantu program
restukturisasi ekonomi. Negara lain yang mencoba menerapkan strategi pembangunan mandiri
mendapatkan hasil yang tidak jauh berbeda yaitu destabilisasi, krisis politik, ekonomi, dan social.
Strategi pembangunan mandiri dan radikal lainnya dewasa ini semakin berkurang
gaungnya karena alas an ekonomi dan politik. alas an ekonominya adalah telah terjadi: (1)
perubahan dalam nilai tukar perdagangan seperti meningkatnya harga impor untuk komoditi
energy, makanan, dan barang modal; (2) menurunnya harga komoditi primer yang masih
merupakan produk unggulan di kebanyakan NSB. Sedangkan alas an politik yang muncul adalah
adanya kebutuhan untuk merampingkan para sekutu dan konsolidasi control dari dua raksasa
(AS dan Uni Soviet).
c.

Klasifikasi Strategi Pembangunan


Percobaan untuk memisahkan dari dengan sistem dunia dalam tinkat yang radikal
(redical delinking) terbukti tidak didukung oleh fakta empiris. Kendati demikian pilihan strategi
pembangunan memang antara intergrasi dengan sistem dunia ataukah otonomi, ataupun antara
penganut aliran radikal dengan pembangunan bertahap. Dua pilihan ini mememang telah menjadi
isu utama dalam teori pembangunan yang dimulai sejak kritik List terhadap ekonomi politik
Inggris, atau yang dinyatakan oleh Friedrich Listsebagai: ekonomi nasional versus kosmopolitik,
(Hettne, 1991: 145-6). Isu ini, yaitu apakah ada kontradiksi antara pembangunan nasional dan
internasional, menandai munculnya ekonomi pembangunana. Ekonomi politik nasional
dikambangkanlebih lanjut oleh para penganut teori dependensia, yang mendukung ststegi
radikal delinking dengan pasar dunia.
Berdasarkan pengalama dalam proses penbangunan sebelumnya, Grifin (1988)
megolongkan setrategi pembangunan menjadi enam yaiti:
1.
Strategi Pembangunan Monateris
Strategi ini mengasumsikan bahwa efisiensi dalam alokasi sumberdaya akan tercapai
dalam jangka panjang. Meskipun untuk mencapai stabilitas ekonomi, dalam jangka pendek
akan terjadi krisis. dalam strategi ini peranan negara dibatasi.
2.
Strategi Pembagunan Ekonomi Terbuka
Strategi pembangunan ini menitikberatkan pada perdagangan luar negeri dan keterkaitan
dengan dunia luar sebagai mesin pembangunan. Kebijakan sangat tepat diterapkan pada
negara-negara yang berorientasi pada pada pembuatan produk yang ditujukan untuk pasar.
Strategi ini identik dengan apa yang disebut supply-side-oriented state karena
menghendaki peran aktif negara di sisi penawaran.
3.
Strategi Pembangunan Industrialisasi
Strategi ini menitikberatkan sektor manufaktur yang berorientasi pasar, baik pasar
domestic maupun pasar luar negeri, sebagai mesin pembangunan. Menurut strategi ini,
campur tangan pemerintah masih diperlukan.
4.
Strategi Pembangunan Revolusi Hijau

5.

6.

Strategi pembangunan melalui revolusi hijau menitikberatkan pada kebijakan untuk


mneingkatkan produktivitas dan teknologi bidang pertanian sebagai alat untuk memacu
pertumbuhan bidang lainnya.
Strategi Pembangunan Redistribusi
Strategi pembangunan melalui redistribusi ini dimulai dari redistribusi pendapatan dan
kesejahteraan serta tingkat partisipasi masyarakat sebagai alat untuk memobilisasi peran
serta penduduk dalam pembangunan.
Strategi Pambangunan Sosialisasi
Strategi pembangunan sosialisme lebih menekankan pada peran pemerintah dalam
pembangunan: mulai dari perencanaan, perusahaan milik negara hingga pelayanan
masyarakat. Meskipun dalam system sosialisme peran pemerintah bisa bersifat ekstrim
atau moderat.

Perlu dicatat bahwa tidak semua negara menganut setrategi pembangunan yang jelas.
Biasanya, kebanyakan negara yang tidak mengikuti strategi pembangunan yang dapat
diidentifikasi dan seringkali berubah-ubah. Ini diakibatkan karena melemahnya peran negara di
NSB, dan bisa jugaakibat krisis ekonomi global.bisa dipahami apabila pran srategi pembangunan
bagi banyak negara saat ini cendruang menjawab krisis manajemen daripada melakukan
transformasi sosial-ekonomi. Pada giliranya hal ini mengarungi relevansi teori pembangunan.
Pendekatan yang kedua dalam studi perbandingan strategi pembangunan adalah
berdasarkan perspektif teoritis. Analisis yang berorientasi pada sistem dunia menggarisbawahi
keterbatasan pendukung nasionalisme ekonomi. Menurut teori sistem dunia, pada hakekatnya
hanya dikenal tiga strategi pembangunan, yaitu (Wallerstein, 1976: 76):
1.
Strategi Pembangunan Dengan Memanfaatkan Peluang Pasar Luar Negeri
Dalam strategi ini, pemerintah berperan aktif (state capitalism) dalam memanfaatkan
keunggulan komparatifnya untuk memanfaatkan peluang pasar luar negeri. meskipun harus
diakui tidak semua negara memiliki kemampuan untuk memanfaatkan peluang tersebut.
2.
Strategi Pembangunan Dengan Mengundang Investasi Luar Negeri
Strategi pembangunan dengan mengundang investasi luar negeri dilakukan dengan
memanfaatkan keunggulan komparatif, seperti upah buruh yang murah serta kemudahankemudahan lainnya. Ini disebut juga sebagai model liberal open door.
3.
Strategi Pembangunan Mandiri
Strategi pembangunan mandiri (self reliance) menekankan pada kemampuan dalam negeri
dan sesedikit mungkin bantuan dari pihak luar. Strategi ini kurang berhasil diterapkan pada
negara-negara dunia ketiga karena keterbatasan sumberdaya alam maupun manusia.
Seers (1983) mengkombinasikan dimensi internal-eksternal (nasionalis versus
antinasionalis) dengan dimensi tingkat egalitarianism. dengan cara ini terdapat empat posisi
strategi pembangunan, yaitu: variasi sosialis dan liberalis terhadap internasionalisme, pendukung
strategi kebijakan pintu terbuka, dan variasi radikal dan konservatif dari strategi self-reliance dan
delinking.

Antinasionalis

Socialist
Open door strategies
(Marxist socialist)

Liberal
Open door strategies
(Neoclasical Liberals)

Anti Egalitarian

Egalitarian

Self-reliance
(Dependency theorists)

State Capitalism
(Traditional conservatives)

Nasionalis